Sekali waktu dalam putaran perjalanan di Jawa Timur, aku naik bis ekonomi dari Lumajang ke Probolinggo. Sekitar 1 jam dengan ongkos 7000 rupiah. Tempat duduk paling belakang sehingga aku bisa melihat apapun kejadian yang ada di dalam bis. Di sebelah kiriku ada seorang bapak dengan gitar di pangkuannya. Di sebelah kananku ada seorang ibu, membawa tas plastik dengan baju atasan batik lengan panjang dan bawahan celana kombor warna oranye. Di depanku sepasang bapak dan ibu bersama 3 anaknya berdesakan di tiga kursi. Depannya lagi seorang ibu yang baru saja naik dengan 3 karung besar entah isi apa dan sebuah bungkusan dalam taplak yang besar (sebelum duduk, benda itu dia jinjing di atas kepala.)
Seluruh bis itu penuh terisi, bahkan ada penumpang yang berdiri. Tidak panas walau tanpa AC karena pintu dan jendela-jendela bis dibuka. Terlebih karena aku duduk dekat pintu. Sepanjang 1 jam perjalanan, bis itu dimasuki oleh para pedagang makanan, peminta-minta dan pengamen yang tidak henti-hentinya. Buanyak. Hebatnya, transaksi terjadi. Para penumpang rela hati berbagi dengan para pedagang kecil penjual tahu, keripik, minuman, mainan, tisu,...dan segala macam. Para penumpang juga memberi para pengamen, peminta-minta tanpa protes bahwa kehadiran mereka membuat bis semakin berjubel.
Ibu di sebelahku memberi siapapun yang mengatungkan tangan padanya. Minimal dua receh lima ratusan dia berikan. Setiap kali! (Aku cuma memberi senyum, mengangguk. Bandingkan!) Sepanjang satu jam aku terjaga, waspada mengamati, dan sangat antusias melihat apapun.
Lain waktu, di putaran yang berbeda, aku naik bis AC untuk jurusan yang sama. Ongkosnya 23 ribu rupiah (tiga kali ongkos bis ekonomi masih tambah dua ribu.) Tentu nyaman, karena tidak berdesakan. Ada AC. Pintu tertutup. Tidak ada penjual makanan, pengamen, peminta-minta. Sepi tidak ada percakapan antar penumpang yang sangat berarti. Semua sendiri-sendiri, dan tidak ada transaksi apapun di sini. Semua tidak peduli. Aku pun tertidur pulas. Terbuai dalam mimpi, dan gak tahu apapun yang terjadi.
Andai kata hidup seperti naik bis, mana yang tepat untuk dipilih? BIS EKONOMI atau BIS AC?
Friday, April 27, 2012
Thursday, April 26, 2012
Memegang Misteri Ilahi
Tubuh jiwaku ikut luruh mendengar prasetya mereka :
Setia sebagai gembala
merayakan misteri iman
melayani Ilahi dengan pantas
menjadi kurban murni
dalam taat
Tubuh jiwaku ikut dalam suka duka cita pengharapan menatap mereka :
Jadi pelayan
penuh kuasa
"Barangsiapa kauampuni dosanya, dosanya itu diampuni;
dan barangsiapa kautahan dosanya, dosanya itu ditahan padanya."
(Rm. Andre, Rm, Anjar, Rm. Wiwid, proficiat! Aku ikut dalam doa-doa kalian. Ini awal dinamika jatuh bangun, menuju Kalvari. Tak bisa dielak karena kalian hanyalah anak-anak bumi yang terpilih dan dikasihi.)
Tuesday, April 24, 2012
Tuesday With Morrie
Ini adalah kuliah yang berikutnya bagi hidup Mitch. Mantan dosennya, profesor tua Morrie menemani tiap hari Selasanya dengan kuliah yang sarat dengan pelajaran hidup.
Morrie tua adalah orang sekarat yang menunggu saat meninggalnya karena vonis dokter. Dia yang suka menari mengikuti ritme lagu apapun, menderita ALS (amyotrophic lateral sclerosis), yaitu penyakit yang menyerang neuron-neuron (sel-sel syaraf) motorik pada tulang belakang dan batang otak sehingga mengakibatkan kelumpuhan secara bertahap keseluruh organ tubuh bahkan kelumpuhan dalam mengfungsikan paru-paru untuk bernafas. Walaupun ALS melumpuhkan semua organ namun penderita ALS masih dapat menggunkan semua panca inderanya karena penyakit ini tidak merusak pikiran, kepribadian, kecerdasan, atau daya ingat sang pasien.
Di atas kursi rodanya, lalu di ranjang tidurnya, dalam sisa umurnya, Morrie menunjukkan pada Mitch bagaimana hidup harus dijalani. "Begitu orang tahu akan mati, dia akan belajar bagaimana harus hidup." Itu dikatakan Morrie. Dan semua orang akan mati, cepat atau lambat. Kapan harus mulai belajar hidup? Sekarang. Jangan lewatkan kesempatan. Untuk menunjukkan rasa cinta, rasa penyesalan, dan sungguh-sungguh menikmati hidup.
(Buku ini hadiah ultahku tahun 2009, dari S. Indriyati Caturiani. Menjadi salah satu dari sedikit buku berbahasa Inggris yang kupunya. Aku baru mulai membacanya bulan ini. Belum juga separohnya kubaca, dan sudah kurasa...luar biasa.)
Morrie tua adalah orang sekarat yang menunggu saat meninggalnya karena vonis dokter. Dia yang suka menari mengikuti ritme lagu apapun, menderita ALS (amyotrophic lateral sclerosis), yaitu penyakit yang menyerang neuron-neuron (sel-sel syaraf) motorik pada tulang belakang dan batang otak sehingga mengakibatkan kelumpuhan secara bertahap keseluruh organ tubuh bahkan kelumpuhan dalam mengfungsikan paru-paru untuk bernafas. Walaupun ALS melumpuhkan semua organ namun penderita ALS masih dapat menggunkan semua panca inderanya karena penyakit ini tidak merusak pikiran, kepribadian, kecerdasan, atau daya ingat sang pasien.
Di atas kursi rodanya, lalu di ranjang tidurnya, dalam sisa umurnya, Morrie menunjukkan pada Mitch bagaimana hidup harus dijalani. "Begitu orang tahu akan mati, dia akan belajar bagaimana harus hidup." Itu dikatakan Morrie. Dan semua orang akan mati, cepat atau lambat. Kapan harus mulai belajar hidup? Sekarang. Jangan lewatkan kesempatan. Untuk menunjukkan rasa cinta, rasa penyesalan, dan sungguh-sungguh menikmati hidup.
(Buku ini hadiah ultahku tahun 2009, dari S. Indriyati Caturiani. Menjadi salah satu dari sedikit buku berbahasa Inggris yang kupunya. Aku baru mulai membacanya bulan ini. Belum juga separohnya kubaca, dan sudah kurasa...luar biasa.)
Wednesday, April 18, 2012
Nghiêm Trọng

aku menyimpannya di sebuah kotak
belum dikunci, hanya ditutup
pun pelan-pelan
supaya tak ada bunyi
yang bisa mengagetkanku
mengagetkanmu
kau ingin aku taruh di mana?
di kubur?
lagi pula memang harusnya begitu
karena aku begitu
cintaimu pada jiwamu
sayangimu pada badanmu
sehingga harus awetkanmu
di kuburmu!
dengan begitu murni aku
murni kamu
di kuburmu
kutabur
wangi cinta jiwamu
bunga sayang ragamu.
Saturday, April 14, 2012
Busy in Weekend
Aku ingin segera selesai supaya kencan akhir pekanku tak terganggu. Para kekasihku menunggu.
Sabar ya...
Friday, April 13, 2012
Traffic Light
Banyak percakapan dengan Den Hendro atau siapapun aku selalu menyiratkan diri ingin jadi "Aktifis lalulintas". Berkendara aman, menggunakan jalan sebagai lalulintas yang aman, bagi setiap makluk.Pagi ini reputasiku tercoreng gara-gara tidak melihat lampu menyala merah di Pasirgintung. Aku hanya melihat mobil biru di depanku melaju dan aku ngikut di belakangnya. Tahu-tahu di depanku ada polisi (untung gak ketabrak, karena aku siap ngegas. Sudah buru-buru, Albert bisa telat masuk sekolah!)
Wajahku yang bengong dibalas dengan pelototan tak ramah seorang polisi yang cukup senior.
"Tidak lihat lampu merah?!"
Aku menggeleng-gelengkan kepala, membuat dia kelihatan semakin murka.
"Lampu merah diterjang. Bagaimana?! Minggir!"
Dia mengarahkan aku ke sebelah kanan.
"Tidak melihat. Sungguh. Mobil biru tadi..."
"Tidak lihat bagaimana? Itu lampu merah!"
Aku tidak punya waktu lama. Jadi aku mengambil dompet, menunjukkan SIM dan STNK sembari sekilas melihat tanda namanya.
"Pak Herman, maaf..."
Wajahnya agak melunak. Dicermatinya SIM dan STNKku.
"Kerja dimana?"
Wajahnya lebih ramah.
"Tinggal di Polri? Dekat Cokro?"
Jelas ada senyum di wajahnya.
"Ya, Pak Herman. Maaf, sungguh aku gak lihat tadi."
"Ya sudah. Hati-hati. Silakan. Jangan lagi!"
Disodorkan dokumenku dan mempersilahkan aku pergi. Huff, thanks God! Albert protes berat karna dia sudah telat. Tapi dia pun heran bagaimana aku bisa lepas dengan mudah. Terlewati. Tapi reputasiku sebagai pengendara dan pengguna jalan raya, serta calon aktifis lalulintas tercoreng parah. Ahhh...
Thursday, April 12, 2012
The God of Small Things
Membaca ulang The God of Small Things di tengah pikiran yang maju mundur bolak balik masa lalu sekarang nanti sangat pas. Ceritanya persis mekanisme otak dan hatiku sekarang ini. Buku yang ditulis oleh Arundhati Roy ini rumit, serumit aku dalam pemahamanku, sekarang ini.Arundhati Roy (gambar di atas) adalah seorang penulis sekaligus aktivis kemanusiaan berdarah India. Dia memenangkan penghargaan bergengsi Booker Prize pada 1997, berkat novel pertamanya berjudul 'The God of Small Things.'
Friday, March 30, 2012
Bersimpuh di Kakimu, Kekasih
Aku di kakimu, kekasihmembasuh dengan air mata
mencoba mencuci dengan tangisanku
dan kutumpahkan wewangian.
Aku di kakimu, kekasih
mengusap dengan rambut panjangku
mengeringkannya dengan helaiannya
Kurundukkan punggungku
mencium kakimu
Menghindari usapan tanganmu
yang membuatku malu.
(Hujan, dan aku disalibkan, di kakimu.)
Who are?
Hari ini akan ditentukan. BBM akan naik atau tidak. Yang menentukan adalah para pemain politik. Dan ini melibatkan rakyat, bumi, uang...Siapa yang paling diuntungkan dengan kenaikan harga BBM ini?
Bumi akan tetap menangis karena minyak yang terus dikeruk.
Rakyat akan semakin melarat, mati raga, banyak hemat, hingga sekarat.
Uang akan mengalir. Dari mana kemana? Untuk siapa?
Bapak Presiden SBY, kau dapat apa dari kenaikan harga BBM?
Dapat ancaman? Bukan uang? Jadi, kenapa kau ngotot memutuskan seperti itu? Untuk menyebarkan ancaman kematian ke seluruh rakyat? Kau mestinya menawarkan kesejukan.
Jadi, siapa yang diuntungkan dengan kenaikan harga BBM hari ini?
Thursday, March 29, 2012
Kissing
Setiap hari ada puluhan mungkin ratusan, mungkin ribuan atau jutaan ciuman yang kualami. Setiap pagi hingga malam. Dengan para kekasihku yang puluhan mungkin ratusan ribuan jutaan.Ada satu ciuman yang spesial dalam rumah kami. Hehehe...awalnya adalah Den Hendro yang memunculkannya ketika anak-anak masih di perut. Dia kebiasaan mencium perutku. Ketika anak-anak lahir, ganti dia ciumin perut anak-anak. Nah, rupanya kebiasaan ini menular ke Bernard. Dia, kalau sedang gemes, sedang iseng, pasti nyium di segala tempat khususnya perut. Aku pernah bolak-balik sampai repot gara-gara dia menyusup gitu aja ke kaos, di tengah keramaian. Nah, kalau dia menyusupkan kepala ke perut kan kaosku terangkat. Piye to...kelihatan kemana-mana perut pinggang pantat.
"Cuma mau cium perut, ibu."
"Iya, tapi kan jadi kelihatan nih perut ibu."
"Ndak apa-apalah."
Ih, nggak apa-apa gimana. Lagian kan geli.
Lain waktu dia akan ciumi perut bapaknya. Den Hendro paling gak tahan dipegang perutnya, jadi pasti marah teriak-teriak. Padahal dia kan biang keroknya.
"Adik, apa-apa sih. Niru siapa kau ini?"
"Kan bapak yang ajarin."
Nah, kapok lu. Aku ketawa saja.
Lain kali lagi, saat tenang-tenang di kamar Bernard ciumi perutku lalu membenamkannya di situ. Aku pura-pura gak kerasa apa-apa, padahal ya geli.
"Kenapa sih dik, suka banget cium perut. Mau balik ke dalam perut?"
"Lagi latihan, ibu."
"Latihan apa?"
"Ya latihan cium perut."
"Kok?"
"Iya, kan nanti kalau aku sudah punya anak-anak aku harus cium perut-perut mereka."
Ya ampun. Den Hendro mesti diingatkan nih. Sebagai bapak, dia harus hati-hati memperlakukan anak-anak, karena mereka akan contoh. Seumur ini aja Bernard sudah memikirkan tindakan tertentu pada anak-anaknya yang puluhan tahun lagi baru ada. Akur abang sayang? Hehehe...
Di luar itu, sejujurnya aku suka banget dicium, juga suka mencium. Merasakan kulit bibir yang lembut menempel di kulitku, entah bagian manapun, membuatku nyaman. Juga menempelkan bibirku di kulit manapun membuahkan sensasi nyaman yang sama. Harusnya memang semua orang sering-sering saling mencium. Dengan cinta rela...
(Aku tidak sedang ngomong soal moral, etika, dan teori-teori lain. I'm just saying about kissing.)
Wednesday, March 28, 2012
Active Non Violence
Sabtu - Minggu, 24 - 25 Maret 2012, La Verna, hanya bagian kecil dari sarana penyebaran. Harus ada yang lain, terus menerus, dimanapun!
Letter for You, Dear Dee.
Dear Dee,
Melihatmu adalah bayangan diriku.
Mencintaimu pun sudah luka.
Ditambah dengan pedang palu berulang,
dari cerita
dari suara
dari mata
dari dilema
tidak ada masalah bagiku.
Aku bertahan dalam merdekaku.
Tapi, tak semua makluk mencintaimu
seperti cintaku yang sangat perempuan.
Tapi, tak semua orang bisa memaklumi
manusiamu yang penuh nafsu.
Tapi, tak semua semesta akan menahan
tidak menyerang dan melawanmu.
Hati-hati.
Jaga diri.
Aku tak akan pernah bisa melindungimu.
Aku, hanya cinta bulat penuh berlubang
yang terbagi tak rata untuk para kekasihku.
Sesuai bagian yang telah kau ambil,
aku membaginya untukmu.
Hanya itu.
Sungguh,
hati-hati jaga diri.
Salamku,
Yo
Melihatmu adalah bayangan diriku.
Mencintaimu pun sudah luka.
Ditambah dengan pedang palu berulang,
dari cerita
dari suara
dari mata
dari dilema
tidak ada masalah bagiku.
Aku bertahan dalam merdekaku.
Tapi, tak semua makluk mencintaimu
seperti cintaku yang sangat perempuan.
Tapi, tak semua orang bisa memaklumi
manusiamu yang penuh nafsu.
Tapi, tak semua semesta akan menahan
tidak menyerang dan melawanmu.
Hati-hati.
Jaga diri.
Aku tak akan pernah bisa melindungimu.
Aku, hanya cinta bulat penuh berlubang
yang terbagi tak rata untuk para kekasihku.
Sesuai bagian yang telah kau ambil,
aku membaginya untukmu.
Hanya itu.
Sungguh,
hati-hati jaga diri.
Salamku,
Yo
Tuesday, March 27, 2012
What is lemari in English?
Menemani anak-anak belajar adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Paling utama karena aku juga mesti ikut belajar. Kelas 5 sudah harus tahu tentang apa sih berbuat adil itu? Kami perang konsep dulu sebelum baca buku. Iyalah. Si Albert kan tidak mau kalah, seperti ibunya juga. Di buku tertulis : Adil adalah memberikan pada seseorang sesuai dengan haknya. Kelas 5 pun tahu ini.
Kelas 2 SD harus tahu mengapa tiga orang itu tidak mendengarkan Lulu. Nah Lulu siapa nih? Mana bisa dijawab pertanyaan kayak gini. Hehehe, usut punya usut pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika sudah membaca buku tematik 2 F pada halaman 76 yang berjudul Tiga Orang yang Sok Pintar. Ehhh, ya ibunya harus baca dulu dunk sebelum berdebat dengan Bernard yang cerdik.
Begitu selesai menjawab soal-soal, Bernard memegang ballpoint.
"Ni tintanya keluar atau di dalam, bu?" Dia pegang ujungnya sehingga tidak kelihatan terbuka atau tertutup.
"Pasti ada."
Dia tunjukkan dan benar.
"Kok ibu tahu sih?"
"Ya iyalah. Kan ibu ini superwoman. Serba tahu segala hal."
"Ah, mana mungkin. Bahasa Inggrisnya lemari saja tidak tahu."
Eh! Kok nyangkut bahasa Inggrisnya lemari?
"Tuh, gak tahu kan? Apa coba?"
"Apa ya Nard? Kok lupa ya. Apa sih bahasa Inggrisnya lemari?"
"Tuh, berarti ibu tuh bukan superwoman. Tidak segala hal tahu."
Kurang asem. Dia langsung mengangkat tasnya, dibawa ke ruang depan supaya siap dibawa besok pagi untuk sekolah.
"Good night, ibu. Selamat tidur. Mimpi indah. Bangun pagi-pagi sekali."
Dan dia ninggalin aku gitu aja.
Kelas 2 SD harus tahu mengapa tiga orang itu tidak mendengarkan Lulu. Nah Lulu siapa nih? Mana bisa dijawab pertanyaan kayak gini. Hehehe, usut punya usut pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika sudah membaca buku tematik 2 F pada halaman 76 yang berjudul Tiga Orang yang Sok Pintar. Ehhh, ya ibunya harus baca dulu dunk sebelum berdebat dengan Bernard yang cerdik.
Begitu selesai menjawab soal-soal, Bernard memegang ballpoint.
"Ni tintanya keluar atau di dalam, bu?" Dia pegang ujungnya sehingga tidak kelihatan terbuka atau tertutup.
"Pasti ada."
Dia tunjukkan dan benar.
"Kok ibu tahu sih?"
"Ya iyalah. Kan ibu ini superwoman. Serba tahu segala hal."
"Ah, mana mungkin. Bahasa Inggrisnya lemari saja tidak tahu."
Eh! Kok nyangkut bahasa Inggrisnya lemari?
"Tuh, gak tahu kan? Apa coba?"
"Apa ya Nard? Kok lupa ya. Apa sih bahasa Inggrisnya lemari?"
"Tuh, berarti ibu tuh bukan superwoman. Tidak segala hal tahu."
Kurang asem. Dia langsung mengangkat tasnya, dibawa ke ruang depan supaya siap dibawa besok pagi untuk sekolah.
"Good night, ibu. Selamat tidur. Mimpi indah. Bangun pagi-pagi sekali."
Dan dia ninggalin aku gitu aja.
Friday, March 16, 2012
My Sons Angels
Anak-anakku bukan anak-anak paling manis sedunia. Aku tahu itu. Mereka sering membuatku olah raga jantung, penuh adrenalin, berdebar-debar, cemas, bahkan sangat cemas. Membuka tas ransel mereka masing-masing saat mereka tidur saja membuatku kena serangan jantung berulang-ulang dalam satu detik hitungan.Misal semalam, aku cek tas adik Bernard. Ada setumpuk buku ulangan yang baru saja dibagi. Belum ditandatangani orang tua. Ada 1 nilai 100. Matematika. Ok. Lalu IPA, bagus. Bahasa Indonesia ok. Lalu hah, agama 60, di bawah KKM, harus remid. Lalu Bahasa Inggris, cuma betul 2, tidak diberi nilai sama gurunya. (Esok hari Bernard membela diri dengan mengatakan,"Bu Gurunya itu. Dibilang Selasa ulangannya, tapi ternyata Senin ulangan. Jadi belum belajar." Dan aku tidak bisa tidak mesti maklum karena hal itu.)
Lalu membongkar ransel mas Albert. Aduh, jariku langsung nancap di sesuatu yang tajam. Ada potongan lidi berserakan di dasar tas. Jadi aku keluarkan semua bukunya. Ya, ampun anakku. Kenapa banyak nian buku yang kena lepra semacam ini. Darahku naik ke ubun-ubun, tapi gak bisa marah, lha anaknya sudah tidur. Potongan-potongan kertas dengan nama-nama : Ivan, Bambang, Becham, dst. Lalu beberapa kertas yang dikunyel-kunyel jadi bulat-bulat. Pasti itu untuk main bola kertas. Ampun. Aduh. Aku sudah bilang berkali-kali tak terhitung untuk memakai kertas yang tidak dipakai, bukannya pakai kertas dari buku pelajaran. Dan lihat tulisannya, aku tidak bisa baca. Bagaimana gurunya bisa sabar menghadapimu, anakku?
Tapi aku yakin anak-anakku adalah anak-anak terberkati. Mereka dikelilingi para malaikat yang melindunginya senantiasa. Aku tidak bisa melihatnya dengan mata tapi aku merasakannya bahwa mereka hadir untuk membantu anak-anakku itu tumbuh dan melindunginya dari berbagai bahaya yang mengancam. Aku ingat tingkah Albert yang sering berantakan gerudak-geruduk, tapi dia begitu aman. Lalu Bernard, berapa kali jatuh. Bahkan jatuh dengan motor bersamaku, aku luka parah dia tidak lecet sedikitpun. Aku percaya malaikat-malaikat bekerja keras untuk merawat anakku. Terimakasih. Aku selalu butuh bantuanMu untuk pertumbuhan mereka. Lindungi mereka senantiasa.
Wednesday, March 14, 2012
The Blue Sick
Aku mempunyai beberapa rencana yang sangat kuat untuk tahun ini.Pertama untuk mengolah otak, dengan sekolah lagi. Ini rencana dari tahun lalu yang belum ketahuan jalannya.
Kedua untuk mengolah hati, dengan membuat beberapa proyek sepanjang tahun. Nulis puisi, cerpen, nyebarin GATK dan sering jalan-jalan.
Ketiga untuk mengolah tubuh, dengan melibati anak-anak dan bapaknya sepenuh diri. Bergerak dari ujung rumah ke ujung lain, ruang satu ruang satunya lagi. Bersama mereka.
Tapi sekarang ini aku sedang biru. Seluruh tubuh dan jiwaku biru. Mungkin baik juga tidak punya keinginan, tidak punya rencana, tidak punya kepentingan, tidak punya hasrat, ... Diam, sendiri saja. Tanpa suara, tanpa gerak.
Wednesday, March 07, 2012
Regina Anindya Putri
Bayi kecil itu bernama : Regina Anindya Putri. Dari lahirnya aku sudah terpikat padanya. Semalam akulah yang mendapat kesempatan pertama menumpangkan tangan di atas kepalanya karena aku yang memimpin ibadat syukur pemberian nama. Kemudian aku meminta semua orang yang hadir ikut menumpangkan tangan di atasnya, memberkatinya.
Regina,
engkau telah diberi mulut untuk berbicara
mata untuk melihat
telinga untuk mendengar
tangan untuk menolong sesama
dan kaki untuk berjalan pada Pencipta
Para malaikat telah diutus untuk melindungimu
dan kami semua hadir untuk mendukungmu
Regina, berkat Tuhan melimpah bagimu.
Regina,
engkau telah diberi mulut untuk berbicara
mata untuk melihat
telinga untuk mendengar
tangan untuk menolong sesama
dan kaki untuk berjalan pada Pencipta
Para malaikat telah diutus untuk melindungimu
dan kami semua hadir untuk mendukungmu
Regina, berkat Tuhan melimpah bagimu.
Super Woman
Friday, March 02, 2012
Thursday, March 01, 2012
Learning from a Baby
apa kabar?
Dua hari di dunia
apa yang sudah kautemui?
Gerak bibirmu tak bisa kuterjemahkan
aku terlalu tua di dunia
sehingga lupa bahasamu
bahasa asli yang kubawa waktu datang
dulu, puluhan tahun lalu,
sepertimu.
Hai, sayang...
antusiaskah kau
bertemu aku?
Aku tak bisa mengecupmu
sebagai mainan kesayangan
aku sedang kotor setelah bermain debu
Aku tak bisa membawamu
sebagai lembar buku pelajaran
aku sedang mengisi lembar tak juga seru
Hai, sayang...
aku bawa gambarmu
sebagai cermin hidupku
(Si kecil cantik, belum bernama, lahir di Jl. P. Batam tempat Bidan Enni, tanggal 28 Pebruari 2012, pukul 06.10. Tak bisa kubawa pulang. Ihiks...)
Wednesday, February 29, 2012
Choice
Subscribe to:
Posts (Atom)


