Wednesday, April 30, 2008

May Day

Menjelang 1 Mei tahun ini aku begitu gusar.

Ada perpecahan (atau keanekaragaman?) yang terlihat dalam gerakan buruh di Lampung.

Beberapa organ mahasiswa pasti mengusung isu buruh menjelang may day (di luar hari itu entahlah, karena memang jarang ormas mahasiswa mendampingi buruh secara konsisten, apalagi di Lampung). Mohon maklum begitu idealis tapi kadang tidak rasional. Bisa-bisanya teriak-teriak perubahan. Tunggu sebentar lalu mereka akan ada di dalam sekat-sekat tipis pelaku 'kelanggengan'. (ya aku tahu bagaimana mereka hidup sehari-hari. bisa kontras dengan teriakannya lho. ayo siapa yang mau menyangkal, silahkan. biar aku juga belajar lebih banyak.)Sebatas retorika pembelajaran, aku salut. Semoga ada manfaatnya di masa depan bagi pribadi-pribadi maupun organisasi.

Lalu gerak ABM yang agak tidak masuk akal, dengan memasukkan isu nasional begitu saja pada gerakan-gerakan lokal. (andai mengolahnya sedikit cerdas sebenarnya bisa menjadi isu yang cukup menarik. jangan terlihat betul 'semata-mata'). Lalu mereka memaksakan nama aliansi ini untuk payung dalam setiap aksi walau jelas-jelas semua tahu bahwa ABM sudah menjadi organisasi. Sehingga mana mau ormas lain rela begitu saja tergabung (walau seolah-olah tergabung) dalam ABM. Dan personil ABM Lampung... ya ini warna yang menarik. Andai mereka mau memakai cara pdkt yang simpatik, pasti asyik.

Ada lagi kelompok yang oportunis tidak tahu arah perjuangannya tapi bisa terlibat di dalamnya. Entah apa motivasi dan apa yang dicari. (mungkin aku sesekali juga masuk dalam kelompok ini walau aku punya hati dan pilihan)

Lalu ada FKSPL yang warnanya adeeeemmmmm....aja (HK gitu loh. Sr. Matea gitu loh.) Pilihannya sih jelas pada pendidikan buruh dengan pelatihan, riset dan kampanye media (akhir-akhir ini). Pengaruh ormas mahasiswa, ABM maupun oportunis, ketiganya ada. Tarik ulur, tak berbentuk, tapi sudah sewindu hidup. (sebenarnya lebih lama lagi kalau dihitung dalam gerak geliatnya)

Aku belum tahu pasti peta-peta kepentingan yang mencengkeram di belakang layar, tapi aku merasakan kegusaran yang pekat. Seperti masuk ke dalam hutan yang walau aku berjalan di jalan setapak jelas ada tujuan dan kelihatan kondisi jalannya, tapi aku tidak tahu di sela-sela pohon di luar jalan setapak itu apa yang ada dan terjadi. Pasangan mata pasti sedang mengintai. Yang sangat terasa panasnya adalah ketika spanduk-spanduk di jalan sudah ramai di seluruh Lampung. "Pilihlah aku jadi pemimpin bumi ini." Juga ketika aku melihat mayat-mayat bergelimpangan berjatuhan setiap hari karena berbagai situasi ini. Selalu ada korban. Dan yang jadi korban adalah yang terlemah. Dalam rantai perindustrian ini, adalah buruh.

Tuesday, April 29, 2008

Welwitschia Mirabelis

aku ingin seperti welwitschia
bertahan jutaan tahun di gurun Namibia ku

gersang hanyalah permainan
panas adalah romantika
tetasan air jadi mimpi kerinduan

yang asyik

(night elf menamparku keras-keras di ubun-ubun
membuatku terjengkang di antara putung-putung rokok
"Oee, kau! Bahkan jadi ranting-ranting cemara pun tidak bisa!")

Monday, April 28, 2008

Antara Sunrise dan Sunset

....
adalah damba
pada surga
di pematang sawah
tempat kacang panjang menjalar
menemani perjalanan
menuju panen raya
suatu ketika
....

Kim Siong

Kim Siong atau dipanggil Lis adalah gadis usia 33-an. Gadis tua yang terjebak dalam tubuh 'entah bagaimana' dari atas bawah, dari luar dalam. Secara umur mungkin sudah dewasa, tapi dia mengikuti gerak pikir anak-anak usia 10-an tahun. Wajahnya sudah mengalami operasi beberapa kali di Indonesia maupun Australia tapi tetap menyisakan ceruk-ceruk bekas sumbing dan daging atau kulit yang tidak ada di beberapa bagian wajahnya. Dua tangannya kekar dengan jari-jari yang tidak lima (hanya dua atau tiga di tiap telapak, tidak bisa dihitung karena bentuknya tidak seperti jari jemari kita). Cukup kuat untuk memijat pundak, kaki, badan... Untung bisa memijat karena dia bisa dapat recehan atau bukan recehan untuk hidupnya. (bahkan untuk hidup ibu dan kakaknya, yang kok 'entah bagaimana' juga). Kakinya sebelah hanya sebatas di bawah lutut ditopang kaki palsu. Aku tidak tahu persis bentuk kakinya karena selalu terbalut kaos kaki untuk mengganjal gesekan dengan kaki palsunya. Seringkali dia mengeluh lecet sakit pada bagian sambungan itu. Mungkin sudah tidak pas lagi dikenakan karena kaki palsu itu sudah dipakainya sejak aku kenal dia 8 tahun silam.
Hah, dia punya pengalaman ditolak bahkan sejak masih dalam kandungan. Ibunya yang merana mencoba menggugurkan dia dengan berbagai cara. Kekuatan sel-selnya terbukti hingga dia masih hidup sampai sekarang ini.
Sangat egois mau apa, wong memang dia coba meraup kasih sebanyak-banyaknya lewat jari dan wajahnya yang bolong. Mau apa! Hanya dapat angin. Anak-anak kecil ketakutan melihatnya. Para remaja jijik melihatnya. Orang dewasa tak mau direpotkan untuk menyenyuminya. Orang tua ah sudahlah...
Sangat menjengkelkan mau apa, wong dia hanya bisa meminta kepada siapa saja. Mau apa.
Aduh, betapa jengkel misalnya banyak kerjaan di sebelah komputer, lalu dia datang menangis basah kuyup karena ditolak suster sebelah yang dimintainya beras. Lalu karena melihat wajahku yang lesu capek maka dia duduk di sebelahku sembari memijit pundak, lalu tangan lalu kaki... Astaga, Lis! Tidak lihat orang lagi bekerja? Aku tidak bisa mengetik kalau kamu mijit. Maka dia cekikikan berhasil menarik perhatianku. Melihat mukanya mau tidak mau aku tersenyum kecut, sekecut tubuhnya yang tidak mandi pagi.
Sudah makan? Mendengar pertanyaan ini Lis langsung penuh semangat. Berjingkat menarik tangan. Ayo makan. Dalam kupingku ayo bayarin makan. Maka ketika aku menurut gerak kakinya ke warung berjejer di sebelah, segala cerita mengalir bindeng sengau tidak jelas dari mulutnya. Kadang aku tidak mengerti apa bahasanya, tapi cukup mantuk-mantuk saja. Seringkali dia bercerita tentang ibunya, kakaknya (bapaknya tidak pernah diceritakan) atau simboknya. Simbok bagi dia adalah Suster Matea HK, orang yang paling disayanginya di seluruh dunia, tempat dia bergantung untuk segala hal. Baginya dia adalah anak satu-satunya simbok, maka simbok tidak boleh untuk yang lain. Maka dia sangat cemburu marah kalau simboknya berususan dengan orang lain yang pasti tidak bisa wong simboknya seorang suster.
Dia tidak bisa mengunyah sempurna. Maka makanan kesukaannya adalah bubur atau lontong yang ditelannya begitu saja. Bagian rongga mulutnya seperti rongga mulut ulat yang mencaplok begitu saja semua makanan.
Setelah kenyang dia akan ketawa-ketawa lalu pamitan dengan riang terlebih jika dapat bonus 2000 rp untuk naik angkot.
Jumat kemarin aku berdoa khusus untuknya (hampir tidak pernah aku lakukan), terlebih untuk diriku jika berhadapan dengannya. Lis sudah mengajari banyak hal dalam mengolah diri, hati, tanpa pamrih. Tanpa dia sadari hampir setiap hari.

Monday, April 14, 2008

Forever

Tiga minggu terakhir ini aku mendapat pengalaman baru dengan jaringan SSV (Serikat Santo Vincentius) di Lampung. Aku memfasilitasi anggota mereka khususnya yang muda untuk belajar nulis. Pertama di Kotabumi pada 29-30 Maret untuk daerah Lampung Utara. Ada 26 peserta. Lalu kedua di Metro pada 5-6 April untuk daerah Lampung Tengah dan Metro ada 16 peserta. Dan ketiga di Pringsewu pada 12-13 April untuk daerah Tanggamus dan Bandarlampung ada 24 peserta. Sabtu - Minggu yang mengasyikkan.
Mereka ini kelompok muda yang mengambil semangat St. Vincentius seturut teladan Frederich Osanam, pendiri SSV. Maka semangat Osanam yang aku ceritain pada mereka di awal pertemuan. Bagaimana sebagai orang muda, mahasiswa Osanam tidak hanya diam menanggapi tantangan jaman itu. Osanam berkumpul bersama beberapa teman membuat jaringan cinta kasih, peduli pada orang lain dan salah satu sarana komunikasi yang dipakai adalah tulisan. Banyak surat-surat Osanam tersebar berisi nilai-nilai yang dia dapatkan dalam geraknya sehari-hari.
Dalam pelatihan ini hari Sabtu adalah hari mengolah diri. Setiyanto, seorang penulis buku dari Kotagajah membantuku untuk sesi awal meyakinkan bahwa menulis itu mudah dan bermanfaat. Malamnya aku mengajak mereka untuk melihat pengalaman-pengalaman unik diri sendiri yang sebenarnya menjadi bahan awal yang bisa diolah dalam bentuk tulisan. Wow, mereka menulisnya dengan variasi dan kreasi yang hebat. Aku hanya beri panduan : 1. Detail satu peristiwa yang paling menyentuh hati; 2. Apa yang dirasakan saat itu; 3. Apa yang dirasakan kini;4. Kaitkan pada relasi dengan Tuhan dan sesama.
Hari Minggu, aku mengajak mereka untuk melihat penulisan jurnalistik berurusan dengan media masa. Sekilas tentang berita, feature lalu praktek nulis paragraf awal 5W1H, menulis sebuah feature tentang sosok teman sembari latihan wawancara, menggali data hingga menuliskannya dengan lengkap.
Hingga minggu sore. Memang baru pengetahuan yang sangat dasar. Tapi semangat para muda itu membuatku menjadi lebih 'muda'.

Wednesday, April 09, 2008

Hepatitis A

Rupanya aku kena Hepatitis A. Dua minggu hanya berbaring. Dokter bilang Hepatitis disebabkan infeksi virus yang menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.
Beberapa makanan yang tidak boleh aku makan adalah makanan yang berserat tinggi, mempunyai rasa tajam seperti pedas, asem, makanan yang bersoda dan beralkohol, makanan yang berlemak dan berminyak tinggi (digoreng, bersantan dll). Beberapa jam sekali aku mesti minum dengan dua sendok gula.
Virus penyerangku adalah virus hepatitis A (VHA). Hepatitis virus dapat menjadi kronis dan bisa berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati.1. Hepatitis AHepatitis A lebih banyak diderita oleh anak-anak dan orang muda. Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, pada umumnya menular melalui makanan/minuman yang terkontaminasi oleh feses penderita, bisa juga melalui konsumsi kerang yang terkontaminasi virus.
Gejala awal merasa cepat lelah, tidak napsu makan, sakit kepala, pegal-pegal di seluruh badan, lemah, mual, dan kadang disertai muntah, dan selanjutnya demam. Ditandai juga dengan urin berwarna kuning kehitaman seperti air teh dan feses berwarna hitam kemerahan.
Langkah pencegahannya, yaitu :- cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan;- disarankan tidak makan dengan menggunakan alat-alat makan secara - bergantian atau memakai sikat gigi bersama-sama;- memperhatikan kebersihan lingkungan dan sanitasi ; - Imunisasi

Untuk penyembuhan ada beberapa obat herbal ala Hembing :
Resep 1.
30 gram temu lawak (dikupas dan diris-iris) + 15 gram sambiloto kering + 60 gram akar alang-alang. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 2.
30-60 gram daun serut/mirten segar + 60 gram pegagan + 30 gram meniran. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 3.
10 gram jamur kayu/lingzhi + 10 gram biji kacapiring (zhi zi), keduanya dicuci, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari. (kedua bahan dapat dibeli di toko obat Tionghoa)
Resep 4.
60 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular segar + 30 gram tumbuhan jombang segar + 25 gram kunyit. dicuci bersih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Catatan :
- pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur
- tetap konsultasi ke dokter
- untuk perebusan, gunakan periuk tanah, panci kaca atau enamel.

Selain itu penderita tidak boleh merasa capek dan terkena angin malam. Berbaring, n tidur.

Thursday, March 13, 2008

Sakit

Beberapa hari ini aku sakit. Sekarang pun masih sakit. Tidak tentu rasanya. Awal-awal kepalaku seperti diberi pemberat dari baja puluhan kilogram. Berat. Bergerak sedikit saja berdenyut keras tidak tertahan. Periksa tensi di Klinik Xaverius memang rendah tekanan darahku. Maka resepnya : vitamin, makan banyak dan tidur banyak. Tidak berubah juga. Lesu, tidak semangat, pengin tidur saja, tidak bisa kena air (jika mandi pake air dingin sakit hingga ke tulang seperti ditusuk sejuta jarum beku). Kedinginan, berkeringat, pengin muntah, sakit tenggorokan, ... entahlah. Semua terasa tidak enak.
Tentu saja aku masih beraktifitas kesana kemari. Pekerjaan Nuntius tidak bisa ditunda, agenda terkait APP banyak, antar jemput Albert, dll. Tapi aku ngerasa yang paling sakit adalah otak dan hatiku. Terbukti aku bisa melakukan banyak kegiatan tapi aku tidak bisa menggunakan otak dan hati.

Tuesday, March 11, 2008

Bilik Pengakuan

menangis di pojok bilik pengakuan
adalah pesakitan yang siap menerima eksekusi
tak ada pembelaan karena lumuran dosa memang terlihat
tidak perlu bukti atau saksi
hanya berkaca pada pada hati

tapi tidak ada besi parang suntik listrik kematian
yang ada adalah berkat dan pengampunan
'lantunkan iman, pengharapan, kasih
doa sempurna dengan bimbingan Bunda'
aku bersimpuh dalam puji
tak kunjung henti

Saturday, March 01, 2008

Jaman Dulu di Sembak

Aku lahir di dusun Sembak, desa Grogol, kabupaten Kediri, propinsi Jawa Timur, negara Indonesia. (Ibu Sudiati dan Bapak Samiran) Sembak ini tempat yang cukup ramai sejak mulanya. Pasalnya, dusun ini merupakan jalan penghubung bagi beberapa desa di sekitarnya untuk menuju ke Pasar Gringging, pasar yang paling besar di kecamatan itu. Maka ketika pagi belum menjelang, dengan mata setengah merem belum bangun, suara kaki para petani dan pedagang beradu di jalan berbatu depan rumah. Suara lain yang masih aku ingat adalah suara decit kerenyit bambu yang dipakai untuk memanggul sesuatu. Engket, engket, engket....dengan irama yang tetap seturut langkah yang memikul. Subuh tidak pernah kelihatan karena aku sangat jarang bangun pagi. Bapak-ibu juga tidak pernah biasa bangun pagi. Kerepotan rumah biasanya baru mulai setelah jam 06.00. Itupun kayaknya dengan terpaksa, karena bapak ibu mengajar di sekolah sedang anak-anak harus sekolah.
Sore hari jalanan depan rumah juga riuh. Tiap hari adalah iring-iringan orang yang membawa hasil bumi, daun jati (pembungkus utama untuk makanan dan sayuran), kayu, dan sebagainya. Khususnya jika menjelang hari pasaran, hari ramainya pasar.
Lebih ramai lagi ketika tahun 80-an jalan depan rumah itu diaspal. Kemudian listrik mulai ada. Suara pejalan kaki hilang diganti dengan sepeda motor dan mobil. (Hingga kini semakin bising saja depan rumah itu)
Ada beberapa warung makanan yang menjadi langganan. Setiap pagi, kami sekeluarga waktu itu punya menu sarapan yang hampir selalu sama. Pilihannya hanya sambel pecel atau sambel tumpang, mbah Ni atau yu Bin. Jarang muncul menu lain. Sesekali ibu akan bikin tahu kecap atau telor ceplok. Tapi sangat jarang.
Biasanya aku atau Yeni bergantian yang bertugas membeli sarapan. (Mbak Lis lebih sering tinggal dan mbantu mbah di sebelah ketimbang di rumah) Sebelum aku suka pedas, aku paling suka nasi diberi sesendok sambel pecel atau tumpang, tanpa daunan, dimakan dengan peyek yang jarang-jarang ada kacangnya dan krupuk. Dan disuapin. (Disuapi tuh bisa menambah rasa enak pada makanan. Kenapa ya?) Agak besar dikit, aku suka dengan daunan yang banyak sesekali ditambah irisan tempe goreng atau tahu goreng.
Makan siang sangat variatif. Ibu biasanya masak kilat setelah pulang ngajar. Sayur bening, asem, sop, terik, tumis, lodeh dll. Botok, perkedel, dll. Tahu, tempe, ikan, telur. (Ketika mulai trend ayam potong, tambah satu menu yang sering, ayam goreng, atau ayam sayur. Dulunya sih ayam nih sangat mewah. Dimasak hanya kalau ada hajatan atau ayamnya simbah ada yang klepek-klepek kena penyakit.) Jika ibu tidak sempat memasak, ada makanan yang sangat khas bisa dibeli di bakul ethek (tukang sayur). Dibungkus daun pisang kecil-kecil ada dendeng ragi, dan sayur kikil. (aduh, aku bisa mencium baunya sekarang ini) Sesekali ada yang namanya menjeng. Kayaknya dari kacang kedele yang diapain gitu. Atau sisa ampas apa gitu. Ampas kecap mungkin. Sebenere sangat bau dan tidak memakai bumbu apapun kecuali garam, tapi rasanya waktu itu enak sekali.
Pilihan untuk makan malam adalah makanan yang ala kadarnya sisa yang dimakan siang atau makanan super mewah karena masak nasi goreng, mi rebus atau goreng atau beli di warung. Ini menu-menu yang menyenangkan.
Makanan-makanan selingan banyak sekali. Ada penjual gorengan yang disunggi yang sesekali lewat sore hari. Kadang membawa getuk dibungkus daun pisang. Ada opak kali dengan petis hitam yang amis pedas. Ada cenil panjang-panjang ditambah klepon. dll. dll. Aku bisa meledak sendiri jika ingat makanan-makanan seperti itu. Pengin! Pengin balik ke masa kecil!

Thursday, February 28, 2008

Beri Hormat

Siang ini aku berdiri tegak hormat pada seorang bapak yang datang mengunjungi di kantor. Bapak yang lahir tahun 36 di Yogyakarta. Pak Yitno, dari tahun 74 tinggal di Lampung sebagai transmigran. Janji-janji pemerintah adalah air di dalam tubuhnya yang masih segar walau sudah usur.
"Aku diblenjani. Lihat ini bukti-bukti tanah yang katanya waktu itu diberikan kepada kami." katanya, mewakili belasan orang di daerah Padangcermin, Lampung Tengah. Dia tunjukkan copyan surat dan denah tanah. Tapi kemudian tanah itu rupanya dihaki, dianggap hak dari orang-orang lain suku setempat.
"Aku akan mengusahakan keadilan ini. Tidak, aku tetap memakai cara positif. Aku tidak mau bentrok dengan mereka. Kami ini sama-sama korban pemerintah. Pemerintah yang harus selesaikan demi keadilan kami."
Maka pak Yitno tidak hentinya mendatangi orang-orang pemerintahan. Surat kepada presiden, kepada gubernur, kepada bupati, kepada camat. Dia tunjukkan surat-surat yang menyatakan kehadirannya ditemui oleh wakil pemerintah itu. Dia selalu minta tandatangan di bawah pernyataan singkat setiap ia datang ke sebuah instransi. Walaupun pernyataan dari wakil-wakil pemerintah itu hanya "Sudah datang pada hari ini, pak Suyitno bla bla bla..." Ditutup dengan permintaan,"mohon sabar sedang kami urus". Bertahun-tahun!
"Saya tidak akan ajak teman-teman demo. Tapi saya tidak akan berhenti, Jeng Yuli."
Percakapan tentang tanah 60-an hektar yang sedang diperjuangkannya itu hanyalah salah satu tema.
Sebelumnya bapak ini panjang lebar dengan simpati memuji Nuntius dan melihat manfaatnya bagi pembaca termasuk dia. Disodorkan dua tulisan yang berisikan tanggapan-tanggapannya terhadap beberapa tulisan di Nuntius. Aku berkaca-kaca mendengarnya.
Lalu disodorkan setumpuk lagu-lagu karangannya sendiri yang ditulisnya dalam berbagai musim. Aku membacanya dengan terpana. Lagu-lagu yang dibuat sendiri dengan nuansa Pancasila dan Ketuhanan yang kental. Dia rengeng-rengeng melagukan satu tembang itu, disertai not-not yang dia buat. Astaga!
"Hehehe...lagu-lagu ini sudah diakui pak Camat. Lihat, ini ada tanda tangan persetujuan pak Camat. Aku tidak mau Pancasila hilang dari Indonesia."
Aku pun berdiri tegak di hadapannya. Posisi siap dan menggerakkan tanganku di atas kepala, beri hormat. Untuk Pak Suyitno, pria yang sudah 72 tahun dengan jiwa hidup di dalam raganya.

Cimit

Anak-anak yang bermain petak umpet tiba-tiba diiterupsi seorang anak. "Cimit, cimit! Dia curang. Tidak boleh itu!" Permainan pun terhenti beberapa saat. Perbincangan yang gaduh membahas seberapa besar kecurangan itu terjadi dan seberapa pantas dimaafkan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan permainan dengan lebih enak karena masing-masing tahu aturan main yang harus dijalankan.
Cimit atau dulu jaman kecilku istilah yang dipakai jim, adalah break sebentar di tengah permainan. Boleh diminta oleh peserta permainan itu. Biasanya karena alasan mau interupsi seperti anak di atas tadi, atau ada yang karena pengin pipis, dipanggil tiba-tiba oleh orang tuanya, atau alasan yang nakal, ingin curang. Tapi permainan belum berhenti karena jim atau cimit.
Sekarang setelah dewasa, mungkin gak aku cimit ketika melihat kecurangan? Aku juga seorang pemain di kehidupan ini kan? Cimit yang diakui dan kemudian semua bisa menjadi lebih enak karena tidak dirugikan atau merugikan orang lain.
Atau boleh tidak aku cimit karena kakiku berdarah terlalu banyak lari di atas kerikil? Bukan mau berhenti dari permainan tapi hanya ingin istirahat sebentar di tengah permainan untuk melanjutkannya lagi nanti.
Kalau aku ingin cimit entah dari permainan apapun, apakah ada yang bisa memahaminya?

Tuesday, February 26, 2008

Panitia

Menjadi penyelenggara sebuah acara atau membantu penyelenggaraan acara sudah sering aku kerjakan. Tapi menjadi ketua panitia OC untuk raker tahunan FPBN (Forum Pendamping Buruh Nasional) 11-14 Pebruari 2008 di Wisma Albertus Bandarlampung menjadi pengalaman tersendiri. Pasalnya, aku menemukan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Hanya tim kecil untuk menggarap ini. Empat orang dengan aku.
Yang aku lalui :
- Membuat jobdesk berdasarkan permintaan dari Tim SC. Jobdesk yang detail per seksi. Ketua OC, Kesekretariatan, Perlengkapan dan Transportasi.
- Menghubungi orang-orang yang aku anggap bisa mengerjakannya. Alhasil ada Caecilia, Bejo, dan Median.
- Mengundang mereka untuk rapat koordinasi. Memberi tawaran-tawaran, menjelaskan detail-detail tugas, dan menegaskan bahwa ketika tim sudah jalan semua harus kerjasama.
Hanya itu. Lalu saat raker berlangsung muncul keributan kecil, ketegangan kecil, kepanikan kecil, mendadak, tiba-tiba dan sebagainya yang tak terduga.
Tapi ini tim yang hebat. Terungkap banyak hal saat evaluasi beberapa hari setelah acara. Mereka mendapatkan banyak hal dari kerjasama tim ini. Energi yang terbangun sungguh positif dan siap dikembangkan.
Iya, jangan hanya berhenti untuk urusan teknis macam begini. Masih banyak urusan lain yang harus dikerjakan. Masih banyak hal yang semrawut kok. Jadi jangan bubar!

Pengalaman Kedua

Pengalaman kedua menjadi salah satu tutor dalam Kuperper di Tanjungkarang hadir pada bulan Pebruari ini, tanggal 16 yang lalu. Masih bidang yang sama seperti tahun lalu, tentang komunikasi pasutri. Aku kira para panitia itu memilih kami, aku dan mas Hendro lebih karena mereka melihat aku sebagai redaktur Nuntius. Orang yang bergelut di bidang media, yang dianggap ahli dalam komunikasi. Mereka tentu saja tidak mengenal detail bagaimana bentuk relasi kami sebagai suami istri. Sesekali mereka melihat bahwa kami sering berdua dalam beberapa acara, berempat dalam beberapa acara atau sendiri-sendiri dalam beberapa acara.
Aku pikir sesuatu yang sangat positif. Hasil dari menjadi tutor pada tahun lalu, relasiku dengan mas Hendro terevaluasi dengan sendirinya. Proses menyiapkan makalah, merancang alur perbincangan dan pembagian tugas penyampaian menjadi proses yang menyenangkan bagi kami berdua. Jadi pengalaman itu bisa diulang.
Soal apa yang kami omongin ke para calon suami istri itu masih standar saja. Ambil dari beberapa buku. Tentang pentingnya komunikasi, bahasa komunikasi, mengelola konflik, dan menyadarinya bersama sebagai bentuk komitmen perkawinan. Dibumbui beberapa sharing pengalaman dan tanya jawab.
Yang mengasyikkan adalah kami berdua jadi lebih relaks. Berbicara dengan mereka membuat kami bisa mengoreksi banyak hal. Dan hehehe...betapa kami mendapatkan lebih banyak dari semua para peserta kuperper itu.

Lingkaran Mimpi

lingkaran mimpi merangkum seperti renda di sekitarku
warnanya cemerlang perak berkilauan
detilnya adalah berlian mayapada bertotol-totol
mengikuti galur batik halimun yang sudah sudah tercetak
tersemat beberapa bunga mawar harum aneka rupa
tersemprot wewangian aroma bidadari

beberapa diantara ribuan sayap mimpi bergetar tiap hari
membuat tubuhku lebih ringan beberapa puluh kilo
sesekali kakiku bisa melesat sekian centi di atas tanah
mengawang ringan tanpa beban gravitasi

kepiluan petang ini membuat aku rindu pantai
membuatku muak kenyang dengan santapan dewi
ingin memuntahkan semua dan kembali lapar

aku ingin makan pasir yang dibawa laut dalam ombaknya
aku ingin minum tinta gurita yang pekat dalam perutnya
aku ingin menapak di jeram perbukitan

aku rindu pada luka-luka perih di tungkaiku
aku ingin kembali terluka supaya aku tahu darahku masih ada

kaki membawaku lari menerobos semak belukar
matanya tajam tahu bahwa disana ada banyak duri
yang akan membuatku menjerit bangun
lepas dari lingkaran mimpi

sesekali

Monday, February 25, 2008

Tersesat

aku tersesat di belantara yang sengaja aku datangi
kegelapan mencekam tanpa matahari
terlihat bayang-bayang daun, batang, bunga di sekitarku
terhirup wanginya, terbayang gerakannya
aku tahu ini indah
tak ku lihat warnanya! astaga!

aku berjalan di belantara ini
berpindah dari satu tempat ke tempat lain
meraba-raba dengan seluruh pancaindera

atau
jangan-jangan ini bukan kegelapan?
jangan-jangan aku yang buta?
astaga!

Tuesday, February 12, 2008

Satu Bolu Kukus

Malam pukul 22.00, perjalanan pulang setelah pembukaan Raker FPBN X, dimana aku jadi ketua panitia OC.
Seorang anak kecil, lebih kecil dari anak bungsuku. Berarti belum lagi empat tahun. Kurus tanpa baju bermain di taman pembatas jalan dekat lampu merah Bunderan Gajah, Bandarlampung. Ketika melihat aku empat beranak berhenti karena lampu merah, dia mendekat. Tangannya mengatung menunjuk-nunjuk Bernard, anak bungsuku yang duduk di tengah. "Aku mau itu!" katanya lirih setengah merengek. Aku lihat tangan Bernard menggenggam bolu kukus coklat yang sedang dimakannya pelan-pelan. Ouh!
Kami berempat terbengong, sedetik, dan detik berikutnya Mas Hendro merogoh-rogoh kantong bajunya mencari bolu-bolu kukus yang tadi diambilnya saat makan malam di susteran.
Ketemu satu, diberikan padanya. Detik berikutnya lampu hijau, dan kami harus melaju.
Dua anakku masih terbengong. Aku menangis. Mas Hendro marah.
Dua anakku heran ada anak-anak yang boleh sendirian di pinggir jalan malam-malam seperti itu. (Mereka tidak boleh keluar malam bahkan hanya di depan rumah apalagi sendirian)
Aku sedih ingat di tasku sebenarnya ada jeruk, permen dan kue, tidak kepikiran untuk memberikannya.
Mas Hendro marah pada polisi di seberang jalan. "Matane picek! Ra ngerti nek ono menungso soro neng tengah ndalan! Ra mikir mbantu apa piye! Coba mikir anake."

Wednesday, February 06, 2008

Rabu Abu

Seperti abu tertabur
begitu tidak berharga

aku hanya bersimpuh
dalam mati raga

dengan setitik asa
semua ada gunanya

Tuesday, February 05, 2008

Laron

Semalam aku berdiri di ambang pintu. Hujan baru reda menyisakan rinai dingin. Tiba-tiba ada kerjap kecil dari ujung jalan.

Seperti bunga terbang dengan getaran ringkih melayang. Tepat di ujung fokus mataku, di tepi binar lampu. Kecil, seperti menjalani upacara tertentu mengitari lampu beberapa kali.
Lalu mukjijat terjadi. Laron kedua, keempat, kedelapan, keenambelas, ketigapuluh dua, keenampuluhempat, keseratusduapuluhdelapan, terus berlipat-lipat seperti dilemparkan dari tanah. Membentuk barisan tak teratur dalam ruang pandangan cahaya. Berkelip, berputar. Sebuah irama berbunyi tanpa genderang. Lembut menggesek udara. Penuh tarian melayang. Ahai......
Tari serimpi secepatnya berubah menjadi tari poco-poco dan bergerak menjadi tari runi yang sebentar kemudian jadi breakdance acak. Beberapa sudah saling tabrak. Lalu secara rutin tabrakan menjadi ritme keindahan. Tabrakan yang ngilu karena meruntuhkan satu atau dua sayap, dan puluhan laron terjun anggun, seperti taburan bunga di makam.
Puluhan bertambah, lebih dari puluhan tertabur. Di tanah menjadi ritual lain. Tubuh telanjang tanpa sayap, kehilangan rupa, berendeng solidaritas. Saling mencari dan kemudian bersama melanjutkan perjalanan ngeri. Sebagian besar mati.
Hanya satu dua hidup berdikari, mendirikan istana baru. Bukan lagi sebagai laron. Tapi menjadi ratu penerus generasi.
Hidup hanya beberapa detik, beberapa menit.

Selebihnya aku tutup pintu, meringkuk di bawah sarung, dan tidur.

Monday, February 04, 2008

Persimpangan

Ada sebuah persimpangan yang selalu aku datangi
menjadi ritual pada malam yang terpejam matanya
biasanya aku berangkat dari rumah dengan rambut basah
bunga tujuh rupa dalam pincuk daun pisang
dupa tujuh wangi yang sudah dibakar
kaki tak berkasut dan berkain parang barong

Aku akan berdiri di tengah persimpangan
hangat oleh pusaran alur berbagai cabang
angin menjadi asmaradana masuk ke cerung telinga
harum bunga dan dupa akan memutar aku menjadi gasing
hingga terangkat dari tanah penuh gairah

Seketika itu tangan-tangan jalan menarikku
ke lorongnya masing-masing berbeda rupa
memberikan tawaran madu dan cerutu
memeluk merayu memaksa memerkosa
membetot seluruh urat otot nadiku

Kekuatan adalah saat aku menyodorkan nampan
menampung semua
dan ketika malam membuka mata
matahari akan menjerang
jadi kristal-kristal bening kering berserat

(Suatu ketika,
saat dingin mengejan dan malam tak juga hendak tidur
aku dapat merebus air dengan beberapa butir kristal
meminumnya, untuk obat sakit
bagi perut yang biasanya mulas
jika rindu dendam
pada persimpangan)

Wednesday, January 30, 2008

Ajaib

Banyak hal yang tidak mungkin, tapi telah dan bisa terjadi.
Satu keajaiban ketika suatu hari aku menemukan kembali kotak hartaku yang telah tercecer tanpa aku tahu. Kutemukan kembali juga tanpa aku tahu. Didalamnya ada satu gulungan, dengan tinta hitam.

........

KAMU

setiap ingat wajahmu
tergoda aku mengajakmu
selewengkan jalan yang
telah kautekuni selalu
pilihanmu sulit dipahami
oleh orang-orang
cemburu macam aku
sedang cinta bagimu
bukan sekedar asap
pria dan wanita
ibu dan anak
kakak dan adik
cinta bagimu adalah
puisi dan prosa
cinta bagimu adalah
saat hujan gerimis
ketika mentari bersinar

(1995)

..................

Gulungan itu aku tulis saat melihat sesuatu yang tidak mungkin tapi telah dan bisa terjadi. Menjadi ajaib ketika aku merengkuhnya, menganggapnya sebagai kekayaanku.
Ajaib!!

Yen Mangkel Wis Dadi Udun

Nek ana mangkel, terus dadi udun, apa ae sing diomongke jadi njendol. Ra kena dipenggak, ra kena dicekel. Yen dicekel malah njebrot, lara! Disawang ae uga tambah risih, tambah gedhe!
Kon tau ngrasakke? Dina iki aku sing udunen, loro. Neng utek karo neng ati. Dadi ra iso ngapa-ngapa. Luwih apik meneng ae. Soale apa ae sing metu saka cangkemku bakal salah. Kon ngerti akibate? Geger, jes! Luwih apik meneng ae. Lungguh manis, ambegan ben tetep urip, lan ndonga! Nunggu, mene, dina sing seje!

Monday, January 28, 2008

Soeharto, Presiden RI

Ada masa dimana senyum melingkupi seluruh negeri. Suara Jawa yang ditahan oleh simpul di lekuk bibir, mengungkap maksud dengan hati-hati pelan-pelan seolah penuh pertimbangan. Saat suara itu terdengar, yang ada adalah senyap. Listrik mati mendadak karena tidak ada seorangpun yang mau mendengar radio atau menonton TV. Seluruh saluran menggemakan suaranya. Nada yang sama dari satu masa ke masa.
Yang ada adalah kasak-kusuk di bawah tanah. Bergerombol-gerombol mencangkok akar hingga menggelembung. Yang berani menumbuhkan tunaskan ke atas tanah adalah sia-sia. Bom segala ukuran mengacungkan moncong segala arah.
Tapi Mei 96 semua berbalik arah. Jadi semburat warna. Sayang tidak menjadi lengkung pelangi. Hanya jadi petir dan guntur hingga kini.
Lalu kemarin ada jazad terkapar.
'Doakan jiwanya dan teruskan proses hukum yang diperlukan!"

Thursday, January 24, 2008

Rambu Lalulintas

Tadi ada anak sekolah yang tertabrak entah apa di depan Taman Makam Pahlawan. Aku terjebak dalam kemacetan luar biasa. Yang paling macet adalah otakku. Tercekat!!
Aku tersadar berada di sebuah kota hiruk pikuk yang tidak lagi mengenal rambu-rambu lalu lintas.
Huruf S dicoret dipenuhi kendaraan antre berhenti.
Huruf P dicoret berjam-jam ditongkrongi mobil tanpa pengemudinya.
Lampu kuning tidak laku.
Lampu merah, lihat-lihat. Jika tidak ada polisi berarti tidak apa-apa melintas.
Garis di persimpangan-persimpangan jalan tidak ada artinya.
Garis lurus atau putus-putus tidak terlihat apa-apa.
Pembatas jalan, maksimal berat kendaraan, dilarang lewat, dilarang berputar dll., freketekkk!!!
Beberapa tahun mendatang, rambu-rambu itu akan jadi benda langka tanpa arti. Dicabuti dan diangkut ke gudang markas polisi.
Ah, ya ini rupanya. Polisi-polisi memberikan SIM bukan dengan ujian mengemudi. Maka generasi ini tidak lagi paham bahwa rambu-rambu itu dibuat ada maksudnya. Maka terserah mau nyetir seperti apa asal bisa nunjukin SIM. Terserah mau nabrak nubruk asal bawa SIM. Jika tidak, mari buat perhitungan. Sepuluh ribu, duapuluh ribu, empatpuluh ribu, atau delapanpuluh ribu.

Tuesday, January 22, 2008

Pindang Patin

Tahu tidak makanan di Lampung yang paling enak tapi juga paling mudah dibuat? Namanya pindang patin. Ambil seekor ikan patin, ukuran apapun, yang masih segar. Yang masih bisa menggerakkan ekornya kalau ditaruh di ember air, artinya masih hidup.
Potong-potong, belah kepalanya. Jangan dibuang! Kepala merupakan bagian yang paling lezat jika sudah matang nanti. Bersihkan dan beri kucuran air jeruk nipis. Jika tidak ada, kucurin cuka. Sementara itu, beli bumbu dapur lengkap seribu, ambil segenggam terserah bawang putih dan merah, segenggam cabe merah, segenggam tomat rampai, sejimpit garam.
Masukkan ikan ke panci, atau wajan atau apa saja (pokoke bisa untuk ngerebus, lihat aja di dapur, jangan tanya aku!). Iris segala bumbu yang sudah ada, semuanya iris tipis-tipis. Jangan tanya lagi, pokoke semua bumbu di luar ikan. Carupkan irisan itu dan garam ke ikan, siram segelas air. Rebus sampai mendidih dan ikan matang. Kadang-kadang aku akan ambil ikannya, di taruh di mangkuk yang bagus (yang tidak bagus juga boleh). Saring air kuahnya. Buang segala ampas, dan siram kembali airnya yang sudah jernih ke ikan tadi. Sudah, siap disantap. Pakai nasi pulen yang hangat, makannya pas gerimis, di teras belakang. Jangan makan sendiri, ajak suami atau istri atau orang lain yang ada di rumah, biar tidak ditimpuk sandal.
Cobalah!
Ini salah satu makanan yang enak di Lampung. (Yang bisa aku masak.)
Ada yang bisa mbikinin resep seruit untuk aku?

Bayang-bayang Hitam

Beberapa hari ini aku dikejar bayang-bayang. Hitam, tidak tampak wajahnya. Hanya siluet tubuhnya yang terlihat bergoyang kesana kemari yang bergerak mengikutiku. Saat aku lari, bayang-bayang itu melesat mendekatiku. Aku pelan-pelan, diapun merangkak dekat di punggungku.
Kemarin pundakku kena goloknya! Bengkak, sakit, tak bisa menoleh ke kiri. Galurnya membuat sakit di kepala. Aku terengah di tempat tidurku, tak bisa bernafas. Tidur malah menghadirkan bayang-bayang itu lebih nyata. Dengan seringai taring dan parang panjang berdesing.
Pagi ini aku bangun dengan tertatih. Bekas kerokan di punggung mengakhiri sakit kepalaku. Tapi leherku harus dimanja. Aku sudah bertekat untuk bicara dengan bayang-bayang itu. Supaya dia tidak lagi menggangguku.
Maka aku duduk. Dia duduk di depanku, menunggu.
Aku jelaskan soal gangguannya pada hidupku.
Aku tunjukkan bekas luka-luka di sekujur tubuhku.
Dia mengangguk-angguk tapi goloknya disodokkan di wajahku.
Aku meringis ketika darah masuk ke mulutku asin.
"Apa maumu? Apa urusanmu?" Aku tuding wajahnya yang tanpa indera.
Dia mengangguk-angguk kembali. Membuat memelas dan memaksaku untuk merangkulnya.
Saat aku rangkul bayang-bayang hitam itu, melonjak hatiku karena kesejukan yang disalurkannya. Hilang seluruh lukaku. Maka aku tersenyum dan mendekapnya lebih erat. aku cium wajahnya dan hilang runtuh seluruh duka.
Saat ini aku belajar, untuk berdamai dengan seluruh bayang-bayang yang setiap saat selama aku hidup, mengikuti aku. Aku berdamai dan tidak mau ada luka lagi.

Wednesday, January 16, 2008

Bunting

Beberapa hari ini aku merangkak ke pantai
mengorek pasirnya dan menyusupkan seluruh tubuhku ke sana
perut besarku membunting besar
menekan seluruh sendi dan nadi
terasa kerinyut seluruh saraf menahannya
sakit!!!
lalu satu telur keluar
dua, sepuluh, lima puluh, seratus tigapuluh
tergunduk telur segala rupa segala rasa

pipih badanku melepas lara
lalu kering dan lelah

kembali aku menyeret tubuh ke pantai
ingin merasakan ombak laut ibuku
untuk yang terakhir
sebelum tidur...

Monday, January 07, 2008

Panggilan rindu

ada panggilan rindu kemarin malam
merasuk ke telingaku, yang sudah tertutup menempel bantal
bukan membuatnya tuli tapi malah bantal mengemakannya
beberapa kali
rindu yang menguat setiap kali menyentuh bantal
jadi dimana aku harus tidur?

Wednesday, January 02, 2008

Tahun Baru

Selamat Tahun Baru, teman-teman.
Aku ingat pada 1 Januari 2007, aku menetapkan satu tujuan konyol untuk tahun 2007. Hingga 31 Desember 2007 aku ingin mengisinya dengan 'cantik'. Intinya aku ingin cantik sepanjang tahun. Nah, apa yang terjadi?
Sepanjang tahun ini hampir tiap bulan aku pergi ke salon. Tidak sampai 10 kali creambath. 4 kali potong rambut. Belasan kali cuci rambut. Aku membeli baju 'centil', yang 'cewek banget' menurut ukuranku 3 kali. Dan memakai kaos mepet setiap kesempatan yang memungkinkan. Aku memakai sarung tangan supaya tidak hitam, dan membeli sepatu yang tertutup supaya kakiku mulus. Aku beli pengharum badan yang persis habis di akhir tahun. Lipstik tidak, aku tidak pernah biasa memakainya. Bahkan jika memakainya aku tidak cantik. Lebih baik tidak memakainya.
Aku sangat suka nonton film-film romantis segala umur, mulai film remaja hingga dewasa. Melihat film-film drama macam begitu membuatku punya imajinasi. Aku tidak mau marah-marah yang kelewatan karena marah membuatku tidak cantik. Yach, aku harus menekan emosi jika ada 'kenakalan' yang tidak aku suka.
Aku cantik jika aku tersenyum. Maka aku sering tersenyum, bahkan ketika sendiri, ketika di jalan, di mana saja. Aku tersenyum saat debat diskusi, saat di depan mahasiswa, saat ndengerin bos, saat apa saja.
Persis di pergantian tahun, aku sakit. Aku sudah janjian dengan beberapa keluarga tetangga untuk makan ayam bakar, dan niup terompet bersama anak-anak. Terlewati tanpa ternikmati. Kaki kiriku seperti salah urat, leher dan kepala terasa berat, hidung dan tenggorokan terasa panas, dan perut sangat tidak enak. Setiap ada hentakan ada kejang yang menyodok ulu hati. Aku sakit persis di pergantian tahun.
Tapi aku bisa terbaring melihat diriku sendiri. Aku berusaha cantik dalam tahun ini tapi hingga akhir tahun aku tetap berusaha cantik. Tidak cantik. Yach, aku terima ini.
Kini, awal tahun 2008. Aku ingin menetapkan satu tujuan untuk setahun. Tidak ada pikiran lain selain : aku ingin jadi cerpenis. Aku ingin menulis semua 'senyum' yang sudah aku buat sepanjang tahun 2007. Aku ingin menyebarkannya di semua media. Aku akan jadi cerpenis pada tahun 2008. Haiya...ini pasti gara-gara ikut workshop bersama Yanusa Nugroho dan Zen Hae menjelang Natal kemarin.

Tuesday, December 11, 2007

Romantis

Semalam aku melewatkan malam romantis di dermaga 1 Pelabuhan Bakauheni. Tidak, aku tidak sedang dalam perjalanan kemana-mana. Hanya di dermaga 1 saja tujuanku. Berderet lampu di kejauhan, mengingatkan Panderman dengan lampu natal keabadian. Laut sedang tenang membayangkan banyak pantai di langit tanpa purnama. Berderet lelaki memancing, dan berderet perempuan berdandan. Para lelaki mendapat ikan, dan para perempuan mendapat uang.
Aku duduk di salah satu tikar. Memesan kopi untuk Ucok di sebelahku. Tapi aku tidak minum setegukpun. Aku menikmati wangi perempuan tua cantik berdandan di sampingku. Bahasa kacau yang keluar dari mulutnya membuatku tidak bisa mengerem senyum. Dan berhamburan segala cerita karena senyum itu. Anaknya, rumahnya, pekerjaannya, jemarinya, malam-malamnya, siang-siangnya, jemarinya...
Ucok tak bicara sepatahpun. Heran ada kehidupan yang seperti itu.
Aku hanya tersenyum. Membawanya pada romantismeku. Pada maklumku.
Hingga larut malam. Tengah malam.

Friday, November 30, 2007

Kehilangan

Pagi ini aku kelimpungan terbengong di Pasar Pasir Gintung. Aku tahu lapak-lapak sekitar jalan pasar ini 'dibereskan' oleh dinas terkait. Digusur, diusir,...lalu ditendang, dirampok! Waktu itu aku ikut marah melihat kesemenaan pemerintah yang 'gagah' mengendalikan kota dengan cara 'mengusir'.
Hari ini aku merasakan akibat langsung. Jika kemarin-kemarin rasa marah itu menjadi diskusi sosial panjang lebar dengan siapa saja kelompok apa saja, sekarang rasa marah itu menyentil ruang hati yang mengendap paling bawah. Ruang yang menyimpan seluruh memori masa kecil.
Pasalnya, penjual nasi pecel dari Madiun, yang menjadi langgananku saat kangen rumah Gringging, yang menyediakan nasi pecel di pincuk dengan peyek kacang kedelai dan irisan tipis tempe, dengan bumbu pecel khas Jawa Timur, dengan sayuran hijau ditambah cambah mentah dan daun kemangi, hilang!!! Lapaknya rata tidak ada lagi. Yang ada hamparan tikar dan plastik penjual lombok, tempe dan bumbu dapur di lokasi itu. Aku berputar-putar sepanjang pasar dan tidak kutemukan ibu itu.
Laparku hilang keluar lewat keringat dan baju yang basah kuyup di pagi belum ada jam 7. Aku kebingungan di tengah pasar. Sedih dan marah.
Ya ampun. Aku keluar pasar dengan rasa kehilangan. Kehilangan sarana penghubung. Dimana aku bisa mencari nasi pecel yang bisa membawa aku ke ruang waktu di Gringging, Sembak, waktu aku masih kanak-kanak tanpa mikir masalah apapun? Entahlah, aku rupanya tetap akan butuh memory kanak-kanakku seperti itu.

Monday, November 26, 2007

Surat Cinta

Pagi ini aku dapat surat cinta dari kayu cemara. Setetes embunnya cemerlang mengenai ujung bulu mataku. Ada keindahan yang tiba-tiba membayang di bukitku yang ramai. Ya, pagiku selalu ramai dengan anak-anak sehingga kadang-kadang aku lupa bagaimana rasa hening di sudut bukit, di bawah pohon cemara, di ujung kerling matahari pagi.
Saat aku mengedip, embun itu jatuh di pipi. Berkas pagi yang selalu gatal mengganggu orang menyapa riang,"Hei, mengapa menangis?" Padahal dia tahu persis aku tidak sedang menangis. Toh embun itu juga sahabatnya.
Gerakan tanganku malah membasuhkan seluruh embun di wajahku. Basah seluruhnya oleh embun. Dan berkas pagi tertawa terbahak-bahak. Aku ikut tertawa. "Hening dalam tawa. Hahaha... ini lucu!" ujarku sambil menepuk pundak berkas pagi yang tak jemu bermuka riang. Saat berkas pagi harus pergi, hening dalam tawa di masukkan kantong di dekat jendela. "Bisa kau ambil sewaktu-waktu," katanya.
Aku lambaikan tanganku lewat jendela, memandangnya melintasi bukit dan ujung-ujung cemara. Aku mendesis di antara jemariku,"Terimakasih..."

Benang Kusut

Tiap bulan selalu ada saat dimana benang kusut yang besar ada di depan hidungku. Baunya bisa bermacam-macam. Yang jelas akan mengentak adrenalin dan mencipta mimpi-mimpi yang melelahkan. Dari pengalaman, selalu benang kusut itu akan dapat terurai. Dengan syarat mau mengurainya sedikit demi sedikit dengan telaten. Dan akan selalu ada benang kusut baru ketika benang yang lama sudah indah tergulung.
Akhir-akhir ini aku justru menikmati adanya benang kusut. Bahkan jika tidak kutemukan di ruang-ruang yang biasa aku tandangi, aku akan menyempatkan diri mengembara di ruang-ruang lain yang belum terjamah sehingga aku menemukan benang-benang aneka rupa yang bisa aku urai.
Kepuasan bukan hanya pada saat gulungan-gulungan tercipta. Kepuasan muncul saat tanganku menarik atau mengulur benang. Kadang-kadang ada simpul yang membutuhkan waktu lama untuk mengurainya. Biasanya akan ada seseorang yang ikut membantu dengan sukarela atau terpaksa, menyumbangkan tangan atau jarumnya. Kadang hanya sendirian aku bersimbahpeluh, karena bagi orang lain benang kusut yang sedang aku urai ini hanya buang-buang waktu.
Sesekali memang aku akan ambil jalan pintas. Memotong simpul dengan gunting yang ada di laci hatiku, lalu membuat simpul baru untuk menyambung benang. Harus dilakukan dengan hati-hati, supaya darah tidak menyembur dari benang maupun dari jariku. (Ini rahasia kita, kadang benang-benang punya darah di dalam selnya.) Memotong simpul lalu menyambung lagi selalu menimbulkan bekas, jadi ini langkah yang paling terpaksa.
Tentu saja akan sangat puas jika gulungan benang warna-warni bisa terbuat. Aku tersenyum lega di akhir tugas itu. Biasanya aku juga selalu tertarik memainkannya di tanganku, melempar dan mengelindingkannya ke mana aku ingin. Akan ada benang kusut lagi pada gulungan yang sama.
Ini biasa terjadi.

Monday, November 19, 2007

Bangun Kesiangan

Jaman hidup masih sendiri, di kamar kost, di kamar rumah Gringging atau dimana saja, bangun siang adalah kenikmatan. Molet panjang sambil tetap berbaring bermalasan. Jam 8, 9, 10 atau bahkan lebih tetaplah jam bangun pagi. Walau matahari sudah penuh panas di atas kepala. Selebihnya lapar dominan akan mengusik untuk jalan ke dapur, kamar mandi lalu bergegas ke warung, atau justru duduk ngelosor di ruang tamu membaca koran. Yang terakhir ini pasti terjadi jika rupanya isi dompet tidak memungkinkan. Baca koran kan bisa kenyang perut (atau mual hingga gak nafsu makan), khususe halaman 3 dan seterusnya (yang isi kriminal!)
Nah ketika sekarang ini bangun kesiangan, amboi! Mesti cepat meloncat, mandi (jika suami tersayang sudah masak nasi. Jika belum ya masak nasi secepat kilat, baru mandi), teriak sana-sini supaya Abet bangun. (Bapake yang mandiin dan nyiapin baju) Cepat membuat susu untuk anak-anak, sesegera mungkin menyiapkan semua untuk berangkat. Lalu ngebut nganter Abet ke sekolah. Pasti macet. Usai cium pipi kanan kiri, salaman, dan Abet lari ke halaman dalam sekolah, aku langsung memutar motor. Terlambat dikit, satpam akan menutup gerbang depan sehingga motor harus lewat jalan di samping gerbang, yang susah bagiku karena naik, berbelok dan sempit. Akan kena macet lagi, tapi begitu sampe di kantor, jam 7, semua akan luruh. Akan lapar tapi akan sangat tenang. Dan di depan komputer aku bisa sarapan. Sarapan sungguhan sambil makan lontong sayur, uduk atau apa saja yang bisa dimakan. Bisa juga sarapan tidak sungguhan melalap segala surat email dan berita di mirifica, detik, kompas atau mana saja. Sambil nunggu jam minum 10.00 untuk nebeng nyomot snack di sekretariat keuskupan.

Saturday, November 17, 2007

kumuh

Aku melewati pasar Bambu Kuning setiap kali. Beberapa hari terakhir ini sedang dibangun pagar pembatas jalan. Aku tahu maksudnya, biar tertib, rapi. Pembangunan ini menyertai penggusuran pedagang di sekitar ruas jalan dan tempat parkir.
Tapi, jalan ini adalah jalan pasar tradisional. Bapak-bapak, ibu-ibu, dapatkah anda sekalian membayangkan bagaimana becak, gerobak sayur, (pejalan kaki bisa lewat jembatan penyeberang), gerobak pedagang dan para penjual angkring ketika akan menyeberang jalan ini? Bisa dibayangkan akan lebih semrawut kota ini karena para 'pengais rejeki' itu akan mengambil jalan yang terdekat terserah mau searah atau berlawanan arah dengan arus lalu lintas.
Kenapa hal ini tidak dipikirkan? Tata kota tanpa memikirkan para 'bawah' ini sama juga menciptakan neraka. Pasti akan lebih kumuh. Coba kebutuhan-kebutuhan mereka yang pertama dirancang. Yakin, kota Tanjungkarang ini akan rapi tertib. Dan manusiawi.

Monday, November 12, 2007

Gundul

Mataku mengalir melihat tungkal pohon
tersisa di batas median jalan
gundul tanpa batang dan daun
antara rumah sakit hingga tengah kota

dadaku sesak membayangkan
gersang dan panas kekurangan O2 saat aku berjalan melintasi
jalan-jalan di kota tanjungkarang

aku akan rindu kesejukannya
aku akan rindu harum bunga kuning oranye
yang jika berguguran daunnya pun
menghamparkan permadani jalan ini khusus untukku
menyambutku semata

mataku mengalir
kesedihan
di saat yang sama kekecewaan
karena membayangkan orang-orang seperti apa
yang menjadi pengambil keputusan di kota ini
orang-orang yang tidak peduli pada kehidupan
adalah orang-orang penebar kematian
mengubah pepohonan menjadi ketertiban
mengubah kesejukan menjadi keramaian
dan semuanya menjadi keserakahan

aku sedih

Monday, November 05, 2007

malam takbir

Ingat bagaimana aku menghabiskan malam takbiran. Malam takbir tahun ini dengan terpaksa aku ngadain rapat sama Tim Kerja Nuntius. Tidak ada waktu lain setelah itu untuk ngumpul bersama karena agenda lebaran dll masing-masing pribadi. Rapatnya sendiri tidak ada masalah, ok diadakan pada persis malam takbiran. Ruangan AC Nuntius membungkus diri. Selesai jam 21.00 tet.
Dengan Mio-ku aku keluar kantor dengan kelegaan. Tidak lama, rasa lega karena beresnya satu agenda kerja berganti dengan kaget melihat jalan Sudirman, penuh sesak dengan motor dan truk yang penuh orang, hingar bingar. Astaga, aku lupa sama sekali kalau setiap malam takbir orang-orang akan keluar rumah untuk meneriakkan gema kemenangan.
Rasa capek sudah menggeliat di badanku karena dari jam 7 pagi aku belum pulang bahkan belum istirahat, ngejar deadline Nuntius ditambah rapat yang berat karena banyak PR belum tergarap. Tanganku kaku di setir Mio. Tidak bisa jalan. Merayap, sangat padat, bahkan berhenti dan sangat bising. Truk-truk penuh orang membawa tambur, bedug dan pengeras suara. Paduan suara Allahuakbar dari ujung ke ujung. Beberapa truk nekat membawa tape rekorder dengan musik-musik islami di setel kenceng. Aku merasa seperti kesasar di tempat asing. Bukan di Indonesia, bukan di Lampung bahkan juga bukan di Jalan Sudirman.
Rasa jengkelku aku tekan sekuatnya. Rencana untuk cari jalan alternatif aku tekan. Biarlah aku nikmati suasana ini. Dan rupanya jalur pulangku persis merupakan jalur yang dipakai oleh 'para pemenang' itu untuk berparade. Polisi-polisi memasang tali pembatas di tiap persimpangan sehingga konvoi itu lurus melewati Sudirman, Kartini, Teuku Umar, Pagar Alam tidak bisa belok kemana-mana. Belokan tunggal di Ki Maja, jalan dua jalur yang longgar menuju GOR Way Halim.
Aku terjebak dalam arak-arakan ini lebih dari satu jam! Satu jam lebih terlempar di negeri antah berantah yang aneh. Lebih aneh ketika gema Allahuakbar lambat laun menghilang diganti teriakan dan suara lain yang entah apa. Bedug dan tambur hilang di ganti bunyi petasan dan kembang api. Jilbab dan surban diganti pasangan-pasangan 'mumpung boleh keluar malam' berangkulan di sepeda motor. Gema kemenangan diganti teriakan umpatan karena badan atau kendaraan saling menyenggol. Dan lampu mati (PLN nakal lagi main-main). Aku terbawa arus ini dengan dandanan paling lengkap. Berjaket helm sarung tangan sepatu. Tidak mengerti mengapa aku ada di situ.

Tuesday, October 30, 2007

Yang Terlewat

Awal bekerja kembali. Selama lebaran hingga hari ini tidak ada aktifitas 'ngantor'. Yang ada adalah 'ngrumah'. Artinya hanya di rumah, bersama anak-anak dan suami. Disertai kesibukan tidak henti antara kamar, kamar mandi, dapur, halaman depan belakang, tukang sayur. Bener-bener jadi orang rumahan selama 3 minggu. Hari-hari yang hebat. Walau ternyata ketika aku cermati lagi banyak yang terlewat. Satu contoh agenda yang ingin aku kerjakan dalam masa yang lama itu adalah target membuat dua cerpen. Tidak kesampean. Yang ada adalah draft cerpen tak selesai. Menulis satu untuk Pilar itu pun pesanan. Tentang Perempuan Pekerja di Indonesia. Selesai terengah-engah pada titik hari akhir cutiku.
Astaga! Aku bayangkan andaikata sepanjang tahun aku hanya di rumah mengurus dapur kasur sumur dan pupur, apakah aku akan sempat mengerjakan sesuatu? Apakah aku akan sempat membuat 'karya'? Bagaimana para ibu hebat itu bisa melakukan seumur hidup mereka? Apakah aku akan puas dengan hidupku? Aku salut dengan para perempuan yang mengabdi karya dalam keluarga. Merekalah pahlawan.
Aku terlalu liar jika hanya untuk rumah. Tidak akan bisa hidup dalam arti sebenarnya. Jendela hidupku sudah terlanjur menerbangkan mata dan rasa mencapai pelosok-pelosok merdeka. Kakiku selalu mengajak mengarungi padang-padang di seberang.
Ah ya. Aku tidak bisa bilang anak-anak dan suamiku adalah batasanku. Tidak mau. Karena saat aku kembali kerja di kantor hari ini, aku bersyukur gembira bahwa aku punya kesempatan hidup bersama mereka. Matahari-matahari kecil yang penuh warna.

Saturday, October 06, 2007

Mutun Beach

Entah mengapa Mutun yang indah jadi gersang di hatiku. Orang-orang di sekitarku pun kehilanganan pendar spontan indahnya. Tapi menikmati gelora ombak yang besar dengan perahu nelayan, di ujung depan aku duduk, dengan air asin sesekali menerpa wajah, membayangkan doa di benak orang-orang itu karena ketakutan, aku jadi merasa begitu kuat.

Monday, September 24, 2007

Pantai Blebuk


Pantai Blebuk terletak di Bakauheni. Tidak sampai satu jam perjalanan dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, naik ojek atau mobil pribadi. Jalan sangat jelek tapi menawarkan pemandangan hijau berliku yang bervariasi : kebun pisang, kelapa, perkampungan, sawah, samar-samar laut. Pantainya sendiri masih perawan. Ada deretan potongan-potongan karang yang terhampar jadi benteng antara laut dan pantai berpasir putih. Aku dan Bernard berdiri di sana di kelilingi air, beberapa meter dari pantai. Lihat, ada burung besar melayang di atas! Dan para nelayan yang baru pulang melaut di ujung pantai sebelah sana itu mendapatkan banyak ikan karena bulan belum purnama.

Sunday, September 16, 2007

Ruang Rindu

(Punya Letto)


di daun yang ikut, mengalir lembut
terbawa sungaiku ujung mata
dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada


jalanku hampa dan kusentuh dia
terasa hangat o di dalam hati
kupegang erat dan kuhalangi waktu
tak urung jua kulihatnya pergi


tak pernah ku ragu dan selalu kuingat
kerlingan matamu dan sentuhan hangat
ku saat itu takut mencari makna
tumbuhkan rasa yang sesakkan dada


kau datang dan pergi o begitu saja
semua kutrima apa adanya
mata terpejam dan hati menggumam
di ruang rindu kita bertemu

Monday, September 10, 2007

Petani Latihan Jurnalistik

21 petani dan penggeraknya berlatih tekun selama 2 hari 7-8 September lalu. Bukan latihan tentang pertanian, tapi jurnalistik. Aku mendampingi n memandu mereka, tercengang-cengang melihat semangat para bapak dan ibu itu. Acaranya sendiri diadakan oleh Lembaga Karya Bakti (LKB), n Mas Yudo meminta aku n Nuntius yang memberikan materi. Tidak banyak ngomong, aku buat satu buku kecil panduan jurnalistik. Peserta datang langsung nulis. Bahkan ketika harus keluyuran, heboh. Mereka serius deg-degan dan wawancara tukang cendol, tukang parkir dsb. Saat menceritakan pengalaman itu lebih heboh lagi.
Karena mereka berniat memantapkan jaringan dan LKB sepertinya memang menargetkan membuat majalah bagi jaringan ini, proses aku arahin untuk pengelolaan sebuah majalah alternatif bagi komunitas terbatas. Hasil akhir kerja mereka dalam kelompok lebih membuatku takjub. Masing-masing kelompok bisa membuat sebuah majalah 'boongan' dengan nama yang aku minta benar-benar berangkat dari situasi konkret jaringan mereka, motto, rubrik, hingga lau out. Calon majalah itu benar-benar mereka buat serius dengan gambar, foto dsb. Hebat! Aku menutupnya dengan :
"Kita saat ini ada di pinggiran sungai. Berniat memetik dan makan buah di hutan sejuk seberang sana. Kita sudah mengadakan pemanasan, seterusnya...terserah anda. Mau terjun berenang ke seberang, atau karena capek duduk-duduk dulu? Kalau ketiduran, ya selamat mimpi terus. Semua terserah anda."
Lalu aku serahkan ke panitia untuk pembahasan tindak lanjut. Bagiku, walau tidur minim, raga, jiwa, otak dan hati terasa sangat segar dan penuh gairah.

Saturday, September 01, 2007

Ngeteng Slipi - Rajabasa

Pulang dari Pelatihan Kampanye di Wisma PKBI 25 - 27 Agustus, aku pulang 'ngeteng'. Naik mobil sambung-sambung. Lama sekali aku tidak melakukan ini dalam perjalanan yang agak jauh. Biasanya travel atau bis menjadi pilihan. Lebih nyaman, lebih aman. Terlebih jika bersama anak-anak. Tapi perjalanan untuk pelatihan ini sudah dipenuhi romantisme sejak dari berangkat. (Aku berangkat naik Sriwijaya Air, 30 menit sudah tiba di Sukarno-Hatta)

Menikmati lagi perjalanan seperti itu membuat pikiranku jadi mengembara kemana-mana. Berangkat dari rumah Yeni jam 4.30 sangat segar. Diantar Windra ke Slipi. Bis AC Prima Jasa sangat nyaman. Aku gak mau naik bis biasa dengan harapan sepagi mungkin tiba di Merak. Di Cilegon sempat deg-degan liat antrean panjang truk, dan bis yang aku tumpangi terjebak di tengah-tengahku. Pikirku, wah kualat deh aku sama Mas Hendro. Dari kemarin dia sudah mengingatkan kalau perjalanan laut Sunda lagi gak beres. Tapi aku gak percaya-percaya amat. Bantuan seorang petugas membuat bis bisa lepas dari jepitan truk dan keluar tol Cilegon Barat. Untung bis berhenti di SPBU. Aku yang sudah kebelet langsung loncat turun. "Cepetan ya Mbak!" Kondektur yang lagi ngecek bensin mengingatkan. Aku lari cepat ke toilet. Keluarnya, astaga, bis itu sudah jalan. Lebih cepat lagi aku lari, dibantuin orang-orang neriakin bis supaya aku tidak ditinggal. Lha tas ranselku ada di sana. Dan semua barang di dalamnya! Kantongku cuma ada beberapa receh dan HP. Ih, pak sopir cuma senyum doang.

15 ribu untuk pelayanan bis ini hingga Merak. Merak sangat tenang. Tapi gak ada kapal cepat. Jadi aku beli tiket 9 ribu untuk ferry, kelas ekonomi. Kapal sangat sepi. Bagian lampung dipenuhi mobil berdesakan, tapi penumpang sepi. Merdeka aku menikmati 'Mencintai Che" tanpa gangguan berarti. Juga sarapan pagi nasi sambel tumpang yang dibungkusin Yeni. Nasi, sambel tumpang, peyek, tahu goreng, gori rebus. Lengkap! Na, Yeni nambahin telur ceplok. Turun deh sebentar seleraku. Nasi tumpang mah gak cocok sama telur ceplok, Heng! Biar gizinya lengkap ya? Tapi telur itu yang pertama masuk perutku. Setelahnya, ehm bau sambel tumpang n pasti rasa yang lezat. Makan sampai licin tandas sampai lupa lihat sekitar ada orang yang ngiler atau gak mencium bau tempe bosok diolah pakai santan yang pasti sangat menyengat baunya.

Sesekali saja penjual tahu goreng, es, kripik hilir mudik. Terakhir si penjual es mancing obrolan. Aku tidak mood sama sekali. Tapi kasihan lihat matanya yang bosan, aku meladeni perbincangan ngalor ngidulnya. "Bosan, berbulan-bulan kerja seperti ini. Walau jurusan Merak - Bakau, aku tidak pernah menginjakkan kaki di Lampung. Kapal hanya ngedok 30 menit, langsung balik. Begitu terus. Dagangan ini sudah ada yang mengantar, jadi aku tidak perlu turun. Paling nanti pas lebaran pulang kampung. Seminggu di darat, kalau masih mau ngelanjutin kontrak, ke kapal lagi. Gak bisa sembarangan orang jualan di kapal ini. Yang pakai seragam ini yang boleh. (dia menunjuk baju hijau muda yang dikenakan). Hasil lumayan. Bisa dapat 100 ribu sehari. Dipotong makan, ah mahal sekali makan sekarang ini sekitar 10 ribu. Tiga kali sudah berapa. Belum jajan, minum, rokok. Tidur enak, tiap malam di ruang itu (dia menunjuk satu pojok berpintu). Ada 10 orang pedagang seperti aku di kapal ini. Bosen."

Dia cerita bahwa dia pernah kerja di pabrik, diphk.

Aku mengakhiri perbincangan ini setelah kapal pasang posisi untuk berlabuh. "Mari, sampai ketemu lagi." Senyumku dibalas senyumnya yang tulus. Aku rasa hormat ada dalam kepalaku dan dalam kepalanya.

Bis Bakauheni - Rajabasa sangat payah. 20 ribu ditarik dengan buru-buru tapi bis maju mundur dulu lebih dari setengah jam sebelum berangkat. Dan bis AC ini penuh sungguh-sungguh penuh. Dengan kursi tambahan di tengah. Dan penumpangnya mau! Aduh! Kakiku gak bisa lurus padahal aku sudah milih tempat depan. Soalnya ada kursi tambahan lagi di dekat pintu persis mepet kursi yang aku duduki. Mencintai Che tidak lagi meninggalkan bekas diganti penuh sesak ini. Turun di perempatan Damri, beli nasi padang. Pasti di rumah hanya ada nasi, sedang aku ingin makan lagi. Naik ojek 5000, tiba di rumah yang sepi. Kemana anak-anak? Wawak dari rumah sebelah tergopoh-gopoh. "Abet Benad ke Dira. Ulang tahun." Yach...

Friday, August 24, 2007

AKU


aku adalah bayi
yang menyusu
gelenyar riak ombak
di puting subur pantai

Naik Pesawat

Waktu aku masih kecil, pesawat adalah sebuah mimpi. Dia itu seperti salah satu benda langit yang bisa dilihat namun tidak bisa dipegang. Semacam bulan, bintang, awan, matahari, pelangi. Kalau sebuah pesawat terlihat dengan gemuruhnya, aku dan juga banyak orang lain akan keluar rumah, menyorakinya. Juga melontarkan banyak keinginan :"Njaluk duite!!!"
Ketika aku sudah gedhe, aku bilang pesawat itu sebuah bentuk 'borjuis'. Ketidakadilan! Seumur-umur aku tidak akan bisa menaikinya, dan sebagian kecil orang bisa naik berkali-kali. Pesawat adalah kesenjangan antara miskin dan kaya. Pokoke, kalau kalau bisa naik pesawat itulah orang kaya, sedang yang gak bisa naik pesawat itulah orang miskin.
Kini, saat aku menjadi ibu, rupa-rupanya aku sudah mengenalkan pesawat sebagai benda nyata pada anak-anakku. Kira-kira dua tahun lalu ketika Albert naik pesawat pertama kali, yang pertama dia lakukan adalah terus melihat ke jendela. Beberapa saat ketika pesawat sudah di ketinggian jelajah, agak tenang, dia tanya :"Bu, Tuhan ada dimana? Katanya ada di atas langit?"
Aku terbelalak tidak nyangka pertanyaan itu akan muncul. Untung dia terlalu asyik dengan pemandangan awan, sehingga jawabanku tidak terlalu penting saat itu. (Aku tahu dia masih memikirkannya, karena beberapa bulan kemudian dia menanyakan hal itu lagi.)
Bernard, anak keduaku, lebih kecil lagi saat naik pesawat dari Jakarta ke Lampung. Sampai sekarang dia selalu bilang bahwa dia pernah naik pesawat, tapi dia menandaskan ke semua orang bahwa pesawat itu tidak terbang. "Gak, gak terbang. Pesawatnya jalan!"
Nah, aku sendiri beberapa kali naik pesawat selalu menjadi 'pendoa'. Doa yang tak putus dari sebelum naik hingga mendarat lagi. Itu situasi kontrak mati, yang hanya bisa diatasi oleh Gusti. Seram. Aku hanya lakukan jika dibayari dan jika waktu sangat berarti!!

Thursday, August 23, 2007

kubunuh kau tuhan!!

kubunuh kau tuhan!!
yang sudah melemparkan api dalam dada terbatas ini
baranya menyengat, bukan aku ragawi
tapi membakar seluruh naluri
mengerinyut mengejang hingga tak lagi rasa
selain bakaran cinta, dan hasrat

kubunuh kau tuhan!!
jika aturan pembatas ini kau yang ciptakan
kubunuh kau tuhan!!j
ika kau syaratkan aku harus mengatur cinta
.....

Aku tulis puisi ini spontan bersumber dari banyak kata yang sudah aku baca hari ini. Gara-gara Niko lewat milist cerita dengan mengutip lengkap surat dari Lan Fang, seorang penulis. Surat ini ditujukan sebagai protes untuk Pikiran Rakyat. Aku cuplik sedikit surat itu dengan tambahan dalam kurung dariku sendiri :
......
MALAIKAT (Ditulis oleh Syaeful Badar)
Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai mahluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu maut
Ke saban penjuru.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) cabang Bandung merasa “ternganggu” dengan dimuatnya puisi ini (dimuat di Pikiran Rakyat) karena memiliki tafsir yang berbeda. Dan dari sisi keimanan, DDII menganggap bahwa puisi ini “berbahaya” karena meremehkan/melecehkan esensi malaikat sebagai sesuatu yang selama ini kita sepakati bersama sebagai sesuatu yang suci. Sehingga membuat teguran keras kepada Pikiran Rakyat yang berefek Bpk. Rahim Asyik (yang mengasuk rubrik Khazanah) diberhentikan dari Pikiran Rakyat.
....

Ah, sedih berurai air mata aku di pojokan sini. Puisi! Bahkan ruang paling pribadi ini mau diotak-atik. Puisi menurutku tidak harus pakai agama, tidak mesti pakai etika atau logika. Puisi, itulah ruang dimana keliaran bisa hidup. Puisi, itu hak asasi. Puisi, deretan yang setiap manusia boleh pilih mau pakai huruf atau kata yang mana dan disusun bagaimana. Jika ada yang salah menafsirkan sebuah puisi, bukan pembuat puisi itu yang salah. Puisi mendapatkan kedalamannya hanya oleh sang pembuat. Orang lain gak usah mikir deh. Cukup rasakan! Siapa tahu bisa belajar dari sana!

Lesbi

Lesbi atau lesbian. Tema ini jarang sekali masuk dalam tema perbincangan (ku) sehari-hari. 4 -5 hari ini mengherankan, kata ini terus menerus mengusik. Aku berpikir tentang lesbi. Tentang X dan X.
Aku pengagum perempuan. Jika aku berbincang dengan seorang perempuan, aku pasti menemukan titik kecantikannya. Siapapun dia, tua atau muda, tidur atau bekerja, diam atau berbicara, tertawa atau menangis. Beberapa mempunyai porsi kecantikan yang lebih, seperti ketika aku bertemu Magdeline tadi pagi. Dia ini biarawati, dengan postur peragawati, wajah foto model. Senyumnya yang merebak mempertegas garis kecantikannya. Tapi aku juga melihat kecantikan ketika tawar menawar dengan Bik Darmi, bibi penjual sayur keliling. Tubuh gembrotnya, dengan mulut mecucu mempertahankan 6500 rupiah harga setengah kilo ikan selar, terlihat cantik dalam matahari pagi.
Aku jarang mengagumi laki-laki. Dulu aku sebut : satu-satunya kelebihan lelaki adalah bahwa dia, mereka bisa kencing di sembarang tempat. Tidak ada kelebihan lainnya. Puhh...
Idola pernah ada, misal Lupus, aku idolakan ketika aku remaja. Ketika sadar Pri pacar pertamaku tidak mirip Lupus, aku putusin dia. Sin lebih mirip, tapi polahnya tidak. Maka aku diputusin. Hehehe... Dekade berikutnya aku mengidolakan Iwan Fals. Maka aku jatuh kepayang pada Opi, yang rambutnya mirip Iwan. Ketika rambutnya digundul, ya... putus dong. Wong cuma mau mainan rambut doang. Lalu untung aku juga mengidolakan Yesus. Maka aku berani ambil keputusan soal Hendro sebagai suami, sehidup semati. Bukan karena dia mirip Yesus. Tapi karena aku yang mau seperti Yesus. (Heih, mimpi!) Aku pikir-pikir mereka yang pernah aku idolakan adalah lelaki berambut panjang, dengan raut yang lembut. Ciri yang juga dipunyai perempuan kebanyakan.
Aku yakini aku bukan lesbi. Aku merasakan kepenuhan hati, jiwa dan raga bersama Hendro. Apakah aku juga lesbi? Jika dikatakan lesbi adalah orientasi seksualnya, maka aku pasti bukan lesbi. Tapi orientasi cintaku tidak pernah melihat jenis kelamin. Maka, karena aku mengagumi perempuan lebih banyak, maka aku mencintai perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Melihat perempuan sama dengan melihat diriku sendiri.
Apakah lesbi itu ada di setiap perempuan? Aku tidak yakin. Juga kalau aku ditanya apakah aku pernah lesbi. Apakah lesbi ini kata sifat yang bisa berubah menurut masa? Apakah aku bisa menjadi lesbi ketika aku mencintai perempuan? Apakah kalau menjadi lesbi maka bukan lagi perempuan, atau menjadi selalu perempuan?
Jika aku melihat X dan X, aku tidak melihat ketidakwajaran. Mereka manusia yang berkualitas dengan level yang tinggi. Mereka juga membantu banyak orang untuk mengembangkan diri. Mereka tidak egois. Dan mereka menyebut penuh percaya diri :"Aku lesbi!"

Friday, August 10, 2007

Pagi cerah, tidak gerimis dan hujan. Salut pada pak polisi yang memakai tubuhnya sebagai tameng bagi anak-anak sekolah yang terburu-buru tidak mau telat masuk kelas. Mereka stop kendaraan supaya anak-anak itu bisa menyeberang.
Sayang aku belum menemukan hal lain selain itu untuk hormat tegak padamu, polisi.
(Bahkan jika pagi gerimis, mereka tidak tampak!)

Saturday, August 04, 2007

jangan kuatir

toh kita melihat bulan yang sama
walau di sisi bumi manapun kita berada
toh kita hirup udara yang tidak tersekat
walau di ruang yang berbeda

Friday, August 03, 2007

matahari yang sama

pun akan redup atau memanggang
sesuai dengan posisinya
dimana

pun akan indah atau garang
sesuai dengan waktunya
kapan
Menengok Petani Gurem di Podorejo

Petani di Desa Podorejo, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Tanggamus, Lampung mendapatkan 1 ton gabah dari seperempat hektar tanah yang diolah. Digarap selama 4 bulan, 1 ton gabah itu setara dengan 2,350 juta rupiah. Selama penggarapan mereka membutuhkan 2 kilo benih jenis unggul seharga 80 ribu rupiah, 120 ribu sewa traktor, 50 ribu untuk menanam padi, 75 ribu obat basmi rumput, 50 ribu insektisida. Ini belum termasuk sewa penyedot air 6000 rupiah dan bahan bakar 5000 rupiah perjam dari Sungai Way Sekampung jika masa tanpa hujan seperti sekarang ini.
Menghitung bersama Joko seorang petani di sana, jika petani mempunyai tanah seperempat hektar hanya mendapatkan sekitar 250 rupiah tiap bulannya, setelah dipotong segala biaya itu. Padahal lebih banyak petani yang tidak punya lahan. Menggarap tanah orang lain hanya mendapatkan separoh dari hasil itu.
Bagaimana mereka bisa hidup dengan uang itu bersama istri dan anak-anak? Joko bersama 13 petani lain mengelola lumbung paceklik, atau akhir-akhir ini disebut juga sebagai lumbung sosial. Keberadaan lumbung ini dirasakan manfaatnya oleh lebih dari 50 keluarga petani lainnya yang ada di Pekon (desa) Podorejo.
”Lumbung ini dibuat oleh generasi bapak-bapak kami pada tahun 1980-an. Mulanya hanya untuk menampung sisa hasil panen yang melimpah, untuk kemudian dipakai di masa paceklik, saat kemarau panjang,” jelas Joko.
Joko menjadi pengurus lumbung sejak tahun 1997. Lumbung yang semula ala kadarnya, direhap sehingga lebih mendekati standar untuk mempertahankan mutu gabah. Lumbung dibangun dengan kapasitas 20 ton terbuat dari bambu dengan lapisan terpal di bagian dalamnya. Dengan sistem bangunan tertentu, gabah bisa tahan lebih dari satu musim (6 bulan) jika disimpan di sini.
Pada awal tahun ini ketika membongkar lumbung, 13 anggota masing-masing bisa meminjam 200 kilogram gabah dan 70 petani lain yang bukan anggota bisa meminjam antara 50 – 200 kilogram. Mereka akan mengembalikan gabah itu pada masa panen dengan tambahan ’nilai susut’ sebanyak 15 kilogram per kwintalnya. Tambahan dari angka inilah lumbung itu bisa berkembang. Bahkan tiap panen bisa menyisihkan 100 kilogram dipakai untuk keperluan sosial antar mereka.
Joko lalu menceritakan bagaimana ramainya orang datang ke lumbung, yang kebetulan terletak dekat rumahnya, saat ’bukaan lumbung’. Beberapa tahun terakhir ini bahkan pengurus lumbung, menerapkan nomor antrean supaya mereka tidak berdesakan. Jika gagal panen, petani yang sudah mengambil gabah dari lumbung ini dapat mengembalikannya pada musim panen yang berikutnya, tanpa ada bunga atau biaya tambahan. Semua bermodal pada rasa percaya antar mereka.
Selasa (31/7) lalu waktunya bagi Joko untuk ’nyedot’ air dari Way Sekampung. Mesin sedot yang disewa sangat berat untuk ukuran tubuh Joko. Maka begitu turun ke sawah, spontan beberapa bapak yang sedang bekerja di sawah yang berdekatan petaknya, datang membantu Joko mengangkut mesin sedot di dekat sungai dan membantunya memasang hingga air mengalir ke petak sawahnya. Hujan yang beberapa minggu tidak turun membuat para petani hanya bisa mengandalkan mesin sedot air sewaan. Penyedotan itu dilakukan setiap 6 – 7 hari sekali sampai panen tiba.
Rugi pasti. Tapi daripada tidak dapat sama sekali, mereka harus melakukan itu. Paling tidak supaya modal kembali. Pemilik sawah yang sudah pasrah, membiarkan sawah mereka kering. Daunnya sudah ’ngluntung’ (menggulung). Sebentar lagi kuning kering. Kalaupun berbuah banyak yang kopong (kosong).*

Saturday, July 28, 2007

. . .
.
. a . k . u . . . b . i . s . a . . . . m . a . k . l . u . m . . . . .
.
. . .
Jumat terakhir pada bulan, seperti biasa kelompok kecil relawan Nuntius berkumpul. Warna-warninya membuat aku tercengang. Selalu tercengang setiap bertemu mereka. Setiap kali! Aku merasa sangat tua melihatnya. Bahasa para muda ini, Gusti! Bahasa apa itu? Aku tidak paham. Aku coba mengikuti. Tapi tetap menjadi tanda tanya. Seriuskah mereka? Tahukah apa yang sedang mereka kerjakan sekarang ini? Benarkah mereka mau belajar? Apakah mereka hanya main-main? Apakah tawaran-tawaranku dipikirkan oleh mereka dengan serius? Apakah nilai-nilai yang diomongkan itu benar-benar mau dihayati? Atau aku yang kurang gaul? Apakah aku yang terlalu serius? Apakah aku yang terlalu memaksakan diri? Aahhh....Gusti.....

Thursday, July 26, 2007

anak-anak teriak
pagi yang hingar bingar pun mulai
lontong, sayur dan kerupuk
kaki, tangan dan suara
segelas air dan tanda salib di pertigaan jalan
pagi yang segar memulai hari ini

Wednesday, July 25, 2007

aku berjalan

aku berjalan di samping anakku yang mengayuh sepedanya
cepat dengan irama sendiri dia melaju
diteriakinya aku yang sudah terengah-engah
balas teriak aku di sela nafas
putaran rodanya kembali menghampiri
'cepat, bu! nanti kehabisan!'
tidak bisa lari lagi aku mengikutinya
aku berjalan jauh di belakang anakku yang mengayuh sepedanya
cepat dengan irama sendiri dia melaju
dan sesekali di teriak
sesekali dia kembali menghampiri
tapi selalu
cepat dengan irama sendiri dia melaju

Tuesday, July 24, 2007

Batam - Galang


Minggu lalu, 16 - 18 Juli 2007 aku dapat kesempatan ke Batam. Folk communication for church apostolate, itu pembicaraan utama di Vista Hotel bersama para koordinator Komsos se regio Sumatera. Hanya belasan orang, kebanyakan para selibat. Tema yang menarik! Folk communication, folk media. Sebagai alternatif gerakan perjuangan.
Di hari terakhir, jalan ke Galang lewat jembatan Barelang nan dibanggakan, masa kejayaan Habibie dengan teknologinya yang meretas batas laut. Ada 5 jembatan penghubung Batam - Galang. Melewati pulau Tonton, Nipah, Setako, Rempang dan akhirnya Galang. Rempang merupakan pulau terpanjang dan tersubur. Di sana-sini terlihat petak kebun sayur yang sayang kurus, kurang subur. Coba teknologi pertanian dikembangkan.
Tiba di Galang keliling peninggalan 'manusia perahu' pada tahun 65-an sampai 96 lalu. sebuah kota kecil yang dibangun untuk menampung para pengungsi yang tersisa dari Vietnam. Barak-barak sudah dibongkar, tapi sisa-sisa 'kota' itu masih tampak. Bahkan ada 'Ngha trang', Tin Lanh, Cuaky vien, dan Ta on duc me. Sebuah patung Maria tampak megah berdiri di atas bumi bergambar Vietnam, mantap di atas sebuah perahu : O, Mary, we are all deeply cracefull for your protecting presence on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be mighly appreciated in our heart forever.
Dan konon, di depannya pernah terjadi puluhan bunuh diri massal karena tidak ada ruang hidup bagi mereka untuk merdeka. Tidak ada satu negara pun yang mau mengakui mereka sebagai warga. Kembali ke negaranya akan mati.
Banyak barang di Batam. Tidak ada yang bisa dibeli. Oleh-oleh? Gantungan kunci dengan tulisan "I love Singapore". Ngenes Indonesiaku!

Friday, July 06, 2007

tuan, aku pengin selingkuh

pengin selingkuh dari kebiasaan
melompati pagar dan mengunyah hijau segar tetangga
kembali pada keliaran masa lalu

'ahh...tiba-tiba tercium parfum tidak biasa
memenuhi rongga dada
hingga membuncah jadi mesra'

pengin selingkuh kali ini
lepas dari tradisi tiap hari
mengecap kebebasan tubuh masa lalu

'wahai...berdirilah diam sejenak di hadapanku
aku akan meletakkan kepala di dada
menikmati saat mesra ini'

kini menjelang 33
aku ingin mati
untuk mesra
bersamamu

Tuesday, June 26, 2007

sebuah kesadaran

sebuah kesadaran menciprat ke luar mataku
menjadi setitik air mata kesedihan
betapa kekuatan dari ketidakpedulian
sudah meluluhlantakkan sesosok jiwa
hingga sakit dan hancur tanpa harapan
hingga luka dan berkabung dalam keterasingan

tidak ada daya lagi
terlanjur sudah kutanam dalam waktu yang lampau
tak kusangka
buahnya begitu pahit harus terkunyah
oleh sosok renta tanpa tenaga
yang ingin mati karena hasrat cinta

sebuah kesadaran siang ini
tak tahu lagi kemana harus kubawa
setelah kamar pengakuan
tak dapat mengatasinya

Thursday, May 24, 2007

Kekuatan Kang Ora Kawedhar

(Catetan seje saka Balikpapan)


Aku nemokake 'kekuatan sabda' kang pinayungan para pinisepuh saka sakupenge samodra kidul. Ana pesen kanggo para putra wayah, kang gamblang cetha wela-wela. Yaiku, supaya ngati-ati ing tahun 2007 lan 2008. Gesekan hawa bakal panas, bisa dadi perang sedulur. Guyub rukun dadi sarana utomo kang kudu diusahake. Guyup rukun kang dadi kekuatan.

Iku mau pesen saka Lurah Sarirejo, Dusun Sekararum. Sing gapura pendopone katulis "Tritunggal' nganggo boso dan huruf jawa. Kang kawibawane kasebut asma "Pengayom". Ing asma iki sadaya pinisepuh wus ngumpul dadi kekuatan sabda. Metu ing simbol timbangan lan wit ringin. Adil lan ayem.

Pesen iki saka Eyang Putri Ratu Mas kanggo para putra wayah, yaiku sapa bae kang migunaake sakabehing akal budi kanggo 'leres'. Pesen kang kawedhar amarga prihatin mring para wayah kang ora mangerteni maneh bebasan wingit. Ora percaya maneh marang kakuatan adi kang ora ketingal!

(Tanda tanya besar menyertai tulisan ini. Ungkapannya sendiri muncul di lantai 2 rumah Balikpapan, usai nikah Veka)
Antara Kebun Sayur dan Klandasan

Berjalan-jalan di Balikpapan dalam waktu yang singkat, dan prioritas pada pesta manten, tetap menyisakan semangat dan energi untuk belanja berlama-lama mencari oleh-oleh atau sesuatu yang unik.
Pasar Kebun Sayur
Ini merupakan pasar yang menyajikan berbagai benda-benda etnik dari Kalimantan. Perhiasan dari batu-batuan, manik-manik, kayu dan logam tampak memikat mata. Pernak-pernik kalung, gelang, cincin, giwang dan bros berderet memenuhi kios-kios. Selain itu juga ada baju, kain, tas dan benda-benda lain. Tidak melulu kalimantan sih, karena ketika diamati ada juga tenun songket dari Palembang.
Kali pertama yang kepikir adalah membeli oleh-oleh murah meriah untuk para sahabat. Pilihan jatuh pada gelang-gelang dari untaian batu. Hah, sepertinya sih di Lampung atau Jakarta dengan mudah dapat dijumpai di pusat perbelanjaan, tapi ini kan dibawa dari Kalimantan asli. Jadi beli beberapa untai sesuai siapa yang akan diberi. Harga agak meragukan, karena para penjual berusaha menjual dengan harga setinggi-tingginya. Kalau tidak nawar pasti nyesel. Tiga yang aku minati dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Baju dayak lengkap untuk anak-anak 110 ribu. Bros mutiara 15 ribu. Kain motif dayak 15 ribu per meter. Tas manik-manik cangklong 15 ribu. Kaos bergambar etnis 25 ribu.
Senengnya ada pada jalan-jalannya. Pelan-pelan saja liat sana-sini. Para penjual itu memang melayani pelancong, jadi tidak masalah kita hanya lihat-lihat saja, tidak perlu beli. Tapi semakin susah mencari yang benar-benar asli tradisional, selain ada mandau, baju dayak. Aku tolah-toleh penjual kaset tidak terlihat yang menjual musik tradisional Dayak. Aku ingat aku dulu pernah direkamin seorang bapak di Nangapinoh beberapa musik pengiring untuk tarian Dayak. Tapi tidak bisa mendapat kaset yang asli. Yang aku ingat musiknya sangat sederhana, diulang-ulang. Gerakannya pun begitu.
Pasar Klandasan
Ini pasar segala ada. Jalan-jalan di sini seperti jalan di pasar-pasar tradisional lain di seluruh penjuru Indonesia. Yang asyik adalah tempatnya persih di pinggir laut. Dalam satu kesempatan, kami berjalan mencari makanan di pasar ini. Letaknya berderet di pinggir laut. Makanan yang ada alamak...rawon, nasi padang, bakso malang, ....yang khas Balikpapan apa ya? Akhirnya makan bakso juga.
Jalan-jalan di dalam pasar, kami tertarik pada perhiasan emas yang dipajang. Katanya emas di sini lebih bagus dari di Jawa. Maka huntinglah kami mencari bentuk yang bagus dengan detail yang unik. Ibu berniat membelikan untuk kami, jadi ok banget. Kalau dari kantong sendiri mana ada anggaran untuk beli giwang atau cincin.
Seperti biasa, jalan dan lihat lebih banyak ketimbang beli. Hingga kemudian ketemu sejumlah perhiasan yang pas. 155 ribu rupiah per gramnya. yang buatan malaysia bisa lebih mahal sedikit tapi memiliki detail yang lebih asyik.
Makan di Dandito
Yach, susah jika tanya makanan khas Balikpapan. Berhubung letaknya pinggir laut, maka harus mencari makanan dari laut. Pilihan terpaut pada kepiting, dan salah satu tempat yang enak adalah Dandito. Hanya beberapa saat dari Bandara Sepinggan. Menu andalan tempat ini memang kepiting. Wuih, satu porsi berisi 2,5 kepiting yang dipotong-potong. Besar dan keras! Perjuangan ekstra sebelum mendapat dagingnya yang empuk, putih dan gurih. 65 ribu satu porsi kepiting asam manis ini. Jika mentok gak bisa nggigit cangkangnya yang keras, panggil salah satu pelayannya, mereka dengan senang hati memecahkannya untuk pembeli. Katanya banyak yang pesan menu ini untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke Jawa. Dibawa terbang 2 jam aku kira masih bisa sih dimakan. Tapi gak minat!
Cari Oleh-Oleh
Ada banyak pilihan oleh-oleh makanan. Amplang paling sering aku lihat dulu dibawain keluarga Mbak Tres jika pulang Jawa. Maka beli ini. Tapi di toko makanan oleh-oleh ada beberapa pilihan lain. Lempok duren, abon ikan, dan aneka makanan merk Apollo. Ini merek impor Malaysia. Ada beberapa jenis tinggal pilih, bisa bolu, stik, roll kek, wafer, coklat. Dikemas kecil-kecil jika dibagikan ke sanak dan sahabat mudah. Rasanya hanya lumayan saja. Tidak terlalu istimewa.
Toko-toko oleh-oleh akan merapikan barang-barang yang kita beli itu dalam dus dan dikemas bagus. Siang angkut.

Wednesday, May 23, 2007

Pesta Jawa di Kampung Pelayaran

Tidak kebayang! Bahkan di pulau Kalimantan nun jauh di sana itu, sebuah pesta Jawa lengkap bisa diikuti. Acara tonjok menonjok nan heboh masih dipeliharan. Ini nih adalah tradisi untuk menghantarkan makanan ke para tetangga dan sanak keluarga sebelum acara pesta manten. Beberapa hari sebelumnya. Tiba di Kampung Pelayaran sehari sebelum pesta manten, tuan rumah sedang sibuk dengan acara tonjokan ini. Makanan-makanan dikemas dalam rantang dan diantar menurut daftar yang sudah dibuat. Lihat menunya, mi goreng, ayam dan telur bumbu merah, sambel goreng. Jawa banget resepnya.
Calon manten sendiri dirawat dengan lulur dan temung. Supaya kulitnya bersih bersinar dan tidak keringatan saat dirias nanti. Tentu saja dia tidak boleh keluar rumah.
Jumat 18 Mei 2007 menjadi saat untuk ijab kabul. Dengan perhitungan hari tanggal yang matang, juga jam hingga ditentukan saat yang paling baik adalah pukul 8 malam. Riasan Jawa, makanan Jawa, cara Jawa. Hehehe...bahasa Jawa pula.
Hari Sabtu 19 Mei jadi hari spesial. Manten dengan kebaya hitam bersulam emas khas manten Solo temu di depan rumah. Mengikuti adat lempar beras kuning, pecah telur, cuci kaki, sungkem suami, lalu diboyong ke pelaminan dengan gendongan mesra ibu memakai kain sidomukti (jadi bahagia). Di pelaminan, mereka sungkem ke orang tua. Kacar kucur, yaitu menumpahkan biji-bijian ke pangkuan istri menjadi simbol bahwa suami mencari nafkah dan memberikannya kepada istri. Lalu suap-suapan nasi kuning dan minum.
Aku selalu tertarik pada makanan. Ada beberapa deret menu yang bisa diambil secara prasmanan oleh para tamu. Kekhasan Jawa muncul dengan kuat. Ya, wong menunya ada gudeg lengkap dengan ayam, krecek, telur. Lalu nasi pecel, dan peyek. Deretan lain yang di luar Jowo adalah coto makasar dan bakso. Kue-kue mini dan buah ada di pondok-pondokan yang lain. Aih, bener-bener pesta aku. Semua diincip. Hebatnya sambil diiringi karawitan dengan gamelan lengkap, walau beberapa lagunya lagu kontemporer campur sari campur dangdut.
Pesta meriah berlangsung hingga pukul 9 malam dengan tamu tak henti-hentinya mengalir. Pukul 9 malam, seluruh makanan ditarik ke dapur dan pentas wayang dimulai. Dalangnya Ki Greng dari Sragen dengan sinden lokal dan impor dari Jawa. Gak mudeng ceritanya apa, tapi melihat banyaknya penonton, kesenian ini masih menjadi primadona untuk tontonan rakyat Jawa di Balikpapan. Sampai pagi.
Aku bersama Yeni dan Ibu, gak melihat wayang ini, tapi malah nongkrong makan nasi pecel pincuk Tulungagung diantara deretan penjual makanan yang memeriahkan malam wayang kulit ini. Harganya? Wuih mahal. Bertiga makan nasi pecel di pincuki, pake tempe goreng dan peyek 23 rebu bok. Di Gringging angka itu bisa untuk 15 orang menu yang sama. Tapi puas nikmat, gak disesali.
Mengunjungi Kampung Pelayaran, Balikpapan

Kamis hingga Minggu (17 - 20 Mei) 2007 aku mengadakan perjalanan ke Balikpapan bersama ibu dan Yeni. Bertiga lepas dari rutinitas pekerjaan rumah tangga maupun pekerjaan kantor. Tidak nyangka ini menjadi perjalanan yang menyenangkan dan jauh dari perkiraan semula yang 'hanya' niat menghadiri perkawinan Veka.
Perjalanan dimulai dari Bandara Sukarno Hatta. Aku udah cangkruk di situ dari subuh karena naik travel dari Lampung, diantar pertama kali. Dua jam kemudian baru ibu dan Yeni muncul. Aduh, ngantuk dan capek. Ikut dalam penerbangan pertama Lion Air, pukul 6.50, terasa segar kembali karena obrolan bertiga. Yah, lumayan melepas kangen. Terakhir bertemu mereka berdua pada akhir tahun kemarin. Jadi ya, seneng-seneng aja.
Perjalanan ke Balikpapan ditempuh selama 2 jam. Dengan lapar, karena rupanya Lion hanya menyediakan segelas air. Sepotong kecil wingko sisa dari travel dipotong jadi 3 untuk mengganjal perut. Hehehe...dasar tidak cerdas dan kegeeran penuh harap. Jadinya begitu itu, kelaparan di dalam pesawat. Sebenere aku niat memakai waktu 2 jam perjalanan itu untuk mewawancarai ibu berkaitan dengan silsilah keluarga Gringging. Tapi kurang nyaman, enakan ngobrol tentang apa saja. Toh beberapa kisah tentang kung dan mbah pasti muncul juga.
Bandara Sepinggan Balikpapan, sangat bersih. Keluar dari bandara ini menuju Kampung Pelayaran, kami terbengong-bengong melihat kota ini rupanya sangat rapi. Terasa aman. Indah. Bayangin, sepanjang perjalanan kami melihat laut di sisi kiri dan perbukitan hijau di sisi kanan. Kampung Pelayaran ada di dekat pelabuhan. Berada di antara perumahan untuk Pertamina. Sangat kontras. Pertamina punya, rumah sangat besar dengan halaman luas tanpa pagar, ditumbuhi rumput hijau yang rapi selalu dipotong sepertinya. Tanah yang naik turun mengingatkan perumahan ini seperti di lapangan golf. Hehehe.... Nah, rumah para warga biasa di sekitaran Kampung Pelayaran ini berjejal dan padat. Rumah-rumah berdempetan tanpa halaman, dan berusaha dibangun naik untuk membuat ruang yang longgar. Soal bersih dan indah tetep. Aku terkesan dengan tangga-tangga yang ada di setiap rumah. Ya, tentu saja mereka butuh tangga karena rumah-rumah itu berada di perbukitan naik turun. Bisa jadi ruang tamu datar, tapi dapur dan kamar mandi di bawah sana, tempat tidur naik ke atas. Bisa olah raga gratis pokoknya naik turun untuk keperluan sehari-hari.
Kampung ini dihuni oleh pendatang-pendatang dari Jawa khususnya Jawa Timur sekitar Kediri, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Surabaya dan Madura. Maka bahasa sehari-hari tidak asing lagi. Pokoke jadi belajar bahasa Jawa halus kembali (dengan logat dan kosa kata amburadul). Yang aku kunjungi ini saudara dari Bapak. Pak Puh Kardoyo adalah suami dari kakak bapakku yang sudah meninggal (aku kira mbak kandung beda bapak dengan bapakku). Mereka tidak mempunyai anak tapi mengangkap seorang anak perempuan yang kami panggil Mbak Tres. Anak mbak Tres inilah si Veka yang melangsungkan pernikahan.
Kamis, terlampaui dengan ngobrol kangen-kangenan, dolan ke Kebun Sayur dan Klandasan, makan kepiting di Dandito, dan tidur dengan pulas hingga ampir siang. Jumat begitu juga, ngobrol, makan dolan, malam hari ijab kabul si Veka dengan Iwan. Ditutup dengan kunjungan ke rumah Pak Amir, salah seorang yang setiap datang ke Jawa pasti tidur menginap di rumah Kediri. Sabtu dari pagi hingga malam pesta nikah meriah. Tapi kami dolan juga di sela-selanya. Klandasan again. Minggu ngobrol makan, terus pulang. Di Sepinggan nunggu beberapa saat. Kami naik Lion Air pukul 12.40. Beberapa detail cerita Balikpapan aku ceritakan dalam tulisan lain. Aku kira bisa beberapa tulisan lagi deh. Asyikkk....

Monday, May 14, 2007

Tanggal 12 Mei lalu, hari Sabtu, aku dan Hendro mendapatkan kesempatan langka. Berbicara di depan 31 pasang peserta kursus persiapan perkawinan Katolik. Untuk pertama kalinya kami melakukannya dengan sebuah tema yang khusus, yaitu Komunikasi Pasangan Suami Istri. Berat. Sungguh berat, karena kami bukanlah pasangan yang sudah sempurna dalam berkomunikasi satu sama lain. Aku sering ngomong tentang komunikasi tapi untuk orang muda atau tema jurnalistik, tidak pernah tentang perkawinan artinya tentang kami sendiri. Terlebih Hendro, tidak pernah dia ngomong tentang komunikasi. Tapi okey juga tawaran itu.

Kami lalu membuat sebuah tulisan berdasarkan bukunya Gilarso. Lalu membuat simulasi sederhana,"Kami ingin mengajak anda sekalian untuk pacaran. Pacaran rame-rame. Jadi duduklah mepet satu sama lain." Lalu masing-masing kami pandu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang aku rasakan, apa yang aku senangi dari pasangan, jika ada yang tidak aku senangi aku akan bagaimana dan jika dariku ada yang tidak disenanginya, aku berharap dia bagaimana. Pasangan-pasangan muda itu lalu kami ajak untuk berpegangan tangan, saling menatap, saling menyalurkan kasih, dan mensharingkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Baru kemudian kami bergantian mempresentasikan tulisan dan diselipi cerita keseharian kami, mulai dari awal pernikahan hingga kini punya dua anak. Ah, lega ketika 1,5 jam selesai. Bahkan kami punya penutup tak terduga, untuk tarik kesimpulan. Albert dan Bernard tiba-tiba masuk ke dalam ruangan (sebelumnya mereka ditemani si Reni main di luar), yach anak-anak itu lalu maju begitu saja sambil panggil ibu, bapak dan nemplok di antara kami berdua. Seluruh pasangan itu tentu saja melihatnya dan itulah bayangan bagi mereka, yang akan mereka jalani nanti setelah pernikahan.

Malamnya, kami saling bicara, dan rupanya moment ini membuahkan banyak hal bagi kami berdua. Banyak yang kami pelajari dari peristiwa itu. Hendro, yang hampir tidak pernah bicara di depan umum selain omong tentang listrik, maintenance, keselamatan kerja, dll., merasa terpesona dengan pengalaman itu. "Jika diundang lagi, atau bahkan jadi pembicara tetap, mau aku!" Hahaha...ketagihan dia.

Wednesday, May 09, 2007

Rm. Fritz mengkritik talk show di Radio Suara Wajar yang aku adakan bersama teman-teman Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL) tanggal 1 Mei lalu dalam rangka hari buruh. Menurutnya, talk show yang disiarkan langsung selama 1 jam itu terlalu menekankan buruh sebagai pihak yang lemah, tertindas dan tertekan. Mestinya sisi lain juga ditekankan yaitu soal buruh atau pekerja sebagai tangan ilahi yang turut serta dalam karya kerja Allah. Disodorkan kepadaku St. Yusuf yang diangkat sebagai pelindung para pekerja dan menurut tradisi gereja digambarkan sebagai pekerja tekun nan sederhana. Nilai-nilai kerja seperti itu juga harus diangkat supaya imbang, tidak hanya sekedar menuntut dan merasa lemah sehingga bisa lebih berdaya dan menghargai pekerjaannya. Menurut si romo, kerja bukan hanya soal perut tapi soal pengembangan diri dan menjadi tangan Allah.
Aku setuju! Tapi langsung 'mbededeg sebah' campur gelisah.
Terakhir ini yang pertama mengkili-kili perutku. "Nah, masalahnya para buruh sekarang ini bekerja masih memperjuangkan perut. Perutnya masih kosong. Bagaimana berpikir soal nilai kerja, apalagi di hadapan Allah yang punya gawe besar penyelamatan dunia. Wong kerja yang dilakoni itu karena tidak ada pilihan lain!" aku membela. Dan untuk hari buruh kemarin itu memang FKSPL ingin menekankan bahwa buruh tertindas bukan akibat diri sendiri tapi ini terkait banyak faktor, dengan pihak lain : Pengusaha dan Pemerintah. Khususnya pemerintah yang bisa menentukan abang ijone negara. Jadi mau apa, ketika teriakan : Mayday, mayday, mayday... yang semakin melemah malah dijawab dengan pleton-pleton polisi dan pagar berduri. Ini perlu pertolongan, perhatian, segera! Jika tidak, semua rusak. Buruh adalah warna bangsa. Lha nek buruh rupane segitu getirnya, segetir itulah bangsa kita. SBY-KL, pemimpin bangsa, teman-teman sekalian, mayday, mayday, mayday, mayday, mayday, mayday, mayday,........

Monday, May 07, 2007

kemarin aku berbincang dengan muder julia, pimpinan tertinggi fsgm di Indonesia. kesederhanaan mencuat darinya. saat bicara aku amati bibirnya. kecantikan biasa khas seorang wanita indonesia umur diatas setengah abad. tapi yang menarik adalah rentetan kata yang keluar darinya. pelan-pelan diucapkan kata per kata. sangat hati-hati seolah takut kata itu akan berhamburan memburat berantakan. mungkin juga takut setiap kata itu akan menggores lantai porselin yang halus yang sedang ditapaki. pokoknya ini gaya bicara yang menyenangkan.
ya tentu saja beda dengan gayaku yang seringkali kata kalimat tersembur begitu saja, lalu baru disesali kemudian. lebih-lebih lagi jika kemudian diketahui ada yang menangis karenanya. berapa kali sudah aku mengaku dosa karena mulutku tapi terulang juga setiap kali.
perjumpaan yang menyenangkan selama setengah jam itu lalu berlanjut dengan hingar bingar bersama br bambang yang bicara banyak tentang pendidikan inklusi. apa ya...tentang pendidikan yang terbuka bagi setiap orang beragama apapun, kaya dan miskin, bentuk apapun fisiknya...pendidikan yang menjadi hak bagi semua orang tanpa kecuali. br memberikan kritik terhadap sistem pendidikan indonesia, tapi terlebih pendidikan dari sekolah-sekolah yang sombong mendongak ke atas tidak melihat di sekitarnya banyak yang memelas tidak tahu apa yang harus dimakan. sebenarnya kritikan ini untuk semua orang, khususnya yang mengaku beriman tapi pelit, tidak mau senyum dengan gratis. hehehe...menurutku.

Thursday, May 03, 2007

Lama aku mencari kata-kata
lucu, karena sebenarnya nemplok dekat dengan wajahku
kemarin ketika aku pergi berjumpa para muda murnijaya
aku semakin terbahak
memandu mereka dan menegaskan bahwa benda matipun bersuara
bahwa kita punya lebih dari sekedar mati, karena kita bernafas
aku semakin terbahak
karena kata-kata sudah di ujung lidah
siap menyembur
jadi kasih
atau bisa

Thursday, January 18, 2007

aku ingat aku bermimpi siang kemarin
bersama bunda dalam hingar sebuah pesta
sebuah bisikan lembut menggapaiku
mengingatkan diriku pergi
jangan di situ, lihatlah kembali
tempat penuh resiko ini

aku beringsut
undur dari keramaian
dalam sebuah ruang sempit
dimana hanya ada aku dan kau
yang berbicara

tapi bukti dan kesaksian
tidak hanya bisa disiarkan
yang penting, murni

Wednesday, November 22, 2006

Ada seorang pengemis yang aku temui saat aku beli nasi pecel di pasar Pasir Gintung hari ini. Tidak kulihat sama sekali wajahnya. Hanya telapak tangannya yang mengatung di depan badanku entah diangsurkan untuk siapa karena banyak orang di sekitarku. Aku tidak berniat memberi bahkan berniat mengusirnya. Tapi tidak ada kata-kata dari mulutku. Aku hanya melihat telapak tangan yang sudah keriput menghitam. Tidak ada suara juga darinya. Tapi dia pasti sudah usur dan lama menyusuri jalan-jalan di belahan dunia ini. Aku membeli nasi pecel 7000 rupiah dan sisa kembalian 13 ribu langsung masuk ke kantong jaketku. Aku tidak ingin memberinya.
Aku lalu buru-buru mengambil Mio-ku yang aku parkir di sekolah Albert. Pergi dengan cepat hanya sempat senyum dengan bapak-bapak teman Albert yang nongkrong di parkiran. Mampir ke Indri karena dia ada cabe dan rampai banyak. Separo diberikan untukku.
Ketika lewat jalan dekat kantorku, seorang pengemis tua (apakah sama dengan yang di pasar? Tidak mungkin!)sedang duduk di pinggir jalan. Tangannya menopang punggungnya yang renta sehingga dia bisa menyender di pagar orang. Aku hanya berpikir, aku akan tunggu kesempatan ketiga! Coba bebalnya hatiku! Padahal di seluruh tubuhku semua hasil pemberian orang, dan aku tidak mau memberi orang lain.
Dan kini sambil duduk depan komputer aku ngetik dengan kekenyangan karena sebungkus nasi pecel nikmat seharga 3000 rupiah dengan pikiran tak mau berhenti dari pengemis tua renta yang mungkin belum makan sejak kemarin!

Monday, November 13, 2006

pagi setiap saat

pagi setiap saat adalah matahari yang tajam bersinar
tanpa peduli hanya atap payung dan daun yang dihujani
bias saja tidak apa menerpa hati
cukup itu membuka kornea
hingga gembira
pagi setiap saat

Monday, October 30, 2006

Kembali pada rutinitas keseharian setelah satu minggu hidup dalam suasana yang 'tintrim' berkat hari fitri.

Thursday, September 14, 2006

Semalem aku nonton konser Radja di Stadion Pahoman. Konser pertama kalinya sejak tinggal di Lampung. Asyik juga. Sayang dapat tempatnya di VIP (gratisan karena suamiku jadi pelanggan Indosat untuk pabriknya. nah Indosat itu yang punya gawe), sehingga tidak bisa jejingkrakan. Padahal lagu-lagu Radja kan mestinya cocok untuk loncat-loncat. Yang lembut.....
...angin...bawalah....jiwaku melayang...
...angin...

Asyik juga. Mau kapan-kapan lagi.

Monday, September 11, 2006

ada sebuah smp terbuka

Ini SMP yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat petani di daerah Register 45 Tulangbawang, Lampung. Didirikan atas dasar kebutuhan para keluarga petani yang susah menjangkau SMP Negeri. Terlalu jauh. Maka setelah lebih dulu membuat SD terbuka, tahun ini dibuka SMPnya. Ada 13 siswa yang sudah mau belajar bersama, didampingi oleh AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria). Mereka butuh orang tua asuh. 50 ribu rupiah tiap bulan yang dibutuhkan per anak untuk kebutuhan seragam, buku, dan makan para guru relawannya. Kurikulum ngikut SMPN, tapi juga diajarkan ketrampilan dasar sebagai anak-anak petani. Ya, mereka harus bisa menanam juga dong. Hidup mereka dari situ. Oki yang menceritakannya untukku. Aku ingin sesekali main kesana. Aku lihat di foto-foto Oki, mereka terlihat penuh semangat. Padahal sekolahnya pindah-pindah lo. Bahkan bisa belajar di sawah, kebun, atau kandang. Dan para relawannya, salut deh...

Thursday, September 07, 2006

sebuah surat menghantamku

sebuah surat dari bapak
bahwa tidak ada yang mesti diteruskan
hingga tahun berlalu
bahwa tidak ada rumah yang dibuka
hingga ada satu rencana baru
bahwa tidak ada orang yang bisa datang
hingga ada sepaham satu

sebuah surat dari bapak
yang tiba-tiba kelihatan renta
menahan sabar
melihat anak-anaknya
yang tak kunjung dewasa

sebuah surat menghantamku
hingga aku terduduk di tangga klender
mengibaskan rasa
Ada beberapa hal yang menjadi sumber keprihatinanku akhir-akhir ini. Salah satunya, betapa tololnya orang-orang Indonesia (sebagian darinya!!!) yang sok hebat sok pintar. Saling soknya, alam pun hendak diplintir di manipulasi layaknya yang biasa terjadi di birokrasi Indonesia. Alhasil, tidak ada kendali yang masih bisa dipegang. Itu yang terjadi di Porong Sidoarjo hingga berpuluh hektar tanah terendam lumpur dan masih terus berlangsung. Lalu yang dilakukan seperti biasa. Mengusung ribuan tentara untuk mengatasinya. Tentara bisa apa untuk ngatasi luapan lumpur yang beribu kubik setiap hari? Yang bisa dilakukan adalah membungkam protes rakyat yang tidak lagi bisa hidup dari tanahnya. Yang tidak bisa lagi di dalam rumahnya. Yang tidak lagi bisa makan, bekerja, bercengkerama dan hidup normal. Yang tidak ada harapan seluruh hidupnya kembali seperti semula.

Wednesday, August 02, 2006

Beberapa hari mesti terlewatkan tanpa komputer. Komputer tua yang ada di kantorku ini mendapatkan 'nafas buatan' dari Egi dengan ditambah ram dan diganti menjadi Xp. Hari ini tiba kembali di meja kerjaku, jadi aku kotak-katik dulu. Kerjaan lain aku tinggal, biarin aja majalah-majalah itu aku bungkus nanti kalau ini sudah kelar. Targetku paling tidak sore nanti seluruh majalah sudah di kantor pos, jadi pasti terkejar asal aku ngebut 2 jam untuk packing.
Nah, aku sebal sekali melihat foto-foto Mas Budi di milis Impala dari kegiatan Krakatau-Sebesi. Sebel berat!!!! Itu bagus sekali, dan aku saat itu tidak bisa membayangkan untuk mengikuti. Hanya untuk membayangkan saja aku tidak bisa. Asem! Tapi aku akan mengagendakan nanti secara privat, aku pasti akan jalan ke sana.
Hari yang bersamaan dengan kegiatan fun bersepeda itu, aku berjalan-jalan juga ke Sidomulyo, mengambil beberapa foto untuk majalahku tercinta ini. Perjalanan yang asyik juga (walau tidak bisa disebandingkan dengan Krakatau Sebesi). Aku cerita besok saja....