Wednesday, June 25, 2008
Menjilat Awan
Kemarin aku menjilat awan yang kebetulan lewat persis di depan hidungku. Kaki-kakinya pongah melayang tanpa sayap. Sengaja dia berjalan pelan-pelan supaya aku menggodanya. Kerlingannya tetap di sudut mata, bahkan ketika tubuhnya berputar. Tentu saja aku tergoda! Bagaimana tidak? Seluruh tubuhnya adalah tranparan selendang uap air yang gembung bergairah. Dia meliuk-liuk dengan tarian eksotis ke seluruh penjuru raga. Menciptakan bentuk-bentuk cantik dengan tarikan-tarikan gerak tanpa sudut. Sekali waktu dia akan lari menjauh, mengikut angin yang sudah menjadi kekasihnya dari awal mula. Sekali waktu dia mendekat dengan langkah-langkah centil. Kadang dia akan terbang sangat tinggi tidak terlihat ujung mata, tapi kemudian dia akan menghujam ke arahku. Tepat di ubun-ubun, sehingga pecah berantakan bentuknya. Lalu tawa terkekeh-kekeh renyah dari segala penjuru hingga kemudian dia mengumpul kembali dalam bentuk yang paling anggun. Dekat di depan dadaku, siap untuk dipeluk. Seribu tangannya akan menggelitik seluruh inderaku, dengan nafsu. Hingga mau tidak mau, lidahku terjulur. Menjilatnya...
Tuesday, June 17, 2008
Penting 1
Rupanya tidak cukup juga pinjaman seluruh indera dan organ-organ yang ada dalam raga ini. Bahkan pengolahan otak juga tidak cukup. Perlu lingkaran kesadaran antara awal dan akhir, antara alpha dan omega, antara asal dan tujuan. Demikian, supaya benar-benar menjadi 'manusia' yang hidup, manusia yang tidak 'sekedar'.
Monday, June 16, 2008
Penting
Apa sih yang penting sekarang ini? Coba lihat. Aku punya sepasang tangan dan kaki, kepala, tubuh. Lengkap dengan organ-organ di dalamnya yang membuatku bisa ke sana-kemari, bernafas, melihat, mendengar, mencium, merasa. Juga ada otak yang membantuku mengolah semuanya. Apa lagi yang penting?
Friday, May 30, 2008
Penjara
Sejak akhir tahun 2000 hingga tahun 2006, aku punya jadwal tetap tiap hari Rabu. Yaitu bertandang ke LP Rajabasa. Setelah itu hingga kini aku datang kalau ada sesuatu yang khusus atau sedang 'nganggur'. Di antara kedatanganku kesana yang sangat jarang, aku masih terhubung senantiasa ke dalam penjara karena beberapa napi di sana selalu menghubungi aku lewat SMS atau telepon (mereka bisa lo pake HP dengan 'persahabatan' dengan pegawai LP).
Isi SMS atau obrolan telpon mulai dari tanya kabar, cerita siapa yang baru masuk atau baru keluar, kejadian-kejadian di LP, minta dikunjungi, minta dikirimi pulsa, sabun habis, hingga mendoakan supaya aku dapat berkah senantiasa. Sebagian dari napi itu sudah keluar dan salah satu yang baru saja keluar adalah Rikardus. 7 tahun 6 bulan lewat beberapa hari. Selama itu dia ada di penjara dan keluar kemarin Selasa, 27 Mei 2008. Menjelang kepulangannya dia telpon berkali-kali untuk mengucapkan terimakasih, mengabarkan sukacitanya dan rencana-rencananya. Kemarin aku bertemu dengannya. Wajahnya ceria, sehat dan penuh harapan. Dia nagih ditraktir seperti yang sudah aku janjikan waktu dia masih dalam penjara (aku sudah lupa kapan aku berjanji mentraktir dia).
Aku ingat Pius yang sudah keluar tahun 2005-an. Dia keluar dari LP dan datang ke tempatku dengan wajah penuh harapan dan rencana untuk kuliah lagi. Dia membantu beberapa kali sebagai notulis dalam acara pelatihan bagi buruh.
Setiyanto yang keluar tahun 2003 atau 2004 sekarang ini sudah di Malaysia bekerja di sana dan berkeluarga.
Juanto yang keluar masuk penjara beberapa kali karena nyopet di angkot, sekarang ini sudah damai di sisi Tuhan. Ia meninggal dalam perjalanan sebagai sales, bukan digebuki oleh massa seperti yang beberapa kali dia alami.
Beberapa nama lain tidak tahu lagi kabarnya begitu mereka keluar. Sebagian lain yang aku kenal masih ada dalam penjara. Sebagian besar tidak lagi aku kenal karena aku jarang mengunjungi tempat itu lagi.
Merekalah 'nabi-nabi' yang dengan cara unik mengajariku banyak hal.
Aku atau siapapun bahkan pastur, pendeta, ustad, tidak bisa mengendalikan hidup mereka. Mungkin saja mereka akan kembali ke dalam penjara lagi seperti yang dialami oleh beberapa orang. Jatuh pada kubangan yang sama. Tapi aku berharap mereka belajar banyak dari pengalaman mereka itu seperti aku yang banyak belajar dari pengalaman perjumpaan dengan mereka. Aku tidak bisa mengatakan mereka penjahat karena mereka ternyata sangat baik bagiku. Dan walaupun mereka tidak baik padaku atau orang lain aku pun tidak bisa bilang mereka penjahat. Apalagi ketika aku tahu latar belakang mereka, alasan mereka, kehidupan mereka, situasi mereka, ...mereka.
Isi SMS atau obrolan telpon mulai dari tanya kabar, cerita siapa yang baru masuk atau baru keluar, kejadian-kejadian di LP, minta dikunjungi, minta dikirimi pulsa, sabun habis, hingga mendoakan supaya aku dapat berkah senantiasa. Sebagian dari napi itu sudah keluar dan salah satu yang baru saja keluar adalah Rikardus. 7 tahun 6 bulan lewat beberapa hari. Selama itu dia ada di penjara dan keluar kemarin Selasa, 27 Mei 2008. Menjelang kepulangannya dia telpon berkali-kali untuk mengucapkan terimakasih, mengabarkan sukacitanya dan rencana-rencananya. Kemarin aku bertemu dengannya. Wajahnya ceria, sehat dan penuh harapan. Dia nagih ditraktir seperti yang sudah aku janjikan waktu dia masih dalam penjara (aku sudah lupa kapan aku berjanji mentraktir dia).
Aku ingat Pius yang sudah keluar tahun 2005-an. Dia keluar dari LP dan datang ke tempatku dengan wajah penuh harapan dan rencana untuk kuliah lagi. Dia membantu beberapa kali sebagai notulis dalam acara pelatihan bagi buruh.
Setiyanto yang keluar tahun 2003 atau 2004 sekarang ini sudah di Malaysia bekerja di sana dan berkeluarga.
Juanto yang keluar masuk penjara beberapa kali karena nyopet di angkot, sekarang ini sudah damai di sisi Tuhan. Ia meninggal dalam perjalanan sebagai sales, bukan digebuki oleh massa seperti yang beberapa kali dia alami.
Beberapa nama lain tidak tahu lagi kabarnya begitu mereka keluar. Sebagian lain yang aku kenal masih ada dalam penjara. Sebagian besar tidak lagi aku kenal karena aku jarang mengunjungi tempat itu lagi.
Merekalah 'nabi-nabi' yang dengan cara unik mengajariku banyak hal.
Aku atau siapapun bahkan pastur, pendeta, ustad, tidak bisa mengendalikan hidup mereka. Mungkin saja mereka akan kembali ke dalam penjara lagi seperti yang dialami oleh beberapa orang. Jatuh pada kubangan yang sama. Tapi aku berharap mereka belajar banyak dari pengalaman mereka itu seperti aku yang banyak belajar dari pengalaman perjumpaan dengan mereka. Aku tidak bisa mengatakan mereka penjahat karena mereka ternyata sangat baik bagiku. Dan walaupun mereka tidak baik padaku atau orang lain aku pun tidak bisa bilang mereka penjahat. Apalagi ketika aku tahu latar belakang mereka, alasan mereka, kehidupan mereka, situasi mereka, ...mereka.
Monday, May 26, 2008
Kena!!!
hanya duduk di sini pun aku kena cahayaMu
membersit kuat lewat celah daun yang saling bertaut
aku tidak bisa sembunyi dari biasMu
mau apa kini selain menatap tiang pancang
yang sudah terpasang untukku
jika memang ini jalan menuju Kalvari
sungguh terasa berat dan perih
sedang semuanya belum pasti
kecuali keraguan bimbang tanpa topangan
aku tempeleng pipi kiriku beberapa kali
ingat pada tempeleng yang sama dari tertahbis
tapi tidak ada Roh yang sama
aku mesti tetap berjalan
berharap ini peta yang benar
aku tetap berjalan
membersit kuat lewat celah daun yang saling bertaut
aku tidak bisa sembunyi dari biasMu
mau apa kini selain menatap tiang pancang
yang sudah terpasang untukku
jika memang ini jalan menuju Kalvari
sungguh terasa berat dan perih
sedang semuanya belum pasti
kecuali keraguan bimbang tanpa topangan
aku tempeleng pipi kiriku beberapa kali
ingat pada tempeleng yang sama dari tertahbis
tapi tidak ada Roh yang sama
aku mesti tetap berjalan
berharap ini peta yang benar
aku tetap berjalan
Cerpen
Satu cerpenku dimuat femina edisi minggu ini. Aku hanya ingin mengabarkan pada semua orang tapi aku juga tidak tahu harus mengatakan apa. Satu sisi ini menyenangkan, sisi lain tidak puas. Entahlah.
Monday, May 05, 2008
Harimau Jadi-jadian
ada harimau jadi-jadian di sekitarku beberapa hari terakhir ini
meloncat-loncat di antara semak, mengawasiku
tercium dengusnya yang ditahan ingin sembunyi
sekali lengah dia sudah di sampingku
sigap aku hardik dengan siraman air di mukanya
dia melolong lari ke balik pepohonan
namun harimau jadi-jadian masih berkeliaran dekat
tidur di samping rumahku yang tak berpagar
bahkan pintu menganga tak lagi berdaun
aku tahan kelopak mataku
jangan tidur di malam purnama ini
aku tidak mau jadi santapan harimau jadi-jadian
yang sedang menunggu saat
untuk menerkamku
meloncat-loncat di antara semak, mengawasiku
tercium dengusnya yang ditahan ingin sembunyi
sekali lengah dia sudah di sampingku
sigap aku hardik dengan siraman air di mukanya
dia melolong lari ke balik pepohonan
namun harimau jadi-jadian masih berkeliaran dekat
tidur di samping rumahku yang tak berpagar
bahkan pintu menganga tak lagi berdaun
aku tahan kelopak mataku
jangan tidur di malam purnama ini
aku tidak mau jadi santapan harimau jadi-jadian
yang sedang menunggu saat
untuk menerkamku
Beoli FM
Talkshow tentang FAIR diadakan di Beoli FM, 3 Mei lalu. Ini merupakan talkshow ketiga yang diadakan oleh FKSPL dalam rangkaian hari buruh internasional. Pertama diadakan di TVRI Lampung pada 28 April diisi oleh Tisnanta dari Unila dan Widodo dari FKSPL. Kedua pada Radio Suara Wajar (RSW) tanggal 2 Mei diisi oleh Tisnanta dari Unila, Madsari dari FKSPL, Silvi dari DPRD Kota Bandarlampung, Rm. Fritz dari Kalirejo. Nah ketiga di Radio Beoli bersama Widodo dan aku dari FKSPL, Ida dari Unila.
Talkshow di Beoli ini perlu dicatat khusus. Pertama karena aku ikut di dalamnya. Hehehe... Tapi jika hanya karena ini ya tidak begitu menarik, karena aku juga sudah pernah ikut talkshow beberapa kali di Suara Wajar biasa saja. Kedua, segment penikmat Beoli ini rupanya berbeda jauh dibanding Suara Wajar dan TVRI. Beoli didengarkan oleh para remaja dan muda belia. Format penyiarannya juga sangat gaul, santai khas remaja banget. Yang paling menarik, justru (untunglah) Beoli mempunyai pendengar-pendengar setia yang kemudian aktif dalam perbincangan yang disampaikan. Alhasil ada juga anak SMP yang memberikan tanggapan dan pertanyaan tentang buruh kontrak. Mempertanyakan serikat buruh dan sebagainya.
Menurut si Abe Marcel yang menjadi moderator dalam talkshow ini, ada lebih dari 10 sms dan 1 penelepon yang masuk saat acara yang berlangsung selama 1,5 jam. (di TVRI (0,5 jam ada 4 penelepon, di RSW 1 jam ada 2 sms)
FAIR, yang diangkat sebagai tema dalam talkshow adalah Fair Agreement on Industrial Relation. Hubungan industrial yang adil. Tema yang bersama-sama digarap oleh FKSPL dalam jaringan aliansi-aliansi yang didampingi FPBN wilayah Barat. Diawali dengan riset mulai awal tahun dan sekarang ini mulai digarap sebagai gerakan terorganisir alias kampanye untuk menyebarkan pemahaman Fair.
Talkshow di Beoli ini perlu dicatat khusus. Pertama karena aku ikut di dalamnya. Hehehe... Tapi jika hanya karena ini ya tidak begitu menarik, karena aku juga sudah pernah ikut talkshow beberapa kali di Suara Wajar biasa saja. Kedua, segment penikmat Beoli ini rupanya berbeda jauh dibanding Suara Wajar dan TVRI. Beoli didengarkan oleh para remaja dan muda belia. Format penyiarannya juga sangat gaul, santai khas remaja banget. Yang paling menarik, justru (untunglah) Beoli mempunyai pendengar-pendengar setia yang kemudian aktif dalam perbincangan yang disampaikan. Alhasil ada juga anak SMP yang memberikan tanggapan dan pertanyaan tentang buruh kontrak. Mempertanyakan serikat buruh dan sebagainya.
Menurut si Abe Marcel yang menjadi moderator dalam talkshow ini, ada lebih dari 10 sms dan 1 penelepon yang masuk saat acara yang berlangsung selama 1,5 jam. (di TVRI (0,5 jam ada 4 penelepon, di RSW 1 jam ada 2 sms)
FAIR, yang diangkat sebagai tema dalam talkshow adalah Fair Agreement on Industrial Relation. Hubungan industrial yang adil. Tema yang bersama-sama digarap oleh FKSPL dalam jaringan aliansi-aliansi yang didampingi FPBN wilayah Barat. Diawali dengan riset mulai awal tahun dan sekarang ini mulai digarap sebagai gerakan terorganisir alias kampanye untuk menyebarkan pemahaman Fair.
Wednesday, April 30, 2008
May Day
Menjelang 1 Mei tahun ini aku begitu gusar.
Ada perpecahan (atau keanekaragaman?) yang terlihat dalam gerakan buruh di Lampung.
Beberapa organ mahasiswa pasti mengusung isu buruh menjelang may day (di luar hari itu entahlah, karena memang jarang ormas mahasiswa mendampingi buruh secara konsisten, apalagi di Lampung). Mohon maklum begitu idealis tapi kadang tidak rasional. Bisa-bisanya teriak-teriak perubahan. Tunggu sebentar lalu mereka akan ada di dalam sekat-sekat tipis pelaku 'kelanggengan'. (ya aku tahu bagaimana mereka hidup sehari-hari. bisa kontras dengan teriakannya lho. ayo siapa yang mau menyangkal, silahkan. biar aku juga belajar lebih banyak.)Sebatas retorika pembelajaran, aku salut. Semoga ada manfaatnya di masa depan bagi pribadi-pribadi maupun organisasi.
Lalu gerak ABM yang agak tidak masuk akal, dengan memasukkan isu nasional begitu saja pada gerakan-gerakan lokal. (andai mengolahnya sedikit cerdas sebenarnya bisa menjadi isu yang cukup menarik. jangan terlihat betul 'semata-mata'). Lalu mereka memaksakan nama aliansi ini untuk payung dalam setiap aksi walau jelas-jelas semua tahu bahwa ABM sudah menjadi organisasi. Sehingga mana mau ormas lain rela begitu saja tergabung (walau seolah-olah tergabung) dalam ABM. Dan personil ABM Lampung... ya ini warna yang menarik. Andai mereka mau memakai cara pdkt yang simpatik, pasti asyik.
Ada lagi kelompok yang oportunis tidak tahu arah perjuangannya tapi bisa terlibat di dalamnya. Entah apa motivasi dan apa yang dicari. (mungkin aku sesekali juga masuk dalam kelompok ini walau aku punya hati dan pilihan)
Lalu ada FKSPL yang warnanya adeeeemmmmm....aja (HK gitu loh. Sr. Matea gitu loh.) Pilihannya sih jelas pada pendidikan buruh dengan pelatihan, riset dan kampanye media (akhir-akhir ini). Pengaruh ormas mahasiswa, ABM maupun oportunis, ketiganya ada. Tarik ulur, tak berbentuk, tapi sudah sewindu hidup. (sebenarnya lebih lama lagi kalau dihitung dalam gerak geliatnya)
Aku belum tahu pasti peta-peta kepentingan yang mencengkeram di belakang layar, tapi aku merasakan kegusaran yang pekat. Seperti masuk ke dalam hutan yang walau aku berjalan di jalan setapak jelas ada tujuan dan kelihatan kondisi jalannya, tapi aku tidak tahu di sela-sela pohon di luar jalan setapak itu apa yang ada dan terjadi. Pasangan mata pasti sedang mengintai. Yang sangat terasa panasnya adalah ketika spanduk-spanduk di jalan sudah ramai di seluruh Lampung. "Pilihlah aku jadi pemimpin bumi ini." Juga ketika aku melihat mayat-mayat bergelimpangan berjatuhan setiap hari karena berbagai situasi ini. Selalu ada korban. Dan yang jadi korban adalah yang terlemah. Dalam rantai perindustrian ini, adalah buruh.
Ada perpecahan (atau keanekaragaman?) yang terlihat dalam gerakan buruh di Lampung.
Beberapa organ mahasiswa pasti mengusung isu buruh menjelang may day (di luar hari itu entahlah, karena memang jarang ormas mahasiswa mendampingi buruh secara konsisten, apalagi di Lampung). Mohon maklum begitu idealis tapi kadang tidak rasional. Bisa-bisanya teriak-teriak perubahan. Tunggu sebentar lalu mereka akan ada di dalam sekat-sekat tipis pelaku 'kelanggengan'. (ya aku tahu bagaimana mereka hidup sehari-hari. bisa kontras dengan teriakannya lho. ayo siapa yang mau menyangkal, silahkan. biar aku juga belajar lebih banyak.)Sebatas retorika pembelajaran, aku salut. Semoga ada manfaatnya di masa depan bagi pribadi-pribadi maupun organisasi.
Lalu gerak ABM yang agak tidak masuk akal, dengan memasukkan isu nasional begitu saja pada gerakan-gerakan lokal. (andai mengolahnya sedikit cerdas sebenarnya bisa menjadi isu yang cukup menarik. jangan terlihat betul 'semata-mata'). Lalu mereka memaksakan nama aliansi ini untuk payung dalam setiap aksi walau jelas-jelas semua tahu bahwa ABM sudah menjadi organisasi. Sehingga mana mau ormas lain rela begitu saja tergabung (walau seolah-olah tergabung) dalam ABM. Dan personil ABM Lampung... ya ini warna yang menarik. Andai mereka mau memakai cara pdkt yang simpatik, pasti asyik.
Ada lagi kelompok yang oportunis tidak tahu arah perjuangannya tapi bisa terlibat di dalamnya. Entah apa motivasi dan apa yang dicari. (mungkin aku sesekali juga masuk dalam kelompok ini walau aku punya hati dan pilihan)
Lalu ada FKSPL yang warnanya adeeeemmmmm....aja (HK gitu loh. Sr. Matea gitu loh.) Pilihannya sih jelas pada pendidikan buruh dengan pelatihan, riset dan kampanye media (akhir-akhir ini). Pengaruh ormas mahasiswa, ABM maupun oportunis, ketiganya ada. Tarik ulur, tak berbentuk, tapi sudah sewindu hidup. (sebenarnya lebih lama lagi kalau dihitung dalam gerak geliatnya)
Aku belum tahu pasti peta-peta kepentingan yang mencengkeram di belakang layar, tapi aku merasakan kegusaran yang pekat. Seperti masuk ke dalam hutan yang walau aku berjalan di jalan setapak jelas ada tujuan dan kelihatan kondisi jalannya, tapi aku tidak tahu di sela-sela pohon di luar jalan setapak itu apa yang ada dan terjadi. Pasangan mata pasti sedang mengintai. Yang sangat terasa panasnya adalah ketika spanduk-spanduk di jalan sudah ramai di seluruh Lampung. "Pilihlah aku jadi pemimpin bumi ini." Juga ketika aku melihat mayat-mayat bergelimpangan berjatuhan setiap hari karena berbagai situasi ini. Selalu ada korban. Dan yang jadi korban adalah yang terlemah. Dalam rantai perindustrian ini, adalah buruh.
Tuesday, April 29, 2008
Welwitschia Mirabelis
aku ingin seperti welwitschia
bertahan jutaan tahun di gurun Namibia ku
gersang hanyalah permainan
panas adalah romantika
tetasan air jadi mimpi kerinduan
yang asyik
(night elf menamparku keras-keras di ubun-ubun
membuatku terjengkang di antara putung-putung rokok
"Oee, kau! Bahkan jadi ranting-ranting cemara pun tidak bisa!")
bertahan jutaan tahun di gurun Namibia ku
gersang hanyalah permainan
panas adalah romantika
tetasan air jadi mimpi kerinduan
yang asyik
(night elf menamparku keras-keras di ubun-ubun
membuatku terjengkang di antara putung-putung rokok
"Oee, kau! Bahkan jadi ranting-ranting cemara pun tidak bisa!")
Monday, April 28, 2008
Antara Sunrise dan Sunset
....
adalah damba
pada surga
di pematang sawah
tempat kacang panjang menjalar
menemani perjalanan
menuju panen raya
suatu ketika
....
adalah damba
pada surga
di pematang sawah
tempat kacang panjang menjalar
menemani perjalanan
menuju panen raya
suatu ketika
....
Kim Siong
Kim Siong atau dipanggil Lis adalah gadis usia 33-an. Gadis tua yang terjebak dalam tubuh 'entah bagaimana' dari atas bawah, dari luar dalam. Secara umur mungkin sudah dewasa, tapi dia mengikuti gerak pikir anak-anak usia 10-an tahun. Wajahnya sudah mengalami operasi beberapa kali di Indonesia maupun Australia tapi tetap menyisakan ceruk-ceruk bekas sumbing dan daging atau kulit yang tidak ada di beberapa bagian wajahnya. Dua tangannya kekar dengan jari-jari yang tidak lima (hanya dua atau tiga di tiap telapak, tidak bisa dihitung karena bentuknya tidak seperti jari jemari kita). Cukup kuat untuk memijat pundak, kaki, badan... Untung bisa memijat karena dia bisa dapat recehan atau bukan recehan untuk hidupnya. (bahkan untuk hidup ibu dan kakaknya, yang kok 'entah bagaimana' juga). Kakinya sebelah hanya sebatas di bawah lutut ditopang kaki palsu. Aku tidak tahu persis bentuk kakinya karena selalu terbalut kaos kaki untuk mengganjal gesekan dengan kaki palsunya. Seringkali dia mengeluh lecet sakit pada bagian sambungan itu. Mungkin sudah tidak pas lagi dikenakan karena kaki palsu itu sudah dipakainya sejak aku kenal dia 8 tahun silam.
Hah, dia punya pengalaman ditolak bahkan sejak masih dalam kandungan. Ibunya yang merana mencoba menggugurkan dia dengan berbagai cara. Kekuatan sel-selnya terbukti hingga dia masih hidup sampai sekarang ini.
Sangat egois mau apa, wong memang dia coba meraup kasih sebanyak-banyaknya lewat jari dan wajahnya yang bolong. Mau apa! Hanya dapat angin. Anak-anak kecil ketakutan melihatnya. Para remaja jijik melihatnya. Orang dewasa tak mau direpotkan untuk menyenyuminya. Orang tua ah sudahlah...
Sangat menjengkelkan mau apa, wong dia hanya bisa meminta kepada siapa saja. Mau apa.
Aduh, betapa jengkel misalnya banyak kerjaan di sebelah komputer, lalu dia datang menangis basah kuyup karena ditolak suster sebelah yang dimintainya beras. Lalu karena melihat wajahku yang lesu capek maka dia duduk di sebelahku sembari memijit pundak, lalu tangan lalu kaki... Astaga, Lis! Tidak lihat orang lagi bekerja? Aku tidak bisa mengetik kalau kamu mijit. Maka dia cekikikan berhasil menarik perhatianku. Melihat mukanya mau tidak mau aku tersenyum kecut, sekecut tubuhnya yang tidak mandi pagi.
Sudah makan? Mendengar pertanyaan ini Lis langsung penuh semangat. Berjingkat menarik tangan. Ayo makan. Dalam kupingku ayo bayarin makan. Maka ketika aku menurut gerak kakinya ke warung berjejer di sebelah, segala cerita mengalir bindeng sengau tidak jelas dari mulutnya. Kadang aku tidak mengerti apa bahasanya, tapi cukup mantuk-mantuk saja. Seringkali dia bercerita tentang ibunya, kakaknya (bapaknya tidak pernah diceritakan) atau simboknya. Simbok bagi dia adalah Suster Matea HK, orang yang paling disayanginya di seluruh dunia, tempat dia bergantung untuk segala hal. Baginya dia adalah anak satu-satunya simbok, maka simbok tidak boleh untuk yang lain. Maka dia sangat cemburu marah kalau simboknya berususan dengan orang lain yang pasti tidak bisa wong simboknya seorang suster.
Dia tidak bisa mengunyah sempurna. Maka makanan kesukaannya adalah bubur atau lontong yang ditelannya begitu saja. Bagian rongga mulutnya seperti rongga mulut ulat yang mencaplok begitu saja semua makanan.
Setelah kenyang dia akan ketawa-ketawa lalu pamitan dengan riang terlebih jika dapat bonus 2000 rp untuk naik angkot.
Jumat kemarin aku berdoa khusus untuknya (hampir tidak pernah aku lakukan), terlebih untuk diriku jika berhadapan dengannya. Lis sudah mengajari banyak hal dalam mengolah diri, hati, tanpa pamrih. Tanpa dia sadari hampir setiap hari.
Hah, dia punya pengalaman ditolak bahkan sejak masih dalam kandungan. Ibunya yang merana mencoba menggugurkan dia dengan berbagai cara. Kekuatan sel-selnya terbukti hingga dia masih hidup sampai sekarang ini.
Sangat egois mau apa, wong memang dia coba meraup kasih sebanyak-banyaknya lewat jari dan wajahnya yang bolong. Mau apa! Hanya dapat angin. Anak-anak kecil ketakutan melihatnya. Para remaja jijik melihatnya. Orang dewasa tak mau direpotkan untuk menyenyuminya. Orang tua ah sudahlah...
Sangat menjengkelkan mau apa, wong dia hanya bisa meminta kepada siapa saja. Mau apa.
Aduh, betapa jengkel misalnya banyak kerjaan di sebelah komputer, lalu dia datang menangis basah kuyup karena ditolak suster sebelah yang dimintainya beras. Lalu karena melihat wajahku yang lesu capek maka dia duduk di sebelahku sembari memijit pundak, lalu tangan lalu kaki... Astaga, Lis! Tidak lihat orang lagi bekerja? Aku tidak bisa mengetik kalau kamu mijit. Maka dia cekikikan berhasil menarik perhatianku. Melihat mukanya mau tidak mau aku tersenyum kecut, sekecut tubuhnya yang tidak mandi pagi.
Sudah makan? Mendengar pertanyaan ini Lis langsung penuh semangat. Berjingkat menarik tangan. Ayo makan. Dalam kupingku ayo bayarin makan. Maka ketika aku menurut gerak kakinya ke warung berjejer di sebelah, segala cerita mengalir bindeng sengau tidak jelas dari mulutnya. Kadang aku tidak mengerti apa bahasanya, tapi cukup mantuk-mantuk saja. Seringkali dia bercerita tentang ibunya, kakaknya (bapaknya tidak pernah diceritakan) atau simboknya. Simbok bagi dia adalah Suster Matea HK, orang yang paling disayanginya di seluruh dunia, tempat dia bergantung untuk segala hal. Baginya dia adalah anak satu-satunya simbok, maka simbok tidak boleh untuk yang lain. Maka dia sangat cemburu marah kalau simboknya berususan dengan orang lain yang pasti tidak bisa wong simboknya seorang suster.
Dia tidak bisa mengunyah sempurna. Maka makanan kesukaannya adalah bubur atau lontong yang ditelannya begitu saja. Bagian rongga mulutnya seperti rongga mulut ulat yang mencaplok begitu saja semua makanan.
Setelah kenyang dia akan ketawa-ketawa lalu pamitan dengan riang terlebih jika dapat bonus 2000 rp untuk naik angkot.
Jumat kemarin aku berdoa khusus untuknya (hampir tidak pernah aku lakukan), terlebih untuk diriku jika berhadapan dengannya. Lis sudah mengajari banyak hal dalam mengolah diri, hati, tanpa pamrih. Tanpa dia sadari hampir setiap hari.
Monday, April 14, 2008
Forever
Tiga minggu terakhir ini aku mendapat pengalaman baru dengan jaringan SSV (Serikat Santo Vincentius) di Lampung. Aku memfasilitasi anggota mereka khususnya yang muda untuk belajar nulis. Pertama di Kotabumi pada 29-30 Maret untuk daerah Lampung Utara. Ada 26 peserta. Lalu kedua di Metro pada 5-6 April untuk daerah Lampung Tengah dan Metro ada 16 peserta. Dan ketiga di Pringsewu pada 12-13 April untuk daerah Tanggamus dan Bandarlampung ada 24 peserta. Sabtu - Minggu yang mengasyikkan.
Mereka ini kelompok muda yang mengambil semangat St. Vincentius seturut teladan Frederich Osanam, pendiri SSV. Maka semangat Osanam yang aku ceritain pada mereka di awal pertemuan. Bagaimana sebagai orang muda, mahasiswa Osanam tidak hanya diam menanggapi tantangan jaman itu. Osanam berkumpul bersama beberapa teman membuat jaringan cinta kasih, peduli pada orang lain dan salah satu sarana komunikasi yang dipakai adalah tulisan. Banyak surat-surat Osanam tersebar berisi nilai-nilai yang dia dapatkan dalam geraknya sehari-hari.
Dalam pelatihan ini hari Sabtu adalah hari mengolah diri. Setiyanto, seorang penulis buku dari Kotagajah membantuku untuk sesi awal meyakinkan bahwa menulis itu mudah dan bermanfaat. Malamnya aku mengajak mereka untuk melihat pengalaman-pengalaman unik diri sendiri yang sebenarnya menjadi bahan awal yang bisa diolah dalam bentuk tulisan. Wow, mereka menulisnya dengan variasi dan kreasi yang hebat. Aku hanya beri panduan : 1. Detail satu peristiwa yang paling menyentuh hati; 2. Apa yang dirasakan saat itu; 3. Apa yang dirasakan kini;4. Kaitkan pada relasi dengan Tuhan dan sesama.
Hari Minggu, aku mengajak mereka untuk melihat penulisan jurnalistik berurusan dengan media masa. Sekilas tentang berita, feature lalu praktek nulis paragraf awal 5W1H, menulis sebuah feature tentang sosok teman sembari latihan wawancara, menggali data hingga menuliskannya dengan lengkap.
Hingga minggu sore. Memang baru pengetahuan yang sangat dasar. Tapi semangat para muda itu membuatku menjadi lebih 'muda'.
Mereka ini kelompok muda yang mengambil semangat St. Vincentius seturut teladan Frederich Osanam, pendiri SSV. Maka semangat Osanam yang aku ceritain pada mereka di awal pertemuan. Bagaimana sebagai orang muda, mahasiswa Osanam tidak hanya diam menanggapi tantangan jaman itu. Osanam berkumpul bersama beberapa teman membuat jaringan cinta kasih, peduli pada orang lain dan salah satu sarana komunikasi yang dipakai adalah tulisan. Banyak surat-surat Osanam tersebar berisi nilai-nilai yang dia dapatkan dalam geraknya sehari-hari.
Dalam pelatihan ini hari Sabtu adalah hari mengolah diri. Setiyanto, seorang penulis buku dari Kotagajah membantuku untuk sesi awal meyakinkan bahwa menulis itu mudah dan bermanfaat. Malamnya aku mengajak mereka untuk melihat pengalaman-pengalaman unik diri sendiri yang sebenarnya menjadi bahan awal yang bisa diolah dalam bentuk tulisan. Wow, mereka menulisnya dengan variasi dan kreasi yang hebat. Aku hanya beri panduan : 1. Detail satu peristiwa yang paling menyentuh hati; 2. Apa yang dirasakan saat itu; 3. Apa yang dirasakan kini;4. Kaitkan pada relasi dengan Tuhan dan sesama.
Hari Minggu, aku mengajak mereka untuk melihat penulisan jurnalistik berurusan dengan media masa. Sekilas tentang berita, feature lalu praktek nulis paragraf awal 5W1H, menulis sebuah feature tentang sosok teman sembari latihan wawancara, menggali data hingga menuliskannya dengan lengkap.
Hingga minggu sore. Memang baru pengetahuan yang sangat dasar. Tapi semangat para muda itu membuatku menjadi lebih 'muda'.
Wednesday, April 09, 2008
Hepatitis A
Rupanya aku kena Hepatitis A. Dua minggu hanya berbaring. Dokter bilang Hepatitis disebabkan infeksi virus yang menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.
Beberapa makanan yang tidak boleh aku makan adalah makanan yang berserat tinggi, mempunyai rasa tajam seperti pedas, asem, makanan yang bersoda dan beralkohol, makanan yang berlemak dan berminyak tinggi (digoreng, bersantan dll). Beberapa jam sekali aku mesti minum dengan dua sendok gula.
Virus penyerangku adalah virus hepatitis A (VHA). Hepatitis virus dapat menjadi kronis dan bisa berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati.1. Hepatitis AHepatitis A lebih banyak diderita oleh anak-anak dan orang muda. Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, pada umumnya menular melalui makanan/minuman yang terkontaminasi oleh feses penderita, bisa juga melalui konsumsi kerang yang terkontaminasi virus.
Gejala awal merasa cepat lelah, tidak napsu makan, sakit kepala, pegal-pegal di seluruh badan, lemah, mual, dan kadang disertai muntah, dan selanjutnya demam. Ditandai juga dengan urin berwarna kuning kehitaman seperti air teh dan feses berwarna hitam kemerahan.
Langkah pencegahannya, yaitu :- cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan;- disarankan tidak makan dengan menggunakan alat-alat makan secara - bergantian atau memakai sikat gigi bersama-sama;- memperhatikan kebersihan lingkungan dan sanitasi ; - Imunisasi
Untuk penyembuhan ada beberapa obat herbal ala Hembing :
Resep 1.
30 gram temu lawak (dikupas dan diris-iris) + 15 gram sambiloto kering + 60 gram akar alang-alang. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 2.
30-60 gram daun serut/mirten segar + 60 gram pegagan + 30 gram meniran. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 3.
10 gram jamur kayu/lingzhi + 10 gram biji kacapiring (zhi zi), keduanya dicuci, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari. (kedua bahan dapat dibeli di toko obat Tionghoa)
Resep 4.
60 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular segar + 30 gram tumbuhan jombang segar + 25 gram kunyit. dicuci bersih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Catatan :
- pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur
- tetap konsultasi ke dokter
- untuk perebusan, gunakan periuk tanah, panci kaca atau enamel.
Selain itu penderita tidak boleh merasa capek dan terkena angin malam. Berbaring, n tidur.
Beberapa makanan yang tidak boleh aku makan adalah makanan yang berserat tinggi, mempunyai rasa tajam seperti pedas, asem, makanan yang bersoda dan beralkohol, makanan yang berlemak dan berminyak tinggi (digoreng, bersantan dll). Beberapa jam sekali aku mesti minum dengan dua sendok gula.
Virus penyerangku adalah virus hepatitis A (VHA). Hepatitis virus dapat menjadi kronis dan bisa berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati.1. Hepatitis AHepatitis A lebih banyak diderita oleh anak-anak dan orang muda. Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, pada umumnya menular melalui makanan/minuman yang terkontaminasi oleh feses penderita, bisa juga melalui konsumsi kerang yang terkontaminasi virus.
Gejala awal merasa cepat lelah, tidak napsu makan, sakit kepala, pegal-pegal di seluruh badan, lemah, mual, dan kadang disertai muntah, dan selanjutnya demam. Ditandai juga dengan urin berwarna kuning kehitaman seperti air teh dan feses berwarna hitam kemerahan.
Langkah pencegahannya, yaitu :- cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan;- disarankan tidak makan dengan menggunakan alat-alat makan secara - bergantian atau memakai sikat gigi bersama-sama;- memperhatikan kebersihan lingkungan dan sanitasi ; - Imunisasi
Untuk penyembuhan ada beberapa obat herbal ala Hembing :
Resep 1.
30 gram temu lawak (dikupas dan diris-iris) + 15 gram sambiloto kering + 60 gram akar alang-alang. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 2.
30-60 gram daun serut/mirten segar + 60 gram pegagan + 30 gram meniran. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 3.
10 gram jamur kayu/lingzhi + 10 gram biji kacapiring (zhi zi), keduanya dicuci, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari. (kedua bahan dapat dibeli di toko obat Tionghoa)
Resep 4.
60 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular segar + 30 gram tumbuhan jombang segar + 25 gram kunyit. dicuci bersih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Catatan :
- pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur
- tetap konsultasi ke dokter
- untuk perebusan, gunakan periuk tanah, panci kaca atau enamel.
Selain itu penderita tidak boleh merasa capek dan terkena angin malam. Berbaring, n tidur.
Thursday, March 13, 2008
Sakit
Beberapa hari ini aku sakit. Sekarang pun masih sakit. Tidak tentu rasanya. Awal-awal kepalaku seperti diberi pemberat dari baja puluhan kilogram. Berat. Bergerak sedikit saja berdenyut keras tidak tertahan. Periksa tensi di Klinik Xaverius memang rendah tekanan darahku. Maka resepnya : vitamin, makan banyak dan tidur banyak. Tidak berubah juga. Lesu, tidak semangat, pengin tidur saja, tidak bisa kena air (jika mandi pake air dingin sakit hingga ke tulang seperti ditusuk sejuta jarum beku). Kedinginan, berkeringat, pengin muntah, sakit tenggorokan, ... entahlah. Semua terasa tidak enak.
Tentu saja aku masih beraktifitas kesana kemari. Pekerjaan Nuntius tidak bisa ditunda, agenda terkait APP banyak, antar jemput Albert, dll. Tapi aku ngerasa yang paling sakit adalah otak dan hatiku. Terbukti aku bisa melakukan banyak kegiatan tapi aku tidak bisa menggunakan otak dan hati.
Tentu saja aku masih beraktifitas kesana kemari. Pekerjaan Nuntius tidak bisa ditunda, agenda terkait APP banyak, antar jemput Albert, dll. Tapi aku ngerasa yang paling sakit adalah otak dan hatiku. Terbukti aku bisa melakukan banyak kegiatan tapi aku tidak bisa menggunakan otak dan hati.
Tuesday, March 11, 2008
Bilik Pengakuan
menangis di pojok bilik pengakuan
adalah pesakitan yang siap menerima eksekusi
tak ada pembelaan karena lumuran dosa memang terlihat
tidak perlu bukti atau saksi
hanya berkaca pada pada hati
tapi tidak ada besi parang suntik listrik kematian
yang ada adalah berkat dan pengampunan
'lantunkan iman, pengharapan, kasih
doa sempurna dengan bimbingan Bunda'
aku bersimpuh dalam puji
tak kunjung henti
adalah pesakitan yang siap menerima eksekusi
tak ada pembelaan karena lumuran dosa memang terlihat
tidak perlu bukti atau saksi
hanya berkaca pada pada hati
tapi tidak ada besi parang suntik listrik kematian
yang ada adalah berkat dan pengampunan
'lantunkan iman, pengharapan, kasih
doa sempurna dengan bimbingan Bunda'
aku bersimpuh dalam puji
tak kunjung henti
Saturday, March 01, 2008
Jaman Dulu di Sembak
Aku lahir di dusun Sembak, desa Grogol, kabupaten Kediri, propinsi Jawa Timur, negara Indonesia. (Ibu Sudiati dan Bapak Samiran) Sembak ini tempat yang cukup ramai sejak mulanya. Pasalnya, dusun ini merupakan jalan penghubung bagi beberapa desa di sekitarnya untuk menuju ke Pasar Gringging, pasar yang paling besar di kecamatan itu. Maka ketika pagi belum menjelang, dengan mata setengah merem belum bangun, suara kaki para petani dan pedagang beradu di jalan berbatu depan rumah. Suara lain yang masih aku ingat adalah suara decit kerenyit bambu yang dipakai untuk memanggul sesuatu. Engket, engket, engket....dengan irama yang tetap seturut langkah yang memikul. Subuh tidak pernah kelihatan karena aku sangat jarang bangun pagi. Bapak-ibu juga tidak pernah biasa bangun pagi. Kerepotan rumah biasanya baru mulai setelah jam 06.00. Itupun kayaknya dengan terpaksa, karena bapak ibu mengajar di sekolah sedang anak-anak harus sekolah.
Sore hari jalanan depan rumah juga riuh. Tiap hari adalah iring-iringan orang yang membawa hasil bumi, daun jati (pembungkus utama untuk makanan dan sayuran), kayu, dan sebagainya. Khususnya jika menjelang hari pasaran, hari ramainya pasar.
Lebih ramai lagi ketika tahun 80-an jalan depan rumah itu diaspal. Kemudian listrik mulai ada. Suara pejalan kaki hilang diganti dengan sepeda motor dan mobil. (Hingga kini semakin bising saja depan rumah itu)
Ada beberapa warung makanan yang menjadi langganan. Setiap pagi, kami sekeluarga waktu itu punya menu sarapan yang hampir selalu sama. Pilihannya hanya sambel pecel atau sambel tumpang, mbah Ni atau yu Bin. Jarang muncul menu lain. Sesekali ibu akan bikin tahu kecap atau telor ceplok. Tapi sangat jarang.
Biasanya aku atau Yeni bergantian yang bertugas membeli sarapan. (Mbak Lis lebih sering tinggal dan mbantu mbah di sebelah ketimbang di rumah) Sebelum aku suka pedas, aku paling suka nasi diberi sesendok sambel pecel atau tumpang, tanpa daunan, dimakan dengan peyek yang jarang-jarang ada kacangnya dan krupuk. Dan disuapin. (Disuapi tuh bisa menambah rasa enak pada makanan. Kenapa ya?) Agak besar dikit, aku suka dengan daunan yang banyak sesekali ditambah irisan tempe goreng atau tahu goreng.
Makan siang sangat variatif. Ibu biasanya masak kilat setelah pulang ngajar. Sayur bening, asem, sop, terik, tumis, lodeh dll. Botok, perkedel, dll. Tahu, tempe, ikan, telur. (Ketika mulai trend ayam potong, tambah satu menu yang sering, ayam goreng, atau ayam sayur. Dulunya sih ayam nih sangat mewah. Dimasak hanya kalau ada hajatan atau ayamnya simbah ada yang klepek-klepek kena penyakit.) Jika ibu tidak sempat memasak, ada makanan yang sangat khas bisa dibeli di bakul ethek (tukang sayur). Dibungkus daun pisang kecil-kecil ada dendeng ragi, dan sayur kikil. (aduh, aku bisa mencium baunya sekarang ini) Sesekali ada yang namanya menjeng. Kayaknya dari kacang kedele yang diapain gitu. Atau sisa ampas apa gitu. Ampas kecap mungkin. Sebenere sangat bau dan tidak memakai bumbu apapun kecuali garam, tapi rasanya waktu itu enak sekali.
Pilihan untuk makan malam adalah makanan yang ala kadarnya sisa yang dimakan siang atau makanan super mewah karena masak nasi goreng, mi rebus atau goreng atau beli di warung. Ini menu-menu yang menyenangkan.
Makanan-makanan selingan banyak sekali. Ada penjual gorengan yang disunggi yang sesekali lewat sore hari. Kadang membawa getuk dibungkus daun pisang. Ada opak kali dengan petis hitam yang amis pedas. Ada cenil panjang-panjang ditambah klepon. dll. dll. Aku bisa meledak sendiri jika ingat makanan-makanan seperti itu. Pengin! Pengin balik ke masa kecil!
Sore hari jalanan depan rumah juga riuh. Tiap hari adalah iring-iringan orang yang membawa hasil bumi, daun jati (pembungkus utama untuk makanan dan sayuran), kayu, dan sebagainya. Khususnya jika menjelang hari pasaran, hari ramainya pasar.
Lebih ramai lagi ketika tahun 80-an jalan depan rumah itu diaspal. Kemudian listrik mulai ada. Suara pejalan kaki hilang diganti dengan sepeda motor dan mobil. (Hingga kini semakin bising saja depan rumah itu)
Ada beberapa warung makanan yang menjadi langganan. Setiap pagi, kami sekeluarga waktu itu punya menu sarapan yang hampir selalu sama. Pilihannya hanya sambel pecel atau sambel tumpang, mbah Ni atau yu Bin. Jarang muncul menu lain. Sesekali ibu akan bikin tahu kecap atau telor ceplok. Tapi sangat jarang.
Biasanya aku atau Yeni bergantian yang bertugas membeli sarapan. (Mbak Lis lebih sering tinggal dan mbantu mbah di sebelah ketimbang di rumah) Sebelum aku suka pedas, aku paling suka nasi diberi sesendok sambel pecel atau tumpang, tanpa daunan, dimakan dengan peyek yang jarang-jarang ada kacangnya dan krupuk. Dan disuapin. (Disuapi tuh bisa menambah rasa enak pada makanan. Kenapa ya?) Agak besar dikit, aku suka dengan daunan yang banyak sesekali ditambah irisan tempe goreng atau tahu goreng.
Makan siang sangat variatif. Ibu biasanya masak kilat setelah pulang ngajar. Sayur bening, asem, sop, terik, tumis, lodeh dll. Botok, perkedel, dll. Tahu, tempe, ikan, telur. (Ketika mulai trend ayam potong, tambah satu menu yang sering, ayam goreng, atau ayam sayur. Dulunya sih ayam nih sangat mewah. Dimasak hanya kalau ada hajatan atau ayamnya simbah ada yang klepek-klepek kena penyakit.) Jika ibu tidak sempat memasak, ada makanan yang sangat khas bisa dibeli di bakul ethek (tukang sayur). Dibungkus daun pisang kecil-kecil ada dendeng ragi, dan sayur kikil. (aduh, aku bisa mencium baunya sekarang ini) Sesekali ada yang namanya menjeng. Kayaknya dari kacang kedele yang diapain gitu. Atau sisa ampas apa gitu. Ampas kecap mungkin. Sebenere sangat bau dan tidak memakai bumbu apapun kecuali garam, tapi rasanya waktu itu enak sekali.
Pilihan untuk makan malam adalah makanan yang ala kadarnya sisa yang dimakan siang atau makanan super mewah karena masak nasi goreng, mi rebus atau goreng atau beli di warung. Ini menu-menu yang menyenangkan.
Makanan-makanan selingan banyak sekali. Ada penjual gorengan yang disunggi yang sesekali lewat sore hari. Kadang membawa getuk dibungkus daun pisang. Ada opak kali dengan petis hitam yang amis pedas. Ada cenil panjang-panjang ditambah klepon. dll. dll. Aku bisa meledak sendiri jika ingat makanan-makanan seperti itu. Pengin! Pengin balik ke masa kecil!
Thursday, February 28, 2008
Beri Hormat
Siang ini aku berdiri tegak hormat pada seorang bapak yang datang mengunjungi di kantor. Bapak yang lahir tahun 36 di Yogyakarta. Pak Yitno, dari tahun 74 tinggal di Lampung sebagai transmigran. Janji-janji pemerintah adalah air di dalam tubuhnya yang masih segar walau sudah usur.
"Aku diblenjani. Lihat ini bukti-bukti tanah yang katanya waktu itu diberikan kepada kami." katanya, mewakili belasan orang di daerah Padangcermin, Lampung Tengah. Dia tunjukkan copyan surat dan denah tanah. Tapi kemudian tanah itu rupanya dihaki, dianggap hak dari orang-orang lain suku setempat.
"Aku akan mengusahakan keadilan ini. Tidak, aku tetap memakai cara positif. Aku tidak mau bentrok dengan mereka. Kami ini sama-sama korban pemerintah. Pemerintah yang harus selesaikan demi keadilan kami."
Maka pak Yitno tidak hentinya mendatangi orang-orang pemerintahan. Surat kepada presiden, kepada gubernur, kepada bupati, kepada camat. Dia tunjukkan surat-surat yang menyatakan kehadirannya ditemui oleh wakil pemerintah itu. Dia selalu minta tandatangan di bawah pernyataan singkat setiap ia datang ke sebuah instransi. Walaupun pernyataan dari wakil-wakil pemerintah itu hanya "Sudah datang pada hari ini, pak Suyitno bla bla bla..." Ditutup dengan permintaan,"mohon sabar sedang kami urus". Bertahun-tahun!
"Saya tidak akan ajak teman-teman demo. Tapi saya tidak akan berhenti, Jeng Yuli."
Percakapan tentang tanah 60-an hektar yang sedang diperjuangkannya itu hanyalah salah satu tema.
Sebelumnya bapak ini panjang lebar dengan simpati memuji Nuntius dan melihat manfaatnya bagi pembaca termasuk dia. Disodorkan dua tulisan yang berisikan tanggapan-tanggapannya terhadap beberapa tulisan di Nuntius. Aku berkaca-kaca mendengarnya.
Lalu disodorkan setumpuk lagu-lagu karangannya sendiri yang ditulisnya dalam berbagai musim. Aku membacanya dengan terpana. Lagu-lagu yang dibuat sendiri dengan nuansa Pancasila dan Ketuhanan yang kental. Dia rengeng-rengeng melagukan satu tembang itu, disertai not-not yang dia buat. Astaga!
"Hehehe...lagu-lagu ini sudah diakui pak Camat. Lihat, ini ada tanda tangan persetujuan pak Camat. Aku tidak mau Pancasila hilang dari Indonesia."
Aku pun berdiri tegak di hadapannya. Posisi siap dan menggerakkan tanganku di atas kepala, beri hormat. Untuk Pak Suyitno, pria yang sudah 72 tahun dengan jiwa hidup di dalam raganya.
"Aku diblenjani. Lihat ini bukti-bukti tanah yang katanya waktu itu diberikan kepada kami." katanya, mewakili belasan orang di daerah Padangcermin, Lampung Tengah. Dia tunjukkan copyan surat dan denah tanah. Tapi kemudian tanah itu rupanya dihaki, dianggap hak dari orang-orang lain suku setempat.
"Aku akan mengusahakan keadilan ini. Tidak, aku tetap memakai cara positif. Aku tidak mau bentrok dengan mereka. Kami ini sama-sama korban pemerintah. Pemerintah yang harus selesaikan demi keadilan kami."
Maka pak Yitno tidak hentinya mendatangi orang-orang pemerintahan. Surat kepada presiden, kepada gubernur, kepada bupati, kepada camat. Dia tunjukkan surat-surat yang menyatakan kehadirannya ditemui oleh wakil pemerintah itu. Dia selalu minta tandatangan di bawah pernyataan singkat setiap ia datang ke sebuah instransi. Walaupun pernyataan dari wakil-wakil pemerintah itu hanya "Sudah datang pada hari ini, pak Suyitno bla bla bla..." Ditutup dengan permintaan,"mohon sabar sedang kami urus". Bertahun-tahun!
"Saya tidak akan ajak teman-teman demo. Tapi saya tidak akan berhenti, Jeng Yuli."
Percakapan tentang tanah 60-an hektar yang sedang diperjuangkannya itu hanyalah salah satu tema.
Sebelumnya bapak ini panjang lebar dengan simpati memuji Nuntius dan melihat manfaatnya bagi pembaca termasuk dia. Disodorkan dua tulisan yang berisikan tanggapan-tanggapannya terhadap beberapa tulisan di Nuntius. Aku berkaca-kaca mendengarnya.
Lalu disodorkan setumpuk lagu-lagu karangannya sendiri yang ditulisnya dalam berbagai musim. Aku membacanya dengan terpana. Lagu-lagu yang dibuat sendiri dengan nuansa Pancasila dan Ketuhanan yang kental. Dia rengeng-rengeng melagukan satu tembang itu, disertai not-not yang dia buat. Astaga!
"Hehehe...lagu-lagu ini sudah diakui pak Camat. Lihat, ini ada tanda tangan persetujuan pak Camat. Aku tidak mau Pancasila hilang dari Indonesia."
Aku pun berdiri tegak di hadapannya. Posisi siap dan menggerakkan tanganku di atas kepala, beri hormat. Untuk Pak Suyitno, pria yang sudah 72 tahun dengan jiwa hidup di dalam raganya.
Cimit
Anak-anak yang bermain petak umpet tiba-tiba diiterupsi seorang anak. "Cimit, cimit! Dia curang. Tidak boleh itu!" Permainan pun terhenti beberapa saat. Perbincangan yang gaduh membahas seberapa besar kecurangan itu terjadi dan seberapa pantas dimaafkan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan permainan dengan lebih enak karena masing-masing tahu aturan main yang harus dijalankan.
Cimit atau dulu jaman kecilku istilah yang dipakai jim, adalah break sebentar di tengah permainan. Boleh diminta oleh peserta permainan itu. Biasanya karena alasan mau interupsi seperti anak di atas tadi, atau ada yang karena pengin pipis, dipanggil tiba-tiba oleh orang tuanya, atau alasan yang nakal, ingin curang. Tapi permainan belum berhenti karena jim atau cimit.
Sekarang setelah dewasa, mungkin gak aku cimit ketika melihat kecurangan? Aku juga seorang pemain di kehidupan ini kan? Cimit yang diakui dan kemudian semua bisa menjadi lebih enak karena tidak dirugikan atau merugikan orang lain.
Atau boleh tidak aku cimit karena kakiku berdarah terlalu banyak lari di atas kerikil? Bukan mau berhenti dari permainan tapi hanya ingin istirahat sebentar di tengah permainan untuk melanjutkannya lagi nanti.
Kalau aku ingin cimit entah dari permainan apapun, apakah ada yang bisa memahaminya?
Cimit atau dulu jaman kecilku istilah yang dipakai jim, adalah break sebentar di tengah permainan. Boleh diminta oleh peserta permainan itu. Biasanya karena alasan mau interupsi seperti anak di atas tadi, atau ada yang karena pengin pipis, dipanggil tiba-tiba oleh orang tuanya, atau alasan yang nakal, ingin curang. Tapi permainan belum berhenti karena jim atau cimit.
Sekarang setelah dewasa, mungkin gak aku cimit ketika melihat kecurangan? Aku juga seorang pemain di kehidupan ini kan? Cimit yang diakui dan kemudian semua bisa menjadi lebih enak karena tidak dirugikan atau merugikan orang lain.
Atau boleh tidak aku cimit karena kakiku berdarah terlalu banyak lari di atas kerikil? Bukan mau berhenti dari permainan tapi hanya ingin istirahat sebentar di tengah permainan untuk melanjutkannya lagi nanti.
Kalau aku ingin cimit entah dari permainan apapun, apakah ada yang bisa memahaminya?
Tuesday, February 26, 2008
Panitia
Menjadi penyelenggara sebuah acara atau membantu penyelenggaraan acara sudah sering aku kerjakan. Tapi menjadi ketua panitia OC untuk raker tahunan FPBN (Forum Pendamping Buruh Nasional) 11-14 Pebruari 2008 di Wisma Albertus Bandarlampung menjadi pengalaman tersendiri. Pasalnya, aku menemukan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Hanya tim kecil untuk menggarap ini. Empat orang dengan aku.
Yang aku lalui :
- Membuat jobdesk berdasarkan permintaan dari Tim SC. Jobdesk yang detail per seksi. Ketua OC, Kesekretariatan, Perlengkapan dan Transportasi.
- Menghubungi orang-orang yang aku anggap bisa mengerjakannya. Alhasil ada Caecilia, Bejo, dan Median.
- Mengundang mereka untuk rapat koordinasi. Memberi tawaran-tawaran, menjelaskan detail-detail tugas, dan menegaskan bahwa ketika tim sudah jalan semua harus kerjasama.
Hanya itu. Lalu saat raker berlangsung muncul keributan kecil, ketegangan kecil, kepanikan kecil, mendadak, tiba-tiba dan sebagainya yang tak terduga.
Tapi ini tim yang hebat. Terungkap banyak hal saat evaluasi beberapa hari setelah acara. Mereka mendapatkan banyak hal dari kerjasama tim ini. Energi yang terbangun sungguh positif dan siap dikembangkan.
Iya, jangan hanya berhenti untuk urusan teknis macam begini. Masih banyak urusan lain yang harus dikerjakan. Masih banyak hal yang semrawut kok. Jadi jangan bubar!
Yang aku lalui :
- Membuat jobdesk berdasarkan permintaan dari Tim SC. Jobdesk yang detail per seksi. Ketua OC, Kesekretariatan, Perlengkapan dan Transportasi.
- Menghubungi orang-orang yang aku anggap bisa mengerjakannya. Alhasil ada Caecilia, Bejo, dan Median.
- Mengundang mereka untuk rapat koordinasi. Memberi tawaran-tawaran, menjelaskan detail-detail tugas, dan menegaskan bahwa ketika tim sudah jalan semua harus kerjasama.
Hanya itu. Lalu saat raker berlangsung muncul keributan kecil, ketegangan kecil, kepanikan kecil, mendadak, tiba-tiba dan sebagainya yang tak terduga.
Tapi ini tim yang hebat. Terungkap banyak hal saat evaluasi beberapa hari setelah acara. Mereka mendapatkan banyak hal dari kerjasama tim ini. Energi yang terbangun sungguh positif dan siap dikembangkan.
Iya, jangan hanya berhenti untuk urusan teknis macam begini. Masih banyak urusan lain yang harus dikerjakan. Masih banyak hal yang semrawut kok. Jadi jangan bubar!
Subscribe to:
Posts (Atom)