Monday, February 25, 2019

RAT Mekar Sai: Suksesi, Menjaga Kelanggengan Koperasi Berbasis Komunitas dan Teknologi Finansial

Rapat anggota tahunan (RAT) KSP Kopdit Mekar Sai tahun ini terasa lebih istimewa bagiku. Sejak beberapa tahun lalu saat aku pernah beberapa kali terlibat dalam kepanitiaan RAT atau juga menjadi Panitia Nominasi (Panom) atau tim buku, dan sebagainya dalam RAT, kali ini aku duduk manis dalam jajaran kandidat calon pengawas sesuai daftar nomine tetap yang dihasilkan oleh Panom.

RAT yang diadakan di Ballroom Swissbell Hotel Lampung, Minggu 24 Februari 2019 ini memang dilanjutkan dengan Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk memilih pengurus dan pengawas KSP Kopdit Mekar Sai periode 2019 - 2022. Ya, tentu saja aku berdebar-debar. Beberapa dukungan menguatkanku, tapi yang paling menyejukkan hatiku adalah suamiku: "Ndak usah nargetin apa-apa. Yang terbaiklah nanti yang terjadi."

Karena itulah aku bangun pagi itu dengan antusias, gembira dan mengikuti seluruh prosesnya. Bertemu dengan teman-teman yang sejalur dalam gerakan ekonomi itu selalu menyenangkan, jadi aku gembira selama rangkaian acara, mulai dari sidang 1, sidang 2 dan RAK.

Cukup deg-degan saat penghitungan suara, ya wajar saja. Beruntung aku sengaja meninggalkan kacamataku di rumah sehingga aku tak bisa melihat angka-angka hasil pemilihan. Jadi saat semua sudah selesai, salaman pertama dari Mbak Indah, aku tersenyum saja. Lalu beberapa salaman menyusul kemudian membuatku yakin bahwa aku memang masuk dalam jajaran dewan pengawas terpilih.

Aku mendapatkan banyak pesan dari beberapa orang:

Pak Jalmo: "Siapa pun presiden Indonesia, akan membuat Indonesia menjadi hancur kalau tidak menjaga kepemimpinan dan seluruh aspek Indonesia dengan moral (tulisan moral dilingkari oleh Pak Jalmo). Jadi aku nitip ke njenengan." Waktu itu aku menjawan: "Kulo badhe nyekel ingkang sanget dicekel, pak. Maturnuwun."

NN (seorang bapak): "Ndak usah buru-buru ngegas ya mbak. Pelan-pelan, dan mulai dengan lembut." Aku berterimakasih banget pada bapak yang tak tahu namanya ini.

Bu Rini: "Ini amanah, mbak. Dijaga ya."

Mbak Rina: "Buat yang terbaik untuk Mekar Sai ya Mbak." (Ya)

Dll. Dll.

Nah, terimakasih atas kepercayaan ini, teman-teman. Aku sudah sepakat untuk meminjamkan mata bagi anggota untuk 'mengawasi' Mekar Sai. Tiga tahun ini akan kulakukan dengan optimal.

sumber: AltumNews.com

Dewan Pengawas KSP Kopdit Mekar Sai Lampung, Masa Bakti 2019-2021 :
Ketua        : Caecilia Sartini 
Sekretaris : Andreas Sudiyono
Anggota    : Ch. Dwi Yuli Nugrahani

Sumber: AltumNews.com

Dewan Pengurus KSP Kopdit Mekar Sai Lampung, Masa Bakti 2019-2021 : 
Ketua            : A. Suharyono Daud
Wakil Ketua : Dwi Septyo Prajarto
Sekretaris 1  : L. Slamet
Sekretaris 2  : Y. Kristiyono
Bendahara    : Antonius Widi Asmoro.

Friday, February 22, 2019

Forum PUSPA Lampung Tahun 2019

Setelah akhir tahun yang sibuk lalu diikuti libur beberapa minggu, Forum PUSPA Lampung kembali bertemu difasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Propinsi Lampung di kantor mereka, Selasa 19 Februari 2019.

Hadir Ibu Ketua Ari Darmastuti dan pendamping dari Dinas PPPA Bapak Herman beserta jajarannya masing-masing. Tak terlalu banyak yang datang hanya belasan saja dari pengurus lama yang sebenarnya masa kerjanya sudah selesai pada Januari 2019.

Nah, kesempatan baik itu diawali dengan pengantar dari Pak Herman dan Bu Ari, lalu semua melihat kembali secara sekilas perjalanan Puspa. Yah, hanya evaluasi sekilas tentang hal-hal umum. Belum yang lebih detail. Setelah evaluasi barulah dilanjutkan dengan restrukturisasi organisasi dipandu oleh Bu Ari yang sudah mendapatkan mandat dari Kadis PPPA Propinsi Lampung untuk tetap menjadi ketua Puspa Lampung tahun 2019-2021.

Puspa Lampung tetap mengusung isu 3 ends: akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan perempuan dan anak, serta akhiri kesenjangan ekonomi perempuan. Tahun lalu lokus program adalah Kelurahan Enggal. Ini masih akan tetap digulirkan sesuai dengan hasil monev tahun lalu. Tapi di tahun kedua ini pasti harus dikembangkan dalam program yang lebih okey untuk Propinsi Lampung.

Proficiat Bu Ari dan kawan-kawan!

Thursday, February 21, 2019

Harta Karun Uang Logam Recehan

Sumber: Google
Pernah ndak mengalami krisis benar-benar tak ada uang atau tak terbayang beberapa hari mendatang mesti gimana karena kantong kering, dompet kosong? Aku pernah ngalami. Beberapa kali malah, sejak masa mudaku bahkan juga sekarang-sekarang ini saat sudah punya anak-anak yang besar.

Huuuu, rasanya galau jauh lebih galau ketika hal itu terjadi saat sudah punya anak-anak. Kadang aku berpikir sangat wajar ada orang-orang nekat nyolong ayam demi anak-anak mereka dapat makan. Tapi, aku tak akan pernah mentolerir diriku sendiri melakukan hal itu. Sekrisis apa pun kondisinya aku tak boleh melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.

Bagaimana aku bisa tertolong dalam kondisi seperti itu? Syukurlah, aku sangat yakin bahwa diriku selalu ditolong saat mengalami kesulitan macam itu.

1. Koperasi. Aku menjadi anggota Kopdit Mekar Sai sejak tahun 2000an. Jika situasi terdesak, aku akan kesana dan pinjam. Jika tidak memungkinkan, aku akan mengambil simpanan. Ini koperasi simpan pinjam, jadi aku melakukan semua yang diharuskan: menyimpan dan meminjam. Untuk situasi darurat, inilah penolong utama.

2. Pegadaian. Selain koperasi, yang sering aku tubruk adalah pegadaian. Semua benda perhiasan emasku pernah 'sekolah' di pegadaian. Dengan urusan yang mudah, aku termasuk pelanggan utama. Tentu aku harus melakukannya dengan perhitungan matang: 1, aku mesti mampu memperkirakan bahwa 4 bulan setelah menggadaikan sesuatu aku harus bisa menebusnya; 2, aku imbangi dengan simpanan yaitu dengan sesekali membeli logam mulia ukuran kecil semampuku sebagai bentuk tabungan.

3. Bank. Ya, ini lembaga keuangan yang kulibati karena memang kartu ATM masih mudah digunakan sebagai setoran gaji dari suamiku atau jika ada bantuan-bantuan transfer dari sahabat atau kerabatku. Hehehe... Tapi untuk simpanan dan tabungan aku tak lagi menggunakan bank secara serius.

4. Celengan. Nah, ini yang barusan menolongku dalam krisis bulan Februari. Celengan ini bentuknya ada beberapa. Di kantorku ada gelas yang sering kulempari recehan kembalian kalau usai belanja. Entah 1000an, 500an, 200an bahkan 100an rupiah, kumasukkan ke gelas ini. Gelas serupa kuletakkan juga di dapur. Biasanya digunakan juga untuk Wawak jika butuh belanja barang-barang kecil seperti sabun, pengharum baju, blawu, dan lain-lain. Ada lagi celengan kuning yang sudah ada sejak anak-anakku lahir. Celengan kuning ini tak pernah kubuka karena memang untuk simpanan harta karun. Kali-kali suatu jaman nanti uang logam di situ harganya sudah semilyar sekepingnya. Hehehe... Lalu ada 4 kotak dengan nama Hendro, Yuli, Albert dan Bernard. Ini dulunya kotak keinginan yang dibuka setahun sekali untuk tambah uang saku piknik. Tapi kayak kemarin, kotak ini jadi harta karun berharga yang membuatku tak terlalu pusing ketika Bernard minta lauk ayam geprek. Hehehe... Saat dibuka isinya uang logam recehan, tapi saat dihitung ada hampir 100 ribu lho. Beli ayam 1 yang kecil hanya 27 ribu, nah, masih cukup untuk bertahan sehari ini.

5. Uang yang terlupa. Hehehe... ini sih seperti rejeki nomplok ketika nemuin selembar dua lembar warna merah atau biru terselip di antara buku. Mungkin dulunya hanya untuk naruh sementara sebagai pembatas buku lalu terlupakan. Saat ditemukan, uang-uang ini seperti jatuh dari langit. Sudah benar-benar lupa bagaimana ada di sana. Dan benar-benar sangat berguna.

Nah, pengin juga punya harta karun? Yukkk... mulailah buat harta karunmu sendiri.

Sunday, February 17, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (3): Mengapa tak mau memilih Prabowo sebagai presiden?

Hmmm... ya, rasanya agak sulit untuk memilih Prabowo sebagai presiden lebih-lebih setelah mengikuti debat calon barusan, Minggu 17 Februari 2019.

1. Prabowo tidak mau menjelaskan secara rinci apa yang akan dia lakukan terkait dengan 'impiannya' tentang Indonesia. Bagaimana dia akan membawa Indonesia sampai pada swadaya pangan, energi dsb. Bagaimana dia akan bertindak tegas terhadap beberapa kasus. Bagaimana dia akan membuat regulasi-regulasi turuan dari UUD dsb. Kalau dia tidak berterus terang soal itu, bagaimana aku dapat melihat alternatif selain yang sudah dilakukan oleh Jokowi selama ini?

2. Ada beberapa pernyataannya yang mengerikan yang muncul dalam beberapa kesempatan, seperti: "...mungkin korupsinya juga tak seberapa..." (ketika ngomong tentang korupsi) Bisa lihat youtube ini.. "...daripada jatuh ke orang asing lebih baik saya yang kelola karena saya nasionalis dan patriot..." (ketika ngomong tentang ribuan hektar lahan yang dikuasai pengelolaannya). Bisa lihat youtube ini. Aduhhh... itu sama sekali tak masuk akal.

3. Prabowo mengungkapkan beberapa hal yang kontradiksi, inkonsisten.... Hmmm.... (kulanjutkan nanti. Kalian mau memberikan tambahan atau sanggahan? Silakan kirim komentar.)

Wednesday, February 13, 2019

Berduka untuk M. Zamiel el-Muttaqin

Kabar mengagetkan kuterima kemarin sore, Selasa 12 Februari 2019. "Kyai Miming meninggal."

Apa? Kenapa? Bagaimana? Kata tanya itu terputus tanpa kalimat, hanya serupa teriakan. Orang-orang di sekitarku (aku sedang dalam pertemuan dengan beberapa orang) melihatku ikut kaget. Aku segera berdiri, menajamkan pendengaran menangkap berita duka itu.

Kyai Miming, atau M. Zamiel el-Muttaqin adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, di Sumenep sana. Aku berjumpa pertama kali dalam diskusi buku Daun-daun Hitam di Sumenep, bersama sekelompok anak muda Madura. Kyai Miming, aku memanggilnya begitu, menjadi pembahas cerpen-cerpenku dalam diskusi itu, Jumat 5 September 2014. Walau sebenarnya dalam diskusi itu dia tak membahas, tapi menanyakan beberapa hal, mengungkapkan sedikit apresiasi dan selebihnya mempertanyanya. Masih muda, dan melihat wajahnya saja orang bisa merasa ayem berada di sekitarnya.

Catatan singkat tentang pertemuan tersebut tak mewakili seluruh suasana saat pertemuan pertama itu. Aku bahkan tak sempat ngobrol banyak dengannya, kecuali sapaan-sapaan lumrah disertai permintaanku untuk suatu ketika nanti datang ke Guluk-guluk.

Perjumpaan kedua di sebuah kampus di Sumenep pada 25 Oktober 2015 saat aku diundang Fendi Kachonk untuk diskusi bukunya. Pada kesempatan ini aku sempat berbincang sebentar sebelum acara dengan Kyai Miming di teras kampus. Disertai undangan untuk datang ke Guluk-guluk. Aku ingat menjawabnya dengan yakin:"Suatu ketika, kyai. Aku ingin menginap di Guluk-guluk dan merasakan mondok di sana."

Kesempatan terakhir aku ke Sumenep tahun lalu, sayang sungguh di sayang tubuhku sedang tidak terlalu ok sehingga aku tidak berkunjung ke para sahabat di di sana bahkan aku sama sekali tak menyapa sekadar SMS atau telpon ke Kyai Miming.

Kyai muda itu kini telah berpulang. Kami pernah dalam satu buku puisi Titik Temu, pernah bertukar senyuman dan aku masih menyimpan keinginan untuk mondok di Annuqayah.

"Kyai, selamat jalan. Terimakasih banyak atas beberapa kali pengalaman perjumpaan dan sapaan. Dari Lampung aku ikut dalam doa bersama orang-orang yang mengasihimu."

Tuesday, February 12, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (2) : Apa yang kau pikirkan tentang angka 9?

Pertama, aku harus bilang bahwa angka 9 itu angka yang istimewa. Aku  dikandung selama 9 bulan dan lahir pada tanggal 9 dari seorang ibu yang juga lahir pada tanggal 9. Nah, tahun 2019, akhiran 9, tahun ini usiaku 45 tahun, kalau dijumlahkan 4 + 5 maka hasilnya adalah 9.

Kedua, aku pernah menjadi penanggung jawab Majalah Bulanan Nuntius, majalah untuk umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang selama 9 tahun yaitu dari tahun 2005 sampai 2013. Waktu yang sangat luar biasa bagiku. Aku pernah menulis dulu mengerjakan Nuntius sebagai redaktur pelaksana itu seperti ngurus bayi. Hehehe... bayi tua. Yang dulunya terbit tak tentu menjadi terbit sebulan sekali, dan sampai sekarang kalau melihatnya senantiasa terbit sebulan sekali, hatiku juga masih mekar berseri. Sebaliknya kalau mendengar ada masalah di sana, rasanya perih di hati.

Ketiga, aku menjadi badan pengurus Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) KWI selama 9 tahun, dari tahun 2009 - 2018. Yang paling menonjol dalam masa kerjaku di komisi ini adalah kesempatan untukku pergi ke luar Indonesia. Setiap tahun minimal satu kali undangan ke luar Indonesia yang kudapatkan, mulai dengan tahun 2010 ke Kamboja bersama dengan Rm. Ronnie dan kemudian undangan-undangan lain menyusul entah melalui komisi atau undangan secara langsung ke namaku.

Keempat, pasti akan kudapatkan hal-hal lain terkait dengan angka 9 dalam perjalanan hidupku. Hmmm... tentu saja selain dari keistimewaannya secara matematis yang memang melekat pada angka 9.

Nah, aku mau masuk dalam point jawabanku. Angka 9 itu adalah realitas tentang optimalitas. Hihihi... istilah apa jal. Ini kukatakan karena 10 itu tak mungkin. Contoh sederhananya adalah angka yang bisa didapatkan saat ulangan di bangku sekolah dulu. Betul semua akan mendapatkan angka 10. Itu sangat berat walau aku bisa mendapatkannya sesekali untuk pelajaran matematika, Fisika dan Kimia. Itu pun pada bab-bab bahasan tertentu yang memang pas. Pun itu karena keberuntungan tingkat tinggi yang menyertai.

Selain itu sangat tidak mungkin aku mendapat nilai 10. Tapi mendapat angka 9 adalah niscaya, sangat mungkin, dengan pendekatan ke atas atau ke bawah yang sangat dinamis. Angka 9 pun bisa kukatakan sebagai pencapaian optimal.

Maka seperti itu juga aku melihatnya dalam hidup ini. Angka 10 akan sangat mustahil ku dapatkan. Bayangkan saja tak membuat kesalahan sedikit pun. Itu tak mungkin. Kesalahan-kesalahan akan tetap ada dan aku sangat bisa menolelirnya. Namun cita-cita angka 9 tetap akan kusematkan. Aku harus hidup secara optimal sesuai kesadaran yang aku miliki, dan itulah yang memang akan terjadi.

Nah, angka 9 tidak hanya soal peristiwa-peristiwa yang melibatkan angka itu, tapi ini adalah tentang pencapaian paling realistis dalam hidup secara optimal. Aku akan mencapai angka 9. Cukup.

Monday, February 11, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (1) : Siapa Calon Presiden 2019 Pilihanmu?

Dalam beberapa waktu belakangan ini aku berpikir betapa aku ini seorang pecundang. Tak berani bersikap tentang banyak hal, dan membiarkan segalanya berjalan begitu saja asal aman. Nah, aku akan memulai rubrik baru dalam blog ini untuk berlatih menumbuhkan keberanian menunjukkan sikap-sikap atau pandangan-pandangan yang kupunya. Karena memang ini butuh latihan yang kuat, aku akan memakai pertanyaan-pertanyaan yang kemudian kujawab sepanjang atau selebar yang kupikirkan. Rubrik ini memakai judul : Jawaban Yuli Nugrahani.

Apa saja yang akan aku jawab? Apa pun pertanyaannya. Aku akan memulai dengan hal paling panas dalam tahun ini, yaitu calon presiden. Cekidot.


Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk periode selanjutnya sudah ditetapkan tahun lalu yaitu nomor urut 1 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, nomor urut 2 Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Uno. Dari dua pasangan yang ada ini aku cenderung memilih nomor 1. Hampir bisa kupastikan dalam pemilihan nanti aku akan memilih Jokowi dan Ma'ruf.

Hmmm sebenere untuk pertanyaan seserius ini aku ingin juga menjawab dengan serius disertai analisa macam para pengamat politik, tapi apa daya, sulit sekali bagiku melakukan hal seperti itu tapi aku akan coba mengemukakan secara sederhana seturut keterbatasan pikiranku tentang alasan-alasan mengapa ini menjadi kecenderunganku:

1. Aku selalu berpikir tentang keunggulan-keunggulan dari masing-masing calon. Kalau aku mengamati dari kinerja mereka, tentu hal itu tidak sebanding. Jokowi sudah melakukan hampir 5 tahun jadi presiden RI dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Sedangkan Prabowo belum ada pengalaman itu. Maka lebih baik aku melihat keunggulan dari calon-calon ini tidak berdasarkan kinerja mereka. Seturut pengalaman toh ya nantinya akan sama saja soal kinerja ini. Lihat saja bagaimana Sukarno, Suharto, Habibi, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi ketika ada di posisi itu, ya begitulah mereka akan berlaku. Tetep punya sisi baik dan sisi buruk yang memberikan ruang untuk diapresiasi ataupun dikritisi. Maka aku berpikir soal keunggulan itu dari yang pernah kulihat di media yaitu tentang penampilan, keluarga, cara berbicara, cara bertingkah laku, cara menanggapi masalah dan cara mengambil keputusan-keputusan. Jokowi unggul dalam hal ini secara mutlak. Aku bisa begitu saja suka melihat penampilannya (saat mengenakan sarung, menonton konser musik, mengendarai motor dst). Istri dan anak-anaknya bisa tampil secara apa adanya walau aku tahu mereka mengalami perlakuan istimewa dikelilingi ajudan-ajudan yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Untuk Prabowo susah kutemui hal-hal macam itu. Aku masih selalu bertanya-tanya: Apa sebenarnya keunggulan Prabowo?

2. Sejarah. Hmmm... orang model aku ngomong soal sejarah tuh tak mudah karena aku bukan pencatat sejarah yang baik. Hanya saja aku selalu melihat pengalaman Jokowi yang berjalan langkah demi langkah untuk memimpin warga sipil mulai dari Solo, Jakarta lalu Indonesia. Dia cukup populer sehingga hal itu bisa ditelusuri. Prabowo punya pengalaman memimpin warga militer dengan akhir karier yang tak simpatik. Dia cukup populer tentang itu sehingga mudah juga ditelusuri dan tak bisa kulupakan. Secara hati aku lebih bisa menerima Jokowi daripada Prabowo.

3. Berpihakkah dua calon ini pada orang miskin? Pedulikah mereka pada orang miskin dan lemah? Pada bagian mana hal itu dilakukan oleh keduanya? Hmmm... hmmm.... aku mulai kesulitan menulis lanjutan dari artikel penting ini. Ukuran-ukuran sangat banyak dan semuanya bisa dikenakan pada keduanya. Aku tak bisa menemukan bukti yang senyatanya karena aku belum pernah ketemu langsung dengan keduanya. Bagiku pertanyaan ini sangat penting untuk terjawab dalam rangka memilih yang mana yang paling tepat dari keduanya. Kalau aku hanya memakai ukuran gestur tubuh mereka yang paling pas di hatiku ya Jokowi. Tentu saja ini sangat subyektif, tapi ya apa boleh buat. Ingat, aku pun sudah ambil pilihan di bagian atas tulisan ini.

4. Pemilihan calon wakil presiden. Huhuhu... aku kecewa berat saat Jokowi memilih Ma'ruf. Orang yang pernah menyakiti hatiku. Huh. Malah dijadikan pasangan kerja. Tentang Sandiaga, ooohhh, orang muda ini terlalu sempit wawasannya, seperti orang yang biasa manja sedari lahir. Ndak bisa menarik simpatiku entah apa pun yang dikatakannya.

5. Apa sebenarnya yang menjadi motivasi mereka dengan pencalonannya? Jokowi melindungi siapa? Prabowo melindungi siapa? Siapa yang mereka bela? Hmmmm.... rasanya aku tak bisa menulis lebih lanjut. Kalau kutulis lagi malah jadinya cetek banget entar. Tapi aku mau menyuarakan ini: Siapapun kalian yang punya hak pilih, jangan golput saat pemilu nanti. Eh, ya terserah ding. Pokoke gunakan kesempatan tahun ini untuk mendapatkan pengalaman menentukan pilihan. Soal siapa yang menang jadi presiden entah Jokowi atau Prabowo ya itulah yang akan kita junjung sebagai pemimpin negara kita. Semoga semuanya semakin ke depan nanti.

Nah, segitu ya. So far, inilah pilihanku.

9 Tahun sebagai Badan Pengurus KKPPMP KWI

Bulan ini, tepatnya tanggal 6 Februari 2019, saya diundang rapat Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Cikini, Jakarta Pusat. Kali ini bukan hanya untuk ikut rapat tapi untuk acara pisah sambut anggota badan pengurus komisi tersebut. Periode kepengurusan untuk tahun 2015-2018 sudah berakhir berdasarkan surat tertanggal 28 Januari 2019. Dengan demikian, aku sudah menyelesaikan 3 periode sebagai bagian dari kepengurusan KKPPMP KWI sejak aku diminta masuk dalam komisi ini tahun 2019 akhir, saat Mgr. Mandagi sebagai ketua komisi dan Rm. Dany sebagai sekretaris eksekutifnya. Lamaaa, 9 tahun yang sangat berharga dengan pergantian ketua dan sekretaris eksekutif sebanyak 3 kali. Setelah Mgr. Mandagi, yang menjadi ketua berikutnya adalah Mgr. Agus dengan sekretaris Rm. Koko, dan kemudian sekarang yang yang menjadi ketua Mgr. Domi dengan sekretaris Rm. Eko.

Apa saja yang aku dapatkan selama 9 tahun ini? Hmmm, agak susah menyebut segala hal karena sangat banyak yang kudapatkan. Beberapa point akan kucatat sebagai berikut:
1. Jaringan kerja untuk KKPPMP se Indonesia. Ini sangat berguna karena aku bekerja dalam bidang tersebut di Keuskupan Tanjungkarang yang sehari-hari kugeluti yang menjadi pekerjaan utamaku.
2. Kapasitas diri yang terasah oleh tugas-tugas yang kukerjakan khususnya untuk human trafficking dan kekerasan. Tiga SK yang kuterima untuk tiga periode kepengurusan ini awalnya menempatkan aku di bidang human trafficking dan pada dua SK berikutnya untuk GATK, Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan.
3. Kesempatan untuk belajar dan bekerja melintas batas. Batas yang sudah kutarik lebih luas sangat banyak. Itu rahmat luar biasa yang kuperoleh.
4. Jalan-jalan donggg... Ini bonus yang kudapat ketika menerima tugas-tugas dari KWI. Bahkan aku bisa jalan-jalan ke beberapa tempat, luar negara, dengan biaya yang sangat minim karena seringnya panitialah yang menanggung perjalananku.

Apa saja yang seharusnya kulakukan di komisi itu tapi belum kulakukan sampai akhir periode? Hmmmm, ya banyak juga. Aku masih sering kali menahan diri tidak bicara tentang beberapa hal yang menurutku merupakan prinsip dalam kerja justice and peace. Aku masih memegang kesantunan, tahu diri, paham diri, siapalah aku ini sehingga tak semua secara bebas bisa kukatakan. Ketidakadilan di Indonesia itu sangat banyak, harusnya KWI bisa punya peran yang lebih kalau aku cukup kuat mampu menanggung resiko-resiko.

Nah, setelah 9 tahun berada di dalamnya, aku sangat berterimakasih pada kesempatan yang diberikan oleh Keuskupan Tanjungkarang sehingga aku dapat terlibat di KWI. Dulu bahasanya Mgr. Henri: Kau diminta untuk membantu KWI. Lalu bahasanya Mgr. Darso: Kau itu sumbangan keuskupan untuk KWI. Aku berharap Keuskupan Tanjungkarang mengambil manfaat karena keterlibatanku di KWI ini. Terimakasih juga untuk semua yang pernah menjadi rekan kerja, juga menjadi teman-teman jaringan untuk kerja KKPPMP. Aku masih di bidang ini untuk Keuskupan Tanjungkarang. Jadi berakhirnya kepengurusan di KWI tidak akan menghentikan apa pun.

Saat ini aku masih menjadi Badan Pengurus untuk Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI sampai dua tahun lagi. KWI masih menjadi ladang karya dan sekolah bagiku. Belum benar-benar lulus. Hehehe....

Monday, January 21, 2019

Cinta Membuat Kuat

Judul itu klise banget. Biasanya juga kurasakan biasa saja kalau ada ngomong begitu: "Aku kuat karena cinta." Huhuhu...

Tapi kemarin, Minggu, 20 Januari 2019 aku merasakan betul-betul bahwa kalimat itu bukan hanya sekadar kalimat klise. Cinta, memang sungguh-sungguh membuat kuat.

Sepulang dari Jakarta, kondisi capek dan kaki bengkak karena seharian tidak berbaring, aku langsung makan banyak dengan sisa sate yang ada di rumah, lalu berbaring diam-diam dekat Bernard. Badannya panas, tidak mau ngomong apa-apa, dan sesekali dia ke kamar mandi karena diare. Huft. Jarang sekali Bernard selemes itu, jadi aku hanya ingin diam di sampingnya. Tapi karena aku sendiri sangat capek, hanya beberapa menit aku sudah terlelap.

Hari minggu aku berharap Bernard sudah segar lagi. Aku sendiri merasa badan pegal-pegal, agak demam dan malas banget untuk beranjak dari kasur. Jam 8-an aku baru bangun dengan lemes untuk ngecek Bernard. "Makan ya Nard?" Tanyaku.

"Makan apa? Aku mau yang berkuah." Hmmm, baru sadar kalau aku belum masak dan tak punya bangan apa pun. Jadi segera masak nasi, cuci muka, ganti baju, mengeluarkan motor ke tukang sayur. Udah tuh, rasa capek dan demam langsung hilang. Tak terasa lagi. Masak dengan cepat sayur bayam, tempe, tahu, telur dadar dan manasin ikan lele sisa kemarin yang dimasakin Wawak.

Lalu merayu-rayu Bernard untuk makan agak banyak. Menyuapinya, sambil menawarin mau apa lagi, apakah mau jajanan, roti, susu dan seterusnya dan seterusnya.

Sampai sekarang saat aku menulis ini, aku udah lupa rasa capek dan demamku. Aku sehat karena memang harus sehat. Love you, Bernard.

Monday, January 07, 2019

Liburan Bersama Katherine Paterson

Katherine Paterson adalah kawan baik untuk liburan tenang pergantian tahun lalu, selain Pram, James, Dewi, Toto-chan, dan lain-lain. Ketemu dengan Katherine tidak sengaja. Pagi-pagi, aku membungkuk di rak novel. Dua buku ini bersandingan: Rebels of the Heavenly Kingdom dan Jacob Have I loved.

Aku ambil buku yang pertama sambi bertanya-tanya kenapa buku cerita ini ada di rak novel, karena nama Katherine Paterson kayaknya (ahhh...ndak yakin juga), adalah pengarang cerita anak. Huhuhu). Aku tak inget jalan ceritanya juga tokohnya. Pasti aku pernah membacanya dulu dan intuisiku menggolongkan buku itu di bagian novel, tapi aku tak ingat sama sekali.

Aku membacanya dalam waktu sehari, diselingi masak, makan, berkebun sedikit-sedikit dan chating sedikit-sedikit. Kisah yang mendebarkan, perjalanan seorang anak laki-laki bernama Wang Lee, perjumpaannya dengan Mei Lin, perjuangan bersama prajurit Kerajaan Surgawi yang aneh (bagiku), hingga kemudian pada akhirnya hidup di rumah masa kecilnya kembali. Hmmm..., ini kayak cerita untuk menegakkan kembali 'keyakinan' pada hakikatnya. Tidak untuk kekuasaan, untuk merebut negara, untuk menang dan merasa paling benar, menggunakan nama 'keyakinan' sebagai pembenar untuk segala hal itu. Wang Lee merasa perjuangan seperti itu tidak benar. Dan dia kembali. Menjadi manusia baru yang memulai lagi dari awal, dari cinta. Hehehe... aku mengomentari buku ini seolah-olah buku ini mudah diartikan demikian. Tapi memang menyenangkan membaca perjalanan manusiawi macam seperti ini ditulis oleh Katherine.

Juga buku kedua, judulnya seperti kalimat Ishak yang mengatakan: Aku mengasihi Yakub. Yakub ini salah satu dari anak kembarnya, Esau dan Yakub. Esau yang pertama lahir lalu Yakub. Dan Yakublah yang berlimpah perhatian dan kasih sayangnya.

Buku ini pun tentang dua anak kembar. Sarah Louis dan Caroline. Louis cemburu setengah mati karena seluruh perhatian sepertinya tertuju pada Caroline. Juga seluruh kasih sayang. Tapi dalam perjalanannya, pada bagian akhir buku, dia mulai melihat: apa yang dipikirkannya salah. Semua harus diawali dengan kehendaknya, bukan berharap dari orang lain. Ketika kehendak kuat, maka yang lain menjadi supporter, pendukung, pemerhati, penolong. Kesadaran itu yang mempengaruhi sikapnya sebagai Louis dewasa, seorang perawat di sebuah lembah.

Bayi kedua dari kelahiran kembar, ketika yang seorang begitu kuat dan yang seorang sangat lemah, membuat perhatian tertuju pada si lemah. Si kuat yang tidak dikuatirkan menjadi kesepian dan menganggap tak ada cinta baginya. Semua orang ingin dikuatirkan, ok, tapi jika suatu saat kau menemukan si kuat dan si lemah, rawatlah si lemah dengan baik dan jangan pernah lupa untuk memeluk si kuat.

Katherine berhasil mengharu biru hatiku dengan dua buku ini, terlebih saat itu aku sedang pada halaman-halaman pertawa pengulangan buku James. Sepertinya memang liburan ini aku mesti lebih mawas diri sekaligus bersantai dengan cara-cara sederhana seperti yang ditunjukkan oleh Katherine lewat dua bukunya ini. Hmmm, aku lupa apakah ada buku Katherine yang lain yang aku miliki. Ini macam perasaaan 'menyepelekan', padahal banyak hal luar biasa yang sudah aku dapatkan dari dua novel yang seringkali dikategorikan sebagai novel anak-anak ini. Thank you, Katherine. Liburan berikutnya moga menemukan bukumu yang lain di rakku.

Saturday, December 29, 2018

Aksi untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Tsunami yang terjadi di sekitar Selat Sunda mengagetkan banyak orang, 23 Desember 2018, sekitar 21.30. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tiba-tiba terjadi. Awalnya banyak orang menyepelekan, ternyata ratusan korban meninggal dan ribuan orang harus mengungsi.

Spontan aksi tanggap darurat dilakukan. Keuskupan Tanjungkarang melalui Caritas Tanjungkarang langsung terjun memberikan bantuan darurat dan assesment untuk mengetahui kondisi konkret, terus berjalan sampai sekarang dibantu oleh Caritas Indonesia dan seluruh umat.

Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) mengambil porsi dalam Lampung Ikhlas bersama Walhi Lampung, YKWS dan lain-lain pun bergerak.

Kemarin, 28 Desember 2018, anak-anak muda dari dusun V Perumahan Polri Hajimena juga melakukan aksi serupa. Mereka mengumpulkan bantuan dari seluruh perumahan dan menyerahkan ke Kunjir Kalianda.

Melalui beberapa grup WA aku juga tahu banyak lembaga dan perorangan bergerak membantu korban, pengungsi dan juga yang masih berada di rumah-rumah pesisir. Pun, aku masih berseling dengan rasa kuatir karena Anak Krakatau masih terus bergolak. Kontak dengan teman-teman KSDA Lampung juga selalu mantengin info dari BMKG tidak menyurutkan rasa kuatir itu.

Lokasi yang didatangi Albert dkk.
Jika alam bergerak, manusia harus lebih rendah hati melayaninya. Semua ini adalah alat bagi Sang Pencipta untuk menunjukkan kuasa dan kasihNya.

Hal kecil seperti yang dilakukan oleh Albert dan kawan-kawannya itu pun masuk dalam apresiasi hatiku. Aku mengucapkan terimakasih padanya dan kawan-kawannya yang rela melakukan hal semacam itu, sekecil apa pun.

Mungkin nanti atau besok atau entah, juga ada lagi peristiwa tak terduga yang bisa terjadi pada siapa pun, lewat gerak alam.

Kunfaya kun.

Advent 2018 (5): Kekuatan Pikiran

Bagian kelima, atau terakhir, bisa kutulis pada masa Natal. Tepatlah ini kulakukan sebagai bagian dari pergantian tahun juga dan kukerjakan dalam masa yang sangat tenang liburan pergantian tahun di rumah.

Beberapa bacaan mempengaruhi tulisan ini seturut dengan bacaanku selama liburan. Novel Pram, cerpen-cerpen beberapa penulis, dan tulisa James Redfield. Yang terakhir ini seperti bungkus bagi semuanya yang membuatku ingat untuk menulis seperti judul di atas: Kekuatan Pikiran.

Pengalaman membuatku yakin bahwa pikiran memiliki kekuatan yang bisa mengubah segala hal. Kalau Natal dengan kelahiran bayi Yesus mengubah dunia menjadi seperti sekarang ini sekaligus dengan pro dan kontranya, pikiran dari mulai yang kecil mampu mengubah orang, peristiwa dan juga dunia. Ini seperti memulai dari batu pertama yang kemudian diperkuat dengan batu-batu selanjutnya hingga kemudian menjadi sebuah rumah. Batu pertama itu adalah pikiran pertama yang membuat rumah itu mungkin terjadi. Dalam prosesnya bisa saja ada dinamika, kadang terhenti kadang terkendala. Menumpuk batu-batu berikutnya adalah bagian dari memperkuat pikiran.

Dalam tahun ini, aku tahu ada kata yang spesial yang mesti kuingat, yaitu: Kesaksian. Sebelum libur, aku sudah menuliskan sesuatu dalam carik kertas di kantor yang berisi tentang hal itu. Sepanjang tahun ini aku telah dipersiapkan secara apapun untuk sampai pada kesaksian.

Maka kata ini juga yang akan aku gunakan sepanjang tahun 2019. Beberapa hal terbayang di depan mata dengan visi yang semakin jelas dan pikiran yang selalu terkuatkan untuk sampai ke sana, bahkan sampai detail sedetail-detailnya. Untuk itu, aku akan melewati pergantian tahun dengan gembira. Aku tahu, kata Kesaksian ini memiliki konsekwensi yang besar dengan segala resikonya. Aku bisa memperkirakan, dan aku akan melaluinya.

MELINDUNGI KRAKATAU (2)


Ini tulisan yang kedua:

KEPULAUAN KRAKATAU BELUM LAYAK MENJADI TUJUAN WISATA ALAM
Yuli Nugrahani*


Ekskursi Gunung Anak Krakatau dilakukan pada Sabtu, 25 Agustus 2018 dalam rangkaian Seminar Internasional Vulkanologi Krakatau dan Pemanfaatannya di Masa Depan, pada 24 – 25 Agustus 2018 di Randu Palace Hotel Bukit Randu Bandarlampung. Kegiatan ini melibatkan narasumber Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, peneliti dari LIPI yang sering disebut sebagai King of Krakatoa, Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T. Institut Teknologi Bandung, dengan moderator Dr. Ir. Bambang Priadi, DEA dari Itera. Kunjungan ke Kepulauan Krakatau dimulai dari Pulau Sebesi membuat saya mengambil kesimpulan yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini.
Kepulauan Krakatau belum (tigak) layak menjadi tujuan wisata alam atau geowisata atau apa pun dengan istilah wisata. Dari mana kesimpulan ini bisa ditarik? Saya mengacu pada apa yang saya lihat dan amati di kawasan itu saat ikut dalam ekskursi tersebut. (Perlu diketahui, perjalanan ke Krakatau itu berubah jadwalnya, yang semula direncanakan hanya memutari Gunung Anak Krakatau melakukan pengamatan dari atas kapal, ternyata memberikan kesempatan kapal untuk mendarat dan peserta bisa menginjakkan kaki di Pulau Anak Krakatau yang gunungnya sedang sangat aktif dengan erupsi terus menerus dalam beberapa bulan terakhir ini.)
Kepulauan Krakatau yang terletak di Selat Sunda sekarang ini berstatus cagar alam dan cagar alam laut masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kawasan ini berada di bawah mengelolaan BKSDA Bengkulu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Kawasan ini mempunyai luas 13.735 Ha terdiri dari Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang dan lautan yang di sekitarnya. Sebagai cagar alam, hanya kegiatan tertentu saja yang diperbolehkan yaitu: penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, penyerapan dan penyimpanan karbon dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya dengan menggunakan tumbuhan atau satwa liar.
Untuk masuk kawasan ini,  setiap calon pengunjung harus mendapatkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang diterbitkan oleh BKSDA Bengkulu atau Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem di Jakarta. Di dalamnya termuat kewajiban pemohon dengan tandatangan di atas meterai. Dan harus diingat, seluruh kegiatan apa pun yang dilakukan oleh pemohon harus mendapatkan pendampingan dari petugas.
Dengan demikian tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kawasan, terlebih orang-orang yang tidak paham peran cagar alam atau cagar alam laut bagi dunia dan tidak mendapatkan surat ijin. Selama masih dalam status Cagar Alam, orang-orang harus taat pada standar yang diterapkan oleh lembaga terkait, tidak bisa begitu saja masuk ke dalamnya secara illegal atau sembunyi-sembunyi, yang memungkinkan cagar alam menjadi rusak dan menghilangkan beberapa fungsinya.
Trip ke Gunung Anak Krakatau yang dilakukan pada hari kedua seminar dalam rangkaian Festival Krakatau menjadi salah satu cara untuk mendapatkan dukungan terhadap Krakatau sebagai destinasi wisata. Propinsi Lampung sudah mengusulkan untuk mengubah sebagian kawasan cagar ala mini menjadi taman wisata alam sejak beberapa tahun lalu. Hadir kelompok-kelompok yang dekat dengan kepariwisataan Lampung dalam seminar ini. Sayangnya, pengantar dari petugas BKSDA di lokasi maupun materi-materi dari seminar sehari sebelumnya tidak memberi banyak arti dalam perilaku pengunjung saat ekskursi berlangsung.
Pertama, sampah plastik berceceran di sepanjang pantai. Saya tidak ikut masuk ke kawasan hutan karena saya merasa tidak ada kepentingan ke sana. Semoga plastik-plastik itu tidak terserak juga di hutan, yang menjadi sumber ilmu berbagai cabang. Tapi di pantai berpasir hitam yang indah itu, terserak plastik-plastik atau benda-benda tidak ramah alam entah baru atau lama yang jelas akan merusak keindahan dan keberlangsungan hidup Krakatau.
Kedua, tidak semua pengunjung punya tujuan yang diperbolehkan di kawasan ini. Mereka masuk bahkan tanpa tujuan, melihat-lihat, selfi, dan kemudian memamerkan di medsos tanpa keterangan yang cukup tentang keberadaan mereka di Krakatau. Tidak ada peran pendidikan atau peningkatan kesadartahuan konservasi alam yang signifikan ingin dilakukan oleh mayoritas pengunjung. Pengantar dari petugas BKSDA dan narasumber tidak memberi pengaruh yang cukup untuk sampai pada kesadaran tersebut.
Ketiga, tidak ada fasilitas pengaman yang cukup untuk melindungi keselamatan pengunjung, khususnya para peserta ekskursi yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Propinsi Lampung ini. Saya tidak yakin semua peserta punya asuransi perjalanan, tidak ada jaminan keselamatan kapal walau semua diharapkan memakai pelampung (satu kapal sempat tertinggal karena ada mesinnya mogok. Bayangkan jika kapal ini mogok saat sandar di Pulau Anak Krakatau), tidak ada perlindungan apapun yang ditawarkan saat mendarat di Pulau Anak Krakatau padahal gunung ini sedang sangat aktif. Erupsi terjadi tidak teratur dalam rentang sekian menit yang acak. Bahkan kemudian peserta diajak berjalan melintasi hutan sekitar 200 meter tanpa syarat apa pun tentang siapa yang boleh ikut atau tidak. Misalnya syarat alas kaki yang boleh digunakan, pakaian, kesehatan, ketersediaan tempat berlindung andai ada letusan besar, perubahan arah angin dan sebagainya.
Keempat, tak ada fasilitas publik yang memadai misalnya tempat membuang sampah, toilet, penyedia kebutuhan penting dan sebagainya. Pengunjung yang paham pasti sudah bisa melakukan antisipasi tindakan bijaksana, tapi tanpa syarat pengunjung, hal ini membuat resiko pengunjung bertambah.
Kawasan kepulauan Krakatau adalah tempat yang indah. Semua orang punya hak untuk menikmatinya, bukan hanya generasi sekarang ini, tapi juga generasi nanti dan dari berbagai kalangan tanpa kecuali karena inilah kekayaan alam kita. Namun, tanpa persiapan untuk tetap melindungi Krakatau maupun pengunjungnya, penerapan Krakatau sebagai tujuan wisata jelas tak bisa dilakukan. Mengubah status cagar alam sebagai cara untuk menambah jumlah pengunjung juga bukan cara yang bijak dan aman. Memperkuat dukungan terhadap kerja BKSDA adalah salah satu cara, supaya mereka bisa konsisten menerapkan standar kunjungan umum ke kawasan ini. Dengan sumber daya manusia dan uang yang minim mereka sudah berusaha menjadi pagar bagi kawasan ini. Namun patroli 24 jam pun belum bisa mereka lakukan apalagi menjaga keseluruhan asset yang ada dalam keindahan Krakatau sehingga pasti ada saja pengunjung illegal yang datang.
Dengan seluruh situasi seperti itu, masihkan akan dipaksakan perubahan beberapa daerah dalam Kawasan Krakatau sebagai taman wisata alam? Tidakkah lebih baik mempersiapkan Pulau Sebesi sebagai daerah wisata untuk menikmati Krakatau sekaligus mengembangkan masyarakat di sana? Tidakkah masih perlu kajian lebih lanjut dari seminar internasional (yang perlu dikoreksi karena seminar rupanya tidak melibatkan Negara lain untuk memenuhi syarat sebagai seminar internasional) yang sudah diadakan ini? Mestinya dibuat cara kreatif yang aman bagi kepariwisataan di Lampung ini khususnya tentang Kepulauan Krakatau sehingga sebagai kekayaan dunia Krakatau tetap terjaga, pun demikian dengan para pengunjung yang ingin menikmatinya. ****

*Yuli Nugrahani adalah cerpenis Lampung, dari Jaringan Perempuan Padmarini yang fokus pada bidang gender dan lingkungan hidup.

MELINDUNGI KRAKATAU (1)


Tulisan ini kubuat seusai ikut trip ke Krakatau bulan Agustus lalu. Karena bencana tsunami Desember ini, dua tulisan ini aku posting supaya dibaca orang lain. Silakan menggunakannya sesuai kebutuhan:

KRAKATAU, PARIWISATA ATAU CAGAR ALAM?
Yuli Nugrahani*


Trip ke Kepulauan Krakatau membawa keberuntungan bagi saya, yang sedang menyusun buku tentang Krakatau. Andai melakukan perjalanan sendiri, tentu tak cukup satu juta rupiah untuk seluruh perjalanan itu. Mengikuti ekskursi Gunung Anak Krakatau dalam rangkaian Seminar Internasional Vulkanologi Krakatau dan Pemanfaatannya di Masa Depan, saya bisa mengikuti kegiatan ini secara gratis.
Seminar internasional (tanpa Negara lain yang terlibat dalam seminar bisakah ini disebut sebagai seminar internasional?) diadakan pada 24 – 25 Agustus 2018 di Randu Palace Hotel Bukit Randu Bandarlampung dengan undangan yang ditandatangani sendiri oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, M.SI. Hari pertama diisi dengan tiga sesi oleh Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo dari LIPI, Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T. dari ITB, dengan moderator Dr. Ir. Bambang Priadi, DEA dari ITERA.
Di penghujung seminar, diumumkan bahwa trip ke Gunung Anak Krakatau akan diadakan pada hari kedua dengan tujuan Pulau Sebesi dan kemudian memutari Gunung Anak Krakatau. Tidak bisa mendarat di pulau itu karena ijin dari KSDA Lampung (BKSDA Bengkulu) tidak keluar sampai sore itu dan Gunung Anak Krakatau memang sedang dalam kondisi batuk terus terusan, aktif erupsi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi.
Lalu mengapa keesokan harinya kami semua bisa mendarat di cagar alam Gunung Anak Krakatau, bahkan berjalan sejauh kurang lebih 200 meter melintasi hutan? Saya bilang, saya beruntung karenanya namun juga merasa sedih, kecewa dan marah.
Saya beruntung bisa mendarat di tempat itu. Bahkan ketika perahu yang kami naiki mulai mendekat ke kepulauan aktif itu, saya sudah berdebar-debar senang. Ini seperti bertemu dengan seseorang yang padanya saya sudah menambatkan cinta. Saya sedang menulis buku tentang Krakatau dan baru kali inilah saya mendapatkan kesempatan melihat secara langsung bagaimana gunung ini. Semakin mendekat, semakin saya dapat merasakan cinta itu. Gunung Anak Krakatau tampak kokoh dijaga oleh tiga pulau di sekitarnya: Sertung, Panjang dan Rakata. Tenang berdiri di tengah lautan yang kebetulan sangat teduh dan tidak tinggi ombaknya. Sesekali dalam rentang yang tak dapat diprediksi Gunung Anak Krakatau erupsi, mengeluarkan awan hitam panas yang memutih di bagian atasnya karena persentuhan dengan atmosfir yang dingin di atas. Ini adalah gunung yang sangat indah.
Saya beruntung bisa merasai pasir hitamnya yang hangat. Saya bilang: Pulau ini, gunung ini menyimpan energi yang luar biasa. Saya menjadi berkobar-kobar karenanya. Bukan hanya karena kokohnya, menjulang dan semakin tinggi, tapi ini adalah tempat yang cantik. Beberapa jenis tumbuhan, binatang terus bertumbuh menjadi ‘kalung’ di kaki dan lerengnya, menjadi penghias bagi tubuhnya yang terus berdentum, batuk.
Saya beruntung karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti ini. Bahkan tanpa rencana bisa menapaki pulau dimana terletak kekayaan alam dunia, yang pernah meletus hebat beberapa kali bertahun silam memberi dampak bagi seluruh dunia.
Rasa beruntung itu saya optimalkan dengan bertahan di sekitar pasir pantai di kaki Gunung Anak Krakatau menggunakan pancaindera. Saya awas pada bunyi dentuman yang muncul setiap beberapa menit. Saya akan segera melihat melintasi ranting-ranting tanaman dan melihat kepulan di puncak sana. Saya merasai air pantai yang beradu dengan pasir hitam yang hangat. Saya mengamati tumbuh-tumbuhan juga serangga yang ada di sekitarnya. Dan mau tak mau muncullah air mata itu ketika pengamatan seksama itu saya lakukan.
Di sepanjang pantai terserak botol plastik, sampah-sampah yang tak mungkin berasal dari dalam perut bumi. Aihdah kidah. Bagaimana mungkin cagar alam yang didatangi orang secara terbatas pun mengalami seperti itu? Saya sedih melihatnya. Prof. Tukirin, yang sejak menginjakkan kaki di pulau ini bersama kami terlihat seperti tertekan. Entahlah, mungkin itu hanya asumsi saya. Saya melihatnya memungut beberapa sampah plastik, namun seperti dilakukan tanpa fokus, juga tidak diikuti oleh seluruh peserta. Malah sebagian besar tampak tak peduli dengan hal itu. Seluruh suasana dan situasi itu membuat saya sedih.
Tentu saja saya beruntung bisa datang di tempat itu, tapi saya juga kecewa. Bahkan sampai beberapa detik sebelum kapal menambatkan jangkar, saya masih percaya bahwa rombongan yang dikoordinir oleh Dinas Pariwisata Propinsi Lampung ini hanya akan memutari Gunung Anak Krakatau dan kami akan mengamati gunung itu dari atas kapal. Sehari sebelumnya, beberapa orang yang ikut dalam rombongan mengatakan kecewa karena diumumkan bahwa BKSDA tak memberi ijin untuk masuk pulau. Saya bilang: Saya senang karena ijin tidak keluar dan setuju dengan BKSDA. Jangan sampai ijin itu keluar. Kita tak punya kepentingan apapun untuk masuk ke pulau.
Toh akhirnya peserta bisa mendarat di Pulau Anak Krakatau. Walau kemudian dibungkus dengan pengantar bahwa kunjungan ini melanjutkan study yang sudah dimulai dalam seminar sebelumnya, tak semua peserta mempunyai pemahaman atau tujuan yang sama.
Saya marah karena perkara yang serius seperti ini bisa dimainkan entah oleh apa. Sore jelas masih diumumkan dan dikatakan bahwa tak ada ijin untuk masuk kawasan. BKSDA jelas mengawal proses seminar dan perjalanan ini. Dalam seminar dikatakan bahwa tak ada ijin untuk masuk pulau, namun kemudian paginya semua orang bisa masuk tanpa kecuali, tanpa penjelasan tentang tujuan dari tiap person yang ikut, bahkan dipandu oleh para narasumber yang hmmm… dengan wajah tidak terlalu gembira (atau tertekan? Entahlah.) Tak ada syarat bagi pengunjung yang boleh masuk mengikuti para ilmuwan itu. Dan tak ada persiapan keamanan apa pun.
Seminar dan ekskursi ini belum bisa menyimpulkan bahwa taman wisata alam adalah yang terbaik bagi pemanfaatan Krakatau di masa depan. Bagi saya, pariwisata harus dikemas tanpa merugikan semua pihak, khususnya tak boleh merugikan kekayaan Lampung dan dunia seperti Krakatau. Karena banyak alasan, Krakatau itu adalah sumber ilmu biologi, geologi, fisika dan sebagainya. Karena banyak alasan, Krakatau itu memberikan resiko yang besar bagi pengunjung tanpa persiapan. Karena banyak alasan, Krakatau itu harus dilestarikan untuk tetap memberikan fungsi selama-lamanya bagi dunia.
Jika memang pariwisata Lampung harus mengetengahkan Krakatau, pemikiran serius harus dilakukan dengan mempertimbangkan banyak aspek itu. Membebaskan semua orang datang ke Krakatau bukan cara yang bijaksana karena menginjak satu biji pinus pun akan berpengaruh bagi suksesi alam, apalagi dengan meninggalkan segala macam sampah di sana. Terlebih dengan resiko tinggi yang mungkin muncul karena pengunjung tak cukup paham tentang Krakatau dan karakteristiknya.***

*Yuli Nugrahani adalah cerpenis Lampung, dari Jaringan Perempuan Padmarini yang fokus pada bidang gender dan lingkungan hidup.

Friday, December 21, 2018

Advent 2018 (4): Masih tentang Pekerjaan-pekerjaan

Aku menyebut pekerjaan pertamaku adalah koordinator perburuhan di Vincentian Center Indonesia (VCI). Walau pun sebelumnya aku memberikan les tambahan untuk siswa siswi SMP, tapi lembaga yang resmi mencatatku sebagai pekerja ya di VCI ini. Ada kontrak kerja, ada gaji tetap dan ada pekerjaan rutin non rutin yang kukerjakan.

Pekerjaan ini tidak serta merta begitu saja kudapat. Ini kukira karena kedekatanku dengan para frater dan romo CM yang memang sudah terjalin sejak aku kuliah di Malang. Aku sering ikut kegiatan mereka. Pernah bersama-sama dalam jaringan Kelompok Setia Kawan (KSK). Ini kelompok dari berbagai macam ragam orang, mahasiswa, juga orang-orang yang peduli pada masyarakat miskin kota. Kegiatan utama adalah kunjungan ke komunitas pemulung, pengemis, gelandangan dan sebagainya di sekitar Kayutangan. Beberapa kali kerjasama dengan Gereja Kayutangan dengan membuat bazar murah, dengan barang-barang yang dikumpulkan dari banyak pihak yang peduli, entah bahan pangan atau pakaian. Bahkan aku pernah menjadi ketuanya.

Aku juga pernah ikut program Kalbar, yaitu sebulan di Kalimantan Barat dengan difasilitasi CM. Persiapan kurang lebih satu tahun untuk seleksi dan menyiapkan kami dengan pelatihan ansos, pendataan, live in dan sebagainya. Persiapan yang matang dan asyik, apalagi semuanya gratis. Hehehe...

Ketika aku lulus kuliah, belum wisuda, aku ditawarin masuk ke VCI untuk perburuhan. Nol pengalaman tentang buruh tapi aku mau. Dan itulah saatnya aku belajar tentang dunia buruh di sekitaran Bandulan dan Pandanlandung. Pekerjaan yang tak mudah dipahami bahkan harus kulalui dengan tinggal di kostan buruh, mencoba menjadi buruh dan sebagainya. Dari sanalah aku mendapatkan jaringan-jaringan perburuhan di Malang.

Karena aku mendapatkan tugas tambahan untuk mengelola buletin Terlibat (namanya aku yang paksain dipakai. Terlibat. Kalau mau membantu orang miskin harus terlibat, itulah semangatnya.), aku tak sengaja melihat pengumuman di Malang Post untuk ikut pelatihan jurnalistik. Pelatihan itu berbayar, tapi aku tak pernah membayar sepeser pun untuk pelatihan ini dan malah aku ditawarin untuk menjadi wartawan di Malang Post. Jadilah aku masuk ke lembaga kedua dimana aku menjadi pekerja resmi. Sampai beberapa lama aku masih merangkap dua pekerjaan di VCI dan Malang Post, hingga kemudian aku memilih: aku bekerja untuk Malang Post, sampai aku menikah dan pindah ke Lampung.

Lampung adalah tempat yang baru. Tak ada sahabat, tak ada sejarah. Beruntung pada suatu minggu usai misa aku bertemu Mgr. Henri. "Datanglah ke rumah nanti jam 7 malam," ujar Mgr. Henri setelah beberapa detik berjabat tangan. Mgr. Henri menuliskan alamat rumah dan menyodorkan padaku.

Malamnya aku diantar Mas Hen benar-benar datang. Hanya untuk bicara ngalor ngidul termasuk tentang Keuskupan Tanjungkarang. Lalu Mgr. Henri mengundangku ke kantor keuskupan hari Rabu setelah hari minggu itu. Aku menyanggupi untuk datang. Tak hanya ngobrol, aku diajak berkeliling kantor keuskupan, dikenalkan dengan beberapa orang karyawannya. Salah satunya Sr. Mathea yang pernah kukenal dalam sebuah pertemuan perburuhan.

Usai itu, Mgr. Henri menawariku,"Bekerjalah di sini. Rintis bagian justice and peace."

Tentu saja aku kaget. Aku menawar dengan dalih memikirkannya dan masih akan pergi ke Bandung dan Surabaya dalam waktu dekat. Mgr. Henri memberiku waktu dua minggu. Dan saat waktu dua minggu itu lewat, aku datang lagi ke rumah Mgr. Henri. "Saya bersedia, Mgr."

Keesokan harinya aku sudah bekerja untuk keuskupan Tanjungkarang di bagian justice and peace, mendapat satu ruang di lantai atas dan dibekali beberapa map dan buku oleh Mgr. Henri untuk merintis bagian justice and peace. Itu adalah bulan Nopember tahun 2000. Pada akhir bulan itu aku mendapatkan honor pertamaku Rp. 250 ribu. (Aku menganggapnya sebagai uang saku, tidak cukup untuk ongkos naik angkot. Aku harus naik angkot 3 kali setiap kali akan ke kantor, PP aku butuh belasan ribu sedangkan hari kerja 6 hari per minggu waktu itu. Aku bilang ke mas Hen,"Pokoke aku kudu disubsidi supaya bisa ke kantor tiap hari." Hehehe.)

Saat ini sudah 18 tahun lewat aku bekerja di kantor ini, dan menempati ruang bawah dengan nama bukan lagi bagian tapi Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau disingkat KKPPMP dengan bidang garapan gerakan aktif tanpa kekerasan, perburuhan dan anti human trafficking, ekologi, advokasi dan paralegal termasuk pendampingan para narapidana di lembaga pemasyarakatan, serta gerakan kesetaraan gender. Aku tidak bekerja sendiri di sini, tapi dibantu oleh Rm. Greg dan para relawan.

Sampai kapan aku di sini? Hehehe... aku tidak tahu. Bahkan ketika aku diminta mengerjakan Majalah Nuntius menjadi majalah bulanan dari tahun 2005 - 2014, aku pun tetap mensyaratkan kerja di bidang ini sebagai kerja utamaku.

Monday, December 10, 2018

Menjelang Hari HAM di FSTV: Meruwat HAM lewat Seni Perlawanan

Hari Hak Asasi Manusia (HAM) tahun ini diperingati oleh Jaringan Perempuan Padmarini (JPP), Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ) dan Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang dengan mengadakan talkshow di Fajar Surya Televisi Lampung pada Minggu, 9 Desember 2018. Kegiatan ini mengambil tema Meruwat HAM lewat Seni Perlawanan.

Hadir dalam bincang santai ini Rinda Gusvita ketua JPP, Fendi Kachonk pendiri dan pengasuh KKJ dan Yuli Nugrahani penanggungjawab KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Kegiatan dipandu oleh Rismayanti Borthon, bertempat di Studio Kopi, Bandarlampung.

Bincang-bincang diawali dengan pembacaan puisi oleh Fendi Kachonk diambil dari puisinya sendiri yang ada dalam buku Titik Temu. Buku kumpulan puisi bertema HAM ini memang dijadikan pemantik diskusi sebagai salah satu bentuk mengingat HAM. Buku Titik Temu yang diterbitkan oleh KKJ pada tahun 2014 ini berisi puisi-puisi bertema HAM yang ditulis oleh 60 penyair/penulis dari berbagai kota di Indonesia maupun luar Indonesia.

Tak hanya mewujud buku, puisi-puisi bertema HAM itu juga dirayakan dan didiskusikan di berbagai komunitas di berbagai kota. Setelah lewat empat tahun, buku ini pun masih bisa digaungkan ke berbagai daerah.

"Buku ini tidak hanya tentang puisi dan buku. Tapi menjadi sarana untuk mengingat kasus-kasus HAM yang terus saja ada di Indonesia. Selain itu juga lebih dalam lagi, buku ini menjadi pengingat tentang kesadaran HAM. Inilah refleksi para penulisnya," demikian kataku tentang buku ini.

Selain Fendi, aku dan Retha mendapat kesempatan juga membaca puisi yang ada dalam buku. Tentu saja aku gembira melihat semangat ini. Apalagi mendengar apresiasi dari Rinda yang pernah menulis tentang buku ini empat tahun lalu, cuping hidungku sebagai editor buku ini jadi kembang kempis.

Seni selalu relevan digunakan dalam perjuangan HAM, dan itu terbukti dengan buku ini, diskusi tentang HAM bisa dilakukan lintas batas agama, suku, usia dan sebagainya. Bahkan ketika waktu sudah bergulir sekian tahun, puisi-puisi itu pun masih bisa dibacakan sebagai pemicu perbindangan tentang HAM.

Friday, November 30, 2018

Advent 2018 (3): Pekerjaan-Pekerjaan

Saat ini aku bekerja untuk Keuskupan Tanjungkarang sebagai penanggung jawab Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP). Aku memulainya sejak Nopember 2000. Pekerjaan yang tak sengaja kudapatkan setelah aku berkenalan dengan Mgr. Henri (am) pada suatu saat usai misa di Katedral. Beberapa hari kemudian setelah perkenalan itu aku ditawari untuk merintis bagian justice and peace yang kemudian mulai tahun 2017 menjadi KKPPMP.

Itu adalah pekerjaan rutinku, yang utama, yang memberikan aku penghasilan tambahan bagi keluarga secara rutin setiap bulan. Pada akhir tahun ini sudah 18 tahun aku menggulatinya, melalui banyak peristiwa, yang intinya adalah berkah luar biasa bagiku.

Pekerjaan aku anggap sebagai bagian penting untuk mempertanggungjawabkan 'talenta' yang sudah kumiliki. Walau bukanlah keharusan bagiku untuk mempunyai pekerjaan dengan gaji, toh aku tetep membutuhkan gaji itu untuk menopang hidupku dalam keluarga. Sekecil atau sebesar apa pun aku mensyukurinya. Seperti dulu saat aku bekerja sebagai wartawan Malang Pos atau sebagai koordinator pastoral perburuhan Vincentian Center Indonesia, pekerjaanku selalu aku syukuri.

Karena ini adalah tentang mempertanggungjawabkan talenta, aku menggunakan berbagai cara untuk mengenali talenta-talentaku. Salah satu cara yang rutin kugunakan adalah analisa SWOT pribadi. Aku melakukannya secara periodik untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada dalam diriku dan di sekitar diriku. Karena itu juga saat ini aku menggunakan kekuatanku dalam bidang penulisan dengan sebaik mungkin. Jaringan dalam kepenulisan aku bangun sebanding dengan skill menulis yang terus menerus kuasah. Selain analisa SWOT aku juga menggunakan ilmu-ilmu tua yang menyangkut pengenalan diri seperti Enneagram, Shio, hari lahir (Jawa maupun China) dan sebagainya. Semuanya kugunakan secara optimal untuk mengenali diriku dan kecenderungannya.

Pekerjaan lain yang utama adalah sebagai ibu dan istri. Ini tanggungjawab besar yang kudesakkan dalam diriku sendiri untuk mengalahkan kepentingan-kepentingan lain. Sengantuk apapun, secapek apapun, pagi hari aku harus masak sarapan dan bekal. Se bad mood apa pun, kalau cowok-cowokku membutuhkan aku membagikan diri, aku akan berusaha keras di depan mereka. Ini pekerjaan yang paling menghabiskan energi sekaligus paling besar memberikan energi timbal balik. Berada di sekitar dapur, di kamar anak-anak, kamarku sendiri, atau di sekitar rumah, adalah saat yang paling baik dalam waktu-waktuku. Dibandingkan dengan hal-hal lain bahkan hal yang paling dianggap bergengsi oleh orang lain seperti bekergian ke negeri-negeri lain, kota lain atau mana pun.

Yang paling inti dari pekerjaanku, atau hal-hal yang kukerjaankan, adalah terus berjuang menikmati kehidupan sebagai manusia perempuan. Hmmm... ini kehidupan yang hebat.

Aku ingat ketika aku masih kuliah di Malang, aku sudah mencoba bekerja untuk menambah uang saku. Sangu dari ibu sejumlah 40 ribu rupiah per bulan sangat minim untuk keperluanku sehari-hari. Aku nyaris tak pernah beli buku. Semua fotokopian, sebagian ya benar-benar tak ada bahan. Makan dua kali sehari sangat mewah bagiku. Aku cukup paham tempat makan yang murah untuk irit. Maka pekerjaan aku minta ke bulik Sri, yaitu memberikan les tambahan untuk muridnya yang membutuhkan. Aku memberi les tambahan untuk matematika dan fisika untuk beberapa murid. Seringkali mereka membawakan makanan dari mamanya sehingga aku bisa berpesta saat mereka datang les.

Itulah makna pekerjaan yang berikutnya selain mengembangkan talenta. Mencukupi kebutuhan-kebutuhan.

Itu pula yang kukerjakan sampai sekarang. Mengembangkan talenta dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan. Ini dinamis banget, naik turun. Kadang berat kadang ringan. Tapi dari dulu aku belajar meyakini bahwa apa yang keluar dari hati membuat segala hal menjadi lebih mudah. Bahkan pekerjaan yang dianggap sulit bagi orang lain, aku bisa sangat menikmatinya. Karena hatiku ada di situ. Pun sebaliknya ada pekerjaan yang mudah yang aku tak mau lakukan karena hatiku tak di situ.

Nah.

Wednesday, November 28, 2018

Advent 2018 (2): Tubuh adalah Modal

Tubuh adalah bagian penting bagi manusia hidup. Sangat-sangat penting. Karena tubuhlah 'jiwa spiritual' mampu mewujud secara nyata sebagai manusia. Tubuh dibutuhkan oleh manusia selama dia hidup. Hal-hal semacam ini dulu tak kusadari, sehingga aku sering semena-mena terhadap tubuhku sendiri. Hmmm...iya sih, sekarang pun aku sering abai juga terhadap tubuhku, tapi kalau ingatan dan kesadaranku muncul, aku akan segera menarik perhatianku sepenuh-penuhnya untuk tubuh. Makanan, tidur, bergerak, bercinta, sentuhan, lotion, dan sebagainya.

Tahun ini berat badanku berkisar antara 60 - 62 kg (tinggi 160 cm, kelebihan lemak), dengan kecenderungan terus naik. Hihihi... Tekanan darah juga cenderung naik, dengan gangguan vertigo secara acak. Bagian yang terakhir ini yang paling terasa mengganggu, sehingga aku mengupayakan beberapa hal untuk menahan supaya vertigo tidak dekat-dekat pada tubuhku.

Aku harus akui kalau aku ini pemalas. Lumuh kata ortuku. Saat aku kecil aku sangat enggan untuk bergerak. Aku lebih suka tidur, berbaring, kalau toh bergerak ya hanya di sekitar rumah, di dalam rumah, tidak jauh-jauh dari rumah. Aku akan sangat payah kalau disuruh olah raga. Gerakan canggung, tidak gesit. Lari tak bisa cepat. Loncat tak bisa tinggi dan jauh. Ikut permainan juga selalu kalah. Keseimbanganku juga parah. Belajar naik sepeda butuh waktu lama baru bisa, itu pun tak ahli sampai sekarang. Menari aku suka, tapi ya untuk kunikmati sendiri. Kalau kulihat rekamannya pasti aku pun geli ngeliatnya. Kaku banget, kayak robot.

Postur tubuhku kuanggap seksi kalau aku tak melihat dalam cermin. Hihihi. Tapi kalau aku telanjang depan cermin, ya anggapan itu memudar. Dadaku nyaris rata, pinggulku kanan kiri nyaris lurus dengan pinggang. Nah kalau dari samping yang tampak: pantat gede, perut buncit, punggung bungkuk. Huhuhu. Tapi aku tetap suka bercermin. Mengamati tubuhku sendiri. Itu membantuku mengenali tubuhku sendiri, bentuknya, warnanya, dan sebagainya.

Aku suka wajahku, bukan wajah cantik tapi aku suka. Sekarang wajahku dihiasi bintik-bintik hitam, semacam tahi lalat, dan kayaknya semakin banyak. Ya, semua orang bisa melihatnya. Alis tipis, dengan mata belok. Bibirku miring, dan akan tampak bener pada beberapa ekspresi. Aku yakin gerak bibirku sangat mewarnai ekspresi wajah. Sedikit gerak aku bisa lihat kesinisan, kegembiraan, kesedihan, kemalasan dan sebagainya. Untuk waktu-waktu tertentu yang jarang, aku akan menggunakan kosmetik untuk menutup kekurangan-kekurangannya seperti warna alis yang tidak tajam, bibir yang pucat, kulit yang mengkilat dan sebagainya. Sementara ini yang tak pernah kututupi adalah uban. Separuh rambutku adalah uban. Dan bagiku, ini keren... Hehehe... Rayuan untuk menyemir rambut belum menarik hatiku, jadi biar saja. Aku penasaran seperti apa wajahku nanti kalau seluruh rambutku sudah putih.

Tubuhku sensitif pada rasa sakit. Sakit dikit saja aku sudah meneteskan air mata, tak tahan, manja... huhuhu.

Dengan tubuh yang seperti inilah aku terus berkembang sebagai manusia. Semakin lama aku semakin mengenali tubuhku, kecenderungannya, dan memunculkan beberapa kesadaran untuk merawatnya. Nah, aku ingat, harusnya aku lebih rutin olah raga. Olah raga ringan saja selama 30 menit bisa membuatku merasa bugar, juga lebih gembira. Tapi ya itu tadi, ...daku ini masih juga pemalas sampai kini.

Aku memahami tubuhku dengan cara:

1. Merasai tubuh dan alarm-alarm yang muncul. Misal kalau disentuh seseorang aku bisa sangat mual, tapi orang lain aku bisa gembira. Saat aku menarik tubuhku ke bawah, aku tak bisa menyentuh ujung jempol kaki. Kalau mulai makan tidur tidak betul, alarm kepala bagian belakang mulai teriak-teriak. Dan sebagainya.

2. Melihat dalam cermin. Seperti kukatakan di depan. Aku bisa menandai senyumku yang seperti apa yang paling tepat untuk mewakili ekspresi yang kuinginkan. Gimana menutupi bibir yang miring, punggung yang bungkuk dan sebagainya.

3. Komentar orang lain juga bisa menjadi cara untuk memahami tubuhku. Dulu ibuku sering ribut kalau aku keluar tanpa bedak karena kulitku akan mengkilap, bibir juga tampak pucat kering dan sebaganya.

4. Relasi dengan orang lain juga membantuku, termasuk yang paling intim yang bisa kulakukan, yaitu bercinta. Ini membuatku semakin mengenali tubuh dan caranya bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi.

5. Bacaan-bacaan, gambar dan video juga sangat membantuku. Ini nantinya juga terkait dengan bagaimana aku harus memperlakukan tubuhku secara tepat, sesuai dengan kebutuhanku, umurku dan sebagainya.

Beberapa hal yang aku kenali selanjutnya antara lain, tubuh ini membutuhkan energi untuk terus hidup dan berkembang. Energi yang paling awal sumbernya adalah makanan dan minuman, yang secara manual dikunyah lalu masuk dalam pencernaan. Energi lain berasal dari hasil tangkapan pancaindera. Saat melihat dan merasai pantai, aku selalu berkobar-kobar. Rasa lapar bisa tertunda beberapa jam. Juga ketika bertemu orang tertentu, aku akan merasa full energi, atau sebaliknya kehilangan energi. Semacam itulah.

Inti dari semua ini adalah tubuh itu modal utama manusia hidup. Selama masih hidup, masih memerlukan tubuh, kita harus menjaga tubuh kita, sebaik yang dibutuhkannya dan dikembangkan untuk terus maju sesuai tujuan kelahiran kita.

Negeri yang Terapung dan Negeri Para Penyair

Dua buku yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL) kuterima kemarin, 27 Nopember 2018 dari Udo Z. Karzi. Buku-buku ini memuat tulisanku, cerpen dan puisi. Berkaitan dengan buku selalu membuatku antusias dan gembira, maka menerima buku ini membuatku sangat gembira. Nanti akan kubuat catatannya untuk tiap buku, sekarang aku mulai baca saja dulu.

Hmmm... ternyata Lampung memang kaya raya soal penulis. Ada 17 cerpenis terangkul dalam Negeri yang Terapung, Antologi Cerpen Mutakhir Lampung, masing-masing menyumbangkan satu judul cerpen. Dalam kata pengantar editornya, 17 judul ini merupakan hasil kurasi dari puluhan cerpen yang dikirimkan oleh 41 penulis. Sedangkan buku Negeri Para Penyair, Antologi Puisi Mutakhir Lampung, memuat 47 penyair (hasil kurasi dari puisi-puisi yang dikirimkan oleh 71 penyair). Kalau tanpa proses kurasi, tentulah buku yang kuterima ini bisa lebih tebal 2 atau 3 kali lipat dari yang sekarang kuterima.

Tapiii... tentu ini bukan soal tebal tipisnya buku. Para kurator: Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin dan Ari Pahala Hutabarat tentu tak main-main dalam menentukan naskah yang layak maupun tidak dalam buku ini. Wong prosesnya juga laammmaaaa.... setahun lebih kukira sejak pengumuman tentang buku ini hingga buku ini kuterima. Dan tiga orang itu lhooo, kuyakin banget bukan orang-orang yang bisa disuap untuk mengatakan sebuah naskah termasuk layak atau tidak (Huh, inget naskahku yang tak seperti bertepuk sebelah tangan setelah kuserahkan pada mereka. Tak kusebutin deh detilnya. Bikin malu ati.) Btw, ....yehaaa.... terimakasih dah buat semua sehingga buku ini bisa terwujud di depan hidungku.

Agak sulit untuk tidak pamer, jadi ini salah satu puisiku dalam buku Negeri Para Penyair, halaman 147. Ada tiga puisiku dalam buku Antologi Puisi ini, tapi kupasang satu aja yach. Cekidot:

MELEKAT PADA UDARA

Kadang sehelai daun kelengkeng ikut campur urusan senja padahal dia tak tahu apa-apa.
Bahkan dengan pongah  dia bertengger di atas kepala meneriaki uban-uban supaya bergegas.
Telunjuknya menuding langit seolah sudah khatam Alkitab dan sanggup meremukkan kepala ular dengan tumitnya.

Sebelum tubuhnya memuai dan melekat pada udara, dia mengingatkan cita-cita tua:
Sampailah pada Kitab Wahyu pasal ke dua puluh dua.

Okt 2017

Hmmm, sebelum orang lain suka puisi ini, aku sudah duluan menyukainya. Hehehe.... Iyalah. Ada banyak cerita mendalam dalam puisi ini. Entar kalau ada waktu aku akan ceritakan.

Tuesday, November 27, 2018

Advent 2018 (1): Memulai Perjalanan Ke Dalam

Tahun 2018 memberiku banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan ke berbagai kota, berjumpa dengan banyak orang yang sama atau berbeda, juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Dalam empat minggu ke depan ini, aku akan melakukan perjalanan tidak ke berbagai kota, walau mungkin juga secara fisik hal itu juga kulakukan. Tapi yang utama, empat minggu dalam masa advent ini aku akan mencatat perjalanan-perjalanan jiwaku, hatiku dan pikiranku. Bisa jadi yang muncul adalah kesimpulan-kesimpulan, harapan, kesedihan, penemuan-penemuan, tapi mungkin juga aku mencatat lintasan-lintasan pikiran yang sudah kumiliki dalam umur hampir 45 tahun ini. Semoga aku bisa menuliskannya secara serius sehingga bisa diikuti oleh banyak orang. Untuk semenara, aku tidak akan membatasi berapa bagian yang bisa kusodorkan, tapi inilah bagian pertama untuk advent 2018.

Awal tahun 2018 aku lalui di Jawa Timur. Libur panjang untuk Natal dan Tahun Baru sangat menguntungkan, sehingga aku sekeluarga bisa memperingati 40 hari Bapak Soeliham dalam rangkaian libur panjang itu. Perencanaan kerja kulakukan pada bulan pertama ini dengan semangat, yang telat. Harusnya kulakukan pada akhir tahun 2017 tapi mundur beberapa minggu. Aku ingat pada awal tahun ini bahwa aku memiliki beberapa intuisi yang membuatku yakin bahwa tahun 2018 adalah tahun yang hebat.

Mungkin ini berkaitan dengan kepercayaanku pada tahun Anjing tanah. Shioku akan bersinar secara misterius dalam tahun anjing, aku yakin banget karena aku dekat dengan 'anjing'. Keramahan dan kesetiaan 'anjing' padaku membuatku nyaman. Aku tahu bahwa aku akan menghadapi banyak tantangan besar di tahun ini, tapi semerta aku juga merasa nyaman, aman, tidak merasakan kekuatiran yang berlebihan. Beberapa tanda yang tak terlalu baik adalah keuangan. Soal ini tak perlulah melihat pada ramalan-ramalan, tapi aku melihat tanda-tandanya dalam diriku sendiri.

Awal baik penuh optimis seperti itulah yang menjadi modalku awal tahun 2018. Aku percaya diri, siap menghadapi segala hal tantangan maupun kegembiraan. Yang menjadi tantangan utama di awal tahun 2018 adalah kesehatan. Aku kena vertigo yang cukup awet dari akhir tahun 2017, dan baru berangsur-angsur hilang pada April 2018. Vertigo ini cukup menggangguku.

Aku adalah jiwa spiritual yang beruntung mengalami kehidupan sebagai manusia. Kalimat ini menggaung kuat dalam diriku. Aku belum mampu memahaminya sepenuh yang seharusnya, dan dalam perjalanan fisikku yang cukup dinamis di tahun 2018, satu kata berulang-ulang muncul menjadi tantangan dan kekuatan: Kesaksian. Aku mesti bersaksi tentang 'sesuatu', tapi aku tak harus merumuskan apa pun. Aku hanya harus bergerak, bekerja dan bersuara.

Dari mana jiwaku ini? Aku menggunakan istilah yang tidak biasa. 'Bapak Ibu' sumber jiwaku adalah Langit. Dia memercikkan cahaya dalam rencana yang luarbiasa sehingga jiwaku merdeka, menggunakan sebuah tubuh yang 'kami' pilih. Aku tak yakin 'kami' ini bagaimana dibahasakan. Kalau merunut sejak aku lahir sebagai manusia, aku tidak termasuk dalam 'kami'. Tapi saat aku masih dalam rencana langit, tentu saja aku termasuk dalam bagian 'kami' sehingga aku juga ikut dalam proses memilih tubuh yang tepat untuk aku gunakan. Setelah lahir, aku terlepas dari 'kami' sehingga aku hanya bisa menerima tubuh yang sudah diberikan itu secara apa adanya. Aku menjadi Yuli, dalam keluarga Samiran. Ini adalah rahmat yang kuterima sejak aku bertumbuh dalam rahim dan kemudian dilahirkan.

Menggulati tubuh ini bukan soal yang mudah. Ini akan kutulis dalam bagian kedua nanti ya.