Wednesday, December 17, 2008

Menutup Tahun

Hari ini menjadi hari terakhirku pada tahun ini di depan komputer. Besok hingga tahun baru nanti tidak akan ada komputer apapun di depan mataku dan jariku. (Jadi teman, jangan berharap ada tulisan apapun yang baru dalam blogku, hingga tanggal 2 Januari nanti. Tanggal 1 Januari pasti aku tidak akan sempat menulis apa-apa selain meniup terompet). Hari ini jadi kesempatan emas bagiku untuk melihat kembali perjalanan satu tahun sepanjang 2008.

Aku ingat misiku tahun ini adalah menjadi cerpenis. Hah, susah. Aku terjungkal-jungkal dalam misi ini. (Aku ingat tahun 2007 misiku adalah menjadi cantik. Dan pada akhir tahun aku hanya menghasilkan jutaan senyum. Belum juga cantik.) Setahunku terakhir aku merenda jutaan kata. Segala cerpen aku lempar kemana-mana. Tapi hingga kini, di penghujung tahun, aku belum jadi cerpenis. Yang menyenangkan, tahun ini memberiku sangat banyak pengalaman baru. Pertemanan baru. Dan tentu saja kerjaan baru. Tahun yang dinamis, katakanlah begitu. Karena tahun ini aku bisa berjalan cepat, berjalan lambat. Berteriak marah, bicara lantang, menangis keras, diam seribu bahasa, bergerak, terpaku, terbengong, terkejut, ...pokoknya segala ekspresi segala rasa. Yang paling penting adalah aku menemukan kesadaran-kesadaran baru yang mengatasi segala pagar yang selama ini melingkupiku. Semoga inilah caraku menjadi dewasa.

Aku belum menentukan misiku di tahun 2009. Sembari pamit sementara, aku meminta masukan anda sekalian, teman-teman. Apa misi yang cocok bagiku untuk tahun 2009? Ya, jangan kuatir. Seperti setiap tahun, misi yang ditetapkan akan jadi fokus dalam tahun itu tapi perjalanan misi itu akan berjalan sepanjang segala abad. Ini caraku menuju keabadian. Maka menjadi cantik, menjadi cerpenis, tetap dijalankan hingga tercapai suatu ketika nanti. Ah, ya teman, seperti layaknya pada setiap penutupan babak, aku membungkukkan badan pada kalian semua. Terimakasih dan maafkan! Jika sempat, bertepuk tanganlah untukku. Atau lemparkan botol bekas, tomat, telur, batu, apapun, kepadaku. Sehingga babak selanjutnya aku bisa tampil lebih baik. Salam!

Selingkuh

Aku mengabarkan kepada semua orang, dengan keras dan lantang. Ini pengakuanku : "Aku telah selingkuh!"

(Adakah keterangan lain yang memadai untuk menjelaskan pengakuanku ini? Tidak ada. Tidak ada yang ingin aku katakan.)

Tuesday, December 16, 2008

Ramalan

Kekuatan hasrat itu seperti ramalan. Kalau aku bilang 'mungkin akan ada nanti...', lalu aku menghasratinya, wah kejadian sungguh. Aku pernah bilang "Mungkin anak-anak liar sudah bersemayam dalam tubuhku." Kapok deh, benar-benar berendeng-rendeng anak-anak liar meluncur dari ruapan rambutku. Lalu berbaris minta disapa, ditegur. Setelahnya mereka akan beranak pinak dan reproduksi kilat. Dan kini ada jutaan menari-nari di seluruh inderaku.
"Lain kali hati-hati dengan pikiran ya, Yuli. Dan lebih hati-hati lagi dengan lidahmu. Keterlaluan jika menyangka diri sebagai pahlawan seolah dunia tak akan berputar tanpamu. Memang tangan dan kakimu ada berapa?"
Ah ya. Memang parah jadinya. Tak bisa lari juga. Apalagi dengan bekas-bekas pengembaraan yang abadi di seluruh ragaku. Serpihan ludah asing di bibirku, memar di pahaku, romansa di ingatanku, perih tarikan nafas rindu, tertawa di atas bantal empuk, kehangatan ... mana bisa menghilang begitu saja tanpa mengolahnya dulu menjadi indah.

Candu Manusia

Kita bisa kecanduan seseorang. Cara kerjanya ya seperti candu seperti biasa itu. Kalau tidak dapat mencicip maka tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tergantung pol. Bahkan kalau tidak cepat diberikan pula, bisa sakauw, kesakitan menderita. Beberapa bisa mati juga.
Gimana cara melepaskan diri dari kecanduan seseorang seperti ini? Aku kira seperti juga yang dilakukan pada pecandu obat atau narkoba. Melepaskan diri, melakukan rehabilitasi, mencari teman yang bersih dll.
Bagaimana kalau tidak mau menghentikannya? Ya, harus dicari terus. Nah ini mahal, teman. Bahkan orang bisa melakukan tindak kriminal karena kecanduan. Melakukan segala trik dan intrik untuk mendapatkannya. Ya lah, karena sakauw itu tidak enak. Sakit. Menderita.

Gender dalam Media Massa

Siang tadi kurang lebih dua jam aku bersama mahasiswa Fisip Unila semester 3, bicara tentang peran media massa upaya adil gender. (Dikerjain si Indri, untuk menutup kuliahnya pada semester ini.) Aku siapin satu tulisan tidak ilmiah sama sekali. Ya, mohon maklum, memang bukan ilmuwan.
Aku mengawali dengan mengajak mereka membuat 'sinetron'. Dalam kelompok mereka bekerja membuat karakter dua orang suami istri, plus settingnya. Dan terutama adalah satu babak cerita, apa yang dilakukan dua orang itu pada hari Senin pukul 10.00 - 11.00.
Hasil kelompok persis seperti yang aku duga.
- Perempuan dengan karakter yang seperti di sinetron-sinetron itu. Cerewet, nangis, marah, menuntut dll.
- Yang laki-laki digambarkan dalam tokoh yang santai, marah karena dituntut, pengusaha kaya, selingkuh dll.
- Alur ceritanya ya begitulah. Salah satu kelompok mengatakan tokoh suami pada jam 10.00 minum kopi, istrinya menjemur pakaian, lalu anaknya datang minta duit, suami marah, istri jadi cerewet hingga kebentur pintu, lalu suami pergi gak tahan lihat istrinya.
Persis seperti itulah media mempengaruhi otak penikmatnya.
Lalu aku tanya : "Adakah penindasan pada perempuan dalam kisah-kisah itu? Seperti apa?"
Wow, satu bilang tidak ada, satu bilang ada penindasan tidak langsung, satu lagi ada dll.
Lalu aku tanya lagi :"Kalau perempuan maju, apakah laki-laki bisa lebih maju juga? Bagaimana?"
Hehehe...diskusi lagi mereka. Aku tinggal tarik beberapa benang merah. Makalahku tidak aku baca, biar mereka baca sendiri.
Beberapa penekanan aku ungkapkan :
- Perjuangan adil gender bagi perempuan tercapai ketika perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri secara bebas. Tidak hanya ditentukan oleh ortu ketika kanak-kanak, oleh suami ketika sudah menikah, dan oleh anak ketika sudah renta.
- Jadi ibu rumah tangga sangat mulia, tapi jika ini bukan paksaan maka akan membentuk ibu rumah tangga yang profesional. (Ceilaaa...) Begitu juga ketika pilihannya menjadi pekerja atau yang lainnya.
- Semua akan harmonis kalau pria dan perempuan saling melengkapi, dengan peran gender yang adil. Memasak tidak memakai alat kelamin, jadi bisa dilakukan oleh laki atau perempuan. Menyusui memang harus dilakukan oleh perempuan karena perempuan yang punya susu. (Mata mereka terlolong tak tertolong karena aku vulgar berat. Hehehehe...biarin.)
- Jadi, mari menuju keadilan gender. Anti diskriminasi. Media massa bisa menjadi salah satu alat penyebarannya.
Begitulah.

(Usai itu aku ditraktir mi sosis di kantin Unila. Hujan deras, jadi ngobrol ngalor ngidul sama Indri. Masih harus ke kantor lagi, karena kerjaan belum kelar. Kini ada di kantor malah ngeblog, sudah hampir jam 19.00. Aku akan kerja lembur nanti di rumah. Jadi aku akan siapin bahan-bahan di flashdisk untuk dibawa pulang.
Ah ya ada beberapa hal dari obrolan dengan Indri yang nyangkut di otak dan hatiku, bahwa setan bekerja dengan cara memanipulasi otak manusia. Seolah sesuatu bisa benar dan baik, lalu manusia pelan-pelan digiring ke neraka. Nah lo memang kami ngobrol tentang apa sampai nggosip tentang setan? Hehehe...ada deh. Ini aku tulis supaya aku tidak lupa pernah ngobrol begitu dengannya. Nanti kapan-kapan aku buat laporan lengkapnya.)

Monday, December 15, 2008

Mimpi Atau Nyata, Berbeda?

Pernahkah engkau mimpi sesuatu yang rupanya nyata? Aku pernah, teman. Mimpi yang menyambar tidak sampai dua jam. Cukup lama untuk meyakininya ada, tapi terlalu cepat untuk memastikannya. Benar terjadi. Wong kaki-kakiku sungguh mengambang, dan tangan-tanganku terentang. Seluruh poriku menghisap kehangatan, seluruh pori dalam tubuh. Hingga mekar, berdenyut.

Jangan tanya bagaimana rasanya. Kau pernah sangat lapar, lalu menemukan sepotong singkong di atas bara yang menyala, dan saat kau memakannya turun gerimis, teman? Itulah rasanya. Tentu saja sangat dingin seluruh badan karena percikan jarum-jarum hujan temaram. Tapi juga ada hangat di rongga mulutmu karena mengunyah singkong bakar. Dan kemudian perutmu pelan-pelan mencerna dan menyerap saripatinya. Itulah rasanya. Mungkin setelahnya perut jadi kembung, tapi kenyang. Ingin nambah, nambah dan nambah.

Mau yang lebih konkret? Begini. Seseorang dalam sebuah kamar, tiba-tiba menarikmu dalam pelukan kencang, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi tepat di bibirmu. Dan kau tidak bisa mengatakan apa-apa karena kau juga menikmati itu bahkan kemudian juga membalasnya. Setelah itu menginginkannya lagi, lagi dan lagi. Itu konkretnya.

(Yach, kalau belum jelas juga, apa boleh buat teman. Dari sana aku cuma mau beri kesimpulan ngawurologi : kadang mimpi dan nyata sulit dibedakan, karena kadang keduanya tidak berbeda. Tinggal bagaimana kita mau melihatnya. Dengan mata atau dengan bukan mata. Mau bangun atau tidak bangun. Terserah pilih yang mana.)

Memungut Pertanda

Hari ini ada beberapa orang yang datang ke kantor. Dengan berbagai urusan. Sore kantor sangat penuh, 9 orang. Iya, soalnya aku mengundang mereka untuk rapat Nuntius. Ada beberapa hal yang terlontar dalam rapat ini. Cukup lumayan setelah beberapa lama nyaris tidak ada percakapan tentang majalah ini seolah-olah akulah yang 'mbaurekso' tunggal, terserah mau njungkir atau mau mbalik, tidak ada urusan.
Aku duduk di salah satu sudut meja (Sebenarnya mejanya bundar tidak bersudut, tapi rasanya aku ada di sudut. Terserah aku dong.)
Sebelah kiriku adalah para penatua Nuntius, tiga orang bapak dan seorang romo. Orang-orang yang dari awal aku harapkan menyokong semangat penerbitan, menelurkan dan menjaga visi dan misi serta menjadi teman dalam pengerjaan operasional majalah ini.
Sebelah kananku adalah para muda Nuntius, satu orang bujang, dua orang gadis, dan satu orang istri (belum ibu). Mereka orang-orang yang bekerja konkret secara teknis membantu urusan redaksi hingga distribusi.
Pembahasan berakhir dengan beberapa rekomendasi, yang cukup membesarkan hati. Intinya : Maju terus pantang mundur!

(Ya bagaimana lagi, aku toh tetep saja akan menjadi nenek-nenek bongkok yang mondar mandir di tepi pantai, bekerja giat sambil melihat ombak dan pasir, namun toh sampah selalu ada di sana ditinggalkan orang. Pokoke bekerja dan ada keindahan di sana-sini untuk dinikmati. Inilah rahmat bagiku.)

Melihat mulut?

"Kok ibu bisa melihat mulut?"
Aku terkaget, melempar Alkemis dari tanganku, dan menatap wajah polos Bernard di depanku. Wajah segar, usai sikat gigi, siap berdoa dan mendengarkan dongeng dariku, sembari digarukin punggungnya sebelum tidur. Tanpa peduli dia mengatur diri di bantal dan memeluk guling.
"Apa Nard? Melihat mulut?"
"Iya, ibu bisa melihat mulut semua orang."
Aku terbengong-bengong menafsirkan kata-kata Bernard. Anak keduaku ini luar biasa kreatif dan sensitif. Apa yang sudah dilihat atau dipikirnya sehingga muncul kata-kata seperti itu? Aku mulai berdebar-debar.
"Apa sih Nard? Ibu gak ngerti."
"Ibu bisa gitu melihat mulut semua orang, mana yang sudah sikat gigi atau belum."
Oo, aku tahu konteksnya apa. (Beberapa menit yang lalu Albert dan Bernard menyikat gigi, dan kebiasaan keduanya meringis penuh busa odol untuk menunjukkan giginya sudah bersih atau belum. Heheheh...kirain apaan) Aku mengikik sendiri geli. Mencium pipinya dan mulai membaca Mitiriwu, dongeng dari Papua untuknya, dengan tangan di punggungnya.
"Ibu ini bisa membuat orang tidur."
Bernard membalik tubuhnya. Saat aku selesai membaca, aku lihat dia sudah pulas meringkuk, menghadap dinding. Penuh gembung kepalanya dengan mimpi.

Petualangan Dalam Situs Dunia

Baru saja aku mengunjungi situs dunia. Luar biasa. Seharian penuh pada akhir pekan kemarin, dari pagi hingga malam. Nah ini hasil browsingku dalam petualangan itu.

Pertama, adalah menu tentang Krishna.
Sesekali bisa dipahami Krishna adalah Batara Guru Sang Manikmaya
di depan Umayi ya Durga Umayi, di atas kasur-kasur lembut hamparan awan.
Menderu-deru Sang Manikmaya menghisap ragawi, merentang, mengerinyut, mengejang.
Menarikan hasrat dalam seluruh tubuhnya hingga jatuh terguling-guling.
(Umayi yang satu ini cukup pencemburu, menyimpan sekantong penuh tanda tanya. Ada 'tidak' digenggam kirinya, selagi belum menemukan jawaban atas segala tanya. Tapi juga punya 'ya' atas segala rupa, yang dihidupinya alami.)

Kedua, adalah menu tentang wajah rasa.
Sarapan pagi yang super cepat kilat.
Aku menjilat bara dari bibirnya.
Membakar aku dalam percakapan renjana.
Nyaris tanpa tanpa suara.
Pun ketika aku menegang dibelit logika.
Parahnya, tubuhku merindu pemenuhan.
(Harusnya aku tampar diriku sendiri, yang berharap mimpi jadi abadi. Untung aku sempat mematri seluruh paras inspirasi lewat ujung jariku. Juga mencium seluruh aroma lekuk dan kuduknya. Sungguh!)

Ketiga, adalah menu tentang personalita
Ada sunyi antara aku dan secangkir kopi
Ada gelisah antara aku dan sepotong donat.
Ada yang melayang antara aku dan rel kereta Gambir.

Keempat, adalah menu tentang ...
Entah bagaimana menyebutnya ya, tapi ada gairah yang pelan-pelan muncul. Memenuhi lingkar baru keselarasan yang kini terbentuk di sekitarku. Keselarasan lain yang agak aneh. Mestinya harus diadaptasi dulu, hati-hati, karena keselarasan yang satu ini bisa membungkus tebal suara hati.

Kelima, adalah menu tentang dunia ini sendiri.
Ini porsi terbesar dalam petualangan seharian. Ada banyak point. Aku akan menulisnya menyusul nanti. Sungguh rahmat yang hebat. Menyegarkan kembali baling-baling bambuku yang mulai reyot sana-sini. Terimakasih untuk semua.

Friday, December 05, 2008

Melankolis

Tak tahu nih, bawaanku kelabu saja akhir-akhir menjelang pergantian tahun ini. Mati-matian aku mengkianati Logika, tapi bahkan Kesempatan juga tak mau datang mengunjungiku. Yang menemaniku sih banyak, ada Penantian dan Kerinduan. Dan tentu saja ini yang tak mau melepaskan rangkulannya pada tubuhku, Hasrat.

Wednesday, December 03, 2008

Demam

Aku demam parah. Sungguh, secara fisik suhu badanku naik turun. Kadang hangat, panas. Hingga leherku terasa terbakar. Namun kadang dingin, beku. Sampai seluruh lendir tubuhku memadat. Secara psikis, demamku lebih berat. Perputaran keras antara hati, rahim dan otak. Berputar ke segala ruas.
Aku tanya apa yang bisa menyembuhkanku?
"Ada satu resep. Sublimasi."
Tapi itu masih sangat teori bagiku. Bagaimana mendalaminya?
"Tidak ada yang tahu dan memberitahumu. Carilah."
Aku tidak bisa berpikir untuk melangkah kemanapun.
"Menulislah terus. Jangan berhenti."
Aku kira aku masih akan demam jika itu yang harus aku lakukan. Jari-jariku beku dan terbakar dalam waktu yang sama. Begitu juga seluruh inspirasi yang mungkin bisa aku gali. Beku dan terbakar.

(Mungkin aku perlu tidur sementara waktu.)

Saturday, November 22, 2008

Ingin Berhenti

Aku ingin berhenti. Menggiring bola kesana-kemari tanpa pernah masuk ke gawang satu kalipun untuk mendengarkan sorakan gembira karena satu gol yang tercipta, adalah kekecewaan. Bukan kakiku yang tidak bisa menyepak, tapi gawangnya selalu dipindahkan. Ooh...

Wednesday, November 19, 2008

Hiburan

Tanpa ditanya, tragedi tengkorak adalah jawabannya.
Sekalipun bintang membisu di gelap, keheningan merangkai nirwana.
Pun saat mawar meluka, tetaplah menggores surga.

Hiburan ini diulurkan Leo, SCJ. lewat pesan singkatnya dalam HPku. Saat ini gigiku tengah mengunyahnya. Serpih-serpih pahit itu harus kutelan kan, romo? Bagaimana kalau perutku menolaknya? Aku menangis membayangkan harus mencicip Kalvari, dengan mata terbuka dan hasrat yang sadar.

Tuesday, November 18, 2008

Lelah

Aku berjalan ke arah rumahmu. Bergegas, terjatuh-jatuh, berlari... Terus... Aku tahu persis, aku tidak pernah sampai di rumahmu, atau sekedar berteduh di terasmu.

Tuesday, November 11, 2008

Labrakan Pagi

Pagi ini aku bangun sangat subuh, langsung mengkerut terpojok di sudut dapur. Logika datang dengan golok terhunus, mengkilap tajam dengan mata yang berkilat-kilat marah. Dia langsung menekan leherku dengan tangan kiri, sedang dua matanya tak lepas dari mataku yang masih belum tersentuh air.
"Jangan lagi pernah kau tinggalkan aku!!" Suaranya tak terlawan.
Aku mengaduh dalam cekikannya. Goloknya terayun hanya beberapa centi dari jantungku sehingga nyaris aku terlonjak ke alam kematian, terkena serangan jantung.
"Jangan berdalih apapun. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan kepadaku. Lalu kau siarkan soal keringkihanmu yang pura-pura itu. Bukan keranjang bambu yang kau punya tapi lihat itu!!"
Aku terpaksa menoleh pada telunjuknya. Aku melihat guci tembaga yang kemarin aku gelindingkan sembunyi-sembunyi di balik sumur. Aku tidak bisa mengelak, memang.
Melihatku tanpa suara, Logika mengendurkan tangannya.
"Aku juga tidak harus selalu sekencang ini padamu setiap waktu. Tapi kamu sudah keterlaluan." Suaranya melemah, menyalurkan rasa pemakluman pada tiap nada suaranya.
"Tapi kamu harus janji untuk tidak lagi membiarkan aku tercecer tanpa harga. Jangan lagi sembunyikan kekuatanmu dalam rasa semu yang kau idolakan itu. Aku akan tetap mengawalmu, jangan protes."
Aku tak mengangguk juga tak menggeleng. Logika tetap di samping kiriku, tapi golok sudah disarungkannya kembali. Sedang hati dan rahim mulai mendekat pelan-pelan, takut-takut, mencoba meraih tangan kananku. Tidak aku kibaskan.

Monday, November 10, 2008

Malam Berdebu

Ada satu ruang di belakang rumahku. Gelap karena selalu tertutup rapat, dikunci pintunya dan ditutup rapat-rapat jendelanya. Semalam aku berada di dalamnya sekitar dua jam. Dua jam yang mendebarkan karena ada seseorang di dalamnya, duduk dengan telepon di telinganya, dan tangan mencoba meraih tubuhku. Tidak kelihatan persis wajahnya, karena aku hanya bisa membayangkannya lewat suhu, suara dan debu. Suhu yang menghangat di seputar tubuhku dan tubuhnya. Suara yang mengalun dalam melodi karonsih lewat bibirku dan bibirnya. Dan debu yang bergerak seturut gerak dan nafas kami berdua. Benar-benar jadi malam yang penuh berdebu, dalam kegelapan. Hingga aku sesak nafas, dan terpincang-pincang menjaga keseimbangan diri.
Untung, benar-benar beruntung setelah detik-detik itu, ada satu celah kecil yang menembuskan berkas cahaya. Sangat kecil. Namun lihatlah. Debu-debu cemerlang dalam berkas itu, berkilauan, bergerak, seperti jutaan bintang kecil yang hidup. Hingga kantuk mengeluarkan kami berdua dari ruang itu, kami hanya bisa duduk terpaku. Takjub pada keindahan debu yang terkena berkas sinar.
(Aku kira, kalau pagi telah datang nanti kami akan saling memandang dan menyapa,"Sayang...")

Friday, November 07, 2008

Lidah

Aku mengaduh dalam gelap. Sakit seluruh pancaindera.

"Aku tidak menggigitmu, sungguh. Tapi sedang mencari lidahmu." Sanggahnya dalam suara berat.

Mana mungkin lidah yang aku titipkan padanya bisa hilang begitu saja?
Bukankah waktu itu dia berjanji akan menjaga lidah itu tetap aman?
Aku tidak mungkin bertahan jika lidahku hilang.

"Waktu itu aku tidak memaksamu. Kamu sendiri yang memberikan lidahmu padaku." Masih menyanggah dia dengan suara parau bertembakau.

Bagaimana mungkin bibirnya melepaskan kunci pada lidahku?
Sehingga berkeliaran entah kemana tanpa tulang dan kehendak?
Aku harus mendapatkan lidahku kembali.

"Sungguh, tidak ada lagi di dalam mulutku. Lihatlah bibirku!" Semakin dia tidak masuk akal memberikan sanggahan. Aku tidak bisa menuduh selain dia.

Aku meletakkan bibirku di atas bibirnya. Mencoba mencari-cari dalam rongga mulutnya, barangkali dia menyembunyikan lidahku di sana.
Selama lidah itu belum kembali,
tak kan mungkin aku bersuara.
Tak kan mungkin aku menaruh percaya
kepadanya.

Thursday, November 06, 2008

Dalam Senyuman

melihat tangan melenggang aku ingat sebuah senyuman
yang meruapkan dupa dalam jiwa penuh birahi
serupa bunga-bunga semerbak di altar pemujaan
memberikan kesempatan masa depan hadir berjanji
'tak pernah kupikir menamparmu
hanya menyayangimu'
seperti bisikan persis di rongga telinga
aku tidak bisa menyetujui nada-nada fatamorgana

'tak penting kau menamparku
atau kau menciumku
lakukan saja!
karena saat kau lakukan berarti engkau ada di dekatku!
engkau mengkerut di ujung hatiku
menelan pahit marcapada
tak berani menampar atau menciumku
karena jauh kau tak terhingga


The flower grew in an altar of soul full of echantment.
The fragrance of love has washed some hurts on hurts.
The parfume has relieved a darkness of soul.
For a while, I may tell a story of heaven, it will wither together the time.
(Terakhir ini upaya Leo, SCJ. entah dari mana idenya. Bagiku menjadi ide yang baru lagi. Thanks, Mo.)

Suamiku


Saat rapat tim untuk membuat jaring politik beberapa hari yang lalu, 12 orang yang datang memulai pertemuan dengan menceritakan detil identitas dan aktifitas masing-masing. Supaya bisa saling percaya dan jalan bareng di masa mendatang. Aku bercerita tentang diriku sendiri. Seorang istri, ibu dari dua anak. Dengan aktifitas di majalah, orang muda, perburuhan,...bla, bla, bla,...punya minat kuat pada bla, bla, bla...
Seorang bapak mengatakan,"Aku tidak bisa membayangkan mengerjakan semua itu. Terlebih kalau aku seorang perempuan."
Aku langsung mengangguk. Iya, betul, pak. Ini karena ada lelaki hebat yang ada di sebelahku. Bukan seperti suami-suami kebanyakan.
Kalau suamiku bukan Den Hendro, aku juga tidak bisa membayangkan melakukan ini itu dengan status istri dan ibu dua anak, yang melekat tak mungkin lepas seumur hidup. Dengannya, aku mendapatkan kesempatan bukan sekedar menjadi Nyonya Hendro dan Ibu Albert - Bernard. Dengannya, aku tetap bisa menjadi seorang Yuli, yang merdeka sebagai seorang ciptaan dengan banyak karunia yang sudah diberikan oleh Penciptanya, untuk dikembangkan berkali lipat. Dengannya, aku tetap bisa bermimpi, berkeliaran, ... Tidak ada yang hebat dariku karena aku menjalankan apa yang mestinya memang aku jalankan.
Dialah lelaki hebat itu, yang sudah memberikan kasih dan ruang percaya sebesar itu.

Wednesday, November 05, 2008

George

Ini foto mereka saat anteng, diem, asyik bermain dengan pasir dan ombak pantai Kalianda Resort.

Aku sudah terbiasa mendengar Albert dan Bernard berisik luar biasa hingga seperti kapal pecah seluruh rumah. Dari ruang tamu, kamar, dapur, kamar mandi, halaman, semua jadi ajang permainan mereka yang kadang-kadang keterlaluan tidak aku mengerti sebagai ibunya. Bagaimana mungkin bisa bertengkar seolah akan bermusuhan seumur hidup hingga lebam kaki tangan mereka, sama-sama menangis atau tidak mau bertegur sapa. Tapi sedetik kemudian mereka sudah saling berpelukan asyik berkasak-kusuk membuat rencana bersama. Lalu muncul permainan aneh-aneh. Astaga. Dan tidak ada satu barang pun yang bisa lepas dari perebutan. Apapun menjadi asyik kalau rebutan lebih dahulu. Bantal, guling, piring, kursi, bahkan pipiku, duduk di kanan atau kiriku, ... apapun!
Tapi aku paling tidak tahan jika mereka berisik di atas motor. Seperti beberapa hari yang lalu, dari rumah mereka sudah ribut antara siapa yang harus mematikan televisi. Lalu ribut dengan sabuk. Yang mana yang harus dipakai oleh siapa. Setelah itu akur di atas sadel Mio dengan rapi manis berseragam sekolah. Dengan tanda salib yang khusyuk di depan rumah. Tak bertahan lama. Usai bunderan Raden Intan mereka melihat monyet nyengir asimetris (hehehe...kok inget diri sendiri ya. Dulu Ines, Gatot dkk sering ngolok aku si bibir asimetris. Tapi tentu lebih seksi dibanding si monyet iklan).
"Jos...!!!" Mereka berdua teriak bersamaan.
Aduh apaan sih? Aku rem motor mendadak, melotot pada mereka.
"Ada apa?"
"Itu si Jos, bu."
"Jos siapa?"
"Jos, monyet yang pintar itu." Si kecil menjelaskan sambil menunjuk papan iklan monyet. Oh, film Curious George! Tanpa kata aku gas motor. Dongkol berat.
"Jos, satu!!!"
"Dua!!"
"Sepuluh!!!"
Mereka berdua ribut menghitung si George yang dipasang di papan-papan selanjutnya yang rupanya baru dipasang hari itu berderet hingga Tanjungkarang. Tangan-tangan ruwet ke kanan kiri. Kepala menoleh sana sini. Kaki saling sepak mengaku yang paling benar menghitung. Saling bantah, saling hitung.
"Kenapa berhenti, bu?" Aduh pengin njitak kepala mereka berdua.
"Kalau kalian tidak bisa diam, ibu sulit nyetir. Bisa kecelakaan. Kita sudah terlambat."
"Nah, diem, dik."
"Mas Abot yang mulai duluan."
"Kamu!"
"Kamu!"
Ah, aku tinggal tidur saja wis. Capek deh...