Baru saja aku makan seperti kesurupan. Seporsi nasi pedas (dari Pondok Puas, Jl. Sudirman, Pahoman). Pertama, memang pedas. Bukan sangat pedas, hanya pedas saja. Tapi kan semua juga tahu aku tidak terlalu doyan pedas maka nasi dengan sayur gori pedas, tumis tempe pedas, oseng buncis pedas, ayam goreng plus sambel yang pasti pedas, menjadi begitu pedasnya.
Kedua, karena sangat lapar jadi aku makan tanpa jeda. Mulut penuh, berkurang dikit aku jejel lagi, dan hanya hitungan menit, ludes semuanya. Tersisa sambel yang tidak mungkin kupaksa jejal ke mulut. Biasanya aku suka makan pelan-pelan, sambil ngobrol membaca atau melamun.
Ketiga, memang aku sedang kesurupan. Mana mungkin orang dengan tinggi badan sekitar 160 cm, berat sekitar 55 kg, umur 38 tahun, punya suami, dan dua anak, di hari Sabtu malah terpuruk di kantor dengan tiga meja kerja yang penuh, yang semuanya harus selesai hari ini! Hari yang mestinya di rumah, memasak bolu coklat, membaca kedua kalinya Dodolit Dodolit Dodolibret, main monopoli dengan Bernard, sambil nonton TV sepuasnya, tiduran...
Hah, bahkan aku janji untuk nonton The Song of Dayang Rindu jam 16 nanti di Taman Budaya! Aku sudah putus asa di detik ini tak mungkin mengejar waktu untuk itu!
(Dan aku masih akan ada di sini sebelum semuanya selesai, mungkin nanti sore, malam...ditemani suara Gie, Slank, Mr. Big, The Corrs, Anggun, ...bergantian. Semuanya menyulutkan sepi sekeras apapun aku pasang.)
Saturday, June 16, 2012
Wednesday, June 13, 2012
Berusaha Keras untuk Positif
Jika ada yang namanya Rabu Abu, hari ini adalah Hari Rabu Kelabu. Aku sekuat tenaga berusaha positif. Sungguh-sungguh berusaha. Bangun pagi. Menyiapkan sarapan. Menyiapkan anak-anak. Menyapa suami, tetangga, segala makluk. Tapi kadang memang kesialan sulit dihindari.
1. Merpati cancel penerbangan untuk tanggal 28 Juni nanti. Dimajuin pagi. Ya ndak mungkin. Ini penerbangan lanjutan. Saat itu aku masih di Touyuan. Lalu telepon ke mereka, mesti ganti 4 nomor, 1 nomor rusak, 2 bukan wewenangnya, 3 sama juga, dan nomor terakhir ok, aku diminta nunggu. Hasilnya? Mereka balikin seluruh biaya, dan penerbangan batal. Mereka enak tapi aku pasti akan dapat penerbangan yang lebih mahal. Harus ngurus lagi ke agen perjalanan. Tambah uang, waktu, tenaga, dan pusing.
2. Printer ngadat. Ok, isi tinta. Tapi tetap masalah. Balik ke Veneta. Mereka bersihkan ini itu bagian dalamnya, mereka bilang beres, tapi gak bisa nyoba. Dan aku gak bawa CD drivernya. Sampai di kantor, tetap gak bisa. Waduh, jengkel di ujung kepala.
3. Surat undangan ketinggalan. Mestinya hari ini hari konfirmasi undangan pelatihan GATK untuk tanggal 18 nanti. Aku nargetin hari ini kelar urusan peserta sebelum besok rapat terakhir persiapan. Rupanya di tasku masih ada satu undangan tertinggal yang harusnya aku kirim untuk para suster CB di Tanjungseneng. Gimana mereka mau konfirm kalau undangan saja belum mereka terima. Wah.
4. Nuntius Juni belum beres, yang Juli apalagi. Yang Juni sangat bukan kesalahanku. Mestinya sudah naik cetak lamaaa...yang lalu, baru akan cetak hari ini. Yang Juli harusnya selesai dalam minggu ini, tapi dengan fokusku yang pecah kemana-mana, mana tahan. Lalu, mati lampu. Hmmm, lengkap sudah.
5. Janjian ketemu beberapa orang, tidak ada. "Aku masih di teluk. Pertemuan para pastur muda." Nah ya, aku harus paham kalau Vikjen sangat sibuk, dan aku bikin janji mendadak. Jadi ok ada masalah, ok gak bisa ketemu, ok harus nunggu. Tapi kok ya jengkel juga.
Aku tetap tersenyum. Hayo, siapa yang bisa menemuiku dengan wajah cemberut, aku akan menggantinya dengan senyum berkali lipat. Berusaha keras untuk positif. Susahnya.... Menulis di blog seperti ini juga salah satu bentuk usaha untuk positif. Come on, Yuli....
1. Merpati cancel penerbangan untuk tanggal 28 Juni nanti. Dimajuin pagi. Ya ndak mungkin. Ini penerbangan lanjutan. Saat itu aku masih di Touyuan. Lalu telepon ke mereka, mesti ganti 4 nomor, 1 nomor rusak, 2 bukan wewenangnya, 3 sama juga, dan nomor terakhir ok, aku diminta nunggu. Hasilnya? Mereka balikin seluruh biaya, dan penerbangan batal. Mereka enak tapi aku pasti akan dapat penerbangan yang lebih mahal. Harus ngurus lagi ke agen perjalanan. Tambah uang, waktu, tenaga, dan pusing.
2. Printer ngadat. Ok, isi tinta. Tapi tetap masalah. Balik ke Veneta. Mereka bersihkan ini itu bagian dalamnya, mereka bilang beres, tapi gak bisa nyoba. Dan aku gak bawa CD drivernya. Sampai di kantor, tetap gak bisa. Waduh, jengkel di ujung kepala.
3. Surat undangan ketinggalan. Mestinya hari ini hari konfirmasi undangan pelatihan GATK untuk tanggal 18 nanti. Aku nargetin hari ini kelar urusan peserta sebelum besok rapat terakhir persiapan. Rupanya di tasku masih ada satu undangan tertinggal yang harusnya aku kirim untuk para suster CB di Tanjungseneng. Gimana mereka mau konfirm kalau undangan saja belum mereka terima. Wah.
4. Nuntius Juni belum beres, yang Juli apalagi. Yang Juni sangat bukan kesalahanku. Mestinya sudah naik cetak lamaaa...yang lalu, baru akan cetak hari ini. Yang Juli harusnya selesai dalam minggu ini, tapi dengan fokusku yang pecah kemana-mana, mana tahan. Lalu, mati lampu. Hmmm, lengkap sudah.
5. Janjian ketemu beberapa orang, tidak ada. "Aku masih di teluk. Pertemuan para pastur muda." Nah ya, aku harus paham kalau Vikjen sangat sibuk, dan aku bikin janji mendadak. Jadi ok ada masalah, ok gak bisa ketemu, ok harus nunggu. Tapi kok ya jengkel juga.
Aku tetap tersenyum. Hayo, siapa yang bisa menemuiku dengan wajah cemberut, aku akan menggantinya dengan senyum berkali lipat. Berusaha keras untuk positif. Susahnya.... Menulis di blog seperti ini juga salah satu bentuk usaha untuk positif. Come on, Yuli....
Tuesday, June 12, 2012
Specially June for Albert
Juni ini bulan istimewa untuk Albert. Dia genap berusia 11 tahun pada 8 Juni lalu. Saat yang bersamaan dia menerima Sakramen Tobat untuk pertama kalinya, dan dua hari kemudian terima komuni pertama. Di hari gembiranya, dia meminta kue ulang tahun white forest, yang full coklat putih. Ayam goreng tepung kesukaannya. Dan juga sekilo jambu air, kesukaanku. Itulah menu makan malam kami sekeluarga, dengan doa-doa istimewa untuk Albert, dengan segala lambang cinta. Juga untuk menutup segala dinamika hari itu yang cukup padat. Kebetulan juga hari terakhir ulangan semesternya.
Secara khusus aku membuatkan sarapan telur rebus untuk kami berempat menandai hari itu.
"Telur tanda pengharapan."
Jelasku pada Albert.
Makan siang ada ikan emas goreng.
"Tanda kejayaan."
Ujarku pada Albert.
Dan seluruh rangkaiannya menjadi doaku untuk Albert. Semoga dia semakin dewasa belajar tentang dunia. Always love you, Albert.
Monday, June 11, 2012
Nonton Soegijanya Nanti ya, Anak-anak!
Hari Sabtu, 9 Juni 2012, aku bersama suami nonton Soegija di Central Plaza, Tanjungkarang. Dapat tiket gratis yang tidak boleh disia-siakan walau kami harus duduk terpisah (Thanks, pak Har.). Pada anak-anak yang kami tinggal malam mingguan berdua di rumah aku bilang,"Kalau film ini bagus untuk anak-anak juga, kita nonton hari Senin atau Selasa mendatang." Mereka setuju.
Nah, apakah film ini bagus? Aku berpikir sepanjang perjalanan pulang usai nonton. Pada suami aku bilang spontan saat kami bertemu di lobby teater,"I have more expectations for this movie. I cann't get it all. It 's very much symbol and art. I need more naturally Soegija, not like as a symbol. I need more Soegija."
Di beberapa hal suamiku setuju tapi juga tidak setuju. Ya, maklum, ukuran penilaian kami berbeda. Jadi biar saja. Dan aku kira penilaianku juga belum final. Mesti direnungkan lagi, jadi gak perlu ngotot. Tapi tentu aku tidak bisa bilang begitu pada anak-anak. Apakah film ini bagus? Di suatu titik aku memutuskan akan bicara pada anak-anak seperti ini.
"Wah, sayang sekali, ibu tidak bisa mengatakan film ini bagus atau tidak. Hmm, soal gambar-gambar yang di sana, ya bagus. Banyak yang lucu, banyak anak-anak juga. Ibu suka di beberapa, eh di banyak bagian. Ada anak yang sangat senang bisa mengeja m-e-r-d-e-k-a, dan ingin sungguh-sungguh merdeka. Ada lagu-lagu yang bagus, seperti kalian pernah dengar, itu Ndherek Ibu Maria, atau lagu dolanan Jawa. Ada cerita perang juga. Ndak, bukan perang seperti yang kalian kira walau ada pistol, bambu runcing...ndak ada yang berkelahi, eh dikit mungkin. Ada perawat-perawat, orang sakit,...
Dan tentu ada Sugiyo, hmmm, ini yang harus kalian ketahui, Sugiyo adalah Uskup pertama di Indonesia yang asli Indonesia. Tapi film ini tidak banyak bercerita tentang dia. Hmmm ya, walau judulnya tentang orang ini, tapi dia diceritakan sedikit. Ada, tentu saja ada. Apa yang dilakukan? Hmmm, banyak.
Dia membela orang Indonesia saat perang melawan Jepang dan Belanda. Dia berjuang untuk orang Indonesia, bukan hanya orang Katolik. Dia orang yang berani. Hmmm, tapi di film ini baru diceritakan sedikit, seperti menyediakan Gereja untuk tempat pengungsian, menulis surat untuk pemimpin bangsa. Uskup ini dekat dengan Sukarno. Tahu Sukarno itu siapa? Ya, dan Uskup ini pun diangkat jadi pahlawan Nasional. Sungguh, masa ibu berbohong. Ada fotonya. Pasti ada dong. Di buku pelajaran? Mestinya ada. Nanti kita lihat. Tapi memang tidak banyak diceritakan di film ini.
Mungkin ibu akan menyarankan kalian membaca buku tentang Uskup ini dulu. Ada, ibu punya dua bukunya. Lupa, nanti ibu carikan. Satu karangan Anhar Gonggong, satu lagi siapa ya. Pasti ada di bagian atas itu letaknya. Lama tidak ibu baca. Ya, nanti ibu carikan. Kalau sudah membaca buku tentang kisahnya lebih mudah kalian mengerti saat melihat film ini. Jika belum, hmmm ya, bisa saja menonton. Tapi ibu kuatir kalian nanti menangkap apa. Ya ndak apa-apa kalau mau tetap nonton. Tapi benar lo ya, ibu tidak bisa bilang film ini film bagus atau tidak. Ibu bisa bilang ini film yang sulit. Jadi, kalian baca dulu deh tentang Soegijapranata, setelah itu kita akan menontonnya bersama. Eh, ya, ibu janji. Kalau kalian bilang film ini tidak bagus setelah membaca bukunya, ibu akan beliin tiket nonton lagi, film Ambilkan Bulan! Kalian bisa nyanyi-nyanyi di film ini. Ya, janji."
Itu percakapan yang kurancang untuk anak-anak. Begitulah... Moga mereka paham.
Nah, apakah film ini bagus? Aku berpikir sepanjang perjalanan pulang usai nonton. Pada suami aku bilang spontan saat kami bertemu di lobby teater,"I have more expectations for this movie. I cann't get it all. It 's very much symbol and art. I need more naturally Soegija, not like as a symbol. I need more Soegija."
Di beberapa hal suamiku setuju tapi juga tidak setuju. Ya, maklum, ukuran penilaian kami berbeda. Jadi biar saja. Dan aku kira penilaianku juga belum final. Mesti direnungkan lagi, jadi gak perlu ngotot. Tapi tentu aku tidak bisa bilang begitu pada anak-anak. Apakah film ini bagus? Di suatu titik aku memutuskan akan bicara pada anak-anak seperti ini.
"Wah, sayang sekali, ibu tidak bisa mengatakan film ini bagus atau tidak. Hmm, soal gambar-gambar yang di sana, ya bagus. Banyak yang lucu, banyak anak-anak juga. Ibu suka di beberapa, eh di banyak bagian. Ada anak yang sangat senang bisa mengeja m-e-r-d-e-k-a, dan ingin sungguh-sungguh merdeka. Ada lagu-lagu yang bagus, seperti kalian pernah dengar, itu Ndherek Ibu Maria, atau lagu dolanan Jawa. Ada cerita perang juga. Ndak, bukan perang seperti yang kalian kira walau ada pistol, bambu runcing...ndak ada yang berkelahi, eh dikit mungkin. Ada perawat-perawat, orang sakit,...
Dan tentu ada Sugiyo, hmmm, ini yang harus kalian ketahui, Sugiyo adalah Uskup pertama di Indonesia yang asli Indonesia. Tapi film ini tidak banyak bercerita tentang dia. Hmmm ya, walau judulnya tentang orang ini, tapi dia diceritakan sedikit. Ada, tentu saja ada. Apa yang dilakukan? Hmmm, banyak.
Dia membela orang Indonesia saat perang melawan Jepang dan Belanda. Dia berjuang untuk orang Indonesia, bukan hanya orang Katolik. Dia orang yang berani. Hmmm, tapi di film ini baru diceritakan sedikit, seperti menyediakan Gereja untuk tempat pengungsian, menulis surat untuk pemimpin bangsa. Uskup ini dekat dengan Sukarno. Tahu Sukarno itu siapa? Ya, dan Uskup ini pun diangkat jadi pahlawan Nasional. Sungguh, masa ibu berbohong. Ada fotonya. Pasti ada dong. Di buku pelajaran? Mestinya ada. Nanti kita lihat. Tapi memang tidak banyak diceritakan di film ini.
Mungkin ibu akan menyarankan kalian membaca buku tentang Uskup ini dulu. Ada, ibu punya dua bukunya. Lupa, nanti ibu carikan. Satu karangan Anhar Gonggong, satu lagi siapa ya. Pasti ada di bagian atas itu letaknya. Lama tidak ibu baca. Ya, nanti ibu carikan. Kalau sudah membaca buku tentang kisahnya lebih mudah kalian mengerti saat melihat film ini. Jika belum, hmmm ya, bisa saja menonton. Tapi ibu kuatir kalian nanti menangkap apa. Ya ndak apa-apa kalau mau tetap nonton. Tapi benar lo ya, ibu tidak bisa bilang film ini film bagus atau tidak. Ibu bisa bilang ini film yang sulit. Jadi, kalian baca dulu deh tentang Soegijapranata, setelah itu kita akan menontonnya bersama. Eh, ya, ibu janji. Kalau kalian bilang film ini tidak bagus setelah membaca bukunya, ibu akan beliin tiket nonton lagi, film Ambilkan Bulan! Kalian bisa nyanyi-nyanyi di film ini. Ya, janji."
Itu percakapan yang kurancang untuk anak-anak. Begitulah... Moga mereka paham.
Thursday, June 07, 2012
Musik Anak-anak
Setiap anak punya irama musiknya sendiri
ada yang begitu genius melampaui banyak anak lain
itu pun dengan ukuran tertentu yang tidak sama
antara aku dan kau dan dia dan mereka.
Anak-anakku pun punya irama musiknya sendiri
aku adalah teman bagi mereka supaya iramanya semakin kaya
tapi bukanlah maksudku menjadi perusak mereka
biarlah mereka menikmati irama musik mereka sendiri.
Aku hanya ingin memastikan
bahwa apapun irama mereka
mungkin jauh dari nilai yang kuharapkan
mereka tahu bahwa aku mencintai mereka.
Dan aku akan selalu belajar
untuk tahu selalu ada sisi
yang indah untuk kunikmati.
Mereka tak perlu mengkuatirkan aku
maupun memperdulikan ukuran
yang aku punya.
Mereka indah untuk dinikmati
apa adanya.
Tuesday, June 05, 2012
Kelengkeng / Lengkeng Sugiri di Belakang Rumah
Di samping ini foto buah kelengkeng di pohon kami di belakang rumah, yang panen dari bulan April - Juni. Bagus ya? Dan rimbun. Ini panen pertama yang bagus sejak pohon ini ditanam pada tahun 2006 yang lalu. Konon namanya adalah Kelengkeng / Lengkeng Sugiri. Varietas lokal Lampung yang cukup unggul dan dijadikan unggulan oleh Propinsi Lampung.
Waktu kami beli di pameran, penjualnya menyertakan sertifikat jaminan setahun sudah berbuah. Memang setelah setahun waktu itu berbuah, 7 biji! Hehehe.. Usai itu gak pernah berbuah lagi sampai tahun lalu Den Hendro memberikan ancaman serius ke pohon lengkeng ini.
"Kalau tahun ini tidak berbuah, potong habis!"
Ancaman itu disertai dengan memangkas beberapa cabang, menguliti semua cabang yang tersisa sekitar 10 - 20 cm panjangnya pada bagian kulit batangnya. Mengurangi air yang menyiramnya, dan tiap sore diingatkan terus,"Awas kalau gak berbuah!"
Alhasil, jadilah. Akhir tahun lalu (Desember 2011) bunga-bunga bermunculan, dan disertai bulatan-bulatan imut. Buanyak menutupi bagian atas pohon, di tiap pucuknya. Dan masuk bulan April, setiap kali kami di belakang rumah, kami akan ambil sebutir untuk diincip, sudah mateng belum ya.
Bulan Mei -Juni adalah puncak kematangan buah. Panen raya, makan lengkeng tiap hari, dan membagikannya ke tetangga sekitar rumah. Kebanyakan heran. "Panen lengkeng? Ada pohonnya ta? Cuma satu pohon bisa berbuah?" Dst., pertanyaan-pertanyaan.
Itulah keunggulan Lengkeng Sugiri asal Lampung. Cukup satu pohon, bisa optimal buahnya. Satu tahun usai tanam pun bisa berbuah. Kasus khusus pohon kami, konon kata ahli karena terlalu subur, maka daun lebat, cabang berlimpah tapi buah tidak muncul di tahun kedua dan ketiga. Jadi, ancaman Den Hendro itulah yang manjur. Bukan omongannya, tapi bacokannya ke dahan itulah yang mengurangi asupan nutrisi ke seluruh pohon dan membuatnya tidak nyaman sehingga memaksa reproduksi. Yang akan membuatnya regenerasi seharusnya. Nah buah-buah manisnya menjadi hadiah untuk manusia sebelum bijinya kesebar di seluruh dunia meneruskan generasi Lengkeng Sugiri. Hehehehe, mungkin gitu ya? Ndak ngerti teorinya.
Dan lagi sekarang buahnya sudah habis, tinggal sisa-sisa dikit saja untuk dikunyah-kunyah saat sore. Jadi jangan datang ke rumah! Cukup lihat saja foto yang kupasang di sini! Bagus kan?
Waktu kami beli di pameran, penjualnya menyertakan sertifikat jaminan setahun sudah berbuah. Memang setelah setahun waktu itu berbuah, 7 biji! Hehehe.. Usai itu gak pernah berbuah lagi sampai tahun lalu Den Hendro memberikan ancaman serius ke pohon lengkeng ini.
"Kalau tahun ini tidak berbuah, potong habis!"
Ancaman itu disertai dengan memangkas beberapa cabang, menguliti semua cabang yang tersisa sekitar 10 - 20 cm panjangnya pada bagian kulit batangnya. Mengurangi air yang menyiramnya, dan tiap sore diingatkan terus,"Awas kalau gak berbuah!"
Alhasil, jadilah. Akhir tahun lalu (Desember 2011) bunga-bunga bermunculan, dan disertai bulatan-bulatan imut. Buanyak menutupi bagian atas pohon, di tiap pucuknya. Dan masuk bulan April, setiap kali kami di belakang rumah, kami akan ambil sebutir untuk diincip, sudah mateng belum ya.
Bulan Mei -Juni adalah puncak kematangan buah. Panen raya, makan lengkeng tiap hari, dan membagikannya ke tetangga sekitar rumah. Kebanyakan heran. "Panen lengkeng? Ada pohonnya ta? Cuma satu pohon bisa berbuah?" Dst., pertanyaan-pertanyaan.
Itulah keunggulan Lengkeng Sugiri asal Lampung. Cukup satu pohon, bisa optimal buahnya. Satu tahun usai tanam pun bisa berbuah. Kasus khusus pohon kami, konon kata ahli karena terlalu subur, maka daun lebat, cabang berlimpah tapi buah tidak muncul di tahun kedua dan ketiga. Jadi, ancaman Den Hendro itulah yang manjur. Bukan omongannya, tapi bacokannya ke dahan itulah yang mengurangi asupan nutrisi ke seluruh pohon dan membuatnya tidak nyaman sehingga memaksa reproduksi. Yang akan membuatnya regenerasi seharusnya. Nah buah-buah manisnya menjadi hadiah untuk manusia sebelum bijinya kesebar di seluruh dunia meneruskan generasi Lengkeng Sugiri. Hehehehe, mungkin gitu ya? Ndak ngerti teorinya.
Dan lagi sekarang buahnya sudah habis, tinggal sisa-sisa dikit saja untuk dikunyah-kunyah saat sore. Jadi jangan datang ke rumah! Cukup lihat saja foto yang kupasang di sini! Bagus kan?
Saturday, June 02, 2012
What's indicator of my success?
Mengalami kegagalan adalah hal biasa bagiku. Bukan perkara yang luar biasa. Ada banyak contoh kecil besar. Tapi yang harus aku akui, semua kegagalan-kegagalan itu aku rasakan dengan cara yang berbeda-beda. Kadang dengan dominan sedih, marah, kecewa. Namun anehnya ada juga peristiwa kegagalan memberikan kelegaan. Kegembiraan.
Sepanjang pagi ini aku berpikir tentang hal ini.
Pertama, aku kira ini terkait dengan indikator di tiap momen dimana aku menilai suatu peristiwa. Kadang aku memakai indikator yang tidak masuk akal dengan melibatkan orang-orang lain, yang sama sekali tak mungkin ada di dalam kendaliku. Sama sekali bukan hakku.
Kedua, juga terkait dengan kesiapanku menerjemahkan masa depan. Untuk yang ini aku kira cocok dengan peribahasa yang mengatakan kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jadi lewat kegagalan aku masih punya waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan diri menghadapi yang tak terduga suatu ketika nanti.
Ketiga, ketika otak dan hati kompromi secara positif. Ya, iyalah. Orang hidup kan ada naik turunnya. Apa salahnya turun tangga kali ini? Toh tangga itu masih tersedia, jadi suatu saat pasti naik. Atau tangganya hancur? Gak soal. Kan masih ada nafas untuk membangunnya lagi. Nafas, itu modal utama. Selama ada nafas berarti masih ada daya untuk berjuang.
Keempat, mau gak mau harus bicara tentang iman. Ada Hyang Ilahi yang mengatasi segalanya. Kadang-kadang susah dipercaya karena tak kelihatan, tak terdengar, tak terasa,... Tapi biar saja dinamikanya seperti itu. Kadang penuh percaya, kadang mengabaikan, kadang tak percaya. Kan aku bukan Maha. Aku adalah hanya. Tidak lebih!
Sepanjang pagi ini aku berpikir tentang hal ini.
Pertama, aku kira ini terkait dengan indikator di tiap momen dimana aku menilai suatu peristiwa. Kadang aku memakai indikator yang tidak masuk akal dengan melibatkan orang-orang lain, yang sama sekali tak mungkin ada di dalam kendaliku. Sama sekali bukan hakku.
Kedua, juga terkait dengan kesiapanku menerjemahkan masa depan. Untuk yang ini aku kira cocok dengan peribahasa yang mengatakan kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jadi lewat kegagalan aku masih punya waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan diri menghadapi yang tak terduga suatu ketika nanti.
Ketiga, ketika otak dan hati kompromi secara positif. Ya, iyalah. Orang hidup kan ada naik turunnya. Apa salahnya turun tangga kali ini? Toh tangga itu masih tersedia, jadi suatu saat pasti naik. Atau tangganya hancur? Gak soal. Kan masih ada nafas untuk membangunnya lagi. Nafas, itu modal utama. Selama ada nafas berarti masih ada daya untuk berjuang.
Keempat, mau gak mau harus bicara tentang iman. Ada Hyang Ilahi yang mengatasi segalanya. Kadang-kadang susah dipercaya karena tak kelihatan, tak terdengar, tak terasa,... Tapi biar saja dinamikanya seperti itu. Kadang penuh percaya, kadang mengabaikan, kadang tak percaya. Kan aku bukan Maha. Aku adalah hanya. Tidak lebih!
Thursday, May 31, 2012
Wednesday, May 30, 2012
Kaki
| Kakiku, jepretan iseng sahabat. |
Ini bagian tubuh yang penting bagi gerak hidup. Aku pernah nulis, kaki-kaki inilah yang membuat jarak gerakku semakin panjang, lebar, luas... Aku bisa membuat lompatan-lompatan yang tak terbayangkan sebelumnya dengan kakiku. Namun seringkali bagian tubuh paling bawah ini terlupakan. Soalnya letaknya di bawaaahhhh sana. Sering luput dari perhatian. Maka, ketika melihat foto ini di antara file kamera seorang sahabat, aku langsung ingin mengeksposnya. Ingin mengingat ada kaki yang melengkapiku. Mensyukurinya. Aku ingat ketika di Siam Reap, Kamboja, aku menemui bukan hanya seratus dua ratus tapi ribuan orang tanpa kaki akibat ranjau darat. Sebagian yang pernah kutemui Tun Channareth, seorang aktivis dari Kamboja eks tentara dan diamputasi kedua kakinya karena terkena ranjau darat, menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Desember 1997 atas nama Kampanye Internasional Anti Ranjau Darat. Juga ada Song Kosal, seorang gadis cantik yang ceria dengan satu kaki. Itu tuh foto keduanya. Mestinya aku punya foto hasil jepretan sendiri, tapi lagi gak sabar mencarinya. Nanti aku susulkan. Mereka menggulati kehilangan kaki-kaki dengan dinamika yang luar biasa. Tidak setiap orang berhasil dalam pergulatan itu. Jadi, ayo syukuri kaki-kaki kita sekarang ini.
![]() |
| Reth dan Kosal |
Monday, May 28, 2012
Menarikan Kehidupan
![]() |
| Tari Jawa di pameran dunia di Paris 1889. |
Ada musik-musik yang mengalun senantiasa untuk diikuti menjadi ritme tarian. Sesekali keras menghentak. Di waktu lain halus mendayu. Berganti dari satu masa ke masa lain. Rentang yang tak tentu setiap masa.
Friday, May 25, 2012
Metropool - Megaria - Metropole
Katanya ini bioskop tertua di Jakarta. Menurut Wikipedia dibangun pada tahun 1932 dengan nama Bioscoop Metropool. Terletak di sudut Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.
Pada 1960, namanya diubah menjadi Bioskop Megaria, sesuai seruan Soekarno untuk menghilangkan nama-nama asing. Pada 1989, gedung bioskop ini disewakan oleh PT Bioskop Metropole, pemiliknya, kepada jaringan 21 Cineplex. Gedung ini diisi dengan 6 bioskop mini. Namanya sempat berubah menjadi Megaria 21. Namun kini namanya adalah Metropole XXI.
Selasa lalu (22/5) aku nonton di situ untuk pertama kalinya bareng Dhenok. Sayang, film yang kami pilih, Bel Ami, cuma cocok untuk dicela-cela. Sebenarnya aku suka settingnya, idenya (diambil dari sebuah novel dengan judul sama karangan Guy de Maupassant terbitan tahun 1885), tapi jadinya katrok banget. Entar kalau pas ingin mencela atau nonjok orang, aku ceritakan film ini. Tapi gak janji ya. Aku gak minat untuk mencela atau nonjok orang dalam waktu dekat ini.
Pada 1960, namanya diubah menjadi Bioskop Megaria, sesuai seruan Soekarno untuk menghilangkan nama-nama asing. Pada 1989, gedung bioskop ini disewakan oleh PT Bioskop Metropole, pemiliknya, kepada jaringan 21 Cineplex. Gedung ini diisi dengan 6 bioskop mini. Namanya sempat berubah menjadi Megaria 21. Namun kini namanya adalah Metropole XXI.
Selasa lalu (22/5) aku nonton di situ untuk pertama kalinya bareng Dhenok. Sayang, film yang kami pilih, Bel Ami, cuma cocok untuk dicela-cela. Sebenarnya aku suka settingnya, idenya (diambil dari sebuah novel dengan judul sama karangan Guy de Maupassant terbitan tahun 1885), tapi jadinya katrok banget. Entar kalau pas ingin mencela atau nonjok orang, aku ceritakan film ini. Tapi gak janji ya. Aku gak minat untuk mencela atau nonjok orang dalam waktu dekat ini.
Friday, May 18, 2012
Bola Dimana-mana
Ada bola di mana-mana. Ini bukan soal Liga Champions, Turnamen Al Nakba, Euro 12, ISL, atau apapun. Tapi ini soal bola-bola yang kutemukan saat menyapu halaman rumah kemarin sore (yang tidak jadi kuteruskan menyapu tapi kutukar sapu dengan kamera untuk melongoknya).
| Bola tenis di dekat mobil kayu. |
| Bola basket di samping rumah. |
| Kock bulutangkis di rumpun anggrek tanah. |
| Bola volley di belakang rumah, dekat pagar. |
| Dua boa plastik di bawah pohon jambu dekat pagar depan rumah. |
| Bola sepak yang bocor terjepit sepeda dan segala barang. |
Wednesday, May 16, 2012
Si Boy Mati!
Beberapa versi tentang kematiannya pun muncul :
Bernard bilang,"Dia pasti sedang menyanyi sambil loncat-loncat di pinggir kolam, lalu mundur-mundur nggak lihat kolam, lalu jatuh!" Ujarnya sambil memekik lebay.
Albert bilang,"Pasti ngikut-ngikut bapaknya. Bapaknya kan suka minum di kolam. Tapi karena gak nyampe tetep memaksa, ya jatuh. Lagian airnya dalam dan dia tidak bisa berenang..." Ujarnya sambil menerawang lebay.
Aku ikut sedih bersama mereka. Dan aku biarkan mereka membuat penguburan yang pantas dan lebay untuk si Boy. Mereka bungkus dengan kain bekas kaos Den Hendro, dikubur, dipasang kertas dengan tulisan Si Boy, wafat Minggu, 13 Mei 2012, dan ditaburi bunga anggrek dan bugenville (Aku menahan nafas ketika mereka mencabuti kuntum-kuntum anggrek, tapi gak bisa protes.)
Yang aku protes,"Memang dia anak ayam jantan? Kok diberi nama Boy? Kalian kan belum tahu suaranya kukuruyuk atau petok-petok. Cuma ciap-ciap begitu." Mereka gak mau menjawab. Cuma melihatku sambil monyong. "Memang ini saatnya membahas begituan? Ibu ini lebay deh." Hehehe...aku bayangkan mereka membatin begitu.
Tuesday, May 15, 2012
Jaring-jaring Anak-anakku
Awalnya aku kira aku yang akan menjaring anak-anakku. Menjaganya dalam simpul-simpul yang kuat lewat kekuatiranku. Memastikan bahwa mereka baik-baik saja dan terlindung dari segala ancaman.
Rupanya tidak. Aku yang terbungkus jaring-jaring mereka. Aku ada dalam jaring-jaring longgar yang membuatku masih leluasa memandang, memeluk, mencium mereka. Tapi jaring-jaring juga membatasi otak hati kaki tanganku untuk tidak lebih lagi mengekang mereka dalam cara pikirku. Mereka bebas bergerak dalam cara hidupnya, dan mereka akan bertumbuh lebih dari perkiraanku. Jaring-jaring ini mengajariku banyak hal tentang kesabaran, kebijaksanaan, pemurnian diri, motivasi, dan jelas membantuku untuk tahu diri. Aku bukan pemilik mereka. Sama sekali bukan.
Rupanya tidak. Aku yang terbungkus jaring-jaring mereka. Aku ada dalam jaring-jaring longgar yang membuatku masih leluasa memandang, memeluk, mencium mereka. Tapi jaring-jaring juga membatasi otak hati kaki tanganku untuk tidak lebih lagi mengekang mereka dalam cara pikirku. Mereka bebas bergerak dalam cara hidupnya, dan mereka akan bertumbuh lebih dari perkiraanku. Jaring-jaring ini mengajariku banyak hal tentang kesabaran, kebijaksanaan, pemurnian diri, motivasi, dan jelas membantuku untuk tahu diri. Aku bukan pemilik mereka. Sama sekali bukan.
Monday, May 14, 2012
Bedah Buku : Bangga dalam Keprihatinan, Kisah Karya para Katekis
Jumat, 4 Mei lalu aku diundang untuk memandu bedah buku di Sahid Hotel, sebagai sesi awal dalam sebuah pertemuan. Judul buku adalah Bangga dalam Keprihatinan, Kisah Karya Para Katekis, editor : Nurhadi Pujoko. Di luar kebiasaan sebuah bedah buku yang mengundang banyak orang, yang hadir kali ini adalah para penulis buku itu sendiri plus beberapa orang tambahan dalam lingkup mereka. Para 'tua' dengan umur yang paling muda 56 tahun! Dan semuanya 'bapak', tidak ada ibu.
Tentang buku ini silakan membaca Majalah Nuntius edisi Juni 2012, terbit awal bulan nanti. Tapi soal para penulisnya, (ada 21 penulis dengan 21 judul tulisan yang terkumpul dalam buku ini) aku mesti katakan,"Wow!" Mereka punya semangat yang luar biasa di usia itu. Tidak bisa aku bilang usia senja karena mereka masih produktif bergerak ke sana kemari dan gerakan itu mereka tuangkan dalam tulisan. Bukan tulisan yang luar biasa tapi gerak mereka adalah gerak yang luar biasa. Aku angkat topi untuk mereka semua, juga untuk rencana buku kedua yang akan mereka buat. "Nebeng semangat ya, bapak-bapak. Aku ingin ditulari semangat itu. Terimakasih."Saturday, May 12, 2012
Cooking for My Kids
Menyiapkan bekal alias bontot untuk makan siang anak-anak adalah satu dari banyak pekerjaan ibu yang menyenangkan. Lihat contoh menu bontotan anak-anakku hari Kamis minggu lalu.
1. Nasi (Nasi tidak putih karena berasnya beras pecah kulit organik yang hanya digiling satu kali. Yang kali ini aku masak adalah jenis rojolele produksi Petani Organik Alam Lestari, Bangunrejo, yang dipelopori Mas Edy dan kelompoknya, Pulih. Beras ini dijual Rp. 10.000,- per kg. Pecah-pecah kusam kecampur beras merah, tapi harumnya...)
2. Sayur terik kuning campuran tempe, tahu dan telur puyuh. Mestinya ada potongan labu siam, tapi Bernard gak mau diselipin di menunya. Pengganti sayurnya? Kagak ada. Harusnya ada buah, pisang muli yang mungil manis.
3. Naget ayam goreng tiga potong. Cukup begitu. Plus air putih masing-masing satu botol n kadang-kadang bonus satu kotak susu.
Praktis kan? Dan jelas disukai anak-anak. Kali-kali tertentu aku harus ngakali supaya ada sayuran yang masuk di menu mereka. Lumpia sayur, tumis tahu kol bumbu kecap, bakwan sayur, tumis kangkung, sambel kentang buncis wortel, opor labu siam, dll.
1. Nasi (Nasi tidak putih karena berasnya beras pecah kulit organik yang hanya digiling satu kali. Yang kali ini aku masak adalah jenis rojolele produksi Petani Organik Alam Lestari, Bangunrejo, yang dipelopori Mas Edy dan kelompoknya, Pulih. Beras ini dijual Rp. 10.000,- per kg. Pecah-pecah kusam kecampur beras merah, tapi harumnya...)
2. Sayur terik kuning campuran tempe, tahu dan telur puyuh. Mestinya ada potongan labu siam, tapi Bernard gak mau diselipin di menunya. Pengganti sayurnya? Kagak ada. Harusnya ada buah, pisang muli yang mungil manis.
3. Naget ayam goreng tiga potong. Cukup begitu. Plus air putih masing-masing satu botol n kadang-kadang bonus satu kotak susu.
Praktis kan? Dan jelas disukai anak-anak. Kali-kali tertentu aku harus ngakali supaya ada sayuran yang masuk di menu mereka. Lumpia sayur, tumis tahu kol bumbu kecap, bakwan sayur, tumis kangkung, sambel kentang buncis wortel, opor labu siam, dll.
Thursday, May 10, 2012
Adoption
| Kakak beradik beda jenis. |
| Dirawat sayang oleh keduanya. |
Hari berikutnya, si anak ayam sudah tidak betah di dalam sarang dan mengikuti bapak ibunya, pluk! Tak bisa mengepak maka dia menciap-ciap di tanah sembari mengikuti kemana bapak dan ibu angkatnya pergi. Jika ditinggal terbang, suaranya kencang kemana-mana. Anak yang cerewet.
Wah, lucu membayangkan bagaimana hidup mereka. Kadang bapak dan ibu dara tidak mau berdekatan kelihatan seperti saling berdebat. Kali saling curiga,"Dari mana nih anak? Kok beda? Selingkuh dengan ayam?"
Kadang mereka juga kelihatan risih ketika si anak ayam ndusel di bawah badan mereka seperti kebiasaan anak ayam yang berlindung di bawah induknya. Kali burung-burung gak biasa diduseli begitu sepanjang waktu.
Wah, bagaimana nanti ketika anak dara sudah waktunya terbang ya? Apa anak ayam akan frustrasi mengikutinya? Mereka saling iri gak ya? Wah, wah, ... moga mereka baik-baik berempat. Incaran bahaya muncul setiap waktu dari anak-anak, kucing, ...
Tuesday, May 08, 2012
RIP : Stefanie Celiana
Selamat jalan, teman.
Senin, 7 Mei 2012 menjadi saat bahagia bagimu
untuk bersatu lagi dengan Sang Pencipta.
Engkau sudah memberi warna pada dunia
dalam putaran waktu dari lahirmu.
Harum wangi bunga menyertaimu
bunga-bunga yang dipetik
dari kebun yang kau tanam.
Doaku, Celi.
Untukmu.
Senin, 7 Mei 2012 menjadi saat bahagia bagimu
untuk bersatu lagi dengan Sang Pencipta.
Engkau sudah memberi warna pada dunia
dalam putaran waktu dari lahirmu.
Harum wangi bunga menyertaimu
bunga-bunga yang dipetik
dari kebun yang kau tanam.
Doaku, Celi.
Untukmu.
Thursday, May 03, 2012
And Friends
Ini Bernard, anakku. Yang makannya super tapi gak gemuk-gemuk juga. Beberapa hari ini dia terbawa kakaknya, ikut latihan sepak bola di lapangan SPMA. Setiap sore mereka ganti kostum, pake sepatu dan pergi kesana.
"Lewat mana?" Tanyaku kemarin ketika mereka bukannya ke kiri, jalan yang seharusnya. Tapi malah ke kanan.
"Lewat jalan pintas, bu. Tembok pagar SPMA di atas roboh." Albert yang jawab teriak sambil lari.
Oooo.
Kebiasaan baru itu membuat mereka jadi cepat mengantuk. Beranjak ke 20.30 mereka sudah terkapar tak berdaya. Lihat tidur Bernard. Nyaman dengan mimpi bersama para temannya yang semakin banyak akhir-akhir ini. Aku yakin itu karena dia semakin 'mensosial'. Lepas dari rumah. Bergaul dengan teman-teman sebayanya. Aku sempat kuatir ketika dia dulu tidak punya keinginan untuk keluar rumah. Dia suka di dalam rumah, bermain sendiri, nonton tivi, membuat sesuatu,... Aku sering memintanya untuk keluar rumah, tapi dia tidak akan tahan lama. Sebentar juga sudah kembali. Beda dengan Albert yang memang suka keluyuran, banyak teman. Radius berapa blog juga dia masih dikenal saking supelnya.
Nah, yang belum bisa dilepas dari Bernard adalah 'teman-teman' kesayangan yang diajaknya bicara, main dan tidur. Tuh, yang di foto. Mereka adalah sebagian dari teman-teman kesayangannya, yaitu Kinclong Turtle dan Dolpino Hasan (hehehe, nama yang aneh kan? Selain itu masih ada Pinguin Pinguin, Snopy...) Aku protes waktu si lumba-lumba biru itu dipanggil Hasan.
"Ih, ibu. Ya memang itu namanya. Dolpino Hasan."
Hehehe. Kayaknya kok gak imut. Nama yang tidak lazim. Tapi itulah...
"Lewat mana?" Tanyaku kemarin ketika mereka bukannya ke kiri, jalan yang seharusnya. Tapi malah ke kanan.
"Lewat jalan pintas, bu. Tembok pagar SPMA di atas roboh." Albert yang jawab teriak sambil lari.
Oooo.
Kebiasaan baru itu membuat mereka jadi cepat mengantuk. Beranjak ke 20.30 mereka sudah terkapar tak berdaya. Lihat tidur Bernard. Nyaman dengan mimpi bersama para temannya yang semakin banyak akhir-akhir ini. Aku yakin itu karena dia semakin 'mensosial'. Lepas dari rumah. Bergaul dengan teman-teman sebayanya. Aku sempat kuatir ketika dia dulu tidak punya keinginan untuk keluar rumah. Dia suka di dalam rumah, bermain sendiri, nonton tivi, membuat sesuatu,... Aku sering memintanya untuk keluar rumah, tapi dia tidak akan tahan lama. Sebentar juga sudah kembali. Beda dengan Albert yang memang suka keluyuran, banyak teman. Radius berapa blog juga dia masih dikenal saking supelnya.
Nah, yang belum bisa dilepas dari Bernard adalah 'teman-teman' kesayangan yang diajaknya bicara, main dan tidur. Tuh, yang di foto. Mereka adalah sebagian dari teman-teman kesayangannya, yaitu Kinclong Turtle dan Dolpino Hasan (hehehe, nama yang aneh kan? Selain itu masih ada Pinguin Pinguin, Snopy...) Aku protes waktu si lumba-lumba biru itu dipanggil Hasan.
"Ih, ibu. Ya memang itu namanya. Dolpino Hasan."
Hehehe. Kayaknya kok gak imut. Nama yang tidak lazim. Tapi itulah...
Tuesday, May 01, 2012
Garuda
Garudaku
kapan kau datang menyelamatkan aku?
Aku telah jatuh dengan seluruh sayapku
mayday, mayday, mayday...
Aku percaya padamu
perkasamu
warna warnimu
Bijaksanamu harusnya menyelamatkan aku
aku mimpi kau menyelamatkan aku
sebelum aku sampai di tanah.
Mayday, mayday, mayday...
kapan kau datang menyelamatkan aku?
Aku telah jatuh dengan seluruh sayapku
mayday, mayday, mayday...
Aku percaya padamu
perkasamu
warna warnimu
Bijaksanamu harusnya menyelamatkan aku
aku mimpi kau menyelamatkan aku
sebelum aku sampai di tanah.
Mayday, mayday, mayday...
Subscribe to:
Posts (Atom)






