Friday, December 15, 2017

Karina Lin Terbitkan Buku Esai, Kumpulan Esainya, Kumpulan Cintanya

Karina Lin, kukenal beberapa tahun yang lalu. Entah di mana pertama kali ketemu, tapi yang yang jelas pasti urusan buku. Diskusi buku, bedah buku atau diskusi tema tertentu tentang Lampung. Yang kuingat aku bertemu dia di Fajar Agung, Lampung Post, Kampus Unila, hmmm... ya di tempat-tempat itu beberapa kali. Juga pernah bertemu di jalan. Sepertinya dia ini sering banget kulihat sedang berjalan kaki di seputaran Bandarlampung. Tubuhnya yang kerempeng mudah banget kukenali kalau sedang berjalan bahkan kalau aku dari arah belakangnya.

Apa yang menarik darinya dalam perjumpaan-perjumpaan awal? Dia ini ceplas-ceplos, tidak basa-basi. Bukan hanya saat mengemukakan pendapat, tapi juga ketika dia punya keinginan-keinginan. Beberapa tahun lalu saat bertemu di Fakultas Hukum Unila untuk sebuah buku, dia kulihat sedang mojok makan bekalnya. Saat aku sapa (mungkin dia lupa), dia mengatakan sekilas tentang... hmmm mungkin tentang mengapa dia bawa bekal? Atau mungkin tentang dirinya yang harus makan sesekali? Aku lupa persisnya.

Saat dia menunjukkan kumpulan esainya Lampungisme: Sosiokultur, Alam dan Infrastuktur Bumi Ruwa Jurai aku sangat girang. Aku sudah beberapa kali membaca tulisannya itu di media massa, jadi sebagian seperti mengulang pemikirannya. Membaca kumpulan ini, aku seperti ditarik kembali untuk melihat Lampung. Iya, sehari-hari aku memang tinggal di Lampung, tapi seberapa besar aku 'melihat' Lampung. Huhuhu... Lin, thank you ya. Ini buku yang indah untuk 'nggoteki' supaya Lampung menjadi lebih indah. Buku ini diterbitkan tahun 2017 oleh Pustaka Labrak dengan editor Udo Z. Karzi, berisi tulisan Lin tentang budaya, politik, sosial dan infrastruktur di Lampung.

Membaca buku Lampungisme: Sosiokultur, Alam dan Infrastuktur Bumi Ruwa Jurai yang ditulis oleh Karina Lin membuat saya seolah-olah duduk di samping Lin, mendengarkan suaranya yang ‘cerewet’ mengisahkan bagian-bagian dari Lampung yang pernah dia temui, pernah dia amati, pernah dia rasai. Sebenarnya bukan hanya berkisah, karena seringkali yang muncul bukan hanya fakta, tetapi juga kritikan, pertanyaan, protes, dan perlawanan. Pada beberapa tulisan, saya seperti terkena kibasan tangannya yang sedang menunjuk ke berbagai arah sehingga saya tidak mungkin tidur saat mencermati suaranya, tulisannya. Sepertinya Lin memang sengaja menampar saya atau siapapun yang membaca tulisannya agar sadar dan terus bergerak untuk menjadikan Lampung sebagai tempat yang indah dan manusiawi dengan perkembangan sosial budaya yang signifikan dari masa ke masa.

Karina Lin lahir dengan nama Karina Eka Dewi Salim, pada 17 April 1983 (kau muda banget, Lin) di Tanjungkarang, Lampung yang juga sekaligus merupakan tempat penulis berdomisili pada saat ini. Pada Maret 2009, lulus dari Universitas Lampung dengan spesialisasi Pendidikan Sejarah. Sangat menyukai dunia kepenulisan, di samping membaca, dan mendengarkan musik, travelling, fotografi dan yoga.

Selama masa kuliah hingga sekarang, cukup sering mengikuti lomba-lomba penulisan baik ilmiah maupun non ilmiah,juga menulis artikel lepas semacam (terutama) opini, cerpen dan resensi buku. Beberapa lomba tulis menulis yang pernah diikuti, misalnya Lomba Esai Japan (yang diadakan Japan Foundation Indonesia) pada 2006, Lomba Esai Korea (yang diadakan Kedutaan Besar Republik Korea) pada 2004 dan 2006, Lomba Cerpen Majalah Femina 2006, Lomba Cerpen Lip Ice-Selsun Awards 2006, serta kompetisi menulis sinopsis untuk Short Story Competition 2009 yang diadakan LA Indie Movie. 

Pernah bekerja sebagai wartawan Harian Radar Lampung yang tergabung dalam Jawa Pos Group (2010-2011). Bergabungnya penulis dengan media itu sendiri berawal dari opini yang pernah dipublikasikan oleh harian tersebut. Kemudian Juni 2013 menjadi wartawan di Harian Lampung Newspaper (Jawa Pos Group). Saat ini bekerja sebagai jurnalis di media online duajurai.co (sejak September 2015), penulis lepas (freelance writer) di surat kabar lokal dan nasional, dan tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung

Salah satu esainya dimuat dalam buku mengenai lembaga kesenian di Lampung yang berjudul Rumah BerwarnaKunyit: Polemik Kesenian, Kesenimanan dan Lembaga Seni (di) Lampung (2015) (2015)Dalam kaitannya dengan Kota Bandar Lampung, saat ini penulis sedang berusaha mendirikan Komunitas Greenmap Kota Bandar Lampung yang berfokus pada masalah perkotaan seperti kemacetan, sampah, polusi, dan lain-lain. Sedangkan dalam bidang kesejarahan, penulis mengkhususkan diri pada sejarah peranakan Tionghoa Indonesia (dan di Lampung), sejarah seni dan budaya dan sejarah politik. Alamat korespondensi, email: lin.karina@yahoo.com / lin.karina83@gmail.com, Facebook:  Sycarita Karina Lin, Twitter @KLin17. l

Thursday, December 14, 2017

Julid ki Opo?

Hari ini aku dapat olokan karena ndak tahu arti kata 'julid'. Bukan aku sih yang dikata-katain julid, tapi orang itu kayak mantap kali menyebut julid. Ya, ampun, julid ki opo?

"Ih. Mbak Yuli ndak gaul loh."

"Memang ora. Bahasa apa itu?"

"Bahasa gaul, mbak." Hmmm, aku garuk-garuk kupingku sendiri

"Opo artine?"

"Julid itu sebutan kalau ngomongnya pedes, kayak cabe jablak sekilo buat makan sesuap ayam goreng."

"Waduh. Sejak kapan lahirnya istilah kayak gitu tuh?"

"Kira-kira empat bulan belakangan deh, mbak. Seiring berjalannya waktu mbak Yuli akan tahu kata-kata yang lain. Asal gaul yeee..."

Oalah. Aku coba cek di kamus Bahasa Indonesia, kata itu memang tak ada. Dalam beberapa situs memunculkan muasal kata julid itu konon dari bahasa Sunda, binjulid yang artinya dengki atau iri hati, yang beberapa bulan lalu dipopulerkan oleh Syahrini. Hihihi... ada-ada aja. Jadi gitu deh, kata julid ini bisa dipakai sebagai sebutan untuk orang yang nyinyir karena dengki terus komentar pedas sepedas cabe sekilo untuk teman sesuap ayam goreng, hehehe.

Bergaya Seperti Model Majalah dalam Buku Tahunan Sekolah

Aku keliling rumah mencari buku-buku yang tersisa, kemudian menemukan buku tahunan SMP Fransita tahun 2016, buku album kenangan dari angkatan Albert. Buku yang keren menurutku. Tebal dengan kertas artpaper fullcolor. Aku sudah membaca dan melihat buku ini setahun yang lalu saat Albert lulus SMP. Melihatnya lagi ternyata masih asyik, apalagi kalau wajah anakmu ada di situ. Hehehe....

Albert mengakhiri sekolahnya di SMP ini di kelas 9C, dengan wali kelasnya yang gokil, Pak Toto Haryadi. Kukira di antara guru wali kelas Albert yang pernah ada, Pak Toto ini termasuk guru yang paling sering diceritakan oleh Albert. Nyambung kayaknya mereka. Atau mungkin kesamaan 'sesuatu' yang menyambungkan mereka ya? Entahlah.

Misal, suatu waktu aku ketemu dengan Pak Toto karena urusan tertentu di luar urusan pendidikan Albert. Dari tempat parkir dia sudah bersuara,"Anakmu kuwi jan..."

"Ada apa, pak?" Deg-degan kalau mbayangin Albert berulah. Dan dia nih memang sering bikin ulah. Huh.

"Mosok dia pakai cecak untuk menggoda temen-temennya. Kan ndak semua orang berani. Entah darimana lho dia itu bisa dapat cecak. Kok ya ndak jijik juga."

Wadauhh. Aku ya nyengir saja. Bingung mau koment apa. Waktu sampai rumah, aku mengingatkan Albert soal kejahilannya, dia juga cuma nyengir. "Lebay saja mereka itu. Sama cecak saja takut." Hadeh.

Nah, lihat di halaman 76. Terpampang gambar seperti di atas. Albert, Viola, Fito dan Theo. Dengan kostum model gangster kayak itu. Yaelah. Kelas mereka memakai nama Camp Militer 9 Crazy Army. Coba, dari mana ide nama seperti itu. Oalah. Mereka tulis,"9C_razy Army bisa diibaratkan sebagai sebuah camp militer. Tapi isinya bukan army yang waras melainkan setengah gila dipimpin oleh jenderal ganteng Toto Haryadi dengan Fito sebagai ketua tim pasukan gabungan yang hobi main ukulele." Nah lo.

Albert masuk dalam pasukan khusus "Pentol Korek". Ditulis,"...isinya orang idiot, usil, tapi kreatif dan asyik. Kelompok mereka yang terbaik sepanjang tahun ajaran." Ckckckck... Dulu Albert sering sekali cerita soap Pentol Korek ini. Karena masuk dalam kelompok ini juga dia jadi selalu berusaha tidak terlambat masuk sekolah dan mengerjakan tugas (walau kenyataannya tetep payah) karena kalau sampai terjadi dia harus membayar sekian ribu rupiah sebagai sanksi.

Di bagian bawah tulisan tentang kelas 9 C, mereka masih menambahkan : "Tidak ada pasukan lain yang bisa mengalahkan kami. Terbukti kami sering sekali memenangkan lomba di setiap kegiatan sekolah. Walaupun punya banyak prestasi, list kasus atau masalah gak kalah banyak. 9C itu selalu ribut, guru terganggu, bad mood, terutama Laoshi Henny, sorry Laoshi. Bahkan suster kepala sekolah datang dan menegur waktu kami teriak nyanyi Indinesia Raya, dimarahi Bu Ayu karena kasus Gelombang Cinta (kasus apaaan ini???). Semua itu proses mencari jati diri menuju kedewasaan untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa depan. Selamat jalan kawan. Semoga kita bisa bertemu lagi di masa depan. Bukan lagi sbagai seorang bocah yang sama seperti masa SMP tapi sebagai orang dewasa sukses yang membanggakan." Oh.

Doaku untuk kalian, nak.


Merajuk, eh Merajut!

Sebenarnya pengin menulis sesuatu yang agak berat gitu lho seperti tentang Setnov yang tampaknya sedang sakit berat hingga tunduk membungkuk saat di pengadilan, tentang Sandi yang pakai lip balm karena bibirnya kering, tentang Ustadz Somad yang sedang di Lampung, atau tentang tanah Karanggupito yang bergetar, dan sebagainya. Tapi kok otakku ini ndak nutut yo. Huhuhu, lagi-lagi si vertigo yang dijadikan alasan malas mikir. Tapi yo gimana lagi, ini memang hari-hari harus tidur dan malas lebih banyak. Dokter klinik sudah memvonis begitu. Aku sendiri juga sudah memutuskan untuk tidak memakai alat-alat elektronik ini terlalu lama. Beberapa menit saja untuk mengerjakan sedikit yang perlu dikerjakan.

Sepanjang sore kemarin aku sudah bosan hanya tidur. Pun kalau bergerak di tempat tidur juga ndak bisa dengan terburu-buru atau mendadak. Duduk bengong mencari-cari buku ndak menemukan sama sekali. Buku-buku yang ada di rumah sudah dipack oleh Denmas Hendro dipindah ke rumah kosong di belakang. Yang tersisa hanya beberapa buku yang sudah kubolak-balik dari kemarin.

Untungnya kemudian aku menemukan gulungan benang wol dan stik rajut di atas lemari. Aku ingat mendapatkan benda-benda itu tak sengaja saat mampir di UKMBS Unila beberapa bulan lalu. Pulang dari memberi materi ke anak-anak UKMKat, aku lihat ada Warih, Gebe, Mutia dan beberapa orang di UKMBS. Jadilah mampir minum kopi (mereka selalu menawari kopi atau teh kalau ada yang datang, minimal kalau aku datang selalu mendapat tawaran itu). Nah saat itu Mutia tengah berjibaku dengan gulungan benang sampai jari jemarinya kemana-mana. Langkah pertama belum juga dia selesaikan. Membuat rantai. Huhuhu... Sepanjang aku menunggu hingga menghabiskan kopi, dia sampai berkeringat dipandu oleh senior rajutnya. Lalu dia menyerah :"Kayaknya aku harus ganti benang yang lebih padat."

Aku ambil benang abu-abu itu lalu aku mencobanya. Aku pernah mendapat pelajaran merajut dari nenek dan ibuku, dan sudah laammmaaaa sekali tidak memegangnya lagi. Ternyata aku masih bisa membuat bentuk-bentuk sederhana. Lalu ya gitu dah. Mutia membulatkan tekad untuk membeli benang jenis lain dan dua gulung benang abu-abu itu pindah ke tanganku.

Sampai di rumah hingga kemarin, dua gulung benang itu tak tersentuh, malah terlupakan begitu saja. Tapi karena ingat bu dokter klinik minta aku melakukan juga terapi gerakan-gerakan kepala untuk mengurangi vertigo, kegiatan merajut inilah yang kupilih. Duduk anteng, memegang stik dan benang. Setelah sekian lama aku tanya Albert :"Ibu sudah sejamkah di sini?"

"Belum lah, bu. Baru juga setengah jam palingan."

Kok kayaknya udah lama banget ya. Dan ini kenapa hasilnya baru segini?

"Memangnya untuk apa itu bu?"

"Entah. Bagusnya apa ya? Peci, kerudung, taplak, tas?"

Albert memegang hasil rajutanku dengan heran. Kayaknya dia mengira-ngira benda itu nanti akan berakhir seperti apa. "Yang penting jadi saja deh bu. Jadi the first hasil karya rajut ibu yang benar-benar jadi."

Huhuhuh, kayaknya itu saja deh kuncinya. Karena kuingat-ingat aku memang belum pernah membuat hasil rajutan yang jadi seumur hidupku. Huaaa... jadi ingat gambar-gambar. Nenek tua berkaca mata, duduk di kursi goyang, merajut dikelilingi beberapa gulung benang warna-warni dan seekor kucing di dekat kakinya. Kalau si kucing sedang iseng, gulungan benang akan jadi mainan, dan hasil rajutan si nenek akan terburai. Hehehe...

Wednesday, December 13, 2017

Klinik Bundaran Sehat

Bagian dalam klinik, ruang tunggu.
Pada kartu BPJS yang kupunya, fasilitas kesehatan pertama yang dipilih keluarga adalah Klinik Bunderan Sehat. Mengapa klinik ini? Alasan utama adalah tempatnya dekat, hanya sekitar satu kilometer dari rumah. Selain alasan kedekatan, tak ada alasan lain. Itu pun sebenarnya saat memilih juga belum tahu ada di mana klinik ini.

Aku baru tahu letak klinik ini setahun yang lalu saat jatuh dari motor dan memerlukan bantuan pengobatan yang serius. Aku browsing cara menggunakan kartu BPJS yang sebenarnya tak pernah kuharapkan dipakai, juga browsing letak klinik ini. Sebagai fasilitas kesehatan pertama yang dipilih keluargaku, maka klinik inilah yang pertama-tama harus kami tuju kalau kami membutuhkan bantuan kesehatan yang menggunakan BPJS. Kalau klinik ini tak sanggup, ya kami akan mendapat rujukan ke fasilitas yang lain sesuai dengan sarana dan prasarana yang diperlukan.
Penunjuk arah dekat gerbang. Foto dari internet.

Waktu itu, saat mampir fotokopi KTP dan kartu BPJS di samping klinik (hanya sepelemparan batu), aku tanya ke tukang fotokopi.

"Klinik Bundaran Sehat tuh di mana ya? Tahu ndak?"

Si abang geleng-geleng. Secara ngawur dia nunjuk arah seberang jalan yang dikatakan ada puskesmas. Untungnya ada mahasiswa Politeknik Kesehatan yang sedang fotokopi juga menunjukkan letak klinik yang bagian depannya kelihatan dari tempat fotokopi. Ealahhhh....

Itu menandakan kalau klinik ini memang tidak populer. Mungkin tempatnya yang ada dalam kompleks Politeknik Kesehatan Propinsi Lampung membuat masyarakat agak segan untuk masuk. Ada dua pintu yang bisa dipakai untuk masuk ke klinik. Pintu pertama dekat dengan tempat fotokopi tadi, di sisi jalan arah Natar. Sedang pintu yang lain adalah gerbang utama Poltekes di jalan Soekarno Hatta. Masuk saja samping warung Luwes, akan akan penanda yang bisa membantu kita sampai ke klinik. Peta lokasi bisa cek dulu biar tahu gambarannya.

Nah, tadi adalah pengalamanku kedua datang ke klinik ini. Aku yang sudah beberapa hari kelimpungan karena vertigo ingin memastikan diriku baik-baik saja. Huh. Padahal memang sedang ndak baik.

Mbak yang di tempat pendaftaran langsung meminta kartu BPJSku begitu aku datang. Tak ada pasien lain, sepi. Tapi di lantai atas di gedung yang sama rupanya perkuliahan sedang break sehingga suara berisik para mahasiswa ... minta ampun deh. Mungkin mereka lupa kalau di bawah mereka ada klinik yang walau seringnya sepi ada juga pasien sakit yang datang dengan berbagai keluhan.

"Ke dokter gigi atau dokter umum, bu?' Aku menjawab perlu ke dokter umum. Dia mencatat di selembar kertas setelah mengecek kartuku, memberikan kepadaku dan memintaku untuk mengetuk pintu ruang periksa.

Di dalam seorang dokter menyambutku, mendengar keluhan-keluhan dan langsung memeriksa tekanan darah. "Darah ibu 160."

Rasanya aku melotot karena dokter itu menanyakan apakah aku sering hipertensi dan setinggi itu, lalu bertanya apakah aku habis jalan atau berlari dan bla bla... "Ibu diam dulu sebentar di sini ya. Nanti saja akan periksa lagi tekanan darah ibu. Karena memang kadang bisa berubah-ubah. Juga untuk memastikan."

Usai itu ada pasien lain yang datang. Seorang ibu dan anak. Seorang perempuan muda. Lalu seorang muda lagi. Aku diperiksa lagi setelah itu. Beberapa pertanyaan, beberapa permintaan dariku, beberapa nasihat, dan kemudian obat diangsurkan. Histigo untuk obat vertigo, yang berisi Betahistine Mesilate 6 mg, diminum tiga kali sehari. Zevask untuk menurunkan tekanan darah, yang berisi Amlodipine besilate 5 mg, diminum satu kali sehari. Katanya ini dosis yang rendah, karena awalnya aku ngotot ndak mau dikasih obat.

Sebagai klinik fasilitas pertama, aku suka Klinik Bunderan Sehat ini. Mereka menyediakan tempat yang bersih dan ok, pelayanan yang ramah. Tidak banyak pasien sehingga antrian tidak banyak. Memang sih jam bukanya terbatas. Kayaknya jam 15.00 sudah tutup. Tapi aku berharap, selalu berharap, aku hanya iuran per bulan saja untuk fasilitas kesehatan ini. Jangan lagi menggunakannnya. Huaaa.... semangat untuk sehat.

Beberapa Saran Mengatasi Vertigo

Kemarin aku menulis tentang keluhan vertigo yang kualami. Klik sini kalau ingin membacanya. Tulisan itu aku share di facebook dan mendapat beberapa saran dari teman. Ini beberapa tanggapan mereka siapa tahu berguna bagi yang punya keluhan yang sama :

"Minum antimo." Hmmm... ndak ada keterangan lebih lanjut apakah ini pernah dicoba oleh yang bersangkutan. Aku kurang percaya, kuanggap guyonan dan kuabaikan. Antimo sih aku ada dalam kotak obat, tapi belum kucoba kalau belum ada testimoni lanjut dari orang yang pernah memakainya sebagai obat vertigo.

"Cek asam lambung. Vertigo bisa berawal dari situ." Hmmm... sejauh ini aku tak ada masalah soal asam lambung. Tubuh dan perutku aman kok. Mungkin bukan karena asam lambung, tapi aku antisipasi dengan menghindari makanan yang meningkatkan asam lambung seperti coklat, makanan pedas, makanan dari tomat, gorengan, minuman bersoda dan beralkohol, daging hewan kaki empat dan dua, keju, jeruk, nanas, minuman dingin, kue yang dipanggang, .... Lah terus aku makan opo? Hihihihi.

"Berbaring tengkurap di kursi kayu panjang (bangku) kepala menggantun, (ujung bangku sampai di dada) tangan direntangkan kayak terbang, lalu tengok kanan kiri perlahan. Jika terasa sakit tahan sebentar ulangi tengok kanan kiri, sampai rasa sakit hilang. Teknik ini banyak menyembuhkan yang sdh mencobanya (tidak kumat lagi). Semoga bermanfaat."  Hmmm.... ini langsung kucoba. Padahal beberapa hari ini karena vertigo aku ndak berani tidur tengkurep dan menunduk. Kulakukan tadi pagi, memang, ada perubahan. Aku bisa bangun tanpa sempoyongan. Nanti akan kucoba lagi.

"Aku kena vertigo selama 3 tahunan mb, mmg hrs cukup istitahat, asam lambung dijaga, tidur teratur. Kalo lagi kumat cukup masuk ke kamar gelap dan sunyi tidur sembuh, tp besok2 bisa kumat lagi. Akhirnya dpt share dr teman, ubi dicuci bersih tnpa kupas dibelah 4 jgn terputus, rebus dlm air 2 atau 3 gelas, sisakan 1 gelas diminum. Ubi nya boleh dimakan jg. 10 hari teratur minum, puji Tuhan gk pernah kumat lagi." Hmmm... aku akan mencobanya nanti. Semoga mamang tukang sayur membawa ubi, jadi bisa langsung kupraktikkan. Aku masih tanya, ubinya bisa sembarang ubi kah? Ungu, kuning, cilembu dan lain-lain? Karena dalam saran itu tak ada keterangan sementara kuanggap bisa pakai ubi jenis apa saja.

Nah, bentar lagi mau mampir ke klinik untuk memastikan ada di mana posisi tekanan darahku. Gitchuuu....

Tuesday, December 12, 2017

Serangan Vertigo

Sudah beberapa hari ini aku dibelit vertigo. Dia menyerangku tiba-tiba pada saat aku bangun pagi hari Sabtu yang lalu. Tidak menyangka akan serangannya, begitu bangun seperti biasa aku spontan berdiri dari tempat tidur, dan spontan aku harus memegang erat kaki meja karena vertigo membuatku berputar-putar, serasa kepala diseret ke bawah, kaki ke atas, dan dunia berputar.

Waduh. Ini rasa yang sama sekali tidak enak. Duluuu sekali aku pernah mengalami vertigo, beberapa hari juga, karena tingginya tekanan darah. Kali ini aku tidak tahu apa penyebabnya karena semua tubuhku okey. Bahwa dalam seminggu dua minggu terakhir ini aku di puncak kesibukanku di depan laptop memang benar. Huaaa... Vertigo itu masalahnya pada keseimbangan. Kalau bergerak rasanya dunia seperti berputar, terjatuh. Kalau ndak hati-hati memang beneran bisa jatuh wong kita semua seperti diputar balik. Kalau parah marah perut jadi mual, muntah. Karena gerakan kecil saja kepala rasanya hilang ngambang berputar. Wis, ndak enak blas.

Dulu, dokter pernah bilang kalau kemunculan vertigo itu bisa disebabkan oleh banyak hal. Gangguan pada telinga dan mata, bisa jadi. Benturan atau gegar otak juga bisa. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau rendah juga mungkin. Bisa juga karena dipicu makanan yang terlalu banyak 'kimiawi' asin banyak micin. Kurang tidur, capek, pikiran berat, galau bisa bisa memicu munculnya vertigo. Intine, penyebabnya macam-macam.

Untuk kasusku ini, tubuhku sedang sangat sehat dan baik. Kurang tidur... hmmm ya. Lagi mikir berat kerja berat dan mondar mandir tak jelas. Nah, sementara kuanggap itulah penyebabnya. Jadi obatnya adalah : tidur dan diam saja di rumah. Hehehe... Ini agak susah tapi aku harus tega. Laptop hanya kubuka kalau aku ingin menulis di blog. Selebihnya kutinggalin dan kuabaikan deadlinenya. Juga HP hanya kuscroll up down untuk mengetahui informasi tanpa reaksi lebih lanjut. Juga makan dengan suka hati apapun yang kepikir pertama saat sedang lapar.

Nah, sampai sekarang vertigo masih belum pergi juga. Aku harus menjaga supaya aku tidak bergerak terlalu cepat dan berubah posisi dengan buru-buru. Kalau awalnya tidur miring, saat akan telentang aku harus pelaannnn...supaya tidak munyer. Kalau lupa tiba-tiba menunduk atau tengadah aku harus cepat cari pegangan biar ndak jatuh. Huh. Tidak sakit, tapi ini cukup mengganggu. Aku masih bisa naik motor pelan-pelan, kalau ndak mungkin ya pesan Grab.

Obatnya apa? Ini nih yang repot. Aku ndak suka obat. Jadi selama aku bisa bertahan aku tak akan minum obat. Tapi di kantongku ada Vastigo, pemberian Reni yang kukantongi untuk jaga-jaga saja. Aku harap tidak perlu meminumnya. Kuusahakan bergerak dengan pelaannnn dan hati-hati. Tidak membuat gerakan mendadak. Kuusahakan tidur pules seperti biasa dan sementara yaaa....begitulah. Aku harus mengabaikan beberapa kerjaan. Untuk sementara itu tak penting. Lain-lain aku upayakan masih terus berjalan. Beberapa diskusi, rapat, dan nulis blog donggg....tetep berjalan.

Dan yang penting... tetep mencari alasan-alasan untuk gembira. Hehehe... Libur akhir tahun sebentar lagi bisa diawali dengan rencana-rencana yang menarik kan?

Jika sudah ndak tertahan (semoga tidak terjadi), ya mau ndak mau harus ke dokter dong. So guys, jaga tubuh. Jaga kesehatan.

Periuk Tanah Liat

Seseorang pergi ke pasar untuk menjual periuk tanah liat. Periuk itu hasil karya tangannya. Dia mengerjakankan berminggu-minggu. Dia ambil tanah liat pilihan yang bisa diambilnya dari dalam tanah, dicampur dengan air dalam komposisi yang tepat. Karena latihannya bertahun-tahun, dia juga tahu cara mengaduk tanah liat itu menjadi adonan yang tepat dan bagus. Itu soal bagaimana, berapa lama dan di mana.

Setelah menjadi adonan yang tepat, dia pun mulai memutar roda dan menyentuh tiap bagian calon periuk untuk mendapatkan bentuk yang paling dia ingini. Dia mesti melakukan hal itu dengan hati-hati. Putaran yang tak terlalu cepat juga tak terlalu lambat. Menghentikannya saat diperlukan, dan seterusnya.

Kalau sudah berbentuk seperti yang diingini, dia mengangkat periuk setengah basah itu ke tempat yang tepat untuk mengeringkannya. Matahari bisa membuatnya pecah, dan air akan membuatnya lembab. Dia harus bersahabat dengan cuaca sampai dia yakin periuk yang dia buat itu siap untuk dibakar.

Pembakaran adalah saat kritis yang selanjutnya. Panas akan menentukan seluruh hasil kerjanya. Kesalahan atau ketepatan dalam proses sebelumnya akan ditampakkan usai pembakaran. Retak? Utuh? Meliuk? Simetris? Pecah? Dan berbagai kemungkinan. Kalau dari awal sampai masuk dalam pembakaran bisa dianggap sebagai masa dikandung, nah dalam setelah pembakaran dia akan dilahirkan. Seperti itulah bentuk akhirnya. Tukang periuk yang ini bisa menambahkan cat tapi bentuknya sudah susah untuk diubah.

Dia pun pergi ke pasar dengan bangga. Menentengnya di pinggul dan menawarkan pada semua orang. Dia bangga pada periuk buatannya. Dia akan tunjukkan kekuatan dan keindahan periuk pada semua orang. Saat periuk itu mulai diangkat oleh pembelinya, dia masih juga menepuk-nepuk periuk itu dengan bangga.

Apa yang akan dibuat oleh pembelinya terhadap periuk itu setelah itu? Bukan urusannya lagi. Dia akan pulang dan mulai membuat periuk yang berikutnya, dengan hati-hati, dengan perhitungan, dengan bangga.

Monday, December 11, 2017

Kelindihen atau Ketindihan, Ditindih Makluk Gaibkah?

Mungkin kau pernah kelindihen atau ketindihan saat tidur. Merasa sadar tapi ndak bisa menggerakkan badan. Aku beberapa kali mengalaminya. Yang muncul adalah panik. Lha gimana lho. Kita sadar, bisa melihat tapi bahkan menggerakkan tangan dan kaki saja tak bisa. Mau ngomong atau teriak juga tak bisa. Yang muncul paling suara uh uh... bunyi dari tenggorokan karena usaha kita untuk berteriak atau bicara tak berhasil.

Konon, orang-orang dulu bilang kalau ketindihan itu karena diganggu makluk gaib tak kelihatan. Dia dengan isengnya menindih badan kita sehingga kita tak bisa bergerak. Makanya kalau ketindihan, harus dibantu orang lain dengan doa-doa dan memegang tubuh kita supaya tubuh kita benar-benar bangun dan mengusir makluk yang iseng itu.

Nah, ya, aku ndak tahu persis. Tapi saat suamiku atau anak-anakku ketindihan biasanya hanya beberapa detik, aku memang berusaha membangunkan mereka dengan menggoyang-goyang badan mereka hingga bangun. Usai itu ya sudah, biasa saja, dan mereka bisa tidur lagi.

Namun, hasil browsing karena penasaran aku menemukan bahwa ketindihan biasa disebut sleep paralysis adalah terganggunya siklus rapid eye movement (REM) dalam tidur.
Ketika berada dalam kondisi REM, biasanya seseorang sedang mengalami mimpi. Pada fase itu, batang otak melumpuhkan tubuh dengan menghambat neuron motorik sehingga tubuh tak dapat bergerak. Dalam kondisi sleep paralysis, siklus REM terjadi saat seseorang telah setengah sadar, sehingga ia menyadari bahwa dirinya tak bisa bergerak. Jadinya ndak sinkron antara kondisi tubuh dan tubuh dan otak. Otak udah bangun namun tubuh masih 'lumpuh' karena masih dalam REM, masih tidur pules. Nah kayak gitulah.

Mengapa itu terjadi? Hal itu bisa muncul karena tingkat kecemasan yang tinggi, saat sedang gelisah, stress, kurang tidur, pola tidur yang ndak teratur, kurang olah raga, tidur telentang terlalu lama, pola makan yang ndak betul, efek obat tertentu, gangguan pada tubuh tertentu dan sebagainya.

Gimana cara mengatasinya? Ya kebalikan dari hal-hal yang memicu itu deh. Doa dulu sebelum tidur supaya mengurangi kecemasan terlebih kalau memang ada masalah. Tidur dengan betul, artinya memang sengaja mau tidur, jangan karena ketiduran. Lalu tidur cukup dan teratur, makan sehat dan olah raga, mengamati gangguan-gangguan dalam tubuh dan perasaan. Nah, gitu sementara yo. Yang penting ndak usah panik saat ketindihan, usahakan untuk segera bangun, dan pesan pada teman tidur sekamar supaya membantu membangunkan kalau hal itu terjadi.

Sunday, December 10, 2017

Persamaan, eh Perbedaan Trump dengan Pedagang Kebab

Entah sejak kapan anak-anakku suka kebab. Dan kok ya di Bandarlampung penjualnya nih bejibun. Versinya sih tak bisa kubedain, cuma memang harganya macem-macem berdasarkan ukuran juga tambahan-tambahan tertentu. Misalnya mau tambahan keju atau entah apalagi. Harganya sih berkisar 10 ribu sampai 20 ribu, dengan ukuran mini, sedang atau besar.

Nah, ya aku tak mau ngomongin soal kebabnya. Ini secara tiba-tiba inget si penjual kebab yang terakhir aku samperin dua hari lalu saat Albert nitip kebab. Tiba-tiba ingat karena lihat berita-berita tentang Trump terkait Yesusalem. Lha yo apa coba persamaan keduanya? Lebih mudah lihat perbedaannya to? Secara si penjual kebab ini cantik manis imut sedang si Trump jelas-jelas tidak cantik manis imut. Yang satu di Amrik sana sedang yang ini di Indonesia. Yang satu penguasa negeri ndak usah kerja keras mendapatkan apa saja, sedang yang ini harus kerja dari sore sampai kebabnya habis dengan duit yang mungkin tak cukup untuk seluruh hidupnya. Nah itu perbedaannya.

Hihihi... ya. Kalau gitu coba lihat apa persamaannya ya.

Saat aku beli kebab di pinggir jalan kemarin itu, si mbak dengan ramah menerimaku, menanyakan kebab macam apa yang kuinginkan dan berapa jumlahnya? Aku minta kebab ukuran sedang tanpa tambahan apa pun dua buah, lalu duduk manis di jok motor mengamati perempuan muda berjilbab ini melakukan tugasnya.

Jalanan cukup ramai dengan kendaraan bermotor, tapi aku bisa mendengar percakapan penjual kebab dengan teman-temannya (kedai kebab itu berderet dengan kedai ayam goreng dan kedai sosis). Perbincangan yang didominasi oleh penjual kebab itu adalah soal temannya yang muda belia seusianya yang memilih menikah dengan seorang bapak yang jauh lebih tua darinya.

"Temanku itu cantik, muda. Entah bagaimana dia bisa kenal bapak-bapak yang seperti itu. Jelas banget beda umur." Katanya mengawali.

"Tapi katanya si bapak itu baik. Memenuhi kebutuhannya, permintaaanya. Bapak itu kaya raya, sudah punya anak. Anak tertua laki-laki itu saja lebih tua dari dia. Tapi dia mau menikah malah katanya ngurus anak-anaknya juga mau. Sekarang mereka sudah benar-benar menikah, malah dia sudah punya anak sendiri masih kecil. Gila ndak. Karena apa coba? Mungkin cinta. Tapi kalau aku yang melihat ya ini karena uang. Apa lagi," kisahnya berapi-api.

"Aku sudah nyarani dia, ndak usahlah. Kan ada banyak yang seumuran dengan dia, yang lebih baik. Wong si bapak itu kaya juga karena korupsi. Iya sekarang dia sepertinya bahagia, tapi nanti bagaimana nasibnya kalau terjadi apa-apa dengan si laki-laki itu. Belum tentu juga anak-anaknya terima." Lanjutnya. Nah, gitu. Begitu. Aku ndak tahu lagi yang dikisahkannya karena kebab pesananku sudah selesai dia kemas dan aku sodorkan uang 30 ribu sebelum pergi.

Eh, lalu apa persamaan Trump dengan tukang kebab ini? Huhuhu... mereka sama-sama ngomongin yang bukan urusannya semata. Urusan Yesusalem itu urusan penting bagi orang-orang Palestina dan Israel, juga urusan penting bagi orang-orang beragama yang sejarahnya menyangkut kota itu. Jadi kalau Trump sok-sokan menentukan nasibnya yo wis begitu itu jadinya. Kelihatan ngaco. Kayak si penjual kebab itu, mana tahu dia tentang teman cantiknya dan suami tuanya? Lha dia nyaranin ndak usah nikah saja itu kan kemesok. Mana tahu dia ukuran kebahagiaan keduanya. Wislah.

Keduanya sama-sama bisa memicu perang. Bukan hanya dua pihak yang terlibat tapi buanyaakkkk... Lha iyalah. Si gadis dan bapak tua kan sama-sama punya keluarga besar. Kalau mereka bertikai ya mungkin saja. Tapi kalau ditambah dengan saran yang tidak mengetahui latar belakang dan tujuan dan hanya berdasar asumsi, mereka akan habis semua dunk. Dan tentang Yerusalem, ini kan banyak negara-negara yang terkait. Di Indonesia saja sudah muncul beberapa kelompok yang ide dan keyakinannya macam-macam tentang kota ini.

Juga, keduanya sama-sama memicu tulisan yang macam begini ini nih. Huh. Masih enakan makan empek-empek daripada kepikiran soal penjual kebab dan Trump. Tapi kalau ndak ditulis, kepalaku tambah nggliyeng. Ditulis kok ya hasilnya kayak gini. Huhuhu...

Seri Lima Sekawan : Karang Setan


Pada masaku saat anak-anak dan remaja, yang menjadi favoritku adalah buku-buku Enid Blyton. Salah satunya serial Lima Sekawan (Famous Five) dengan kisah-kisah petualangan yang seru di berbagai tempat indah yang mereka kunjungi.

Beberapa waktu lalu aku beli buku ini untuk Bernard. Dia belum menowelnya karena masih ulangan semester walau sudah dibolak baliknya sekilas.

Judul Karang Setan ini diterbitkan dengan judul asli "Five Go to Demon's Rock", tahun 1961. Versi bahasa Indonesianya diterbitkan pertama kali oleh Gramedia pada tahun 1980. Yang kubeli ini cetakan ke 17, Desember 2016. Buku yang tua tapi cetakan muda.

Lima sekawan ini isinya Julian, Dick dan Anne, tiga bersaudara, ditambah George sepupu mereka bersama anjingnya yang pintar, Timmy. Di Karang Setan ini mereka berpetualang saat tinggal di Mercusuar tua yang tidak dipakai lagi milik seorang teman mereka. Mulainya petualangan saat mereka mendengar kisah-kisah seputar mercusuar, teluk dan gua-gua di sekitar tempat itu yang konon pernah dipakai untuk menyembunyikan harta karun dari segerombolan pencoleng.

Kalau kubaca lagi sekarang sih banyak betul yang ndak masuk akal dalam kisah mereka ini. Tapi abaikan saja dah. Saat kubaca ulang kemarin siang di antara vertigoku yang kambuh, aku hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menuntaskannya. Keseruan yang serem dan bikin penasaran sudah tak ada, toh juga aku pernah membacanya dulu. Semua seri dari Lima Sekawan ini aku punya, mungkin sebagian masih ada di lemariku di Kediri sana. Dulu pun aku bisa membacanya berulang-ulang untuk menikmati sensasi berpetualang. Huhuhu.

Yang tetap menarik dari dulu sampai sekarang saat membaca buku ini adalah menu-menu makanan yang mereka keluarkan untuk makan pagi, siang dan malam saat mereka camping atau bertualang. Misalnya pada hari pertama tinggal di mercusuar, pada sore hari mereka merebus telur, masing-masing dua butir, dengan roti dan olesan mentega. "Kita gabung makan sore dan makan malam." Begitu Dick mengusulkan untuk hari pertama itu. Untuk sarapan keesokan harinya sebelum mereka belanja, mereka makan roti, telur dan disusul apel. Begitu dan seterusnya.

Dulu aku selalu terbayang-bayang menu-menu mereka itu. Misalnya makan roti dengan selai kacang, ditambah beberapa potong kue jahe yang dibawa dari rumah. Serta seiris kecil apel dan beberapa buah murbei yang diambil dari semak-semak di atas bukit. Atau, Anne menggoreng telur dadar untuk masing-masing anak, dengan roti mentega besar yang didapat dari toko desa. Setelah itu biskuit-biskuit yang renyah masih mereka santap dengan semangat dengan segelas susu segar. Macam begitulah. Aku selalu suka saat Enid menceritakan bagaimana mereka makan dan menu-menunya. Kemarin saat membacanya pun aku tetap suka pada bagian yang ini.

Saturday, December 09, 2017

Para Lelaki yang Tidak Menikah

Foto yang kupasang ini adalah hiasan janur yang terpasang pada salah satu tiang tenda dalam acara tahbisan diakonat di Way Kandis Bandarlampung, Jumat, 8 Desember 2017, yang kuambil persis sebelum aku pulang sekitar pukul 20.00. Tak ada foto lain yang bisa kupasang selain foto janur-janur ini, sedangkan salah seorang agenku sampai jam segini juga belum bangun untuk mengirim foto-foto yang kuminta.

Pasti bukan kebetulan janur-janur kuning ini dipakai oleh panitia sebagai penghias tenda, seperti juga mereka sepakat untuk memakai baju-baju daerah yang beraneka ragam sebagai dress code untuk menyambut dan melayani para tamu yang datang. Walau mungkin mereka tak pernah menyangka kalau rangkaian janur-janur inilah yang tertangkap oleh kamera ponsel Yuli Nugrahani sebagai inspirasi tulisan ini.

Acara kemarin itu sangat ramai. Pak Totok, seorang teman mengatakan : "Semuanya sesuai rencana, kecuali urutan makan malam dan rangkaian pentas seni yang memang harus ditukar. Rencananya makan malam akan diberikan pada penghujung acara sebelum pentas wayang dimulai, tapi melihat kondisi para tamu hal itu tak mungkin dilaksanakan." Jadinya memang makan malam nasi kotak beredar duluan. Itu saja yang berubah.

Ada 3.000 an orang kukira yang hadir di tempat ini. Tidak tahu persisnya. Aku mengiranya dari nasi kotak yang beredar. Ada 250 X 11 kotak yang beredar untuk tamu, masih ditambah jamuan prasmanan untuk VIP. Jadi kukira kisaran itulah orang yang hadir dalam hingar bingar semalam. Sangat ramai.

Tapi selalu, dalam acara seperti ini aku selalu menitikkan air mata. Keheningan, kesendirian dan kedalaman, dapat kurangkai simbolnya seperti rangkaian janur kuning pada salah satu tiang itu. Dia mencuat dalam gerakan yang lembut mengikuti angin, sedang sekelilingnya adalah keramaian dan waktu yang terus berjalan.

Suasana kontemplasi dalam keramaian seperti ini selalu aku dapatkan dalam upacara tahbisan entah diakon, pastur atau uskup. Di mana pun posisiku berada. Ingat jaman dahulu aku selalu memanggul kamera dan membaca notes kecil dan pena supaya aku tidak melewatkan moment menarik yang bisa kutangkap. Kali ini ini pun suasana seperti masih spontan menyergapku.

Lihatlah 5 laki-laki di depan itu. Mereka berjanji setia untuk hidup selibat, tidak menikah. Memilih cara hidup yang seberat itu dalam kehendak bebas mereka. Untuk apa? Mereka tidak sekadar memilih untuk tidak menikah seperti beberapa orang yang juga tidak menikah di luar sana. Dengan cara hidup selibat, mereka diharapkan menjadi tanda bahwa Allah dicintai melebihi segala-galanya dengan cinta yang tidak terbagi-bagi. Mereka akan menjalankan hidup di sekitar altar dalam pelayanan, tradisi iman, dan ketaatan.

Melihat mereka, aku selalu spontan menjadi ibu. Dipenuhi oleh kasih juga kasihan. Dipenuhi penghargaan sekaligus juga dukungan. Fr. Kris, Fr. Dista, Fr. Michael, Fr. Lukas dan Fr. Bagas, semoga kalian selalu dalam cinta bersama Allah yang sudah memulainya dalam hati kalian, hingga selesai nanti dalam kemuliaan. Ini baru tahap awal, masih banyak peristiwa yang membutuhkan perjuangan, tapi minimal hatiku, sebagai ibu, terus membawa kalian dalam doa.

Hiasan janur kuning dalam keramaian pun mereka tetap hening dan anggun bergerak. Mereka membuat tenda-tenda bukan hanya sebagai tempat bernaung, tapi menjadi waktu dan ruang yang indah. Begitupun keberadaan para diakon yang hanya sebentar itu, semoga begitu...

Puisi Sabtu 5 : PERNAH JUGA SEPERTI INI karya Yuli Nugrahani

PERNAH JUGA SEPERTI INI


Tak mungkin aku lupa rupa pembeli kapak terakhir
bersungut-sungut di teras toko
menginjak lipas seolah dendamnya terletak di sana.

Ujung bibirku ikut menyeringai 
saat tiga kepeng menekan telapak tanganku 
dengan bonus sederet umpatan,
bukan ditujukan padaku. 

Gumam yang tak kumengerti menyertai:
"Dia tak akan melihat matahari besok pagi
kecuali seekor kelinci meminjamkan matanya."

Walau tak seharusnya,
segala hal kecil ini membawaku pada Kenisah Salomo  
dengan tingkatan korban dan pelayanan
sepasang mata yang tak kukenal diletakkan dalam cawan
meneruskan sebuah dendam.


Hajimena 2017

--------------------

Yuli Nugrahani, tinggal di Hajimena, lahir di Kediri 43 tahun lalu, pernah menjadi wartawan Malang Post dan pimred Nuntius. Walau masih menulis sejumlah esai, artikel dan bentuk tulisan lain di berbagai media, sekarang lebih menikmati prosa dan puisi sebagai cara untuk mengekspresikan diri. Selain di beberapa media dan antologi, bukunya yang sudah beredar adalah Kumpulan Puisi Pembatas Buku, Kumpulan Cerpen Daun-daun Hitam, Kumpulan Cerpen Salah Satu Cabang Cemara dan Kumpulan Puisi Sampai Aku Lupa. 

Friday, December 08, 2017

Rinda Gusvita, Ketua Jaringan Perempuan Padmarini

Aku pernah berjanji menulis cewek-cewek yang tergabung dalam Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) tanpa batas waktu. Yang pernah kutulis dulu adalah Dyas atau Holaspica, cek di sini untuk membacanya kembali. Nah, kali ini sosok lain yang menempati posisi kunci di JPP, yaitu Rinda Gusvita, sang ketua. 

Aku mengenal sosok ini lewat promo buku Daun-daun Hitam atas towelan Febrilia (Direktur YKWS) di facebook. (Tentang Febrilia nanti nyusul ya.) Waktu itu Rinda masih sedang terengah-engah menyelesaikan putaran S2-nya di Yogyakarta. Jadi tentu kesempatan ketemu aku di Warung Raminten di tahun 2014 itu menjadi salah satu rekreasinya untuk lepas dari kesuntukan kuliahnya yang ndak kelar-kelar. Hehehe...

Kesan pertamaku saat bertemu dengannya : gadis lugu eh lucu yang manis, pemalu, tak banyak omong, dan sedang galau. Kami tak banyak bicara yang mendalam. Saat itu aku juga janjian dengan beberapa teman lain di tempat yang sama sehingga kami lebih banyak tertawa, sedikit bicara tentang buku, dan tanya jawab spontn seperti layaknya orang yang baru kenal.

Usai perjumpaan itu kami pun tak spontan akrab. Dia menulis review tentang bukuku itu dalam blognya. Bisa dibaca di sini. Ini salah satu review yang kusukai dibanding banyak tulisan tentang buku Daun-daun Hitam di berbagai media. Dia memasukkan penilaiannya tentang buku ini dengan mengalir, jujur (pasti sebagian juga ditutupi) dan menjadi untaian kalimat-kalimat yang menarik.

Ya, memang dia ini penulis yang aktif. Selain di blognya, dia juga menulis di berbagai media dan juga mengikuti berbagai event penulisan. Semangatnya itu lho yang bikin salut. Beberapa tahun kemudian, hmmm sekitar awal tahun 2016 (atau akhir 2015) kalau tidak salah, gagasan tentang JPP menguat. Aku bertemu dengannya lagi, terus bergulis bersama beberapa teman, hingga kemudian JPP kelihatan bentuknya. Keceriaan Rinda termasuk yang memberi pengaruh JPP bisa terbentuk, dan terus mewujudkan visi. Seringkali aku menganggap dia ini adik bungsuku dalam relasi karena dia, dengan suaranya yang renyah macam rengginang yang digoreng garing, mampu memberi suasana meriah dalam setiap perjumpaan. Namun dia ini juga kakak sulung yang berusaha melakukan tanggungjawabnya dengan sungguh-sungguh, termasuk merangkul dan merangkum macam-macam orang yang ada dalam JPP, termasuk membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam pelaksanaannya.

Rinda Gusvita lahir di Tanjung Karang pada 20 Agustus 1988. Saat ini dia menikmati aktivitasnya sebagai Koordinator Jaringan Perempuan Padmarini dan juga pengajar di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Tulisannya masuk dalam Buku antologi, Hati Ibu Seluas Samudera dan juga Surat Untuk Penghuni Surga diterbitkan pada akhir 2014. Dia bersama-sama dengan para penggiat lingkungan lainnya juga menulis buku pada 2016, Solusi Tanding Jokowi sebagai kritik terhadap kebijakan Pemerintahan Jokowi. 

Tulisan-tulisan Rinda bisa dinikmati lewat blognya, www.rindagusvita.web.id dan sapa juga dia di media sosial twitter dan instagram @vitarinda. 

Thursday, December 07, 2017

Forum PUSPA Lampung : Bersinergi dalam Gerakan 3 End

Rapat ketiga untuk Forum Komunikasi Partisipasi Publik untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Propinsi Lampung diadakan di Swissbell Hotel Bandarlampung, 5 Desember 2017. Masih banyak hal yang belum jelas dalam pertemuan ketiga ini misalnya tentang SK Kepengurusan, rancangan aksi dan program untuk satu periode, proposal unggulan untuk diajukan ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (KPPPA), dan sebagainya. Namun puluhan aktifis dari berbagai komponen ini tidak kehilangan semangat untuk membuat dasar-dasar yang diperlukan bagi gerak forum ini di masa mendatang difasilitasi oleh Dinas PPPA Propinsi Lampung.

Minimal ada beberapa point yang diupayakan untuk mengental dalam tiap diskusi, misalnya bagaimana forum ini bersinergi untuk ikut serta dalam gerakan 3 End, yaitu : akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi. Gerakan 3 end ini menjadi bagian dalam diskusi-diskusi tiap calon divisi dalam forum ini.

Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan menjadi agenda utama, bukan hanya untuk mengatasi tapi juga mencegah. Dalam dua kali pertemuan sebelumnya, peserta sudah melihat data-data kekerasan yang terjadi di Lampung. Salah satu yang cukup membuat miris adalah bahwa lokasi kekerasan terjadi paling banyak di dalam rumah tangga, 60 % lebih. Bisa dibayangkan kalau peristiwa itu terjadi di dalam rumah, maka yang menjadi korban dan pelaku pastilah kebanyakan adalah orang-orang yang dekat, orang-orang yang seharusnya saling sayang.

Mengakhiri perdagangan manusia seringkali tidak bisa diraba dengan jelas. Tapi Lampung termasuk menyumbangkan tenaga kerja yang besar ke luar Lampung atau luar Indonesia, dengan resiko yang besar kalau tidak disertai pemahaman tentang migrasi seperti itu. Siapa pun yang ingin pergi untuk bekerja pasti rentan terhadap resiko perdagangan manusia jika tidak punya pemahaman dan persiapan yang matang dari awal keberangkatan hingga kepulangan. Itu hanya salah satu aspek yang harus dipelajari juga oleh Puspa.
Sebagian dari calon pengurus PUSPA Lampung.

Mengakiri kesenjangan ekonomi menjadi bagian yang penting juga sebagai PR. Dalam beberapa kali diskusi, terbuka alternatif-alternatif kegiatan ekonomi yang bisa dilakukan untuk mencapai hal ini di berbagai daerah di Lampung.

Selebihnya, forum ini masih harus bergulat untuk merintis gerakan ini supaya sungguh-sungguh membangun sinergi dengan pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dalam membangun pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Propinsi Lampung. Niat baik saja tidak cukup.

Seperti diungkapkan oleh kandidat ketua, Dr. Yusnani Hasyim, bahwa diskusi-diskusi ini akan dilanjutkan dalam kesempatan mendatang untuk mendapatkan sinergi antar divisi yang ada yaitu divisi kebijakan publik, divisi pendidikan dan pelatihan, dan divisi advokasi dan pendampingan. Tentu saja selalu dalam arahan dari Dinas PPPA Propinsi Lampung.

Kazuo Ishiguro : Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)


Penulis : Kazuo Ishiguro (2005)
Alih bahasa Indonesia : Gita Yuliani K.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan kedua : Nopember 2017
360 hlm

ISBN : 9789792274936

Buku ini kudapatkan di Gramedia beberapa hari yang lalu saat di sela-sela 'capek' karena ini itu yang memang harus dikerjakan. Buku ini terpajang di dekat tangga, jadi langsung tertancap mata. Penulisnya yang membuatku mengambil buku ini bahkan sebelum melihat isi Gramedia Raden Intan secara keseluruhan.

Aku belum selesai membaca seluruh buku walau sudah kubawa ke sana kemari dari hari Sabtu lalu. Ikut ke Way Halim, Jakarta, Telukbetung, ke WC dan seterusnya, baru sampai pada halaman 225. Aku tak sabar saja ingin bercerita tentang buku ini jadi kutulis saja dulu sekilas yang kurasain saat membacanya.

Tentu aku punya ekspektasi tinggi terhadap buku ini karena Kazuo Ishiguro adalah pemenang Nobel Sastra tahun ini. Dia ini penulis dari Inggris kelahiran Nagasaki pada 8 Nopember 1954, berumur 63 tahun saat menerima penghargaan Nobel. Buku ini oleh Kazuo didedikasikan untuk Lorna (pasangannya) dan Naomi (anaknya). Sebelum menerima penghargaan ini dia sudah mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi seperti Memorial Prize, Whitbread Prize, Booker Prize, dan sebagainya.

Aku belum pernah membaca bukunya yang lain selain Never Let Me Go ini. Tulisan di bagian sampul belakang buku tidak memberikan gambaran apa-apa tentang seluruh isi cerita, tapi ada kalimat yang membuatku penasaran untuk menuntaskan buku ini. "Di sanalah manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit."

Sampai seperempat buku, gairahku mulai menghangat menunggu-nunggu seperti apa 'tokoh-tokoh' hasil kloning ini dibayangkan hidup oleh Kazuo. Mereka tiba-tiba ada di Hailsham, menerima pendidikan, kehidupan, pengawasan dan segala hal yang terbaik yang harusnya dimiliki oleh anak-anak. Bedanya mereka tidak tinggal bersama orang tua mereka, ibu dan bapak, tapi bersama dengan para pengawas dan pengasuh, yang memberitahu dan tidak memberitahu tentang kehidupan mereka.

Mereka disiapkan dari awal untuk 'sehat' karena mereka nantinya akan memberikan donasi organ-organ tubuh mereka yang dibutuhkan bagi orang sakit. Mereka tahu itu, tapi mereka juga tidak tahu. Aku beberapa kali merinding saat membaca buku ini. Kazuo menceritakan secara wajar sekali, seperti memang seharusnya seseorang yang tumbuh dari hasil kloning bisa hidup. Juga dinamika mereka terkait dengan relasi, seksual, impian dan sebagainya.

Saat aku menulis blog ini aku baru saja menyelesaikan satu bagian yang menceritakan seorang tokoh dalam buku ini begitu penasaran untuk menemukan 'model' yang membuatnya ada. Orang yang menjadi model klon, yang menyumbangkan sebagian sel tubuhnya hingga kemudian 'lahir' manusia yang lain. Mereka membayangkan model mereka dengan penuh harap : seseorang yang mapan yang bekerja secara baik di sebuah lingkungan kerja yang nyaman, yang mungkin nanti juga jadi gambaran hidup mereka sebagai hasil klon. Namun seringkali mereka juga membayangkan dengan ngeri bahwa model klon mereka diambil dari 'manusia sampah' : Yang asal tidak sakit jiwa.

Hmmm.... ok. Aku akan menyelesaikan dulu buku ini. Nanti aku akan menuliskan lagi bagaimana cerita lanjutannya.

Wednesday, December 06, 2017

Ngomongin Kucing-kucing

Rumah kami seringkali disambangi kucing-kucing. Entah ada berapa dan mana saja, seringkali berganti-ganti, bahkan berganti generasi. Yang sekarang ini nyaris jadi kayak anggota keluarga ya si induk dan tiga anaknya ini. Sekarang mereka sudah sapih susu, ndak disusuin lagi. Foto yang ada itu foto sekitar sebulan yang lalu. Selain mereka berempat ada lagi beberapa kucing yang rajin bertandang, mungkin sebagian dari bapak kucing-kucing itu, atau om tante mereka.

Tiga kucing yang lahir barengan itu mempunyai warna yang berbeda sekaligus punya karakter yang berbeda-beda. Bernard yang paling bisa mengenali mereka termasuk perilaku mereka.

Yang pertama putih abu-abu, dia paling pendiam, penakut, dan hasilnya paling kurus. Makanan yang diberikan kepadanya seringkali direbut oleh kucing lain. Agak susah mendekati yang ini karena dia akan lari kalau kita mendekat. Namun dia juga baik hati, ndak mengancam dan seringnya mengalah. Ndak mau atau takut konfrontasi. Hihihi...

Yang kedua putih abu-abu kuning. Dia ini paling jahil, nakal dan ngerebutan. Juga mencuri. Badannya paling gemuk berisi dibanding dengan yang lain. Bahkan makanan emaknya pun dia rebut. Kata Bernard dia ini anak durhaka, suka nampol. Kalau digoda sedikit pasti tangan eh kaki depan yang kanan akan terangkat siap menampar. Kalau dilempari makanan dia akan langsung mencengkeram makanan itu dengan sikap mengancam. Makannya cepet banget, jadi saat yang lain masih ada dia sudah habis dan akhirnya merebut makanan yang lain. Hohoho...

Yang ketiga putih kuning. Ini kayaknya paling manis dan tidak takut mendekat pada manusia. Suka banget dielus-elus dimanja-manja dan diajak bermain. Sekarang di lehernya sudah terpasang kalung karena dia memang ndusel dan ndak takut kalau dipegang. Tapi dia ini paling cerewet. Bernard pulang sekolah dia pasti udah meang meong. Diberi makanan dia akan langsung makan sambil ngeromet ngoceh apa gitu. Huhuhu...

Nah, apa makanan mereka? Mereka makan yang kami makan. Aku ndak bisa menyediakan makanan khusus untuk mereka. Biasanya ya Bernard itu lagi-lagi yang rajin memberi makan. Nasi dengan lauk yang sama dengan yang dia makan. Kadang hanya nasi saja kalau sayurnya pedes dan ndak mereka suka. Kalau aku masak ikan, udang atau ayam, beberapa bagian akan kugoreng atau rebus khusus untuk mereka. Mungkin mereka mendapat makanan juga dari rumah-rumah yang ada di sekitar kami karena kadang mereka tidak muncul lalu muncul untuk tiduran dekat pintu. Kadang mereka berkumpul ada 7 kucing atau lebih.

Selain 4 ibu dan anak itu, ada dua lagi warna putih dan abu-abu yang diduga bapak dari ketiga anak itu. Menurut Bernard yang abu-abu itulah bapaknya karena si emak ndak marah kalau abu-abu mendekat. Si putih lebih sering ngglibet di sekitar mereka tapi kalau mendekat ke anak-anak itu si emak pasti marah. Nah entah yang benar yang mana. Lalu ada lagi kucing hitam kurus, jarang datang tapi sesekali menengok. Yang lain-lain ada juga tapi aku ndak hapal.

Konon yang suka mencuri adalah si telon dan si putih 'mungkin' bapak. Mereka seringkali panik kalau habis mencuri.

"Memangnya mereka tahu kalau mencuri itu salah, Nard?"

"Tahulah. Kan kalau ketahuan mencuri pasti akan kita kejar-kejar. Mereka tahu kalau kita ndak suka mereka mencuri. Jadi kalau mereka habis mencuri mereka sudah takut duluan melihat kita."

OOO...

Bubur Ayam di Teras Cak Umar

Sarapan buryam, bubur ayam, adalah pilihan yang tepat kalau lagi ndak berselera makan padahal sadar kalau tubuh harus disuply makanan karena memang sedang capek, ngantuk, dan masih ada kerjaan lain yang harus dikejar.

Nah, ini juga yang menjadi pilihan kemarin 5 Desember 2017. Pagi jam 07.00 tepat aku mendarat di Bandara Raden Inten II Lampung. Penerbangan pagi yang bagus dan segar. Juga pemandangan yang super saat turun dari pesawat. Sayangnya mood tidak mendukung jadi kayak robot berjalan aku masuk ke terminal kedatangan dan nerobos kamar mandi. Mesti cuci muka, berbedak sedikit dan poles-poles sedikit. Aku tak ada waktu untuk mampir rumah, tapi kebayang masih ada waktu cukup untuk makan pagi. Jadi aku kirim pesan ke Mas Hendro.

"Ndak jadi naik taksi. Masih ada waktu. Aku naik bis saja berhenti di sekitar Gramedia lalu cari sarapan di sekitar situ."

"Ok. Kujemput ya."

"Yoi. Antar cari bubur ayam yang enak sebelum ke Swissbell."

Aku tahu mas Hendro ndak suka bubur ayam, tapi dia sudah mbatin rupanya untuk mengantarku ke warung bubur ayam seberang Bank Utomo, di teras warung sate cak Umar, di jalan Raden Intan Bandarlampung. Aku sih belum pernah makan di situ, tapi ketika bubur itu tersaji, hmmm... nikmat. Sayangnya aku lupa memesan supaya tidak mencipratkan kecap di buburku. Jadinya buburnya jadi hitam coklat kayak gitu. Suwiran ayamnya tidak terlalu banyak, juga tidak ada irisan cakwenya. Tapi si penjual menyediakan juga sate ati dan ampela, juga telur asin, kalau mau tambah lauk. Porsinya tak terlalu banyak, seharga 10.000 rupiah, ini sesuai dengan porsi yang tepat untuk sarapan. Cukup. Pas.

Selain bubur ayam, ada juga bubur kacang ijo dan ketan hitam. Jadi kalau ndak suka bubur ayam seperti mas Hendro, dia bisa memilih bubur kacang ijo dan ketan hitam yang ditambah potongan roti tawar.

Tuesday, December 05, 2017

Tujuh Jam di De Green Inn, Aeropolis Residence, Cengkareng

Pekerjaan pada Senin 4 Desember 2017 di Jakarta tidak memungkinkan aku langsung balik Lampung pada malam hari. Selesai acara sekitar jam 20.00, badan sudah setengah mabok. Dining memberi tawaran menginap di Wisma Kemiri, di daerah Gondangdia.

"Pesawatku jam 6.30 besok, non. Aku ndak bakal bisa tidur dan jam 4 sudah harus bersiap ke bandara. Uhui banget." Jawabku.

Aku coba browsing beberapa hotel di sekitar bandara Soekarno-Hatta. Salah satu pilihan adalah D'primahotel yang ada di terminal 1 Soetta. Jika aku dapat kamar di situ, aku bisa bangun persis menjelang berangkat karena aku akan terbang dari terminal 1 B. Jadi dari Cikini aku memutuskan naik bis Damri ke bandara ke terminal 1.

Apa daya, saat di depan hotel D'primahotel tanya ke petugas yang melayani di pintu hotel (hotel ini ada di lantai dua, dengan pintu kecil persis di samping terminal 1A kedatangan. biasanya ada petugas depan meja kecil di dekat pintu tersebut), si mbak bilang kalau harga awal 800-an ribu. Yang kulihat sebelumnya di Traveloka sekitar 300-an ribu (atau aku salah baca?) sudah tak ada lagi. Menurut si mbak juga kamarnya tinggal beberapa lagi yang masih kosong.

Hmmm... okey deh. Kembali ke Traveloka, aku akhirnya nemu hotel De Green Inn, 8 jam seharga 214.000 rupiah. Harga yang tepat, lokasi yang tepat, pelayanan yang tepat.

Letaknya tidak terlalu jauh dari bandara, tapi cukup mblusuk, di area Aeropolis Residence. Fasilitas antar jemput hotel tersedia walau jamnya terbatas. Ok. Ruang tidur kecil tapi cukup nyaman. Ok. Komplimen air minum, sabun dan sikat gigi. Ok. Sprei, sarung bantal dan handuk. Tidak terlalu ok. Baunya tidak kusukai. Bukan apek tapi mungkin pilihan pewanginya yang ndak tepat di hidungku. Kamar mandi, toilet, kecil tapi ok. Cukup bersih. Tapi kok air panas ndak jalan yo. HUhuhu. Mandi malam terpaksa dengan air dingin. Pelayanan ok. Aku dibangunin juga sesuai yang kupesan. Lain-lain yang ndak ok adalah kamar tembus suara. Orang keluar masuk dari kamar sebelah kedengeran banget. Lampu ruang dan kamar mandi dengan saklar yang sama. Jadinya kalau aku mau lampu kamar terang, suara kipas dari kamar mandi juga bunyi. Kalau lampu kumatiin baru mati, bisa pakai lampu yang redup, but aku kan sukanya tidur pakai lampu terang tapi tidak terlalu suka suara berisik kipas dari kamar mandi. Sebel kan. Ohya, hotel ini berada dalam area Aeropolis Residence yang memudahkan kalau mau jalan sebentar untuk cari makan atau keperluan lain karena ada rumah makan, cafe dan mini market di area ini.

Nah, so far ini hotel lumayanlah untuk transit sebentar. Aku hanya memakainya selama 7 jam, lumayan bisa istirahat setelah seharian bekerja sebelum lanjut penerbangan ke Lampung pagi harinya.

Sunday, December 03, 2017

Seminar about Parenting : Active non-Violence Movement in Our Family

I got one session to speak in Seminar Parenting : Become The Good Family in Digital Era, at Aula of Xaverius High School, Pahoman, Lampung, 3 December 2017. About 130 women from many areas at Lampung was come. They are the participants of Indonesian Chatolic Woman Organization in Lampung Province.

My session at the last meeting. Hmmm... very nice time. I talked about active non-violence movement. What the facts and datas of violence in Indonesia. How we can believe to use the active non-violence values in daily. How rules, methode, and etc. about active non-violence.  Hope they got the lesson from this session.

(Lagi ndak bisa nulis panjang, capek banget. Tapi aku ndak sabar menuliskan moment ini di blog supaya aku ingat bahwa kesempatan berbicara tentang kekerasan dan gerakan aktif tanpa kekerasan adalah hal yang membantuku untuk terus belajar tentang konsep ini. Tidak mudah. Dalam kegiatan ini wakt untuk tim hanya 1,5 jam. Aku menyiapkan bahan udah dari beberapa minggu yang lalu walaupun baru intensif semalam. Huhuhu.

Mengisi seminar seperti ini selalu jadi kesempatan belajar yang menyenangkan. Bersama tim GATK Lampung, kami mengikutinya dengan penuh semangat. Hari ini, minggu 3 Desember 2017 bersama 130 ibu dari berbagai cabang WKRI yang ada di Propinsi Lampung kami menggeluti bagaimana membangun keluarga yang berkarakter di era digital. Huhuhu...

Okey, dah. Moga aku bisa menuliskan detailnya nanti.)

Saturday, December 02, 2017

Tips : Supaya Sayur Kuah Tidak Meluap

Untuk orang macam aku, yang suka masak tapi alat masaknya mini-mini (inget dulu Hotni bilang : Ini mah masak-masakan, Mbak Yuli. Hehehe...), memasak kuah tuh bisa jadi bencana. Kebanyakan air pas mendidih pun meluap ke mana-mana.

Nah, tips n trik kecil macam gini berguna banget lho. Taruh sutil atau sendok kayu melintang di atas panci. Pas mendidih nanti kuah ndak akan meluber. Seperti kekuatan ajaib, si sendok kayu ini menahan kuah tetap di dalam panci.

Kata bos Hendro, itu karena buihnya nabrak sendok sehingga pecah dan kembali ke panci. Hmmm... aku belum puas logikanya.

Kata Bernard,"Males mikir." Haiya, masak kuah sayur asem males mikir sehingga tidak meluber? Hehehe...

Kata Albert... Huh. Dia ndak sempat menjawab karena bur-buru ke bengkel untuk ganti oli Bisonnya.

Jadi mengapa kuah tidak meluber? Karena ada sendok kayu melintang di mulut panci. Wis. Gitu aja dah.

Puisi Sabtu 4 : IRONI BUKIT-BUKIT Karya Edi Purwanto

Ironi Bukit-Bukit


Apa yang dapat mereka lakukan ketika tangan-tangan
setan memutilasi tubuh tambun lagi hijau.
Hanya diam yang masih setia mereka simpan.

Tapi siapa dapat bertahan atas
luka yang tercipta begitu lama?
Kesabaran adalah daun-daun
bila tiba masanya
akan gugur juga.

Ketika mara tersaji di hadapan mereka
hingga melucuti nyawa.
Serapah dikirim pada
bukit-bukit tanpa
dosa.

Kemiling, 01122017

 --------------------


Edi Purwanto, lahir pada 7 Juli 1971. Saat ini mengabdi di SMA Negeri 2 Negerikaton, Pesawaran. Sejumlah puisinya pernah dimuat di Lampung Post, Fajar Sumatera, dan Majalah Story serta beberapa antologi bersama: Hilang Silsilah (Dewan Kesenian Lampung, 2013), Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (Sibuku Media, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi, (Disbudparpora Kota Banjarbaru, 2015), Memo Antiterorisme (Forum Sastra Surakarta, 2016), Memo Antikekerasan Terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Ombak Biru Semenanjung (Kosa Kata Kita, 2016), Gelombang Puisi Maritim (Dewan Kesenian Banten, 2016), dan Yogya dalam Nafasku (Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016). Aktivitas sehari-hari Edi Purwanto adalah mengajar. Beberapa sekolah pernah menjadi tempatnya bertugas, SMA Negeri 1 Lemong, Pesisir Barat, Lampung (2000-2007), SMA Negeri 1 Waytenong, Lampung Barat (2008-2012), dan di SMA Negeri 2 Negerikaton, Pesawaran, Lampung (2013 sampai dengan sekarang). Sebagai guru, prestasi yang pernah diraih dalam bidang kepenulisan adalah, menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) 2009 dan finalis Lomba Inovasi Pendidikan Karakter (2016), keduanya diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Di tempatnya bertugas, ia aktif membimbing dan membina siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler menulis puisi, cerpen, karya ilmiah, dan majalah dinding.

Friday, December 01, 2017

Salon Dadakan untuk Regina


Regina Anindya Putri
Aku sedang memasak untuk makan malam sore tadi. Hmmm... sebenarnya tidak sungguh-sungguh masak. Hanya menambahkan irisan labu ke dalam rawon sisa siang dan rencana menambahkan telur goreng dalam menu. Si Regina awalnya hanya bermain saja di sekitar dapur, lalu mamanya datang memintanya untuk mandi.

Beberapa saat dia masih mbulet saja belum mau beranjak. Mamanya mungkin memegang rambutnya (aku tak melihat) lalu terjadi obrolan tentang rambutnya yang panjang.

"Ini juga kenapa rambutmu? Kusut banget, Nin." Mamanya memanggilnya Anin atau Regina. Aku memanggilnya Regina, dan Regina memanggilku ibu. "Kayak kena lem ini. Potong saja ya."

"Biasanya potong di mana, Regina?"

"Aku potong sendiri." Sahut mamanya.

"Ya udah, sini. Ibu yang memotong ya."

"Ya. Potong rambut sama ibu." Kali ini suaranya yang terdengar.

"Bener?"

"Iya."

Okey. Aku pun ambil gunting dan sisir. Mamanya membuka bajunya dan dia duduk setengah anteng di belakang dapur. "Bayarannya es krim ya."

"Yaaa. Mau..."

"Es krim buat ibu, yang motong rambut. Bukan untuk Regina."

Dia hanya nyengir. Setelah selesai, aku bilang supaya dia mandi dan cuci rambut lalu datang lagi untuk difoto. Hehehe...inilah hasilnya.

Game Growtopia

Akhir-akhir ini rumahku ramai anak-anak teman-teman Bernard berkumpul setiap sore. Masing-masing memegang HP dan memainkan permainan yang sama. Secara online mereka bertemu dalam permainan Growtopia. Huhuhu. Ini membuatku browsing tentang game yang sedang banyak diminati ini, selain juga tanya-tanya ke mereka.

Growtopia merupakan game yang dapat dimainkan di laptop, komputer, dan smartphones lainnya. Game ini memungkinkan orang dapat berkumpul dan berchatting dan melakukan transaksi di situ. 

Growtopia adalah Game 2D yang berbasis online yang mengutamakan kemampuan pemainnya untuk menghias world mereka dengan bahan-bahan yang akan mereka buat sendiri. Game ini memiliki tujuan untuk menjadikan pemainnya menjadi lebih kreatif dalam menghias worldnya sendiri. 

Game Growtopia diciptakan oleh @Hamumu dengan nama aslinya Mike Hommel yang lahir tanggal 10 Desember 1974 dan @Seth  dengan nama aslinya Seth Able Robinson. Growtopia diluncurkan pada tahun 2013 dan merupakan game gabungan perusahaan Robinson Technologies dan Hamumu Software. Growtopia dapat disingkat dengan nama GT.


Ada banyak istilah yang sering muncul saat anak-anak itu bermain misalnya world, gems (gems ini bisa digunakan untuk membeli berbagai barang misalnya, World Lock, Huge Lock, Big Lock, dan Small Lock, Awesome Items, Weather Machines, Item Packs, dan Spend Growtokens.). Pemain juga bisa menanam dan panen untuk mendapatkan banyak gems. Juga bisa ke shop untuk menjual dan membeli, ke parkour untuk lomba dan mendapatkan hadiah.

Karena itulah tampaknya kalau sudah main Growtopia mereka bisa asyik banget sambil diskusi 'dagang'. Kata Albert ada beberapa manfaat bermain ini misalnya belajar bahasa Inggris, dan juga belajar melakukan transaksi jual-beli. Lalu katanya lagi, ada buruknya juga sih. "Orang menjadi lupa waktu kalau memainkannya dan kalau tidak hati-hati bisa menjadi judi."

Nah looo....

Mengelola Keuangan yang Pas-pasan dengan Bank, Koperasi dan Pegadaian

Dari dulu aku sudah biasa 'cupet' kalau nyebut yang namanya uang. Bapak ibuku menyediakan semua kebutuhanku, tidak kurang dan tidak lebih. Pas. Aku termasuk tukang boros dalam urusan buku dan makanan. Dua hal itu sering membuat aku kelabakan. Tapi aku terlatih sejak SMA karena saat itu aku sudah mulai kost. Waktu SMA, tempat kostku sangat murah karena kebaikan induk semang yang sudah dianggap keluarga. Nah, waktu kuliah di Malang, rasanya soal uang nih aku jatuh bangun, bahkan sampai kerja.

Jatah uangku tiap bulan untuk makan, transportasi dan buku hanya 40 ribu rupiah tiap bulan. Itu sangat mepet. Cukup untuk makan dua kali supaya aku masih bisa fotokopi dan naik angkot kalau perlu ke suatu tempat. Kalau ternyata perlu fotokopi lebih banyak atau harus beli buku atau bahan praktikum, terpaksa deh jatah makan hanya satu kali sehari, ditambah roti murmer atau cemilan lain yang terjangkau pas perut ndak tertahan. Juga aku terlatih untuk jalan kaki ke mana-mana sampai radius berkilo-kilo meter.

Agak longgar sedikit saat berkat bulikku yang guru SMP menawari aku memberikan les tambahan untuk beberapa murid. Wuaa...kaya raya cing. Tiap bulan untuk satu anak dengan 2 kali seminggu nemani belajar aku mendapat 35 ribu rupiah. Plus bonus yang kadang mereka bawa seperti ayam bakar, bolu coklat, sayur matang dan sebagainya titipan mama mereka. Pernah sampai 3 atau 4 orang kuterima. Juga karena aku mendapatkan subsidi belajar dari kampus beberapa semester. 200 ribu per semester atau berapa aku lupa, dengan berbagai syarat termasuk mengikuti upacara bendera pada hari-hari tertentu. Hehehe...

Nah saat usai kuliah juga pilihan pekerjaan di VCI dan Malang Post membuatku katam soal keuangan yang cupet. Tapi cukup walau mesti akrobat mengatur jam makan, hunting makanan murah dan banyak, serta rajin jalan kaki.

Setelah menikah, soal ini pun masih berlangsung. Tidak pernah kekurangan, tidak sangat berlebihan, tapi semua tercukupi. Tiga lembaga inilah yang membantuku : bank, koperasi dan pegadaian.

Bank memang sudah menjadi sarana untuk mengelola keuangan sejak aku masih mahasiswa karena ibuku mulai mengirimkan jatahku ke bank sejak semester ke 4 atau 5. Lalu gaji suamiku juga masuk langsung ke bank. Maka, bank membantu menyimpan uang walau untuk beberapa saat. Rekening bank masih harus dimiliki manusia jaman now. Ini penting bagiku untuk melakukan transaksi cepat, menerima atau mengirim uang. Pembelian tiket, barang, hotel, dan segala hal masih membutuhkan nomor rekening.

Koperasi kukenal saat aku mulai bekerja di Keuskupan Tanjungkarang. Ruang kerjaku berdekatan dengan ruang pak Mukani, bendahara kopdit Mekar Sai, maka aku pun di'cekoki' segala hal tentang koperasi sejak aku masuk kerja. Dan beliau berhasil menyakinkan aku untuk menggunakan kopdit sebagai bagian yang penting dalam mengelola keuangan keluarga. Koperasi bermanfaat banget untuk menabung dan meminjam dengan keuntungan bunga, Sisa Hasil Usaha (SHU), dan juga produk-produk koperasi yang lain. Untuk investasi jangka panjang di koperasi juga lebih menguntungkan dengan catatan koperasi itu memang sehat.

Pegadaian mulai kukenal saat mengalami krisis hebat pertama kalinya dalam keluarga. Tak ada uang, tak bisa lagi pinjam di koperasi. Jadinya beberapa perhiasan yang kupunya pun pindah tempat. Awalnya begitu. Tapi sekarang aku datang ke pegadaian tidak hanya untuk menggadaikan barang, tapi juga untuk ikut 'arisan' logam mulia. Walau sering kali logam mulia yang kumiliki jarang berada di tanganku dalam waktu lama (karena digadaikan kembali. hihihi.) hal ini bisa menjadi cara untuk menabung juga.

Detailnya kutambahkan nanti-nanti ya. Tapi minimal ketiga lembaga ini sudah membantuku sejauh ini supaya aku cukup nyaman menjalani hidup dan membayangkan masa depan. Inti dari ketiganya itu sih jelas : MENABUNG.