Friday, November 24, 2017

Masih Tentang Cinta

Mainou Island Germany, April 2017

Ini adalah puisi yang kubuat pada 24 Nopember 2015. Muncul lagi hari ini gegara Facebook menampilkan memory. Mesti kupasang di sini sebagai pengingat dan juga karena kaitan dengan crazy love yang kutulis kemarin. Ini semodel cinta gila. Saat dikatakan memang cinta itu terasa manis berlumur madu dan coklat. Nah saat dikerjakan ya potongan brotowali itulah rasanya.

TEORI SANG PERAMU
Sepasang pleci milik sang peramu mengabarkan semi
bertabur kuning kelopak-kelopak angsana
berderap di pintu rumah pemiliknya 
sebagai kabar sukacita bagi para petani.
Bersama dengan hujan pertama bulan ini
sebiji tekad dibenamkan dalam lumpur sawah
dan sang peramu berbisik di pipiku.
"Nak, cintamu tak mungkin disebut cinta
jika kau membutuhkannya."
Aku mengalihkan pandang pada kunyit
kapulaga, dedaunan dan akar-akar
dalam remasan tangannya.
Setetes sari memercik pahit di sudut bibir
lesap dalam sel-sel tubuhku.
"Tapi aku membutuhkannya untuk denyut semestaku."
Sang peramu mengatupkan bibirnya
menahan suara di ulir urat daun sirih.
"Aku mencintainya dan aku membutuhkannya."
Lolong yang tak kukenali menguar dari tenggorokanku
bercampur dengan isak tangis asing dari mataku sendiri.
Sang peramu bertahan diam
menyorongkan air perasan jahe dan gula jawa.
"Benarkah cinta yang murni itu terjadi
jika aku tidak membutuhkan orang yang kucintai?
Benarkah aku tak berhak memaksakan perpaduan cinta
dan membuatku bahagia?"
Sang peramu menggelengkan kepala
meraup segenggam biji juwawut,
melangkah ke ujung beranda.
Sepasang pleci miliknya menguatkan suara
bernyanyi lebih merdu untuk telapak yang penuh sajian.
"Aku peduli padanya,
ingin tersambung terus dengannya
ingin merasainya."
Setengah malas angin membawa bisikannya
tentang ukuran-ukuran, meteran dan alat timbang.
"Jika kebutuhanmu tak terpenuhi,
juga keinginan-keinginanmu membeku di ujung lidah,
dan nestapa menggenang di pelupuk mata,
masihkah kau ingin memberikan cinta padanya?
Atau kau sudah mulai mengikisnya?
Atau kau akan mulai menuntutnya?"
Sang peramu melemaskan tubuh di kursi goyang
menikmati dendang pleci dan mulai terkantuk-kantuk.
Diabaikannya sisa-sisa ramuan
ampas-ampas terbuang dan aku yang mulai terbatuk-batuk.
Ditunjukkannya segelas jamu berhias potongan brotowali
keruh beraroma menyengat di atas nampan pesanan.
"Untukmu."
Jemarinya bergerak pelan di gagang kursi
menyilakan tubuhku menerimanya.
Membiarkan penentuan-penentuan di mana kalimat digantung
pada koma pada titik pada tanda seru atau tanya.
Selama aku mempertimbangkan sajiannya
sang peramu telah membenahi letak tubuh
mengelesot bersandar pada pasak mahoni.
Lirih dengan nada bosan dia mengucap :
"Pulanglah."
...
24 Nopember 2015

Puisi ini belum kuedit lagi setelah setelah lewat dua tahun. Sementara kuanggap kalimat-kalimatnya memang cocok dengan pesan yang aku ingin sampaikan. Jadi biar terpasang dulu di sini.

Thursday, November 23, 2017

Lembur : Lembaran Buruh

Tumpukan Lembur beberapa edisi, juga yang sudah dijilid.
Sedang mencari buku untuk tambahan bahan presentasi tanggal 3 Desember mendatang kok tumpukan jilidan buku ini menyalak. Duh. Spontan ingat Mbah Baron. Dia yang menjilid Lembur-Lembur ini beberapa tahun lalu. Setiap periode pasti diserahkan padaku sedang yang lain untuk beberapa orang lainnya. Yang kuingat dikatakannya : "Aku sangat cinta buletin ini." Duh. Apalagi gue. Gue kan termasuk bidannya.

Aku mengingat buletin Lembur ini terbit tiap bulan dalam beberapa tahun. Edisi pertamanya Tanpa warna, dibuat setelah pelatihan jurnalistik untuk jaringan Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL) pada tahun 2016. Setelah pelatihan yang diisi oleh Reza (waktu itu FMN, sekarang mungkin masih di Tribun), aku (waktu itu di Nuntius, sekarang tetap kiwar kiwir), lalu si ... aduh sapa namanya orang itu ya. Mungkin si Oki juga ikut ngisi? Hmmm... aku lupa.

Setelah pelatihan jurnalistik untuk para aktifis buruh itu, muncul kesepakatan untuk membuat buletin dari buruh untuk buruh dan untuk buruh. Itulah sebagian penampakan hasil kerja mereka itu. Terbit tiap bulan sekali. Diedarkan ke serikat buruh dalam jaringan FKSPL. Banyak orang terlibat dalam penggarapan buletin ini. Ada yang nyumbangin duit. Tenaga. Berita. Tulisan. Doa. Hehehe...

Sayang buletin ini hanya bertahan sekitar tiga tahun. Kira-kira 36 edisi. Mungkin yang pernah berelasi dengan FKSPL bisa mengingat buletin ini.

Crazy Love

Setiap kali hanya satu langkah.
Ini perbincangan yang sangat disukai oleh siapapun. Bicara tentang cinta. Misalnya aku bertanya : Apakah cinta menurutmu?

Hmmm... aku yakin akan muncul banyak versi. Dari yang sepele bilang cinta itu buta. Membuat tahi kucing berasa coklat. Atau yang lebih puitis : Cinta adalah fajar yang terbit dalam sepasang matamu. Hihihi...

Ndaklah, bukan itu maksudku. Ini tentang cinta gila, cinta yang terasa dalam dada begitu kuatnya sehingga membuat tak berdaya karena menghadapinya. Uhui. Adakah cinta macam begitu? Ini bukan hanya semacam debar dan gelenyar yang muncul di seluruh permukaan kulit karena mendengar suaranya atau hal-hal yang semacam itu. Ini tentang cinta gila, cinta yang terus tumbuh walau pun hujan badai topan menghantam sehingga memampukan untuk melakukan hal-hal yang tak masuk akal.

Aku menyebut salah satu tokoh cinta gila adalah Jalalludin Rumi. Lihat cuplikan syairnya ini :

Hari ini aku lupa sembahyang karena cintaku yang meluap-luap
Dan aku tak tahu lagi pagi atau malamkah sekarang
Karena ingatan pada Mu, wahai Tuhan, adalah makanan dan minumanku
Dan wajah Mu, saat aku melihat Nya, adalah obat penderitaanku

Aku adalah Dia yang kucintai dan 
Dia yang kucintai adalah aku

Lihatlah juga kisahnya ketika cinta yang meluap-luap menyergapnya. Dia akan melupakan segalanya demi Yang Tercinta. Tahan berada dalam kamar hanya berdua denganNya, hingga lupa makan. Ya, untuk apalagi makan roti ketika energi dari cinta menghidupi dan menghidupkannya? Dia lupa bekerja. Ya, karena semua sudah dicukupkan dalam cintanya. Lupa mandi. Lupa bicara. Lupa... Dia hanya terpaku padaNya, Sang Cinta.

Hehehe... piye ya cara mendapatkan pengalaman seperti itu? Yo embuh. Ini tuh seperti berjalan selangkah demi selangkah secara aktif melawan arus karena Sumber Cinta itu di hulu sana, tinggi di atas. Kalau kita melupakan langkah kita, ya arus akan membawa kita menjauh, ke hilir di laut luas sana dan tersesat. Hmmm... sementara begitu deh. Hehehe... Selamat berjuang dalam cinta yang gila!


Wednesday, November 22, 2017

Holaspica : The Dying Sky

Mbaca tulisan berikut sambil dengar ini yak : https://www.youtube.com/watch?v=gAeMq3bCxLk
Klik sini : Holaspica

Tentang apakah ini? Ini tentang Holaspica.  Virdyas Eka Diputri (VED). Aku memanggilnya Dyas. Seorang yang biasa, hohoho, tapi luar biasa. 

Kapan aku mengenalnya? Hmmm, mungkin belum kenal banget, tapi pertemuan pertamaku dengannya saat ada acara di Warung Nongkrong Bandarlampung mungkin sekitar bulan April tahun lalu, hmmm atau dua tahun lalu ya? Lupa. Pokoke aku waktu itu diundang oleh Feelmood Community untuk ngomong soal gender bersama beberapa komunitas muda, nah si Dyas ini yang jadi MCnya.

Kemudian kutahu ternyata dia ini solois keren asal Lampung yang juga dikenal dengan nama Holaspica. Lahir di Bandarlampung pada tanggal 2 September 1991, dengan aktifitas yang entahlah apa saja sehingga dia tampak aktif dan sibuk. Hehehe...

Orangnya sih begitu. Paduan biasa dan luar biasa tadi itu menyukai Mark Twain dan Edgar Allan Poe ini, menjadikan kegiatan menulis dan musiknya sebagai media dalam menyampaikan semangat diri dan ketangguhan generasi muda dalam hal mengubah atau berbagi untuk suatu tujuan yang baik. Ia mendedikasikan lagu-lagunya kepada mereka yang sadar akan "suara" nya, imajinasinya, mimpinya, dan gagasannya, untuk diwujudkan lalu dibagikan

Musisi yang menjadi line-up di Asean Literary Festival (Jakarta, 2015), Urban Gigs (Lampung – Yogyakarta, 2016), Artjog9 (Yogyakarta, 2016),  dan lewat single pertama yakni Naik ke Laut, berhasil menjadi salah satu Breaking Indonesian Artist di sebuah playlist di Apple Music Singapura (2017). Saat ini, perempuan yang sempat hijrah ke Yogyakarta sebagai Recording Artist ini, sedang menjalani rangkaian tur promosi untuk single keduanya yang baru saja dirilis yakni The dying sky. Linknya kupasang di depan tadi. 

Cek lirik lagu ini : 


Time is just ticking and ticking
Its sound bothers me
My brain won't stop working
Nonstop cracking what it aims
I'm waken up holding myself to get used with it
Stream with the flow
But prepare to cope with it

You think you're piece of crap
Maybe in your past
Your present won't gratify
Even you've done your best
Too daunted to own a future
Cause life always brings you down
But what use of living if we ain't surviving

Friends come and go
So are the lovers bind them tight
It's no use
We can only watch
They slowly fade

There will be a time of dying sky
The clouds so gray
Birds won't fly

Aku agak nyesel karena setiap dia bikin acara untuk lagunya ini pas aku sedang di negeri antah berantah yang ndak memungkinkan duduk di kursi paling depan. Huh, ini pernah kukatakan padanya saking aku menunggu konsernya. Tapi keterbatasanku itu tidak mengurangi apresiasiku pada perempuan muda yang biasa sekaligus luas biasa ini. Semangat terus, nak. Hidup ini untuk dinikmati tiap relung dan dengungnya. Hidup ini adalah kesempatan untuk merasai semua rasa. Good luck!

Radical Forgiveness

Menjelang sore di Bangsak Beach, Takua Pa, Thailand.
Tiba-tiba aku inget aku pernah membaca buku Radical Forgiveness yang ditulis oleh Colin Tipping. Bukan bentuk buku sih sebenarnya tapi hasil print out dari PDF hasil download di internet. Hehehe... Mmm suatu ketika aku akan tulis ringkasan atau resensinya, tapi untuk kali ini aku ingin menuliskan point yang kuingat dari radical forgiveness ini.

Hmmm... piye ya menuliskannya? Aku mendasarkan ini pada teori yang dari dulu kuyakini yaitu bahwa pikiran manusia mempunyai kekuatan yang besar. Itu biasa kusebut kekuatan visi. Kalau aku berpikir bahwa anak-anakku akan menjadi orang hebat dengan caranya masing-masing, pikiran itu sudah menjadi satu langkah untuk percaya bahwa anak-anakku memang hebat. Seturut waktu dengan melihat berbagai kecenderungan, kehebatan itu akan semakin terlihat detailnya. Aku hanya akan sibuk dengan kehebatan-kehebatan anakku dan membangun kepercayaannya dengan menyodorkan bukti-bukti bahwa memang anakku hebat. Aku akan berusaha membuktikan hal itu dengan segala upaya, sekuat tenaga.

Demikian juga pengampunan yang radikal ini bekerja. Misalnya, aku berpikir negatif tentang seseorang : "Dia nanti pasti akan menjelek-jelekkan aku di depan umum." Dimanakah posisiku? Jika aku berharap dia nanti tidak akan menjelekkan aku di depan umum, maka aku harus berupaya meyakini bahwa pikiranku itu salah. Dengan demikian aku tidak perlu berupaya apa pun untuk membuktikan kebenaran pikiran itu. Munculnya upaya untuk membuktikan kebenaran pikiranku itu akan terlihat saat kita bilang :"Tuh, benar kan. Dia pasti menjelekkan aku di depan umum."

Kalau kita mau melakukan pengampunan yang radikal, kita mestinya rela berharap bahwa pikiran kita salah, bahwa kita salah. Kita akan membangun kepercayaan positif, dan itulah langkah awal untuk membangun situasi yang positif : "Dia tidak akan menjelekkan aku di depan umum." Karena aku percaya maka saat aku bertemu dia di pintu gerbang sebelum bersama masuk dalam pertemuan, aku akan menjabat tangannya, tersenyum dan membangun kepercayaan bahwa tindakan ini akan mendukung bukti : Dia tidak akan menjelekkan aku di depan umum.

Kalau pun terjadi ternyata dia menjelekkan aku, bagaimana radical forgiveness ini dilakukan? Aku akan berpikir : Dia tak akan melakukannya lain kali. Jadi aku mendatanginya, kembali tersenyum, menjabat tangan dan bicara tentang hal-hal lain untuk membangun kepercayaan itu.

Contoh lain misalnya seorang pacar bilang : "Kau pasti mengirim foto-foto ke cowok itu." Itu karena suatu waktu dulu si pacar pernah memergoki kekasihnya itu mengirim foto-foto ke orang lain. Kalau hal itu menjadi keyakinan, pikiran si pacar akan berusaha membuktikan bahwa dirinya benar. Dia akan mencari segala bukti untuk menunjukkan : "Nah, benar kan kataku. Kau memang mengirim foto-foto ke cowok lain." Kira-kira apa jawaban pasangannya? Marah. "Kalau benar memangnya kenapa? Apa salahku?" Ini sudah jadi pertengkaran. "Kau tidak cinta aku." Hmmm... "Memang. Aku tidak cinta. Kita putus."

Radikal forgiveness berarti merelakan diri bahwa pikirannya bisa salah. Bahkan membuktikan bahwa pikiran negatifnya adalah salah. Dalam hidup sehari-hari sering muncul kalimat : "Nah, kan sudah ibu bilang, jangan lari-lari. Jatuh." Duh. Lari-lari kan tidak selalu berakhir dengan jatuh. Tapi pikiran ibu yang ingin selalu benar ingin membuktikan kata-katanya memang benar menjadi sugesti juga bagi terjadinya jatuh itu.  Padahal kan dia juga tak ingin anaknya jatuh toh?

Bagaimana seharusnya kalimat yang lebih positif? "Kalian boleh lari-lari. Tapi hati-hati saat dekat genangan air itu ya." Atau,"Hati-hati. Ibu kadang kuatir kalau kalian lari-lari di sana. Tapi tak masalah." Radical forgiveness menampakkan cinta. Ingin membuktikan bahwa yang akan terjadi adalah yang terbaik. Dengan demikian akan melakukan segala upaya untuk sampai pada yang terbaik itu, walau harus rendah hati berharap : semoga aku salah. Semoga pikiran jelekku salah. Dan engkaulah yang benar.

Bisakah hal ini diterapkan pada urusan yang lebih umum untuk kepentingan umum? Misalnya pikiran-pikiran jelekku terhadap Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sekarang ini. Tentang Habib Risiek? Tentang Setnov? Tentang ... Karena kalau pikiran jelekku ini terbukti, kasihan betul orang Jakarta, orang Indonesia, kasihan betul aku ini... duh. Lebih baik aku salah dan nanti Anis - Sandi bisa pongah juga tak apa, asal gambaran jelek itu tak terjadi.

Nah, itu baru satu point dalam radical forgiveness. Selebihnya yo ndak cukup hanya pasif. Ini tentang sesuatu yang aktif, yang hidup,... Bukan yang diem mandeg. Nah... sulit banget, saudara-saudara. Kecenderunganku ya : Aku benar. Kau salah. Kalau kau main-main, habis hidupmu!

Huft...

Tuesday, November 21, 2017

Kue Cucur atau Kucur

Anakku akan bilang : "Ibu, mah kids jaman old." Kalau kusebut kesukaanku pada waktu masa kecil dulu kue manis penuh minyak berwarna coklat ini. Namanya kue cucur atau disebut juga kue kucur.

Saat aku di Lampung, kue ini sempat hilang dari jenis kue yang mudah kubeli seperti saat masih tinggal di Kediri atau Malang. Tapi kemudian aku menemukan di beberapa pasar tradisional yang ada di Lampung. Jadi sekarang aku tak perlu baper penuh rindu kalau pengin makan kue ini walau pun mesti pilih-pilih juga karena tidak semua penjual menyajikan kue yang enak dengan bahan yang berkualitas.

Nah, aku harus mengakui kalau aku belum bisa membuat kue ini. Foto yang kupasang itu kudapat dari penjual belanjaan di Senduro. Harganya Rp. 500 per buah. Sangat murah dan sangat enak. Mau tahu cara membuatnya? Klik aja di internet browser. Hihihi...


Monday, November 20, 2017

Bubur Ayam Stasiun Gambir

Aku suka bubur. Ini tak bisa terbantahkan. Bubur ketan hitam, atau dicampur kacang hijau. Bubur sumsum. Bubur pedas pontianak. Bubur manado. Bubur candil. Bubur sengkolo. Bubur ayam. Apa saja.

Nah, ini nih termasuk bubur yang enak dari antara bubur yang pernah kumakan. Dibilang promosi ya ndak papa deh. Bubur ayam di pojokan Stasiun Gambir ini menempati rangking atas dari antara bubur ayam yang pernah kusantap. Tempatnya sih sederhana, di bawah pohon, di dekat pintu masuk Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Gerobak kayu seperti biasa dan memakai bangku-bangku untuk mnampung pelanggan yang ingin menikmati bubur di tempat.

Penjualnya tidak memberi kacang kedelai. Kaldu ayamnya ambil sendiri dari botol-botol yang diletakkan di meja. Kacang kedelei dan kaldu ayam termasuk yang tidak kusertakan kalau makan bubur ayam.

Isi buburnya simpel tapi lezat. Ayamnya disuir-suir. Tuh kelihatan di mangkok. Cakwe iris, daun bawang dan selederi dan sedikit krupuk yang udah diremes. Paduan dalam mangkok terasa pas, tidak terlalu banyak atau sedikit. Pokoke cocok untuk sarapan dah. Dan harganya murah, hanya Rp. 15.000,- per mangkok. Mantap dah.

Tempatnya ya memang warung terbuka, kalau hujan bisa lari ke dalam stasiun. Tapi cukup bersih. Tuh lihat penampakannya saat kufoto hari ini, 20 Nopember 2017 pagi jam 08.00 setelah turun dari bis Damri dari Bandara. Oke banget kan? Jadi kalau lagi transit di situ pagi-pagi, inilah menu yang tepat untuk sarapan. Uhuiii...

Sunday, November 19, 2017

Tentang Kematian

Sebenarnya sudah hampir lupa tentang pikiran ini, tapi karena kemarin ada dua berita duka yang hampir bersamaan yaitu Kakek Basri (perumahan Polri) dan Nenek Kantiyem (Sidomulyo), pikiran tentang kematian ini teringat kembali. Ini adalah pikiran yang mulai muncul menjelang kematian Bapak V.J. Suliham. Yach, aku memang dekat dengan bapak mertuaku ini. Beberapa saat malah sangat dekat karena sering berbincang tentang segala hal termasuk kekuatiran, pencerahan dan sebagainya.

Setelah beberapa bulan sakit yang cukup parah, aku tak juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi bapak. Kanker pada prostat dan batu ginjal membuat bapak terlihat sangat surut jika mengamati foto-foto yang dikirim Mas Hendro atau saudara-saudari kerabat dekat lewat WA.

Salah satu titik di B 29 Lumajang saat matahari terbit.
Sabtu itu, 11 Nopember 2017, Mas Hendro memberi kabar kalau bapak ngedrop dan harus dibawa ke rumah sakit di Lumajang. Sepanjang malam, aku ingat bapak sesekali sedang tubuh yang sedang sangat capek merasa mengantuk dari sore. Hal yang sama sepertinya juga dirasakan oleh Mas Hendro, Albert dan Bernard. Mereka tidur tidak terlalu larut. Bernard yang biasanya main dengan Afif sudah tidur. Aku menyusul kemudian. Mas Hendro jelas tidur di sebelahku. Dan saat aku bangun sekitar pukul 01.00 aku melihat Albert pules di depan tivi dengan baju lengkap. Biasanya dia kopdar dengan anak-anak motor. Kupikir dia baru pulang dan tidak sempat melepas baju, tapi kemudian dia bilang bahwa dia tidak keluar rumah. Setelah ganti baju, berbaring dan tertidur.

Ninik, adik Mas Hendro yang di Lumajang beberapa kali menelpon. Aku merasa seperti sedang menunggu kelahiran tanpa terlalu jelas bagaimana dan mengapa. Saat pukul 04.00 Ninik menelpon lagi, aku sudah tahu kalau bapak sudah berpulang. Mas Hendro menandaskan kemudian : Bapak sudah tak ada.

Aku terduduk, diam. Sedih, tapi juga lega. Mungkin malah yang dominan adalah perasaan lega. Beberapa tetes air mata mengalir. Aku duduk menempel Mas Hendro yang juga diam. Baru kemudian aku membangunkan Albert dan Bernard sambil berbisik tentang kabar duka itu.

Ini bukan hal yang biasa kurasakan walau aku selalu melihat kematian adalah suatu kewajaran, kepastian. Menyamakan kematian dengan kelahiran rupanya bisa menjadi titik acuan pikiran-pikiran selanjutnya. Bukankah kematian menjadi gerbang untuk masuk ke 'alam lain' dalam penyatuan dengan Yang Ilahi? Bukankah kematian adalah awal bagi kehidupan abadi? 

Misteri yang selamanya jadi misteri.

Saturday, November 18, 2017

Puisi Sabtu 2 : LENTERA Karya Sani L. Xia

LENTERA

; Sastrawan Yuli Nugrahani


  bilakah prasasti baru di bumi
  kala lama gulita tak bertanda?
  setabib pemilik mantra bercerita
  tentang lentera dari surga :
  mereka yang bersinar pernah membangun piramida,
  membentuk xia, mengukir stupa…
  menghampir ke berbagai depa singgasana
  lalu terbukalah segala cahaya :
  terjadilah awal mula

  seperti Dharmathaisi ketika meditasi di gobi
  pemilik falsafah sebelum matahari terbenam
  dia lihat Mei Hua bermekaran bertabur gula surga
  namun ribuan jemari menjadi kerah Angulimala
  di jalan sutera

  tetapi jaminan yang tertulis dari surga tetap kekal adanya
  segala kata yang Tuhan cipta
  berkilauan dari daun yang merimbun
  di dekat singgasana dari kolam jernih
  tempat dibangunnya segala janji :
  rupanya dari sanalah cahaya itu turun
  dan telah tercatat bertahun kurun



 19 Maret 2017

  -------------
Sani L. Xia adalah nama pena dari Herasani, atau biasa dipanggil dengan nama kecil Sani, lahir di Pesawaran, Lampung, pada 25 Juli 1987. Mulai menulis sejak 2004. Karyanya pernah dimuat Lampung Post, Bobo, Vemale.com dan Sajak Tanah Airku. Setelah sempat vakum berkarya di akhir 2009, tahun 2016  kembali menulis. Puisinya masuk dalam antologi “100 Puisi Qurani 2016” yang digelar Parmusi. Salah satu cerpennya tergabung dalam antologi cerpen dan puisi “Akar Rumput” bersama Komunitas Kampoeng Jerami. Menghimpun dan menjadi editor  “10 Cerpen Terbaik Lomba Menulis Cerpen HUT ke 71 Bhayangkara Polda Lampung 2017”. Bergiat di Sun Love Community.

Friday, November 17, 2017

Setnov yang Sungguh Kasihan

Jadi gini ya, guys, kita ini kan percaya bahwa manusia itu ciptaan Tuhan, Allah Sang Ilahi. Manusia ciptaan yang spesial banget dengan karunia akal budi dan kebebasan. Akal budi dan kebebasan ini menjadi sarana bagi tiap manusia untuk belajar. Belajar jadi manusia. Belajar jadi ciptaan. Hingga akhirnya nanti kembali pada Sang Ilahi Pencipta secara layak.

Ini tak terkecuali tentang Setya Novanto, atau populer juga disebut Setnov. Sebagai manusia dia diberi kesempatan untuk belajar lewat karakternya, sifatnya, posisinya, harta miliknya, relasinya dan sebagainya. Harusnya dia ini manusia yang beruntung karena dia populer, kaya, punya kedudukan dan terhormat di mata manusia lain. Dia dapat kesempatan lebih banyak dibanding manusia-manusia lain.

Tapi, aduh, sebagai salah satu manusia yang lain kayak aku ini, sekarang jadi mikir kalau keberuntungan dia tuh tak sebanding dengan kemalangannya. Tubuhnya begitu lemah. Punya banyak penyakit yang berusaha dia buktikan ke khalayak karena sering kali masyarakat ndak percaya kalau dia ini penyakitan. Kan bisa dilihat dari banyak foto. Dia ini mudah mengantuk, harus berbaring di rumah sakit dan sebagainya. Itu salah satu tanda tubuhnya yang bermasalah. Sungguh kasihan. Sudahlah, guys, percaya saja bahwa dia ini memang penyakitan, bertubuh lemah. Sungguh kasihan.

Kemalangan lain, dia sering mendapat musibah. Musibahnya yang terakhir melibatkan tiang listrik dan Fortuner. Bahkan dalam mobil mewah pun dia tak punya pengaman. Harus menderita benjolan sebesar bakpau. Sungguh kasihan. Aku kebentur dikit saja sudah nangis-nangis walau aku tak suka difoto saat sakit. Dia sudah membuktikan dengan fotonya. Sungguh kasihan, Sudahlah, guys, percaya saja, nasibnya memang malang. Sopir yang piawai, mobil yang mewah, dan tiang listrik yang tak bergerak, pun tidak melindunginya dari nasib malang. Sungguh kasihan.

Yang berikutnya, dia ini sering jadi korban bullying. Ayolah, dia ini korban bully, bukan pelaku. Hambok sudah, sungguh kasihan jadi korban terus terusan. (Tapi jangan tanya salah dia ini apa ya. Aku jadi mules mual nih kalau mengingatnya. Bentar... mau ke WC dulu.) Pokoke Setnov yang sungguh kasihan sebagai manusia.

Kalau masih ingin mendapatkan kegembiraan dari peristiwa-peristiwa ini, mari kita doakan Setnov, guys. Semoga dia berani menghadapi semua ini sebagai manusia (bukan sebagai politikus, pembohong, koruptor dll). Sebagai manusia saja. Sehingga kalau memang tiba saatnya nanti, dia mampu mengambil hikmah dari keberuntungan maupun kemalangannya selama ini. Dan marilah kita terima efek dari berita-berita tentang Setnov ini dengan tawakal sehingga kita tabah merasakan mual mules kita juga kemarahan atau ketidaksabaran kita mendengar hal-hal yang terkait dengan Setnov yang sungguh kasihan ini.

V.J. Suliham : Pejuang yang Idealis

Hari ini aku kembali di rumah setelah beberapa hari berada dalam perjalanan untuk bapak V.J. Suliham. Bapak Suliham meninggal pada umur 74 tahun, pada 12 Nopember 2017 pukul 04.00 di Lumajang. Aku ingin mencatat peristiwa ini supaya aku mampu mengingatnya kelak.

Aku mengenal bapak sekitar tahun 1996 atau 1997 saat bapak Suliham menjadi sinder Perhutani di Bagor, Nganjuk. Saat itu aku mulai dekat dengan Mas Hendro (sekarang suamiku) dan karena keterbatasan waktu untuk bertemu di tempat lain, Mas Hendro mengundangku ke rumah dinas bapaknya.

Bapak Suliham menyambut kedatanganku biasa saja. Karena aku dekat juga dengan Atik dan Ninik, adik-adik Mas Hendro, maka kedatanganku sepertinya dianggap seperti kedatangan teman dari anak-anaknya. Bahkan bapak terlihat biasa saat aku juga menginap di rumah itu.

Yang agak mengejutkanku, saat malam aku mau pipis, aku melewati dapur. Bapak sedang membersihkan kompor, menata kembali panci wajan dan segala perlengkapan, dan menutup meja kompor dengan rapi. Bagiku pemandangan itu tidak biasa. Aku ingat bapak Samiran, bapakku tercinta, nyaris tidak pernah menyentuh dapur.

Tapi kemudian aku pelan-pelan mengenal bapak Suliham yang sangat teliti, bersih dan tidak bisa membiarkan hal-hal apa pun dibiarkan berantakan. Sejak ditinggal ibu tahun 1993, bapak menjadi sekaligus ibu. Tegas untuk banyak hal. Peduli terhadap segala hal. Dan kemudian aku tahu, bahwa bapak sangat idealis. Waktu tahu aku jadi wartawan, bapak mempertanyakan aku habis-habisan berdasarkan pengalamannya menghadapi wartawan-wartawan bodong yang meminta amplop. Duh. Untung aku tetap diterima sebagai mantu.

Saat mendengar kabar bapak meninggal, aku seperti ngambang, sedih sekaligus lega. Sedih. Ya sedih sekali. Aku cukup dekat dengan bapak. Lega, ya lega. Karena bapak tidak lagi menderita sakit. Bapak jarang sekali sakit, tapi pada akhir hidupnya bapak menderita kanker prostat dan batu ginjal yang cukup parah. Sudah dua kali operasi dalam dua bulan terakhir. Dan mestinya operasi sekali lagi sekitar dua bulan lagi.

Sekarang, doa. Doa yang bisa kukirimkan untuk bapak. Semua sudah selesai dilewati oleh bapak. Dari 15 Agustus 1943 hingga wafatnya 12 Nopember 2017.



Saturday, November 11, 2017

Disetujui Sebagai Mitra Kerja Google AdSense

Kemarin, saat melihat surat-surat yang masuk ke email dengan harapan sebuah naskah dari seorang teman untuk buku yang kami kerjakan, aku melihat notifikasi yang tak biasa muncul pada tanggal 8 Nopember 2017 dari tim Google AdSense. Lalu diikuti notifikasi selanjutnya dengan tulisan : Great News! Ads are now live on your site. Wah! Aku udah nyaris lupa pernah mengajukan penggunaan AdSense untuk blog yang kurawat sejak 2006 ini. Hampir 2 bulan baru disetujui. Yeaaaa....

Apa sih AdSense itu? Ini lihat di Wikipedia :
"AdSense adalah program kerjasama periklanan melalui media Internet yang diselenggarakan oleh Google. Melalui program periklanan AdSense, pemilik situs web atau blog yang telah mendaftar dan disetujui keanggotaannya diperbolehkan memasang unit iklan yang bentuk dan materinya telah ditentukan oleh Google di halaman web mereka. Pemilik situs web atau blog akan mendapatkan pemasukan berupa pembagian keuntungan dari Google untuk setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs, yang dikenal sebagai sistem pay per click (ppc) atau bayar per klik.
Selain menyediakan iklan-iklan dengan sistem bayar per klik, Google AdSense juga menyediakan AdSense untuk pencarian (AdSense for Search) dan iklan arahan (Referral). Pada AdSense untuk pencarian, pemilik situs web dapat memasang kotak pencarian Google di halaman web mereka. Pemilik situs akan mendapatkan pemasukan dari Google untuk setiap pencarian yang dilakukan pengunjung melalui kotak pencarian tersebut, yang berlanjut dengan klik pada iklan yang disertakan pada hasil pencarian. Pada iklan arahan, pemilik situs akan menerima pemasukan setelah klik pada iklan berlanjut dengan tindakan tertentu oleh pengunjung yang telah disepakati antara Google dengan pemasang iklan tersebut." 

Nah. Itu. Walau aku nih katrok, belum ngerti gimana-gimananya, rasanya jadi semangat banget. Beberapa bulan ini blog ini seperti anak tiri, jarang kutengok. Kini jadi semangat lagi mengelolanya. Malam aku langsung kontak Ihan yang bantu aku mengajukan permohonan AdSense. Sebelnya, dia kayak ndak percaya. Yaelah, aku mesti meyakinkan dia kalau : "Lihat tuh, iklan-iklannya sudah muncul di blogku." Hehehe...
Wis. Nanti kita lihat deh selanjutnya. Aku akan cerita lagi kalau nemuin sesuai yang menarik dan perlu diceritakan dari AdSense sesuai pengalamanku. Silakan menikmati blogku yang semakin penuh warna yak.

Puisi Sabtu 1 : TERATAI BATU karya Fendi Kachonk

TERATAI BATU


Ia tumbuh satu kali dalam satu musim;
Musim yang tak memiliki mata dan telinga
Menangkapnya dalam sunyi, di kaki bukit
Saat burung-burung terbang menghindari
Lahan tandus, pernah memberinya nama

Ia pun tumbuh seperti sepasang jamur
Di antara deru hujan, setelah kemarau
Ia tak mengenal negeri yang begitu acuh
Pada rumah akar, pada sunyinya musim
Menangkapnya dalam sunyi, di kaki bukit

Ia tumbuh atas belaian angin dan langit
Yang hijau dari Rabu, yang berdebu, abu
antara batu-batu yang memancar cahaya
Ia tidur di atas tanah dan ribuan permata
Demi api, perihal hangus di pembakaran

Ia tumbuh atas restu; kuasa rumput ilalang
Pada desir cemas serta kerisauan, musim,
Menangkapnya dalam sendiri, di kaki bukit
meramal hari Kliwon dan tahun juga musim
serupa kepodang yang akan saling ingkar

Moncek, 091017

---------------

Fendi Kachonk,
lahir dan menetap di Desa Moncek Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Aktif di komunitas yang didirikannya yaitu Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ), Forum Belajar Sastra (FBS), dan Taneyan Kesenian Bluto (TKB). Karyanya berupa esai dan puisi pernah dimuat di berbagai media dan antologi bersama. Buku puisinya Lembah Kupu-kupu (2014), Tanah Silam (2015), Surat dari Timur (2016), dan pada tahun ini menerbitkan buku Halaman yang Lain.

Friday, November 10, 2017

Pengumuman : Rubrik Baru untuk Blog Ini

Blog ini aku kelola sedari tahun 2006. Cukup lama juga, sudah berumur 11 tahun. Cek postinganku yang pertama ini. Tepatnya pada 20 Juli 2006.

Nah, bertepatan dengan Hari Pahlawan, pada hari ini aku hendak memulai kembali merawat blog ini dengan lebih rutin. (Pada beberapa orang kubilang : akan kukelola secara lebih profesional. Hehehe.) Ada beberapa rubrik yang akan aku tambahkan sebagai warna. Karena aku masih juga katrok dalam hal begini-begini, mohon maafkan jika kalian kadang menemui hal-hal yang tidak secanggih yang seharusnya bisa dibuat untuk blog.

Satu rubrik pertama yang akan aku pasang untuk blog ini adalah rubrik Puisi Sabtu. Rubrik ini akan memunculkan sebuah puisi yang akan diposting setiap hari Sabtu. Siapakah yang bisa mengisi rubrik ini? Siapa pun yang punya puisi dan ingin dimuat dalam blog ini, silakan kirim ke emailku : yulinugrahani@yahoo.com. Sertai dengan biodata seperlunya dan foto yang paling menarik. Tentu saja yang paling banyak terpajang nantinya adalah puisiku. Ya iyalah, secara ini kan blog punya gue. Hehehe...
Redaktur katrok blog ini : Yuli Nugrahani

Blog ini adalah blog untuk bergembira. Jadi pemasangan satu rubrik ini, juga untuk bergembira. Ndak usah ngarep dapat honor yeee...  Mau tahu puisi siapa yang akan tampil perdana besok Sabtu 11 Nopember 2017? Pantengin terus dah blog ini.

Setelah rubrik Puisi Sabtu, nanti akan ada rubrik-rubrik lain yang diisi berdasarkan hari. Sedangkan hal-hal lain yang aku posting ya masih seperti biasa, sesuka-suka akuuhhh...

Talang Indah, Pringsewu

Salah satu foto yang kusuka, di ambil di dekat puncak bukit Pangonan.
Namanya sih begitu, Talang Indah. Letaknya di daerah Pringsewu ke arah Gisting. Dari pasar Pringsweu sekitar 3 atau 4 km ada tanda di sebelah kanan jalan untuk masuk lokasi. Ini wisata model 'kekinian' yang sebenarnya di luar seleraku. Tapi yo biar 'kekinian' tahu macam apa tempat ini, aku girang hati saja ketika kelompok GATK Lampung merencanakan ke sana usai rapat di Pringsewu.

"Makan di Pringsewu lalu foto-foto di Talang."

Hehehe... Okey deh. Tempat yang sudah direkayasa. Hehehe... tidak lagi alami. Mungkin memang beginilah selera jaman now. Foto berdua dengan love-love dari dari rangkaian bunga plastik. Aidahkidah. Hehehe...

Berhubung aku pergi dalam rombongan ya, asyik aja. Tertawa sana sini mencoba beberapa spot foto. Sayangnya setiap mau foto harus bayar juga di sana sini, ada yang 3000 atau 5000. Ealah. Kenapa tidak di depan saja bayar sekalian. Repotttt... tapi yo ra popo deh.

Apalagi yang bisa kuceritakan ya? Tempat itu berada di sekitar sungai Way Sekampung. Talang air yang melintas sungai itu digunakan juga sebagai sarana selfie or foto-fotoan cantik. Aduh, aku sulit sekali menceritakannya karena kurang menyentuhku. Hihihi. Indah. Cantik. Tapi terlalu biasa. Apa karena tempat macam gitu lagi booming di Lampung ya? Jadinya kelihatan biasaaaa banget.

Monday, October 02, 2017

Pembacaan Puisi-puisi dalam Buku Sampai Aku Lupa

Di sela pelatihan menulis cerpen untuk pelajar SMAN 1 Padangcermin Pesawaran, Lampung, aku menunjukkan buku puisi Sampai Aku Lupa. Rupanya diantara para peserta ada banyak yang suka puisi, jadi buku itu menjadi jeda yang menarik dalam pelatihan. 

Buku Sampai Aku Lupa juga ikut dalam sayembara yang diadakan oleh HPI, maka kegembiraan ini harus kusiarkan. Yang pertama dapat kesempatan adalah Adi, katanya pernah ikut lomba membaca puisi hingga tingkat nasional. Dia membaca puisi Segala Upaya (halaman 52), dengan penjiwaan yang membuatku jiwaku bergetar. Maafkanlah, memang selalu begitulah aku. Setiap mendengar puisiku dibaca, aku seperti disedot oleh jiwaku sendiri, mengingat, mengenang seluruh rasa yang melahirkan puisi itu lewat tulisanku.
Adi

... 
apa yang disebut timur
oleh anak-anak dinamakan kegembiraan
...

Kesempatan kedua sebelum sesi terakhir, Nita membaca puisi Kemarau (halaman 62). Bukan hanya aku, rupanya Nita pun meletupkan setetes bening di sudut matanya sehingga usai membaca aku tak tahan untuk tidak memeluknya.
Nita


...
Mungkin sebentar lagi suami-suami akan pulang dari ladang
entah kemana mereka berdandan sebelum menjangkau halaman
menyiapkan diri mendapati harapan di mata istrinya
yang tak bisa ditadah oleh tanah-tanah kerontang.
...


Inilah pesta pertama untuk Sampai Aku Lupa setelah dirayakan oleh orang-orang yang berkomentar di dalam buku : Fendi Kachonk, Jauhari Zaelani, Suwanda, Novi Nusaiba dan Suroso. Terimakasih untuk semua.

Pelatihan Menulis Cerpen untuk SMAN 1 Padangcermin

Bersama sebagian peserta cewek dan pak Asep.
Ketika aku dikontak pak Agus beberapa waktu lalu aku agak heran bagaimana sekolah di Padangcermin ingin belajar menulis cerpen. Setelah aku datang ke sekolah ini, SMAN 1 Padangcermin Kabupaten Pesawaran, Prop. Lampung memang menjadi sekolah rujukan nasional untuk gerakan literasi. Tidak banyak sekolah yang membuat program macam ini, tapi dengan support dari dinas pendidikan dan negara, hal seperti ini menjadi sangat mungkin.


Bersama sebagian peserta cowok, pak Agus dan pak Asep.
Pelatihan diadakan pada hari Sabtu 30 September 2017, menjelang hari kesaktian Pancasila. Peserta adalah 50an pelajar yang berminat pada cerpen. Kata pak Asep, wakil kepsek, tidak ada paksaan. "Ini ditawarkan ke anak-anak yang berminat."

Nah, itu yang kemudian menjadi asyik bagiku. Mereka penuh semangat mengikut sesi dari pukul 08.00 sampai 14.00. Dan setiap anak mempunyai satu judul cerpen yang mereka tulis. Wah.

"Pada bulan Oktober akan ada lomba menulis cerpen satu sekolah. Mereka bisa ikut dengan bekal dari mbak Yuli." Ujar pak Agus, guru bahasa Indonesia yang sudah senior dan juga pengelola perpustakaan sekolah.

Aku gembira mendapatkan kesempatan ini.

Sunday, September 24, 2017

ASG untuk Paroki Kedaton

Ini adalah salah satu kegiatan terberat yang pernah kusanggupi dalam bulan September 2017. Menyampaikan materi ajaran sosial gereja (ASG) untuk para tokoh umat di Paroki Kedaton pada 24 September 2017, di hadapan 270 peserta, plus puluhan panitia. Saat menyanggupinya pun aku sudah berpikir : Jangan-jangan aku nanti malah jadi batu sandungan bagi materi yang ingin kusampaikan.

Alasan keraguan ini adalah : ini adalah rumahku sendiri. Yaelahhh... aku grogi berat.

Untungnya aku mendapat penguatan dari banyak orang dan aku bilang ke panitia : Bukan seminar, tapi belajar bersama.

Hmmm... walaupun di banner dipasang Seminar dengan huruf besar, aku tetap menegaskan ini adalah belajar bersama. Maka dua sesi untuk belajar bersama ASG, di gedung serba guna Gentiaras, Way Halim pun kusiapkan dengan baik. Dengan seluruh upaya yang bisa kulakukan. Dalam dua sesi itu aku menyampaikan sekilas umum tentang ASG dengan beberapa contoh pergulatanku. Aku sodorkan buku Kompendium ASG sebagai bahan mereka. Sedang di sesi kedua aku menyampaikan Populorum Progressio sebagai salah satu dokumen. Ini yang kupilih karena ini yang kukuasai.

Saat selesai dua sesi itu pada pukul 15.00, aku leggaaa... Sungguh-sungguh lega. Kalau ada yang mau ajak aku lagi untuk menyampaikan ASG lagi, ayukkk. Aku akan selalu merasa berat tapi aku bersedia.

Friday, September 22, 2017

Sampai Aku Lupa

Ini adalah buku puisiku yang baru terbit. Ingin cerita panjang lebar tentang buku ini, tapi karena masih ada hal-hal lain yang sedang aku kerjakan, cerita panjang lebar ini kutunda dulu. Tidak, tidak usah kuatir sampai aku lupa. Ini hanya butuh beberapa saat sampai tiba saatnya saja. Hehehe...

Ini buku yang menyenangkanku. Penampakan yang sesuai dengan harapanku. Ada beberapa hal yang entah mengapa jadi salah seperti :

1. Kabel yang nyambung itu di buku aslinya jadi terpotong di bagian punggung, jadi ndak nyambung antara sampul depan, punggung buku dan sampul belakang.

2. Huruf putih pada judul di sampul bisa berbeda jenis dengan yang ada di punggung buku.

3. Pengetikan di lembar penerbitan ndak rapi.

4. Dll.

Tapi oke deh. Itu bukan soal besar. Aku gembira karena 90 puisi itu akhirnya tersimpan dalam buku ini dengan judul yang kusukai "Sampai Aku Lupa". Ini bukan puisi yang remeh walaupun berisi keseharianku dari 2013 - 2015. Ini bukan puisi yang bisa kuabaikan walaupun berisi tema-tema biasa yang muncul dalam hidupku sehari-hari.

Nah, yang mau beli masuk saja di akun fb atau ig ku : Yuli Nugrahani, dan pesanlah di sana. Harganya Rp. 40.000,- belum termasuk ongkir.

Monday, September 18, 2017

Serah Terima Jabatan Koordinator FPBN

Seperti yang sudah dirancang, tanggal 18 September 2017 Tim Kerja Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) bertemu di LDD, KAJ, Jakarta Pusat. Aku menikmati pertemuan ini sembari merasai tubuh yang pegal-pegal kecapekan setelah seminggu berjalan dari Bandung, Badung dan Bandungan. Tapi aku juga merasa senang. Iya lah, pada hari ini aku menyerahkan tanggungjawab koordinator FPBN ke Wisnu setelah satu tahun menggunakan daya upaya untuk bertahan sebagai sekrum. Huaaa.... lega gila. Walau aku masih tetap dalam tim kerja sebagai devisi infodok, tapi leggaaaaa.... Semangat ya, Nuuuu....

Sunday, September 17, 2017

Keselarasan Peran Laki-laki dan Perempuan

Sebulan yang lalu, saat aku sedang mempersiapkan beberapa aktifitas di bulan September, Sr. Natalia, OP menelpon dengan harap : "Mbak Yuli yang menyampaikan sosialisasi tentang modul 2 untuk gender ya. Di pertemuan Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) untuk regio Jawa di Semarang."
"Kapan, sr?"
"Tanggal 16 September, 1 sesi saja untuk mengenalkan buku kita."
Hmmm.... tanggal 15 aku masih di Bali, kalau mereka bisa urus penerbangan langsung ke Semarang maka permintaan itu tak masalah. Dan itulah yang terjadi. Aku dapat penerbangan malam dari Denpasar pada 15 September memakai pesawat baling-baling milik Wings, dijemput di bandara Semarang oleh panitia.
Buku modul 2 ini sebagai lanjutan dari modul 1 yang berisi konsep dasar gender. Modul 2 lebih menukik lagi ingin mengajak setiap peserta untuk bergerak aktif melalui hidup mereka masing-masing, entah lewat sosial, politik, budaya, ekonomi dan sebagainya. Pertemuan diadakan di Bandungan, tempat yang sejuk di ketinggian arah Ambarawa. Setelah Bali lalu Semarang tentu asyik banget.

Friday, September 15, 2017

Berani Kotor dan Terluka

Rapat pleno KKP-PMP KWI tahun ini diselenggarakan di Hotel Adhi Jaya Sunset Hotel Badung, Bali pada 11 - 25 September 2017. Aku pergi dengan pesawat transit di Bandung yang kebetulan bersamaan dengan jadwal Jokowi pergi ke Bandung juga, jadi delay sekitar 2 jam tak bisa dielak. "Karena ada kegiatan VVIP di Bandara." Nah, apa boleh buat. Itulah salah satu kontribusiku untuk Jokowi, untuk negara ini. Hehehe.

Foto yang kupasang ini adalah salah satu sesi dimana aku menjadi pemandunya, yaitu sesi pleno untuk diskusi tentang nilai-nilai yang mestinya dihidupi dalam kegiatan advokasi dan bagaimana hal itu dilakukan dalam tingkat aksi. Foto hasil jepretan Yunanto (thank you, yak) ini mungkin tidak menggambarkan seluruh kegiatan selama di Badung tapi itulah ruang yang kami pakai dan sedikit suasana dari seluruh rapat pleno.

Bagian lain yang kusuka adalah kesempatan untuk membuat puisi untuk salah satu sesi presentasi, dibacakan oleh Indah dari KKP KA Semarang. Puisi Sebut Saja Bunga membuat kelompok kami mendapatkan medali. Yuhuiiii... penghargaan sebagai tim paling kreatif. Iyalah, Indah keren banget bacanya dan kami satu tim kompak di belakang dia dengan suara merdu nyanyian Yasintha RGS.

Hal lain bisa dicari dengan bantuan pemindai di internet untuk mendapatkan rekomendasi dari pertemuan ini. Sedang bagian-bagian jalan-jalan di sekitaran hotel dan Bali agak susah dituliskan. Bali terlalu berisik. Terlalu ramai dan jadinya terlalu biasaaaa.... Duh. Beberapa tempat yang kukunjungi jadinya selalu ada sebagian kecewa karena tidak sesuai dengan harapan.

Tapi Bali selalu indah. Kalau ada kesempatan lagi dengan waktu yang cukup longgar aku ingin menyepi di tempat yang agak minggir dan menikmatinya dalam keheningan, ... Semoga. (Eh, lalu sambungan dengan judulnya apa dong? Hehehe.... Biar dulu deh.) 

Tuesday, August 29, 2017

ASG untuk Para Mahasiswa di Hotel Sahid Lampung

Kesempatan kayak gini mah sangat jarang. Kebetulan yang punya kuasa untuk ngundang sedang baik hati mengundangku. Hehehe... atau aku memang sedang dibutuhkan untuk bicara tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG) untuk para muda ini. Hehehe.... terserah saja deh alasannya.

Bagiku, 29 Agustus di Hotel Sahid ini jadi salah satu cara untuk menularkan prinsip-prinsip ASG yaitu martabat manusia, subsidiaritas, solidaritas, berpihak pada yang miskin dan tertindas dan kesejahteraan umum. Nah, ya, itu artinya ini juga menjadi caraku untuk mengingatkan diri sendiri memegang semangat itu bagi hidup sehari-hariku.

Sulit memang sulit. Mau apa lagi. Namanya juga masih hidup, hal-hal sulit seperti itu memang harus dilalui. Hehehe....

Sunday, August 27, 2017

Donor Darah Lagi

Aku pernah donor darah duulllluuuuu.... Tahun 1998 atau 1999 lupa. Saat itu aku donor darah terpaksa gara-gara rayuan petugas PMI di dekat alun-alun Malang. Usai ngliput mereka (waktu itu aku jadi wartawan Malang Post), aku digoda oleh mereka untuk terlibat. Jadilah aku donor darah di mobil PMI.

Setelah itu aku tidak pernah lagi ikut donor darah karena pada dasarnya aku takut jarum suntik. Sampai kemudian ada kesempatan ini, 27 Agustus, aku begitu saja daftar ketika ada pengumuman donor darah di Paroki Kedaton. Dan aku berhasil merayu Denmas Hendro untuk donor juga untuk pertama kalinya seumur hidupnya. Hehehe...

Usai donor kami pun janjian : Empat bulan lagi kita ulang ya, sayyyy.... Yihaaa...

Monday, August 21, 2017

Lokalatih Perspektif Gender dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat

Salah satu kegiatan Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) adalah menggelar lokalatih untuk para petani pengolah lahan Taman Hutan Rakyat (Tahura) di Hanura pada 21 Agustus 2017. Kegiatan ini diikuti 30 ibu dan bapak petani dikerjakan oleh JPP bekerjasama dengan WALHI Lampung dan Dinas Kehutanan Prop. Lampung.

Aku bertugas jadi salah satu fasilitator untuk kegiatan ini dengan narsum dari JPP dan SP. Fasilitator lain adalah mbak Nani dari Watala.

Yang menarik adalah mereka para ibu dan bapak ini tidak familier dengan kata 'gender'. Mereka mengaitkan kata ini dengan kata lain yang ndak ada kaitannya.

"Ini sejenis makanan dari beras itu ya, mbak?"
"Kayak nama alat untuk nanak nasi ya."
atau ada nyahut.
"Mungkin nama pabrik."

Haiyahhhh. Kami ngakak habis melihat hasil pretest mereka.

Namun, yang muncul dalam diskusi, wow, asyik banget. Mereka ternyata sudah membagi peran dengan baik antara laki-laki dan perempuan. Walau mereka ndak paham istilah, tapi mereka sudah melakukan hal-hal untuk sampai pada kesetaraan dan keadilan gender.

Monday, August 14, 2017

Rakernas FPBN XIX

Rakernas Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) ke 19 diadakan di Ngison Nando Kalianda, Lampung Selatan, 11 - 13 Agustus 2017.

Sebagian dari peserta.
Hadir sebagai narasumber adalah Suroto dari AKSES dan Martin Sirait dari Atmajaya. Tema besar yang diangkat adalah CU dan gerakan buruh. Terangkum dalam cuplikan PP 34 :  “Yang Kami Maksudkan adalah Kemajuan Sosial maupun Pertumbuhan Ekonomi.” 

Thursday, July 13, 2017

Melayat

Dua hari ini, kemarin dan tadi, aku melayat dua orang yang membuatku senang saat menyentuh jenasahnya. Senyum menghias bibir mereka, wajah yang bersih dan aroma yang harum. Kemarin aku melayat Pak Haslie, seorang bapak di Tanjungsenang yang umurnya sekitar 90 tahun. Tadi aku melayat Pak Sukemi, seorang bapak di Kedaton, yang umurnya mungkin 70an tahun.

Kebiasaanku saat melayat adalah menyentuh tangan jenasah (kalau keluarga membuka jenasahnya dan mengizinkan untuk disentuh). Ini kebiasaan yang muncul entah sejak kapan karena seingatku dulu aku takut kalau berdekatan dengan jenasah. Nah sekarang aku tak takut lagi, bahkan kalau aku belum menyentuh jenasah saat melayat kayak ada yang kurang walau aku juga berdoa tidak lama pada kesempatan melayat.

Pak Haslie dan Pak Sukemi, semoga jiwanya bahagia di surga, adalah dua orang yang tak kukenal baik saat masih hidup. Dengan pak Haslie aku pernah ketemu saat aku berkunjung ke rumah anaknya, sudah dalam kondisi pikun, tapi tetap menyambut ramah kunjungan dan sapaanku. Pak Sukemi tidak pernah kukenal semasa hidupnya tapi aku kenal anak sulung dan keluarga-keluarganya.

Mereka berdua tidak menimbulkan miris sedih saat aku berdoa di samping jenasah. Mereka seperti tersenyum dalam tidur panjang. Saat aku memegang tangan mereka pun sepertinya mereka menyambut ramah. Hmmm. Doaku untuk jiwa-jiwa mereka dan semoga keluarganya mengenang mereka dengan baik bagi perkembangan hidup semua orang.

Tuesday, July 11, 2017

Tidak Punya Kaki Pun Bisa Bergerak

Aku lupa apa yang kami percakapkan. Siang itu aku berbaring di dapur sambil membahas segala macam yang muncul di kepala. Mungkin salah satunya adalah perbincangan tentang waktu.
"Kita dikejar waktu. Waktu terus bergerak."
"Memangnya waktu punya kaki?"
"Banyak yang tak punya kaki tapi terus bergerak."
"Ohya? Apa misalnya?"
"Daun tuh bergerak padahal ndak punya kaki. Ikan juga bergerak walau tak punya kaki."
Oh, baiklah. Memang tak punya kaki pun tetap bisa bergerak. Aku tersenyum dan berguling mendekat tubuhnya.

Thursday, June 22, 2017

Juni yang Payah

Duh. Sebetulnya judul di atas tak terlalu tepat. Payah di situ hanya untuk menilai moodku yang jelek untuk menulis di blog ini. Kalau soal aktifitas sih ya masih begitu deh.

Hari ini hari terakhir ngantor sebelum lebaran 25 Juni nanti. Jadi aku harus paksain menulis sesuai sebagai pengingat.

Bulan Juni tahun ini bulanku dibuka dengan persiapan beberapa rapat dan kegiatan :
1. 5 Juni, rapat tim kerja FPBN di LDD Jakarta
2. Lalu lanjut 6 - 8 Juni rapat kerja KKPPMP KWI di Malang
3. 8 Juni aku diundang rektor UWK Malang, untuk memberi sesuatu ke tim redaksi Sentil. Albert ulang tahun.
4. 9 Juni naik kereta api dari Malang ke Kediri, langsung ke RS Baptis untuk nemani ibu dan bapak, Albert jatuh di Lampung Walk. Lukanya dijahit di Urip.
5. 10 Juni, mbah Seger Pagu meninggal, ikut melayat ke sana
6. 11 Juni, ngikut ibu ke manapun pergi. Hehehe
7. 12 Juni ke Juanda diantar para tercinta untuk kembali ke Lampung
8. 13 Juni, rapat tim kesekretariatan persiapan Perpasgelar di La Verna
9. 14 Juni, materi gender untuk JPP di YKWS
10. 15 Juni ulang tahun Denmas Hendro
11. 16 Juni nganter Albert nyabut jahitan lukanya di Urip lalu nongkrong di Els Coffee. Sama Bernard juga. Lalu nyari THR untuk Wawak.
12. 17 Juni, kondangan Angga dan Ayu di Metta Sarana Telukbetung
13. 18 Juni, makan heboh di McD
14. 19 - 20 Juni, nyiapin materi penulisan refleksi
15. 21 Juni ngasih materi untuk para seminaris tentang refleksi dan penulisannya
16. 22 Juni, mulai ngurus FPBN, mulai dari laporan-laporannya
17. 23 Juni, besok... Libur dong...

Lain-lain termasuk foto-foto, nyusul...