Wednesday, March 25, 2009

Dunia Bulat Berlubang Milikku

Duniaku bulat utuh kekar. Dengan berkat selangit dari tumpangan tangan banyak orang. Di sekujur permukaannya adalah pori-pori terlihat atau tidak terlihat mata. Seperti lubang-lubang luka besar kecil. Sebagian ditutupi oleh orang-orang terdekat, setengah dekat dan tidak dekat. Sebagian lain masih menganga.

Tangan-tangan liarku sering menari di atas permukaan luka-luka itu. Perih, geli, penuh sensasi. Seorang sahabat mengingatkan,"Hati-hati, Yuli. Menari di permukaan luka mungkin menyenangkan. Tapi ketika sampai pada kedalaman luka, dapatkah kau menahan air mata?"

Duniaku bulat utuh kekar. Di sekujurnya penuh berlubang menghadap semua sisi yang gampang sekali kau temui, kapanpun.

Saturday, February 14, 2009

Cinta

Cinta sering menyamar menjadi apapun sesuka hatinya, betapa aku gemas melihatnya. Bayangkan, kemarin dia menjelma menjadi malam. Dengan jubah-jubahnya yang temaram dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Bibirnya merayu mengajakku berdansa. Bagaimana aku bisa menolak? Aku mengikuti gerak tubuhnya, 22.00, 23.00, 24.00, dan seterusnya hingga dini hari aku menari bersamanya. Melekat pada liuk tubuh basahnya bermandi renjana.

Pagi ini cinta menjelma menjadi cawan. Dia menawarkan mawar dan coklat. "Ambillah nanti dari bibirku," janjinya. Aku meregang dalam asa,"Andai sekarang. Tidak bisakah?" Bisikku pelan-pelan takut mengganggu keheningannya. Aku haus minum dari bibirnya. Dia menegak mengokohkan dirinya dalam siku-siku yang tak terjangkau. Dan sejurus kemudian dia memelukku, kembali dalam rayuan,"Aku ingin. Aku berharap."

Cinta melenggang pergi ketika siang berlalu. Aku tersenyum menatap genggamanku sendiri yang terisi janjinya, bahwa dalam waktu dekat akan datang lagi. Jangan menghitung tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik. Aku hanya perlu tersenyum, karena aku pasti mengenalinya dalam penyamaran apapun yang dia kenakan.

(Aku ingin menyakinkan diriku : apapun adalah rahmat.)

Thursday, February 12, 2009

Hujan deras

Hujan deras mengguyur ladangku. Baunya menyengat kental menyertai genangan-genangan yang cepat terbentuk di sana-sini. Kecipak air akan segera terbentuk jika aku melangkahkan kaki di sana. Ah, teman, aku sangat menyukai ini. Air yang menciprat dari tumitku sangat indah. Jernih seperti taburan berlian berhamburan dalam setiap gerak. Dan cobalah ikuti tarianku! Air akan memercik dari seluruh sudut benturan air. Mencipta bentuk-bentuk segala warna segala rasa.

Memang aku kadang menjatuhkan diri di salah satu sudut. Tak bisa menahan diri jika pendarahanku tak juga berhenti. Rahim yang telah menebal selalu luruh dalam gumpalan-gumpalan asa. Sakit.

Basah kuyup aku dalam hujan deras yang mengguyur ladangku. Aku menangis dan tersenyum. Aku tersenyum dan menangis. Bagaimana harus kupindai ceceran embun malam? Bagaimana aku dapat merengkuhnya puas dan menyematkannya di dada?

Dalam hujan deras ini, aku rindu embun malamku.

Malaikat tanpa sayap

Ada malaikat-malaikat di sekitarku. Mereka membantuku jika aku memerlukannya. Kapanpun aku mau!

Aku bisa menarik tangan mereka, memintanya duduk di sebelahku dan menemaniku bekerja dengan segala dongeng dari bibir mereka yang terus tersenyum.

Aku bisa mengajak mereka dalam perjalananku ke berbagai tempat, ikut mengangkat beberapa barang yang aku perlukan bahkan menggendongku kalau aku menginginkannya.

Aku bisa melihat mereka menari dan bernyanyi, khusus untukku dengan gerakan tubuh mereka yang indah, yang sesekali menempelkannya hangat pada tubuhku.

Malaikat-malaikat itu membuatku bisa tersenyum apapun yang sedang terjadi padaku. Tangis dan tawa jadi hal yang biasa dalam rangkulan para malaikat itu.

Para malaikatku ini tidak bersayap. Hadir kasat mata lewat dirimu, dirinya dan siapapun, yang aku anggap sahabat atau yang menganggapku sahabat. Mungkin aku juga bisa menjadi malaikat bagimu, baginya dan siapapun.

Wednesday, February 11, 2009

Menanti Purnama

aku sedang merajut cadar
yang akan aku pakai saat purnama nanti
pesta bagi jiwa dan hatiku

yang rahasia biarlah tetap rahasia
tak kan kubiarkan mataku membukanya

aku sedang merajut cadar
untuk menutup mataku
yang pancarannya pun bukan kendaliku

yang rahasia biarlah tetap rahasia
pesta bagi jiwa dan hatiku
saat purnama nanti

Bakpia Pathok dan Segebok Cinta

Apakah ada hubungannya antara bakpia pathok Jogjakarta dan cinta? Tidak ada hubungannya, tapi jika diucapkan bersama-sama jadi lumer di mulut dan enak gurih jadi satu. Jika mau detailnya, tanya saja pada suamiku, Hendro tercinta. Karena dia yang melontarkan ide itu kemarin.

"Terimakasih Den Hendro atas segala pengertiannya. Semoga engkau tidak menyesal mempunyai istri sepertiku. Pasti akan aku bawakan bakpia pathok dan segebok cinta. Jangan kuatir."

Dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku ini istri yang baik. Aku tidak tahu dan tidak yakin akan hal itu. Yang pasti, aku tahu dan yakin bagaimana seorang perempuan harusnya berdiri dan bertindak.

Saturday, February 07, 2009

Duduk

Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja... Untuk menyakinkan bahwa memang ada sesuatu antara aku dan kamu. Bahwa memang aku bisa sejajar setara denganmu. Bahwa memang aku bisa dekat denganmu.

Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...

Tapi setiap kali, aku hanya menelan ludah. Kamu selalu duduk di bagianmu sendiri. Kursi yang tak kan mungkin kusanding. Bahkan aku tidak mungkin duduk sederet denganmu. Deretan tempatku duduk jauh dari tempatmu.

Aku hanya bisa memandang tengkukmu dari belakang. Karena tak mungkin aku duduk di kursi sebelahmu. Deretanku bukan pada deretan kursimu. Aku tak mungkin sejajar setara denganmu karena aku tak mungkin bisa duduk di kursi sebelahmu.

Oh, teman. Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...

Itu hanya mungkin jika kau menggeser tempat dudukmu. Karena aku tidak mungkin duduk di deretan tempat duduk bagianmu. Tak ada bagianku di sana.

Itu hanya mungkin jika kau mau berdiri dan berpindah duduk di sebelahku. Karena deret tempat dudukku bisa untuk siapapun, terlebih dirimu. Ada bagianmu juga di situ.

Atau kau bisa memindahkan kursimu ke deretan kursiku.

Oh, teman. Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...

(Dan aku bisa memandang matamu sejajar dengan mataku. Dan meletakkan bibirku pada bibirmu pada garis lurus. Dan menyatukan kembali otaku dan otakmu yang tercerai berai. Dan kita bisa saling memeluk, walau sebentar saja...)

Friday, February 06, 2009

Topeng

Aku punya sebuah ruang koleksi yang spesial. Sewaktu-waktu aku akan datang kesana, dengan kunci perak yang aku punya. Mau tahu apa yang aku koleksi? TOPENG! Ya, ada banyak tak terhitung topeng yang aku koleksi di ruang itu. Semuanya tersimpan dalam rak-rak yang sangat mudah dijangkau. Aku atur topeng-topeng itu berderet sesuai karakter-karakternya. Misalnya di deret sebelah kiri dekat pintu ini, rak paling atas adalah topeng para putri dari berbagai kerajaan. Beberapa diantaranya terselip juga beberapa topeng raja. Beberapa topeng raja itu pernah aku pakai. Malah beberapa waktu yang lalu sering banget aku pakai. Memang enak menjadi raja. Deretan di bawahnya adalah topeng-topeng dengan wajah melankolis. Nah, sebagian diantaranya bahkan lengkap dengan titik-titik cerlang air mata. Wow, hebat pembuatnya memang. Sangat mirip dengan airmata asli. Bening dan berkilauan. Deret paling bawah adalah topeng-topeng badut. Lucu dengan beraneka bentuk wajah. Rak paling ujung saja juga penuh dengan topeng-topeng.
Ah, okeylah, aku tidak bisa bercerita tentang semua topeng yang beraneka ragam itu. (Ssst, bahkan ada topeng Power Ranger juga yang aku punya, atau yang spesial ada topeng Mdr. Theresa, atau bahkan ada topeng Madonna,...apa saja ada deh.) Aku cuma mau tunjukkan bahwa aku mengoleksi banyak topeng. Beberapa sering aku pakai dan sangat mudah diganti-ganti karena ruang koleksi topengku ini hanya di belakang punggungku. Tinggal berbalik, buka pintunya, raih topengnya, sudah bisa langsung di pasang di wajahku. Nah, silakan saja tebak sekarang topeng apa yang sedang aku pakai. Atau, bisa gak membedakan mana wajah asli dan mana topengku?

Wednesday, February 04, 2009

Meremas Jarak

jarak aku remas dalam genggaman
mengkerut dia di sela-sela jariku
sejauh apa rasa bisa dipisahkan oleh jarak?
tidak sejengkalpun,
karena jarak ada di sela-sela jariku

indera tidak lagi berguna dalam lautan hening ini
dia hanya pantulan wajah rasa, yang mengambang
sedang rasa, adalah kedalaman
sangat dalam di pori-pori hati
menutup lubang-lubang yang perlu diisi
hingga bulat penuh
hanya, rasa

jarak?
biarlah dia takluk dalam remasan jari-jari tanganku

Pijat

Semalam nenek tukang pijat dekat rumah akhirnya datang.
"Maaf. Lha nenek harus kemana-mana dinasnya. Itu pak Nur yang depan rumah saja belum kena tangan nenek juga." Karena ada tanda-tanda bahwa si nenek (sebenere belum terlalu tua, tapi memang sudah punya cucu.) akan pergi lagi, cepat-cepat aku tarik dia ke kamar. Kalau tidak nanti malah ditangkap orang lain.
Selanjutnya, wah nikmat sekali. Bayangin sendiri. Lepas baju semua, (baju dalam juga, hanya tinggal cd doang hehehe...pose pantai), dibaluri minyak sekujur tubuh oleh tangan trampil si nenek yang lembut tapi juga kuat. Mulai dari kaki hingga ke jari-jari, lalu sekujur punggung pundak leher, tangan...pokoke tak terkecuali semua kena sentuh si nenek.
Tahu nggak bonusnya? Si nenek tidak habis-habisnya bercerita tentang orang-orang yang aku kenal dan tidak aku kenal. Dengan cerita yang tidak aneh maupun yang aneh. Ngerumpi habis. Sesekali aku hanya nanggapi,"Masak sih, nek." Atau hanya berdehem dikit. Sesekali berteriak karena ngurutnya kadang terlalu keras. Gak usah mikir apa-apa, oh nikmatnya. 1,5 jam! Hebat si nenek. Hingga titik akhirpun dia masih semangat.
Usai itu badan rasanya sangat enak, lentur, siap tidur. Kapan-kapan mau lagi ya, nenek. Lain kali aku pesan cerita dongeng saja, tentang pangeran, putri, cinta, hidup bahagia selamanya,... atau tentang kancil, harimau, buaya...

Tuesday, February 03, 2009

Soneta Manggar Sutra

Rajutan awan sudah terburai sejak pagi itu
saat kakiku dan kakimu melangkah mengitari api suci
beberapa kali, dengan renteng bunga menyatu
tanpa satu bahasapun berniat mengingkari

Manggar sutra terentang antara mataku dan matamu
mengalungi kelopak-kelopak kita penuh daya
menjadi ikatan menghubungkan hasratku dan hasratmu
tiada samaran tepat untuk mengerudunginya

Melenggang lenggok kita berdansa di atas titian
yang bahkan tidak pada satu aliran sungai sama
memaksa tirai-tirai nyata berpadu dengan impian
seolah kita pemilik sah dari seluruh gerak semesta

Tertinggal di antara kaki kita, ceceran-ceceran tanya
yang semakin melangkah, semakin kehilangan tandanya

Saturday, January 31, 2009

Kesalahan Tanggal

Tolongg!!!
Aku baru sadar ada yang salah pada tanggal di blogku. Waktunya sedikit menyeleweng entah berapa jam sehingga seperti tulisanku terakhir itu bisa terpasang tanggal 30 Januari. Adakah yang bisa membantu? Aku sungguh katrok dalam hal ini. Dimana kesalahan yang sudah aku buat? Sebagai standar saja saat aku kirim postingan ini : Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 13.15.

Janda

tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang
air mata tiada henti menjadi cuci bagi muka berduka
saat kudekap tubuh perempuan janda itu, tiada jiwa dalam raganya
air matanya berpindah ke pipiku
mengalir asin di ujung bibirku,"Aku ikut berduka."
hanya bisik tanpa arti bagi perempuan janda berduka
dia berjalan lengang mengiring jenasah
tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang

(Selamat jalan, Alkad. Aku mengenangmu yang sangat muda bersemangat. Sejak lahir di Bengkulu Selatan 1 September 1976 dulu, hingga mati 31 Januari 2009 pukul 10.00 tadi, jiwamu adalah jiwa tenang pelayanan. Aku ingat betapa sedihmu ketika nasib teman-teman berada di luar kendalimu yang sudah berjuang sekuat asa. Betapa senangmu ketika kesempatan hadir untuk melatih dan mendidikmu. Bagimu itulah ibadahmu. Selamat jalan.)

Thursday, January 29, 2009

El Crimen Del Padre Amaro

"Apa pendapatmu tentang cinta?"
"Cintalah yang menggerakkan dunia."
"Aku tidak tanya tentang itu. Tapi tentang kita."
"Hemh...aku, ehm... bagaimana ..., aku..."
"Tentang kita...?"
"Itu adalah rahmat, bagi kita berdua."
Tersenyum. Maka keduanya mencari tempat tersembunyi di balik kerudung mereka masing-masing. Untuk saling mencinta dan bercinta.

"Aku hamil."
"Tidak mungkin. Aku tidak mungkin... Kita tidak mungkin..."
"Aku hamil!"
"Aku akan mengantarmu ke tempat itu, tunggu hingga lahir dan kemudian ada yang mengadopsinya."
"Kamu menginginkan begitu?"
"Aku tidak yakin."
Menangis. Maka keduanya pergi ke tempat tersembunyi di balik kerudungnya masing-masing. Berdarah-darah...hingga mati dan penuh air mata.

(Ini kisah drama manusia. Mungkin juga ada di hadapanmu atau di sampingmu. Bahkan mungkin di belakangmu. Manusia... )

Tuesday, January 27, 2009

Mengejar Satu Nada

begitu susahnya menangkap satu nada
dengan telinga yang dipenuhi
cemburu

...

(Aku kira inilah untungnya atau ruginya, bahwa aku tidak bisa menuntut apa-apa dan aku juga tidak bisa dituntut apa-apa. Kapan-kapan aku akan mengejarnya lagi, dan aku berjanji akan dapat kutangkap satu nada, untukku pribadi.)

Mendayung Kenangan

(Tangan-tangan angin Bandung mengkristal dalam kenangan)

tidak ada yang penting selain cawan perjumpaan
aku dan kamu, selesai, tanpa menggunakan titik
seperti para pujangga pun koma adalah sebuah nada
yang membuat ragu dan takut hanyalah lubang tertinggal
tidak mengapa!

kini ada dua selendang di bahuku, yang satu pelangi
satunya lagi adalah matahari
keduanya kurenda dengan tangan-tangan angin
mengkristal dalam cangkir-cangkir kopi
mari bersulang!

Wednesday, January 21, 2009

Rindu

Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Saat itu aku datang dengan geliat rasa, meloncat begitu saja masuk dalam ruang itu. Ruang yang memelukku dalam kabut tebal.
Mataku tak melihat apapun kecuali hasrat. Sebuah sentuhan menyuruhku berbaring saja, menikmati ciuman-ciuman halimun yang semakin lama semakin menggugah rasa. Mendorongku untuk menggerakkan jari-jari menelusuri keinginan. Hanya menikmati saja.

Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Aku ingin merasakan lagi, buncahan rasa yang kemudian tertebar dalam seluruh inspirasi, dan meruap dalam seluruh bahasa.
Aku ingin mengulang lagi, cengkerama bersama pagi berkabut di ruang itu. Bersetubuh dengannya hingga bunting dan melahirkan deretan anak-anak kata. Yang bisa aku atur berjajar, bergerombol. Mungkin juga yang tak bisa aku atur, terserah saja.

Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Bolehkah?

Tuesday, January 20, 2009

Tukang Sayur

Semenjak Pasar Pasirgintung direnovasi, aku sangat jarang ke pasar. Kalau tidak perlu sekali atau lagi stress, aku tidak ke pasar. Dalam tahun ini sama sekali tidak pernah. Ah, ya, memang dulu-dulu juga kalau ke pasar tujuan utamaku bukan belanja. Soalnya, aku tidak pintar menawar. Seringkali kalau aku beli sesuatu di pasar harganya jauh lebih mahal daripada orang lain. Aku sering jadi olok-olokan tetangga gara-gara ini.
"Itu harganya cuma 5000, Tante. Kok gak ditawar sih..."
Perasaan sih aku sudah menawar. Nah, kalau harga suatu barang ditawarkan 20.000, lalu aku menawar 15.000 langsung diberikan, bagiku kan sudah sangat murah. Ternyata, trik kalau belanja di pasar sini ini, tawar harga 30 %nya. Waduh, mana tega. Maka, biasanya aku ke pasar jika ingin melihat-lihat, jalan-jalan, atau keperluan lain yang tidak terlalu penting. Untuk belanja harian lebih baik ke tukang sayur.
Terkait tukang sayur langganan, yang tiap jam 7 pagi berhenti di depan rumah, banyak hal yang unik asyik. Jika datang, orang pasti sudah tahu dari bunyi motornya yang berisik dan teriakannya,"Ibu-ibu, sahur-sahur, eh sayur...!!!"
Para ibu pun menggerombol dan dia akan kegeeran karena dikerubuti para ibu muda yang seksi bahenol berdaster, n sebagian pasti belum mandi. Dia dengan santai menyapa para ibu ini dengan panggilan khas,"Tidak boleh, yang. Dari pasar harganya sudah sebelas, lha kalo aku kasih sepuluh nanti yang di rumah makan apa. Ikan itu aja, sayang, lebih murah." Kebiasaannya memanggil para ibu dengan sebutan,"Sayang." , ini diteruskan juga olehnya walau sudah berapa kali kena masalah karenanya. Khususnya orang-orang baru, masalah dengan tukang sayur ini bisa muncul gara-gara panggilan sapaan ini. Pasalnya banyak suami-suami yang cemburu. Lah...gitu.
Enaknya belanja di tukang sayur ini adalah karena dia murah hati. Kalau ada timun tinggal sebiji ya sudah, dengan iklas diberikan. Beli lombok bisa dapat setumpuk dengannya. Bonus-bonus kecil gitu kan disukai para ibu, walaupun kadang dikibuli juga sama dia karena para ibu kuper gak tahu harga pasar. Enaknya lagi, dia bawa HP standby terus. Jadi kita bisa pesan bahan-bahan tertentu jika ragu-ragu saat tiba di depan rumah sudah habis. Jika mau ada resep khusus pun gak perlu repot. Tinggal SMS saja malam harinya. Dia pasti mau membelikan bahan-bahan yang di luar kebiasaan. Bahkan kalau jumlahnya banyak dia akan secara khusus mengantarnya karena gak muat di gerobaknya.
Pokoknya tiada hari ceria tanpa tukang sayur ini. La wong dia mau saja jadi tempat curhat para ibu. Biasa terjadi saat rame orang belanja, tiba-tiba ada panggilan lewat HPnya. Bermenit-menit dia ngobrol dengan seseorang. Dan mamang, eh, abang, eh, om, atau apa saja namanya (aku tidak tahu namanya. ya ampun. besok aku tanya deh siapa dia punya nama.) ini dengan santai akan meneruskan obrolannya padahal diledeki oleh para ibu sekompleks. "Biasa, fans..." Gitu kalau ditanya siapa.
Ah, perhatiannya bukan sebatas itu. Jika ada satu warga yang sakit, meninggal, dsb., dia pasti menyempatkan untuk menengok pada sore harinya, di luar jam kerja dan tentu saja dengan penampilan rapi jali harum wangi. Jika diledek dia pintar menjawab. "Iya, ini mau syuting, mampir dulu. Denger-denger kena demam berdarah, besok nitip jambu biji nggak?"
Nah, begitulah tukang sayur sabahat para ibu Perumahan Polri ini yang selalu dinanti, tiap pagi. Jika mau pesan belanjaan, kirim email saja ke aku, nanti aku SMS dia. Kalau aku pasang no HPnya di sini, bisa besar kepala dia karena mengira fansnya sudah melebar hingga seluruh dunia. Nah, gitu...

Monday, January 19, 2009

Promosi

Salah satu makanan kesukaan anak-anakku adalah sate ayam. Dan tempat favoritnya adalah sate Madura di dekat Bundaran Raden Intan. Sekali waktu, saya mengajak untuk makan di Way Halim, sate Madura juga, tapi mereka berdua tidak mau makan di situ.
"Kenapa sih Bert, Nard. Rasanya enak di sini. Ibu pernah makan di sini. Lebih enak dibanding yang dekat rumah."
"Nggak, aku maunya di sana saja."
"Aku juga." Yang kecil pun ikutan ngambek.
Okey, balik kucing, akhirnya kembali ke Bundaran. Sebenarnya tempatnya memang lebih dekat dengan rumah, ketimbang yang di Way Halim. Mereka berdua senyum-senyum saja setelah tiba di warung sate. Sambil menunggu sate dibakar, penjualnya ngobrol dengan Mas Hendro, pake bahasa Madura. (Gak aku mengerti sama sekali kecuali : "Tojuk dinak." (Duduk di sini.) Hehehe...) Istri penjualnya lalu menghampiri Albert dan Bernard. Mengulurkan dua tusuk sate. "Ini, dimakan, sambil nunggu." Mereka berdua duduk dan mengucapkan terimakasih lirih dengan manis, dan menikmati dua tusuk mereka. Ooo, ini rupanya.
"Jadi kalian suka disini karena dapat bonus ya?"
"Di tempat lain, kalau nunggu ya nunggu aja. Tidak ada yang ngasih sate. Disini selalu dikasih, ibu."
Aha, cara promosi yang tepat.
"Tapi ibu tidak dapat juga. Padahal ibu yang bayar." Aku pura-pura merengut di depan mereka.
"Ibu kan udah gedhe." Kali ini yang kecil yang menjawab sambil menjilat kecap di bibirnya.
"Apa hubungannya, Nard?" Mereka berdua terlalu asyik dengan dua tusuk sate, tidak mau pikir lebih panjang pertanyaanku. Dan dalam hati aku memuji penjual sate ini. Promosi yang bagus dan konkret mengena.

Sunday, January 18, 2009

Sariawan

Bangun pagi (sebetulnya tidak terlalu pagi, sudah jam 7 lewat) karena Bernad menyuruk diantara aku dan bapaknya. Tangannya dingin basah memegang pipi dan tanganku. Pasti dia sudah kena air.
"Dari mana?" Bisikku setengah malas membuka mata.
"Dari pipis. Aku juara satu bangun." Suaranya agak aneh, dengan bibir yang tidak terbuka saat bicara. Albert masih tidur. Hari minggu yang sungguh malas.
"Memang kenapa mulut Enad?" Aku pegang pipinya.
"Nanti belikan obat ya, bu. Sariawan." Oh, pantes. Lalu aku minta dia membuka mulut bau liur belum mandi itu. Ada bintik putih di dekat gusinya. "Sakit."
Aku tidak terlalu kuatir. Obat bagi sariawan adalah 'perut yang enak'. Maka aku meloncat bangun untuk masak nasi, goreng ikan tongkol, bikin sayur asem, sambel terong (ini untuk yang dewasa). Setengah jam kemudian menyuapi Bernard. Nah, dia bisa membuka mulut lebar-lebar. Sepiring penuh habis. Ini beruntungnya punya anak-anak seperti Albert dan Bernard. Walau sakit, selera makan mereka masih ok, sehingga jarang sakit dalam waktu lama. Pokoke masih mau makan, urusan penyakit masih tidak terlalu mengkuatirkan.
Usai minum, mandi, Bernard sudah lari main dengan Roby dan Afif. Dia sudah lupa pada sariawannya... Tapi aku janji abis kerja lembur di hari Minggu ini akan membawakannya 'obat sariawan'. Yang bisa membuat perutnya enak, tentu saja...

Saturday, January 17, 2009

Rayuan

Semalam aku tidak mau menggaruk punggung Albert. (Ini kebiasaan anak-anakku sebelum tidur, yaitu digaruk atau digosok punggungnya sampai mereka terlelap.) Dia protes berat awalnya, tapi aku menjelaskan dengan penekanan soal hak dan kewajiban.
"Kalau Mas Albert tidak mau menjalankan kewajiban, maka tidak akan mendapatkan hak." Matanya melotot padaku tidak terima. Tapi dia menghentikan protesnya karena memang dia tidak mau membereskan mainannya sejam yang lalu, malah berantem dengan adiknya soal siapa yang seharusnya membereskan mainan-mainan itu. Dan dia sudah terlanjur janji dengan pongah tidak akan minta apapun pada aku, ibunya, yang sudah membereskan mainannya (sambil mengoceh).
Beberapa menit kemudian dia merapat padaku yang sedang berbaring, berSMS dengan seorang teman. Tubuhnya dilengketkan padaku.
"Ibu tidak mau dekat-dekat dengan Mas Albert. Sana tidur saja."
Dia pura-pura tidak mendengar, tapi malah melingkarkan tangannya pada pinggangku.
"Kalau ibu bergeser, Albert akan tetep lengket."
Dan itu memang dibuktikannya. Dia ikut kemanapun aku pergi. Memegang bagian manapun dari tubuhku yang bisa dipegangnya. Aku berdiri dia pun berdiri, kalau aku duduk dia duduk. Aku berbaring dia ikut merapat di punggungku.
"Sudahlah, Bert. Tidurlah. Ibu tidak mau menggaruk punggungmu."
"Mas Albert tidak mau tidur kok. Cuma mau dekat-dekat ibu."
Matanya yang memerah tentu lebih jujur. Dan adiknya sudah lelap dari awal ke alam mimpi.
Kemudian dia bercerita tentang mimpinya semalam. Lalu tentang rumah temannya si Yogi. Dia bercerita juga tentang kalender, tentang Uti, tentang surat dari sekolahnya...
"Tahu gak ibu kalau..."
"Kenapa sih bu..."
"Siapa bu..."
Celotehnya tidak berhenti mencoba mengambil hati. Aku pura-pura jual mahal.
"Ibu lagi pengin sendiri, Bert. Jangan ganggu."
Dia pun cerita lebih semangat. Dia bertanya tentang segala macam, bahkan yang aneh-aneh. Mau tidak mau aku melunak. Aku berbaring dekat bantalnya. Dia mengikuti dan kemudian dengan wajah manis tanpa dosa, berdoa, entah apa. (Dulu aku pernah tanya dia berdoa apa kalau malam sebelum tidur. Dia bilang,"Itu rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.")
Begitu dia berbaring, aku menyusupkan jariku ke dalam bajunya, menggerakkan tanganku ke punggungnya, dan tidak sampai pada garukan ke 10, tidak ada lagi suara dari mulutnya. Yang ada adalah desisan pulas, dan puas, karena dia sudah mendapat apa yang dia maui.
Aku mencium pipinya yang bau buah pepaya. (Pasti dia tidak cuci muka tadi setelah makan pepaya hasil kebun.) Menutup pintu kamar pelan, lalu ngelesot depan TV, nonton Godbless di MetroTV.
Ah, selamat malam anak-anakku. Mimpilah kalian dalam lelap. Malam-malam ibu masih panjang.

Friday, January 16, 2009

Apa embun bisa membasahimu?

"Apa embun bisa membasahimu?"

Duduk sebentar, teman. Mari duduklah jika bertanya hal itu padaku. Lihatlah padaku sekarang ini dengan mata dan seluruh pancainderamu. Engkau lihat permukaan tubuhku, yang luas seluas seluas angkasa. Engkau lihat kedalaman tubuhku, yang dalam sedalam cakrawala.

Duduklah dulu, teman. Mari lihatlah pada embun di ujung daun penciumanku. Cair seluruhnya tubuh telanjangnya itu. Cemerlang berkilauan karena pantulan cahaya sekitarnya. Setitik beratnya menggayut kesejukan.

"Apa embun bisa membasahimu?"

Sabarlah, teman. Tetaplah duduk. Lihatlah! Aku dengan seluruh tubuhku punya hujan-hujan beraneka ragam yang membuatku basah hingga kuyup. Bisa setiap saat. Hujan-hujanku punya telinga yang peka pada panggilanku.

Sabar sebentar, teman. Lihatlah! Embun hanya membasahi satu satu titik dalam tubuhku, persis di tubuh rawanku. Dia datang tanpa aku panggil. Dan akan pergi tanpa aku suruh. Aku tak melihat apakah dia punya telinga atau tidak untuk menangkap panggilanku.

"Apa embun bisa membasahimu?"

Baiklah. Aku sudah basah karena hujan-hujanku. Menurutmu, apakah aku bisa lebih basah lagi oleh setetes embun? Bisakah aku membandingkan hujan dan embun? Maukah engkau merasakan apa bedanya hujan dan embun?

Baiklah. Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku menawarkan padamu untuk datang melihat sendiri embun di tamanku, musim apapun. Bahkan bunga belum mekar pun akan lebih indah karena setetes embun. Percayalah!

Thursday, January 15, 2009

Bukan Superwoman

Seorang bapak datang. "Sungguh, ini diperlukan kerja keras. Tidak mungkin saya bisa melakukannya sendirian. Harus banyak orang dan diperlukan perempuan-perempuan yang sangat kuat untuk peran-peran tertentu. Dik Yuli bisa melakukannya."

Seorang ibu datang dengan anak bayinya. Bangga memeluknya. "Aku hampir saja kehilangan dia. Bu Hendro yang mati-matian minta supaya aku pertahankan. Untung aku bisa sadar. Lihat, dia cantik kan?"

Sepasang muda datang. Bergandengan tangan tapi dengan muka yang rusuh pekat. "Kami tidak direstui, Mbak. Bagaimana kami harus menghadapi keluarga kami?"

Albert merajuk. Dia duduk di meja belajarnya tapi tidak mengerjakan apa-apa. "Aku tidak mau belajar jika tidak ditemani ibu!"

Seorang suster mengirim pesan lewat HP. "Datang sebelum jam 12 ya. Ada sesuatu yang mesti kita bicarakan dulu sebelum acara."

Seorang aktifis menuntut. Dengan wajah tidak terima dia berkata dengan keras. "Harusnya Mbak Yuli datang lebih awal. Tidak ada keputusan apa-apa tadi dalam rapat."

Bernard teriak. Seperti pagi-pagi kalau dia bangun tidur. "Aku mau dibikinin nasi goreng. Pokoknya ibu, tidak mau yang dibikinin Wawak!"

Seorang pastor tandas dalam persiapan suatu kegiatan. "Sudah, Yuli saja. Itu sudah cukup."

Seorang remaja menulis dalam kertas. "Komunikator idolaku : Mbak Yuli."

Oohhh, jangan percaya itu semua. Itu bohong.
Aku bukan perempuan kuat seperti yang dibayangkan bisa mengatasi masalah-masalah. Aku tidak punya kekuatan seperti itu. Sama sekali tidak! Lihatlah aku ini jiwa dan raga!
Begitu ringkihnya aku, bahkan sungguh takluk tak berdaya pada setetes embun. Bayangkan! Setetes embun yang cair tak berbentuk pun bisa mengalahkan aku. Bisa membuatku berjam-jam beku dalam keheningannya. Bisa membuatku berteriak lewat segala bahasa dalam ocehan bersamanya. Bisa membuatku hanya mencumbunya, dalam segala-gala waktu segala-gala raga segala-gala rasa.
Jadi, jangan lagi percaya jika ada yang mengatakan aku perempuan kuat hebat. Aku sudah terkalahkan, oleh setetes embun yang cair tak berbentuk.

Wednesday, January 14, 2009

Mencacah Bilangan Ganjil

Aku dan embunku, duduk berdua di meja yang sama. Kami berdua mencoba mencacah bilangan-bilangan ganjil yang ada di hadapan kami. Menariknya dengan jari jemari kami yang terkait dan memaksanya dalam susunan-susunan bilangan genap. Teori-teori logaritma, aljabar, geometri ...berkeringat. Hasilnya adalah acakan bilangan-bilangan, bahkan kemudian terpecah dalam desimal-desimal tak beraturan. Tak pernah menjadi genap.

Tuesday, January 13, 2009

Membatu

"Biar untuk orang lain saja senyummu itu."

Aku pura-pura tidak mendengar dan memintanya untuk mengulang. "Iya???"

Namun tidak ada suara apapun. Sedang aku terperangkap pada senyumku sendiri yang sudah mengembang lebar untuknya. Terlalu lebar untuk kutelan kembali, sehingga senyum itu mengambang di udara dengan sayap-sayapnya yang bertahan, mengitari tubuhku yang membatu.
"Benarkah kau tidak akan menerima senyumku?" Aku mempertanyakan ini dan menjadi jengkel sendiri karena biasanya aku tidak pernah perduli akan pergi kemana senyumku dengan kaki-kaki belalangnya. Mau meloncat kemana saja, terbang ke segala arah, ... aku tak pernah tentukan.
Aku berharap dia tidak serius dengan perkataan itu. Lebih lagi aku berharap dia mau bergerak dan mulai mengambil kembali kantongnya. Memunguti senyumku bahkan yang perca, menyimpannya, dan memeliharanya dalam pelukan mimpi-igauan. Minimal untuk sekarang ini, saat musim dan angin masih menjadi sahabat lamunan.

(Tubuhku membatu, menunggu gerak bibir atau tubuhnya. Sebagai isyarat bagiku.)

Memasak VS Makan

Orang yang tidak mengenalku dalam rumah, biasanya akan memvonis aku sebagai orang yang tidak bisa masak. Tapi aku sudah biasa memasak dari kelas III SD, dan hingga kini walau aku tidak wajib memasak, aku suka memasak dan memang akan memasak tiap hari. Mungkin ini karena sebenarnya aku suka makan.
Aku suka bereksperimen pada makanan. Perpaduan rasa dan warna pada makanan membuatku bersemangat. Tapi memang aku tidak terlalu suka memasak terlalu lama. Jadi jadwal memasakku, setiap pagi paling lama hanya 1 jam. Ini waktu yang sangat pas untuk berbagai masakan. Kemarin aku cuma setengah jam di dapur, dan makanan yang dibutuhkan oleh sekeluarga kecilku terpenuhi. Tumis tahu buncis, dengan cabe rawit utuh. Ayam goreng. Tempe goreng. Sambel kecap dan tidak boleh lupa, kerupuk. Malam, ketika ayam dan tempe sudah habis, tinggal ceplok telur. Itu hanya butuh waktu setengah jam. Jam 6 hingga setengah 7.
Hari ini aku masak rawon. Nah, daging sedang mahal, jadi beli seperempat daging tetelan seharga 10 ribu, campur dengan tahu yang diiris kecil dan digoreng kering. Jadilah 'daging' juga, gurih sedikit alot. Hehehe...
Nah biasanya jika sedang iseng aku akan memasak lauk tambahan pada sore hari. Aku suka peyek, maka aku bisa membuatnya pada sore hari. Kalau yang ini memang perlu waktu berjam-jam. Setengah kilo tepung akan membutuhkan satu jam lebih saat penggorengan peyek, dan hasilnya...ah beberapa menit juga ludes oleh empat mulut yang ada di rumah. Semua suka. Atau jika mau membuat kue-kue, aku punya resep asal yang pasti jadi. Biasanya aku bisa melibatkan anak-anak untuk ikut membantu. Dan mereka pasti akan menghabiskan. Ludes.

Hujan dan Banjir

Hujan sedikit saja, sebentar saja, genangan air ada di mana-mana. Pulang kantor aku pasti melewati beberapa titik genangan itu. Pertama di Jalan Kartini. Ini jalan utama di Tanjungkarang, pusat pertokoan. Beberapa kali ada perbaikan jalan dan gorong-gorong, tapi tetap banjir. Lalu di daerah Pasirgintung. Depan pasar pas perempatan, biasanya memang ada sedikit air entah hujan atau tidak, rembesan dari pasar dan PAM bocor aku kira. Tapi sekarang, baru sedikit gerimis, air meluap memenuhi seluruh badan jalan. Depan RSU Abdul Muluk, memang ada sungai di situ. Sangat dalam, tapi air tidak semua bisa masuk ke situ. Tidak ada aliran sehingga jalan jadi sungai yang baru. Lalu dekat simpang Way Halim, ini sangat parah. Jalan turun. Gedungmeneng ada beberapa titik genangan yang segera meninggi begitu hujan deras. Dan yang sepanjang masa selalu menggenang ada di depan kantor kehutanan, dekat bunderan Raden Intan. Jika naik Mio aku akan mengangkat kakiku tinggi-tinggi, tapi akan selalu basah. Aku tidak heran ketika Desember lalu banjir sangat hebat terjadi, dan pasti akan terjadi lagi nanti, tepat di pusat kota Bandarlampung. Kalau pemerintah dan masyarakat tidak segera ambil tindakan, peduli pada kota ini.

Monday, January 12, 2009

Anggur dan Anggrek

Sepulang dari mudik, tanggal 2 Januari pagi. Aku bangun pertama dan membuka pintu belakang rumah langsung diloncati kekagetan kekaguman. Lihat, dua tanaman yang persis lurus pintu dapur, anggur dan anggrek dipenuhi puluhan bunga.
Anggur kuning (atau anggur hijau?) itu didapat dua tahun yang lalu dari Dinas Pertanian Kediri. Beberapa bulan yang lalu sudah berbuah untuk yang pertama kalinya, hanya ada dua dompol. Dan sekarang, ada puluhan. Ada gelembung-gelembung hijau kecil yang setiap hari semakin membesar, bening, segar. Puluhan dompol, luar biasa. Beberapa bulan lagi pasti panen hebat. Aku ingat ketika anggur yang di depan rumah berbuah tahun lalu, serupa dengan ini. Tapi sepertinya pohon yang ini lebih banyak lagi buahnya.
Anggrek didapat Juli tiga tahun lalu saat aku ultah dan ngeluyur di rumah Urip, nongkrong n makan siang di tempatnya. (Dia tidak tahu kalau aku lagi ultah, tapi simboknya menjamuku makan yang sangat lezat.) Seharian, dan pulangnya aku bawa potongan-potongan batang anggrek kuning belang-belang, seperti kalajengking itu. Biasa bunganya memang selalu ada sejak setahun yang lalu. Tapi tidak pernah lebih dari 10 tangkai. Dan sekarang aku hitung ada 42 batang, belum termasuk yang masih kuncup kecil, dan yang tak terlihat. Mekar puluhan anggrek. Astaga indahnya.

(Terimakasih Sang Pencipta! Ingatlah! Ini berkat kerja keras Hendroku yang rajin merawat tanaman-tanaman dan juga Abah Supardi yang rajin merapikan dan membersihkan halaman. Aku hanya penikmat saja dari dulu dan nanti. Sesekali 'icak-icak' mencabut satu dua batang rumput tapi tak pernah lebih dari itu. Kecuali duduk di bangku, memandang melamun di antara tanaman berbunga di halaman belakang 'gubuk' kami. Juga memetik pepaya tak kenal musim, mangga, buah nona atau jambu biji sekitar rumah. Ssst...jangan bayangkan kami punya halaman luas sehingga banyak pohon buah dan bunga. Hanya sekapling tanah, 175 m2 tapi sungguh bisa bermanfaat kalau dimanfaatkan. Bahkan aku tidak perlu beli jika hanya perlu daun kangkung atau daun singkong atau daun pepaya untuk sayur. Juga beberapa bumbu dapur, silahkan ambil dari kebun kami jika perlu. Sereh, laos, jahe, daun jeruk purut, daun salam, binahong, kunyit, dll. Mari, ambillah...)

Diam, Menikmati Canda Tuhan

Lama aku tidak lagi diam
terlalu banyak bahasa keluar dari kerongkongan
walau ternyata hanya lengkingan tak makna
bahkan tak bisa kumaknai

pagi ini aku bersama candaMu
yang luar biasa bagi udara hambar
aku merengut awalnya
"Kemarin Kau sodorkan awan-awan mendung
sampai habis udara aku meniupnya!"
aku merajuk.

dan Kau tersenyum di ujung pelangiMu
mengangkat kaki dengan gaya kuasa
menggelitik pipiku
"Dan sekarang Kau tantang aku
untuk membawa awan-awan hitam selaksa, sejuta, terserah
dalam sekejab akan Kau tiup?"
aku terpana.

tertawaMu ngakak hingga aku melemparkan bantal
mengenai perutMu yang semakin meruapkan tawa
membahana di seputar pagi
"Ya, ya, aku akan diam
kini bersuaralah. Dan tiuplah awan-awanku."
aku terpeluk.

Berkeputusan

Seseorang memvonisku : "Kamu tidak berkeputusan!"
Ya, memang benar. Apa yang bisa aku putuskan saat ini? Mungkin aku akan ambil keputusan suatu saat nanti, setelah sepuluh perputaran jumpa dengan purnama. Atau nanti setelah sepuluh pergantian musim. Atau nanti setelah...setelah aku merasa mampu melecutkan sendiri cambuk pada punggungku yang bongkok.

(Aku yang sedang terlalu kompromis.)

Saturday, January 10, 2009

Tubuh

keindahan ciptaan muncul dari tubuh-tubuh manusia
sempurna!

mata berlentik jadi jarum ragawi pengintai segala fisik
tangan berjari-jari tiada tandingan menggeluti seluruh gerak
bibir dengan dimensi suara dari seluruh kelengkapan rongganya
telinga dengan relung-relung penimba seluruh nada
kulit berbulu rasa menyelimuti seluruh daging dan kefanaan

malam penuh gelombang, suatu masa
aku manfaatkan waktu untuk menyusuri tubuhku
salah satu ciptaan puluhan tahun melingkupi genap jiwaku
hidup, hingga ke bagian paling tak tersentuh cahaya

dalam keramaian rasa, sebuah bayangan datang
menawarkan diri untuk menyusup di antara tubuhku
ingin berbagi kehangatan dari denyut-denyut darah
antara gelembung-gelembung hasrat yang rajin berkata
tangan berjariku merangkulnya, lebih tepat ingin merangkulnya
ejekannya pedas "Kamu tak sepenuhnya menghendaki itu!"

aku mengabaikan suaranya, melepaskan jubah malamnya yang gelap
lalu meraupkan raga cairnya ke seluruh tubuhku
tanpa bentuk dia membasuhku dari jari-jari hingga ke jantungku
bibirku berteriak dalam ekstasi penuh puji
dalam hatiku bisikan lirih
"Adakah ini saatku memanggul salib ke Kalvari?"

(manusiaku menolak perjalanan ilahi
masih ingin mereguk cawan duniawi)

Thursday, January 08, 2009

Rahasia Embun Malam


Aku tahu rahasia embun malam
ternyata dia hanya main-main
ketika mengerling seolah mencinta
ternyata dia hanya bercanda
ketika menyapa seolah mendamba

Karena dia punya musim dan anginnya sendiri
suatu saat dia pasti akan pergi
ketika musim menghapusnya
dan angin membawanya

Segala mudah bagi embun malam
dengan musim dan anginnya
dan permainannya

Aku pun ingin jadi embun malam
dengan musim dan anginku sendiri
menikmati perjumpaan sebagai saat manis
mensyukuri jarak sebagai pagar memurnikan

Saat musim dan angin membawa kami nanti
ke arah yang berbeda,
aku ingin tetap bisa mengenangnya
sebagai rahmat.

(Kesimpulan ini membantuku mencicip rasa sakit yang hanya ada dalam patah hati. Mungkin suatu saat nanti akan membantuku menikmati jika memang yang ada hanyalah sakit.)

Wisata Alam

Ni di kebunnya Bapak Suliham. Bergaya jadi bocah petualang.





Di puncak Gunung Gajah Mungkur, persis di antara kabut. Berdua saja.




Ini pemandangan perjalanan
dari Lumajang ke Malang lewat Ranu Pane. Ngiler kan?






Dengan latar belakang Anak Gunung Kelud yang sedang bertumbuh.


Piket Nol. Antara Lumajang dan Malang lewat Pronojiwo.

Wisata Kuliner Jawa Timur

Nasi Sambel Tumpang
Bagi orang yang lahir di Sembak, Grogol, Kediri, Jatim, nasi sambel tumpang wajib dimakan saat pulang kampung. Nasi ini dulu jaman aku masih kecil menjadi sarapan pagi setiap hari. Sederhana dan murah. Saat mudik kemarin harganya hanya 2000 rupiah perporsi. Yaitu nasi putih, sayuran hijau dan di atasnya disiram sambel dari tempe bosok bumbu santan. Biasanya dengan pelengkap peyek, kerupuk, tempe atau tahu goreng.

Nasi Pecel
Nasi pecel seperti nasi sambel tumpang, tapi siramannya memakai sambel pecel yaitu kacang tanah yang ditumbuk dengan segala bumbu, lalu diencerkan dengan air asem. Di Jawa Timur ada dua tempat yang terkenal pecelnya yaitu Madiun dan Blitar. Tapi untuk lidahku, pecel Kediri sangat top. Ada satu warung yang menyediakan pecel tanpa nasi, yaitu pecel Yu Mah. Wah, ini special banget. Sayuran diguyur bumbu pecel, pakai krupuk kali (krupuk yang digoreng pasir) dan krupuk kriyak (krupuk dari singkong). Minumnya dawet. Wahh...

Rawon
Ke Jatim tanpa makan rawon sama juga bohong. Bumbu berkuah hitam dengan rasa kluwak yang legit dengan potongan-potongan daging sapi, aduh...nikmat sekali. Apalagi ditambah kecambah, sambel trasi dan kerupuk udang. Minumnya teh anget aja, biar lemak-lemaknya luntur. Yang enak di Warung Bromo, simpang Klojen, Lumajang.

Rujak Cingur
Ini khas banget. Potongan sayur, buah, plus tahu tempe goreng dan tidak lupa cingur (ini bagian dari rongga mulut sapi, kenyal, gurih). Bumbunya kacang plus petis udang yang amis tapi lezat. Ditambah remukan kerupuk. Aku selalu kangen rasanya, walau orang dari luar jatim tentu akan bergidik melihatnya. Warnanya hitam, seperti...hehehe... Saat aku hamil selalu makanan ini yang kebayang paling nikmat segar.

Soto ayam
Satu tempat, di terminal Kediri. Ini tempat nongkrong asyik murah meriah. Dulu tahun 89-an waktu aku SMA harganya cuma 350 perak semangkuk. Kemarin sudah 3500 rupiah. Tapi rasanya masih enak. Kental dengan rasa manis setiap kunyahannya. Minumnya dari dulu teh botol deh...

Nasi Campur Mbok Haji
Nasi dengan lauk campur-campur. Ada separo telur rebus dengan sambel di atasnya, potongan ayam dibumbu kare, irisan daging sapi dibumbu merah, ringan. Juga ada sambel goreng kentang, sayur krecek, mi goreng dan kerupuk tak ketinggalan. Nasi campur yang lengkap ini hanya 7000 rupiah. Di warung Mbok Haji, dalam kota Lumajang.

Tuesday, January 06, 2009

Raport

Kemarin aku mengambil raport anak-anak. Mestinya diambil tanggal 19 Desember lalu, tapi karena dalam perjalanan ya, gak masalah telat. Malah bisa salaman selamat tahun baru sama suster dan guru-guru.

Bernard
Raportnya bagus. Eh, ini secara harafiah memang bagus. Berupa lembaran-lembaran penilaian dengan simbol-simbol dan warna-warni. Di belakangnya diberikan uraian tentang suatu point yang dinilai oleh gurunya. Dua simbol yang muncul di raport Bernard, yaitu gambar muka tersenyum warna biru muda dan gambar hati warna merah. Lembaran kertas-kertas itu dimasukkan dalam map album yang bagus, dilampiri dua bendel karya Bernard selama satu semester ini. Wah, melihat gambar dan karya Bernard aku terharu berat. Gak nyangka dia bisa buat seperti itu, tanpa aku ajari (iya, toh. wong diajari sama gurunya, Bu Dewi tercinta terbaik dimata Bernard. tiada tandingnya wis.) Gambarnya rapi, bersih, dan kreatif. Tulisannya juga bagus. Tentu untuk ukuran kelas TK kecil.

Albert
Raportnya bagus. Eh, ini juga secara harafiah. Dibanding dua semesternya waktu kelas 1, ada kemajuan. Pertama, jumlah seluruh angka dengan bidang pelajaran yang sama jelas meningkat. Kelas 1 semester 1 jumlah 821, semester 2 jumlah 829. Sedang kelas 2 ini dia dapat 856. Lalu tidak ada satupun nilai yang dibawah nilai KKM. (Apa ya singkatannya? Kok malah lupa aku.) Yang paling menarik nilai agama. Kelas 1 nilai agamanya tidak pernah lebih dari 60. Malah pernah dapat 30. Gawat kan? Nah sekarang dia dapat 74. Sangat bagus menurutku. (Teman-temannya sih ada yang 80 atau 90 terserah.) Nilai pelajaran lain berkisar di angka 80an. Bu Eti, guru kelasnya tentu sudah bekerja sangat keras untuknya. Apalagi jika melihat tulisan tegak bersambungnya, pasti itu berkat Bu Eti, bukan karena aku.

Yin Ling dan Ben

Sebuah buku "Following the wrong God Home", ditulis oleh Khaterine Lim. Berkisah tentang kedatangan Ben, seorang asing dari Barat dalam kehidupan Yin Ling, seseorang yang sudah terikat pertunangan dan keputusan pernikahan. Pertemuan yang tiba-tiba dalam ketertarikan satu sama lain yang tak berjarak. Barat dan Timur. Hati dan pikiran. Mimpi dan nyata. Dua hal yang berjauhan namun bergulat dalam keeratan. Tidak pernah berhenti walau kemudian Yin Ling sudah menikah dan punya anak. Perjalanan membawa mereka berdua akhirnya bisa mengambil keputusan berani yang melawan tradisi dan logika. Berdua. Menikmati cinta yang membara. Happy ending? Tunggu dulu. Yin Ling mati dalam sebuah kecelakaan pesawat. Derita yang luar biasa. Tamat? Tunggu dulu. Perjalanan cinta tidak akan mati, bahkan oleh kematian badani. Kematian justru memberikan banyak kemungkinan-kemungkinan.

(Aku kira sebuah pertobatan akan lebih mudah jika dekat pada kematian. Tapi bertobat atas apa? Apakah Yin Ling berdosa karena mencintai Ben? Apakah Yin Ling tetap dalam dosa jika tidak menyesali cintanya yang salah tempat itu? Secara pribadi aku mendukung Yin Ling. Tapi jangan mengikuti aku. Jangan tanya padaku. Tanyakanlah pada pastur, kyai, pendeta, dll...jika mau menjadi Yin Ling. Dan siaplah untuk mati sewaktu-waktu, mungkin tanpa pertobatan. )

Monday, January 05, 2009

Proses Keselarasan

Teman tanpa apa tanpa dimana tanpa kapan tanpa siapa tanpa mengapa tanpa bagaimana, aku berterus terang padamu.

Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak mau kesakitan karena mesti tergantung sangat lekat padamu. Aku sangat menikmati segala rasa karena inspirasi yang kau kobarkan dari sosokmu sangat kuat. Bahkan dengan sengaja aku memeliharanya dalam rangkulan tubuhku yang terbatas ini. Dalam pelukan seperti ini aku merasa sangat kuat sekaligus indah. Tiada yang dapat menandingi rasa yang seperti ini dalam perjalanan hidupku yang sepertiga abad lebih ini.

Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku ingin menghentikan derita karena kecanduan padamu. Tidak, aku tidak akan menghentikan rasaku padamu tapi aku tidak ingin kecanduan padamu. Itu membuatku ketagihan dan kemudian merana karena memang aku tidak akan mungkin mendapatkanmu sesuai dengan yang kuinginkan. Tubuhku sudah mulai menuntut hingga aku seperti kanak-kanak yang merajuk gara-gara tidak mendapatkan permen kesukaannya. Atau aku sudah mulai seperti remaja baru puber yang patah hati karena tidak dapat mencubit idolanya. Bagaimana engkau bisa membantuku?

Teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan pada awalnya. Aku kira aku tidak akan terpengaruh pada rasa apa pun yang keluar dari hatiku atau tubuhku. Aku merasa aku akan rela hati tidak menuntut apapun darimu. Awalnya aku kira bisa tidak peduli akan kau beri atau tidak sebagai ganti rasaku. Tapi rupanya aku salah. Aku mulai ingin menuntut darimu. Aku berusaha menahan sekuat tenagaku. Tapi ini akan sangat terbatas. Gejalanya sudah mulai tampak. Sakit kepalaku tidak henti, aku harus memicingkan mata untuk fokus pada sesuatu, aku mulai lagi menyukai kesendirian, aku mulai membenci suka hingar bingar dan kebersamaan, ...dan ah, banyak tanda yang lain.

Iya, teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku mulai ingin menuntut darimu. Ingin kau sapa setiap kali, ingin kau sentuh setiap saat,... Dan aku cemburu membayangkan aku bukan apa-apa bagimu dibanding segala yang lain. Aku merajuk ketika sapaanku tidak mendapatkan balasan seperti yang aku bayangkan. Aku marah ketika engkau memalingkan wajahmu dari padaku. Aku menangis ketika tidak ada tanganmu di atasku.

Iya, teman, aku berterus terang padamu, bahwa aku tidak ingin menyiksa diriku atau dirimu lebih lama lagi. Aku ingin menghentikan yang tidak nyaman ini. Aku hanya mau indah. Aku hanya ingin tersenyum. Adakah bantuan yang bisa kuharapkan darimu?

Iya, teman, aku berterus terang padamu...temanku tersayang tanpa apa tanpa dimana tanpa kapan tanpa siapa tanpa mengapa tanpa bagaimana.

Komunikasi dan Pelayanan

Bangun sangat telat, pas 06.30 pada Minggu 4 Januari 2009, membuatku bertubrukan kesana kemari. Aku janjian dengan Indri pada jam yang sama untuk berangkat ke Pringsewu tempat acara anak-anak muda SSV, di La Verna, sekitar 1 jam perjalanan dengan Mio. Pasti dia sudah menunggu. Anak-anak belum bangun hanya aku cium dengan jari-jariku, dan langsung ngampiri Indri . Ternyata setali tiga uang, dia juga kesiangan. Jadinya pukul 07.00 kami baru berangkat, boncengan.
Perjalanan cukup asyik ke arah Pringsewu membuatku sangat segar, meruntuhkan sedikit demi sedikit sisa sengsara semalaman akibat kecanduan (something someone somewhere tidak jelas). Berbagai ilham muncul berhamburan dalam pacuan Mio yang hanya 50 - 60 km/jam. Ngebut sedikit lagi pasti aku tiba duluan di surga atau neraka. Lha gak konsen. Tepat pukul 08.00 tiba di lokasi, sarapan nasi bungkus bersama anak-anak SSV. Untun dapat sarapan, karena perutku sudah menuntut kebutuhannya. Dan pukul 09.00 aku berdiri tegak di hadapan mereka.
Dari obrolan ketahuan mereka hanya tidur beberapa jam karena semalam acara berakhir sekitar pukul 03.00 dan 07.00 mereka sudah mulai kegiatan pagi. Maka 80-an anak muda itu aku ajak untuk tidur bersama. Hehehe...aku juga ikut. Berbaring 5 menit, badan relaks, mata tertutup, tanpa suara...istirahat. Hah, jangan ketiduran. Maka aku minta mereka bangkit setelah sebelumnya molet dulu sepuasnya.
Aku awali sesi dengan membagi dalam kelompok-kelompok. Jumlah yang sangat besar seperti ini dan usia yang beragam mulai dari SMP, SMA hingga pekerja, sangat menyulitkan. Sepuluh kelompok, masing-masing harus mendiskusikan : mencari satu bunyi yang disebabkan oleh sesuatu benda yang bergerak. Misalnya bunyi motor ngebut nabrak seng yang menjadi rumah kucing. Bunyinya kira-kira : brruuuummmm....brummmm....krosak prang...ngeongg..
Nah, macam-macam suara terbentuk. Setelah itu aku jadi mayoretnya yang menabuh mereka satu persatu sehingga ada paduan suara.
Okey, usai itu, duduklah mereka semua. Aku lontarkan pertanyaan :
- Apa yang mereka rasa n dapatkan? Jawaban segala macem...
- Apakah ada komunikasi tadi dalam kelompok?
- Apa kendala dalam penentuan kesepakatan?
- Faktor apa yang membantu?
Nah, dari jawaban-jawaban mereka, aku rangkai dalam teori komunikasi. Ada dua pihak, ada pesan, ada penyampaian pesan, ada tanggapan,...bla-bla-bla. Syaratnya mendengarkan, terbuka, kompromi,... bla-bla-bla.
Lalu karena mereka kelompok yang semua beragama Katolik aku ambil contoh komunikator ulung, Yesus. (Jika kelompok Islam aku pasti ambil Muhammad, jika Budha bisa ambil Sidharta Gautama, jika Hindu ada Krishna, dll). Yesus melakukan komunikasi dengan banyak gaya. Berbicara langsung dengan banyak pihak dengan banyak cara, dan sangat tepat pada situasi masing-masing. Tidak hanya menghimbau, kadang bercerita, kadang memakai perumpamaan, kadang memberikan kritikan pedas, memberikan perintah, nasehat dan sebagainya. Selain itu juga dengan bahasa tubuh, tindakan-tindakan, ekpresi emosi, dan sebagainya. Yang pasti komunikasi dilakukan Yesus ke segala arah, penuh belas kasih.
Begitulah, hingga pukul 11.00 'kotbah' aku sudahi.
Mereka memberiku sebuah tanda mata yang menarik, sebuah buku berjudul Left to Tell. Kisah nyata dari Immaculee Ilibagiza, seseorang yang tertinggal dari suku Tutsi dalam pembasmian suku di Rwanda. Aku sedang mulai membacanya. Thanks, teman-teman SSV. Aku yang dapat banyak dari kalian. Maaf jika hanya memberi sangat sedikit.

Setengah Malam Kehilangan Otak

Hari Sabtu, 3 Januari, sudah aku bayangkan sebagai hari yang lelah. Karena ada beberapa kegiatan di beberapa tempat. Dan aku masih punya PR, menggarap materi untuk anak-anak muda SSV pada tanggal 4 Januari. Belum ada ide.
Saat malam, sepi. Suami ke Kalianda, anak-anak tidur kecapekan, aku bawa beberapa buku di depan tv, alat tulis, HP. Siap membuat konsep tentang Komunikasi dan Pelayanan.

Sedetik, semenit, sejam... Otakku hilang! Astaga! Aku panik kelimpungan menggapai-gapai candu yang bisa membantuku. Semakin tak kutemukan, semakin sakauw, semakin sengsara. Bukan hanya gemetar tapi bergetar seluruh tubuhku menahannya. Rasa ketagihan yang tidak bisa diceritakan bagaimana rasanya. Aku nyalakan dupa dekat kakiku, tapi bau asap malah membuatku tercabik-cabik. Aku matikan lampu tapi kegelapan menyergapku dalam kegetiran.
Aku menderita dalam sakauw jika candu itu tidak kutemukan. Menangis melolong mencoba menyegarkan mataku dari air mata. Aku berlari kesana kemari sekedar untuk menghentakkan kaki dan merontokkan kepedihan. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan, tanpa candu.

Hingga menjelang subuh, hanya beberapa coretan kata di kertas konsepku. Setelahnya aku tertidur dalam mimpi buruk.
(Bagaimana sesuatu bisa sangat mempengaruhiku sebesar candu bagiku seperti itu? Bahkan tamparan tak membuatku sadar juga.)

Friday, January 02, 2009

Tentu Saja Aku Selingkuh

Seseorang bertanya dengan matanya yang lugu : "Kamu selingkuh? Yang benar saja."
Aku menjawabnya dengan senyuman. Tentu saja. Kenapa tidak. Aku punya seorang suami yang secara rutin dan aktif mengajakku dalam hidup yang mapan dalam rumah tangga yang nyaman dan menyenangkan.
Tapi aku juga seorang perempuan dengan pikiran dan hati yang berkaki seribu, menjelajahi dunia privatnya yang berbunga selaksa mawar. Aku bercumbu setiap saat dengan inspirasi. Dalam perselingkuhan yang dalam, sesekali sesat. Aku bercinta senantiasa dengan kata-kata. Dalam keliaran yang indah. Aku menerimanya sebagai bagian dari hidupku yang penuh warna. Kenapa tidak?

Hari Kedua : Penentuan Misi


Hari kedua dalam tahun 2009 aku kembali di depan komputer, kerja! Otak dan tubuh lamban aku maklumi sepenuhnya.

Okey, dari semua masukan, usulan, dari dalam dan luar diriku, aku memutuskan untuk membuat misi dalam kalimat yang sederhana pada tahun ini.

Aku akan menjadi orang bebas.


Beberapa indikator :
1. Bebas tidak sama dengan liar. Ini harus diperhatikan. Bagaimana membedakannya aku kira aku akan tahu saat perjalanan nanti.
2. Bebas berarti saat aku berbuat sesuatu, yang muncul adalah kerelaan dan sukacita, juga pada saat menanggung resikonya.
3. Bebas berarti lepas dari segala candu, yang membuatku tergantung pada sesuatu atau seseorang.
4. Sopir utama dalam praktik hidup adalah diriku sendiri. Bukan orang lain, situasi atau barang dll.

Indikator lain aku akan cari kemudian.

(Keterangan foto : Aku di tangga naik Gunung Gajah Mungkur. Latar adalah Gunung Sumbing. Di belakang badanku adalah Gunung Kelud yang sedang bertumbuh dengan belerang dan materialnya yang kaya. Di sekitar tangga itu tumbuh ribuan Edelweis. Aku bisa dan boleh mengagumi menyentuh dan menciumnya, tanpa memilikinya.)

Perjalanan Akhir Tahun

Aku akan cerita sekilas dulu kemana saja aku selama dua minggu terakhir ini. Detail plus foto-foto menyusul.

17 Desember 2008 Aku bekerja seperti kesetanan. Hingga pukul 21.00 tet, beres! SMS boss begini begitu, langsung keluar kantor. Hujan deras. Aku pakai mantel mampir di Kemuning untuk pamit dan minta sangu (maksudnya!), tapi satu jam yang capek dan bau asem belum mandi dan basah kuyup. Pukul 22.00 menerabas hujan, pulang. (Rupanya kamera n jaket malah ketinggalan di Kemuning. Payah.)

18 Desember 2008 Mencari tiket pulang mudik hari itu juga, dapat bis ekonomi Puspa Jaya. Beli 4 kursi. Aku membayangkan capek tapi rupanya perjalanan cukup ternikmati. Panjang, 30 jam kemudian baru tiba di Kediri. Hanya 150.000 rp per orang.

19 Desember 2008 Pukul 23.oo tiba di Pasar Gringging dijemput Pak Sam, bapakku. Ah...rumah...mencairkan segala kangen dengan peluk bapak ibu, mbak Lis dan ...rumah...

20 Desember 2008 Di rumah saja. Ngobrol, masak (ya tetap kebagian ini. Ibu mengantar para cucu, dan seluruh anggota keluarga lain tetap pada aktifitas masing-masing.)

21 Desember 2008 Ke Gereja bersama-sama. Anak-anak dan bapaknya plus keluarga mbak Lis ke bendungan Mbadug. Pulang mereka bawa belut matang dan hidup.Ibu sama bulik2 belanja Natal ke Kediri. Bapak plus orang-orang kring mbuat gua di gereja.
Aku membongkar 'harta'ku di kamar depan. Puisi, buku harian, foto, cerpen, surat dll. Aku hanyut dalam kenangan. Tertawa, nangis, sepi, jadi satu. (Aku ditemani oleh romantisme. Berdua bersamanya aku menggelinjang dalam rindu yang dalam. Lalu minum kopi panas dari gelas yang sama, dalam pelukan mesra. Menguapkan rasa.)

22 Desember 2008 Hari ibu. Aku menemani anak-anak ke pameran di Simpang Lima (Paris van Kediri) naik kereta wisata (kereta-keretaann) lewat sawah, sungai, Gudang Garam, dll. Satu jam kena panas dan angin. Pulangnya makan di alun-alun Kediri. (Ni tempat nongkrongku malam-malam belasan tahun lalu kalau pulang dari Malang larut malam, nunggu jemputan Bapak atau Mas Yok)

23 Desember 2008 Ke Gunung Kelud berdua dengan Mas Hen. Wah, tempat yang indah. Dan sepanjang 600 anak tangga aku menemui ribuan Edelweis kuncup. Tak puas-puasnya. Turun gunung nongkrong di warung menyeruput kopi susu dan semangkok mi rebus sambil melihat hijau. Luar biasa. Pulangnya ngantar seluruh anak yang ada di rumah (Albert, Bernard, Yos dan Joan) ke salon, pangkas rambut. Aku sendiri krembat deh. Enak dipijit begitu.

24 Desember 2008 Hanya untuk mempersiapkan Natal. Tidur. Tidak kemana-mana. Bulik Sri dan keluarganya datang. Jadi lebih rame lagi. Misa pukul 18.00 berombongan.
Puluhan pesan datang. Sebuah pesan tak bisa kubalas :
Natal datang setiap tanggal 25 Desember, tapi esensi Natal adalah Tuhan hadir. Bukan hanya setiap tanggal 25 Desember dapi setiap hari. Semoga kamu sekeluarga selalu diberkati dan mengalami kegembiraan Natal.
(Aku membaca pesan ini dalam bayang-bayang cemara. Aih...)

25 Desember 2008 Adalah hari yang sibuk dengan ratusan tamu besar kecil. Makanan, minuman. Juga bingkisan-bingkisan untuk tamu-tamu kecil.

26 Desember 2008 Pernikahan Sulis di gereja. Usai itu jalan ke Gua Maria Pohsarang berempat (bapak ibu n keluarga Mbak Lis ikut ke resepsi pernikahan). Lalu berputar-putar kesasar mencari Gua Selomangleng tidak ketemu. Tapi dapat pemandangan super asyik dan cantik.
Pukul 22.30, serombongan besar berangkat ke Lumajang, disopiri Mas Yud. Penuh sesak di dalam Kijang buyut Inova. Tua namun masih tangkas, kebanggaan bapak Samiran.

27 Desember 2008 Disergap dingin Senduro di lereng gunung Semeru. Hujan abu pula. Puri Wisma Rengganis kediaman Bapake Mas Hen, Pak Suliham, rame full kamar-kamarnya oleh semua keluarga. Keluarga Mas Pris dan Atik juga datang. Untung ada belasan kamar di sini dan tidak sedang ada tamu-tamu yang menginap. (Biasanya ada tamu-tamu dari luar daerah yang datang berkunjung di Pura Mandara Giri Agung, menginap di Purinya bapak. Cukup rame pada hari-hari tertentu.)

28 Desember 2008 Pagi wajib ke Pura. Untuk berdoa. Bukan sebagai Hindu tapi sebagai manusia yang mengakui kebesaran Hyang Widhi. Usai itu Bapak dan ibu Samiran balik ke Kediri. Sedang keluarga Suliham berkunjung ke makam ibu. Ibu yang belum sempat aku kenal tapi aku akrabi nisannnya. Teresia Budi Suparmi. Aku memimpin doa untuknya dengan wewangian bunga dari kebun sendiri. Usai itu berbondong ke kebun Pak Suliham yang berpondok hebat penuh dikelilingi kopi, cengkeh, kepala, pisang dll. Albert Bernard puas minum air kelapa dan membakar apa saja termasuk singkong dan pisang. Bisa membayangkan?

29 Desember 2008 Makan di warung Mbok Haji, Lumajang. 12 orang hanya menghabiskan 102.000 rupiah super lezat. Rawon, soto, nasi campur, dawet, es sirup...dll. Lalu anak-anak main di alun-alun sedang aku, Ninik dan Atik berburu batik dan petis Madura. Juga makan jajanan di Orion sampai puas.

30 Desember 2008 Rencananya hanya mau tiduran. Tapi malah main sama Gebi, si centil. Sedang Albert dan Bernard hujan-hujanan sampai biru seluruh muka dan badannya hingga sore. Malam berkunjung ke bulik dan bude untuk pamit beberapa menit sembari pengin merem, mengantuk.

31 Desember 2008 Dari pagi membereskan rumah super besar itu plus persiapan ke Malang. Perjalanan pagi yang asyik lewat Selatan, mampir di Pronojiwo menyantap salaknya yang super besar dan manis lalu lanjut di Malang. Tiba di rumah Atik pas hujan dan ada penjual bakso lewat. Wah, kemaruk bener makan baksp Malang yang terkenal mak nyus.
Aku menyempatkan diri keramas di salon karena rambut sudah tebal kena abu Semeru sedangkan untuk mandi saja tidak tahan dinginnya. Makan malam, lalu tidur hingga tahun berganti. Tanpa terasa.

1 Januari 2009 Pukul 2.00 sudah berada di mobil menuju Juanda. Jam 6.00 terbang dengan Sriwijaya ke Jakarta. Harga promo 350 ribu rupiah per orang. Selanjutnya? Naik angkot mobil koperasi bandara 4.000 rupiah per orang ke Kali Bokor. Oper Kopaja ke Kalideres 2.500 rp. Naik Bis ke Merak 14.000 rp. Kapal Feri 10.500 rp. Lalu travel 40 ribu rupiah sampai di depan rumah. Murah ya?
Tiba di rumah, mandi, makan pakai telur (Makasih Wak, sudah dimasakin nasi dan air.) Lalu tidur...penuh mimpi...

(Sapaan embun malam membuatku berkacak pinggang dan berkaca-kaca, antara marah sedih gembira :
Hatiku tak seputih salju, tutur kataku tak semanis madu, tapi seuntai doa dan ucapanku kan menghiasi hari indah ini. Selamat tahun baru.
Dia tidak tahu kalau aku sangat merasa kehilangan saat-saat bisa merabanya berhari-hari terakhir ini. Padahal setiap saat aku telanjang di hadapannya menanti sebuah kesempatan untuk bercinta. Dimana kau, embun malam?
Bagus jika hatimu coreng moreng dan bahasamu berantakan. Dengan begitu ada proses ilahi yang bisa membentukmu menjadi seperti apa nantinya. Terserah.
Aku menjadi sebuah gumpalan keras tanpa tahu kapan bisa meleleh, menguap atau menyublim. Dimana kau, embun malam?)

Wednesday, December 17, 2008

Menutup Tahun

Hari ini menjadi hari terakhirku pada tahun ini di depan komputer. Besok hingga tahun baru nanti tidak akan ada komputer apapun di depan mataku dan jariku. (Jadi teman, jangan berharap ada tulisan apapun yang baru dalam blogku, hingga tanggal 2 Januari nanti. Tanggal 1 Januari pasti aku tidak akan sempat menulis apa-apa selain meniup terompet). Hari ini jadi kesempatan emas bagiku untuk melihat kembali perjalanan satu tahun sepanjang 2008.

Aku ingat misiku tahun ini adalah menjadi cerpenis. Hah, susah. Aku terjungkal-jungkal dalam misi ini. (Aku ingat tahun 2007 misiku adalah menjadi cantik. Dan pada akhir tahun aku hanya menghasilkan jutaan senyum. Belum juga cantik.) Setahunku terakhir aku merenda jutaan kata. Segala cerpen aku lempar kemana-mana. Tapi hingga kini, di penghujung tahun, aku belum jadi cerpenis. Yang menyenangkan, tahun ini memberiku sangat banyak pengalaman baru. Pertemanan baru. Dan tentu saja kerjaan baru. Tahun yang dinamis, katakanlah begitu. Karena tahun ini aku bisa berjalan cepat, berjalan lambat. Berteriak marah, bicara lantang, menangis keras, diam seribu bahasa, bergerak, terpaku, terbengong, terkejut, ...pokoknya segala ekspresi segala rasa. Yang paling penting adalah aku menemukan kesadaran-kesadaran baru yang mengatasi segala pagar yang selama ini melingkupiku. Semoga inilah caraku menjadi dewasa.

Aku belum menentukan misiku di tahun 2009. Sembari pamit sementara, aku meminta masukan anda sekalian, teman-teman. Apa misi yang cocok bagiku untuk tahun 2009? Ya, jangan kuatir. Seperti setiap tahun, misi yang ditetapkan akan jadi fokus dalam tahun itu tapi perjalanan misi itu akan berjalan sepanjang segala abad. Ini caraku menuju keabadian. Maka menjadi cantik, menjadi cerpenis, tetap dijalankan hingga tercapai suatu ketika nanti. Ah, ya teman, seperti layaknya pada setiap penutupan babak, aku membungkukkan badan pada kalian semua. Terimakasih dan maafkan! Jika sempat, bertepuk tanganlah untukku. Atau lemparkan botol bekas, tomat, telur, batu, apapun, kepadaku. Sehingga babak selanjutnya aku bisa tampil lebih baik. Salam!

Selingkuh

Aku mengabarkan kepada semua orang, dengan keras dan lantang. Ini pengakuanku : "Aku telah selingkuh!"

(Adakah keterangan lain yang memadai untuk menjelaskan pengakuanku ini? Tidak ada. Tidak ada yang ingin aku katakan.)

Tuesday, December 16, 2008

Ramalan

Kekuatan hasrat itu seperti ramalan. Kalau aku bilang 'mungkin akan ada nanti...', lalu aku menghasratinya, wah kejadian sungguh. Aku pernah bilang "Mungkin anak-anak liar sudah bersemayam dalam tubuhku." Kapok deh, benar-benar berendeng-rendeng anak-anak liar meluncur dari ruapan rambutku. Lalu berbaris minta disapa, ditegur. Setelahnya mereka akan beranak pinak dan reproduksi kilat. Dan kini ada jutaan menari-nari di seluruh inderaku.
"Lain kali hati-hati dengan pikiran ya, Yuli. Dan lebih hati-hati lagi dengan lidahmu. Keterlaluan jika menyangka diri sebagai pahlawan seolah dunia tak akan berputar tanpamu. Memang tangan dan kakimu ada berapa?"
Ah ya. Memang parah jadinya. Tak bisa lari juga. Apalagi dengan bekas-bekas pengembaraan yang abadi di seluruh ragaku. Serpihan ludah asing di bibirku, memar di pahaku, romansa di ingatanku, perih tarikan nafas rindu, tertawa di atas bantal empuk, kehangatan ... mana bisa menghilang begitu saja tanpa mengolahnya dulu menjadi indah.

Candu Manusia

Kita bisa kecanduan seseorang. Cara kerjanya ya seperti candu seperti biasa itu. Kalau tidak dapat mencicip maka tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tergantung pol. Bahkan kalau tidak cepat diberikan pula, bisa sakauw, kesakitan menderita. Beberapa bisa mati juga.
Gimana cara melepaskan diri dari kecanduan seseorang seperti ini? Aku kira seperti juga yang dilakukan pada pecandu obat atau narkoba. Melepaskan diri, melakukan rehabilitasi, mencari teman yang bersih dll.
Bagaimana kalau tidak mau menghentikannya? Ya, harus dicari terus. Nah ini mahal, teman. Bahkan orang bisa melakukan tindak kriminal karena kecanduan. Melakukan segala trik dan intrik untuk mendapatkannya. Ya lah, karena sakauw itu tidak enak. Sakit. Menderita.

Gender dalam Media Massa

Siang tadi kurang lebih dua jam aku bersama mahasiswa Fisip Unila semester 3, bicara tentang peran media massa upaya adil gender. (Dikerjain si Indri, untuk menutup kuliahnya pada semester ini.) Aku siapin satu tulisan tidak ilmiah sama sekali. Ya, mohon maklum, memang bukan ilmuwan.
Aku mengawali dengan mengajak mereka membuat 'sinetron'. Dalam kelompok mereka bekerja membuat karakter dua orang suami istri, plus settingnya. Dan terutama adalah satu babak cerita, apa yang dilakukan dua orang itu pada hari Senin pukul 10.00 - 11.00.
Hasil kelompok persis seperti yang aku duga.
- Perempuan dengan karakter yang seperti di sinetron-sinetron itu. Cerewet, nangis, marah, menuntut dll.
- Yang laki-laki digambarkan dalam tokoh yang santai, marah karena dituntut, pengusaha kaya, selingkuh dll.
- Alur ceritanya ya begitulah. Salah satu kelompok mengatakan tokoh suami pada jam 10.00 minum kopi, istrinya menjemur pakaian, lalu anaknya datang minta duit, suami marah, istri jadi cerewet hingga kebentur pintu, lalu suami pergi gak tahan lihat istrinya.
Persis seperti itulah media mempengaruhi otak penikmatnya.
Lalu aku tanya : "Adakah penindasan pada perempuan dalam kisah-kisah itu? Seperti apa?"
Wow, satu bilang tidak ada, satu bilang ada penindasan tidak langsung, satu lagi ada dll.
Lalu aku tanya lagi :"Kalau perempuan maju, apakah laki-laki bisa lebih maju juga? Bagaimana?"
Hehehe...diskusi lagi mereka. Aku tinggal tarik beberapa benang merah. Makalahku tidak aku baca, biar mereka baca sendiri.
Beberapa penekanan aku ungkapkan :
- Perjuangan adil gender bagi perempuan tercapai ketika perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri secara bebas. Tidak hanya ditentukan oleh ortu ketika kanak-kanak, oleh suami ketika sudah menikah, dan oleh anak ketika sudah renta.
- Jadi ibu rumah tangga sangat mulia, tapi jika ini bukan paksaan maka akan membentuk ibu rumah tangga yang profesional. (Ceilaaa...) Begitu juga ketika pilihannya menjadi pekerja atau yang lainnya.
- Semua akan harmonis kalau pria dan perempuan saling melengkapi, dengan peran gender yang adil. Memasak tidak memakai alat kelamin, jadi bisa dilakukan oleh laki atau perempuan. Menyusui memang harus dilakukan oleh perempuan karena perempuan yang punya susu. (Mata mereka terlolong tak tertolong karena aku vulgar berat. Hehehehe...biarin.)
- Jadi, mari menuju keadilan gender. Anti diskriminasi. Media massa bisa menjadi salah satu alat penyebarannya.
Begitulah.

(Usai itu aku ditraktir mi sosis di kantin Unila. Hujan deras, jadi ngobrol ngalor ngidul sama Indri. Masih harus ke kantor lagi, karena kerjaan belum kelar. Kini ada di kantor malah ngeblog, sudah hampir jam 19.00. Aku akan kerja lembur nanti di rumah. Jadi aku akan siapin bahan-bahan di flashdisk untuk dibawa pulang.
Ah ya ada beberapa hal dari obrolan dengan Indri yang nyangkut di otak dan hatiku, bahwa setan bekerja dengan cara memanipulasi otak manusia. Seolah sesuatu bisa benar dan baik, lalu manusia pelan-pelan digiring ke neraka. Nah lo memang kami ngobrol tentang apa sampai nggosip tentang setan? Hehehe...ada deh. Ini aku tulis supaya aku tidak lupa pernah ngobrol begitu dengannya. Nanti kapan-kapan aku buat laporan lengkapnya.)

Monday, December 15, 2008

Mimpi Atau Nyata, Berbeda?

Pernahkah engkau mimpi sesuatu yang rupanya nyata? Aku pernah, teman. Mimpi yang menyambar tidak sampai dua jam. Cukup lama untuk meyakininya ada, tapi terlalu cepat untuk memastikannya. Benar terjadi. Wong kaki-kakiku sungguh mengambang, dan tangan-tanganku terentang. Seluruh poriku menghisap kehangatan, seluruh pori dalam tubuh. Hingga mekar, berdenyut.

Jangan tanya bagaimana rasanya. Kau pernah sangat lapar, lalu menemukan sepotong singkong di atas bara yang menyala, dan saat kau memakannya turun gerimis, teman? Itulah rasanya. Tentu saja sangat dingin seluruh badan karena percikan jarum-jarum hujan temaram. Tapi juga ada hangat di rongga mulutmu karena mengunyah singkong bakar. Dan kemudian perutmu pelan-pelan mencerna dan menyerap saripatinya. Itulah rasanya. Mungkin setelahnya perut jadi kembung, tapi kenyang. Ingin nambah, nambah dan nambah.

Mau yang lebih konkret? Begini. Seseorang dalam sebuah kamar, tiba-tiba menarikmu dalam pelukan kencang, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi tepat di bibirmu. Dan kau tidak bisa mengatakan apa-apa karena kau juga menikmati itu bahkan kemudian juga membalasnya. Setelah itu menginginkannya lagi, lagi dan lagi. Itu konkretnya.

(Yach, kalau belum jelas juga, apa boleh buat teman. Dari sana aku cuma mau beri kesimpulan ngawurologi : kadang mimpi dan nyata sulit dibedakan, karena kadang keduanya tidak berbeda. Tinggal bagaimana kita mau melihatnya. Dengan mata atau dengan bukan mata. Mau bangun atau tidak bangun. Terserah pilih yang mana.)

Memungut Pertanda

Hari ini ada beberapa orang yang datang ke kantor. Dengan berbagai urusan. Sore kantor sangat penuh, 9 orang. Iya, soalnya aku mengundang mereka untuk rapat Nuntius. Ada beberapa hal yang terlontar dalam rapat ini. Cukup lumayan setelah beberapa lama nyaris tidak ada percakapan tentang majalah ini seolah-olah akulah yang 'mbaurekso' tunggal, terserah mau njungkir atau mau mbalik, tidak ada urusan.
Aku duduk di salah satu sudut meja (Sebenarnya mejanya bundar tidak bersudut, tapi rasanya aku ada di sudut. Terserah aku dong.)
Sebelah kiriku adalah para penatua Nuntius, tiga orang bapak dan seorang romo. Orang-orang yang dari awal aku harapkan menyokong semangat penerbitan, menelurkan dan menjaga visi dan misi serta menjadi teman dalam pengerjaan operasional majalah ini.
Sebelah kananku adalah para muda Nuntius, satu orang bujang, dua orang gadis, dan satu orang istri (belum ibu). Mereka orang-orang yang bekerja konkret secara teknis membantu urusan redaksi hingga distribusi.
Pembahasan berakhir dengan beberapa rekomendasi, yang cukup membesarkan hati. Intinya : Maju terus pantang mundur!

(Ya bagaimana lagi, aku toh tetep saja akan menjadi nenek-nenek bongkok yang mondar mandir di tepi pantai, bekerja giat sambil melihat ombak dan pasir, namun toh sampah selalu ada di sana ditinggalkan orang. Pokoke bekerja dan ada keindahan di sana-sini untuk dinikmati. Inilah rahmat bagiku.)

Melihat mulut?

"Kok ibu bisa melihat mulut?"
Aku terkaget, melempar Alkemis dari tanganku, dan menatap wajah polos Bernard di depanku. Wajah segar, usai sikat gigi, siap berdoa dan mendengarkan dongeng dariku, sembari digarukin punggungnya sebelum tidur. Tanpa peduli dia mengatur diri di bantal dan memeluk guling.
"Apa Nard? Melihat mulut?"
"Iya, ibu bisa melihat mulut semua orang."
Aku terbengong-bengong menafsirkan kata-kata Bernard. Anak keduaku ini luar biasa kreatif dan sensitif. Apa yang sudah dilihat atau dipikirnya sehingga muncul kata-kata seperti itu? Aku mulai berdebar-debar.
"Apa sih Nard? Ibu gak ngerti."
"Ibu bisa gitu melihat mulut semua orang, mana yang sudah sikat gigi atau belum."
Oo, aku tahu konteksnya apa. (Beberapa menit yang lalu Albert dan Bernard menyikat gigi, dan kebiasaan keduanya meringis penuh busa odol untuk menunjukkan giginya sudah bersih atau belum. Heheheh...kirain apaan) Aku mengikik sendiri geli. Mencium pipinya dan mulai membaca Mitiriwu, dongeng dari Papua untuknya, dengan tangan di punggungnya.
"Ibu ini bisa membuat orang tidur."
Bernard membalik tubuhnya. Saat aku selesai membaca, aku lihat dia sudah pulas meringkuk, menghadap dinding. Penuh gembung kepalanya dengan mimpi.

Petualangan Dalam Situs Dunia

Baru saja aku mengunjungi situs dunia. Luar biasa. Seharian penuh pada akhir pekan kemarin, dari pagi hingga malam. Nah ini hasil browsingku dalam petualangan itu.

Pertama, adalah menu tentang Krishna.
Sesekali bisa dipahami Krishna adalah Batara Guru Sang Manikmaya
di depan Umayi ya Durga Umayi, di atas kasur-kasur lembut hamparan awan.
Menderu-deru Sang Manikmaya menghisap ragawi, merentang, mengerinyut, mengejang.
Menarikan hasrat dalam seluruh tubuhnya hingga jatuh terguling-guling.
(Umayi yang satu ini cukup pencemburu, menyimpan sekantong penuh tanda tanya. Ada 'tidak' digenggam kirinya, selagi belum menemukan jawaban atas segala tanya. Tapi juga punya 'ya' atas segala rupa, yang dihidupinya alami.)

Kedua, adalah menu tentang wajah rasa.
Sarapan pagi yang super cepat kilat.
Aku menjilat bara dari bibirnya.
Membakar aku dalam percakapan renjana.
Nyaris tanpa tanpa suara.
Pun ketika aku menegang dibelit logika.
Parahnya, tubuhku merindu pemenuhan.
(Harusnya aku tampar diriku sendiri, yang berharap mimpi jadi abadi. Untung aku sempat mematri seluruh paras inspirasi lewat ujung jariku. Juga mencium seluruh aroma lekuk dan kuduknya. Sungguh!)

Ketiga, adalah menu tentang personalita
Ada sunyi antara aku dan secangkir kopi
Ada gelisah antara aku dan sepotong donat.
Ada yang melayang antara aku dan rel kereta Gambir.

Keempat, adalah menu tentang ...
Entah bagaimana menyebutnya ya, tapi ada gairah yang pelan-pelan muncul. Memenuhi lingkar baru keselarasan yang kini terbentuk di sekitarku. Keselarasan lain yang agak aneh. Mestinya harus diadaptasi dulu, hati-hati, karena keselarasan yang satu ini bisa membungkus tebal suara hati.

Kelima, adalah menu tentang dunia ini sendiri.
Ini porsi terbesar dalam petualangan seharian. Ada banyak point. Aku akan menulisnya menyusul nanti. Sungguh rahmat yang hebat. Menyegarkan kembali baling-baling bambuku yang mulai reyot sana-sini. Terimakasih untuk semua.

Friday, December 05, 2008

Melankolis

Tak tahu nih, bawaanku kelabu saja akhir-akhir menjelang pergantian tahun ini. Mati-matian aku mengkianati Logika, tapi bahkan Kesempatan juga tak mau datang mengunjungiku. Yang menemaniku sih banyak, ada Penantian dan Kerinduan. Dan tentu saja ini yang tak mau melepaskan rangkulannya pada tubuhku, Hasrat.

Wednesday, December 03, 2008

Demam

Aku demam parah. Sungguh, secara fisik suhu badanku naik turun. Kadang hangat, panas. Hingga leherku terasa terbakar. Namun kadang dingin, beku. Sampai seluruh lendir tubuhku memadat. Secara psikis, demamku lebih berat. Perputaran keras antara hati, rahim dan otak. Berputar ke segala ruas.
Aku tanya apa yang bisa menyembuhkanku?
"Ada satu resep. Sublimasi."
Tapi itu masih sangat teori bagiku. Bagaimana mendalaminya?
"Tidak ada yang tahu dan memberitahumu. Carilah."
Aku tidak bisa berpikir untuk melangkah kemanapun.
"Menulislah terus. Jangan berhenti."
Aku kira aku masih akan demam jika itu yang harus aku lakukan. Jari-jariku beku dan terbakar dalam waktu yang sama. Begitu juga seluruh inspirasi yang mungkin bisa aku gali. Beku dan terbakar.

(Mungkin aku perlu tidur sementara waktu.)

Saturday, November 22, 2008

Ingin Berhenti

Aku ingin berhenti. Menggiring bola kesana-kemari tanpa pernah masuk ke gawang satu kalipun untuk mendengarkan sorakan gembira karena satu gol yang tercipta, adalah kekecewaan. Bukan kakiku yang tidak bisa menyepak, tapi gawangnya selalu dipindahkan. Ooh...

Wednesday, November 19, 2008

Hiburan

Tanpa ditanya, tragedi tengkorak adalah jawabannya.
Sekalipun bintang membisu di gelap, keheningan merangkai nirwana.
Pun saat mawar meluka, tetaplah menggores surga.

Hiburan ini diulurkan Leo, SCJ. lewat pesan singkatnya dalam HPku. Saat ini gigiku tengah mengunyahnya. Serpih-serpih pahit itu harus kutelan kan, romo? Bagaimana kalau perutku menolaknya? Aku menangis membayangkan harus mencicip Kalvari, dengan mata terbuka dan hasrat yang sadar.

Tuesday, November 18, 2008

Lelah

Aku berjalan ke arah rumahmu. Bergegas, terjatuh-jatuh, berlari... Terus... Aku tahu persis, aku tidak pernah sampai di rumahmu, atau sekedar berteduh di terasmu.

Tuesday, November 11, 2008

Labrakan Pagi

Pagi ini aku bangun sangat subuh, langsung mengkerut terpojok di sudut dapur. Logika datang dengan golok terhunus, mengkilap tajam dengan mata yang berkilat-kilat marah. Dia langsung menekan leherku dengan tangan kiri, sedang dua matanya tak lepas dari mataku yang masih belum tersentuh air.
"Jangan lagi pernah kau tinggalkan aku!!" Suaranya tak terlawan.
Aku mengaduh dalam cekikannya. Goloknya terayun hanya beberapa centi dari jantungku sehingga nyaris aku terlonjak ke alam kematian, terkena serangan jantung.
"Jangan berdalih apapun. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan kepadaku. Lalu kau siarkan soal keringkihanmu yang pura-pura itu. Bukan keranjang bambu yang kau punya tapi lihat itu!!"
Aku terpaksa menoleh pada telunjuknya. Aku melihat guci tembaga yang kemarin aku gelindingkan sembunyi-sembunyi di balik sumur. Aku tidak bisa mengelak, memang.
Melihatku tanpa suara, Logika mengendurkan tangannya.
"Aku juga tidak harus selalu sekencang ini padamu setiap waktu. Tapi kamu sudah keterlaluan." Suaranya melemah, menyalurkan rasa pemakluman pada tiap nada suaranya.
"Tapi kamu harus janji untuk tidak lagi membiarkan aku tercecer tanpa harga. Jangan lagi sembunyikan kekuatanmu dalam rasa semu yang kau idolakan itu. Aku akan tetap mengawalmu, jangan protes."
Aku tak mengangguk juga tak menggeleng. Logika tetap di samping kiriku, tapi golok sudah disarungkannya kembali. Sedang hati dan rahim mulai mendekat pelan-pelan, takut-takut, mencoba meraih tangan kananku. Tidak aku kibaskan.

Monday, November 10, 2008

Malam Berdebu

Ada satu ruang di belakang rumahku. Gelap karena selalu tertutup rapat, dikunci pintunya dan ditutup rapat-rapat jendelanya. Semalam aku berada di dalamnya sekitar dua jam. Dua jam yang mendebarkan karena ada seseorang di dalamnya, duduk dengan telepon di telinganya, dan tangan mencoba meraih tubuhku. Tidak kelihatan persis wajahnya, karena aku hanya bisa membayangkannya lewat suhu, suara dan debu. Suhu yang menghangat di seputar tubuhku dan tubuhnya. Suara yang mengalun dalam melodi karonsih lewat bibirku dan bibirnya. Dan debu yang bergerak seturut gerak dan nafas kami berdua. Benar-benar jadi malam yang penuh berdebu, dalam kegelapan. Hingga aku sesak nafas, dan terpincang-pincang menjaga keseimbangan diri.
Untung, benar-benar beruntung setelah detik-detik itu, ada satu celah kecil yang menembuskan berkas cahaya. Sangat kecil. Namun lihatlah. Debu-debu cemerlang dalam berkas itu, berkilauan, bergerak, seperti jutaan bintang kecil yang hidup. Hingga kantuk mengeluarkan kami berdua dari ruang itu, kami hanya bisa duduk terpaku. Takjub pada keindahan debu yang terkena berkas sinar.
(Aku kira, kalau pagi telah datang nanti kami akan saling memandang dan menyapa,"Sayang...")

Friday, November 07, 2008

Lidah

Aku mengaduh dalam gelap. Sakit seluruh pancaindera.

"Aku tidak menggigitmu, sungguh. Tapi sedang mencari lidahmu." Sanggahnya dalam suara berat.

Mana mungkin lidah yang aku titipkan padanya bisa hilang begitu saja?
Bukankah waktu itu dia berjanji akan menjaga lidah itu tetap aman?
Aku tidak mungkin bertahan jika lidahku hilang.

"Waktu itu aku tidak memaksamu. Kamu sendiri yang memberikan lidahmu padaku." Masih menyanggah dia dengan suara parau bertembakau.

Bagaimana mungkin bibirnya melepaskan kunci pada lidahku?
Sehingga berkeliaran entah kemana tanpa tulang dan kehendak?
Aku harus mendapatkan lidahku kembali.

"Sungguh, tidak ada lagi di dalam mulutku. Lihatlah bibirku!" Semakin dia tidak masuk akal memberikan sanggahan. Aku tidak bisa menuduh selain dia.

Aku meletakkan bibirku di atas bibirnya. Mencoba mencari-cari dalam rongga mulutnya, barangkali dia menyembunyikan lidahku di sana.
Selama lidah itu belum kembali,
tak kan mungkin aku bersuara.
Tak kan mungkin aku menaruh percaya
kepadanya.

Thursday, November 06, 2008

Dalam Senyuman

melihat tangan melenggang aku ingat sebuah senyuman
yang meruapkan dupa dalam jiwa penuh birahi
serupa bunga-bunga semerbak di altar pemujaan
memberikan kesempatan masa depan hadir berjanji
'tak pernah kupikir menamparmu
hanya menyayangimu'
seperti bisikan persis di rongga telinga
aku tidak bisa menyetujui nada-nada fatamorgana

'tak penting kau menamparku
atau kau menciumku
lakukan saja!
karena saat kau lakukan berarti engkau ada di dekatku!
engkau mengkerut di ujung hatiku
menelan pahit marcapada
tak berani menampar atau menciumku
karena jauh kau tak terhingga


The flower grew in an altar of soul full of echantment.
The fragrance of love has washed some hurts on hurts.
The parfume has relieved a darkness of soul.
For a while, I may tell a story of heaven, it will wither together the time.
(Terakhir ini upaya Leo, SCJ. entah dari mana idenya. Bagiku menjadi ide yang baru lagi. Thanks, Mo.)

Suamiku


Saat rapat tim untuk membuat jaring politik beberapa hari yang lalu, 12 orang yang datang memulai pertemuan dengan menceritakan detil identitas dan aktifitas masing-masing. Supaya bisa saling percaya dan jalan bareng di masa mendatang. Aku bercerita tentang diriku sendiri. Seorang istri, ibu dari dua anak. Dengan aktifitas di majalah, orang muda, perburuhan,...bla, bla, bla,...punya minat kuat pada bla, bla, bla...
Seorang bapak mengatakan,"Aku tidak bisa membayangkan mengerjakan semua itu. Terlebih kalau aku seorang perempuan."
Aku langsung mengangguk. Iya, betul, pak. Ini karena ada lelaki hebat yang ada di sebelahku. Bukan seperti suami-suami kebanyakan.
Kalau suamiku bukan Den Hendro, aku juga tidak bisa membayangkan melakukan ini itu dengan status istri dan ibu dua anak, yang melekat tak mungkin lepas seumur hidup. Dengannya, aku mendapatkan kesempatan bukan sekedar menjadi Nyonya Hendro dan Ibu Albert - Bernard. Dengannya, aku tetap bisa menjadi seorang Yuli, yang merdeka sebagai seorang ciptaan dengan banyak karunia yang sudah diberikan oleh Penciptanya, untuk dikembangkan berkali lipat. Dengannya, aku tetap bisa bermimpi, berkeliaran, ... Tidak ada yang hebat dariku karena aku menjalankan apa yang mestinya memang aku jalankan.
Dialah lelaki hebat itu, yang sudah memberikan kasih dan ruang percaya sebesar itu.

Wednesday, November 05, 2008

George

Ini foto mereka saat anteng, diem, asyik bermain dengan pasir dan ombak pantai Kalianda Resort.

Aku sudah terbiasa mendengar Albert dan Bernard berisik luar biasa hingga seperti kapal pecah seluruh rumah. Dari ruang tamu, kamar, dapur, kamar mandi, halaman, semua jadi ajang permainan mereka yang kadang-kadang keterlaluan tidak aku mengerti sebagai ibunya. Bagaimana mungkin bisa bertengkar seolah akan bermusuhan seumur hidup hingga lebam kaki tangan mereka, sama-sama menangis atau tidak mau bertegur sapa. Tapi sedetik kemudian mereka sudah saling berpelukan asyik berkasak-kusuk membuat rencana bersama. Lalu muncul permainan aneh-aneh. Astaga. Dan tidak ada satu barang pun yang bisa lepas dari perebutan. Apapun menjadi asyik kalau rebutan lebih dahulu. Bantal, guling, piring, kursi, bahkan pipiku, duduk di kanan atau kiriku, ... apapun!
Tapi aku paling tidak tahan jika mereka berisik di atas motor. Seperti beberapa hari yang lalu, dari rumah mereka sudah ribut antara siapa yang harus mematikan televisi. Lalu ribut dengan sabuk. Yang mana yang harus dipakai oleh siapa. Setelah itu akur di atas sadel Mio dengan rapi manis berseragam sekolah. Dengan tanda salib yang khusyuk di depan rumah. Tak bertahan lama. Usai bunderan Raden Intan mereka melihat monyet nyengir asimetris (hehehe...kok inget diri sendiri ya. Dulu Ines, Gatot dkk sering ngolok aku si bibir asimetris. Tapi tentu lebih seksi dibanding si monyet iklan).
"Jos...!!!" Mereka berdua teriak bersamaan.
Aduh apaan sih? Aku rem motor mendadak, melotot pada mereka.
"Ada apa?"
"Itu si Jos, bu."
"Jos siapa?"
"Jos, monyet yang pintar itu." Si kecil menjelaskan sambil menunjuk papan iklan monyet. Oh, film Curious George! Tanpa kata aku gas motor. Dongkol berat.
"Jos, satu!!!"
"Dua!!"
"Sepuluh!!!"
Mereka berdua ribut menghitung si George yang dipasang di papan-papan selanjutnya yang rupanya baru dipasang hari itu berderet hingga Tanjungkarang. Tangan-tangan ruwet ke kanan kiri. Kepala menoleh sana sini. Kaki saling sepak mengaku yang paling benar menghitung. Saling bantah, saling hitung.
"Kenapa berhenti, bu?" Aduh pengin njitak kepala mereka berdua.
"Kalau kalian tidak bisa diam, ibu sulit nyetir. Bisa kecelakaan. Kita sudah terlambat."
"Nah, diem, dik."
"Mas Abot yang mulai duluan."
"Kamu!"
"Kamu!"
Ah, aku tinggal tidur saja wis. Capek deh...

Monday, November 03, 2008

Terbawa Angin

pusasan angin melayangkan tubuhku pada tubuhmu di jauh sana
membantuku meraba semburan ribuan sinyal kata
jangan mati, teriakku
biarlah logika berputar
biarlah rahim mengaduh
biarlah hati berserakan
sudah kubiarkan pusaran angin melayangkan tubuhku
pada tubuhmu di jauh sana

akan kubuka naluriku tempat sembunyi
wajah rasa yang abadi beku

Bengkel Penulisan Cerpen Mini


Pertama-tama apa cerpen mini itu?
Novel adalah sebuah rumah yang kita bisa jelajahi ruang-ruangnya, satu persatu.
Cerpen adalah sebuah kamar dengan jendela tempat kita bisa melongok, melihatnya.
Cerpen mini adalah sebuah kamar dengan lubang kunci, dimana kita bisa mengintipnya.
Cerpen mini seringkali dibatasi oleh jumlah kata, 400, 750 atau 1000. Tapi tidak boleh ditawar lebih dari itu. Apa yang ingin disajikan oleh pemilik rumah atau kamar, itulah yang harus diolah oleh sang penulis sehingga saat mengintip lewat lubang kunci, para pengintip itu tidak mau pergi. Biarkan resonansinya menggemakan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang jelas. Beri kejutan yang menggerakkan jiwa.
Itu yang dikatakan oleh AS. Laksana dalam Bengkel Cerpen Mini yang diadakan Dewan Kesenian Lampung (DKL) pada 1 - 2 Nopember 2008 di Gedung Unik Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung (Unila). Acara diikuti oleh 20 peserta yang menjadi nominator dalam lomba cerpen mini yang diadakan DKL plus beberapa orang dari UMKBS.
Pengertian yang masih mengambang dan memberikan ruang diskusi lebih lanjut tapi kesimpulan menarik diberikan oleh Ari Pahala dan Arman AZ pada akhir acara :
Cepen mini atau micro fiction atau flash fiction adalah cerita yang non naratif, lebih ke sugestif dan ada kecenderungan ke perumpamaan. Secara teknis bisa dilakukan dengan : tinjulah dulu hingga pembaca terkapar, setelah itu beri penjelasan singkat. Tidak perlu penjelasan bertele-tele.
Ah, masih bingung juga? Yach, aku yang ikut workshop dua hari aja masih meraba-raba dalam gelap. Aku akan cari satu contohnya nanti untuk aku tampilin. Hingga kini belum dapat yang okey. Bahkan Anyaman yang Terburai - ku pun rupa-rupanya juga bukan termasuk genre ini kalau dilihat lagi. "Itu cuma cerpen yang dipendekin. Bukan cerpen mini." Gitu si Ari bilang. Jadi, tunggu aja.

Menahan Diri

Pada akhirnya memang muaranya pada menahan diri
Hanya menahan diri

Thursday, October 30, 2008

Riset Buruh

Teman-teman yang ada di dalam Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL) sedang melakukan riset tentang dampak kenaikan BBM bagi kehidupan mereka sebagai pekerja pabrik. Menarik, bukan pada materinya (materi ini agak telat. tapi akan menjadi salah satu point penting saat perbincangan upah pada akhir tahun nanti).
Tapi yang lebih menarik adalah pengalaman riset yang mereka coba lakukan. Ini memang agak lain. Awalnya proses riset tidak pernah terbayang masuk dalam gerakan yang dilakukan oleh buruh. Biasanya jika berkumpul mereka akan diskusi, kapan aksi, dll. Sudah dua tahun ini FKSPL melakukan berbagai riset entah sendiri dalam wilayah Lampung, atau dalam jaringan aliansi dengan teman-teman di Jawa Barat dan Jakarta.
Hasil akhir tidak tampak. Tapi riset dapat menjadi dasar yang kuat bagi gerakan mereka selanjutnya. Data-data hasil riset menjadi argumen yang kuat bagi aksi. Menjadi lebih nyata. Mendasar. Sesuai dengan situasi yang sebenarnya.

Wednesday, October 29, 2008

Pasir

Apa yang terjadi kalau kita main pasir? Butir-butirnya akan menempel di tangan, kaki, pipi, rambut, dan lain-lain tergantung bagaimana kita memainkannya. Tidak berbahaya, tapi ada resikonya.

Tuesday, October 28, 2008

Malam dengan Tidur

Malam dengan tidur adalah keheningan mesra antara pasir dengan rongga-rongganya
bertopang pada lengan terentang tanpa usikan kegiatan sukma
pun mata terpejam menjadi alat penglihat rasa
pun tubuh diam menjadi bahan bagi seribu pelukan

Malam dengan tidur adalah penjelmaan suara alam yang lama bunting
menenggelamkan ragawi dalam nikmat kepulasan tak berjarak
dengan selimut udara sama mengalir antara Barat dan Timur
dengan igauan nyaman tanpa suara antara Utara dan Selatan

Aku terbelalak dalam gelap yang nyenyak
membuat berbagai ciuman segala rupa
bagi para dewata yang menari bersamaku