Saturday, January 16, 2010
Awal Tahun yang Terlambat
Biasanya pada awal tahun aku membuat misi khusus sepanjang satu tahun. Tahun 2010 ini aku mempunyai misi : menjadi serius. Aku hanya mau serius pada apa yang sudah aku kerjakan. Sudah jadi kulinya Majalah Nuntius ya kuli yang serius. Jadi pekerjanya bagian JP ya serius jadi pejuang keadilan dan perdamaian. Sudah jadi istri dan ibu yang serius jadi istri dan ibu. Sudah jadi bagian pada titik-titik pertemanan, ya serius jadi teman yang baik bagi mereka itu. Sudah kadung cinta pada puisi dan cerpen ya serius pada puisi dan cerpen. Sudah terlanjur cinta dengan banyak kekasih ya aku akan serius mencinta. Pokoknya tahun 2010 ini akan jadi tahun yang serius buatku. Dukung aku ya teman-teman...
Monday, November 23, 2009
Wednesday, November 18, 2009
Tolol
Aku adalah orang tolol. Yang tersenyum pada tembok yang berjalan ke arahku, siap untuk aku tabrak. Sungguh telah aku tabrak dan aku belum sadar juga bahwa tembok itu penuh dengan paku, melukaiku. Aku tidak sadar bahwa tubuhku sudah berdarah saat aku menyentuk tembok itu bukan hanya saat sekarang ini ketika aku terjepit di antaranya. Yah, tolol sungguh aku yang mengira bahwa aku memegang cermin dengan bayangan di belakang saja. Tidak, aku sungguh-sungguh dihancurkan oleh tembok berpaku yang saat ini menjepitku.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.
Tuesday, November 17, 2009
Umbrella
Aku punya payung yang dengan sangat terpaksa aku kembangkan. Ini karena hujan yang bertubi. Ah, ya teman, betul katamu, aku adalah penyuka hujan. Ah bahkan lebih dari itu, aku cinta hujan. Tapi ternyata aku butuh payung jika hujan-hujan mulai menyakitiku. Yah, aku perlu payung yang mengembang. Melindungi dari sakit karena hujan yang bertubi.
Thursday, November 12, 2009
Apa mauku?
Setelah ribut sibuk menyebutkan sekalian keinginan yang berhamburan di pikiranku aku terdiam oleh pertanyaan :"Lalu, apa maumu?"
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.
(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.
(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)
Friday, November 06, 2009
Kehujanan
Semalam aku kehujanan. Aku menggigil di depan anugerah besar. Menangkupkan tangan erat-erat di badanku, mencoba mencari kehangatan dari tanganku sendiri. Beberapa tetes di pipiku sebagian masuk ke bibirku. Mengingatkanku bahwa aku sangat haus. Aku ingat ada botol air minum di tasku, tapi ternyata tak ada lagi isinya.
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."
Thursday, October 29, 2009
Ketinggalan Jaman
Kemarin saat pulang dari menjemput Albert, sudah remang menjelang magrib, di belokan jalan masuk perumahan, seorang bapak mengangguk, tersenyum dan membunyikan klakson. Aku membalas sapaan itu. Kemudian Albert bertanya.
"Ibu tahu itu tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Yang baru saja ngebel itu."
"Nggak. Memang siapa, Bert? Albert kenal?"
"Itu kan Bapaknya Putu. Yang rumahnya samping Robi. Masa ibu gak tahu sih?"
"Oh, itu... Kok ibu gak pernah lihat?"
"Ibu sih tidak pernah keluar rumah."
"Masa sih Bert. Ibu kan keluar rumah terus."
"Iya, tapi ibu gak pernah main dengan ibu-ibu itu. Ibunya Afif, Pandu, Robi dan lain-lain kan sering main bareng di luar rumah."
"Memang ibu-ibu main apaan?"
"Bukan, bu. Ibu ini gak ngerti lo. Duduk-duduk bareng, ngobrol,...jadi gak ketinggalan jaman. Masa bapaknya Putu aja gak kenal."
"Lah ibu kapan bisa begitu. Kalau sore pulang jemput Albert gini pasti udah capek, dan ibu gak lihat ada ibu-ibu di luar rumah."
"Ya gak sore-sore. Siang atau pagi."
"Memang para ibu suka ngomong apa, Bert?"
"Macem-macem, bu. Tentang...alat makan, alat minum atau apa gitu. Albert sering denger kalau lagi main di dekat-dekat mereka. Ah, ibu ini ketinggalan jaman deh."
Aku gak tahu harus mikir apa. Tapi percakapan dengan Albert ini cukup mengusikku. Dia sendiri anak yang sangat memasyarakat. Sampai radius berapa kilometer, masih ada juga yang menyapa dan meneriakkan namanya. Aku sampai heran juga bagaimana mungkin Albert dikenal oleh orang-orang di luar perumahan, di blok lain dan sebagainya.
"Aku pernah dibantu cari kepiting sama mereka." Astaga, tentu saja aku melotot mendengar jawaban itu saat aku tanya kok gerombolan remaja usia SMA bisa meneriakkan nama Albert saat dia aku boncengin di blok E. Jarak yang lumayan jauh dari rumah. Keberanian Albert sering menguatirkanku. Tapi aku juga tidak ingin mengekangnya.
Alhasil, kalau mencariku di kompleks perumahan tempat aku tinggal, tidak mungkin dikenal jika sebut namaku. Sebut saja : Mama Albert atau Ibu Albert. Mereka akan paham dimana rumah yang harus didatangi.
Thursday, October 22, 2009
Ibu
Ini bukan foto baru. Diambil saat hari-hari pertama si kecil masuk sekolah, entah hari yang ke berapa. Aku mesti membantunya mengenakan baju, kaos kaki, sepatu, menyiapkan bekalnya dan kemudian mengantarnya ke sekolah. Menunggunya di gerbang hingga menghilang di deretan bangungan sekolah, setelah mencium pipi, bibir dan kening, tak lupa berkat di dahi. Ah juga setelah tepuk khusus yang hanya kami yang tahu. (Tos, jempol, kelingking, dan adu bogem. Hehehe...jika mau praktek, datanglah. Dan kemudian salaman kencang yang ditutup jabat erat gaya pejuang. "Selamat berjuang, jadi anak baik ya." Kadang,"Selamat berjuang jadi anak pintar!" Atau kata lain,"Selamat berjuang...")
Hal yang sama aku lakukan untuk si besar hingga kelas 2. Saat kelas 3 dia sudah mandiri karena sekolahnya siang, dan aku tidak bisa antar. Gantian, pulangnya yang bareng aku.
Tiap pagi, itulah upacara ibadatku. Sampai sekarang.
Ada hari-hari tertentu dimana aku tidak bisa melakukan hal itu. Jika aku tidak ada di rumah. Mereka bisa melakukan sendiri beberapa hal, atau dibantu Wawak.
Melakukannya, membuatku jadi ibu. Bukan hanya rahimku, tapi juga tanganku, mataku, mulutku, kakiku, tubuhku, hatiku...
Ya, aku seorang ibu. Aku tidak akan melupakannya. Walau mungkin aku juga menjadi seseorang yang lain saat bertemu dengan orang lain.
Ibu. Aku seorang ibu. Aku akan terus mengingatnya.
Friday, October 16, 2009
Never
Menahan diri pada 'never'. Tidak mungkin. Karena memang aku pernah merasakan gelitiknya di ujung-ujung rambutku. Dan aku menyukainya. Tidak mungkin.
Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.
Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.
Thursday, September 17, 2009
Pelukan Abadi
Aku sedang mempertahankan sebuah pelukan menjadi abadi. Erat aku cengkeram lengan-lengannya supaya jangan longgar dari jiwaku. Kukempiskan tubuhku sehingga tetap dalam rangkumannya. Aku menangis dalam pertahanan ini karena cengkeraman tanganku melukai dadaku. Mengempiskan tubuh sendiri sama juga menyakiti hati sendiri.
Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."
Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."
Wednesday, August 26, 2009
Mati
Pipit biasanya berwarna coklat kekuningan agak hitam. Yang satu ini, pernah hidup di belakang rumah di bawah rentengan anggur, punya warna hijau. Bukan karena lahir unik, tapi karena diwarnai, dipaksa berwarna hijau. Pagi tadi pipit tidak alami itu mati. Terjerembab di sangkarnya, dikerubuti semut merah. Mati, teronggok begitu saja. Mati.
(Tidak seorang pun berniat menguburnya. Cukup undang semut merah lebih banyak biar menggerogotinya lebih cepat tanpa sempat berbau.)
(Tidak seorang pun berniat menguburnya. Cukup undang semut merah lebih banyak biar menggerogotinya lebih cepat tanpa sempat berbau.)
Thursday, July 30, 2009
Kamboja
Aku mencium kamboja di ketinggian. Tan tidak mau menyebutnya kematian.
"Keindahan nostalgia itu abadi. Tidak mungkin dikubur begitu saja. Maka, saya akan ke Lampung kembali. Untuk melihat apakah ada yang masih bisa disegarkan dari sana."
Aku mengangguk. Lalu kami berjalan menyusuri pemakaman itu. Mengorek beberapa nisan yang baru ditancapkan. Rumput yang tumbuh di sekitarnya memberi kesejukan dangkal yang segera dilengkapi dengan rimbun pinus. Beribu pinus.
"Aku tahu selalu ada kegelisahan. Sebelum, saat dan sesudah perjumpaan. Toh, tidak ada yang perlu dikuatirkan bukan?"
Aku setuju pendapatnya. Tan menghadiahi aku kamboja, untuk aku bawa pulang. Kamboja yang bisa setiap saat aku cium kapanpun aku ingin.
"Keindahan nostalgia itu abadi. Tidak mungkin dikubur begitu saja. Maka, saya akan ke Lampung kembali. Untuk melihat apakah ada yang masih bisa disegarkan dari sana."
Aku mengangguk. Lalu kami berjalan menyusuri pemakaman itu. Mengorek beberapa nisan yang baru ditancapkan. Rumput yang tumbuh di sekitarnya memberi kesejukan dangkal yang segera dilengkapi dengan rimbun pinus. Beribu pinus.
"Aku tahu selalu ada kegelisahan. Sebelum, saat dan sesudah perjumpaan. Toh, tidak ada yang perlu dikuatirkan bukan?"
Aku setuju pendapatnya. Tan menghadiahi aku kamboja, untuk aku bawa pulang. Kamboja yang bisa setiap saat aku cium kapanpun aku ingin.
Wednesday, July 01, 2009
Rindu Pada Aku
Aku rindu pada embun
rindu pada hujan
rindu pada pelangi
rindu pada matahari
Aku rindu pada cemara
aku rindu pada malam
aku rindu pada pagi
aku rindu pada laki-laki
Aku rindu pada perempuan
rindu pada aku
(Aku sedang rindu, ingin bercinta denganmu, siapa saja yang pernah mesra denganku.
Berjuta kekasihku, kembangkan sayap-sayapmu, dan kembali padaku.
Penuhi aku yang sedang rindu pada aku.)
rindu pada hujan
rindu pada pelangi
rindu pada matahari
Aku rindu pada cemara
aku rindu pada malam
aku rindu pada pagi
aku rindu pada laki-laki
Aku rindu pada perempuan
rindu pada aku
(Aku sedang rindu, ingin bercinta denganmu, siapa saja yang pernah mesra denganku.
Berjuta kekasihku, kembangkan sayap-sayapmu, dan kembali padaku.
Penuhi aku yang sedang rindu pada aku.)
Cerpen Pertama Tahun Ini
"Selamat! Cerpennya di suara karya 27 juni. Aku bru liat. Mantaapp.."
Gitu SMS Arman AZ semalam (22.23 wib). Nah, aku sendiri belum lihat.
Itu cerpen pertama yang dimuat media pada tahun ini. Jauh dari target dan sungguh tidak produktif. (Jika tahun lalu ada dua cerpen dimuat di harian nasional, satu cerpen mini jadi nominator DKL, tahun ini mesti tiga paling tidak yang bisa dibaca umum. Dan ini sudah tinggal 6 bulan, belum apa-apa.)
Sebelum Pulang, dimuat Suara Karya, Sabtu 27 Juni 2009! Ini cerpen yang lahir dari proses yang panjang. Aku kira telur dan spermanya sudah ada sangat lama dalam tabung masing-masing. Nah, penetrasinya terjadi saat ikut bengkel cerpen Dewan Kesenian Lampung bersama Yanusa Nugroho pada Desember 2007. Sepercik sperma, berhasil membuahi hingga jadi janin mini sehalaman. Penghidupan pesat pada Januari 2008, dalam rahim hingga sakit, mabuk, membunting besar, dan pakai operasi caesar yang rumit, hingga kemudian lahir jadi orok tua yang tidak langsung menangis. Nunggu setahun setengah baru cenger.
Jika mau tilik, lihat saja di Suara Karya Online, atau silakan browsing, pasti anak cucunya sudah ada.
Gitu SMS Arman AZ semalam (22.23 wib). Nah, aku sendiri belum lihat.
Itu cerpen pertama yang dimuat media pada tahun ini. Jauh dari target dan sungguh tidak produktif. (Jika tahun lalu ada dua cerpen dimuat di harian nasional, satu cerpen mini jadi nominator DKL, tahun ini mesti tiga paling tidak yang bisa dibaca umum. Dan ini sudah tinggal 6 bulan, belum apa-apa.)
Sebelum Pulang, dimuat Suara Karya, Sabtu 27 Juni 2009! Ini cerpen yang lahir dari proses yang panjang. Aku kira telur dan spermanya sudah ada sangat lama dalam tabung masing-masing. Nah, penetrasinya terjadi saat ikut bengkel cerpen Dewan Kesenian Lampung bersama Yanusa Nugroho pada Desember 2007. Sepercik sperma, berhasil membuahi hingga jadi janin mini sehalaman. Penghidupan pesat pada Januari 2008, dalam rahim hingga sakit, mabuk, membunting besar, dan pakai operasi caesar yang rumit, hingga kemudian lahir jadi orok tua yang tidak langsung menangis. Nunggu setahun setengah baru cenger.
Jika mau tilik, lihat saja di Suara Karya Online, atau silakan browsing, pasti anak cucunya sudah ada.
Wednesday, June 17, 2009
Malam Menyata
Pernah malam mewujud menjadi gumpalan benda padat yang bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Tentu saja aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi keegoisan yang sudah mengaumkan hasrat. Aku menikamnya hingga tidak lagi berjalan, dan memaksanya berbaring telanjang. Angin masuk lewat pori-porinya hingga badannya membengkak. Aku memakainya menjadi tilam mimpi dan menindih memaksanya tetap diam. Jangan berlalu.
Tapi tidak berdaya.
Malam punya kekuatannya sendiri yang justru pada maya. Tidak bisa dipaksa kekal karena seberkas cahaya pun membuatnya mencair dan kemudian menyublim lenyap tak lagi bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Justru karena tidak nyata, maka aku menyebutnya malam. Justru karena kemayaannya maka malam dapat memelihara dunia.
Semoga tetap menjadi malam, yang maya.
Malam menyata, cukup.
Tapi tidak berdaya.
Malam punya kekuatannya sendiri yang justru pada maya. Tidak bisa dipaksa kekal karena seberkas cahaya pun membuatnya mencair dan kemudian menyublim lenyap tak lagi bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Justru karena tidak nyata, maka aku menyebutnya malam. Justru karena kemayaannya maka malam dapat memelihara dunia.
Semoga tetap menjadi malam, yang maya.
Malam menyata, cukup.
Friday, June 12, 2009
Jatuh Cinta Lagi Pada Letto

Sampai nanti sampai mati
kalau kau pernah takut mati, sama
kalau kau pernah patah hati, aku juga iya
dan seringkali sial datang dan pergi
tanpa permisi kepadamu
suasana hati tak perduli
kalau kau kejar mimpimu, kau slalu
kalau kau ingin berhenti ingat dimulai lagi
tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati
kadang memang cinta yang terbagi
kadang memang
seringkali mimpi tak terpenuhi
seringkali
tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti
tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati
sampai mati
Tuesday, June 09, 2009
Brown and Browny
Tanggal 8 Juni 2001, delapan tahun yang lalu aku melahirkan Albert. Pengalaman pertama yang excited bagi ibu muda seperti aku. Dia lahir dalam suasana sangat sibuk karena aku sedang dalam proyek pembuatan buku. Di puncak klimaks kesibukan. Aku ingat dengan perut membuncit masih memelototi komputer 6 - 7 jam tiap hari. Mengkoreksi setumpuk naskah, pontang-panting pinjem printer berwarna dan menggarap foto-foto. Untungnya aku 'ngebo', tidak pake ngidam, mabuk, muntah dll. Pokoke tak terasa susah. Cuma mungkin kurang gizi, kebanyakan pikiran, dalam masa kehamilan itu dua kali aku pingsan, hah memalukan pokoknya. Perut sangat besar dan digotong entah siapa dan berapa orang.
Saat proses melahirkan sangat mendebarkan, menyeramkan. Dan laammmaaaa...lebih dari yang dijadwalkan. Selain umur janin sudah lebih dari waktunya (sudah diancam Dr. Idris kalau seminggu lagi gak keluar akan dioperasi) juga saat melahirkannya, bayinya nyantol, hehehe...tidak mau keluar. Aku kurang tenaga, kurang energi.
"Ngantuk, suster. Aku mau tidur." Gitu aku bilang beberapa di sela-sela proses melahirkan. Rasanya capek, ngantuk, malas, hanya ingin tidur. Hasilnya aku digebukin eh ditamparin dicubitin para suster, dibikinin teh dan diinfus. Diteriakin beramai-ramai gak boleh tidur. "Kalau kamu tidur tadi pasti gak bangun lagi," gitu kata suster Irma. "Kamu ini pasti gak pernah kerja pas hamil." Tentu saja aku protes, la kemarin aja aku masih ngantor. "Maksudnya bergerak, tidak kerja duduk saja." Ooo, ya memang.
Albert adalah bayi paling cantik sedunia. Kulitnya bersih putih, berat 3,35 kg dan panjang 49 cim. Kepalanya panjang akibat aku berhenti mengejan, tapi pulih setelah 24 jam tanpa diangkat. Aku tertawa berlinangan air mata saat badannya yang mungil ditaruh diatas dadaku sembari dipotong tali pusarnya. Segala sakit hilang blas.
Nah, bayi cantik itu sekarang sudah 8 tahun.
"Aku 9 tahun, ibu. Tidak mungkin sebesar aku masih 8 tahun. Teman-temanku saja yang kecil sudah 9 tahun." Sepanjang hari kami berdebat soal itu sampai akhirnya aku menyerah. Ya sudah, selamat ulang tahun ke 9. Tapi buktikan kalau memang sudah sebesar itu. Gak papa umur 9 tahun berlaku untuk 2 tahun.
Brown dan Browny? Ohya, hampir lupa. Mereka berdua adalah kado ultah untuk Albert. Sepasang burung merpati. Anakku ini memang...entahlah, yang diminta selalu yang aneh-aneh. Tahun lalu minta ayam,"Gak usah dirayain, bu. Uangnya untuk beli ayam saja, dipelihara." Tahun ini dia minta sepasang merpati yang bisa di'klepek'. Sesorean aku dan dia keliling Bandarlampung mencari merpati. Dapat di pojok Pasar Bawah dengan harga 85 ribu sepasang, berwarna coklat, kehitaman. Dia beri nama Brown dan Browny.
Saat proses melahirkan sangat mendebarkan, menyeramkan. Dan laammmaaaa...lebih dari yang dijadwalkan. Selain umur janin sudah lebih dari waktunya (sudah diancam Dr. Idris kalau seminggu lagi gak keluar akan dioperasi) juga saat melahirkannya, bayinya nyantol, hehehe...tidak mau keluar. Aku kurang tenaga, kurang energi.
"Ngantuk, suster. Aku mau tidur." Gitu aku bilang beberapa di sela-sela proses melahirkan. Rasanya capek, ngantuk, malas, hanya ingin tidur. Hasilnya aku digebukin eh ditamparin dicubitin para suster, dibikinin teh dan diinfus. Diteriakin beramai-ramai gak boleh tidur. "Kalau kamu tidur tadi pasti gak bangun lagi," gitu kata suster Irma. "Kamu ini pasti gak pernah kerja pas hamil." Tentu saja aku protes, la kemarin aja aku masih ngantor. "Maksudnya bergerak, tidak kerja duduk saja." Ooo, ya memang.
Albert adalah bayi paling cantik sedunia. Kulitnya bersih putih, berat 3,35 kg dan panjang 49 cim. Kepalanya panjang akibat aku berhenti mengejan, tapi pulih setelah 24 jam tanpa diangkat. Aku tertawa berlinangan air mata saat badannya yang mungil ditaruh diatas dadaku sembari dipotong tali pusarnya. Segala sakit hilang blas.
Nah, bayi cantik itu sekarang sudah 8 tahun.
"Aku 9 tahun, ibu. Tidak mungkin sebesar aku masih 8 tahun. Teman-temanku saja yang kecil sudah 9 tahun." Sepanjang hari kami berdebat soal itu sampai akhirnya aku menyerah. Ya sudah, selamat ulang tahun ke 9. Tapi buktikan kalau memang sudah sebesar itu. Gak papa umur 9 tahun berlaku untuk 2 tahun.
Brown dan Browny? Ohya, hampir lupa. Mereka berdua adalah kado ultah untuk Albert. Sepasang burung merpati. Anakku ini memang...entahlah, yang diminta selalu yang aneh-aneh. Tahun lalu minta ayam,"Gak usah dirayain, bu. Uangnya untuk beli ayam saja, dipelihara." Tahun ini dia minta sepasang merpati yang bisa di'klepek'. Sesorean aku dan dia keliling Bandarlampung mencari merpati. Dapat di pojok Pasar Bawah dengan harga 85 ribu sepasang, berwarna coklat, kehitaman. Dia beri nama Brown dan Browny.
Thursday, June 04, 2009
Panggung Pertunjukan
Aku ingat dari kecil aku suka melihat pertunjukan. Di lapangan dekat rumah Kediri, setiap ada ludruk atau ketoprak pasti aku akan merengek minta nonton. Apalagi kalau yang main Wijayakusuma, Siswobudoyo, Kartolo dll. Harus minimal satu atau dua kali nonton. Tidak bisa tiap hari, karena harus belajar, jatah duit terbatas, gak ada yang bisa menemani dan berbagai alasan dari bapak ibu. Maka bapak dan ibu akan memilihkan kira-kira hari apa bisa menonton bersama. Judul yang mana yang akan main seperti Jaka Tarub, Anglingdarma, Sam Pek - Ing Tay, Lutung Kasarung, Tuyul dan Mbak Yul eh bukan ya...
Nah intinya aku akan terpesona berat memandang panggung pertunjukan. Aku suka yang terang gemerlap bercahaya. Jadi ingat kalau bapak ibu sering cerita kalau aku suka melihat pelaminan kalau diajak kondangan pernikahan. Ada fotoku usia 2 atau 3 tahun digendong bapak yang membuktikan cerita itu. Dalam gendongan bapak, dengan mata sembabku habis nangis karena kata ibu sebenarnya mereka malu mengantar aku dekat pelaminan yang didatangi ratusan tamu apalagi tamu terhormat, namun berbinar melihat yang gemerlap. Karena aku maksa nangis gak berhenti-henti maka bapak menggendong aku untuk maju dekat pelaminan melihat janur, bunga, lampu dll, dan seorang teman bapak mengabadikan peristiwa itu.
Hingga remaja saat aku yang introvert pendiam, pun bisa terpana berjam-jam melihat panggung gemerlap. Ludruk dan ketoprak sudah semakin jarang, tapi ada panggung-panggung lain. Semakin banyak jenisnya dengan bertambahnya usia dan pengalamanku.
Saat ini pun aku masih suka melihat panggung pertunjukan. Tempat yang lampunya kelap-kelip kadang menyala kadang gelap dengan frekwensi dan jeda yang tidak tentu. Dengan benda-benda penghias di situ dan juga orang-orang yang bergerak kesana kemari dengan irama dan suara yang sudah ditata. Sesekali terwakili pada film-film, drama, teater, konser dsb.
Ada satu panggung yang sekarang ini sedang aku lihat. Panggung kelabu tak ketahuan warnanya karena cahaya sedang diredupkan. Beberapa benda mati kaku gagu di beberapa sudut. Dan tokoh yang di tengah panggung adalah...diriku sendiri. Hilir mudik memenuhi panggung dengan segala suara. Dan satu-satunya penonton adalah...diriku sendiri. Duduk terpaku diam menahan kecewa karena sangat buruknya pertunjukan.
Nah intinya aku akan terpesona berat memandang panggung pertunjukan. Aku suka yang terang gemerlap bercahaya. Jadi ingat kalau bapak ibu sering cerita kalau aku suka melihat pelaminan kalau diajak kondangan pernikahan. Ada fotoku usia 2 atau 3 tahun digendong bapak yang membuktikan cerita itu. Dalam gendongan bapak, dengan mata sembabku habis nangis karena kata ibu sebenarnya mereka malu mengantar aku dekat pelaminan yang didatangi ratusan tamu apalagi tamu terhormat, namun berbinar melihat yang gemerlap. Karena aku maksa nangis gak berhenti-henti maka bapak menggendong aku untuk maju dekat pelaminan melihat janur, bunga, lampu dll, dan seorang teman bapak mengabadikan peristiwa itu.
Hingga remaja saat aku yang introvert pendiam, pun bisa terpana berjam-jam melihat panggung gemerlap. Ludruk dan ketoprak sudah semakin jarang, tapi ada panggung-panggung lain. Semakin banyak jenisnya dengan bertambahnya usia dan pengalamanku.
Saat ini pun aku masih suka melihat panggung pertunjukan. Tempat yang lampunya kelap-kelip kadang menyala kadang gelap dengan frekwensi dan jeda yang tidak tentu. Dengan benda-benda penghias di situ dan juga orang-orang yang bergerak kesana kemari dengan irama dan suara yang sudah ditata. Sesekali terwakili pada film-film, drama, teater, konser dsb.
Ada satu panggung yang sekarang ini sedang aku lihat. Panggung kelabu tak ketahuan warnanya karena cahaya sedang diredupkan. Beberapa benda mati kaku gagu di beberapa sudut. Dan tokoh yang di tengah panggung adalah...diriku sendiri. Hilir mudik memenuhi panggung dengan segala suara. Dan satu-satunya penonton adalah...diriku sendiri. Duduk terpaku diam menahan kecewa karena sangat buruknya pertunjukan.
Friday, May 15, 2009
Kelabu
Banyak kali aku merasakan kelabu, karena aku memang manusia kelabu. Tapi setiap kali sedang mengalaminya aku benar-benar...kelabu. Tanpa tangis di pelupuk terlihat tapi perih di dada, tepat di inti hatiku. Kelabu.
Conspiracy (5)
(Kisah sebelumnya.)
Aku adalah seorang putri. Seorang lady. Seorang ratu. Yang berkuasa atas tanah-tanah mimpi, pulau-pulau puisi, dan samudera seni. Aku berkuasa atas kaki langit dan puncak gunung. Dalam gaun perak aku bisa bergerak ke segala arah dengan kereta tujuh kuda. Kuda-kuda yang bersayap. Yang berwarna-warni.
Istanaku adalah segala manik perhiasan pecahan bintang yang diambil dari kantong-kantong bidadari. Hangat tanpa punya musim dingin beku. Bahkan hujan adalah keindahan.
Aku mempunyai laskar berlaksa berjuta yang mengabdi penuh dengan kepala tunduk hanya padaku. Mengurut jemariku mencipta nyanyian asmaradana, membimbing bibirku berteriak kegairahan, dan menyiram rambutku dengan minyak rindu.
Akulah penguasa seluruh alam dengan bala tentara air, tanah, api dan udara. Aku penguasa segala itu. Dan kini permintaanku cuma satu : Aku mau Dew!
...
Entah berapa kali Brain memimpin rapat-rapat itu. Aku sengaja menyisih di pojok tamanku, tidak mau bergabung dengan mereka. Laporan Brain aku tanggapi dengan kemarahan tidak sabar. Senyuman Heart aku masukkan ke keranjang sampah. Aku tidak butuh segala remahan itu. Aku mau kaki yang melangkah dan tangan yang bekerja.
"Putri, mereka berkianat..." Suara bisikan seperti siul di telinga. Itu angin, yang jutaan anak-anaknya diberi makan dan tidur di istanaku.
"Putri, mereka berkianat..." Siulan yang sama. Aku mengibaskan tanganku menyuruh mereka pergi. Mereka tidak punya telinga, tidak mungkin aku ajak bicara. Dan darimana bisa menuduh para panglimaku berkianat kalau mereka tidak punya telinga.
"Putri, mereka berkianat..." .... (Bersambung)
Aku adalah seorang putri. Seorang lady. Seorang ratu. Yang berkuasa atas tanah-tanah mimpi, pulau-pulau puisi, dan samudera seni. Aku berkuasa atas kaki langit dan puncak gunung. Dalam gaun perak aku bisa bergerak ke segala arah dengan kereta tujuh kuda. Kuda-kuda yang bersayap. Yang berwarna-warni.
Istanaku adalah segala manik perhiasan pecahan bintang yang diambil dari kantong-kantong bidadari. Hangat tanpa punya musim dingin beku. Bahkan hujan adalah keindahan.
Aku mempunyai laskar berlaksa berjuta yang mengabdi penuh dengan kepala tunduk hanya padaku. Mengurut jemariku mencipta nyanyian asmaradana, membimbing bibirku berteriak kegairahan, dan menyiram rambutku dengan minyak rindu.
Akulah penguasa seluruh alam dengan bala tentara air, tanah, api dan udara. Aku penguasa segala itu. Dan kini permintaanku cuma satu : Aku mau Dew!
...
Entah berapa kali Brain memimpin rapat-rapat itu. Aku sengaja menyisih di pojok tamanku, tidak mau bergabung dengan mereka. Laporan Brain aku tanggapi dengan kemarahan tidak sabar. Senyuman Heart aku masukkan ke keranjang sampah. Aku tidak butuh segala remahan itu. Aku mau kaki yang melangkah dan tangan yang bekerja.
"Putri, mereka berkianat..." Suara bisikan seperti siul di telinga. Itu angin, yang jutaan anak-anaknya diberi makan dan tidur di istanaku.
"Putri, mereka berkianat..." Siulan yang sama. Aku mengibaskan tanganku menyuruh mereka pergi. Mereka tidak punya telinga, tidak mungkin aku ajak bicara. Dan darimana bisa menuduh para panglimaku berkianat kalau mereka tidak punya telinga.
"Putri, mereka berkianat..." .... (Bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)