Tuesday, February 14, 2017

Jurney to Manila 4 : Mercusuar

Hari keempat aku bersama rombongan berkunjung ke pertanian di Jaybanga, sekitar 1 jam perjalanan dari Lagdlarin menggunakan jeepney, kendaraan andalan di Piliphina. Desa yang indah, tapi membuatku gundah. Perjalanan yang cukup berat membuatku berpikir bagaimana penduduk desa mengakses pendidikan, kesehatan atau kebutuhan lain. Lalu semakin sedih ketika tahu mereka sudah kehilangan tanah-tanah mereka berpindah ke pemilik uang. Duh.

Padahal ini tempat yang luar biasa indah. Lihatlah, bahkan aku menjelma bidadari dalam lingkungan surga seperti ini. Sangat cantik, segar. Apalagi dijamu oleh para ibu petani di sana dengan semangkuk bubur beras yang manis. Aku tidak sempat sarapan di rumah Ate Nimpa karena buru-buru dan harus packing n pamitan.

Membayangkan beberapa tahun lagi tanah-tanah ini berubah rupa membuatku sangat sedih.

Nah, perjalanan terakhir hari ini adalah ke mercusuar Malabrigo dan berbincang dengan komunitas petani dan nelayan di Balibago. Aku tidak terlalu menikmati bagian ini karena tidak seperti berkunjung ke komunitas tapi seperti rapat. Harusnya akan lebih menarik jika kami mengunjungi rumah mereka, berbincang di ruang tamu atau teras mereka, dan minum teh bersama mereka. Tapi ya sudahlah.

Hari ini adalah hari terakhir menikmati Lobo. Sore kami kembali ke Manila menembus jalan berliku dan kemacetan kota pada bagian akhirnya. Tidak kembali ke Hotel Syalom tapi kami akan menginap di Pope Pius XII Catholic Center, penginapan milik Gereja Katolik di pusat kota untuk melanjutkan pertemuan. Ohya, hari ini 14 Pebruari 2017 adalah hari valentine yang terlewatkan. I love you.

Monday, February 13, 2017

Jurney to Manila 3 : Ombak, Mindoro dan Seluruh Topik

Kalau perjalanan ini untuk rekreasi, aku pasti sudah tenggelam dalam keindahan alam Piliphina. Di hari 3 tanggal 13 Pebruari di negeri ini, PSET (People's Solidarity and Education Tours) yang memfasilitasi kegiatan eksposure ini mengajak untuk mengekplore laut dengan menggunakan perahu besar.

Ombak yang tinggi tak menyurutkan semangat, cuma mengocok perut sampai parah. Hihihi... beberapa peserta sudah pucat-pucat hijau tahi mengalami ombak lepas dari pulau Luzon menuju Mindoro. Aku sendiri merasa tidak terlalu nyaman dengan tingginya ombak walau aku cukup menikmati perjalanan ini.

Dalam kondisi normal saja aku kesulitan menyerap informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggris, apalagi dalam perahu yang terombang ambing gitu. Yaelah. Dan begitu sampai di pesisir indah di Mindoro, aku kehilangan mood untuk nyemplung pantai indah mereka. Bening, terumbu karang, ikan, dan seluruh flora fauna laut. Aku menikmati dek kapal saja sambil mandi matahari menikmati alam segar dan indah. Tapi aku tak bisa melepaskan diri dari tema-tema yang dibahas sepanjang eksposure ini : nelayan, petani dan tambang.

Huft.

Sunday, February 12, 2017

Jurney to Manila 2 : Tinggal di Lagadlarin, Lobo, Batangas Province.

Hari kedua di Manila, aku mesti bangun pagi-pagi sekali. Jam 6 perjalanan ke Lobo, propinsi Batangas akan dimulai. Menggunakan bis besar, peserta eksposure sekitar 25-an orang akan menikmati daerah pantai yang menjadi bagian dari cara mengenal Piliphina lebih lanjut. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam, berhenti untuk kencing di toilet umum (jelas lebih ok toilet-toilet di stasiun-stasiun di Indonesia yang sekarang ini wangi), mengunjungi Fr. Jojo di paroki Michael Angelo lalu makan siang bersama umatnya di pinggir pantai sambil mendengarkan pengenalan tentang daerah yang akan kami kunjungi.

Seluruh peserta dibagi dalam 3 kelompok. Aku kebagian kelompok Lagadlarin, sebuah komunitas nelayan di daerah pesisir. Sebelum ke rumah tempat tinggal, kami berkunjung ke Lagadlarin Mangrove Forest untuk menanam bibit mangrove di daerah itu. Aku menanam dua bayi yang kutiup-tiup dengan doa supaya mereka tumbuh sehat. Hehehe.

Usai menanam mangrove, kami sekelompok menikmati pantai mereka yang bau ikan tapi super bersih. Huwaa... rasanya aku bakal kerasan banget di kampung ini. Sukaaa.... indah banget.

Rumah yang aku tempati adalah rumah keluarga Nimpa. Rumah yang untuk ukuran kampung ini sangat lumayan, dengan jamuan makan yang lezat, tak beda jauh dengan makanan orang Indonesia. Aku sungguh-sungguh tak bermasalah beradaptasi dengan mereka. Apalagi di antara orang-orang yang datang ke rumah itu, ada si Ariyana, gadis manis usia 14 tahun yang berani yang bercerita tentang mimpinya, tentang kesedihannya karena tambang, tentang keraguannya apakah nanti bisa menggapai cita-citanya jadi dokter karena dia tahu orang tuanya tak punya uang, dan sebagainya.

Saturday, February 11, 2017

Jurney to Manila 1 : Kesempatan untuk Tidur!

Introduction.
Perjalanan ke Manila sudah aku rancang dari tahun lalu saat ada undangan dari ACPP bekerjasama dengan NASA Manila untuk Justice and Peace Workers Meeting 2017 se Asia - Pasific. Aku menanggapi undangan dengan senang hati dan menyiapkannya. Meeting ini akan diawali dengan eksposure selama 3 hari, jika aku berminat. Wow, tentu saja.

Pilihan terbang menggunakan Cebu Pasific adalah pilihan yang tepat. Penerbangan langsung dari Soetta ke Ninoy akan ditempuh selama sekitar 4 jam. Dari Lampung aku berangkat pada 10 Pebruari sore, untuk penerbangan Cebu ke Manila pada pukul 00.30, lewat dikit dari tengah malam. Ini bukan jam yang tepat karena begitu lewat dari imigrasi pada pukul 22, aku sudah nyaris tak bisa membuka mata. Berjalan-jalan di sekitaran terminal 2 Soetta tak membantuku sama sekali sedang tubuh yang belum sempat istirahat beberapa hari pengin banget dibaringkan.

Harapanku, penerbangan 4 jam itu akan menjadi saat tidurku. Huft, sayang sekali. Harapan tinggallah harapan. Hampir selama penerbangan, cuaca begitu buruk sehingga penerbangan itu terguncang-guncang. Selama 4 jam lebih! Dengan jiwa yang menciut karena takut, mata pun bisa tetap bertahan terbuka. Puji Tuhan sampai dengan selamat di Ninoy Aquino Internasional Airport tepat waktu, saat fajar siap merekah, pukul 05.50.

Saat keluar dari bandara, seseorang yang menjemputku dengan tanda di tangannya sudah bersiap. Aku menghampirinya, mengenalkan diri dan langsung meluncur ke Hotel Syalom, tempat satu malam nginap sebelum besok melanjutkan perjalanan ke Batangas untuk eksposure.

Briefing sore hari pada 11 Pebruari cukup membuatku nyaman karena sebagian peserta sudah kukenal. Aku sempat tengsin karena telat masuk ruang untuk briefing gara-gara aku ndak set arlojiku. Piliphina memiliki waktu satu jam lebih cepat dari Lampung, dan aku lupa mengingatnya. Padahal begitu sampai di hotel aku menuntaskan kebutuhan biologis dengan tidur sepanjang waktu. Siang bangun sebentar untuk makan wafer sisa dari Sriwijaya dalam penerbangan Lampung - Jakarta, dan minum sebotol air yang kubeli di hotel. Lalu tertidur lagi sampai ditelpon oleh resepsionis hotel,"Mam, you are waited for meeting at third floor. Now they ready for meeting." Aku protes kalau meeting akan mulai satu jam lagi sesuai agenda yang kupunya, tapi kemudian segera sadar soal perbedaan waktu. Ealah, cepet-cepet aku cuci muka dan turun ke lantai 3. Kamar yang kudapat di lantai 5.

Apapun, hari pertama selalu menarik, apalagi saat makan malam aku merasakan bahwa aku sangat-sangat lapar...

Monday, January 30, 2017

Cadas Hikmat Bandung

Ini salah satu kesempatan menarik yang kudapat dalam bulan ini. Berkunjung ke Bandung untuk menemani 12 cowok keren yang tinggal di Seminari Menengah Cadas Hikmat Bandung. Pada 20 - 22 Januari 2017 aku mengajak mereka untuk berlatih menulis, mulai dari bagaimana teknik menangkap fakta, menuliskannya sebagai tulisan lengkap yang bisa dibaca orang lain dalam bentuk opini dan refleksi.

Pelatihan yang menarik. Lihat dung hasil tulisan mereka. Mereka bisa menulis tentang sepeda yang mereka gunakan tiap hari, mereka bisa bercerita tentang buku point yang menuliskan pelanggaran dan prestasi mereka, juga tentang logo tentang lagu mars kebanggaan dan juga tentang mereka sendiri.

Hal yang menyenangkan salah satunya, karena perjumpaan ini menjadi kesempatan bagiku untuk teringat kembali banyak hal yang pernah kutinggalkan. Salah satunya : meditasi pagi. (Mereka sih meditasi sambil goyang-goyang nguap gitu. Hehehe.)

Jadi, terimakasih banyak ya, nak. Aku akan mengingat kalian semua (Dimas, Novan, Kevin, Tirta, Rema, Dona, Agus, Wahyu, David, Yuan, Gagi dan Gugun, ). Aku pasti mampir lagi suatu ketika.

Aku bersama 12 seminaris Cadas Hikmat

Tuesday, January 24, 2017

Istirahatlah Kata-kata : Menemui Widji Tukul di Ruang Sunyi

Usai rapat komisi di Cikini biasanya kuisi dengan jalan ke Taman Ismail Marzoeki (TIM). Kali ini, Selasa 24 Januari 2017, rapatku kira-kira selesai pukul 16.00.

"Mbak Liest, yuk kencan. Aku di Jakarta nih."

"Okey. Kau bisa ke kantorku atau ketemu di mana?"

"Nonton Widji Tukul yuk. Kucari jadwale ya?"

Jadilah, ketemu jadwal 19.00 hari itu di TIM. (Kemudian aku agak menyesal sudah membeli tiket karena pada jam yang sama ada agenda baca puisi Widji Tukul di depan TIM. Tahu gitu kan nyari jadwal lain lalu ikut baca puisi. Ih.)

Bertemu Mbak Liest tentu saja selalu istimewa. Kayak selalu kurang waktu untuk curhat, untuk apa saja. Tapi kesempatan nonton bareng apalagi film yang ini, tentu sangatlah ok.

Nah ya. Film ini mungkin mengecewakan bagi banyak aktifis yang berharap menampilkan sisi heroik Widji. Tapi bagiku, ini film yang sangat pas. Tepat. Bukan hanya menampilkan kesenyapan, tapi benar-benar mengajak untuk senyap. Huft.

Puisi-puisi Widji yang populer lugas garang, sangat pas untuk aksi di jalanan, kali ini disuarakan dengan sangat ... hmmm katakanlah romantis. Manusiawi. Mengusik, bikin marah, sedih atau tertawa.

“Puisi Kemerdekaan
Kemerdekaan adalah nasi
Dimakan jadi tai
Widji Tukup, Agustus 1982

Nah ya. Aku sungguh-sungguh terusik.

Wednesday, January 18, 2017

Rizieq Shibab

Bisakah Aku Mencintai Rizieq?
Aku ingin menulis tentang hal ini sejak setiap kali membuka beranda Facebook selalu muncul berita-berita tentang Rizieq secara gencar. Setiap kali membuka Facebook pasti kemudian kusertai dengan membaca link-link yang disebarkan oleh pecinta atau pembenci Rizieq. Sekarang keinginanku untuk menulis tak kubendung karena kegelisahanku semakin menggembung. Ya, aku gelisah karena tulisan-tulisan, gambar-gambar dan video-video yang sekarang ini beredar berkembang ke hal-hal ndak logis. Biar deh, minimal untuk kesehatan psikologisku, aku menuliskan ini. Bagi teman-teman yang iseng ingin membacanya, silakan membaca dengan santai saja. Jika tidak suka membacanya, silakan blokir sehingga tulisan ini tak perlu dibaca.
Aku ingin memulainya dengan Rizieq. Aku merasa ya begitulah Rizieq. Rizieq Shihab itu laki-laki kontroversial. Dia ngomong sesuka hati. Ceplas ceplos seperti tidak mikir dulu sebelumnya. Dia adalah laki-laki pemberani. Ini bisa dibantah tapi jelas dia memang berani bicara dengan lantang sesuai pikirannya tanpa ditutupi walau data atau alasan yang dimiliki masih minim atau tidak sesuai. Jika dia merasa benar dengan pilihannya, maka dia akan lurus berjalan di situ. Walau seringkali landasannya asumsi (misal ketika dia mengkritisi atau mengolok keyakinan orang lain). Dia tetap saja lurus walau dibengkokkan banyak orang (atau dia tetap bengkok walau orang lain mencoba meluruskannya).
Setiap kali membaca atau mendengarkan omongan Rizieq, aku susah untuk mengangguk setuju. Ibaratnya, dia membuatku menggeleng 4 kali dalam 5 pernyataannya, itu artinya 80% aku tidak setuju dia. Ohya, diingat lho, aku belum pernah ketemu dengannya. Pengenalanku itu kudasarkan pada media yang kubaca atau kulihat. Pengenalan yang berkembang hanya seturut asumsiku. Menurut perasaanku saja. (Nah. Untuk hal ini aku sama dengannya, bersikap berdasarkan asumsi. Aihdah.)
Nah, aku ingin kembali pada judul yang kubuat yang menjadi bagian dari pikiran-pikiranku selama beberapa bulan ini. Apakah aku bisa mencintai Rizieq? Untuk Rizieq yang hanya mendapatkan 1 anggukanku (yang bahkan mungkin tidak utuh 1 anggukan), kata cinta menjadi hal yang sulit. Tidak mengatakan bahwa dia adalah musuh juga susah. Gimana lagi. Beberapa kali menonton youtube yang memuat suaranya, kotbahnya atau orasinya, membuatku ketakutan, sedih, marah dan sakit hati. Banyak dari perkataannya, teriakannya membuatku merasa seolah dia saja yang punya hak hidup di Indonesia ini. Cara pikirnya itu susah kupahami. Mungkin karena dia tidak menahan diri mengungkapkan apapun yang dipikirkannya. Ooo, maafkan aku. Aku memang memakai perasaan ketika mendengar atau melihatnya. Dia memakai aturan yang berbeda dengan aturan dasar negara ini seturut pemahamanku. Dia punya logika yang menurutku seringkali aneh, sehingga mungkin hal itu dipahami oleh sekelompok orang, tapi untukku, ini agak berat dipahami, terlebih ketika kemudian segala tindakannya mutlak ingin dibenarkan oleh siapa saja. Dalam beberapa kali kesempatan berdoa aku menyelipkan namanya : "Tuhan, ubahlah maklukmu yang satu ini supaya dia lebih hati-hati berkata dan bersikap. Berilah dia kesadaran bahwa tindakannya memberi pengaruh pada banyak orang dan bisa memunculkan kegelisahan. Tuhan, dampingilah dia supaya semakin menjadi manusia perantara cinta kasihMu. Tuhan, bukalah kepalanya sehingga Kau susupi dengan cinta kasihMu semata untuk disebarkan kepada siapa saja."
Duhai. Mungkin aku yang salah memahami situasi ini. Tapi aku memang semakin gelisah. Semakin hari aku melihat kini bukan hanya soal Rizieq yang memenuhi beranda Facebook. Tapi sekarang muncul pengikutnya dan pembencinya saling serang seperti perang. Dipicu oleh selintas kata atau kalimat saja, muncul saling hujat. Aku ngenes membaca nabi besar dilecehkan, nama Tuhan agama-agama jadi olokan, ayat kitab suci tidak dihargai dan sebagainya.
Aku bertanya pada suamiku semalam : "Ini kayak perang saja ya. Orang-orang jadi biasa saling hujat saling serang dengan memakai agama. Semua agama dinistakan karena makian-makian yang berseliweran. Kok jadi antar agama sih?." Suamiku seperti biasa dengan gayanya yang lembut bilang : "Tapi di sini (dunia nyata) tak ada itu. Semua baik-baik saja. Tetangga yang beragam tak menimbulkan masalah. Teman-teman dari berbagai agama juga biasa saja. Tetap saling hormat." Aku rasa itu betul, karena aku pun merasakan mesra dengan semua kelompok agama apapun tapi aku bilang,"Aku pengin tahu akhirnya. Penasaran. Bagaimana situasi Indonesia beberapa tahun lagi jika cara komunikasinya seperti ini?" Mas Hendro diam saja. Mungkin dia akan menyarankan,"Udah, tutup HPmu, ndak usah mainan FB, twiter dll. Tidur sana." Tapi mungkin dia ndak tega. Hehehe...dia paham istrinya juga dapat duit dengan bantuan medsos.
Tapi tidak fair menuduh Rizieq sebagai satu-satunya akar penyebab perang itu. Ada banyak lagi yang menjadi pendukung situasi ndak nyaman ini. Apalagi sekarang sudah melebar kemana-mana dan membuat banyak orang jadi sensitif. Bahkan ada orang-orang serupa Rizieq di berbagai tempat, berbagai agama. Ngeri.
Hmmm... kembali ke pertanyaan itu, bisakah aku mencintai Rizieq atau orang serupa dia? Entah. Aku harus bisa melihatnya sebagai ciptaan, sebagai 'aku' lain yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Karena Dia telah menciptakan semuanya itu, wajarlah Dia meminta : "Cintailah sesamamu manusia." Bahkan."Cintailah musuh-musuhmu." Duh. Entah. Kalau ciptaan ini adalah sebentuk Rizieq, yang berkali-kali menyakiti hatiku dengan perkataannya lewat youtube yang sengaja aku tonton, bagaimana bentuk cinta yang tepat baginya?
Aduh. Aku bisa memulainya dengan bertanya padanya : "Apakah kau mencintaiku, Rizieq?" Aduh. Itu bukan pertanyaan yang tepat. Aduh. Aduh... Apakah kau mencintaiKu?

Tuesday, January 03, 2017

Tahun 2017, Harmoni.

Aku ingin mengawali tahun dengan membuat sebuah misi seperti biasanya. Misi tahun lalu belum selesai. Harmoni seorang Yuli dalam seluruh semesta masih sampai pada 'gempa-gempa', belum selesai. Jadi, aku ingin melanjutkan proses itu tahun ini.

Beberapa detail aku ingin tulis begini : Keluarga akan menjadi fokus utama. Cantik luar dalam akan menjadi cara menarik untuk hidup. Buku-buku harus diselesaikan. Ini akan menjadi catatan dokumentasi yang penting untuk banyak hal. Penanggungjawab untuk FPBN, JP, GATK, dan beberapa hal lain mesti kulanjutkan. Puisi dan cerpen akan kupakai sebagai refreshing, tapi sebuah novel harus diselesaikan.

Nah, semangat.

Wednesday, December 07, 2016

Menjelang Pergantian Tahun

Aku tahu ini agak terlalu dini untuk menjelang pergantian tahun. Tapi aku sedang mencari-cari kesempatan untuk merenggangkan otot dan otak, jadi aku pamit lebih awal. Tahun ini terlalu banyak memberikan gerak dan pikiran padaku. Beberapa hal yang sudah direncanakan bisa terjadi selebihnya lepas. Yang tak direncanakan ada yang tiba-tiba muncul dan menjadi kekayaan.

Yang paling ingin kucatat ada beberapa hal :
1/ Aku menerbitkan buku kumpulan cerpen kedua berjudul Salah Satu Cabang Cemara. Buku ini dikerjakan dengan sedikit ragu-ragu, tapi kemudian terjadi, dan aku disupport oleh banyak orang.

2/ Aku mendapatkan beberapa garapan buku yang tidak terbayangkan, seperti buku kumpulan cerpen dan puisi Akar Rumput, buku koperasi Mekar Sai, buku YPSK, buku Gurindam Jiwa, juga terlibat dalam beberapa buku lain untuk editing atau sekadar memberikan endorsment. Semuanya sangat menarik.

3/ Aku mendapatkan beberapa kepercayaan untuk memegang tanggungjawab lebih seperti menjadi panitia nominasi koperasi, menjadi tim inti GATKI, menjadi sekrum FPBN, dan lain-lain.

4/ Banyak kali aku mendapatkan kesempatan-kesempatan menarik. Perjalanan-perjalanan bahkan hingga ke Phuket, menjadi moderator berbagai acara, dan lain-lain.

5/ Ah, aku tak bisa menyebutkan semua dinamika.

Di akhir tahun ini aku sulit menyebut semua hal itu sebagai capaian atau kesuksesan. Aku mengatakannya sebagai pengalaman. Itu cukup. Sekedar mengingat, ini adalah catatanku di awal tahun 2016. Aku menjadi 'harmoni', mampu melewati 'gempa-gempa' hingga semakin harmoni. Bagaimana aku mampu mengevaluasinya di akhir tahun ini?

Huft. Aku baru sampai pada gempa-gempa. Belum sampai pada harmoni. Mungkinkah itu yang masih harus aku teruskan pada tahun depan, pada tahun 2017? Huft.

Thursday, December 01, 2016

Bila Gigi Depan Patah

Aku ingin menuliskannya supaya pembaca yang mengalami hal serupa mempunyai pilihan bersikap. Apa yang Anda lakukan jika gigi depan Anda patah? Huft. Ya, jangan pernah berharap gigi depanmu patah. Sungguh, itu sama sekali bukan peristiwa yang menyenangkan, dan aku pernah mengalaminya. Baru saja, tepatnya Kamis 17 Nopember 2016 yang lalu.

Apa yang terjadi? Hari itu aku ada rapat di YPSK. Kondisiku kurang begitu baik karena aku memang dari hari sebelumnya merasa sangat capek. Selasa usai pulang dari Jakarta ada beberapa kegiatan. Study day dengan para suci di kantor, lalu rapat ini itu salah satunya dengan tim buku YPSK. Kamis itu pulang rapat aku mesti mampir bank lalu karena membayangkan ndak bakal bisa kerja lagi di kantor aku pulang dan mampir ke sekolah Bernard untuk menjemputnya karena toh searah.

Bernard bengong sekaligus senang melihatku, lalu pulang tanpa firasat apa-apa. Aku berpikir untuk berhenti sebentar cari makan atau belanja, tapi tubuhku sudah benar-benar ingin berbaring. Menjelang belokan dekat rumah, tiba-tiba kepikir untuk mampir toko beli sosis karena di rumah tak ada lauk. Di situlah bencana terjadi. Karena mendadak mengerem, ada pasir di aspal, motor pun nyungsep ke aspal. Aku, wajahku duluan yang mencium mesra aspal persis dengan bibirku. Sedang Bernard bagian kiri tubuhnya terseret. Alamak. Aku sudah langsung berdiri melihat Bernard memastikan dia tak apa-apa. Tapi kami apa-apa!

Sepi, kecuali sepasang bujang muda yang kebetulan lewat membantu motorku berdiri lagi dan aku langsung starter motor lagi. Aku tak merasakan sakit tapi aku sudah panik merasai asin di mulut dan aku yakin banget beberapa gigiku rontok dan goyang. Aku menghibur-hibur Bernard di boncengan sambil pelan-pelan mengendarai motor sampai rumah.

Di rumah rasa sakit pun mulai menyerang. Bernard menangis, aku pun nangis. Aduh. Darah di mulut dan kakiku, serta di tangan dan kaki kiri Bernard. Kami berdua menangis barengan di kamar sambil nelpon Mas Hendro untuk pulang. Lucu juga sih membayangkan waktu itu. Aku beberapa kali melihat ke kamera HP, melihat bibirku yang semakin bengkak karena luka di bibir dan gusi, sedang gigiku yang depan patah sehingga wajahku lebih mirip nenek sihir daripada Yuli. Huft...

Nah, itu pengantarnya. Aku mau masuk ke poin yang sudah kukatakan di bagian judul. Bila gigi depanmu patah, apa yang bisa kau lakukan? Nangis! Nangis aja sepuasmu. Lalu ke dokter gigi. Hihihi. Tentu saja jika kasusnya sepertiku, yang luka di bagian bibir dan badan, kita perlu dokter lain juga untuk memastikan bahwa semua baik.

Ke dokter gigi puskesmas, dia nawarin obat ngilu. Ya, itu tepat karena memang gigi rasanya ngilu dan goyang semua. Tapi soal gigi patah, dia angkat tangan. Maka, aku pun dirujuk ke rumah sakit. Di rumah sakit Advent, dokter bilang belum bisa melakukan apa-apa karena bibir masih luka dan gusi masih sakit. Jadi aku diberi antibiotik dan anti nyeri. Pilihan untuk gigi yang patah : 1. cabut (gigi jadi ompong. ndak banget karena ini gigi depan) 2. cabut dan ganti gigi baru (mahal) 3. pakai sarung gigi (mahal, butuh waktu kira-kira 2 sampai 3 minggu untuk semua proses) 4. sambung/tambal gigi (syaratnya akar masih kuat, waktu hanya sebentar sekitar 1 jam pemasangan, lebih murah dari antara pilihan lain)

Nah, pilihan terakhir itulah yang kuambil. Tapi itu baru bisa dilakukan kalau luka-luka bibir udah sembuh dan gusi udah pulih. Kira-kira seminggu lagi aku disuruh datang. Kata dokter biayanya sekitar 850 ribu, tak bisa pakai BPJS. Okey, aku tak punya pilihan lain. 

So, selama berhari-hari aku mesti memakai masker untuk memastikan orang tidak melihatku dalam konsisi 'tidak baik'. Luka di kaki cepat sembuh, walau sampai sekarang masih ada bekasnya. Luka Bernard juga cepat pulih sehingga dia tak pincang-pincang lagi. Di hari Kamis minggu berikutnya aku kembali ke dokter gigi, dibius, dibor, di... entah diapain saja selama kurang lebih 45 menit lebih dan traaadaaaa.... gigiku kembali.

Pesan dokter,"Gigi ini namanya tetap gigi palsu. Tak sekuat gigi asli. Jadi mesti dijaga cara makan dan cara merawat gigi."

Hmmm, oke. Yang penting aku ndak perlu pakai masker lagi, bisa senyum lebar lagi. Gigi palsu ini sangat mirip dengan aslinya jadi kalau orang tidak sangat memperhatikan pasti dia tak akan tahu gigi mana yang sambungan. Soal makan, okeylah, toh selama seminggu aku juga hanya makan bubur dan makanan yang lunak-lunak. Kalau pun ditambah selama seumur hidup kukira tak masalah. Ihiks.

Friday, November 04, 2016

MATI HANYA SEBENTAR, BU

Dua berita duka hadir pada hari yang sama, kemarin, Rabu 3 Nopember 2016. Yang pertama kudengar adalah wafatnya Pak Wahyo, yang memang kuketahui sudah sakit sekian lama. Yang kedua, Bu Warno, tetangga dekat rumah, yang kuketahui beberapa hari lalu masuk rumah sakit. Selalu suasana berbeda muncul saat ada berita kematian.

Pulang dari melayat, Albert duduk di sebelahku di dapur. Dia bertanya ini itu soal meninggalnya pak Wahyo dan bu Warno. Keduanya dia kenal baik karena pak Wahyo adalah guru SMPnya sedang bu Warno tinggal tidak jauh dari rumah dan anaknya sebaya dengan Albert.

"Meninggal kan hanya sebentar, bu. Tak apalah."

"Apa, Bert?" Aku meminta dia mengulang kata-katanya. Aku takut salah dengar.

"Ya. Mati itu hanya sebentar. Setelah itu kan kita ndak tahu apa yang terjadi."

"Maksudnya?" Dia hanya nyengir, ambil minum dan pergi.

Aku terbengong di meja makan. Proses mati. Mungkin itu yang dikatakan oleh Albert. Apa pun caranya, saat sakratul maut mencabut nyawa manusia hanya butuh waktu yang sebentar. Usai itu sang jiwa berjalan... hmmm... ya, pada Sang Pencipta, dengan cara bagaimana, seperti apa, ... ya, tak ada yang tahu. Hmmm... harus mikir bagaimana ya?

Monday, October 31, 2016

King of Krakatoa dan Jaringan Perempuan Padmarini

Aku mesti cerita kalau kegiatan ini menjadi agenda yang menarik sepanjang minggu lalu. Persiapan yang luar bias mepet membuatku dan teman-teman Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) mesti akrobat. Wuhhh... akhirnya terlaksana dengan baik.

Pemutaran film dan diskusi King of Krakatoa, bertempat di aula Dinas Kehutanan Propinsi Lampung, Sabtu, 29 Oktober 2016, sehari setelah peringatan Sumpah Pemuda. Acara dibuka oleh Ir. Sutono, sekda propinsi Lampung, ketua panitia Febrilia Ekawati (JPP), MC Intan dan Galih, teman-teman penuh energi yang dilibatkan saat waktu sudah sangat mepet. Thanks ya, guys.

Aku menjadi moderator untuk acara diskusinya dengan narsum Prof. Tukirin, seorang hebat yang menjadi alasan utama kegiatan ini terselenggara. Faiza dari INFIS, salah satu kru yang mengerjakan film ini. Rahmadi, editor Mongabay Indonesia yang memberikan support bagi film dan kegiatan. Teguh, kepala seksi konservasi wil III Lampung, BKSDA Bengkulu, dan tentu saja para partisipan yang keren, 300 orang lebih memenuhi aula.

Cerita lengkapnya sih susah untuk diceritakan sekarang, tapi baca saja rilis dari Rinda si koordinator JPP ya, kucuplikin dikit :

"Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (63) adalah seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah mendata suksesi ekologi di kompleks pulau gunung api di Selat Sunda sejak 1981 hingga sekarang. Dia menjadi satu-satunya ahli suksesi ekologi Indonesia yang memiliki catatan rinci tentang perkembangan tanaman di kawasan itu dari tahun ke tahun. Lebih dari 50 paper ilmiah tentang suksesi ekologi di Krakatau telah dibuatnya.

Kita beruntung karena Krakatau menjadi satu-satunya tempat di dunia yang terdata sejak peristiwa sterilisasi dimulai hingga proses suksesinya. Dari perjalanan suksesi Krakatau, kita bisa belajar tentang bagaimana hutan tropis yang kompleks itu terbangun, dimulai dari perjalanan laba-laba ke pulau ini, diikuti munculnya lumut, paku-pakuan, dan rumput sebagai pionir hingga terbentuknya hutan sekunder.

Dengan terungkapnya informasi dan pengetahuan tentang suksesi ini, kita dapat mempelajari dan merestorasi hutan yang rusak. Selain itu, kita juga bisa belajar bahwa ada sedemikian banyak tahapan yang harus dilewati untuk membangun ekosistem hutan sehingga kita harus hati-hati menjaganya. Dan yang terpenting, kita tidak hanya memiliki Krakatau sebagai kekayaan, tetapi harus memahami dan memanfaatkan kekayaan anugrah alam ini dengan baik.

Para peneliti dari berbagai belahan bumi, berlomba menghubungi Prof. Tukirin, berharap didampingi saat penelitian. Namun bagi kebanyakan peneliti Indonesia, Krakatau adalah penelitian science for science yang tidak populer didanai pemerintah sehingga jarang ada peneliti yang tertarik. Prof. Tukirin kuatir, jangan-jangan suatu ketika nanti orang Indonesia harus ke luar negeri untuk mendapatkan referensi, padahal Krakatau terletak di Indonesia."

Nah lalu JPP itu apa? Ini nih penjelasan dikitnya :

Jaringan Perempuan PADMARINI, adalah sekumpulan akademisi, aktifis, jurnalis, dan seniman perempuan Lampung yang memiliki kepedulian dan bergerak pada isu gender, lingkungan, sosial, pendidikan, seni dan budaya. Jaringan Perempuan Padmarini didirikan dalam rangka mewujudkan ide-ide anggotanya untuk kegiatan terkait riset dan publikasi isu-isu lingkungan dan perempuan melalui penelitian, community development maupun seni budaya, dengan tujuan terwujudnya hak-hak perempuan atas keadilan ekologi, kesetaraan pendidikan, kedaulatan politik dan kemandirian.

Selebihnya, lihat nanti...
 

Friday, October 28, 2016

Hadiah Pada Hari Sumpah Pemuda

Kado kan ndak harus diberikan saat ulang tahun kan? Nah kado untukku dilemparkan dari Timur oleh Fendi Kachonk, teman yang sering kuanggap 'siapalah orang ini sehingga sering banget merepotkanku' menulis ulasan tentang cerpen Kafe, salah satu cerpen yang ada dalam buku Salah Satu Cabang Cemara, pada hari Sumpah Pemuda. Aku ndak tahu apakah Fendi melakukannya dengan sadar atau tidak, tapi tetap saja kado di hari Sumpah Pemuda tahun ini perlu diabadikan.

Jika ingin membaca ulasan itu dengan lengkap, silakan klik di sini dan silakan menikmatinya. Jika mau membuat ulasan serupa, silakan kontak aku untuk mendapatkan bukunya.

Friday, October 14, 2016

Tanjungkarang, Jakarta, Batam, Yogyakarta, dll...

Sebenarnya lama atau cepat sangat relatif. Tapi aku memang sudah lama tidak menulis di blog ini jika mengingat posting terakhirku pada bulan Agustus dan sekarang ini sudah Oktober.

Okey, aku ringkas saja, Juli - Septemberku :
Jakarta, 22-23 Juli 2016
Bogor, 29 - 30 Juli 2016

Di Batam, pada 20 - 21 Agustus 2016

Jakarta, 23 - 25 Agustus 2016
(Foto Nyusul)

Yogyakarta, 26 - 28 Agustus 2016

Kediri, 29 Agustus 2016

Tanjungkarang, 7 September 2016, study day.



Jakarta 14 - 16 September 2016
(KKPPMP KWI)

Tanjungkarang, 29 September 2016

Dan lain-lain... Huhaaaa......



Wednesday, August 10, 2016

Salah Satu Cabang Cemara, Kumpulan Cerpen Yuli Nugrahani

Penulis: Yuli Nugrahani
Tata letak & desain sampul: Devin Nodestyo
Model sampul: Kiki Rahmatika dalam The Dark Side
Fotografer : Achmad Oddy Widyantoro (Oddzhaheho Creative)
Penerbit : Komunitas Kampoeng Jerami
ISBN : 978-602-74925-0-9

Setelah penerbitan kumpulan cerpen Daun-daun Hitam pada tahun 2014, saya berniat menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berikutnya, dalam waktu dekat. Tentu menyenangkan jika dapat menerbitkan buku cerpen secara periodik. Ternyata niat itu tak mudah dijalankan karena ada hal-hal lain yang tiba-tiba harus menjadi prioritas, naik turunnya semangat dan juga adanya kelalaian-kelalaian saya dalam proses.

Awal tahun 2016 saya mulai mengumpulkan cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media, saat cerpen saya yang pertama dalam tahun ini dimuat di Lampung Post pada Januari 2016. Cerpen berjudul Kafe itulah yang saya letakkan pada bagian pertama dalam kumpulan cerpen ini.

Kafe bercerita tentang seorang ‘aku’ yang berada dalam penantian dan perpisahan. Si ‘aku’ sangat merindukan Nad, namun Nad bukan orang yang mudah untuk ditunggu. Keinginan untuk bertemu Nad menjadi batu sandungan bagi langkah si ‘aku’. Menjadi sumber kegelisahan sekaligus menjadi bahan pengharapan. Pada suatu waktu nanti, batu ini mungkin akan benar-benar melukai atau mungkin malah menjadi batu pijakan bagi lompatan hidup ‘aku’. Sekejap perjumpaan mereka telah menjadi sarana untuk mengambil keputusan di masa mendatang, jika diperlukan.

Saya tidak menentukan akhir yang pasti dan jelas dalam cerpen ini. Dengan cara begitu cerpen ini menjadi sindiran bagi saya sendiri yang sering kali menciptakan ‘batu-batu’ dari penantian dan perpisahan yang muncul dalam hidup. Saya yakin bahwa saya mendapatkan hikmahnya ketika saya sudah menuliskan Kafe dengan sadar. Demikian saya berharap pembaca bisa mengambil suatu pengalaman saat membaca cerpen ini.

Cerpen-cerpen lain saya susun secara acak tanpa peduli urutan kronologis pembuatannya. Pembaca dapat melihat cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini ditulis antara tahun 2006 sampai 2016 dengan beragam tema. Hampir semuanya pernah dimuat di media, jurnal maupun antologi bersama penulis lain.

Saya mesti berterimakasih secara khusus kepada Fendi Kachonk dan Yulizar Fadli, dua sahabat yang rela hati menjadi pembaca awal, mempertanyakan, mengkritisi maupun mengoreksi naskah-naskah dalam buku ini. Saya mesti minta maaf karena sering kali keras kepala menanggapi kritikan.

Terimakasih pada Ari Pahala Hutabarat dan Yanusa Nugroho, yang senantiasa menjadi penyemangat dalam perjalanan kepenulisan. Walau saya tidak membangun komunikasi intensif, sepercik-sepercik kalimat berkali-kali menjadi kobaran spirit. 

Saya mencatat nama-nama yang terlibat secara langsung dalam buku ini. Devin Nodestyo yang sabar mendengarkan dan membuat desain buku melampaui imajinasi saya. Kiki Rahmatika yang menyediakan foto diri saat menari The Dark Side dipakai sebagai bahan sampul. Ahmad Oddy Widyantoro, sang fotografer. Umirah Ramata yang membantu proses penerbitan. Teman-teman Komunitas Kampoeng Jerami dan Komunitas Berkat Yakin.

Istimewa untuk para lelakiku : Hendro, Albert dan Bernard. Terimakasih atas segala cinta dan pengertian.

Tuesday, August 02, 2016

The Palace of Illusions

Penulis : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU) - terjemahan
Terbit : 4 Agustus 2009
Isi : 493 halaman
140 x 210 mm
ISBN : 9789792245561

Perempuan mempunyai dan menjalani kisah-kisah yang 'heboh', hingar bingar oleh berbagai pengalaman sejak lahir hingga matinya. Jika kisah itu diberitakan oleh orang bukan perempuan, yang ada adalah alur, adalah babak demi babak, adalah perjalanan. Namun jika yang bercerita adalah 'perempuan itu' sendiri, alur bukan sekedar alur, babak bukan sekedar babak, dan perjalanan bukan sekedar perjalanan.

Aku sudah mengenal Dropadi (dalam kisah wayang Jawa, dia adalah istri Yudistira, tapi dalam versi India, dia adalah istri Pandawa, seluruh Pandawa) sejak dahulu. Aku tahu kisah hidupnya dalam dua versi Jawa dan India. Tapi lewat The Palace od Illusions, Chitra mengubah kehidupan Dropadi atau Drupadi, alias Pancali, alias Kresnhaa menjadi tokoh sentral yang 'bulat' sebagai perempuan tidak biasa.

Pancali lahir secara tidak biasa. Hidup secara tidak biasa. Pun dia merasa dan berpikir tidak biasa. Dia dalam novel ini memang digambarkan tidak selumrah perempuan-perempuan lain yang ada di bumi. Dialah salah satu pemicu perang besar Mahabarata. Dialah kecintaan Kreshna. 

Yang menjadi hal baru dari kisah Pancali yang menjadi pembeda alur kisah yang pernah kudengar atau kubaca adalah, Pancali meletakkan hatinya pada Karna! Karna, anak yang terbuang, anak Kunti yang sulung sebelum melahirkan Pandawa. Karna yang memilih di pihak Kurawa. Hihihi. Aku tak mengira Chitra bisa mengasumsikan hal ini dan kemudian menceritakannya begitu indah. Bahkan pada akhir hidup Pancali di babak ini, Karnalah yang menjadi tujuan jiwanya. Wah.

Tuesday, July 26, 2016

KOREKSI

Okeylah menjadi dosen tak tetap, tak masalah. Tapi ketika harus mengakhiri semester dengan mengoreksi hasil ujian mahasiswa, yang ternyata kebanyakan adalah tulisan-tulisan copy paste, itu sungguh membuat stress. Kesempatan-kesempatan aku tawarkan karena pada dasarnya aku sangat berharap pada orang-orang muda, aku sangat sayang pada mahasiswaku. Aku tidak ingin memojokkan mereka dengan pengalaman yang tidak semestinya.

Namun pemikiran itu juga membuatku salah tingkah. Memberi nilai A sedang ujian tidak mereka tulis sendiri, itu sama sekali tidak tepat. Mereka akan mengulang hal itu lagi di masa mendatang. Mereka akan menganggap copy paste adalah tindakan super yang layak dapat A. Tidak. Itu tidak boleh terjadi pada mereka yang jelas-jelas kulihat potensinya. Memberi nilai C atau D juga tidak mengenakkan. Aku paham nilai C atau D sama sekali tidak diharapkan untuk mahasiswa kelas karyawan yang mereka sebenar-benarnya hanya ingin 'gelar'. Huft.

Monday, July 25, 2016

Makan di Kahyangan

Kesempatan ini tentu saja langka bagiku. Iya deh, aku sering ditraktir orang-orang (yang berduit atau tidak berduit) makan di berbagai tempat dengan jenis makanan yang aneh yang enak atau yang tak terbayang.

Nah, kali ini aku dapat kesempatan makan di Khayangan Shabu Shabu Restaurant, di lantai 29 Wisma Nusantara Building, di Tamrin Jakarta pada Sabtu, 23 Juli 2016.

Bu Merry yang mengajakku memamerkan hidangan-hidangan yang sebenarnya aku pernah makan beberapa kali di tempat lain. Jadi apa istimewanya restoran ini?

Hmmm, pertama adalah lokasinya. Mereka menata ruang makan seolah berada di kahyangan. Hehehe, lebay sih. Ndak begitu amat. Tapi dari tempat dudukku, aku bisa melihat pemandangan malam kota Jakarta yang penuh dengan kerlip lampu.

Kedua, pelayanannya. Ya, mereka memberi pelayanan optimal pada para pengunjung. Jadi model aku pun yang kampungan ini tidak merasa canggung.

Ketiga, teh ocha!!! Ternyata aku suka teh ocha tanpa gula yang diminum hangat. Membuat segar.

Keempat, hmmm... tentu saja karena aku tak harus membayar makanan-makanan itu. Satu piring irisan daging (apa ya namanya) itu pun harganya sudah di atas 1 juta. Ndak lah kalau suruh membayar sendiri. Aku lebih memilih bebek goreng dengan lalapan plus nasi sebakul. Hehehe...

Friday, July 22, 2016

Bengkel Sastra Bersama Kantor Bahasa Propinsi Lampung

Kesempatan menarik ini pertama-tama karena upaya Kantor Bahasa Propinsi Lampung. Yanti Riswara Idris, kepala kantor ini mengundang untuk mengisi sebagian sesi dari bengkel sastra untuk para guru SMA di Kota Metro.

Kegiatannya sih berlangsung tiga hari, tapi waktuku sangat terbatas hanya bisa membantu di hari pertama dan kedua, itu pun hanya setengah hari di masing-masing hari yaitu pada 20 dan 21 Juli 2016 untuk sesi Menulis Kreatif, Menggali Sumber Tulisan dan Belajar Puisi.

Ada 50-an peserta dari berbagai SMA dan SMK yang berkumpul di SMKN 1 Metro untuk kegiatan ini. Mereka mengikuti kegiatan dengan antusias walau ternyata tidak seluruh mereka adalah guru bahasa Indonesia. Bahkan ketika mereka mesti berlatih membuat tulisan-tulisan, mereka menyodorkan tulisan-tulisan untuk dikoreksi dan dibagikan kepada teman-teman lain. Silakan klik di sini untuk membaca tulisan lain tentang kegiatan ini.

Nah, nanti kupasang sedikit dari yang sudah mereka tulis. Terlebih karena sesuai pelatihan, sebagian dari mereka masih kontak untuk menyapa dan mengatakan,"Ini puisiku, mbak. Bagus tidak?" Hehehe... ini sungguh menyenangkan.

Friday, June 03, 2016

My Stupid Boss

Mau ngakak-ngakak ndak usah mikir, nontonlah film ini. BCL dan Reza serta pemain-pemain lain bakal mengocok mulut dan perutmu. Serius!

Yang menjadi pusat cerita adalah si bossman, diperankan oleh Reza. Si boss yang aneh, konyol dan kacau. Soal bagaimana kelucuan dibangun oleh karakter tokoh ini silakan nonton sendiri deh. Hehehe... Nah si BCL jadi istri dari karibnya si bossman yang kemudian melamar menjadi pegawai di perusahaan si boss di KL. Karyawan dari berbagai negara ada di tempat usaha ini. Cukup asyik sih nggambarinnya karena sedikit gambaran tentang pekerja dan pekerja migran muncul di sini.

Yang paling kusuka ada cara mereka menggarap film ini. Ciamik cahanyanya. Serius settingnya. Keren kostumnya. Dan tepatlah para pemainnya. Sayangnya ada satu bagian dalam alur cerita yang tidak kusukai karena tidak logis (Den Hendro malah tidur di bagian ini sampai kemudian kucubit biar bangun. Dasar.) Yaitu saat ingin ditunjukkan sisi lain dari hidup bossman. Digambarkan bossman mengajak si BCL (nama perannya Diana) untuk mengunjungi rumah kebajikan alisan panti asuhan. Suer ndak logis. Manalah ada karakter orang seperti bossman yang digambarkan cuek tak peduli pelit dengan berbagai masalah keuangan yang membelitnya tiba-tiba ingin memperbaiki panti asuhan dan membelikan 2 minibus. Konon dia mengunjungi tempat ini lagi karena dua anak panti asuhan itu mengembalikan tas laptop si boss yang tertinggal. Rasanya ndak masuk akal. Kalaupun dilakukan pasti si Diana hanya akan menganggapnya pura-pura, akting aja untuk mengubah pikiran Diana yang ingin keluar kerja.

Mestinya, mungkin bisa ditampilkan sikap-sikap kecil yang lebih logis yang memang bisa dipunyai oleh orang seperti bossman itu. Toh setiap orang berkarakter apapun pasti punya cinta kan? Nah mungkin cinta pada istrinya bisa menunjukkan beberapa sikap. Atau cintanya pada beberapa karyawan yang ditampungnya, toh dia menampung banyak karyawan yang bermasalah kan. Atau cintanya pada siapa gittuuu... Kukira itu cukup logis karena setiap orang akan bergerak kalau ada cinta.

Weeeesss...gitu sedikit ulasan tentang film ini. Yang jelas sebagai film komedi, film ini berhasil.

Sunday, May 29, 2016

Kelas Menulis Kreatif KoBER

Komunitas Berkat Yakin (KoBER) memulai kelas menulis kreatif untuk puisi dan prosa pada Sabtu 28 Mei 2016. Kelas menulis ini ditujukan untuk siwa SD, SMP, SMA, Mahasiswa dan Umum. Aku terlibat di dalamnya untuk menemani kelas prosa bagi mahasiswa dan umum.

Hmmm... apa asyiknya? Kita akan bergembira di kelas-kelas ini. Menguatkan minat kita dalam dunia penulisan, namun bukan menulis sembarangan dalam semangat instan. Kita akan benar-benar belajar.

Pengajar yang lain selain aku ada Inggit Putria Marga, Fitri Yani dan Yulizar Fadli. Tentu Ari Pahala Hutabarat terlibat sebagai penanggungjawab untuk seluruh materi karena dia nih sesepuhnya. Hehehe... Kelas akan dilakukan pada tiap Sabtu (dan mungkin juga Minggu jika ada kelas tambahan).

Nah, nah, nama-nama pengajar itu tentu saja bukan yang pertama-tama menjamin kelancaran proses latihan nulis. Maka ada nama-nama lain yang dilibatkan karyanya, yaitu satrawan-sastrawan dari Indonesia maupun luar Indonesia. Sebanyak 12 kali pertemuan akan 'ditelateni' selama tiga bulan pertama ini yang kemudian akan bersambung ke tiga bulan berikutnya untuk level selanjutnya, dan selanjutnya lagi.

Tuesday, May 17, 2016

Mobil dari Kulit Jeruk Bali

Siapa yang pernah membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali pada waktu masih kecil? Aku salah satunya. Aku beruntung karena di belakang rumah orang tuaku ada pohon jeruk bali yang berbuah secara rutin. Hampir setiap saat kami bisa menikmatinya sampai kemudian harus ditebang karena sudah tua, rapuh dan tidak lagi tumbuh daun dan bunganya.

Nah, beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman buah ini dan otomatis ingatan melayang jauh ke masa lalu. Den Hendro mengiris kulit-kulitnya dan ...traaa daaa...jadilah mobil jeruk bali, disemat dengan tusuk sate dan diberi penumpang beberapa biji buah kemuning yang sudah merah.

"Lucu." Itu komentar yang pertama kali muncul dari bibir Nina, gadis kecil samping rumah. Heboh dia menarik mobil ke sana kemari. Oalah, kukira itulah kali pertama dia melihat jenis yang seperti ini. Hehehe...

Friday, April 22, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 6 Tamat (Bonus Jakarta - Lampung)

Pagi-pagi setelah puas and pulas tidur di karpet Changi Airport, kami bersiap di Gate 23, tempat Tiger akan menerbangkan kami ke Jakarta pada pukul 8.20. Dari Jakarta menuju Lampung kami akan naik bis Damri dari Gambir. Nah, ada waktu sekitar 7 jam yang kami bisa gunakan di Jakarta. Itulah bonusnya!

Pertama, usai dapat tiket bis di Gambir, bawaanku cuma pengin makan tempe. Dapatnya di warung Es Teler 77, dan bukan tempe. Hehehe... tapi bebek penyet. Wis ra popo, yang penting makan sambel trasi. Lalu kami naik taksi ke Senayan. Kebetulan hari itu hari menjelang penutupan pameran outdoor Indofest. Jadinya, gempor kaki menyusuri pameran yang super ramai itu. Untungnya : aku dapat sandal jepit sebagai pengganti sepatu yang mulai menghimpit kaki yang sudah bengkak. Karena mas Hendro ndak tahan lihat aku jalan sambil nyeker, dibelikanlah aku sepasang sandal jepit tanda cinta. Hahahha... Keuntungan kedua, aku bisa membelikan rompi hitam yang diidam-idamkan Albert. Lalu, kami dapat alat masak untuk ke gunung dengan harga super murah. Wis. Mantap.

Masih di area pameran, aku sudah kagak tahan lagi untuk jalan kaki. "Kutunggu di sini. Mas Hendro jalan aja." Jadi aku ngelesot di depan stand yang cukup longgar. Nongkrong dan melamun. HP tak ada baterai lagi sejak dari Singapore.

Masih ada waktu 3 jam. "Ke TIM aja yuk. Makan di sana." Usulku. Mas Hendro setujuh. Jadi kami naik taksi ke TIM, dan kebetulan di sana ada International Language and Culture Festival, sehingga kami meniatkan diri menyusup ke dalamnya, dan Mas Hendro ketemu pacar lamanya, si Sarah. Hehehe...kugodain habis dia.

Menjelang jam keberangkatan bis, kami nyetop bajaj untuk kembali ke Gambir. Mengambil ransel yang kami titipkan di sana, dan tidur dengan sukses di kursi bis Damri menuju Lampung. Wuahhh...kayak mimpi saja perjalanan ini.

HP bisa kucharge di bis dan aku bisa telpon Albert. "Jemput besok pagi ya, Bert."

Di Lampung aku dapat bonus jalan-jalan lagi di Ramayana karena aku berjanji membelikan celana panjang untuk Bernard. Dia akan pentas pada hari Senin dan membutuhkan celana itu. Yukkk...ditambah lagi jalannya kakiku masih kuat. Maka bonus terakhir perjalanan kali ini adalah jalan bertiga, aku, Albert dan Bernard mencari celana panjang lalu nongkrong di KFC Ramayana sampai puuaaasss.

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 5 (Orchard, Merlion dan Marina Bay dalam satu tarikan)

Merlion Park
Jumat 8 April kami mesti terbang balik ke Indonesia dengan Tiger pagi-pagi banget. Taksi 800 bath dari Patong sebenarnya agak tak bisa direlakan. Tapi ya udah deh...

Nah, berhubung pesawat transit di Singapore cukup lama, dan memang kami sengaja ambil waktu transit yang lama (bukan paling lama sebenarnya) sekitar 20 jam, kami meniatkan untuk menyusuri Singapore dalam waktu itu. Kami beli kartu tourist pass untuk satu hari, satu orang 10 dollar Singapore, ditambah deposit 10 dollar yang bisa diambil kembali. Dengan kartu ini, kami bisa gunakan MRT dan bis umum bebas sepanjang hari. Sip.

Awalnya, tujuan kami yang pertama adalah daerah Little India untuk mencari penginapan. Mas Hendro usul di MRT,"Kayaknya kita ndak perlu tempat penginapan deh. Kan besok pagi-pagi kita udah harus ke bandara jam 5 pagi. Ndak bakal sempat tidur." Ya, aku setuju. Tapi akibatnya kita harus manggul ransel selama di Singapore. Hehehe...

Tiduran menikmati cahaya.
Jadi tujuan pertama Orchard Road. Mas Hendro mesti tahu tempat ini. Dan karena yang kutahu Takashimaya Mall, ke situlah kaki melangkah. Tidak jauh dari stasiun MRT. Dan waktunya makan siang. Aku tahu di dalamnya ada foodcourt dengan makanan yang terjangkau, walau mau tak mau harus diakui tetap saja mahal untuk kantong kami. Nasi bebek 4,5 SGD, mi goreng 5 SGD, minum air putih 2 SGD. Bangkrut dah.

Setelah makan wajib hukumnya makan es krim potong Singapore. Persis di depan mall ada si bapak tua yang sama yang pernah kujumpai tahun lalu. Sepotong es krim aneka rasa 1,2 SGD. Menikmatinya sambil menikmati lalu lalang orang di jalan yang terkenal itu. Sambil foto-foto narsis.

Puas dengan Orchard kami kembali ke MRT, mencari rute ke Merlion Park. Tanya sana sini, jalan sana sini, ketemulah dengan singanya Singapore itu. Aku ndak terlalu berminat ke tempat ini tapi mas Hendro wajib ke sana. Hehehe... jadi juga narsis berdua di tempat ini. Aku beberapa waktu duduk saja menikmati semua bahasa yang bercampur baur di lokasi ini. Indonesia, China, Korea, Jepang, dll, huaahhh, ini tempat pavorit berikutnya rupanya di Singapore.

Berbekal peta, kami bisa menyusuri pinggiran Marina Bay untuk sampai di sisi lain. Aku ingin menunjukkan bagian yang menarik untuk dinikmati di malam hari saat di Singapore. Atraksi Wonder Full yang menyajikan paduan air muncrat dan cahaya. Aku yakin mas Hendro pasti terpikat.

Sembari menunggu pertunjukan yang baru dimulai jam setengah 8 malam, kami ketiduran di pinggir danau buatan itu. Cukup pulas walau hanya beberapa menit. Orang-orang tak peduli di sekitar kami pun menikmati sore itu dengan cara masing-masing. Satu orang saja yang tersambung di malam itu, Andy, seorang Singapore yang sangat cinta Indonesia, seorang fotografer. Kami bertiga ngobrol hingga pertunjukan yang pertama selesai, lalu pertunjukan kedua selesai... Hehehe... ya. Aku sudah tak punya energi lagi untuk jalan ke mana-mana. Jadi di situ saja sambil ngobrol.

Setelah seharian berjalan tanpa mandi dan sikat gigi. Di MRT.
MRT terakhir jam 11 jadi jam 10 lewat dikit kami cabut, cari toilet, cari air dan menuju stasiun setelah say goodbye ke Andy yang baik hati. Di stasiun bandara uang deposit tourist pass bisa kudapat kembali. Kukibar kibarkan ke mas Hendro,"Makan malam kita." Kataku sambil tertawa. Sialnya, pada malam hari yang kelewat malam itu restoran-restoran sudah banyak yang tutup. Pilihan dikit dan jatuh pada Burger King. Duh, mahal selangit dan ndak nendang.

Maka malam itu tanpa mandi tanpa apapun, kami ngelesot tidur di bandara. Air minum tersedia di kran-kran air minum di sepanjang Changi. Karpet empuk. Ruang yang lebar. Toilet bersih. Cukup untuk tempat nginep. Hehehe... Jelas irit toh. Besok paginya kami pun siap di gate Tiger sejam sebelum berangkat untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan di Singapore 20an jam yang menghabiskan 60 SGD untuk transport dan makan. Hehehe... hemat juga untuk tempat semahal Singapore. Great.

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 4 (Bukit di Phuket)

Saat aku ketemu Uncle Rungrote di hari pertama di Takuapa, uncle baik hati ini bercerita banyak hal tentang daerah sekitar penginapan. Ketika sempat disebut nama Phuket, dia bilang ada kemungkinan nama Phuket itu diambil dari kata 'bukit' dari bahasa Melayu. Nyatanya memang pulau Phuket itu berupa tanah perbukitan yang naik turun dan subur.

Di area Calong Temple
Ini bisa kulihat pada perjalanan berikutnya pada 7 April. Hari ini niatnya kami sebenarnya kami check out dari Days Inn Hotel, menitipkan barang di resepsionis lalu jalan di sekitar Patong sampai siang. Sorenya kami akan cabut ke daerah dekat bandara Phuket, nyari tempat nginap di sekitar Naiyang Beach sebelum besoknya kami terbang pagi-pagi banget.

Yang mengubah rencana itu adalah tawaran Siriwan, petugas resepsionis yang ramah yang bisa bahasa Inggris, Thai dan Melayu. Dia menawarkan paket tour setengah hari (sepanjang pagi mas Hendro menghabiskan waktu di kolam renang di atap hotel yang kutungguin sambil membaca.) Tour dimulai jam 13.00. Ada waktu sekitar satu jam untuk makan siang. Setelah menghitung-hitung, menimbang-nimbang, okey, kami ikut tour itu. Masalahnya pulangnya jam 18, terlalu sore untuk jalan ke bandara dan cari hotel. Kalau pun dilakukan, kami tak akan bisa menikmati pantai Naiyang dan tidak ada daerah lain yang bisa dikunjungi di dekat bandara. Maka kami manut pada Siriwan. Booking satu malam lagi di Days Inn, pesan taksi untuk besok subuh dan ikut tour setengah hari.
Karon point view

Tidak menyesal. Hari itu kami melihat bahwa Phuket memang bukit. Mendapat pemandangan-pemandangan pantai dari atas bukit seperti di Karon, lalu Phuket Safari, Big Budha, Calong Temple, pabrik kacang mente, toko dan pabrik perhiasan, bangunan tua di kota Phuket, dll. dll. dll. Satu mobil kami ber 8 orang (dari Amerika, Eropa dan kami berdua) ditemani seorang guide tour yang cantik dan sopir yang ramah.


Malamnya kembali pantai Patong dan mencari sesuatu untuk anak-anak. Dapatnya tahu ndak? Hehehe... jajanan di 7 Eleven yang pasti ada juga di Indonesia, namun tulisannya dunkkkk, huruf Thai. Hehehe... maafkan, memang tak ada budget untuk membeli oleh-oleh dalam perjalanan ini. Malam malam pun kembali ke pantai Patong setelah membeli nasi beku yang dipanaskan dari 7 Eleven seharga 35 an bath.

Thursday, April 21, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 3 (Paket satu hari Phi Phi Island Tour)

Setelah menikmati malam hingar bingar di Patong, 6 April kami berusaha bangun pagi dengan susah payah. Malam sebelum tidur kami sudah pesan ke hotel untuk membangunkan kami sekitar pukul 6 pagi supaya kami sempat mandi dan sarapan sebelum dijemput mobil untuk tour satu hari ke Phi Phi Island. Huaaa...masih luar biasa ngantuk kami keluar cari sarapan di sekitar jalan dekat hotel.

Dikerubuti ikan-ikan di Khai Island. Hasil jepretan Isa (?).
Telat 10 menit dari jam 7, sopir tour berteriak di lobi hotel dan hal yang sama diteriakkan saat menjemput wisatawan lain di hotel-hotel lain. Perjalanan ke Phi Phi Island akan menggunakan waktu sepanjang hari ini dari pagi sampai sore. Yang tidak kubayangkan adalah perjalanan ke sana itu rupanya melalui Rassada Harbour, sisi lain dari pulau Phuket dan pelabuhan itu dekat banget dengan tempat aku live in untuk program acaraku beberapa hari yang lalu. Jadilah aku sibuk bercerita ke Mas Hendro karena aku sudah sangat familier dengan tempat itu. Lha iya lah, la wong 3 hari aku tinggal di situ.

Nah, pas di pelabuhan Rassada menunggu kapal yang akan membawa kami mengelilingi pulau-pulau, kami bertemu sepasang pengantin baru dari Indonesia, Ade dan Pipit. Ini menarik karena sehari kemudian kami masih bertemu lagi beberapa kali secara tidak sengaja dengan mereka. Selain mereka kami juga berkenalan dengan satu keluarga dari Indonesia yang ikut dalam pesiar ini.

Jadi urusan hari itu adalah pantai, berenang, laut, dan shoping. Pulau pertama adalah Khai Island. Kami sudah dibekali alat snorkeling bisa menyaksikan kerennya pantai di pulau ini. Tidak lama waktu kami, hanya sekitar satu jam. Perahu kecil membantu kami untuk sampai di pantainya karena kapal terlalu besar tidak bisa bersandar.

Usai Khai Island, kapal memutari beberapa pulau. Asyiknya sambil menikmati makan siang di kapal. Ya, mereka menyediakan makan siang dan juga beberapa jenis minuman sebagai bagian dari paket tour satu hari ini. Dan boleh makan sepuasnya.

Sayang di pulau yang kedua kami ndak bisa nyemplung karena banyak ubur-ubur beracun. Beberapa orang yang sudah terlanjur nyemplung mesti merasakan sengatan binatang itu untuk beberapa saat.

Main pasir dan cahaya di pantai Patong.
Pulau terakhir yang dikunjungi adalah pulau Phi Phi yang terkenal itu. Namun aku sedikit kecewa. Waktu yang singkat di pulau ini hanya memungkinkan untuk jalan di sekitar pantai dan pertokoan. Tidak bisa mengeksplore lebih jauh lagi.

Nah, untuk harga 1.500 bath satu hari tour dari pulau ke pulau dari pantai ke pantai termasuk minuman, makanan, guide tour yang bagus dan perlengkapan pinjaman, ini sangat okey deh. Baliknya mobil sudah menunggu di Rassada Harbour untuk mengantar masing-masing ke hotel. Pilihan paket tour ini sangat praktis untuk orang-orang yang waktu jalan-jalannya terbatas, terlebih mengingat sulitnya transportasi umum di Phuket.

Aku dengan mas Hendro melanjutkan sore itu dengan sunset di Patong Beach, makan malam di situ juga, dan karena mas Hendro penasaran banget dengan Bangla Road kami melangkah pelan-pelan di jalanan itu menikmati malamnya kota internasional yang ...hmmm... tak bisa kupahami atau nikmati. Musik berdentam, minuman-minuman, perempuan-perempuan, rayuan untuk datang melihat sexy show, lady boy yang sangat cantik, dan atraksi-atraksi. Wuah.

Wednesday, April 20, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 2 (Patong yang hiruk pikuk.)

Sore usai acara, aku diantar Noon ke Bandara Phuket. Denmas Hendro menunggu di bandara dari pukul 16.00. Dan saat kutemukan di terminal kedatangan, dia baru saja menghabiskan nasi bungkus yang dibawa dari Lampung. Yailah, padahal aku lapar polll dan berharap bisa makan berdua dengan denmas tersayang ini. Senyum ajah dia mah. Payah...
Ramai 24 jam.

Kami beli tiket minibus di dekat pintu kedatangan Bandara Phuket. Untuk satu orang dikenai biaya 180 bath bandara - Patong. Ya, kami memutuskan untuk tinggal di Patong untuk 3 malam dengan pertimbangan :
1. Patong memiliki beberapa destinasi yang berdekatan.
2. Ini tempat yang sangat populer di kalangan wisatawan.
3. Memiliki pantai-pantai di sekitarnya yang bisa dijangkau dengan mudah.
4. Dan, dari surveyku sebelumnya saat diajak jalan oleh Michael, Patong menyediakan fasilitas-fasilitas umm yang mudah dijangkau dan dibandingkan tempat lain seperti Kata atau Karoen, Patong katanya lebih murah (sebenarnya lebih murah kalau di kota Phuket, tapi transportasi sulit. Jadi lebih baik di Patong, cari hotel yang dekat dengan pantai, kalaupun tidak kemana-mana bisa langsung lari ke pantai untuk bersantai.)
5. Patong adalah kota wisatawan yang ramai dengan toko-toko, hotel dan restoran yang beragam.

Jadi itulah pilihannya. Perjalanan menggunakan minibus sangat okey (dibanding taksi yang sangat mahal, 800 bath) membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam. Kita akan diantar sampai ke tempat nginap kita. Kalau belum booking hotel, minibus ini akan berhenti di kantornya (aku menduga itu macam kantor agen tour) yang menawari kita paket-paket penginapan tour dan sebagainya. Sarah yang menerima kami di kantor itu berhasil membujuk kami untuk ikut tour ke Phi Phi Island dengan harga 1.500 bath per orang untuk keesokan harinya. Mesti cermat, karena mereka memasang harga paket-paket ini di brosur dengan harga yang lebih mahal, lalu si agen akan menawarkan harga spesial, seolah-olah spesial di bawah harga aslinya, padahal mah ya segitu itu normalnya.
Patong di latar belakang.

Kami menginap di Days Inn, hotel yang sangat strategis. Letaknya tidak jauh dari Patong Beach, tidak jauh dari Bangla Road (idih), dekat 7 Elevan (yang bakal membuat irit untuk belanja kebutuhan-kebutuhan), dan asyiknya walau di tengah keramaian, saat berada di dalamnya terasa sepi. Suara-suara tidak menembus ke kamar. Jadi sangat oke.

Tapi jika mau cari hotel-hotel murah meriah, di sekitar Patong Beach sangat banyak pilihannya. Kami sempat nyasar-nyasar sengaja di hari pertama dan mendapati banyak penginapan murah dengan harga 500 - 600 bath atau bahkan yang lebih murah lagi. Cocok untuk para backpacker.

Tuesday, April 19, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 1 (Rencana yang mendadak, rencana yang menghendak.)

Wajah capek di hari pertama Phuket.
Awalnya memang impian-impian setahun lalu untuk melakukan perjalanan berdua dengan suami ke beberapa destinasi piliham. Tapi tahun 2015 tidak memberikan kesempatan untuk impian itu. Malah kemudian awal tahun 2016 memberikan kejutan-kejutan pahit manis yang mesti dicicip sekaligus saat ditawarkan. Maka, ketika rencana kegiatan bersama ACPP terealisasi di Phang Nga, Thailand, aku bilang ke Den Mas Hendro,"Cepat urus paspor Mas Hen. Kita akan pergi ke Phuket."

Wajahnya yang selalu tak terduga pun tidak menampakkan keterkejutan. Tapi esoknya beliau pergi ke kantor imigrasi (dengan segala masalahnya. Hehehe. Tampaknya kerumitan sedang disodorkan pada lelakiku ini setiap kali. Hehehe... Puk puk puk. Sabar...)


Nah. Begitu paspornya bisa diperpanjang, kusodorkan beberapa tawaran rute perjalanan. Aku tahu si tersayang ini pasti akan setuju.

"Acaraku selesai tanggal 6 April. Mas Hendro nyusul tanggal itu, kita ketemu di suatu tempat di Phuket lalu kita akan jalan sekitar 3 hari di akhir pekan. Pulangnya kita pakai kesempatan transit di Singapura untuk jalan-jalan sehari atau setengah hari. Okey?

Mantuk-mantuk saja si boss. Maka kucari tiket dibantu Indri untuk menentukan perjalanan yang paling murah bagi kami. Aku akan berangkat lebih dulu, 29 April memakai penerbangan pagi dari Lampung, menuju Jakarta, lalu Singapura dan Phuket. Sampai di Phuket aku akan dijemput panitia untuk menuju Phang-nga.

Mas Hendro berangkat tanggal 5 April dengan rute dan jam penerbangan yang sama hingga sampai Phuket. Nah, kami belum tahu dimana kami akan bertemu, tapi aku menggampangkan urusan itu. "Asal kita masih bisa berkabar, aman." Kataku.

Tanggal 6 - 8 April kami akan berkeliaran sekitar Phuket, kemungkinan menginap di Patong lalu tanggal 8 April jalan ke Singapura. Ada waktu sekitar 20 jam untuk mengunjungi Singapura sebelum balik ke Indonesia pada 9 April. Sipp. Tiket pun tercetak. Beberapa hari kemudian diketahui kalau pada tanggal 9 dan 10 April adalah hari terakhir pameran outdoor Indofest di Senayan. Maka 9 April kami rencanakan melihat pameran sebelum balik ke Lampung pada 9 April, malam hari.

Itu rencana awal dan selebihnya mengalir. Di kisah selanjutnya yakk...