Thursday, October 29, 2009

Ketinggalan Jaman


Kemarin saat pulang dari menjemput Albert, sudah remang menjelang magrib, di belokan jalan masuk perumahan, seorang bapak mengangguk, tersenyum dan membunyikan klakson. Aku membalas sapaan itu. Kemudian Albert bertanya.
"Ibu tahu itu tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Yang baru saja ngebel itu."
"Nggak. Memang siapa, Bert? Albert kenal?"
"Itu kan Bapaknya Putu. Yang rumahnya samping Robi. Masa ibu gak tahu sih?"
"Oh, itu... Kok ibu gak pernah lihat?"
"Ibu sih tidak pernah keluar rumah."
"Masa sih Bert. Ibu kan keluar rumah terus."
"Iya, tapi ibu gak pernah main dengan ibu-ibu itu. Ibunya Afif, Pandu, Robi dan lain-lain kan sering main bareng di luar rumah."
"Memang ibu-ibu main apaan?"
"Bukan, bu. Ibu ini gak ngerti lo. Duduk-duduk bareng, ngobrol,...jadi gak ketinggalan jaman. Masa bapaknya Putu aja gak kenal."
"Lah ibu kapan bisa begitu. Kalau sore pulang jemput Albert gini pasti udah capek, dan ibu gak lihat ada ibu-ibu di luar rumah."
"Ya gak sore-sore. Siang atau pagi."
"Memang para ibu suka ngomong apa, Bert?"
"Macem-macem, bu. Tentang...alat makan, alat minum atau apa gitu. Albert sering denger kalau lagi main di dekat-dekat mereka. Ah, ibu ini ketinggalan jaman deh."
Aku gak tahu harus mikir apa. Tapi percakapan dengan Albert ini cukup mengusikku. Dia sendiri anak yang sangat memasyarakat. Sampai radius berapa kilometer, masih ada juga yang menyapa dan meneriakkan namanya. Aku sampai heran juga bagaimana mungkin Albert dikenal oleh orang-orang di luar perumahan, di blok lain dan sebagainya.
"Aku pernah dibantu cari kepiting sama mereka." Astaga, tentu saja aku melotot mendengar jawaban itu saat aku tanya kok gerombolan remaja usia SMA bisa meneriakkan nama Albert saat dia aku boncengin di blok E. Jarak yang lumayan jauh dari rumah. Keberanian Albert sering menguatirkanku. Tapi aku juga tidak ingin mengekangnya.
Alhasil, kalau mencariku di kompleks perumahan tempat aku tinggal, tidak mungkin dikenal jika sebut namaku. Sebut saja : Mama Albert atau Ibu Albert. Mereka akan paham dimana rumah yang harus didatangi.

Thursday, October 22, 2009

Ibu


Ini bukan foto baru. Diambil saat hari-hari pertama si kecil masuk sekolah, entah hari yang ke berapa. Aku mesti membantunya mengenakan baju, kaos kaki, sepatu, menyiapkan bekalnya dan kemudian mengantarnya ke sekolah. Menunggunya di gerbang hingga menghilang di deretan bangungan sekolah, setelah mencium pipi, bibir dan kening, tak lupa berkat di dahi. Ah juga setelah tepuk khusus yang hanya kami yang tahu. (Tos, jempol, kelingking, dan adu bogem. Hehehe...jika mau praktek, datanglah. Dan kemudian salaman kencang yang ditutup jabat erat gaya pejuang. "Selamat berjuang, jadi anak baik ya." Kadang,"Selamat berjuang jadi anak pintar!" Atau kata lain,"Selamat berjuang...")

Hal yang sama aku lakukan untuk si besar hingga kelas 2. Saat kelas 3 dia sudah mandiri karena sekolahnya siang, dan aku tidak bisa antar. Gantian, pulangnya yang bareng aku.

Tiap pagi, itulah upacara ibadatku. Sampai sekarang.

Ada hari-hari tertentu dimana aku tidak bisa melakukan hal itu. Jika aku tidak ada di rumah. Mereka bisa melakukan sendiri beberapa hal, atau dibantu Wawak.

Melakukannya, membuatku jadi ibu. Bukan hanya rahimku, tapi juga tanganku, mataku, mulutku, kakiku, tubuhku, hatiku...

Ya, aku seorang ibu. Aku tidak akan melupakannya. Walau mungkin aku juga menjadi seseorang yang lain saat bertemu dengan orang lain.

Ibu. Aku seorang ibu. Aku akan terus mengingatnya.

Friday, October 16, 2009

Never

Menahan diri pada 'never'. Tidak mungkin. Karena memang aku pernah merasakan gelitiknya di ujung-ujung rambutku. Dan aku menyukainya. Tidak mungkin.

Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.

Thursday, September 17, 2009

Pelukan Abadi

Aku sedang mempertahankan sebuah pelukan menjadi abadi. Erat aku cengkeram lengan-lengannya supaya jangan longgar dari jiwaku. Kukempiskan tubuhku sehingga tetap dalam rangkumannya. Aku menangis dalam pertahanan ini karena cengkeraman tanganku melukai dadaku. Mengempiskan tubuh sendiri sama juga menyakiti hati sendiri.

Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."

Wednesday, August 26, 2009

Mati

Pipit biasanya berwarna coklat kekuningan agak hitam. Yang satu ini, pernah hidup di belakang rumah di bawah rentengan anggur, punya warna hijau. Bukan karena lahir unik, tapi karena diwarnai, dipaksa berwarna hijau. Pagi tadi pipit tidak alami itu mati. Terjerembab di sangkarnya, dikerubuti semut merah. Mati, teronggok begitu saja. Mati.

(Tidak seorang pun berniat menguburnya. Cukup undang semut merah lebih banyak biar menggerogotinya lebih cepat tanpa sempat berbau.)

Thursday, July 30, 2009

Kamboja

Aku mencium kamboja di ketinggian. Tan tidak mau menyebutnya kematian.
"Keindahan nostalgia itu abadi. Tidak mungkin dikubur begitu saja. Maka, saya akan ke Lampung kembali. Untuk melihat apakah ada yang masih bisa disegarkan dari sana."
Aku mengangguk. Lalu kami berjalan menyusuri pemakaman itu. Mengorek beberapa nisan yang baru ditancapkan. Rumput yang tumbuh di sekitarnya memberi kesejukan dangkal yang segera dilengkapi dengan rimbun pinus. Beribu pinus.
"Aku tahu selalu ada kegelisahan. Sebelum, saat dan sesudah perjumpaan. Toh, tidak ada yang perlu dikuatirkan bukan?"
Aku setuju pendapatnya. Tan menghadiahi aku kamboja, untuk aku bawa pulang. Kamboja yang bisa setiap saat aku cium kapanpun aku ingin.

Wednesday, July 01, 2009

Rindu Pada Aku

Aku rindu pada embun
rindu pada hujan
rindu pada pelangi
rindu pada matahari

Aku rindu pada cemara
aku rindu pada malam
aku rindu pada pagi
aku rindu pada laki-laki

Aku rindu pada perempuan
rindu pada aku

(Aku sedang rindu, ingin bercinta denganmu, siapa saja yang pernah mesra denganku.
Berjuta kekasihku, kembangkan sayap-sayapmu, dan kembali padaku.
Penuhi aku yang sedang rindu pada aku.)

Cerpen Pertama Tahun Ini

"Selamat! Cerpennya di suara karya 27 juni. Aku bru liat. Mantaapp.."
Gitu SMS Arman AZ semalam (22.23 wib). Nah, aku sendiri belum lihat.

Itu cerpen pertama yang dimuat media pada tahun ini. Jauh dari target dan sungguh tidak produktif. (Jika tahun lalu ada dua cerpen dimuat di harian nasional, satu cerpen mini jadi nominator DKL, tahun ini mesti tiga paling tidak yang bisa dibaca umum. Dan ini sudah tinggal 6 bulan, belum apa-apa.)

Sebelum Pulang, dimuat Suara Karya, Sabtu 27 Juni 2009! Ini cerpen yang lahir dari proses yang panjang. Aku kira telur dan spermanya sudah ada sangat lama dalam tabung masing-masing. Nah, penetrasinya terjadi saat ikut bengkel cerpen Dewan Kesenian Lampung bersama Yanusa Nugroho pada Desember 2007. Sepercik sperma, berhasil membuahi hingga jadi janin mini sehalaman. Penghidupan pesat pada Januari 2008, dalam rahim hingga sakit, mabuk, membunting besar, dan pakai operasi caesar yang rumit, hingga kemudian lahir jadi orok tua yang tidak langsung menangis. Nunggu setahun setengah baru cenger.

Jika mau tilik, lihat saja di Suara Karya Online, atau silakan browsing, pasti anak cucunya sudah ada.

Wednesday, June 17, 2009

Malam Menyata

Pernah malam mewujud menjadi gumpalan benda padat yang bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Tentu saja aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi keegoisan yang sudah mengaumkan hasrat. Aku menikamnya hingga tidak lagi berjalan, dan memaksanya berbaring telanjang. Angin masuk lewat pori-porinya hingga badannya membengkak. Aku memakainya menjadi tilam mimpi dan menindih memaksanya tetap diam. Jangan berlalu.

Tapi tidak berdaya.

Malam punya kekuatannya sendiri yang justru pada maya. Tidak bisa dipaksa kekal karena seberkas cahaya pun membuatnya mencair dan kemudian menyublim lenyap tak lagi bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Justru karena tidak nyata, maka aku menyebutnya malam. Justru karena kemayaannya maka malam dapat memelihara dunia.

Semoga tetap menjadi malam, yang maya.

Malam menyata, cukup.

Friday, June 12, 2009

Jatuh Cinta Lagi Pada Letto


Sampai nanti sampai mati

kalau kau pernah takut mati, sama
kalau kau pernah patah hati, aku juga iya
dan seringkali sial datang dan pergi
tanpa permisi kepadamu
suasana hati tak perduli

kalau kau kejar mimpimu, kau slalu
kalau kau ingin berhenti ingat dimulai lagi
tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati

kadang memang cinta yang terbagi
kadang memang
seringkali mimpi tak terpenuhi
seringkali

tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti
tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati

sampai mati

Tuesday, June 09, 2009

Brown and Browny

Tanggal 8 Juni 2001, delapan tahun yang lalu aku melahirkan Albert. Pengalaman pertama yang excited bagi ibu muda seperti aku. Dia lahir dalam suasana sangat sibuk karena aku sedang dalam proyek pembuatan buku. Di puncak klimaks kesibukan. Aku ingat dengan perut membuncit masih memelototi komputer 6 - 7 jam tiap hari. Mengkoreksi setumpuk naskah, pontang-panting pinjem printer berwarna dan menggarap foto-foto. Untungnya aku 'ngebo', tidak pake ngidam, mabuk, muntah dll. Pokoke tak terasa susah. Cuma mungkin kurang gizi, kebanyakan pikiran, dalam masa kehamilan itu dua kali aku pingsan, hah memalukan pokoknya. Perut sangat besar dan digotong entah siapa dan berapa orang.
Saat proses melahirkan sangat mendebarkan, menyeramkan. Dan laammmaaaa...lebih dari yang dijadwalkan. Selain umur janin sudah lebih dari waktunya (sudah diancam Dr. Idris kalau seminggu lagi gak keluar akan dioperasi) juga saat melahirkannya, bayinya nyantol, hehehe...tidak mau keluar. Aku kurang tenaga, kurang energi.
"Ngantuk, suster. Aku mau tidur." Gitu aku bilang beberapa di sela-sela proses melahirkan. Rasanya capek, ngantuk, malas, hanya ingin tidur. Hasilnya aku digebukin eh ditamparin dicubitin para suster, dibikinin teh dan diinfus. Diteriakin beramai-ramai gak boleh tidur. "Kalau kamu tidur tadi pasti gak bangun lagi," gitu kata suster Irma. "Kamu ini pasti gak pernah kerja pas hamil." Tentu saja aku protes, la kemarin aja aku masih ngantor. "Maksudnya bergerak, tidak kerja duduk saja." Ooo, ya memang.
Albert adalah bayi paling cantik sedunia. Kulitnya bersih putih, berat 3,35 kg dan panjang 49 cim. Kepalanya panjang akibat aku berhenti mengejan, tapi pulih setelah 24 jam tanpa diangkat. Aku tertawa berlinangan air mata saat badannya yang mungil ditaruh diatas dadaku sembari dipotong tali pusarnya. Segala sakit hilang blas.
Nah, bayi cantik itu sekarang sudah 8 tahun.
"Aku 9 tahun, ibu. Tidak mungkin sebesar aku masih 8 tahun. Teman-temanku saja yang kecil sudah 9 tahun." Sepanjang hari kami berdebat soal itu sampai akhirnya aku menyerah. Ya sudah, selamat ulang tahun ke 9. Tapi buktikan kalau memang sudah sebesar itu. Gak papa umur 9 tahun berlaku untuk 2 tahun.
Brown dan Browny? Ohya, hampir lupa. Mereka berdua adalah kado ultah untuk Albert. Sepasang burung merpati. Anakku ini memang...entahlah, yang diminta selalu yang aneh-aneh. Tahun lalu minta ayam,"Gak usah dirayain, bu. Uangnya untuk beli ayam saja, dipelihara." Tahun ini dia minta sepasang merpati yang bisa di'klepek'. Sesorean aku dan dia keliling Bandarlampung mencari merpati. Dapat di pojok Pasar Bawah dengan harga 85 ribu sepasang, berwarna coklat, kehitaman. Dia beri nama Brown dan Browny.

Thursday, June 04, 2009

Panggung Pertunjukan

Aku ingat dari kecil aku suka melihat pertunjukan. Di lapangan dekat rumah Kediri, setiap ada ludruk atau ketoprak pasti aku akan merengek minta nonton. Apalagi kalau yang main Wijayakusuma, Siswobudoyo, Kartolo dll. Harus minimal satu atau dua kali nonton. Tidak bisa tiap hari, karena harus belajar, jatah duit terbatas, gak ada yang bisa menemani dan berbagai alasan dari bapak ibu. Maka bapak dan ibu akan memilihkan kira-kira hari apa bisa menonton bersama. Judul yang mana yang akan main seperti Jaka Tarub, Anglingdarma, Sam Pek - Ing Tay, Lutung Kasarung, Tuyul dan Mbak Yul eh bukan ya...
Nah intinya aku akan terpesona berat memandang panggung pertunjukan. Aku suka yang terang gemerlap bercahaya. Jadi ingat kalau bapak ibu sering cerita kalau aku suka melihat pelaminan kalau diajak kondangan pernikahan. Ada fotoku usia 2 atau 3 tahun digendong bapak yang membuktikan cerita itu. Dalam gendongan bapak, dengan mata sembabku habis nangis karena kata ibu sebenarnya mereka malu mengantar aku dekat pelaminan yang didatangi ratusan tamu apalagi tamu terhormat, namun berbinar melihat yang gemerlap. Karena aku maksa nangis gak berhenti-henti maka bapak menggendong aku untuk maju dekat pelaminan melihat janur, bunga, lampu dll, dan seorang teman bapak mengabadikan peristiwa itu.
Hingga remaja saat aku yang introvert pendiam, pun bisa terpana berjam-jam melihat panggung gemerlap. Ludruk dan ketoprak sudah semakin jarang, tapi ada panggung-panggung lain. Semakin banyak jenisnya dengan bertambahnya usia dan pengalamanku.
Saat ini pun aku masih suka melihat panggung pertunjukan. Tempat yang lampunya kelap-kelip kadang menyala kadang gelap dengan frekwensi dan jeda yang tidak tentu. Dengan benda-benda penghias di situ dan juga orang-orang yang bergerak kesana kemari dengan irama dan suara yang sudah ditata. Sesekali terwakili pada film-film, drama, teater, konser dsb.

Ada satu panggung yang sekarang ini sedang aku lihat. Panggung kelabu tak ketahuan warnanya karena cahaya sedang diredupkan. Beberapa benda mati kaku gagu di beberapa sudut. Dan tokoh yang di tengah panggung adalah...diriku sendiri. Hilir mudik memenuhi panggung dengan segala suara. Dan satu-satunya penonton adalah...diriku sendiri. Duduk terpaku diam menahan kecewa karena sangat buruknya pertunjukan.

Friday, May 15, 2009

Kelabu

Banyak kali aku merasakan kelabu, karena aku memang manusia kelabu. Tapi setiap kali sedang mengalaminya aku benar-benar...kelabu. Tanpa tangis di pelupuk terlihat tapi perih di dada, tepat di inti hatiku. Kelabu.

Conspiracy (5)

(Kisah sebelumnya.)
Aku adalah seorang putri. Seorang lady. Seorang ratu. Yang berkuasa atas tanah-tanah mimpi, pulau-pulau puisi, dan samudera seni. Aku berkuasa atas kaki langit dan puncak gunung. Dalam gaun perak aku bisa bergerak ke segala arah dengan kereta tujuh kuda. Kuda-kuda yang bersayap. Yang berwarna-warni.
Istanaku adalah segala manik perhiasan pecahan bintang yang diambil dari kantong-kantong bidadari. Hangat tanpa punya musim dingin beku. Bahkan hujan adalah keindahan.
Aku mempunyai laskar berlaksa berjuta yang mengabdi penuh dengan kepala tunduk hanya padaku. Mengurut jemariku mencipta nyanyian asmaradana, membimbing bibirku berteriak kegairahan, dan menyiram rambutku dengan minyak rindu.
Akulah penguasa seluruh alam dengan bala tentara air, tanah, api dan udara. Aku penguasa segala itu. Dan kini permintaanku cuma satu : Aku mau Dew!
...
Entah berapa kali Brain memimpin rapat-rapat itu. Aku sengaja menyisih di pojok tamanku, tidak mau bergabung dengan mereka. Laporan Brain aku tanggapi dengan kemarahan tidak sabar. Senyuman Heart aku masukkan ke keranjang sampah. Aku tidak butuh segala remahan itu. Aku mau kaki yang melangkah dan tangan yang bekerja.
"Putri, mereka berkianat..." Suara bisikan seperti siul di telinga. Itu angin, yang jutaan anak-anaknya diberi makan dan tidur di istanaku.
"Putri, mereka berkianat..." Siulan yang sama. Aku mengibaskan tanganku menyuruh mereka pergi. Mereka tidak punya telinga, tidak mungkin aku ajak bicara. Dan darimana bisa menuduh para panglimaku berkianat kalau mereka tidak punya telinga.
"Putri, mereka berkianat..." .... (Bersambung)

Wednesday, May 13, 2009

Gunung tanpa puisi

Gunung tanpa puisi? Itu tidak mungkin. Kaki-kaki gunung pun berpijak pada jutaan puisi, apalagi lereng dan puncaknya. Gunung selalu penuh puisi. Pasti!

Tuesday, May 12, 2009

Gunung Tanggamus


Kerinduan akan gunung terobati pada Gunung Tanggamus. Gunung setinggi 2.400-an m dpl ini terletak di Kabupaten Tanggamus, sekitar 80 km dari Kota Bandarlampung. Sebelum berangkat sudah ada beberapa cerita dari gunung ini. Selain merupakan gunung tertinggi kedua di Lampung, juga menjadi peternakan 'pacet', hiii...
Tapi okey saja, siap untuk jalan. Naik bis dari Jl. Pramuka, siap berdesak-desakan dalam bis ekonomi. Pilihan ini (dibandingkan naik bis ac yang nyaman) tetap merupakan pilihan yang asyik untuk sebuah rombongan. Sekitar 2 jam, turun di Pasar Gisting. Jalan ke pos dadakan pertama, yaitu rumah Pak Yakup, bapak dari seorang rekan. Pak Yakup terbengong sekilas melihat rombongan tanpa kabar ini tapi kemudian menyuguhkan tahu goreng dan teh hangat. Uah, tepat nian untuk perut yang lapar.
Istirahat sebentar lalu lanjut. Rencana akan berkemah di base camp Sonokeling, sekitar 1 jam perjalanan dari ujung jalan aspal. Jalan langsung mendaki, kanan kiri kebun sayur, kol, kopi, ketela, dan juga suara sapi atau kambing. Beberapa menit sempat terpaku karena suara gemuruh disertai segala bunyi binatang dari segala penjuru. Ada apa? Petani yang melintas mengatakan ada angin puyuh yang sedang lewat. "Mboten udan, kok. Namung angin niku." (Tidak hujan kok. Hanya angin itu.) Tapi ya serem.
Base camp merupakan lereng yang keren, dekat mata air pula. Di ketinggian 700 m dpl ini, pemandangan cantik nian. Terasa nyaman. Dingin sih, tapi rasanya aku akan betah di tempat ini hingga beberapa minggu, atau bulan... Dan, ada gubuh Mbah Di di dekat situ. Mbah Di ini merupakan bapak dan mbah para pendaki Tanggamus. Setiap pendaki pasti mampir. (Tuh, fotoku di atas itu saat ngelesot di sofa lincak depan rumah mbah Di yang semilir usai pendakian. Yang samping ini seluruh rombongan ditambah yang motret usai sarapan di base camp.)
Sebagian barang dititip pada mbah Di yang memberi pesan,"Berapa orang yang ndaki? Dua belas? Agamamu apa? Agama apapun doa dulu sebelum dan selama perjalanan. Nanti jika sedang jalan ada yang merasa dipanggil cek jumlah rombongan, jika lengkap jangan menjawab. Sering ada kejadian orang kesasar kalau menjawab panggilan seperti itu. Ya, hati-hati."
Hemm, harus diikuti. Terimakasih, mbah.
Jalanan menanjak dengan kemiringan antara 20 - 45 derajat (beberapa tempat bahkan bisa 70 derajat), membuat nafas cepat tersengal. Hutan rimbun, tapi alamak...betul, peternakan pacet. Habis kaki diserap binatang pengisap darah ini. Geli, jijik, ilang dah... karena gak ada pilihan. Sekitar 3 jam perjalanan tiba di shelter, sekitar 1.900 m dpl. Agak landai dengan dua jalur air yang sejuk sedikit berlumut. Ah, ya sekitar situ memang biasa disebut hutan lumut, yang lembab dan berlumut tebal di pohon dan tanah. Bisa beristirahat, makan, ngisi cadangan air dan mesti siap-siap pada jalur sesudahnya yang semakin miring terjal. Diperkirakan sekitar 30-45 menit lagi sampai puncak.
Ah, mendadak cuaca sangat buruk hujan angin gelap, waduh. Jalan semakin merambat, dan akhirnya menyerah pada satu titik (Kata Titis tinggal 10 - 15 menit lagi puncaknya. Tapi dalam cuaca seperti itu sangat berbahaya jika pun berada di puncak. Tidak mungkin juga berkemah di situ.). Maka menahan kecewa, kami pun turun dengan sangat hati-hati karena licin dan sesekali membungkuk melepas pacet yang menempel di kaki, hingga berdarah-darah. Apalagi kalau tidak sengaja mencari pegangan pada rotan-rotan yang berderet sepanjang jalan, salah-salah kena durinya.
Tapi sungguh, gunung ini sangat keren. Suatu saat pasti datang lagi kesana. "Demi puncak!!!" Gitu kata Albert. Oh ya aku mendaki dengan Den Hendro dan anak-anak. Albert dan Bernard, menjadi kesayangan seluruh tim dan pemacu semangat mereka. Ya, mereka yang 6 dan 8 tahun itu bisa berjalan dengan riang gembira, bertanya ini itu, bernyanyi tanpa capek, sedang yang tua-tua sudah tersengal bahkan Wati turun lagi setelah satu tanjakan. Andi yang sudah pucat pun turun di tengah jalan didampingi Sinto. "Anak-anakmu jan potensial pendaki, mbak." Gitu Keling berkomentar. Titis dan Tri pun yang biasa mendaki gunung memberi aplus pada dua anak ini karena bisa mengikuti gerak langkah dengan kecepatan yang sama dengan mereka tanpa mengeluh. "Bernard ae bisa. Jadi aku pasti bisa," tandas Matea dalam jatuh bangun. Dan Bernard di depan terus berteriak,"Ayo terus, usaha. Tetap semangat." Dan mereka melaju terus sambil tengok kanan kirim kagum melihat alam, serta menikmati kebebasan semesta. Ya iya, boleh kotor, boleh teriak, boleh hujan-hujanan,...
Pasti, suatu saat kami akan merencanakan lagi pendakian seperti ini. Mungkin ke Gunung Tanggamus lagi, ke puncaknya. Atau Gunung Pesagi, Betung, Rajabasa,... ah masih banyak gunung di Lampung yang harus didaki. Pasti...

Friday, May 08, 2009

Menjelma Bidadari

Aku bisa menjelma menjadi bidadari. Sungguh. Seseorang telah memasangkan sepasang sayap kecil yang selalu berkilauan ketika digerakkan. Sayap yang sangat kecil, dan indah. Desisnya ketika aku kepakkan adalah nyanyian penyejuk. Dan sangat kuat! Heran juga ya, bagaimana sayap sekecil itu bisa mengangkat tubuh setengah kuintalku hingga melayang. Membawaku pada petualangan rasa. Aduhai... Dan membuatku melihat sisi-sisi keajaiban mimpi. Astaga...

Hari Menyenangkan

"Dua hari ini Albert senang sekali, bu."
"Oh, kenapa?" Aku melihat dia sekilas.
"Tidak tahu. Kenapa ya?"
"Lha kok malah tanya."
"Ya, pokoknya senang."
Aku memang lihat mood dia sangat bagus. Seolah-olah aku sudah mempunyai anak yang dewasa. Dia bertindak dengan sabar, sok mengerti dan itu tadi, dewasa.
Aku bisa menduga sikap ini muncul sejak hari Rabu kemarin, ketika aku mendapat surat panggilan untuk menghadap guru wali kelasnya. Tentu aku sangat kaget, apa yang sudah dibuat Albert sehingga aku mesti datang ke sekolahnya di ruang BP. Malam itu juga aku, bapake dan Albert duduk melingkar, serius. Surat itu aku pegang dan aku tanya ke dia, kira-kira kenapa aku harus datang ke sekolah. Dia mengatakan beberapa alasan yaitu satu karena tulisannya jelek. Dua, karena menulisnya lambat. Tiga, karena beberapa kali tidak mengumpulkan tugas. Empat,...
"Mungkin...karena nilai Albert yang terakhir jelek."
Aku berkerut mendengar itu. Lalu kami bertiga membahas bersama hal itu. Albert mengemukakan beberapa alasan dan kemudian juga menawarkan solusi sendiri. Itu yang sekarang ini kami kerjakan.
Albert anak cerdas, aku tahu itu. Bu Ety, gurunya pun mengakui. Nilainya bagus. Soal tulisan aku cukup maklum deh, dia memang minatnya berlari, main bola, naik sepeda...ketimbang duduk di meja belajar. Tapi dia punya jawaban yang cerdas dan juga alasan yang orisiinil...asli, kadang lebih dewasa ketimbang aku.
Besoknya aku bertemu Bu Ety, dan syukurlah kami bisa ngobrol secara santai. Beberapa hal yang kemukakan Albert itu sebagian betul, dan Bu Ety bersedia membantu. Dia juga menjanjikan untuk bicara serius juga dengan Albert empat mata.
Aku kira ketika anak diperlakukan secara dewasa, dia juga akan berbuat secara dewasa. Dan itu membuatnya senang.

Jadi Cover Majalah


Apa yang harus dirasa kalau wajah 'menceng' kayak gitu dimuat untuk sampul sebuah majalah? Seorang sahabat mengirim softcopy ini setelah majalahnya sendiri sudah aku simpan di satu pojok sejak beberapa bulan yang lalu. Kiriman ini mengingatkan aku kalau pernah jadi 'covergirl' dadakan. Ini salah satu dari koleksi topengku. Mau apa...

Saturday, May 02, 2009

Ibu Palsu

Hari buruh.
Setelah berhari-hari berbusa-busa menjadi provakator di banyak tempat banyak orang, hari ini aku tafakur, tunduk terdiam mengabadikan simbol.
Hari Buruh Internasional hanyalah moment menyematkan simbol.
Perjuangan buruh bukan pada hari ini.
Hari ini hanyalah lengkingan sekarat : mayday, mayday, mayday...
Semakin sayup, namun sempat aku abadikan : dalam doa jumatku dalam tulisanku dalam kameraku dalam ragaku dalam hatiku.

Rambutku aku babat cepak. Aku katakan pada semua orang,"Sebagai simbol penggundulan hak buruh!!" Pemanfaatan moment.
Di rumah anak-anakku protes.
"Ibu aneh deh." Kata Albert. Dia menatapku sambil melotot.
"Ini pasti ibu palsu." Kata Bernard sambil mengamat-amati wajahku. "Coba buka mulut, Bu. Coba bilang : aaaa... Nah, kan, beda. Ini ibu palsu, Mas!!! Pasti dia menyembunyikan ibu kita yang asli. Ayo kita lawan, Mas!!!" Dikeroyok dua cowok ini mana tahan.
Ampun deh.
Malam sebelum tidur, Bernard berkomentar lagi : "Bagus sih, Bu, tapi tidak cantik." Sambil mengelus-elus rambutku. Lalu lelap tak mau melihat cemberutku.
Pagi bangun tidur dia komentar lagi :"Cantik sih, Bu, tapi tidak bagus." Aduh...
Setelah aku suapi, dan aku bantu membereskan tasnya, aku laporkan komentar itu ke bapaknya buru-buru dia beri tanggapan baru. "Nggak, ah. Ibu salah dengar. Cantik, bagus." Terpaksa aku harus membenamkan bibirku ke seluruh wajahnya.
Aku tahu mereka sayang aku apapun bentuk rambutku. Tapi memang aku harus berusaha untuk menjadi 'ibu asli' bagi mereka berdua.