Monday, September 14, 2015

Kapan Aku Bisa Menulis?

Seorang guruku, Ahmad Yulden Erwin, bilang berkali-kali, bahkan menandaskan,"Jangan menulis kalau sedang marah." Dulu aku membantah hal itu. Aku tetap menulis saat marah. Sekarang aku setuju, tapi aku gunakan nasehat itu pada saat sedang mengedit tulisan. Aku tidak akan mengedit apapun pada saat sedang marah.

Ernest Hemingway, guruku yang lain mengatakan,“Kita dapat menulis kapan saja bila orang meninggalkan kita sendirian dan tidak menggangu. Atau kita dapat menulis bila kita cukup kejam tentang soal ini. Tetapi jelas tulisan terbaik bila kita sedang jatuh cinta." Aku setuju tiga perempatnya, tidak setuju seperempatnya. Aku seringkali malah butuh orang lain yang bisa mengganggu supaya menulis.

Aku sendiri beberapa kali bilang ke kelompok-kelompok yang sedang belajar menulis,"Jika memang mudah menulis saat jatuh cinta, jatuh cintalah setiap kali. Jika lebih mudah menulis saat patah hati, patah hatilah terus." Biasanya aku akan melanjutkan dengan keterangan-keterangan misalnya jatuh cinta pada sepucuk daun, pada ujung gunting kuku, pada patahan dahan cemara, dan sebagainya. Atau patah hati pada pemerintahan Jokowi, patah hati karena putus listrik, kesandung batu, dan sebagainya. Kadang aku tak meneruskan dengan penjelasan apapun. Biarin saja dirasain sendiri oleh mereka, macam mana jatuh cinta dan patah hati yang mampu menggerakkan inspirasi menulis.

Lalu, kapan aku menulis? Kapanpun aku ingin. Seperti kata Ari Pahala Hutabarat, guruku yang lain lagi, pada suatu kesempatan mengatakan,"Menulis itu kayak mau berak." Kebelet, sampai tak tahan, dan memang harus menulis. Ya, bagiku menulis itu kebutuhan. Jika tak menulis aku bisa mati. Dan biar aku kebelet terus menerus, aku harus makan terus-terusan, makan campur-campur, biar mules. Membaca segala hal, mengembangkan panca indera untuk menangkap segala hal, terjaga sepanjang waktu, .... terus-terusan. Biar terus menerus menulis juga... terus... terus...

Sunday, September 13, 2015

Menyelesaikan Emma dari Jane Austen

Mestinya baca dulu tulisan ini yaitu tulisan yang kubuat saat aku memulai membaca novel karya Jane Austen, berjudul Emma pada 4 hari yang lalu. Hari ini hampir tengah malam aku menyelesaikan buku ini. Buku super tebal yang sangat-sangat lambat alurnya. Aku ingin buru-buru menuliskannya karena aku takut lupa point-point yang kudapat setelah menyelesaikannya.

Ya, membaca Jane Austen selalu begitu. Seperti dilempar ke abad 18-an, di mana kelas-kelas dalam masyarakat Eropa masih sangat terasa. Walau membaca setebal hampir 800 halaman, aku tak merasa capek sama sekali. Jane menuliskan detail-detail rumit dengan cara sederhana sehingga seolah-olah kita sang pembaca tinggal tak jauh dari tokoh yang diceritakan. Kalau dalam novel ini tokohnya bernama Emma, yang, seolah-olah kita adalah salah seorang tetangga Emma yang tahu persis gerak gerik gadis ini kesehariannya.

Jane seperti novel lain yang sudah kubaca menempatkan konflik-konflik yang mungkin memang dia alami di kalangannya waktu itu. Konflik yang itu-itu saja, soal cinta, perjodohan, relasi dalam keluarga besar dan masyarakat kecil suatu desa. Asyik dan santai walau di seratusan halaman pertama aku selalu merasa sangat bosan, tidak sabar karena hal-hal remeh temeh yang diketengahkan oleh Jane.

Yang menarik adalah, aku selalu berpikir, bagaimana Jane bisa menyelesaikan ratusan halaman seperti itu di jamannya? Dia pasti seorang penyabar yang tekun yang bekerja sangat telaten untuk novel-novelnya.

Kedua, Jane pastilah seorang penulis perempuan yang berani. Dia mengemukakan pendapat-pendapatnya dengan jelas lewat tokoh-tokohnya. Aku yakin dia pasti mendapat banyak tentangan pada masanya. Tapi aku salut luar biasa pada dia. Pendapatnya tak relevan lagi untuk masa kini, tapi pasti itu sangat luar biasa di masa hidupnya.

Ketiga, Jane pastilah seorang yang punya mimpi dan imajinasi yang besar. Dia membangun tokoh-tokoh novelnya sebagai bayangan dari mimpinya sendiri. Yang menarik lagi, nama Jane dipakai juga dalam cerita-ceritanya walau bukan sebagai tokoh utama. Tapi tokoh Jane selalu ditempatkan sebagai bagian yang penting dengan karakter tokoh yang nyaris sempurna. Mungkin itulah sebagian dari mimpi atau cita-cita Jane.

Yang jelas, novel Jane bukan novel yang rumit. Aku bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan beberapa hari. Andai aku tidak terkukung kerjaan lain-lain aku yakin tak sampai satu hari bisa kuselesaikan novel ini. Sebali koleksi, novel Jane bisa dilirik deh. Untuk membangun daya khayal masa silam, tentang romantisme klasik yang kadang klise, ini sangat menarik.

Saturday, September 12, 2015

Gagasan-gagasan Aneh, Idealis dan Kompromis

Tak diragukan, aku ini seorang pengkhayal. Hobi melamun dan mudah tenggelam dalam pikiran-pikiran tak terhingga. Dari sana bisa muncul gagasan-gagasan aneh yang bahkan saking anehnya sering membuatku takut untuk menuliskannya. Misal tentang tas plastik yang dibuang di tengah jalan, aku bisa berpikir di dalamnya ada seorang bayi, maka remku mendecit menghindarinya, dan spontan berpikir kuatir kalau-kalau ada kendaraan lain yang menabraknya dan tubuh bayi itu akan porak poranda, berhamburan. Duh, aku membayangkannya dalam detil yang membuatku bergidik ngeri, dan bisa keterlaluan membuatku menangis tak ada ujung pangkal. Pikiran lain bisa menyanggahnya, mengatakan itu plastik biasa saja, tapi kemudian melihat banyaknya plastik yang ada di jalanan, aku bisa berpikir, bisa saja satu dari plastik-plastik itu berisi bayi. Ini mengerikan apalagi aku sudah melihat banyak sekali luka di jalan raya, tikus-tikus yang gepeng, kucing berdarah dan sebagainya. (Karenanya aku anti membuang sampah di jalanan. Plastik atau benda apapun.)

Pikiran-pikiran tertentu bisa muncul sangat idealis. Aku bisa sangat patah hati jika membaca undangan yang dikirim lengkap dengan TOR, dengan susunan panitia dan siapa yang diundang. Aku selalu berpikir, jika ada kejanggalan kecil saja, pikiranku sudah terusik. Misal, mengapa bukan si Anu yang diundang, kenapa malah si Ini. Bukankah itu tidak strategis? Bukankah itu menjadi batu sandungan bagi proses yang seharusnya begini dan begitu. Wuahhh... dalam sebulan aku bisa mendapatkan beberapa undangan, betapa aku mesti stress setiap kali karena hal di luar jangkauanku ini. Itu baru soal undangan. Soal lain-lain, ini itu... duh. Aku bisa sungguh terganggu oleh hal-hal sepele semacam itu, bahkan untuk waktu yang lama.

Suatu titik di masa lalu, salah satu guruku, mengatakan : "Kompromi, Yuli. Kompromi. Tak semua yang kau pikiran bisa menjadi realita. Tapi hidupmu itu pun realita. Kompromilah." Hmmm... aku tak paham waktu itu. Belum sepenuhnya paham juga hingga sekarang. Tapi aku melakukannya. Di titik tertentu aku tidak sehat, proses kompromis yang kumaksud jatuh pada kecuekan atau ketidak pedulian. Benar-benar tidak peduli, dan tidak rugi apa-apa karena ketidakpedulian itu. Sementara waktu kubilang : Tidak apa-apa. Hal itu pun membuatku sehat. Hmmm. Hmmm.

Thursday, September 10, 2015

Menyepi

Foto oleh Afrilia Utami. Thanks ya, non.
Bersama suara-suara
manusia menyepi
di perkumpulan
di perjalanan
di perhentian.

Yang meriak pada kesadaran
menarik raga pada diam
mengolah suara
sebagai adonan
di telinga.

Bukan disumbat
bukan dibabat
hanya menunggu waktu tepat
untuk kembali mengucap.

Berharap bibir seirama dengan langkah
juga liuk pundak
impian
dan
harapan.

Wednesday, September 09, 2015

Memulai Emma dari Jane Austen

Hasil gambar untuk emma jane austenSecara tak sengaja aku menemukan deretan Jane Austen saat membelikan Toto Chan untuk Marco beberapa waktu yang lalu. Saat aku membaca Pride and Prejudice, aku tak punya bandingan lain dari Jane yang bisa kupilih. Ini, pada satu rak ada berderet novel-novelnya.

Aku langsung terbayang cerita Jane yang begitu lambat, dengan detail-detail yang kadang membuat aku tak sabar saat membaca. Spontan juga kebayang kehalusan romantisme klasik jaman dahulu kala. Maka, jari jemariku langsung menelusuri beberapa novel itu. Ah, jika ada yang mau membayariku pasti kuambil semua buku itu, tapi karena aku ingat dalam dompetku hanya ada beberapa lembar yang harus aku hemat hingga tanggal 25 nanti, aku mesti hati-hati dan menahan diri.

Okey, aku memilih buku yang paling tebal dari semuanya : Emma. Aku baru memulai membacanya semalam, baru beberapa halaman awal, dan perasaan seperti saat aku mulai membaca Pride and Prejudice pun muncul. Rasa tidak sabar, terasa bertele-tele. Dan Jane menuliskan 737 halaman untuk buku ini! Busyet. Energi apa yang dipunyai oleh Jane perempuan penulis itu saat membuat novel-novel seperti ini? Huft. Aku iri.

Kucuplik sedikit untuk menggambarkan Emma seperti apa yang ditulis oleh Jane dalam buku ini. Halaman 210 :"Bagi gadis periang seperti Emma, walaupun malamnya sempat murung, datangnya pagi hampir tidak pernah gagal mengembalikan semangatnya. Usia muda dan kecerahan yang mendatangkan rasa bahagia dan semangat." Ini mirip juga dengan tokoh dalam Pride and Prejudice. Tapi, okey, lihat nanti, aku akan membaca pelan-pelan saja.

Saturday, September 05, 2015

Perbedaan

Mempunyai anak-anak seperti Albert dan Bernard, adalah rahmat luar biasa. Mereka berbeda, ya, sangat berbeda. Satu contoh kemarin sore. Di jalan raya Hajimena ada truk fuso bermuatan batu terguling di jembatan, sangat dekat dengan pintu gang masuk perumahan kami tinggal.

Albert, begitu mendapat kabar itu, langsung mandi, menyiapkan buku, pinjam motor dan mengajak beberapa temannya untuk nonton! Nonton bagaimana truk itu diderek, dari magrip hingga jam setengah 10 malam. Huah. Itu pun dia pulang setelah dicari bapaknya. Persis saat truk sudah ke posisi aman siap dipindahkan.

Bernard, ah dia mah adem ayem. Cuek, tak perduli. Saat digoda bapaknya,"Nard, ikut yuk. Lihat fuso yang terguling di depan." Jawabannya cuek saja, sambil terus nonton tivi. "Ngapain lihat truk terguling? Apa yang dilihat?" Huah. Itu pun dia tak memindahkan pandangan matanya.

Memang berbeda.

Tuesday, September 01, 2015

Reputasi

Pagi yang heboh selalu terjadi di pagi hari. Setelah menjerang air untuk mandi Bernard, menanak nasi, minum segelas atau dua gelas air, aku akan membangunkan anak-anak. Huft, ini bagian yang mesti diulang berkali-kali. Kadang setelah nasi matang, lauk matang, sayur matang, tetap saja mereka sembunyi di balik selimut.

Biasanya terakhir aku akan bilang,"Pokoknya ibu tak akan membangunkan lagi. Terserah kalian."

Masih belum bangun juga aku akan mondar-mandir ke kamar,"Ibu sarankan kalian lihat jam dulu deh kalau mau memutuskan untuk tidur lagi." Walau mereka tidak bergerak-gerak, aku tahu mereka sudah bangun dan pasti mendengar suaraku.

Usai itu barulah mereka akan mulai beranjak. Mandi, makan, dan hal-hal yang perlu dilakukan. Sambil makan sesekali mereka akan lupa kemalasan-kemalasan mereka, malah mengajukan protes-protes. "Ibu ini lho, ndak mbangunin aku." Ih, kuketok kepala mereka secara spontan. Dasar.

Pagi tadi sembari lari ke motor, Bernard berujar,"Reputasiku bakal turun nih bu."

"Reputasi apaan?"

"Telat terus setiap hari. Mepet jam doa. Harusnya lebih pagi lagi berangkatnya."

Ealah, lha yang bangun siang tuh siape? Yang masih lelet-lemot tuh siape? Yang menurunkan reputasi tuh siape? Eeee....

Friday, August 21, 2015

Dari Mejaku Pagi Ini Memandang Rumah Berwarna Kunyit


Sangat mudah mengingat kapan aku menerima buku ini. Rabu, 19 Agustus 2015, di Balai Keratun, kompleks Kantor Gubernur Propinsi Lampung, dari tangan editornya langsung, Udo Z. Karzi. Aku menanti buku ini sudah agak lama, dan akhirnya kudapatkan. Bukan berarti isi buku ini hal yang baru sehingga aku sangat ingin mendapatkannya, karena aku sudah membaca sebagian artikel dalam Rumah Berwarna Kunyit (Polemik Kesenian, Kesenimanan dan Lembaga Seni (di) Lampung) ini koran, tapi aku ingin menyimpannya sebagai salah satu dokumen di perpustakaanku.

Ya, seperti dikatakan Udo, buku ini berupa kumpulan dari artikel-artikel yang sudah dipublikasi di media masa. Dan secara umum aku bisa memahami situasinya kalau yang ditulis adalah tentang kesenian, kesenimanan dan lembaga seni yang ada di Lampung. Walau aku tidak terlibat banyak di situ, tentu saja aku paham juga sedikit-sedikit tentang hal ikwalnya. Karena aku juga membuat karya seni, aku seniman, dan sesekali aku terlibat dalam lembaga atau komunitas seni.

Aku menerima buku ini pada hari bersejarah bagi Dewan Kesenian Lampung (DKL), yaitu pengukuhan pengurusnya untuk masa jabatan 5 tahun mendatang. Aku sedang menunggu acara dimulai ketika Udo memberikannya padaku dalam sampul coklat bertulis namaku. Acaranya sendiri belum mulai juga walau aku sudah satu jam lebih duduk di situ. Undangan yang kuterima menyebutkan acara akan dimulai pada pukul 09.00. Aku datang di lokasi sekitar 7 menit sebelum jam 09.00. Dan aku terima buku biru ini sudah lewat 5 menit dari pukul 10.00! Dan acara belum ada tanda-tanda akan mulai!

Aku sengaja meniatkan datang setelah mendapat surat undangan warna biru sehari sebelumnya karena beberapa alasan. Pertama, aku ingin hadir untuk teman-temanku seniman yang sudah pasti akan masuk dalam jajaran kepengurusan. Kedua, aku penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada DKL kedepan. Menurutku salah satu tanda yang bisa kutangkap adalah siapa yang ada di dalamnya. Dan saat aku terima undangan pengukuhan itu, tak ada informasi jelas yang kudapat tentang orang-orang yang akan masuk dalam jajaran pengurus yang akan dikukuhkan itu. Ketiga, aku sedang tak ada acara apapun di manapun. Jadi kupikir tak ada ruginya untuk hadir.

Pagi itu merasa antusias menyiapkan diri. Baju dominan biru sengaja kupakai dan bukan batik. Ya, sesuai dengan warna undangan biru. Dan ini pasti akan membedakan dengan sangat kontras dengan para calon pengurus yang akan dikukuhkan, yang disebutkan sudah menerima batik seragam. Sepatu kulit coklat kupakai. Mestinya lebih enak jika aku pakai sandal tumit tinggiku yang ringan. Tapi hari Minggu lalu aku terkilir. Kaki kiriku masih sakit jika digerakkan walau bengkaknya sudah mengempis. Dan aku berangkat dari kantor pukul 08.30. Aku memastikan tidak akan terlambat dan melewatkan hal-hal yang akan kutemui di sana.

Sayangnya, aku kecewa di satu jam pertama. Okey, harapanku memang tak bisa terpenuhi seluruhnya. Lihat saja, pertama, ya, aku bertemu teman-teman seniman. Sebagian memakai 'batik seragam' sebagian lain tidak. Jadi merekalah yang akan jadi pengurus, yang lain hadirin undangan seperti aku. Kedua, aku mendapati nama-nama pengurus. Soal ketua umum sudah terpilih Yustin Ridho Ficardo. Lalu ketua harian Heri Suliyanto. Hmmm.... Yang lain, aku baru tahu kemudian, lewat media online. Setelah acara selesai. Ketiga, ah,... aku tak bisa menunggu segitu lama untuk acara yang sudah bisa kutebak situasinya. Jadi pukul 10.30, aku bangkit. "Aku bosan. Harus jalan dulu." Kataku pada Imas Sobariah, yang duduk tak jauh dariku. Lalu aku ke tempat Kang Dana,"Selamat, kang. Aku tak tahan lagi menunggu." KD menyebut 2 menit, pasti mulai.

Aku tertawa dan pergi. 1,5 jam cukup bagiku. Tak ada pengaruhnya apa-apa jika kursiku kukosongkan. Jadi aku pulang, walau saat aku di teras Balai Keratun aku berpapasan dengan mobil yang membawa Ridho dan Yustin, Gubernur dan Ketua Umum DKL. Dalam hati aku menyapa mereka,"Sukses selalu, pak dan bu." Aku paham, sangat paham, acara-acara seperti ini biasa dimulai dengan sangat-sangat terlambat, molor jauh dari waktu yang tertulis. Sangat-sangat biasa. Dan karena untuk acara ini Ridho dan Yustin atau entah protokoler pemprov Lampung tak membuat gebrakan sehingga hal yang memalukan ini tidak terjadi, ya serta merta rasa pesimisku mencuat. Ya yang biasa-biasa itulah yang akan terjadi. Huft.

Di parkiran, bapak tukang parkir manggut-manggut sambil membantuku mengeluarkan motor. "Mereka ndak paham. Menunggu sampai selama ini buat ibu-ibu ya akan merepotkan. Belum lagi harus masak, ngurus anak. Acara belum mulai juga padahal sudah siang. Hati-hati ya bu." Hehehe... aku tertawa mendengar komentar si bapak. Komentar ini memberiku ilham sebuah resep masakan. Dan spontan membuatku rindu dapur.

Hmmm... akan kemana DKL dengan jajaran pengurus seperti itu? Hmmm... hmmm... hmmm... Aku menulis soal harapan saja. Karena DKL sudah diisi oleh orang-orang yang dekat dengan pemerintahan, ketua umum istri Gubernur, lalu ketua harian kepala dinas pendidikan, aku berharap pemerintah Lampung semakin memberikan perhatian dan ruang yang nyata dan merata terhadap seni, seniman dan lembaga seni termasuk komunitas-komunitas seni di Lampung. Bukan untuk lamis-lamis lambe tampak gemebyar saja tapi sungguh-sungguh. Serius. Dan besok-besok, terlambatnya jangan keterlaluan deh. Ya 10 menit 15 menit bolehlah. Lampung sudah terlambat jauh, jangan lagi ditambah mengulur waktu yang merugikan begitu. Wis, itu saja deh.

Selebihnya, ya ya ya, Rumah Berwarna Kunyit membantuku melihat pandangan-pandangan para penulis tentang geliat seni di Lampung. Buku ini belum kubaca seluruhnya. Masih nunggu giliran memakai waktu yang kupunya. Sementara kusurukkan saja di ranselku, jika ada jeda aku bisa membacanya pelan-pelan di manapun aku berada, bercampur dengan dua buku yang sedang kubaca juga pelan-pelan Pagi Lalu Cinta-nya Isbedy Stiawan dan Harakah Haru-nya Iswadi Pratama, serta sebuah manuskrip buku puisiku yang sedang kuedit.

Dan walau aku tidak jadi ikut hadir dalam acara pengukuhan (maafkanlah, aku mah gini orangnya, tak sabaran.) aku mengucapkan : Proficiat, pengurus DKL yang baru. Selamat bekerja. Seni dan seniman tak selalu butuh rumah karena udara dan mataharilah sumber utama inspirasi karya. Jadi mungkin akan bisa dihitung siapa yang akan bertandang atau diundang ke rumah. Tapi para pengurus rumah, semestinya tak melulu di dalam rumah, tapi membuka pintu jendela membersihkannya setiap pagi, merapikannya setiap kali hingga pantas disebut sebagai rumah, termasuk dengan taman dan halaman yang indah. Dan jalan-jalan di luar rumah, sekitar rumah atau sedikit jauh dari rumah akan baik juga untuk kesehatan. Jadi, lakukanlah kerja-kerja yang diperlukan itu. Sekali lagi, proficiat. Selamat.

Tuesday, August 18, 2015

Matahari dan Bulan

Pagi ini, 06.20, lewat bundaran Raden Intan, matahari bulat warna oranye di timur kelihatan rendah dan bulat.
"Bert, Nart, itu matahari atau bulan?" kataku memancing Albert dan Bernard di boncengan Mioku.
"Matahari. Bagus." kata Albert.
"Itu bulan." kata Bernard.
"Matahari, dedek." tandas Albert.
"Itu matahari yang menyamar jadi bulan." jawab Bernard cuek.
"Itu matahari kecil yang menyinari seluruh bumi." kata Albert sok puitis.
"Itu matahari yang menyinari setengah bumi." protes Bernard.
"Kok setengah? Seluruh." kata Albert.
"Tugas matahari memang setengah saja, setengahnya lagi tugas bulan."
"Dih, adek." kata Albert dengan jengkel. "Matahari kan terus berjalan menyinari semuanya."
"Bukan matahari, tapi bumi yang berputar." tukas Bernard.
"Iya!" seru Albert pasrah.
"Dan dalam suatu waktu, matahari hanya menyinari setengah bumi. Tak bisa sekaligus disinari seluruhnya." Lanjut Bernard.
"Iya deh." kata Albert.
Lalu dua-duanya diam. Iya deh. Hehehe....

Saturday, July 25, 2015

Dewa Kolonshewang

Dewa Kolonshewang kehilangan tahtanya. Dia berjalan ke sana ke mari di seluruh penjuru langit.
"Aku lupa meletakkan kursi itu di mana." Keluhnya.
Rombongan angin yang sedang ditunggangi oleh para dong menggeleng-gelengkan kepala, sedang para dong dengan pecut di tangannya terheran-heran.
"Dewa, kursi...itu bukan kursi. Dan bagaimana Dewa bisa menghilangkannya? Tahta dengan berat seperti pasak-pasak Semeru dan hiasan berkilo-kilogram bebatuan? Dewa membawanya kemana?"
Dewa Kolonshewang tertunduk murung. Dikibas-kibaskannya tangan. Diusirnya angin-angin. Para dong menggerutu berkasak kusuk.
"Mestinya aku meletakkanya di suatu tempat. Tapi aku lupa. Di mana?"
Para dewi yang berjinjit dengan selendang-selendang pelangi tak bisa menghiburnya. Guntur dan petir dan membuatnya berjingkat kembali ke istananya. Dewa Kolonshewang terus berjalan hilir mudik mencari tahtanya.
...
Nun jauh di bawah sana, bumi guncang oleh prahara. Sebuah desa tertimpa kotoran lembu sebesar gunung. Lekukan di bagian atas berbentuk cekung, dan jejak seperti sepasang tapak kaki  menghias bagian bawahnya. Seratus orang meninggal karenanya dan baunya terus menyebar ke seluruh bumi. Segerombol ilmuwan sedang mengambil contoh dari kotoran itu dan para filsuf mulai mendiskusikan mengapa dan bagaimana kotoran sebesar itu bisa runtuh ke bumi. "Sebesar apakah lembu yang sudah mengeluarkan benda ini? Di manakah dia yang sangat besar itu berpijak?"

Friday, July 24, 2015

Lukisan-lukisan Yuli Nugrahani

Aku melukis dari usia yang masih sangat dini. Tak ingat persisnya. Tapi mulai SD aku sudah ikut lomba melukis bahkan hingga menjadi utusan Kabupaten Kediri di tingkat propinsi Jawa Timur. Lukisan-lukisan itu tersimpan, hilang dan tersebar. Kebanyakan dari mereka adalah lukisan yang belum jadi. Ini dua di antaranya :


Perempuan-perempuan
 
Penari Banyuwangi

Adakah yang berminat? Silakan inbox di fb yuli nugrahani.

Thursday, July 09, 2015

41 Tahun yang Belum Cukup

Hari yang istimewa ini seperti biasa. Yang luar biasa adalah aku bertemu rahim perawatku, ibu, pada jam pertama aku membuka mata di hari ini, sama seperti 41 tahun yang lalu. Pada jam yang hampir sama, sekitar pukul 7 pagi. Aku tak memberikan kado apa-apa, hanya pelukan, yang dibalas lebih erat oleh ibu."Terimakasih, ibu. Terimakasih sudah melahirkan dan merawatku." Bisikku dalam peluknya.

Udah. Usai itu hari ini berlangsung biasa seperti biasa aku merayakannya. Mengambil beberapa waktu untuk sendirian. Melihat beberapa tumpukan dokumen lama di lemariku di Kediri membuatku lebih masuk ke dalam kesendirian. Satu map tak sengaja kutemukan. Berisi dokumen-dokumen saat aku ikut pelatihan jurnalistik pertama kali di Jakarta, bersama Ignatius Hariyanto (penulis, editor, juga direktur LSPP beberapa tahun terakhir) dengan pembicara-pembicara dari Kompas, Tempo, Intisari dan sebagainya. Juga tumpukan lain saat aku aktif bersama teman-teman KANVI Malang dan di VCI.

Seperti kejutan membaca kembali dokumen-dokumen itu setelah 20 tahun lewat (kalau tidak salah pelatihan itu kuikuti pada tahun 1994). Pelatihan itu kuikuti jauh sebelum aku menjadi wartawan Malang Pos. Bahkan jauh sebelum aku berpikir menjadi jurnalis. Atau bahkan sebelum terlibat di berbagai lembaga puluhan tahun silam.

Apakah aku seorang jurnalis? Ya, suatu waktu yang cukup lama di Malang Pos dan kemudian di Majalah Nuntius dan beberapa media lain. Apakah aku seorang aktifis? Tidak. Orang-orang menyebutnya begitu untuk meledekku. Juga untuk menyerangku. Aku dengan kegembiraan dan kesedihan hari ini, menyebut diriku sendiri pembohong dengan jutaan topeng dalam rak penyimpanan yang seluruh eksistensinya patut dipertanyakan.

Aku ingin mencatat satu hal untuk mensyukuri hari ini. Aku seorang manusia yang menandai hidupku dengan gerakan kaki, loncatan pikiran dan dinamika perasaan. Hari ini sama dengan hari-hari yang lain, tapi aku ingin mengingatnya suatu ketika nanti sebagai hari yang istimewa, saat merasakan pelukan sang rahim, pada hari dan jam yang sama seperti saat aku pertama kali merasakan udara semesta.

Thursday, May 21, 2015

OTAK PASIR

Bernard duduk di sebelahku. Melihat ke atas dan bertanya,"Bu, bagaimana cara menyambung kabel-kabel lampu seperti itu ya?" Aku melihat arah pandangnya. Kabel yang menghubungkan lampu belakang rumah dengan listrik tampak menjuntai. "Ibu tidak tahu. Tapi pasti ada caranya. Bernard tanya bapak saja nanti. Bapak kan ahlinya."
Bernard diam sebentar lalu berkata,"Nanti kalau aku sudah besar, aku akan jadi bapak juga. Jadi harus tahu cara menyambung kabel."
Oh. Aku melihat wajahnya tampak serius, jadi aku tak berani tertawa. "Ya, nanti kalau bapak pulang, tanyalah. Tapi ndak usah buru-buru lah jadi bapaknya. Jadi anak saja sekarang."
"Iya." Wajahnya begitu serius. Lalu dia diam lagi, sebelum kemudian nyeletuk,"Belajar pada masa anak-anak itu seperti mengukir batu, sedang belajar pada saat sudah tua itu sama seperti mengukir air."
Eits. "Mengukir air kan ndak bisa, Nard." Protesku sambil mikir, nih anak sedang berpikir apa ya?
"Karena itulah, bu. Makanya belajar pada saat masih anak-anak. Seperti aku. Jadi seperti ukiran di batu. Tidak akan hilang."
"Ah, iya juga. Tapi setua ibu juga masih belajar."
"Tapi susah kan, bu? Buktinya ibu sering lupa."
"Hmmm.... ya. Mungkin sebenarnya itu bukan mengukir air, tapi pasir. Bisa, tapi mudah hilang."
Bernard manggut-manggut. "Iya kali. Pasir. Kena hujan, hilang deh."
Dia berdiri. Memutar badan menuju sepedanya. Sebelum dia pergi aku tanya dengan sedikit berteriak,"Nard, memang tahu dari mana itu soal mengukir batu dan air."
"Ada ditulis di kelasku. Aku sudah membacanya di dinding sejak naik kelas 5."
Ohhh.... baiklah. Dia hilang dengan sepedanya. Aku melanjutkan merenung, berpikir soal otak airku... eh... otak pasirku. Duh.

Wednesday, May 20, 2015

Kireji pada Haiku Denok Indriyati



Selain syarat 5 – 7 – 5 ketukan pada baitnya, adanya kigo/penanda musim, dan syarat-syarat lain, salah satu syarat yang penting dalam haiku Jepang adalah keberadaan kireji. Kireji dalam bahasa Inggris adalah cutting word atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kata pemotong. Menurutku ini adalah bagian yang sulit dipahami. Aku tak tahu kata pemotong dalam bahasa Indonesia itu yang seperti apa ya?
Dalam satu tulisanku tentang hal ini lewat haiku Hikmat Gumelar aku menuliskan “Syarat berikutnya adalah adanya kireji, atau pemotongan. Ini agak susah dibayangkan. Di banyak contoh haiku, misalnya haiku Basho, dimanakah kirejinya? Pemotongan ini kalau kubayangkan dalam pantun seperti pemotongan antara sampiran dan isi. Sesuatu yang tak ada hubungannya tapi toh terkait juga.”
Rupanya hal itu tidak sesuai betul dengan arti yang sebenarnya tentang kireji. Dalam bahasa Jepang memang ada kata-kata pemotong yang kemudian dipakai dalam haiku untuk memberikan ruang keterlibatan bagi para pembaca. Kata pemotong itu menjadi pemisah ada dua tema yang disandingkan (jukstaposisi) dan pada gilirannya saat dibaca akan menjadi ruang bagi pembaca untuk bertanya, merenung dan mengambil inspirasi yang lebih dari haiku yang sudah dibuat.
Dari banyak sumber, dalam bahasa Inggris tidak ada padanan yang tepat untuk hal ini. Dan karena aku tak bisa memahami bahasa Jepang, aku juga tidak tahu apa padanan yang sesuai untuk hal ini dalam bahasa Indonesia. Jika dalam tulisan atau pemahamanku dahulu membandingkan keberadaan ‘pemotong’ atau pemotongan ini seperti antara sampiran dan isi dalam pantun, aku masih akan tetap menggunakannya dalam pemahaman yang tidak persis seperti itu. Aku akan memahaminya seperti ini :

Pertama, pemotongan ini aku setarakan dengan penyandingan dua tema yang berlainan itu dapat terlihat dalam haiku Denok Indriyati ini.

Malam yang redup
bulan dililit mega
angin gelisah.
(Diposting di Haiku Nusantara pada 20 Mei 2015)

Pada baris pertama dan kedua, kita bisa melihat adanya satu tema/ide, malam yang redup karena bulan dililit mega. Tak ada cahaya yang tampak karena mega menutupi bulan. Itu jelasnya. Lalu masuk tema kedua pada baris ketiga, angin gelisah. Andai tidak dipotong, antara dua baris pertama dan baris ketiga, seharusnya ada keterangan yang panjang sebagai penghubung keduanya. Inilah ruang yang disediakan bagi pembaca haiku Denok. Apakah yang terjadi sehingga pada malam yang redup bulan dililit mega, membuat angin menjadi gelisah. Mengapa terjadi begitu? Hal itu menimbulkan banyak imajinasi tergantung dari pembacanya pernah mengalami apa, sedang mengalami apa atau tengah membayangkan apa. Karena itulah, baris-baris dalam haiku tidak bisa dijadikan satu kalimat, tapi selalu berupa penggalan-penggalan.

Kedua, ini tidak lepas dari keberadaan haiku sendiri yang sangat singkat. Ruangnya yang terbatas hanya 5 – 7 – 5 ketukan, tidak memberi keleluasaan bagi penulisnya untuk berboros kata menjelaskan secara rinci tentang segala idenya. Pada akhirnya, justru di sinilah kekuatan haiku itu muncul. Lukisan yang tak terbatas bisa tersampaikan dari deretan kata yang sangat minim.
Jika kembali melihat haiku Denok, aku akan langsung ditarik oleh kata-kata yang disusunnya dalam imajinasi yang begitu luas. Di mana? Pada malam yang redup. Apa? Bulan dililit mega. Kapan? Saat angin gelisah. Ketiganya adalah sumber imajinasi yang tak terhingga.

Ketiga, dugaanku ini juga ada kaitannya dengan sejarah haiku. Konon haiku (klasik disebut hokku) awalnya dipakai sebagai pembuka atau pengantar rangkaian sajak panjang. Sebagai pembuka atau pengantar, kubayangkan ini sesuatu yang pendek, semacam lead dalam tulisan jurnalistik, yang memberi ‘senyuman’ selamat datang untuk menarik pembaca meneruskan membaca seluruh sajak.
Kalau dihubungkan dengan hal ini, kubayangkan haiku Denok ini akan membawa kita pada pada kisah yang sangat panjang. Segala kisah yang mungkin terjadi pada sebuah malam yang redup, bulan dililit mega, angin gelisah. Ini adalah imajinasiku. *** (Yuli Nugrahani)

Wednesday, April 29, 2015

Pertama adalah Mata

Aku sudah pernah menjadi juri untuk beberapa bidang dalam penulisan atau di luar penulisan. Salah satu kesempatan kudapatkan baru saja dengan menjadi juri cipta puisi tingkat sekolah dasar (SD) untuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Propinsi Lampung, di Hotel Nusantara, Bandarlampung 24 - 27 April 2015. Ada 15 peserta yang ikut lomba dari 15 kota dan kabupaten yang ada di Lampung. Kisaran peserta dari kelas 3 sampai 5 SD.

Tema umum yang disodorkan dalam lomba ini adalah kebudayaan Indonesia, spesifik karena ini lomba tingkat propinsi Lampung maka yang harus ditulis oleh peserta adalah kebudayaan Lampung. Dengan waktu kurang lebih 3 jam, apa yang bisa diharapkan dari para peserta siswa siswi SD itu? Hmmm, ya dari banyak pengalaman untuk tingkat umur SD, puisi-puisi yang dihasilkan adalah puisi deskriptif, melukiskan apa yang menjadi tema.

Misal anak SD diminta menulis puisi tentang tarian Lampung. Mereka akan mengurai kata-kata yang melukiskan tarian Lampung, berdasarkan apa yang mereka pernah lihat. Puisi mengandalkan kata-kata yang muncul dari perasaan, yang didasari dari apa yang ditangkap oleh pancaindera. Tapi untuk para muda, anak-anak SD ini, penggunaan mata atau indera penglihatan secara optimal, adalah awal yang sangat baik dan tepat.

Dan ini memang sungguh awal yang baik bagi seorang penyair. Indera yang pertama dan paling optimal bisa digunakan oleh penyair untuk menjaring perasaan-perasaan puitik adalah mata, indera penglihatan. Lewat mata kita bisa melihat bentuk, letak, gerakan, warna dan sebagainya. Jika dituangkan dalam kata-kata, apa yang tertangkap oleh mata ini sangatlah banyak, luar biasa.

Kalau dalam FLS2N tingkat SD mereka melukiskan budaya Lampung, mulai dari tarian, alam, adat, dan sebagainya, kita bisa memakai sekitar kita sebagai latihan menggunakan mata. Mempertajam apa yang bisa ditangkap oleh mata kita sangatlah besar maknanya. Coba lihat di mejaku sekarang ini. Ada gelas nyaris kosong persis di depanku. Apa kata-kata yang bisa kuungkap dari gelas ini? Misalnya : bening, mengkilat, air, gelas, jernih, udara, kosong, pantulan, wajahku, bias, lengkung, lurus,cahaya, dll. dll. Dari kata-kata itu aku bisa merangkainya jadi puisi. Misal puisi pendek seperti ini :

Bening depanku
gelas mendamba air
wajah memantul.

Nah, mataku menangkapnya, dan jadilah puisi pendek. Jika aku menyimpannya, lalu mengeditnya, ini akan jadi salah satu bait dari puisi yang utuh nanti. Jadi, sungguh menyenangkan melihat anak-anak SD sudah memulai dari yang paling menyenangkan yang mereka tangkap lewat mata mereka, untuk dijadikan puisi. Salut.

Tuesday, April 28, 2015

TERCIPTA DARI TANAH YANG SAMA


Titik Temu bersama Dewi Nova

 (Dimuat dalam Swara Gender edisi 69/TahunXX/Januari-Maret 2015

Akhir tahun lalu saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, 10 Desember 2014, dengan menjadi editor bagi sebuah buku antologi puisi bertema HAM dengan judul Titik Temu. Buku ini diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami tepat pada hari HAM dengan melibatkan 60 penulis dari seluruh Indonesia dan dari beragam kalangan. Buku ini telah diluncurkan dan dibahas di Radio Republik Indonesia (RRI) Sumenep Jawa Timur oleh Komunitas Kampoeng Jerami pada bulan Januari 2015. Selain itu juga dibedah dalam kegiatan rutin Komunitas Sastra Reboan, Bulungan, Jakarta pada Pebruari lalu. Menyusul kegiatan-kegiatan itu, dalam tahun ini beberapa agenda komunitas lain akan menyertakan Titik Temu sebagai bahan perbincangan seperti di Tangerang, Bandung dan Bengkulu.

Karena kebetulan saya terlibat di dalamnya, saya hendak memakai buku ini sebagai sumber inspirasi bagaimana martabat perempuan dimuliakan melalui tulisan-tulisan. Memang, puisi-puisi yang ada di sana tidak semata berbicara tentang perempuan, tapi hampir separuh dari seluruh penulisnya adalah perempuan. Sebut saja Ariany Isnamurti, (direktur PDS HB. Jassin, Jakarta), Siti Noor Laila (anggota komisioner Komnas HAM), Bunda Umy, Umirah Ramata, Chamelia dan beberapa teman pekerja perempuan di Taiwan (buruh migran dari Indonesia), juga ada beberapa aktifis sosial perempuan seperti Dewi Nova, Mariana Amirudin, Masita Riany dan sebagainya. Selain itu ada penyair-penyair perempuan lain yang terlibat meramaikan buku ini.

Tema-tema tentang perempuan mau tak mau menjadi warna dalam puisi-puisi HAM sebagai sarana penghormatan terhadap perempuan. Beberapa jelas terlihat dari judul puisinya seperti Hak Sepatu dan Riuh (Cici Mulia Sary, penulis dan dosen di Bengkulu), Mei-Mei : Umurnya 16 (Dewi Nova, penulis dan aktifis perempuan Tangerang Selatan), Iyem juga Manusia (Dita Ipul, penyair dan ibu rumah tangga dari Cilacap), Sajak Nyai Rossina dan Perempuan di Cakrawala (Edy Samudra Kertagama, penyair senior dari Lampung), Perempuan di Ladang Jagung (Fendi Kachonk, pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami dan penyair Madura), Gadis Kecil (Lilis Amd, penyair dan guru di Bandung), dan sebagainya.

Bagaimana perempuan bisa mengembang dan berkembang dalam tulisan-tulisan? Kita bisa mengambil satu contoh puisi menarik dari buku ini. Saya memilih satu puisi yang bersubjudul Pahala, ditulis oleh Dewi Nova, hal. 44 buku Titik Temu. Walau subjudulnya Pahala, tapi isi puisi ini bisa dipinjam untuk memberi makna kesadaran tentang perempuan.

Puisi tersebut secara lengkap adalah :

Saat kau memandangnya
ia bersinar merasakan kasihmu

Saat kau mendengarkannya
ia sempurna sebagai ciptaan

Saat kau berbuat
ia tergerak untuk saling menghidupkan

Saat perjumpaan
kita merasa tercipta dari tanah yang sama

(Cirendeu, 19 Juli 2011)

            Mudah sekali mengaitkan puisi ini dengan perempuan apalagi mengingat penulisnya juga seorang aktifis perempuan yang giat memberdayakan perempuan dan menyebarkan semangat untuk kemajuan perempuan. Kita dapat memakai imajinasi untuk melihatnya ketika mulai masuk dalam bait-baitnya yang jernih memberikan pemahaman.

Dewi menulis di bait pertama : Saat kau memandangnya, ia bersinar merasakan kasihmu. Jika saya ganti ‘nya’ dengan perempuan, maka yang muncul adalah saat kau memandang perempuan, ia bersinar merasakan kasihmu.

Bagaimana seharusnya kita memandang perempuan? Itu dijelaskan dalam bait-bait yang berikutnya. Saat kau mendengarkannya, ia sempurna sebagai ciptaan. Perempuan harus didengarkan, dan dia sempurna sebagai ciptaan. Ini tidak mudah, karena sering kali perempuan dianggap sebagai ‘ciptaan level kedua’ yang diabaikan keberadaannya. Sering tak dipandang, atau jika dipandang akan dipandang sebelah mata saja.

Lalu di bait ketiga, muncul gerakan yang saling melengkapi, antara pria dan perempuan. Saat kau berbuat, ia tergerak untuk saling menghidupkan. Ini bukan sebuah simbol yang pasif, tapi gerakan itu akan menjadi saling menghidupkan. Bukan hanya salah satu pihak saja, tapi saling dalam perjumpaan yang sejajar. Dan di bagian akhir itulah yang menjadi ajakan kita untuk sampai pada pemahaman bahwa memang harusnya seperti itulah, karena semua manusia entah pria atau perempuan diciptakan dari tanah yang sama.

Bisa jadi apa yang dimaksudkan oleh Dewi Nova saat menuliskan puisi Pahala ini berbeda dengan cara saya memandang dan menafsirnya. Tapi puisi ini memberikan inspirasi yang penuh akan penghormatan terhadap martabat manusia tanpa melihat jenis kelaminnya. Walau, tentu saja, dengan keterpihakan pada perempuan.

Dalam keseluruhan buku Titik Temu, tulisan Dewi Nova hanyalah puisi yang pendek, namun maknanya bisa tertangkap begitu dalam dan luas untuk merangkai 164 puisi yang ada dalam buku ini. Kita tercipta dari tanah yang sama. Begitu dikatakan Dewi. Dan saya ingin melanjutkan dalam pemaknaannya, bahwa kita akan kembali ke tanah yang sama pula.

Jika dikaitkan dengan situasi masa kini, kemajuan perempuan seharusnya diikat dalam penumbuhan kesadaran-kesadaran. Bukan hanya kesadaran para perempuan yang setahap-tahap maju dalam berbagai aspek, namun juga kesadaran pihak-pihak lain. Saya menyebutnya pihak-pihak lain, bukan hanya satu pihak pria, melainkan juga kelompok-kelompok masyarakat yang memberi pengaruh pada pandangan terhadap perempuan. Di dalamnya ada kelompok pemerintah, agamawan, organisasi masyarakat, partai politik dan sebagainya.

Kesadaran yang paling dasar bisa diambil dari kalimat Dewi, kita tercipta dari tanah yang sama, sebagai dasar dari penghormatan terhadap manusia tanpa terkecuali. Kesadaran itu yang akan diikuti oleh kesadaran-kesadaran lain seiring perkembangan kehidupan. Mungkin akan berbeda pada setiap orang tergantung pengalaman hidupnya masing-masing. Secara umum, kesadaran akan kesamaan martabat manusia yang memang diciptakan dari dan oleh bahan yang sama, bisa menghilangkan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak serta merta, tapi saya yakin akan terus berjalan jika gerakan-gerakan selanjutnya dilakukan dan diwujudkan dengan sadar oleh perempuan-perempuan dan juga bersama pihak-pihak lain.

Begitu pun, buku Titik Temu ini adalah salah satu bagian kecil dalam proses penyebaran kesadaran itu. Seperti dikatakan oleh Siti Noor Laila, Komnas HAM dalam kata sambutannya dalam buku ini,”Berbagai peraturan tidaklah cukup, diperlukan pendekatan melalui budaya, nilai-nilai anti kekerasan dan dialog hati untuk membangun bangsa yang bermartabat.”

Atau seperti yang diungkap Fendi Kachonk, pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami di bagian awal kata pengantarnya untuk buku ini,”Bahwa setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan yang patut dijunjung sebagai warna beragam seperti keindahan pelangi.” Kesadaran itulah yang sedang dipupuk sekarang ini. Keunikan dan perbedaan yang dimiliki oleh manusia pria dan perempuan akan menjadi kesempurnaan yang indah dan saling melengkapi. *** (Penulis, Yuli Nugrahani adalah pelaksana harian Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang, Editor Buku Titik Temu yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami, komunitas yang fokus pada penulisan dan pelatihan penulisan di Indonesia.)

Tuesday, April 21, 2015

Titik Temu dalam Belungguk Sastra di Bengkulu

Kali ini giliran Bengkulu menyediakan ruang bagi Titik Temu. Kegiatan menarik telah dikemas oleh Kedai Sastra bekerja sama dengan Komunitas Kampoeng Jerami dan banyak pihak. Aku merasa beruntung bisa menghadirinya dan bertemu dengan banyak komunitas seni di Bengkulu bahkan juga dengan Vebri Al Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang yang hadir sebagai salah satu penulis Titik Temu.

"Tak ada puisi yang jelek dalam buku ini," Ujarku, sang editor Titik Temu dengan ngeyel. "Kalau editor yang jelek, mungkin saja ya. Karena seluruh tulisan itu sekarang telah dirangkai dalam sebuah buku, dan editor mempunyai tanggung jawab di situ. Tapi itu pun harus diperbincangkan karena editor selalu mempunyai alasan mengapa puisi tertentu dimasukkan atau ditolak. Editor juga mempunyai proses bersama para penulis dalam buku itu sehingga alasan itu menjadi lebih kuat lagi." Kali ini aku mengatakannya sambil tersenyum. Iyalah, mana aku tahan untuk tidak tersenyum apalagi di hadapan mereka semua yang memberikan apresianya untuk Titik Temu. Ya, mau apa lagi. Memang ngeyel adalah nama keduaku. Jadi, aku akan tetap ngeyel. Hehehe...

Lalu beberapa peserta diskusi ikut membaca puisi-puisi dalam Titik Temu. Aku (yang sebenarnya selalu merasa grogi kalau membaca puisi) mengambil Perempuan di Ladang Jagung, salah satu dari puisi Fendi Kachonk yang selalu 'mengandung musik' untuk kubacakan. Ssstt... ini adalah kesempatan ketigaku membaca puisi dalam dua tahun terakhir ini. Terus terang aku lebih suka membaca cerpen daripada puisi, sehingga aku memilih membaca cerpen jika ada pilihan. Tapi kali ini aku sangat beruntung, khususnya karena puisi Fendi ini secara spontan telah membantuku, sehingga aku tak merasa harus susah payah saat membacanya. Dia mengalir begitu saja sesuai musik yang memang sudah dipunyainya.

Ya, peluncuran buku di Bengkulu ini terasa menarik. Selain untuk pertama kalinya aku datang ke kota ini, Kedai Proses telah mengemas kegiatan ini dalam belungguk (hmmm... dalam bahasa Bengkulu artinya kumpul-kumpul.) sastra yang dihadiri oleh komunitas-komunitas di Bengkulu entah yunior maupun senior. Kedai Proses merangkainya dalam kegiatan rutin tahunan mereka Tribute Chairil Anwar yang dijejer dengan lomba baca puisi, seminar nasional untuk penciptaan karya, dan penganugrahan penghargaan sastra.

Dalam seminar yang diadakan keesokan harinya, aku bersama Dr. Elyusra, M. Pd, dari FKIP Univ. Muhammadiyah Bengkulu mendorong peserta untuk mulai menulis puisi. Menulis saja, tapi kemudian melanjutkannya dengan belajar teori-teori untuk membuatnya semakin bermutu. Aku membuktikan bahwa mereka semua mampu menulis puisi dalam workshop di bagian akhir seminar. Mereka semua bisa menulis puisi tentang perempuan dalam waktu yang sangat singkat.

Malamnya, di hari Sabtu itu semacam pesta bagiku. Walau tak ada makanan dan minum, kegembiraan melihat geliat sastra di Bengkulu adalan kegembiraan yang luar biasa. Para muda dengan karya-karya luar biasa mendapatkan penghargaan sastra. Selamat dan sukses selalu. Semangat itu kubawa kembali untuk perkembanganku, juga perkembangan Komunitas Kampoeng Jerami melalui Titik Temu. Aku mesti sebut nama-nama khusus, Edy Ahmad, Fendi Kachonk, Dedi Suryadi, Cici Mulia Sary, dan juga teman-teman Bengkulu, terimakasih.

Thursday, April 16, 2015

Pendidikan adalah ...

Menjadi salah satu dosen untuk mata kuliah Character Building selalu menarik. Bahkan untuk segala tema. Ini dia contohnya ketika aku masuk untuk sesi character building di kelas gabungan Akuntansi dan Manajemen semester 4 STIE Gentiaras, Kamis lalu, 16 April 2015. Tema yang diangkat sesuai buku panduan adalah Lanjutkan Pendidikanmu. Aku mengajak para mahasiswa untuk diskusi dalam kelompok yang mereka pilih sendiri. Salah satu tema yang harus diperbincangkan dalam diskusi itu adalah menyepakati sebuah gambar yang dapat mewakili pandangan mereka semua tentang pendidikan.

Lima kelompok terbentuk dan inilah hasil kerja mereka.

1. Saringan

Kelompok satu menganggap bahwa pendidikan itu seperti saringan. Ketika orang mendapatkan pendidikan, dia akan mempunyai alat saring yang dapat digunakan untuk menentukan mana yang baik mana yang buruk. Mana yang bisa dikembangkan, disimpan atau dibuang.





2. Uang

Kelompok dua menganggap bahwa pendidikan adalah uang. Membutuhkan uang atau pengorbanan yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Di sisi lain, juga pendidikan suatu saat juga akan berguna untuk mencari uang. Orang yang berpendidikan akan mempunyai pilihan untuk mendapatkan uang.



3. Gunung

Kelompok tiga menganggap pendidikan sebagai gunung. Yang harus didaki dengan segala cara. Dan juga digali. Di dalamnya orang akan menemukan banyak hal. Bebatuan, mineral, dan kekayaan yang terpendam.





4. Sumur

Kelompok empat menganggap bahwa pendidikan adalah sumur air. Di dalamnya ada sumber air yang terus-terus memancar. Orang harus menimba dari dalamnya dengan kerekan yang sudah tersedia, dan air itu tak akan pernah habis. Apalagi ada juga tambahan-tambahan air dari resapan tanah di sekitarnya.





5. Kuku

Kelompok lima menganggap pendidikan itu adalah kuku. Seolah kecil, mempunyai banyak fungsi dan terus menerus tumbuh. Walau dipotong ujungnya, pangkalnya akan selalu tumbuh kembali.









Nah, keren kan? Mereka bisa menemukan hal yang menarik dari pendidikan. Gambar-gambar yang mereka buat ini sengaja kuupload supaya mereka dan diriku tak pernah lupa akan pendidikan.

Saturday, April 11, 2015

Menari Bersama Anak-anak Kebutuhan Khusus di Lat Krabang

Tahun ini aku mendapat kesempatan untuk menghadiri pertemuan Consultation of Peace and Reconsiliation in Asia Today di Lat Krabang, Bangkok, 6 - 12 April 2015. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan negara-negara se Asia dan diselenggarakan oleh Office of Human Development (OHD) FABC. Pertemuan yang menarik, tapi kali ini aku ingin cerita hal yang paling menarik dari tempat penyelenggaraan acara. Cammilian Pastoral Care Center.

Aku sudah dua kali datang ke tempat ini. Ini tidaklah asing. Detail-detail dari tempat ini cepat sekali menarik perhatian. Misalnya rancangan bangunan yang begitu manusiawi khususnya untuk anak-anak diffable (diferent of able), anak-anak kebutuhan khusus. Seluruh bangunan dirancang untuk ramah pada mereka. Lift yang dilengkapi huruf braille, suara, sehingga mereka mudah menemukan lantai mana yang dituju. Ruangan-ruangan yang luas yang memudahkan mereka bergerak dalam kursi roda. Juga jalan-jalan yang landai bersanding di sebelah tangga. Setiap kamar mandi juga dilengkapi kursi plastik bagi mereka.

Pada hari terakhir pertemuan, mereka hadir bergabung dengan 40 peserta pertemuan. Mereka rupanya sudah berlatih keras untuk menampilkan pentas yang menarik. Tarian, lagu dan juga melukis dalam iringan musik. Aduh, anak-anak yang luar biasa. Tarian yang indah. Yang berbeda dengan gerak dan ekspresi biasa dari orang kebanyakan. Aku tahu mereka telah bekerja sangat keras untuk gerakan-gerakan itu. Gerakan-gerakan yang mengajak semua orang untuk ikut menari. Hatiku, otakku, dan tubuhku ikut menari bersama mereka.