Friday, May 12, 2017

Eropa, Aku Datang 9 : Menyentuh Salju Alpen di Grindelwald-First

(Sebelumnya.)

Hari kedua di Swiss, tuan rumahku yang baik sangat paham bahwa tamunya ini berasal dari negeri Katulistiwa nan hangat sepanjang tahun. Salju pasti luar biasa kalau dapat dijangkau. Maka, mereka mengajakku ke arah Alpen untuk menyentuh salju. Aihdah kidah. Mereka bilang tak pernah ke tempat ini, sebuah desa di kaki Alpen karena memang tempat turis. Mereka ini para pejalan namun bukan sebagai turis. Aku pun sebenarnya lebih cocok begitu. Aku tak suka jadi turis, aku lebih suka disebut sebagai pejalan.

But, bagiku ya tetap saja luar biasa. Perjalanan ke Grindelwald First yang tersohor ini, sangat-sangat istimewa. Naik cable car selama belasan menit, mendaki bukit salju, dan segala hal yang kutemui di sana, apa coba yang bisa kukatakan. Para sahabatku ini menyiapkan aku dengan baik. Meminjamiku baju hangat sebagai rangkapan di dalam jaketku, sepatu jalan yang tepat untuk salju, juga keperluan-keperluan lain yang mungkin kubutuhkan.

Dan, really, aku sangat menikmati tempat ini. Lihatlah.






Perjalanan ke arah sana saja sudah luar biasa bagiku. Kalian bisa lihat dari foto-fotoku itu. Yang tak bisa kuceritakan banyak adalah perbincanganku dengan para sahabat ini. Mereka, sahabat-sahabat yang dengan wajar menerimaku, memberikan pelajaran-pelajaran tidak langsung selama perjalanan asyik ini. Jika aku punya kesempatan berikutnya, aku pasti akan melanjutkan pelajaran-pelajaran itu. Sungguh. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 8 : Zurich yang Rapi dan Bersih

(Sebelumnya.)

Sampai di stasiun Zurich Hb, sekitar pukul 15.00, Nadet sudah menjemputku di platform. Huh. Kalau tidak dijemput olehnya, pasti aku akan hilang dari peredaran dunia ini secara tidak wajar. Hehehe. Lebay. Tapi memang betul itu. Bahasa Jerman digunakan di sana sini di seluruh negeri kecil ini. Semua-muanya tampak asing. Tapi senyum Nadet tentu saja sangat kukenal bahkan dari kejauhan. Lega banget melihat dia.

Sore itu kami berjalan di sekitar kampus ETH Zurich, ngopi di kantinnya, melihat danau Zurich sambil nunggu Silke. Menikmati Zurich sangat berbeda rasanya dengan Italy. Jauh lebih bersih, lebih rapi, lebih aman. Tak kulihat pengemis atau gelandangan. Tak kulihat sampah dan kericuhan. Pokoke jauh lebih beradab.







Itu beberapa sudut yang kutemui saat berjalan di Zurich pada hari pertama di Swiss. Aku merasa betaahhhh... iyalah. Bahkan aku sampai tak tahu kalau Euro tidak laku di sini karena kebaikan hati SuN menerimaku di rumah mereka yang indah.

"Kau adalah tamu kami. Semua kebutuhanmu kami yang tanggung." Waduh. Aku bercucuran air mata, mau apa coba. Ini bagian dukungan Semesta itu. Kau tahu, Langit. Kadang cara bercandamu itu keterlaluan. Huh. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 7 : Roma Termini - Zurich Hb

Kayak orang hilang
(Sebelumnya.)

Hari ke sekian, pada 7 April aku sudah di stasiun Roma Termini. Udara cukup dingin dan pagi-pagi mesti check out dari Hotel Joli. Keretaku jam 08.00 dari Roma Termini menuju Milano Centrale dengan menggunakan kereta Frecciarossa 9610. Kereta ini terlalu bagus buatku. Hehehe. Nadet dan Silke telah mengupayakan segala yang terbaik untuk perjalanan Roma - Swiss pulang pergi dan selama di sana. Aku ndak tahu lagi mesti ngomong apa ke mereka : Terimakasih, terimakasih, terimakasih.

Kereta ini berhenti di Milano Centrale tempat aku sambung ke Zurich Hb, dengan kereta Eurocity 16 pukul 11.25. Kedua kereta kelas 2 ini super bersih, tepat waktu. Dan aku nyaris tidak bicara apa pun selama di kereta. Tak ada yang bisa kuajak ngobrol. Aku membuka Manuskrip Celistine sesekali. Tidur terputus-putus. Selebihnya adalah mengagumi pemandangan di luar jendela kereta yang terus bergerak ajek, plus pikiran-pikiran yang bergerak antara tubuh, luar tubuh, ... Huaaa... Bahkan saat kualami pun peristiwa itu seperti mimpi. Apalagi dari Milano ke Zurich itu kereta melintasi lembah, bukit maupun terowongan yang menembus Alpen. Hmmm... mau ngomong apa pun tak bisa menampung semua yang ingin kukatakan.

Nah, karena sulit bercerita tentang pengalaman ini dan aku kok ndak menemukan foto apa-apa di kameraku tentang perjalanan ini (padahal seingatku aku mengambil foto-foto juga sepanjang perjalanan. Entah hilang kemana), aku cerita saja yang kualami saat di kereta :

1. Rasanya aku tak pernah memimpikan suasana di atas kereta seperti dFrecciarossa 9610. Aku duduk di gerbong 4 no kursi 5A. Sampingku seorang bapak yang satu rombongan dengan orang yang duduk di depanku. Masih serombongan dengan beberapa orang lain di gerbong yang sama. Sepertinya mereka adalah segerombol orang yang melakukan perjalanan karena pekerjaan. Ini terlihat dari gaya mereka berpakaian (jas rapi sepatu pantofel), bawaan mereka (tas jinjing, laptop, kertas-kertas), juga sesekali antar mereka serius berbincang lalu melakukan kontak memakai HP. Mereka saling komunikasi memakai bahasa Italia. Aku hanya sempat bicara dengan teman dudukku ini saat akan turun, menanyakan apakah betul stasiun itu Milano Centrale. Dia memastikan bahwa itu betul, dan mempersilakan aku keluar kursi.

2. Di seberang kursiku adalah sebuah keluarga Italia. Bapak dan ibu muda, dengan 3 anak. Perempuan, laki-laki dan laki-laki. Anak pertama perempuan dan anak kedua laki-laki sibuk dengan buku-buku yang mereka bawa. Bapak mengajari beberapa hal kepada dua anak itu jika mereka mengalami kesulitan dengan bukunya. Ibu memangku anak terkecil sambil bermain HP. Sesekali bapak dan ibu saling bercakap. Nah, seperti itu sepanjang 3,5 jam di kereta. Ketika si ibu butuh ke toilet, anak kecil dipangku bapak tapi sambil nangis mencari-cari si ibu. Hmmm... Potret yang mirip dengan keluarga-keluarga lain, kukira.

3. Saat aku berada dalam kereta Eurocity 16 dari Milano ke Zurich, penumpang lebih sepi, lebih sering berganti di stasiun yang dilewati. Kursi sampingku kosong, di depanku duduk seorang pemuda asyik dengan buku dan earphone yang tertancap di HP, tanpa suara. Di gerbong 4 no kursi 32. Aku melihat banyak orang semacam turis di kereta menuju Zurich ini. Banyak juga wajah non Eropa. Aku lebih nyaman, dan bisa menikmati bekal nasgor plus telur ceplok, masakan Rm. Indro yang disediakan bagiku, sambil melihat pemandangan luar biasa di luar.

4. Perjalanan ini, atau mirip seperti ini, menurut intuisiku akan sering kualami di masa mendatang. Hmmm... (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 6 : Seputaran Roma


Di pintu belakang KBRI Vatican di Roma.
(Sebelumnya.)

Usai konferensi dua hari di Vatican, acaraku adalah : keliling Roma. Aku tak mau menganggap jalan-jalan seputar Roma ini sebagai sampingan, ini adalah bagian utama juga. Hehehe... Beberapa janji sudah kubuat. Hari pertama usai konferensi adalah hari Rabu. Aku, Rm. Indro dan Br. Yuwono sudah janjian untuk mengikuti audiensi umum Paus yang memang diadakan tiap hari Rabu. Br. Yuwono sudah mendapatkan tiketnya.
Salah satu sudut

Basilika St. Paulus
Usai itu sudah janji untuk bertemu Pak Agus Sriyono, duta besar Indonesia untuk Vatican di kantornya. Ini ngobrol santai tanpa target apa-apa. Menyerahkan beberapa buku. Dan tentu saja, untuk menikmati kehangatannya.

Nah, bagian yang penting juga adalah berjalan di tempat-tempat terkenal di Roma. Aku lupa apa aja saja yang kukunjungi (mungkin Rm. Indro bisa bantu aku.). Kucatat dulu yang kuingat : Colosseum, Pantheon, Fontana di Trevi, Piazza di Spagna, Via de Corso, basilika entah apa saja, (aihdah) dst. dst. (Aku susah mengingat nama-namanya. Duhhh.)

Jadi kupasang saja foto-foto yang bisa kutemukan ya. Lihat, siapa tahu kalian bisa mengingatkan aku kemana saja aku selama dua hari di Roma itu. Ohya, selama keluyuran ini aku menginap di Joli Hotel, dekat dengan Ottaviano Station. Hotel tua yang unik, tapi nyaman. Walau air panasnya sering ngadat, lift kecilnya agak menyeramkan, tapi hotel ini cukup strategis posisinya dan cukup ramah para pengelolanya. Ada sarapan juga yang disediakan, jadi ok banget deh.


Pantheon.







Fontana di Trevi.


Halaman Basilika St. Petrus.




Musium Leonardo da Vinci




Jalanan Roma

Collosseo.

Pelukis jalanan.

Ngikuti hasrat duduk di bawah bunga sakura.


Keterangan dan foto lain-lain kutambahkan nanti yaaa..... (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 5 : Konferensi

(Sebelumnya.)

Senin - Selasa, tanggal 3 - 4 April 2017adalah alasan mengapa aku datang ke Vatican. Aku dibiayai dan difasilitasi oleh Discastery for Promoting Integral Human Development, Vatican, untuk keperluan ini yaitu sebuah konferensi dalam rangka peresmian discastery baru ini (gabungan dari beberapa bidang), dan merayakan 50 tahun Popularum Progressio. Tempat pertemuan di New Hall Vatican, dalam lingkungan Basilica St. Petrus. Ruang besar yang biasa untuk audiensi para uskup dengan Paus.

Diapit Rm. Bonnie dan Rm. Nandana, hari pertama.
Nah, okelah. Acaranya ya begitu itu. Mau bilang apa. Aku tak bisa menangkap 100 persen seluruh perbincangan yang memakai bahasa Inggris, Italia, Perancis dan Jerman. Jadi susahlah menulis hal serius macam tuh, hanya kutangkap sekian-sekian-sekian persen saja. Aku cerita garis besarnya saja deh. Intinya gini : ada 300 or 400 an manusia dari seluruh dunia. Diundang dari seluruh benua yang ada. Sekian di antaranya para suci kardinal, uskup, pastur. Sebagian kecil di antaranya orang-orang awam. Nah yang katrok lebih dikit lagi, dan golongan inilah aku. Ihiks. Aku menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia yang beruntung berada di hall ini bersama mereka.

Beruntung aku ketemu Rm. Bonnie Mendes dari Pakistan (yang merekomendasikan aku hingga namaku masuk daftar Vatican untuk diseleksi hadir), lalu ada Rm. Nandana dari Srilanka yang beberapa kali sudah berjumpa. Dan paling spesial, ada Rm. Niphot dari Thailand. Aku selalu bilang : "Ini salah satu guruku yang kerennnn." Jadi bersama merekalah aku sepanjang pertemuan. Duduk di deretan yang sama. Dan merasa nyaman jika tidak terlalu jauh dari mereka. (Hmmm... sungguh katrok kan.) Dan lagi, peserta dari Asia Tenggara juga sangat minim, hanya dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Philipina.

Nah hari kedua konferensi menjadi lebih spesial karena ada audiensi dengan Paus Fransiskus. Walau tak bisa menyentuh tubuhnya, tapi aku tersentuh suaranya. Ini peristiwa luar biasa. Berada dalam satu ruang dengan paus kebanggaanku.

Bersama Rm. Niphot, hari kedua.
Ada beberapa hal yang menjadi catatanku dari konferensi ini :

1. Seleksi peserta dilakukan dengan sangat personal, tidak terbuka. Jadi yang ikut pastilah ada link sebelumnya dengan para rekomendator dari setiap benua. (Aku beruntung tapi ini tak terlalu fair kurasakan. Hmmm.)

2. Bicara tentang justice and peace, kesehatan, human trafficking juga perkembangan manusia-manusia pasti akan sampai pada masalah kemiskinan. Contoh banyak diambil dari negara-negara Asia, juga disebut data-data dari Indonesia, tapi Asia tak banyak diberi ruang untuk bicara. Huh.

3. Acara besar seperti ini mestinya diperkuat efeknya. How? Bagaimana aku bisa?

Aku menganggap kesempatanku jadi peserta konferensi ini adalah keajaiban. Yang tak terduga. Yang tiba-tiba. Dan seluruhku, prosesku, persiapan hingga seluruh perjalanan, aku hanya mungkin ada kalau aku dibantu Semesta.

Salah satu dari Semesta yang berperan menyemangatiku adalah Mgr. Bernhard, sekretaris Pontifical Justice and Peace, yang terus menyapaku, menyakinkan diriku mendapat yang terbaik selama di negeri asing ini. Laki-laki Kongo ini tak mungkin kulewatkan begitu saja perannya. Thank you so much, Mgr. Undangan ini membuat aku mendapat lagi pengalaman dicintai oleh Semesta secara luar biasa. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 4 : Hari Pertama yang Hangat

(Sebelumnya.)

Aku datang di Italy pada cuaca yang tepat. Musim semi. Primavera. Sempurna. Bunga-bunga rumput pun kelihatan eksotis. Bunga rumput mekar di mana-mana memamerkan alat kelaminnya eh... sarana reproduksinya. Jadi, kegembiraanku berlipat-lipat. Rm. Indro menjemputku lengkap dengan tiket bis untuk sampai ke Termini, lalu sambung kereta bawah tanah, lalu bis lagi sampai di Via di Torre Rossa. Nah, untungnya, kebetulan sekali Hotel Church Village yang disediakan untukku oleh panitia, hanya sepelemparan batu dari asrama Rm. Indro! Sama-sama di Via di Torre Rossa, jalan kaki tak sampai 5 menit.

Hujan turun saat kami naik bis. Jadi kami mampir ke asramanya dulu untuk ambil payung, mengantarku ke hotel lalu mulailah perjalanan di hari pertama,"Waktu mbak Yuli sempit. Jadi kita nyicil jalan-jalan." Kalau ngikuti tubuh sebenarnya aku sangat capek, pengin berbaring. Tapi mengingat perbedaan waktu 5 jam lebih lambat di Italy, kalau aku ngikuti tubuhku, alamat besok aku bakal terkantuk-kantuk di tempat pertemuan karena jetlag. Jadi jam tangan kusetel mengikuti jam setempat, dan aku siap mengikuti hari sesuai dengan waktu yang berlaku. (Ini berarti aku akan tidur pada jam 10 malam alias sudah jam 3 menjelang subuh di Indonesia.)

Br. Dalijan, Rm. Sugino, me and Br. Yuwono, generalat house of SCJ
Yang pertama disowani, Vatican! Basilika St. Petrus, lalu Basilika St. Paulus. Kesasar saat akan ke Collosseo (aku ledek habis Rm. Indro, si guide tourku ini. Huh. Collosseo pun ditunda.) Kami lanjut ke Rumah Generalat SCJ untuk ngopi dan pinjam kapel. Ini hari minggu, dan si pastur ndak enak hati kalau tidak mengajakku misa. Hehehe...

Di rumah SCJ aku dapat kejutan, selain bertemu Br. Dalijan, Rm. Sugino, ternyata Br. Yuwono ada di sana. Ahhh... jadilah reuni kecil di ruang makan SCJ dengan secangkir capucinno, bolu coklat dan semangkuk asinan strawberry. Hihihi... Hari pertema di Italy, yang kujumpai adalah orang-orang Indonesia, saudara-saudara sendiri. Hebat.

Misa berdua dengan Rm. Indro di kapela SCJyang lengang sangat menyenangkan. Kukira ini suntikan energi yang luar biasa di hari pertama untuk menjagaku sepanjang perjalananku di negeri Barat ini. Thanks, Rm. Indro ytk. Ini sangat tepat.

Dari rumah SCJ kami jalan kaki ke asrama Rm. Indro. Dia mesti ke toilet segera (ih) dan jam makan malam belum mulai. Jadi menunggu jam makan malam dengan jalan kaki ke asrama, lalu jalan lagi untuk belanja buah dan air minum sebelum makan malam di restoran china yang terdekat. Mi kering, nasi putih, telur dadar... enak banget. Padahal makan siang tadi aku pun sudah makan nasi di restoran Philipina di Vatican, tetap aja makan nasi adalah makanan terenak.

Malam itu, sampai di hotel sudah lewat jam 9 malam, aku mandi, berdaster dan ... ahhhh.... malam pertama tidur di Italy kulalui dengan tidur pulas. Siap untuk konferensi esok harinya.... (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 3 : Berangkat!

(Sebelumnya.

Pagi-pagi tanggal 1 April, hari Sabtu, aku bangun sedikit limbung. Koper sudah rapi, tas ransel penuh dengan satu jaket hangat, alat mandi dan satu stel baju tipis. Tas cangklong lengkap dengan dompet, paspor, tiket, kamera, HP, dan beberapa pernak-pernik. Semua sudah siap, tapi aku grogi, kututupi dengan memberi intruksi ini itu ke Albert, Bernard dan bapak mereka. Siang Mas Hen mengantar aku ke bandara Raden Intan Lampung, usai itu aku akan sendiri dalam perjalanan ini.

Garuda terbang dalam cuaca cerah, tanpa turbulence (aku ingat penerbangan Jakarta - Manila sebulan lalu yang full turbulensi membuat aku agak kapok membayangkan terbang), syukurlah. Di Soekarno Hatta aku mesti pindah ke terminal 2, untuk penerbangan selanjutnya dengan Qatar Airways. Aku punya waktu yang cukup longgar sehingga bisa santai menunggu koper, mencari shuttle bus. Bahkan aku masih punya waktu untuk merapikan diri di kamar mandi dengan santai, dan mencari makan dengan tenang. Penerbangan ke Doha pada pukul 18.30, waktu yang terlalu lama untuk menunggu. Huaaa...

Urusan check in, imigrasi, semua okey. Lancar. Suasana asing sudah menyergapku sejak aku check in. Di sekelilingku penuh orang-orang dengan berbagai bahasa. Dan rasa asing itu menguat saat aku masuk ke badan pesawat Boeing 777-300, dengan formasi tempat duduk 3 - 3 - 3. Aku kebagian kursi dekat lorong, mudah kalau mau ke toilet atau sekedar berdiri meluruskan badan. Pelayanan yang ramah membuatku cukup nyaman. Sesekali pramugari bertanya apakah aku ok, membutuhkan sesuatu dan sebagainya. Makanan, yachhh, aku tak pernah suka makanan pesawat apa pun, tapi okey banget. Penerbangan sekitar 8 jam Jakarta - Doha, dengan dua kali makan dan boleh minta minum kapan pun.
Transit di Doha. The big airport. 

Di sebelah tempat dudukku ada seorang lelaki muda, katanya anak pesantren yang akan sekolah di Yaman. Hmmm... Hebat. "Itu tempat sekolahnya guru para guru, bu. Doakan aku." Hmmm. Okey. Good luck, nak.

Di seberangku ada perempuan Italy yang kemudian kuketahui bernama Mikela, seseorang dari Kedutaan Besar Italy untuk Indonesia. Perempuan ini menjadi teman perjalananku selama transit di Doha, dan kami terpisah setelah masuk pesawat berikutnya dari Doha ke Rome. Perempuan ramah yang baik hati. Berharap suatu saat nanti bertemu dia lagi.

Aku bisa tidur dengan enak di penerbangan lanjutan menuju Roma, kurang lebih 6,5 jam terbang. Tidak minat makan dan minum. Tidak juga kepingin ke toilet atau berdiri.

Sampai di Roma pada 2 April pagi, mulanya menemui udara yang cukup dingin saat keluar dari pesawat, tapi karena antrean di imigrasi begitu panjang dan padat, rasanya jadi sangat sangat sangat panas. Wellcome to Rome, in spring, primavera! Sempurna.

Rm. Indro sudah berjanji akan menjemputku di bandara. Tapi aku tidak bisa mendapatkan akses WA dan telpon sehingga tak bisa menghubunginya. Aku percaya saja bahwa dia akan menjemputku. Aku bisa buka FB dan menghubungi Mas Hen untuk ngabari aku baik dan sudah sampai. Usai menemukan koper, aku keluar bandara sambil celingak-celinguk. Where are you, Indro Pandego? Huh. Aku masih nunggu sekitar 10 menit di meeting point kedatangan terminal 3 bandara Fiumicino Rome sampai senyum yang kukenali itu datang. "Maaffff, aku telat bangun." Beberapa tahun tidak bertemu laki-laki ini dia tampak sehat dan segar. Nah. Tentu saja dimaafkan. (Kisah selanjutnya.)

Wednesday, May 03, 2017

Terpesona Pangkalpinang

Perjalanan berdua dengan Den Mas Hendro sangat jarang kudapatkan akhir-akhir ini. Begitu kesempatan itu datang, wow, aku kencangin jadwalnya, langsung kuurus segala yang dibutuhkan. Mulanya adalah undangan tidak serius dari Paschalis Esong untuk peluncuran buku Gurindam Jiwa 29 Pasal yang ditulisnya sebagai bentuk kenangan atas Mgr. Hila.

Aku senang hati merencanakan kehadiran ke tempat ini, dan asyiknya, segala hal diberikan pada kami berdua. Tempat-tempat indah di pulau Bangka bisa kami kunjungi. Aku buat list dulu ya :
1. Rumah makan pinggir laut, Aroma Laut, yang maknyus tenan tenggiri bakarnya.Huaa...
2. Kota Pangkalpinang yang panas dengan makanan-makanan khasnya.
3. Pantai Pasir Padi, Tanjungpesona, dll.
4. Tempat-tempat rohani segala agama, Gua Maria, klenteng dekat Pantai Tikus, dll.
5. Hmmm... (Entar kuteruskan kalau aku sudah nemuin foto-foto yang pas untuk kuposting.) Hehehe...

Thursday, April 20, 2017

Eropa, Aku Datang 2 : Urusan Visa Schengen

(Sebelumnya.)

Aku mendapatkan surat resmi undangan untuk menghadiri 50 tahun Popularum Progressio bertepatan dengan Rabu Abu, 1 Maret. Menerima surat itu, baru yakin kalau aku memang diundang untuk acara itu. Tapiiii.... satu bulan persiapan untuk Eropa! Hah. Yang benar saja. Huft.

Undangan itu kudiamkan satu hari, dan kemudian membuat otakku berputar. Hari itu hari Kamis. Aku segera membalas surat undangan itu dengan :
1. Terimakasih karena telah diundang.
2. Aku membutuhkan visa untuk hadir.
3. Visa bisa didapatkan dengan tiket PP, dokumen ini itu bla bla bla. Termasuk undangan yang menjamin hidupku di negeri itu.

Surat balasanku dibalas dengan cepat dari peserta, intinya mereka akan segera mengirim surat resmi untuk kepentingan visa, juga memintaku menghubungi Vatican Tour Agency untuk mendapatkan tiket pesawat Indonesia - Italy PP dengan beberapa detail yang dibutuhkan.

Ok. Hmmm... aku setiap kali mesti menarik nafas panjang untuk membuat santai diri sendiri. Bagiku ini peristiwa gembira, jadi prosesnya harus kulalui dengan gembira. Seluruhnya harus jadi kegembiraan.

Jadi kemudian, aku buka ini untuk cek syarat pengurusan visa Italy. Lalu aku mengirimkan detail paspor dan lain-lain yang dibutuhkan untuk memesan tiket. Kulakukan itu sambil kontak Rm. Indro dan Nadet. Dua orang ini muncul dalam pikiranku sejak awal aku dapat undangan. Maka, merekalah penolong utamaku untuk perjalanan ini. Rm. Indro menyediakan diri jadi guide selama di Roma (di luar jam kuliahnya) dan Nadet n pasangannya mengundangku ke Swiss untuk mengunjunginya. Usai tanggal-tanggal menjadi lebih fix, aku mengirimkan ke Vatican Agency Tour, yang akan membantuku mengurus perjalanan. Ini surat ke mereka : "Aku akan berangkat dan pulang dari dan ke Tanjungkarang pada 1 April dan kembali sampai Lampung 13 April." Kusertakan copy paspor dan keterangan ini itu yang diperlukan.

Besoknya tiket PP : Tanjungkarang - Jakarta - Doha - Roma, sudah ada di tanganku, memakai Garuda dan Qatar. Nah, ini berarti ndak bisa main-main lagi. Aku bergegas melengkapi dokumen-dokumen dan membuat janji ke kedutaan Italy via online. Cek di web itu ya. Semua sudah lengkap informasinya. Aku dimudahkan karena mendapat undangan resmi dari Vatican dengan jaminan tanggungan transportasi, akomodasi dan lain-lain. Pun begitu aku lengkapi dengan asuransi perjalanan, karena aku memang membutuhkannya.

Agak konyol ketika aku hanya berpikir tentang kantor kedutaan Italy di Jakarta dan datang ke sana pada harinya, padahal pengurusan visa itu tidak langsung ke kedutaan tapi lewat VFS Global, di Kuningan City Mall! Dalam surat appoinment sudah tertera jelas, tapi aku ndak memperhatikannya. Oalah. Untung aku berangkat pagi sehingga kekacauan ini bisa diatasi. Dan hebatnya, visa bisa jadi dalam 5 hari! Hal yang tak kusangka. Bisa secepat itu. Paspor dengan visa kuterima sekitar 4 hari kemudian lewat kurir langsung ke rumah.

Saat visa kuterima, Rm. Indro dan Nadet segera membantuku untuk transport lokal dan hotel di luar tanggungan panitia. Dan untuk segala macam urusan itu, cuma ada waktu tak lebih dari 10 hari. Sepanjang itu pula waktuku untuk menyiapkan diri dan segala sesuatuku! Padahal ada banyak pekerjaan lainnnn... Tolongggg... Hufttt... (Kisah selanjutnya.)

Tuesday, April 18, 2017

Eropa, Aku Datang 1 : Hmmm...

Sampai beberapa judul ke depan, aku akan menyematkan segala pengalaman yang berkaitan dengan kepergianku ke 4 negara di belahan dunia sana yang kusebut sebagai Eropa : Italy, Vatican, Swiss dan Jerman. Perjalananku itu kulakukan tanggal 1 - 13 April 2017, pada saat Pra Paskah, hingga pas Kamis Putih. Mungkin tidak bisa kuselesaikan dengan cepat, karena aku masih riweh dengan segala hal internalku sendiri. Tubuh yang masih harus dipanasi, beberapa pekerjaan yang mesti dikejar, rencana-rencana perjalanan berikutnya dan juga endapan-endapan dalam hati dan otak yang perlu diurai dengan pelan-pelan.

Aku akan menuliskannya per tahap nantinya. Sebisa mungkin dengan detail-detailnya. Yang perlu kucatat di bagian awal ini dimulai pada 2 Pebruari 2017saat aku menerima surat dari Kardinal Turkson, yang awalnya kucurigai sebagai olokan dari siapa gitu. Susah dipercaya. Surat itu memintaku untuk menyimpan tanggal 3 dan 4 April karena mereka mengundangku untuk peringatan 50 tahun Popularum Progressio di Vatican.

Aku telpon mas Hendro sambil menjerit-jerit, haaa... ini surat benar ndak sih? "Aku akan tunggu surat resminya sebelum aku menyiapkan ini itu." Putusku.

Saat itu aku sedang menyiapkan diri untuk pergi ke Filiphina acara JPW Meeting. Jadi surat itu aku abaikan dengan penuh harap. Tentu saja setelah mengirimkannya dengan hati-hati ke Rm. Indro yang sedang sekolah di Roma (dia akan membantu banyak) dan juga ke Nadet di Swiss (yang spontan kepikir untuk dikunjungi jika memang aku jadi pergi). Dua nama ini otomatis muncul saat aku terima surat itu, tapi setelah berandai-andai dengan mereka berdua, aku berusaha melupakannya. Aku menikmati beberapa pekerjaan, juga kepergian ke Manila dan Batangas, dan berusaha melupakan surat itu walau aku sangat berharap bisa pergi sesuai undangan itu.

Sampai sebulan kemudian tak juga ada kabar lanjutan dari surat itu. Hmmm.... (Klik sini untuk sambunganya.)

Thursday, April 06, 2017

BANGSAT

Kalau sebuah relasi hanya dinilai sebagai hubungan bangsat, maka semua sudah berakhir. Titik.

Saturday, March 25, 2017

Pra Pentas Akar Rumput dan Salah Satu Cabang Cemara untuk Tanah Air

Kebetulan sekali Kang Kamto baru membuka warung kopinya, Kindos, di Jalan Urip Sumoharjo, Kedaton, Bandarlampung. Saat aku kontak Hera dan Linda yang bakal punya gawe dengan Sun Love Community-nya, mereka langsung meluncur ikut ngopi.
"Ini tempat bisa dipakai kalau kalian perlu."
"Kami sedang berpikir soal pra pentas. Untuk mematangkan konsep."
Ayolah.
Maka hari Sabtu, 25 Maret 2017 beberapa orang pun berkumpul. Fokus untuk sampai pada pentas raya yang akan digelar April nanti. Aku senang dengan kencan kecil ini. Kopi yang enak (iyalah, master kopi yang punya tempat), beberapa komunitas yang bakal support pentas dan perbincangan yang asyik. Jadi, semangat yaaaa....

Tuesday, March 21, 2017

Workshop Peningkatan Kapasitas Pekerja Seni

Diselenggarakan oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung. Tulisannya nanti aja. Ini foto-fotonya. Dari tanggal 19 - 21 April 2017, di UKMBS Unila dan di Markas Kober.




Sunday, February 19, 2017

Jurney to Manila 8 : Balik ke Indonesia

Hari terakhir di Manila pas hari Minggu. Aku gunakan waktu ke Gereja. Katanya dan memang benar, mayoritas Piliphina adalah Katolik. Tapi sungguh tak bisa kupercaya, gereja di hari minggu sangat sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang. Hmmm... Seorang pastur cerita dia akan melakukan misa di mall, di sana akan banyak pengikut misa di hari minggu. Yaelah.

Makan pagi terlambat sudah malas keluar. Makan di kantin dengan menu seadanya yang bisa masuk perutku. Roti. Telur goreng. Pisang. Air putih. Semuanya 55 peso. Aku tambah 2 pisang lagi untuk dibawa ke kamar, jaga-jaga kalau masih lapar. Tak ada rencana apapun hari ini. Jadi aku keramas, tidur, dan bersiap untuk balik ke Indonesia.

Naik taksi ke bandara, aku mengantar Lilik ke terminal 1 sebelum melaju ke terminal 3 Ninoy Airport dimana pesawatku, Cebu Pasific akan menerbangkanku ke Soetta. Bandara yang ramai super. Aku hitung peso di dompetku tinggal 50 peso dan beberapa receh. Jadi selepas imigrasi aku coba cari makan yang bisa kubeli dengan uang segitu. Dapatnya : cup noodles seharga 45 peso! Cukup deh... Hehehe...

Pesawatku terbang jam 20.50. Sampai di Indonesia tepat jam 00. Aku meneruskan tidur di kamar Yeni di Zest Hotel. Kebetulan banget Yeni juga pas pulang dari Myanmar di tanggal yang sama n mau berbagi kamar denganku. Perjumpaan sekejab untuk tidur, dan esoknya sarapan bareng, ke bandara bareng lalu Yeni ke Solo, aku ke Lampung. Nah... begitulah.

Saturday, February 18, 2017

Jurney to Manila 7 : Seru-seruan di Intramuros

Usai ikut aksi Walk for Life aku punya waktu sebentar untuk sarapan dan istirahat. Kucari Lilik untuk mengajaknya jalan ke Intramuros, kota tua Manila yang konon bau Eropa. Niatku cuma mau foto-fotoan seru-seruan. Lilik bilang kalau sudah ke sana, tapi aku yakin dia tak akan menolak ajakanku. Menunggu bentar karena dia rupanya ikut meeting SC.

Ini halaman Katedral Manila. Sangat okey untuk foto kan?
Berangkat naik taksi yang kami tuju adalah Katedral Manila. Ini wajib dikunjungi kalau ke Manila sebagaimana kita tahu negeri ini mayoritas Katolik. Jadilah menjadikan Katedral sebagai obyek foto yang pertama.

Di bagian luar atau dalam Katedral tak luput dari pemotretan narsis. Okey banget.

Usai ngublek Katedral, inginnya cari makan. Tapi hujan deras membuat ini tertunda walau kemudian terpaksa menembus hujan saking ndak tahan laper. Yang dituju KFC seberang Katedral. Hihihi.

Usai makan, jalanlah kami ke Fort Santiago. Mampir ke toko souvenir yang tidak asyik karena seperti melihat barang kerajinan di Jawa, Kalimantan atau Sumatera, tak ada yang khas banget, dan harganya super mahal.

Di Fort Santiago, dengan bayar 75 peso, kami puas membuat kaki teklok memutarinya. Melihat taman, benteng, penjara, musium Jose Rizal dll. Check it out :


Beberapa patung yang bisa diajak bercengkerama.

Pintu masuk benteng.

Konon tapak kaki Jose Rizal sebelum digantung.

Di salah satu sisi benteng melihat laut dan kota Manila.

Foto lain nyusul deh... Capek.



Jurney to Manila 6 : Kesempatan Ikut Aksi

Sehari setelah selesai meeting kebetulan sekali ada ajak untuk ikut aksi menolak kebijakan Duterte tentang penerapan hukuman mati tanpa peradilan untuk narkoba. Jadilah, 18 Pebruari pagi-pagi sekali pukul 4 waktu Piliphina alias jam 3 pagi waktu Indonesia bangun untuk Walk for Life.

Bagiku ini sangat menarik setelah diskusi tentang justice and peace sepanjang meeting. Menjadi semacam penutup, dihadapkan pada masalah nyata. Mungkin ini memang konteks Piliphina, tapi di Indonesia pun hal yang mirip sudah terjadi. Peradilan Indonesia yang masih belum bisa dipercaya nyaris seperti penerapan penembakan langsung untuk pelaku pengedar Narkoba, padahal tuduhan itu bisa salah, bisa fitnah.

Beberapa bagian dari aksi ini sudah kutulis untuk http://www.pojoksamber.com/walk-lifemelawan-kekerasan-tanpa-kekerasan/ soooo, silakan klik di sini untuk melihat sedikit dari aksi yang kuikuti ini.

Friday, February 17, 2017

Jurney to Manila 5 : Meeting!!!

Diskusi dalam kelompok.
Aku nulis singkat saja deh pertemuan untuk pekerja justice and peace ini. Berlangsung dari 15 sampai 17 Pebruari 2017, diikuti oleh berbagai negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Piliphina sendiri. Eh, juga ada yang dari Hongkong ding. Eh, mana lagi yaaaa...

Pemaparan.






Pertemuan ini diisi dengan beberapa bahan dari narasumber seperti Fr. Edu dan Fr. Niphot, selebihnya adalah diskusi dan sharing dalam kelompok maupun pleno. Cukup oke memperkaya diriku tentang Popularum Progresio dan Laudato Si serta bagaimana dua dokumen itu bisa menjadi bagian dari gerak kembang kemanusiaan.

Tuesday, February 14, 2017

Jurney to Manila 4 : Mercusuar

Hari keempat aku bersama rombongan berkunjung ke pertanian di Jaybanga, sekitar 1 jam perjalanan dari Lagdlarin menggunakan jeepney, kendaraan andalan di Piliphina. Desa yang indah, tapi membuatku gundah. Perjalanan yang cukup berat membuatku berpikir bagaimana penduduk desa mengakses pendidikan, kesehatan atau kebutuhan lain. Lalu semakin sedih ketika tahu mereka sudah kehilangan tanah-tanah mereka berpindah ke pemilik uang. Duh.

Padahal ini tempat yang luar biasa indah. Lihatlah, bahkan aku menjelma bidadari dalam lingkungan surga seperti ini. Sangat cantik, segar. Apalagi dijamu oleh para ibu petani di sana dengan semangkuk bubur beras yang manis. Aku tidak sempat sarapan di rumah Ate Nimpa karena buru-buru dan harus packing n pamitan.

Membayangkan beberapa tahun lagi tanah-tanah ini berubah rupa membuatku sangat sedih.

Nah, perjalanan terakhir hari ini adalah ke mercusuar Malabrigo dan berbincang dengan komunitas petani dan nelayan di Balibago. Aku tidak terlalu menikmati bagian ini karena tidak seperti berkunjung ke komunitas tapi seperti rapat. Harusnya akan lebih menarik jika kami mengunjungi rumah mereka, berbincang di ruang tamu atau teras mereka, dan minum teh bersama mereka. Tapi ya sudahlah.

Hari ini adalah hari terakhir menikmati Lobo. Sore kami kembali ke Manila menembus jalan berliku dan kemacetan kota pada bagian akhirnya. Tidak kembali ke Hotel Syalom tapi kami akan menginap di Pope Pius XII Catholic Center, penginapan milik Gereja Katolik di pusat kota untuk melanjutkan pertemuan. Ohya, hari ini 14 Pebruari 2017 adalah hari valentine yang terlewatkan. I love you.

Monday, February 13, 2017

Jurney to Manila 3 : Ombak, Mindoro dan Seluruh Topik

Kalau perjalanan ini untuk rekreasi, aku pasti sudah tenggelam dalam keindahan alam Piliphina. Di hari 3 tanggal 13 Pebruari di negeri ini, PSET (People's Solidarity and Education Tours) yang memfasilitasi kegiatan eksposure ini mengajak untuk mengekplore laut dengan menggunakan perahu besar.

Ombak yang tinggi tak menyurutkan semangat, cuma mengocok perut sampai parah. Hihihi... beberapa peserta sudah pucat-pucat hijau tahi mengalami ombak lepas dari pulau Luzon menuju Mindoro. Aku sendiri merasa tidak terlalu nyaman dengan tingginya ombak walau aku cukup menikmati perjalanan ini.

Dalam kondisi normal saja aku kesulitan menyerap informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggris, apalagi dalam perahu yang terombang ambing gitu. Yaelah. Dan begitu sampai di pesisir indah di Mindoro, aku kehilangan mood untuk nyemplung pantai indah mereka. Bening, terumbu karang, ikan, dan seluruh flora fauna laut. Aku menikmati dek kapal saja sambil mandi matahari menikmati alam segar dan indah. Tapi aku tak bisa melepaskan diri dari tema-tema yang dibahas sepanjang eksposure ini : nelayan, petani dan tambang.

Huft.

Sunday, February 12, 2017

Jurney to Manila 2 : Tinggal di Lagadlarin, Lobo, Batangas Province.

Hari kedua di Manila, aku mesti bangun pagi-pagi sekali. Jam 6 perjalanan ke Lobo, propinsi Batangas akan dimulai. Menggunakan bis besar, peserta eksposure sekitar 25-an orang akan menikmati daerah pantai yang menjadi bagian dari cara mengenal Piliphina lebih lanjut. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam, berhenti untuk kencing di toilet umum (jelas lebih ok toilet-toilet di stasiun-stasiun di Indonesia yang sekarang ini wangi), mengunjungi Fr. Jojo di paroki Michael Angelo lalu makan siang bersama umatnya di pinggir pantai sambil mendengarkan pengenalan tentang daerah yang akan kami kunjungi.

Seluruh peserta dibagi dalam 3 kelompok. Aku kebagian kelompok Lagadlarin, sebuah komunitas nelayan di daerah pesisir. Sebelum ke rumah tempat tinggal, kami berkunjung ke Lagadlarin Mangrove Forest untuk menanam bibit mangrove di daerah itu. Aku menanam dua bayi yang kutiup-tiup dengan doa supaya mereka tumbuh sehat. Hehehe.

Usai menanam mangrove, kami sekelompok menikmati pantai mereka yang bau ikan tapi super bersih. Huwaa... rasanya aku bakal kerasan banget di kampung ini. Sukaaa.... indah banget.

Rumah yang aku tempati adalah rumah keluarga Nimpa. Rumah yang untuk ukuran kampung ini sangat lumayan, dengan jamuan makan yang lezat, tak beda jauh dengan makanan orang Indonesia. Aku sungguh-sungguh tak bermasalah beradaptasi dengan mereka. Apalagi di antara orang-orang yang datang ke rumah itu, ada si Ariyana, gadis manis usia 14 tahun yang berani yang bercerita tentang mimpinya, tentang kesedihannya karena tambang, tentang keraguannya apakah nanti bisa menggapai cita-citanya jadi dokter karena dia tahu orang tuanya tak punya uang, dan sebagainya.

Saturday, February 11, 2017

Jurney to Manila 1 : Kesempatan untuk Tidur!

Introduction.
Perjalanan ke Manila sudah aku rancang dari tahun lalu saat ada undangan dari ACPP bekerjasama dengan NASA Manila untuk Justice and Peace Workers Meeting 2017 se Asia - Pasific. Aku menanggapi undangan dengan senang hati dan menyiapkannya. Meeting ini akan diawali dengan eksposure selama 3 hari, jika aku berminat. Wow, tentu saja.

Pilihan terbang menggunakan Cebu Pasific adalah pilihan yang tepat. Penerbangan langsung dari Soetta ke Ninoy akan ditempuh selama sekitar 4 jam. Dari Lampung aku berangkat pada 10 Pebruari sore, untuk penerbangan Cebu ke Manila pada pukul 00.30, lewat dikit dari tengah malam. Ini bukan jam yang tepat karena begitu lewat dari imigrasi pada pukul 22, aku sudah nyaris tak bisa membuka mata. Berjalan-jalan di sekitaran terminal 2 Soetta tak membantuku sama sekali sedang tubuh yang belum sempat istirahat beberapa hari pengin banget dibaringkan.

Harapanku, penerbangan 4 jam itu akan menjadi saat tidurku. Huft, sayang sekali. Harapan tinggallah harapan. Hampir selama penerbangan, cuaca begitu buruk sehingga penerbangan itu terguncang-guncang. Selama 4 jam lebih! Dengan jiwa yang menciut karena takut, mata pun bisa tetap bertahan terbuka. Puji Tuhan sampai dengan selamat di Ninoy Aquino Internasional Airport tepat waktu, saat fajar siap merekah, pukul 05.50.

Saat keluar dari bandara, seseorang yang menjemputku dengan tanda di tangannya sudah bersiap. Aku menghampirinya, mengenalkan diri dan langsung meluncur ke Hotel Syalom, tempat satu malam nginap sebelum besok melanjutkan perjalanan ke Batangas untuk eksposure.

Briefing sore hari pada 11 Pebruari cukup membuatku nyaman karena sebagian peserta sudah kukenal. Aku sempat tengsin karena telat masuk ruang untuk briefing gara-gara aku ndak set arlojiku. Piliphina memiliki waktu satu jam lebih cepat dari Lampung, dan aku lupa mengingatnya. Padahal begitu sampai di hotel aku menuntaskan kebutuhan biologis dengan tidur sepanjang waktu. Siang bangun sebentar untuk makan wafer sisa dari Sriwijaya dalam penerbangan Lampung - Jakarta, dan minum sebotol air yang kubeli di hotel. Lalu tertidur lagi sampai ditelpon oleh resepsionis hotel,"Mam, you are waited for meeting at third floor. Now they ready for meeting." Aku protes kalau meeting akan mulai satu jam lagi sesuai agenda yang kupunya, tapi kemudian segera sadar soal perbedaan waktu. Ealah, cepet-cepet aku cuci muka dan turun ke lantai 3. Kamar yang kudapat di lantai 5.

Apapun, hari pertama selalu menarik, apalagi saat makan malam aku merasakan bahwa aku sangat-sangat lapar...

Monday, January 30, 2017

Cadas Hikmat Bandung

Ini salah satu kesempatan menarik yang kudapat dalam bulan ini. Berkunjung ke Bandung untuk menemani 12 cowok keren yang tinggal di Seminari Menengah Cadas Hikmat Bandung. Pada 20 - 22 Januari 2017 aku mengajak mereka untuk berlatih menulis, mulai dari bagaimana teknik menangkap fakta, menuliskannya sebagai tulisan lengkap yang bisa dibaca orang lain dalam bentuk opini dan refleksi.

Pelatihan yang menarik. Lihat dung hasil tulisan mereka. Mereka bisa menulis tentang sepeda yang mereka gunakan tiap hari, mereka bisa bercerita tentang buku point yang menuliskan pelanggaran dan prestasi mereka, juga tentang logo tentang lagu mars kebanggaan dan juga tentang mereka sendiri.

Hal yang menyenangkan salah satunya, karena perjumpaan ini menjadi kesempatan bagiku untuk teringat kembali banyak hal yang pernah kutinggalkan. Salah satunya : meditasi pagi. (Mereka sih meditasi sambil goyang-goyang nguap gitu. Hehehe.)

Jadi, terimakasih banyak ya, nak. Aku akan mengingat kalian semua (Dimas, Novan, Kevin, Tirta, Rema, Dona, Agus, Wahyu, David, Yuan, Gagi dan Gugun, ). Aku pasti mampir lagi suatu ketika.

Aku bersama 12 seminaris Cadas Hikmat

Tuesday, January 24, 2017

Istirahatlah Kata-kata : Menemui Widji Tukul di Ruang Sunyi

Usai rapat komisi di Cikini biasanya kuisi dengan jalan ke Taman Ismail Marzoeki (TIM). Kali ini, Selasa 24 Januari 2017, rapatku kira-kira selesai pukul 16.00.

"Mbak Liest, yuk kencan. Aku di Jakarta nih."

"Okey. Kau bisa ke kantorku atau ketemu di mana?"

"Nonton Widji Tukul yuk. Kucari jadwale ya?"

Jadilah, ketemu jadwal 19.00 hari itu di TIM. (Kemudian aku agak menyesal sudah membeli tiket karena pada jam yang sama ada agenda baca puisi Widji Tukul di depan TIM. Tahu gitu kan nyari jadwal lain lalu ikut baca puisi. Ih.)

Bertemu Mbak Liest tentu saja selalu istimewa. Kayak selalu kurang waktu untuk curhat, untuk apa saja. Tapi kesempatan nonton bareng apalagi film yang ini, tentu sangatlah ok.

Nah ya. Film ini mungkin mengecewakan bagi banyak aktifis yang berharap menampilkan sisi heroik Widji. Tapi bagiku, ini film yang sangat pas. Tepat. Bukan hanya menampilkan kesenyapan, tapi benar-benar mengajak untuk senyap. Huft.

Puisi-puisi Widji yang populer lugas garang, sangat pas untuk aksi di jalanan, kali ini disuarakan dengan sangat ... hmmm katakanlah romantis. Manusiawi. Mengusik, bikin marah, sedih atau tertawa.

“Puisi Kemerdekaan
Kemerdekaan adalah nasi
Dimakan jadi tai
Widji Tukup, Agustus 1982

Nah ya. Aku sungguh-sungguh terusik.

Wednesday, January 18, 2017

Rizieq Shibab

Bisakah Aku Mencintai Rizieq?
Aku ingin menulis tentang hal ini sejak setiap kali membuka beranda Facebook selalu muncul berita-berita tentang Rizieq secara gencar. Setiap kali membuka Facebook pasti kemudian kusertai dengan membaca link-link yang disebarkan oleh pecinta atau pembenci Rizieq. Sekarang keinginanku untuk menulis tak kubendung karena kegelisahanku semakin menggembung. Ya, aku gelisah karena tulisan-tulisan, gambar-gambar dan video-video yang sekarang ini beredar berkembang ke hal-hal ndak logis. Biar deh, minimal untuk kesehatan psikologisku, aku menuliskan ini. Bagi teman-teman yang iseng ingin membacanya, silakan membaca dengan santai saja. Jika tidak suka membacanya, silakan blokir sehingga tulisan ini tak perlu dibaca.
Aku ingin memulainya dengan Rizieq. Aku merasa ya begitulah Rizieq. Rizieq Shihab itu laki-laki kontroversial. Dia ngomong sesuka hati. Ceplas ceplos seperti tidak mikir dulu sebelumnya. Dia adalah laki-laki pemberani. Ini bisa dibantah tapi jelas dia memang berani bicara dengan lantang sesuai pikirannya tanpa ditutupi walau data atau alasan yang dimiliki masih minim atau tidak sesuai. Jika dia merasa benar dengan pilihannya, maka dia akan lurus berjalan di situ. Walau seringkali landasannya asumsi (misal ketika dia mengkritisi atau mengolok keyakinan orang lain). Dia tetap saja lurus walau dibengkokkan banyak orang (atau dia tetap bengkok walau orang lain mencoba meluruskannya).
Setiap kali membaca atau mendengarkan omongan Rizieq, aku susah untuk mengangguk setuju. Ibaratnya, dia membuatku menggeleng 4 kali dalam 5 pernyataannya, itu artinya 80% aku tidak setuju dia. Ohya, diingat lho, aku belum pernah ketemu dengannya. Pengenalanku itu kudasarkan pada media yang kubaca atau kulihat. Pengenalan yang berkembang hanya seturut asumsiku. Menurut perasaanku saja. (Nah. Untuk hal ini aku sama dengannya, bersikap berdasarkan asumsi. Aihdah.)
Nah, aku ingin kembali pada judul yang kubuat yang menjadi bagian dari pikiran-pikiranku selama beberapa bulan ini. Apakah aku bisa mencintai Rizieq? Untuk Rizieq yang hanya mendapatkan 1 anggukanku (yang bahkan mungkin tidak utuh 1 anggukan), kata cinta menjadi hal yang sulit. Tidak mengatakan bahwa dia adalah musuh juga susah. Gimana lagi. Beberapa kali menonton youtube yang memuat suaranya, kotbahnya atau orasinya, membuatku ketakutan, sedih, marah dan sakit hati. Banyak dari perkataannya, teriakannya membuatku merasa seolah dia saja yang punya hak hidup di Indonesia ini. Cara pikirnya itu susah kupahami. Mungkin karena dia tidak menahan diri mengungkapkan apapun yang dipikirkannya. Ooo, maafkan aku. Aku memang memakai perasaan ketika mendengar atau melihatnya. Dia memakai aturan yang berbeda dengan aturan dasar negara ini seturut pemahamanku. Dia punya logika yang menurutku seringkali aneh, sehingga mungkin hal itu dipahami oleh sekelompok orang, tapi untukku, ini agak berat dipahami, terlebih ketika kemudian segala tindakannya mutlak ingin dibenarkan oleh siapa saja. Dalam beberapa kali kesempatan berdoa aku menyelipkan namanya : "Tuhan, ubahlah maklukmu yang satu ini supaya dia lebih hati-hati berkata dan bersikap. Berilah dia kesadaran bahwa tindakannya memberi pengaruh pada banyak orang dan bisa memunculkan kegelisahan. Tuhan, dampingilah dia supaya semakin menjadi manusia perantara cinta kasihMu. Tuhan, bukalah kepalanya sehingga Kau susupi dengan cinta kasihMu semata untuk disebarkan kepada siapa saja."
Duhai. Mungkin aku yang salah memahami situasi ini. Tapi aku memang semakin gelisah. Semakin hari aku melihat kini bukan hanya soal Rizieq yang memenuhi beranda Facebook. Tapi sekarang muncul pengikutnya dan pembencinya saling serang seperti perang. Dipicu oleh selintas kata atau kalimat saja, muncul saling hujat. Aku ngenes membaca nabi besar dilecehkan, nama Tuhan agama-agama jadi olokan, ayat kitab suci tidak dihargai dan sebagainya.
Aku bertanya pada suamiku semalam : "Ini kayak perang saja ya. Orang-orang jadi biasa saling hujat saling serang dengan memakai agama. Semua agama dinistakan karena makian-makian yang berseliweran. Kok jadi antar agama sih?." Suamiku seperti biasa dengan gayanya yang lembut bilang : "Tapi di sini (dunia nyata) tak ada itu. Semua baik-baik saja. Tetangga yang beragam tak menimbulkan masalah. Teman-teman dari berbagai agama juga biasa saja. Tetap saling hormat." Aku rasa itu betul, karena aku pun merasakan mesra dengan semua kelompok agama apapun tapi aku bilang,"Aku pengin tahu akhirnya. Penasaran. Bagaimana situasi Indonesia beberapa tahun lagi jika cara komunikasinya seperti ini?" Mas Hendro diam saja. Mungkin dia akan menyarankan,"Udah, tutup HPmu, ndak usah mainan FB, twiter dll. Tidur sana." Tapi mungkin dia ndak tega. Hehehe...dia paham istrinya juga dapat duit dengan bantuan medsos.
Tapi tidak fair menuduh Rizieq sebagai satu-satunya akar penyebab perang itu. Ada banyak lagi yang menjadi pendukung situasi ndak nyaman ini. Apalagi sekarang sudah melebar kemana-mana dan membuat banyak orang jadi sensitif. Bahkan ada orang-orang serupa Rizieq di berbagai tempat, berbagai agama. Ngeri.
Hmmm... kembali ke pertanyaan itu, bisakah aku mencintai Rizieq atau orang serupa dia? Entah. Aku harus bisa melihatnya sebagai ciptaan, sebagai 'aku' lain yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Karena Dia telah menciptakan semuanya itu, wajarlah Dia meminta : "Cintailah sesamamu manusia." Bahkan."Cintailah musuh-musuhmu." Duh. Entah. Kalau ciptaan ini adalah sebentuk Rizieq, yang berkali-kali menyakiti hatiku dengan perkataannya lewat youtube yang sengaja aku tonton, bagaimana bentuk cinta yang tepat baginya?
Aduh. Aku bisa memulainya dengan bertanya padanya : "Apakah kau mencintaiku, Rizieq?" Aduh. Itu bukan pertanyaan yang tepat. Aduh. Aduh... Apakah kau mencintaiKu?

Tuesday, January 03, 2017

Tahun 2017, Harmoni.

Aku ingin mengawali tahun dengan membuat sebuah misi seperti biasanya. Misi tahun lalu belum selesai. Harmoni seorang Yuli dalam seluruh semesta masih sampai pada 'gempa-gempa', belum selesai. Jadi, aku ingin melanjutkan proses itu tahun ini.

Beberapa detail aku ingin tulis begini : Keluarga akan menjadi fokus utama. Cantik luar dalam akan menjadi cara menarik untuk hidup. Buku-buku harus diselesaikan. Ini akan menjadi catatan dokumentasi yang penting untuk banyak hal. Penanggungjawab untuk FPBN, JP, GATK, dan beberapa hal lain mesti kulanjutkan. Puisi dan cerpen akan kupakai sebagai refreshing, tapi sebuah novel harus diselesaikan.

Nah, semangat.

Wednesday, December 07, 2016

Menjelang Pergantian Tahun

Aku tahu ini agak terlalu dini untuk menjelang pergantian tahun. Tapi aku sedang mencari-cari kesempatan untuk merenggangkan otot dan otak, jadi aku pamit lebih awal. Tahun ini terlalu banyak memberikan gerak dan pikiran padaku. Beberapa hal yang sudah direncanakan bisa terjadi selebihnya lepas. Yang tak direncanakan ada yang tiba-tiba muncul dan menjadi kekayaan.

Yang paling ingin kucatat ada beberapa hal :
1/ Aku menerbitkan buku kumpulan cerpen kedua berjudul Salah Satu Cabang Cemara. Buku ini dikerjakan dengan sedikit ragu-ragu, tapi kemudian terjadi, dan aku disupport oleh banyak orang.

2/ Aku mendapatkan beberapa garapan buku yang tidak terbayangkan, seperti buku kumpulan cerpen dan puisi Akar Rumput, buku koperasi Mekar Sai, buku YPSK, buku Gurindam Jiwa, juga terlibat dalam beberapa buku lain untuk editing atau sekadar memberikan endorsment. Semuanya sangat menarik.

3/ Aku mendapatkan beberapa kepercayaan untuk memegang tanggungjawab lebih seperti menjadi panitia nominasi koperasi, menjadi tim inti GATKI, menjadi sekrum FPBN, dan lain-lain.

4/ Banyak kali aku mendapatkan kesempatan-kesempatan menarik. Perjalanan-perjalanan bahkan hingga ke Phuket, menjadi moderator berbagai acara, dan lain-lain.

5/ Ah, aku tak bisa menyebutkan semua dinamika.

Di akhir tahun ini aku sulit menyebut semua hal itu sebagai capaian atau kesuksesan. Aku mengatakannya sebagai pengalaman. Itu cukup. Sekedar mengingat, ini adalah catatanku di awal tahun 2016. Aku menjadi 'harmoni', mampu melewati 'gempa-gempa' hingga semakin harmoni. Bagaimana aku mampu mengevaluasinya di akhir tahun ini?

Huft. Aku baru sampai pada gempa-gempa. Belum sampai pada harmoni. Mungkinkah itu yang masih harus aku teruskan pada tahun depan, pada tahun 2017? Huft.

Thursday, December 01, 2016

Bila Gigi Depan Patah

Aku ingin menuliskannya supaya pembaca yang mengalami hal serupa mempunyai pilihan bersikap. Apa yang Anda lakukan jika gigi depan Anda patah? Huft. Ya, jangan pernah berharap gigi depanmu patah. Sungguh, itu sama sekali bukan peristiwa yang menyenangkan, dan aku pernah mengalaminya. Baru saja, tepatnya Kamis 17 Nopember 2016 yang lalu.

Apa yang terjadi? Hari itu aku ada rapat di YPSK. Kondisiku kurang begitu baik karena aku memang dari hari sebelumnya merasa sangat capek. Selasa usai pulang dari Jakarta ada beberapa kegiatan. Study day dengan para suci di kantor, lalu rapat ini itu salah satunya dengan tim buku YPSK. Kamis itu pulang rapat aku mesti mampir bank lalu karena membayangkan ndak bakal bisa kerja lagi di kantor aku pulang dan mampir ke sekolah Bernard untuk menjemputnya karena toh searah.

Bernard bengong sekaligus senang melihatku, lalu pulang tanpa firasat apa-apa. Aku berpikir untuk berhenti sebentar cari makan atau belanja, tapi tubuhku sudah benar-benar ingin berbaring. Menjelang belokan dekat rumah, tiba-tiba kepikir untuk mampir toko beli sosis karena di rumah tak ada lauk. Di situlah bencana terjadi. Karena mendadak mengerem, ada pasir di aspal, motor pun nyungsep ke aspal. Aku, wajahku duluan yang mencium mesra aspal persis dengan bibirku. Sedang Bernard bagian kiri tubuhnya terseret. Alamak. Aku sudah langsung berdiri melihat Bernard memastikan dia tak apa-apa. Tapi kami apa-apa!

Sepi, kecuali sepasang bujang muda yang kebetulan lewat membantu motorku berdiri lagi dan aku langsung starter motor lagi. Aku tak merasakan sakit tapi aku sudah panik merasai asin di mulut dan aku yakin banget beberapa gigiku rontok dan goyang. Aku menghibur-hibur Bernard di boncengan sambil pelan-pelan mengendarai motor sampai rumah.

Di rumah rasa sakit pun mulai menyerang. Bernard menangis, aku pun nangis. Aduh. Darah di mulut dan kakiku, serta di tangan dan kaki kiri Bernard. Kami berdua menangis barengan di kamar sambil nelpon Mas Hendro untuk pulang. Lucu juga sih membayangkan waktu itu. Aku beberapa kali melihat ke kamera HP, melihat bibirku yang semakin bengkak karena luka di bibir dan gusi, sedang gigiku yang depan patah sehingga wajahku lebih mirip nenek sihir daripada Yuli. Huft...

Nah, itu pengantarnya. Aku mau masuk ke poin yang sudah kukatakan di bagian judul. Bila gigi depanmu patah, apa yang bisa kau lakukan? Nangis! Nangis aja sepuasmu. Lalu ke dokter gigi. Hihihi. Tentu saja jika kasusnya sepertiku, yang luka di bagian bibir dan badan, kita perlu dokter lain juga untuk memastikan bahwa semua baik.

Ke dokter gigi puskesmas, dia nawarin obat ngilu. Ya, itu tepat karena memang gigi rasanya ngilu dan goyang semua. Tapi soal gigi patah, dia angkat tangan. Maka, aku pun dirujuk ke rumah sakit. Di rumah sakit Advent, dokter bilang belum bisa melakukan apa-apa karena bibir masih luka dan gusi masih sakit. Jadi aku diberi antibiotik dan anti nyeri. Pilihan untuk gigi yang patah : 1. cabut (gigi jadi ompong. ndak banget karena ini gigi depan) 2. cabut dan ganti gigi baru (mahal) 3. pakai sarung gigi (mahal, butuh waktu kira-kira 2 sampai 3 minggu untuk semua proses) 4. sambung/tambal gigi (syaratnya akar masih kuat, waktu hanya sebentar sekitar 1 jam pemasangan, lebih murah dari antara pilihan lain)

Nah, pilihan terakhir itulah yang kuambil. Tapi itu baru bisa dilakukan kalau luka-luka bibir udah sembuh dan gusi udah pulih. Kira-kira seminggu lagi aku disuruh datang. Kata dokter biayanya sekitar 850 ribu, tak bisa pakai BPJS. Okey, aku tak punya pilihan lain. 

So, selama berhari-hari aku mesti memakai masker untuk memastikan orang tidak melihatku dalam konsisi 'tidak baik'. Luka di kaki cepat sembuh, walau sampai sekarang masih ada bekasnya. Luka Bernard juga cepat pulih sehingga dia tak pincang-pincang lagi. Di hari Kamis minggu berikutnya aku kembali ke dokter gigi, dibius, dibor, di... entah diapain saja selama kurang lebih 45 menit lebih dan traaadaaaa.... gigiku kembali.

Pesan dokter,"Gigi ini namanya tetap gigi palsu. Tak sekuat gigi asli. Jadi mesti dijaga cara makan dan cara merawat gigi."

Hmmm, oke. Yang penting aku ndak perlu pakai masker lagi, bisa senyum lebar lagi. Gigi palsu ini sangat mirip dengan aslinya jadi kalau orang tidak sangat memperhatikan pasti dia tak akan tahu gigi mana yang sambungan. Soal makan, okeylah, toh selama seminggu aku juga hanya makan bubur dan makanan yang lunak-lunak. Kalau pun ditambah selama seumur hidup kukira tak masalah. Ihiks.