Monday, June 14, 2010

Slap

Tamparan tidak selalu diberikan oleh tangan seseorang ke pipi kanan atau kiri. Tamparan bisa terjadi dari sebuah sapaan, tulisan bahkan senyuman. Bagaimana rasanya ditampar tanpa bisa mengelak atau membalas? Bagaimana rasanya merasa diri memang layak untuk ditampar?

Aku merasakan panas di permukaan pipiku. Dengan bekas telapak yang merah menempel di sana. Tak terhapuskan sampai hari ini berlalu.

Monday, June 07, 2010

Kembang Bungur



Beberapa hari terakhir aku sangat penasaran dengan otakku sendiri yang terus mengingat pohon bungur. Pohon ini adalah pohon kuat yang bisa berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Di hutan biasa disebut raksasa rimba karena batangnya bisa mencapai tinggi 45 m dengan diameter batang bisa lebih dari 1 m. Makanya, kayu pohon ini bisa dimanfaatkan untuk bahan membuat piranti yang butuh kuat seperti jembatan, bantalan rel, dinding lambung perahu, papan lantai, galah pedati, ruji roda dan sebagainya. Tanaman ini tidak termakan serangga dan tahan pengaruh cuaca. Katanya, seduhan kulit kayunya bisa dipakai untuk obat diare. Katanya.

Di Sumatera Selatan dan Lampung, tanaman ini sangat mudah ditemui. Salah satunya di ruas jalan jalur dua Way Halim. Konon, jika bungur berbunga itu menjadi tanda bagi para petani untuk siap menanam padi.


Spesial tentang bunganya. Aih, indah nian bunga ini. Warnanya ungu cerah dengan bentuk yang sangat manis berhias putik kuning. Jika dicium, ada harum yang lembut, tidak tajam. Itupun hidung harus ditempelkan di kelopak-kelopak bunganya.
Agak susah menggapai bunga bungur karena tempatnya ada di ujung-ujung cabang. Namun kadang-kadang kita bisa temukan bunga itu di cabang-cabang yang rendah yang pasti bekas paprasan manusia yang iseng memangkas dahannya. Kalau kita temukan bunga seperti itu, hmmm....bersyukurlah karena kita bisa memegangnya, menciumnya, dan mengabadikannya dalam ingatan kita.

Tuesday, June 01, 2010

Earth

Selamatkan bumi. Jangan biarkan hanya jadi nisan.


Spam

"Memang betul, mbak. Itu spam. Sudah aku usir dia."
"Apakah setiap spam harus diusir?"
"Lebih baik begitu."
"Jika aku ingin mempertahankan satu spam, bolehkah?"
Keningnya berkerut. "Spam akan sangat mengganggu, mbak. Bahkan bisa merusak bagian yang lain. Lebih baik dihilangkan."
Aku berkeras. "Untuk yang ini aku tidak bisa menghilangkannya." Lebih tepatnya, aku tidak mau menghilangkannya.
"Perlu dibantu?"
"Kau bisa?" Aku tidak yakin, karena spam yang ini ada dalam hatiku.

Monday, May 24, 2010

SMS

Angin membawa pesan
"Aku akan datang."

Kapan?

Terduduk sadar.

Siapa?

Tidak sabar.

O!

Tuesday, May 18, 2010

Mind

Keluar rumah dengan pikiran : dimana ada adil dan damai?

Masuk rumah dengan pikiran : di sinilah!

Lalu berpikir : dimana rumah?

Di sinilah!

Saturday, April 17, 2010

Circle

Berada dalam perputaran keperempuanan selalu memberikan rasa syukur. Walau mesti dirasakan dengan darah, ngilu, juga pedih mengingat para kekasih yang jauh tapi memberikan denyut di nadi terdekat.
Aku tetap bersyukur menjadi perempuan, yang berputar. Terus berada dalam perputaran.

Monday, March 29, 2010

Dream

Semalam aku mimpi sangat sangat panjang. Tidur sangat awal membuat mimpi lebih panjang, rupanya. Mimpiku kali ini sangat teratur dan mudah sekali diingat detailnya dari awal hingga akhir. Pun siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya, tokoh-tokohnya. Aku kira aku mudah mengingatnya karena mimpi ini juga merupakan pengulangan dari banyak mimpiku malam-malam sebelumnya. Dari berbulan-bulan yang silam. Mungkin benar dugaan selama ini bahwa mimpi adalah sebuah video rekaman dari keinginan/kejadian/ramalan/dll yang terpendam di bawah sadar.

Spesial untuk mimpiku yang ini, aku akan cerita detailnya dalam bentuk cerpen saja, tapi nanti ya. Bukan sekarang.

Friday, March 26, 2010

Friend

Mungkin tidak makan bersama, tidak tidur bersama, tidak berjalan bersama. Bahkan tidak saling menatap, menyentuh, bercakap.

Tapi saat aku bisa memandangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan gembira.
Tapi saat aku bisa memegangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rindu.
Tapi saat aku bisa menyapamu, aku hanya bisa melakukannya dengan tersenyum.

Tidak ada pilihan sikap lain.

Pun ketika mengenangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rasa syukur, bahwa engkau adalah temanku.

Thursday, March 25, 2010

Teach


Bicara. Berarti mendengarkan.
Mengajar. Berarti belajar, diajar.

Mother Love

Mencintai hingga sakit? Aku tetap sakit. Dan aku tetap cinta. Mau apa?
Hanya aku ingin mengubahnya. Cinta yang tidak menyakitimu.

Wednesday, March 24, 2010

Wink

Aku berdiri jangkung di depannya dengan sangat malu.
"Ini bukan soal teman-temannya, guru-gurunya dan sebagainya. Bahkan juga bukan soal Albert. Ini adalah tentang dirimu. Lihatlah dirimu sendiri."
Ya, seperti itulah. Aku akan cari jawabnya.
"Tidak untukku atau untuk orang lain. Tapi untuk dirimu sendiri. Maaf ya."
Ya.

Monday, March 22, 2010

Like My Son

"Hanya karena hal sepele, matanya pasti meleleh. Waktu pindah kelas itu, sandalnya nyelip entah bagaimana, ketukar ke kelas yang lain. Aduh, mam, air matanya itu... Mbok dicari dulu, wong teman-temannya saja mau bantu kok."
"Memang begitu, bu?"
"Iya, lalu waktu berenang itu. Celananya dipakai oleh Davin. Celana Davin masuk ke tasnya sendiri. Nah, belum apa-apa sudah air mata dulu. Tanpa suara. Tapi begitu ketemu, ya sudah, nyengenges dia. Senyum lebar."
"Dia memang sensitif, bu."
"Iya, memang, mam."
"Aku kira seperti ibunya."
"Hahaha...cocok."

(Aku pun terbawa ke masa kanak-kanakku. Seperti anak laki-lakiku ini. Tidak ada yang salah.)

Friday, March 19, 2010

Belajar Berpisah

Kehilangan orang dekat karena kematian sungguh menorehkan beribu perasaan yang tak dapat terlukiskan. Satu pembelajaran lagi dari peristiwa kematian adalah bagaimana aku bisa belajar untuk berpisah. Perpisahan harus diolah supaya tidak sekedar menjadi perpisahan. Belajar berpisah.

Saturday, January 16, 2010

Awal Tahun yang Terlambat

Biasanya pada awal tahun aku membuat misi khusus sepanjang satu tahun. Tahun 2010 ini aku mempunyai misi : menjadi serius. Aku hanya mau serius pada apa yang sudah aku kerjakan. Sudah jadi kulinya Majalah Nuntius ya kuli yang serius. Jadi pekerjanya bagian JP ya serius jadi pejuang keadilan dan perdamaian. Sudah jadi istri dan ibu yang serius jadi istri dan ibu. Sudah jadi bagian pada titik-titik pertemanan, ya serius jadi teman yang baik bagi mereka itu. Sudah kadung cinta pada puisi dan cerpen ya serius pada puisi dan cerpen. Sudah terlanjur cinta dengan banyak kekasih ya aku akan serius mencinta. Pokoknya tahun 2010 ini akan jadi tahun yang serius buatku. Dukung aku ya teman-teman...

Monday, November 23, 2009

Fly

















Aku belajar terbang, lagi.
Hmm...melayang...terbang...seperti anak-anak... bersama anak-anak...

Wednesday, November 18, 2009

Tolol

Aku adalah orang tolol. Yang tersenyum pada tembok yang berjalan ke arahku, siap untuk aku tabrak. Sungguh telah aku tabrak dan aku belum sadar juga bahwa tembok itu penuh dengan paku, melukaiku. Aku tidak sadar bahwa tubuhku sudah berdarah saat aku menyentuk tembok itu bukan hanya saat sekarang ini ketika aku terjepit di antaranya. Yah, tolol sungguh aku yang mengira bahwa aku memegang cermin dengan bayangan di belakang saja. Tidak, aku sungguh-sungguh dihancurkan oleh tembok berpaku yang saat ini menjepitku.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.

Tuesday, November 17, 2009

Umbrella

Aku punya payung yang dengan sangat terpaksa aku kembangkan. Ini karena hujan yang bertubi. Ah, ya teman, betul katamu, aku adalah penyuka hujan. Ah bahkan lebih dari itu, aku cinta hujan. Tapi ternyata aku butuh payung jika hujan-hujan mulai menyakitiku. Yah, aku perlu payung yang mengembang. Melindungi dari sakit karena hujan yang bertubi.

Thursday, November 12, 2009

Apa mauku?

Setelah ribut sibuk menyebutkan sekalian keinginan yang berhamburan di pikiranku aku terdiam oleh pertanyaan :"Lalu, apa maumu?"
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.

(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)

Friday, November 06, 2009

Kehujanan

Semalam aku kehujanan. Aku menggigil di depan anugerah besar. Menangkupkan tangan erat-erat di badanku, mencoba mencari kehangatan dari tanganku sendiri. Beberapa tetes di pipiku sebagian masuk ke bibirku. Mengingatkanku bahwa aku sangat haus. Aku ingat ada botol air minum di tasku, tapi ternyata tak ada lagi isinya.
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."