Saturday, November 11, 2017

Disetujui Sebagai Mitra Kerja Google AdSense

Kemarin, saat melihat surat-surat yang masuk ke email dengan harapan sebuah naskah dari seorang teman untuk buku yang kami kerjakan, aku melihat notifikasi yang tak biasa muncul pada tanggal 8 Nopember 2017 dari tim Google AdSense. Lalu diikuti notifikasi selanjutnya dengan tulisan : Great News! Ads are now live on your site. Wah! Aku udah nyaris lupa pernah mengajukan penggunaan AdSense untuk blog yang kurawat sejak 2006 ini. Hampir 2 bulan baru disetujui. Yeaaaa....

Apa sih AdSense itu? Ini lihat di Wikipedia :
"AdSense adalah program kerjasama periklanan melalui media Internet yang diselenggarakan oleh Google. Melalui program periklanan AdSense, pemilik situs web atau blog yang telah mendaftar dan disetujui keanggotaannya diperbolehkan memasang unit iklan yang bentuk dan materinya telah ditentukan oleh Google di halaman web mereka. Pemilik situs web atau blog akan mendapatkan pemasukan berupa pembagian keuntungan dari Google untuk setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs, yang dikenal sebagai sistem pay per click (ppc) atau bayar per klik.
Selain menyediakan iklan-iklan dengan sistem bayar per klik, Google AdSense juga menyediakan AdSense untuk pencarian (AdSense for Search) dan iklan arahan (Referral). Pada AdSense untuk pencarian, pemilik situs web dapat memasang kotak pencarian Google di halaman web mereka. Pemilik situs akan mendapatkan pemasukan dari Google untuk setiap pencarian yang dilakukan pengunjung melalui kotak pencarian tersebut, yang berlanjut dengan klik pada iklan yang disertakan pada hasil pencarian. Pada iklan arahan, pemilik situs akan menerima pemasukan setelah klik pada iklan berlanjut dengan tindakan tertentu oleh pengunjung yang telah disepakati antara Google dengan pemasang iklan tersebut." 

Nah. Itu. Walau aku nih katrok, belum ngerti gimana-gimananya, rasanya jadi semangat banget. Beberapa bulan ini blog ini seperti anak tiri, jarang kutengok. Kini jadi semangat lagi mengelolanya. Malam aku langsung kontak Ihan yang bantu aku mengajukan permohonan AdSense. Sebelnya, dia kayak ndak percaya. Yaelah, aku mesti meyakinkan dia kalau : "Lihat tuh, iklan-iklannya sudah muncul di blogku." Hehehe...
Wis. Nanti kita lihat deh selanjutnya. Aku akan cerita lagi kalau nemuin sesuai yang menarik dan perlu diceritakan dari AdSense sesuai pengalamanku. Silakan menikmati blogku yang semakin penuh warna yak.

Puisi Sabtu 1 : TERATAI BATU karya Fendi Kachonk

TERATAI BATU


Ia tumbuh satu kali dalam satu musim;
Musim yang tak memiliki mata dan telinga
Menangkapnya dalam sunyi, di kaki bukit
Saat burung-burung terbang menghindari
Lahan tandus, pernah memberinya nama

Ia pun tumbuh seperti sepasang jamur
Di antara deru hujan, setelah kemarau
Ia tak mengenal negeri yang begitu acuh
Pada rumah akar, pada sunyinya musim
Menangkapnya dalam sunyi, di kaki bukit

Ia tumbuh atas belaian angin dan langit
Yang hijau dari Rabu, yang berdebu, abu
antara batu-batu yang memancar cahaya
Ia tidur di atas tanah dan ribuan permata
Demi api, perihal hangus di pembakaran

Ia tumbuh atas restu; kuasa rumput ilalang
Pada desir cemas serta kerisauan, musim,
Menangkapnya dalam sendiri, di kaki bukit
meramal hari Kliwon dan tahun juga musim
serupa kepodang yang akan saling ingkar

Moncek, 091017

---------------

Fendi Kachonk,
lahir dan menetap di Desa Moncek Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Aktif di komunitas yang didirikannya yaitu Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ), Forum Belajar Sastra (FBS), dan Taneyan Kesenian Bluto (TKB). Karyanya berupa esai dan puisi pernah dimuat di berbagai media dan antologi bersama. Buku puisinya Lembah Kupu-kupu (2014), Tanah Silam (2015), Surat dari Timur (2016), dan pada tahun ini menerbitkan buku Halaman yang Lain.

Friday, November 10, 2017

Pengumuman : Rubrik Baru untuk Blog Ini

Blog ini aku kelola sedari tahun 2006. Cukup lama juga, sudah berumur 11 tahun. Cek postinganku yang pertama ini. Tepatnya pada 20 Juli 2006.

Nah, bertepatan dengan Hari Pahlawan, pada hari ini aku hendak memulai kembali merawat blog ini dengan lebih rutin. (Pada beberapa orang kubilang : akan kukelola secara lebih profesional. Hehehe.) Ada beberapa rubrik yang akan aku tambahkan sebagai warna. Karena aku masih juga katrok dalam hal begini-begini, mohon maafkan jika kalian kadang menemui hal-hal yang tidak secanggih yang seharusnya bisa dibuat untuk blog.

Satu rubrik pertama yang akan aku pasang untuk blog ini adalah rubrik Puisi Sabtu. Rubrik ini akan memunculkan sebuah puisi yang akan diposting setiap hari Sabtu. Siapakah yang bisa mengisi rubrik ini? Siapa pun yang punya puisi dan ingin dimuat dalam blog ini, silakan kirim ke emailku : yulinugrahani@yahoo.com. Sertai dengan biodata seperlunya dan foto yang paling menarik. Tentu saja yang paling banyak terpajang nantinya adalah puisiku. Ya iyalah, secara ini kan blog punya gue. Hehehe...
Redaktur katrok blog ini : Yuli Nugrahani

Blog ini adalah blog untuk bergembira. Jadi pemasangan satu rubrik ini, juga untuk bergembira. Ndak usah ngarep dapat honor yeee...  Mau tahu puisi siapa yang akan tampil perdana besok Sabtu 11 Nopember 2017? Pantengin terus dah blog ini.

Setelah rubrik Puisi Sabtu, nanti akan ada rubrik-rubrik lain yang diisi berdasarkan hari. Sedangkan hal-hal lain yang aku posting ya masih seperti biasa, sesuka-suka akuuhhh...

Talang Indah, Pringsewu

Salah satu foto yang kusuka, di ambil di dekat puncak bukit Pangonan.
Namanya sih begitu, Talang Indah. Letaknya di daerah Pringsewu ke arah Gisting. Dari pasar Pringsweu sekitar 3 atau 4 km ada tanda di sebelah kanan jalan untuk masuk lokasi. Ini wisata model 'kekinian' yang sebenarnya di luar seleraku. Tapi yo biar 'kekinian' tahu macam apa tempat ini, aku girang hati saja ketika kelompok GATK Lampung merencanakan ke sana usai rapat di Pringsewu.

"Makan di Pringsewu lalu foto-foto di Talang."

Hehehe... Okey deh. Tempat yang sudah direkayasa. Hehehe... tidak lagi alami. Mungkin memang beginilah selera jaman now. Foto berdua dengan love-love dari dari rangkaian bunga plastik. Aidahkidah. Hehehe...

Berhubung aku pergi dalam rombongan ya, asyik aja. Tertawa sana sini mencoba beberapa spot foto. Sayangnya setiap mau foto harus bayar juga di sana sini, ada yang 3000 atau 5000. Ealah. Kenapa tidak di depan saja bayar sekalian. Repotttt... tapi yo ra popo deh.

Apalagi yang bisa kuceritakan ya? Tempat itu berada di sekitar sungai Way Sekampung. Talang air yang melintas sungai itu digunakan juga sebagai sarana selfie or foto-fotoan cantik. Aduh, aku sulit sekali menceritakannya karena kurang menyentuhku. Hihihi. Indah. Cantik. Tapi terlalu biasa. Apa karena tempat macam gitu lagi booming di Lampung ya? Jadinya kelihatan biasaaaa banget.

Monday, October 02, 2017

Pembacaan Puisi-puisi dalam Buku Sampai Aku Lupa

Di sela pelatihan menulis cerpen untuk pelajar SMAN 1 Padangcermin Pesawaran, Lampung, aku menunjukkan buku puisi Sampai Aku Lupa. Rupanya diantara para peserta ada banyak yang suka puisi, jadi buku itu menjadi jeda yang menarik dalam pelatihan. 

Buku Sampai Aku Lupa juga ikut dalam sayembara yang diadakan oleh HPI, maka kegembiraan ini harus kusiarkan. Yang pertama dapat kesempatan adalah Adi, katanya pernah ikut lomba membaca puisi hingga tingkat nasional. Dia membaca puisi Segala Upaya (halaman 52), dengan penjiwaan yang membuatku jiwaku bergetar. Maafkanlah, memang selalu begitulah aku. Setiap mendengar puisiku dibaca, aku seperti disedot oleh jiwaku sendiri, mengingat, mengenang seluruh rasa yang melahirkan puisi itu lewat tulisanku.
Adi

... 
apa yang disebut timur
oleh anak-anak dinamakan kegembiraan
...

Kesempatan kedua sebelum sesi terakhir, Nita membaca puisi Kemarau (halaman 62). Bukan hanya aku, rupanya Nita pun meletupkan setetes bening di sudut matanya sehingga usai membaca aku tak tahan untuk tidak memeluknya.
Nita


...
Mungkin sebentar lagi suami-suami akan pulang dari ladang
entah kemana mereka berdandan sebelum menjangkau halaman
menyiapkan diri mendapati harapan di mata istrinya
yang tak bisa ditadah oleh tanah-tanah kerontang.
...


Inilah pesta pertama untuk Sampai Aku Lupa setelah dirayakan oleh orang-orang yang berkomentar di dalam buku : Fendi Kachonk, Jauhari Zaelani, Suwanda, Novi Nusaiba dan Suroso. Terimakasih untuk semua.

Pelatihan Menulis Cerpen untuk SMAN 1 Padangcermin

Bersama sebagian peserta cewek dan pak Asep.
Ketika aku dikontak pak Agus beberapa waktu lalu aku agak heran bagaimana sekolah di Padangcermin ingin belajar menulis cerpen. Setelah aku datang ke sekolah ini, SMAN 1 Padangcermin Kabupaten Pesawaran, Prop. Lampung memang menjadi sekolah rujukan nasional untuk gerakan literasi. Tidak banyak sekolah yang membuat program macam ini, tapi dengan support dari dinas pendidikan dan negara, hal seperti ini menjadi sangat mungkin.


Bersama sebagian peserta cowok, pak Agus dan pak Asep.
Pelatihan diadakan pada hari Sabtu 30 September 2017, menjelang hari kesaktian Pancasila. Peserta adalah 50an pelajar yang berminat pada cerpen. Kata pak Asep, wakil kepsek, tidak ada paksaan. "Ini ditawarkan ke anak-anak yang berminat."

Nah, itu yang kemudian menjadi asyik bagiku. Mereka penuh semangat mengikut sesi dari pukul 08.00 sampai 14.00. Dan setiap anak mempunyai satu judul cerpen yang mereka tulis. Wah.

"Pada bulan Oktober akan ada lomba menulis cerpen satu sekolah. Mereka bisa ikut dengan bekal dari mbak Yuli." Ujar pak Agus, guru bahasa Indonesia yang sudah senior dan juga pengelola perpustakaan sekolah.

Aku gembira mendapatkan kesempatan ini.

Sunday, September 24, 2017

ASG untuk Paroki Kedaton

Ini adalah salah satu kegiatan terberat yang pernah kusanggupi dalam bulan September 2017. Menyampaikan materi ajaran sosial gereja (ASG) untuk para tokoh umat di Paroki Kedaton pada 24 September 2017, di hadapan 270 peserta, plus puluhan panitia. Saat menyanggupinya pun aku sudah berpikir : Jangan-jangan aku nanti malah jadi batu sandungan bagi materi yang ingin kusampaikan.

Alasan keraguan ini adalah : ini adalah rumahku sendiri. Yaelahhh... aku grogi berat.

Untungnya aku mendapat penguatan dari banyak orang dan aku bilang ke panitia : Bukan seminar, tapi belajar bersama.

Hmmm... walaupun di banner dipasang Seminar dengan huruf besar, aku tetap menegaskan ini adalah belajar bersama. Maka dua sesi untuk belajar bersama ASG, di gedung serba guna Gentiaras, Way Halim pun kusiapkan dengan baik. Dengan seluruh upaya yang bisa kulakukan. Dalam dua sesi itu aku menyampaikan sekilas umum tentang ASG dengan beberapa contoh pergulatanku. Aku sodorkan buku Kompendium ASG sebagai bahan mereka. Sedang di sesi kedua aku menyampaikan Populorum Progressio sebagai salah satu dokumen. Ini yang kupilih karena ini yang kukuasai.

Saat selesai dua sesi itu pada pukul 15.00, aku leggaaa... Sungguh-sungguh lega. Kalau ada yang mau ajak aku lagi untuk menyampaikan ASG lagi, ayukkk. Aku akan selalu merasa berat tapi aku bersedia.

Friday, September 22, 2017

Sampai Aku Lupa

Ini adalah buku puisiku yang baru terbit. Ingin cerita panjang lebar tentang buku ini, tapi karena masih ada hal-hal lain yang sedang aku kerjakan, cerita panjang lebar ini kutunda dulu. Tidak, tidak usah kuatir sampai aku lupa. Ini hanya butuh beberapa saat sampai tiba saatnya saja. Hehehe...

Ini buku yang menyenangkanku. Penampakan yang sesuai dengan harapanku. Ada beberapa hal yang entah mengapa jadi salah seperti :

1. Kabel yang nyambung itu di buku aslinya jadi terpotong di bagian punggung, jadi ndak nyambung antara sampul depan, punggung buku dan sampul belakang.

2. Huruf putih pada judul di sampul bisa berbeda jenis dengan yang ada di punggung buku.

3. Pengetikan di lembar penerbitan ndak rapi.

4. Dll.

Tapi oke deh. Itu bukan soal besar. Aku gembira karena 90 puisi itu akhirnya tersimpan dalam buku ini dengan judul yang kusukai "Sampai Aku Lupa". Ini bukan puisi yang remeh walaupun berisi keseharianku dari 2013 - 2015. Ini bukan puisi yang bisa kuabaikan walaupun berisi tema-tema biasa yang muncul dalam hidupku sehari-hari.

Nah, yang mau beli masuk saja di akun fb atau ig ku : Yuli Nugrahani, dan pesanlah di sana. Harganya Rp. 40.000,- belum termasuk ongkir.

Monday, September 18, 2017

Serah Terima Jabatan Koordinator FPBN

Seperti yang sudah dirancang, tanggal 18 September 2017 Tim Kerja Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) bertemu di LDD, KAJ, Jakarta Pusat. Aku menikmati pertemuan ini sembari merasai tubuh yang pegal-pegal kecapekan setelah seminggu berjalan dari Bandung, Badung dan Bandungan. Tapi aku juga merasa senang. Iya lah, pada hari ini aku menyerahkan tanggungjawab koordinator FPBN ke Wisnu setelah satu tahun menggunakan daya upaya untuk bertahan sebagai sekrum. Huaaa.... lega gila. Walau aku masih tetap dalam tim kerja sebagai devisi infodok, tapi leggaaaaa.... Semangat ya, Nuuuu....

Sunday, September 17, 2017

Keselarasan Peran Laki-laki dan Perempuan

Sebulan yang lalu, saat aku sedang mempersiapkan beberapa aktifitas di bulan September, Sr. Natalia, OP menelpon dengan harap : "Mbak Yuli yang menyampaikan sosialisasi tentang modul 2 untuk gender ya. Di pertemuan Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) untuk regio Jawa di Semarang."
"Kapan, sr?"
"Tanggal 16 September, 1 sesi saja untuk mengenalkan buku kita."
Hmmm.... tanggal 15 aku masih di Bali, kalau mereka bisa urus penerbangan langsung ke Semarang maka permintaan itu tak masalah. Dan itulah yang terjadi. Aku dapat penerbangan malam dari Denpasar pada 15 September memakai pesawat baling-baling milik Wings, dijemput di bandara Semarang oleh panitia.
Buku modul 2 ini sebagai lanjutan dari modul 1 yang berisi konsep dasar gender. Modul 2 lebih menukik lagi ingin mengajak setiap peserta untuk bergerak aktif melalui hidup mereka masing-masing, entah lewat sosial, politik, budaya, ekonomi dan sebagainya. Pertemuan diadakan di Bandungan, tempat yang sejuk di ketinggian arah Ambarawa. Setelah Bali lalu Semarang tentu asyik banget.

Friday, September 15, 2017

Berani Kotor dan Terluka

Rapat pleno KKP-PMP KWI tahun ini diselenggarakan di Hotel Adhi Jaya Sunset Hotel Badung, Bali pada 11 - 25 September 2017. Aku pergi dengan pesawat transit di Bandung yang kebetulan bersamaan dengan jadwal Jokowi pergi ke Bandung juga, jadi delay sekitar 2 jam tak bisa dielak. "Karena ada kegiatan VVIP di Bandara." Nah, apa boleh buat. Itulah salah satu kontribusiku untuk Jokowi, untuk negara ini. Hehehe.

Foto yang kupasang ini adalah salah satu sesi dimana aku menjadi pemandunya, yaitu sesi pleno untuk diskusi tentang nilai-nilai yang mestinya dihidupi dalam kegiatan advokasi dan bagaimana hal itu dilakukan dalam tingkat aksi. Foto hasil jepretan Yunanto (thank you, yak) ini mungkin tidak menggambarkan seluruh kegiatan selama di Badung tapi itulah ruang yang kami pakai dan sedikit suasana dari seluruh rapat pleno.

Bagian lain yang kusuka adalah kesempatan untuk membuat puisi untuk salah satu sesi presentasi, dibacakan oleh Indah dari KKP KA Semarang. Puisi Sebut Saja Bunga membuat kelompok kami mendapatkan medali. Yuhuiiii... penghargaan sebagai tim paling kreatif. Iyalah, Indah keren banget bacanya dan kami satu tim kompak di belakang dia dengan suara merdu nyanyian Yasintha RGS.

Hal lain bisa dicari dengan bantuan pemindai di internet untuk mendapatkan rekomendasi dari pertemuan ini. Sedang bagian-bagian jalan-jalan di sekitaran hotel dan Bali agak susah dituliskan. Bali terlalu berisik. Terlalu ramai dan jadinya terlalu biasaaaa.... Duh. Beberapa tempat yang kukunjungi jadinya selalu ada sebagian kecewa karena tidak sesuai dengan harapan.

Tapi Bali selalu indah. Kalau ada kesempatan lagi dengan waktu yang cukup longgar aku ingin menyepi di tempat yang agak minggir dan menikmatinya dalam keheningan, ... Semoga. (Eh, lalu sambungan dengan judulnya apa dong? Hehehe.... Biar dulu deh.) 

Tuesday, August 29, 2017

ASG untuk Para Mahasiswa di Hotel Sahid Lampung

Kesempatan kayak gini mah sangat jarang. Kebetulan yang punya kuasa untuk ngundang sedang baik hati mengundangku. Hehehe... atau aku memang sedang dibutuhkan untuk bicara tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG) untuk para muda ini. Hehehe.... terserah saja deh alasannya.

Bagiku, 29 Agustus di Hotel Sahid ini jadi salah satu cara untuk menularkan prinsip-prinsip ASG yaitu martabat manusia, subsidiaritas, solidaritas, berpihak pada yang miskin dan tertindas dan kesejahteraan umum. Nah, ya, itu artinya ini juga menjadi caraku untuk mengingatkan diri sendiri memegang semangat itu bagi hidup sehari-hariku.

Sulit memang sulit. Mau apa lagi. Namanya juga masih hidup, hal-hal sulit seperti itu memang harus dilalui. Hehehe....

Sunday, August 27, 2017

Donor Darah Lagi

Aku pernah donor darah duulllluuuuu.... Tahun 1998 atau 1999 lupa. Saat itu aku donor darah terpaksa gara-gara rayuan petugas PMI di dekat alun-alun Malang. Usai ngliput mereka (waktu itu aku jadi wartawan Malang Post), aku digoda oleh mereka untuk terlibat. Jadilah aku donor darah di mobil PMI.

Setelah itu aku tidak pernah lagi ikut donor darah karena pada dasarnya aku takut jarum suntik. Sampai kemudian ada kesempatan ini, 27 Agustus, aku begitu saja daftar ketika ada pengumuman donor darah di Paroki Kedaton. Dan aku berhasil merayu Denmas Hendro untuk donor juga untuk pertama kalinya seumur hidupnya. Hehehe...

Usai donor kami pun janjian : Empat bulan lagi kita ulang ya, sayyyy.... Yihaaa...

Monday, August 21, 2017

Lokalatih Perspektif Gender dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat

Salah satu kegiatan Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) adalah menggelar lokalatih untuk para petani pengolah lahan Taman Hutan Rakyat (Tahura) di Hanura pada 21 Agustus 2017. Kegiatan ini diikuti 30 ibu dan bapak petani dikerjakan oleh JPP bekerjasama dengan WALHI Lampung dan Dinas Kehutanan Prop. Lampung.

Aku bertugas jadi salah satu fasilitator untuk kegiatan ini dengan narsum dari JPP dan SP. Fasilitator lain adalah mbak Nani dari Watala.

Yang menarik adalah mereka para ibu dan bapak ini tidak familier dengan kata 'gender'. Mereka mengaitkan kata ini dengan kata lain yang ndak ada kaitannya.

"Ini sejenis makanan dari beras itu ya, mbak?"
"Kayak nama alat untuk nanak nasi ya."
atau ada nyahut.
"Mungkin nama pabrik."

Haiyahhhh. Kami ngakak habis melihat hasil pretest mereka.

Namun, yang muncul dalam diskusi, wow, asyik banget. Mereka ternyata sudah membagi peran dengan baik antara laki-laki dan perempuan. Walau mereka ndak paham istilah, tapi mereka sudah melakukan hal-hal untuk sampai pada kesetaraan dan keadilan gender.

Monday, August 14, 2017

Rakernas FPBN XIX

Rakernas Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) ke 19 diadakan di Ngison Nando Kalianda, Lampung Selatan, 11 - 13 Agustus 2017.

Sebagian dari peserta.
Hadir sebagai narasumber adalah Suroto dari AKSES dan Martin Sirait dari Atmajaya. Tema besar yang diangkat adalah CU dan gerakan buruh. Terangkum dalam cuplikan PP 34 :  “Yang Kami Maksudkan adalah Kemajuan Sosial maupun Pertumbuhan Ekonomi.” 

Thursday, July 13, 2017

Melayat

Dua hari ini, kemarin dan tadi, aku melayat dua orang yang membuatku senang saat menyentuh jenasahnya. Senyum menghias bibir mereka, wajah yang bersih dan aroma yang harum. Kemarin aku melayat Pak Haslie, seorang bapak di Tanjungsenang yang umurnya sekitar 90 tahun. Tadi aku melayat Pak Sukemi, seorang bapak di Kedaton, yang umurnya mungkin 70an tahun.

Kebiasaanku saat melayat adalah menyentuh tangan jenasah (kalau keluarga membuka jenasahnya dan mengizinkan untuk disentuh). Ini kebiasaan yang muncul entah sejak kapan karena seingatku dulu aku takut kalau berdekatan dengan jenasah. Nah sekarang aku tak takut lagi, bahkan kalau aku belum menyentuh jenasah saat melayat kayak ada yang kurang walau aku juga berdoa tidak lama pada kesempatan melayat.

Pak Haslie dan Pak Sukemi, semoga jiwanya bahagia di surga, adalah dua orang yang tak kukenal baik saat masih hidup. Dengan pak Haslie aku pernah ketemu saat aku berkunjung ke rumah anaknya, sudah dalam kondisi pikun, tapi tetap menyambut ramah kunjungan dan sapaanku. Pak Sukemi tidak pernah kukenal semasa hidupnya tapi aku kenal anak sulung dan keluarga-keluarganya.

Mereka berdua tidak menimbulkan miris sedih saat aku berdoa di samping jenasah. Mereka seperti tersenyum dalam tidur panjang. Saat aku memegang tangan mereka pun sepertinya mereka menyambut ramah. Hmmm. Doaku untuk jiwa-jiwa mereka dan semoga keluarganya mengenang mereka dengan baik bagi perkembangan hidup semua orang.

Tuesday, July 11, 2017

Tidak Punya Kaki Pun Bisa Bergerak

Aku lupa apa yang kami percakapkan. Siang itu aku berbaring di dapur sambil membahas segala macam yang muncul di kepala. Mungkin salah satunya adalah perbincangan tentang waktu.
"Kita dikejar waktu. Waktu terus bergerak."
"Memangnya waktu punya kaki?"
"Banyak yang tak punya kaki tapi terus bergerak."
"Ohya? Apa misalnya?"
"Daun tuh bergerak padahal ndak punya kaki. Ikan juga bergerak walau tak punya kaki."
Oh, baiklah. Memang tak punya kaki pun tetap bisa bergerak. Aku tersenyum dan berguling mendekat tubuhnya.

Thursday, June 22, 2017

Juni yang Payah

Duh. Sebetulnya judul di atas tak terlalu tepat. Payah di situ hanya untuk menilai moodku yang jelek untuk menulis di blog ini. Kalau soal aktifitas sih ya masih begitu deh.

Hari ini hari terakhir ngantor sebelum lebaran 25 Juni nanti. Jadi aku harus paksain menulis sesuai sebagai pengingat.

Bulan Juni tahun ini bulanku dibuka dengan persiapan beberapa rapat dan kegiatan :
1. 5 Juni, rapat tim kerja FPBN di LDD Jakarta
2. Lalu lanjut 6 - 8 Juni rapat kerja KKPPMP KWI di Malang
3. 8 Juni aku diundang rektor UWK Malang, untuk memberi sesuatu ke tim redaksi Sentil. Albert ulang tahun.
4. 9 Juni naik kereta api dari Malang ke Kediri, langsung ke RS Baptis untuk nemani ibu dan bapak, Albert jatuh di Lampung Walk. Lukanya dijahit di Urip.
5. 10 Juni, mbah Seger Pagu meninggal, ikut melayat ke sana
6. 11 Juni, ngikut ibu ke manapun pergi. Hehehe
7. 12 Juni ke Juanda diantar para tercinta untuk kembali ke Lampung
8. 13 Juni, rapat tim kesekretariatan persiapan Perpasgelar di La Verna
9. 14 Juni, materi gender untuk JPP di YKWS
10. 15 Juni ulang tahun Denmas Hendro
11. 16 Juni nganter Albert nyabut jahitan lukanya di Urip lalu nongkrong di Els Coffee. Sama Bernard juga. Lalu nyari THR untuk Wawak.
12. 17 Juni, kondangan Angga dan Ayu di Metta Sarana Telukbetung
13. 18 Juni, makan heboh di McD
14. 19 - 20 Juni, nyiapin materi penulisan refleksi
15. 21 Juni ngasih materi untuk para seminaris tentang refleksi dan penulisannya
16. 22 Juni, mulai ngurus FPBN, mulai dari laporan-laporannya
17. 23 Juni, besok... Libur dong...

Lain-lain termasuk foto-foto, nyusul...

Tuesday, May 23, 2017

Sebuah Pengakuan untuk Salah Satu Cabang Cemara

Sembari menunggu Hera Sani memiliki blog atau web sendiri, tulisannya ini kupasang di sini. Silakan menganggapnya sebagai kelengkapan dari catatanku sebelumnya (Klik sini). Aku tidak mengeditnya, persis seperti yang ditulis Heralah yang ada di ini. Check it out  :

SEBUAH PENGAKUAN;
Untuk SALAH SATU CABANG CEMARA (SSCC)
Cerpen YULI Yuli Nugrahani
(harusnya saya tulis ini di blog juga)



1. Aku dan Awal Jatuh Cinta Pada SSCC
Terlepas dari segala teori sastra, apapun itu, sementara ini akan saya kesampingkan; karena selain seorang otodidak (dan cenderung ngawur) saya juga seorang yang agak susah untuk duduk diam mempelajari teori secara sistematis, runtut, urut, atau apalah yang disebut baku secara akademis ataupun yang disebut “Benar”, “Berdasar” atau apalah-apalah itu yang disebut “Pakem Sastra”. Saya buta. Karena saya juga bukan seorang yang tumbuh dari lingkungan akademis, kuliah saya tidak pernah selesai, walau pernah menclok di universitas lalu galau-malau tidak karuan. Saya lebih senang bekerja karena memang tuntutan takdir, saya bukan anak dari orang tua yang mampu. 
Baiklah. Suatu hari saya pernah mengatakan pada Mbak Yuli, (begitu saya biasa memanggilnya);
“SSCC akan saya bacakan, mbak”
Dan celakanya ketika saya terlanjur mengatakannya, saya malah belum baca cerpennya! Karena saya begitu optimis dengan judul buku kumpulan cerpen itu. Pastilah ada sesuatu pada judul itu. Tidak mungkin tidak. Kalau tidak, kenapa dijadikan judul buku itu? Toh, bisa saja “Mencari Kubur Ahmad”, “Daun Sirih, “Pisah” atau yang lainlah diantara 16 cerpen lain di dalam buku itu, yang penting bukan “SALAH SATU CABANG CEMARA”. Mana mungkin seorang penulis seperti YULI NUGRAHANI sembrono memilih judul atau mentang-mentang judul itu lebih puitis dari pada judul-judul yang lain. (Saya bayangkan kalau “Semangkuk Mie” yang jadi judul, bagaimana covernya, ya? Akankah Kiki Rahmatika tidak sedang menari di cover itu, melainkan sedang makan mie?)
Sangking percayanya saya dengan isi buku “DAUN-DAUN HITAM” buku sebelumnya yang ditulis oleh YULI NUGRAHANI yang berisi potret-potret sosial (Saya sangat suka dengan tema-tema sosial) dan beberapa cerpen yang saya baca terlebih dahulu di buku SSCC, saya berani mengatakan “SSCC!” Ya, SSCC.
Awalnya SSCC saya bayangkan seperti “DAUN-DAUN HITAM”. Daun hitam yang entah kenapa disimpan oleh Si Bapak. ini juga mungkin Cabang Cemara yang digergaji atau berkaitan dengan penebangan hutan (Bukankah Yuli Nugrahani ini juga seorang pecinta alam dan tergabung dengan banyak komunitas yang berkaitan dengan itu).
Dengan ekspresi biasa dan setelah mandi sore, baju santai, di akhir Desember 2016, saya baca buku itu, tepat dan khusus pada “SALAH SATU CABANG CEMARA”.
….
Oh, setelah saya baca, harum wangi sabun mandi di tubuh saya mendadak jadi berbau aneh. “Kecut… kecut piye … ngono”. Waduh ….
Akhirnya saya termenung. Bingung. Mau diapakan. Tak ada pilihan. Saya terus baca berulang dan saya punya tanggung jawab setelah saya katakan “SSCC akan saya bacakan.” Kalaupun tidak mungkin, saya harus cari cerpen lain yang memungkinkan untuk dibacakan di atas panggung. Saya baca lagi berulang-ulang ke 16 cerpen yang lain. Kafe, Daun Sirih … Nah! Sip! Ya, Daun Sirih. Ini dia… ada Lampung-Lampungnya-lah. Saya baca juga cerpen itu berulang.
….
“Tapi kok belum dapet sesuatu”. Tidak mau menyerah, terus saya baca yang lain, “Yang Tersimpan”, ya pokoknya 16 cerpen yang lainlah. (Sambil menginsafi kalau sebetulnya sayalah yang sembrono).
Setelah 2 hari kebingungan saya berfikir ulang… entah kenapa kok SSCC-lah yang melintas-lintas di kepala Saya. Hati saya bilang sesuatu tentang keyakinan saya terhadap penulisnya. “Tidak mungkin tidak ada sesuatu disana, di cerpen itu. SSCC”, batin saya.
Hmh… kalau begitu, saya dramatisasi saja cerpen ini. Bagaimana caranya cerpen ini bisa berjalan bersama-sama dengan tema yang sudah saya tetapkan. Mengalah dulu dengan keinginan ideal demi bisa dinikmatinya cerpen ini oleh siapa saja. Dan target saya, minimal yang menikmati pembacaan cerpen ini bisa menginsyafi dan terkenang negerinya, Indonesia. Terlepas “apanya” yang dikenang tentang Indonesia, yah minimal “eling-lah”. Dan (mungkin) selama ini lagu wajib nasional sudah jarang didengar khalayak yang tidak lagi duduk di bangku sekolah.
Jadi bisa saya simpulkan, pada pembacaan cerpen 20 April 2017 di Dawiels Kafe kemarin, saya benar-benar berusaha tidak bergelut terlalu dalam ke dalam SSCC, karena akan panjang urusannya. Dan saya tipikal orang yang tidak mau berhenti berfikir, dan kalau sudah berfikir, pikiran saya bisa beranak pinak seperti molekul liar yang seenaknya berterbangan kesana kemari.
Saya harus mengalah, saya simpulkan sederhana saja. Berjalan di permukaan cerpen dan mencoba mencocokkan penafsiran saya yang “sebatas kulit” kepada penulisnya. Itupun karena saya sudah menemukan keraguan, “Apakah hanya seperti itu saja SSCC?” seperti satu kalimat ditambah satu frase dibelakangnya;

“Aku, perempuan yang cinta pada cemara-cemara tropis setengah basah setengah kering, dibelaha bumi sana. Perempuan-perempuan.”
…. dan kesannya ya memang seperti itu. 
 Awalnya saya akui saya tidak menemukan apa-apa selain yang tersurat itu dan tersirat itu; cerita tentang seorang lesbian yang masih ragu-ragu dengan keputusannya memilih orientasi sex dan memilih pulang atau tidak ke negerinya, Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri melarang bahkan mengecam LGBT. Hukum sosial di mata masyarakat Indonesia pun hal-hal yang berbau seperti itu dianggap suatu hal yang lebih buruk dari sekedar zina, tetapi juga menjijikkan, itu dianggap penyakit.
Tetapi saya tetap tidak mau terjebak di situ, pada tafsir itu, walau saya telah tanyakan langsung pada penulisnya. Dan Yuli Nugrahani memang mengatakan demikian.
Saya terus berpikir, Saya tetap tidak mau menyerah. Harus ada garis merah. Saya selami lagi cerpen itu walau megap-megap dan timbul tenggelam (hanya) di permukaan saja. Tapi, saya mulai penasaran.
Akhirnya, saya pakai garis besar Indonesia dan perempuan. Oke, saya terima tentang Indonesia yang tidak menerima LGBT. Diantara 6 agama yang ada di Indonesia juga tidak menyetujui penyimpangan. Walau Konghucu, Budhis, Hindu meyakini reinkarnasi atau tumimbal lahir, karmapala, tetapi tetap menganjurkan “pengobatan”. Dalam Budhis melarang Kamasumichachara “perilaku sex yang salah” dan kesemua (agama itu) mengajurkan “jalan pertaubatan”. Sebab itulah, si tokoh SSCC ini, pergi ke suatu tempat yang jauh, negeri bersalju.

Ratusan perputaran bulan, melewati musim bersalju yang te¬lah berulang kali, memberikan bonus pengalaman-pengalaman dan perjumpaan-perjumpaan. Bahkan aku sengaja menelan beberapa kristal beku supaya bara dalam hatiku yang tinggal setitik, cukup di situ saja. Aku harap semua itu telah membekukan semua luka yang tidak aku perlukan lagi. Jangan sampai memercik kembali menjadi api ung¬gun yang besar. 
Aku ingin seluruhnya menjadi beku. Semua itu aku perlukan sebelum aku menginjak kembali kota-kota tropis yang sudah menung¬guku di belahan katulistiwa sana. Aku ingin jadi orang baru saat berada di sana nanti. Kembali menjadi bayi yang putih bersih seperti pada de¬tik pertama usai dilahirkan.

Celakanya, walau toh setelah bertahun-tahun pergi menghindar, mengendapkan, menahan diri dan menutup hati dari perempuan, tetapi tetap saja tidak bisa menghindarkan perasaannya. Sementara, Sang Tokoh mau tidak mau entah dengan atau untuk kepentingan apa dia harus kembali ke Indonesia. Tentunya Si Tokoh harus bersiap-siap dengan kemungkinan-kemungkinan terhadap diri dan hatinya. Oke, pada kesimpulan itu saya terima.
Tetapi pikiran saya tidak bisa diam, saya penasaran terhadap sesuatu yang sudah saya kenal dan terlanjur saya pikirkan. “Tresno jalaran eneng terus neng moto”. SSCC tiap hari ketemu, dibacam, dan dipikirkan… kok saya jadi ingin lebih dekat, ingin lebih tahu.
Saya baca lagi. Berulang. Berhenti di setiap kalimat, paragraf… bahkan detail kata. Dan berhentilah saya pada kata “Perempuan”. 
… Kebetulan saya pernah bersinggungan dengan perempuan-perempuan yang juga hidup dan bekerja di luar negeri. Saya memang sempat nyaris berangkat menjadi TKW beberapa waktu lalu. Dan saya ditolak oleh PJTKI tempat dimana para TKW dikarantina dan diberi pendidikan sebelum diberangkatkan. Akhirnya dapatlah saya bahan observasi yang seru dan menarik selama 3 hari di PJTKI itu.
Para TKW ini, banyak bekerja di Hongkong dan Taiwan. Kedua negara itu juga bersalju. Syarat konflik yang menarik juga dari sisi psikologis para TKW yang ingin berangkat mengadu nasib ini. Tetapi tidak semuanya buruk, justru saya banyak melihat kehebatan-kehebatan mereka yang luar biasa yang saya sendiri pastilah tidak akan sanggup menjalaninya. Saya bersumpah, sebetulnya mereka perempuan-perempuan hebat. Namun, ketika saya merenung lebih dalam saya berfikir kalau mereka juga sebenarnya “perempuan yang sakit”. Sakit fisik dan tersiksa secara batin. Fisik yang harus bekerja setiap hari, tertekan batin karena pastilah mereka sangat merindu dengan kampung halaman, tetapi tidak berdaya untuk pulang sebelum masa kontrak habis dan jika pun harus pulang, mereka harus memikirkan apa yang bisa mereka kerjakan setelah pulang. Bukan hal baru juga ketika kita mendengar kalau pekerjaan perempuan-perempuan di Hongkong ataupun di Taiwan itu sangatlah berat. Banyak yang bilang tergantung nasib. Kelapangan hati mereka meyakini hal itu. Kalau nasib baik, mereka akan dapat bos yang baik dan perlakuan yang baik pula. Terlepas paham atau tidaknya mereka masalah peraturan dan undang-undang untuk para TKW yang sesungguhnya. Dan karena ketidak pahaman itu, banyak cerita menyedihkan tentang mereka. 
… tetapi jika bicara Hongkong dan Taiwan, ya … yang terbayang adalah bahasa mandarin. Mereka etnis China. Dan jika dihadapkan dengan masalah tanah air … di Indonesia pun ada etnis China dan disebut warga negara keturunan Tionghoa. Singkat kata, bicara Hongkong, Taiwan, China, Tionghoa peranakan, terbesitlah beberapa konflik di kepala saya.
Oke mbak Yuli, terlepas dari semua penjelasan dan pengakuanmu, tapi aku tidak mau menyerah. Terlebih setelah melewati pementasan awal yang masih sekedar lipstik itu dan saya sengaja bermain di permukaan dengan konsep “fun”, mengajak semuanya menikmati SSCC dengan bungkus bergaya agak nasionalisme yang (mungkin) bisa diterima siapa saja atau juga terkesan pop atau apa, itu memang sangat sengaja saya lakukan sebagai ajang untuk bertemu siapa saja. Momen itu saya anggap sebagai “menghimpun bagian dari semesta yang sangat berarti bagi saya, dan juga SUN LOVE COMMUNITY”.
Namun, celakanya hari ini, saya harus jujur dan harus berani mengatakan kalau saya sudah jatuh cinta dengan SSCC. Dan gawatnya, ketika saya sudah jatuh cinta, mungkin saya akan total tegak di sana. Saya harus bertanggung jawab terhadap cinta saya tersebut, karena ketika Tuhan sudah memberikan “anugerah cinta” itu maka saya akan berdosa jika menyia-nyiakannya… (hmh), apalagi kalau tidak sampai menjadi sesuatu. Dan bukan hanya keyakinan “tidak boleh menyia-nyiakan itu” yang saya jaga, tetapi saya yakin dengan YULI NUGRAHANI pastilah dia punya sesuatu di SSCC. Tidak mungkin tidak. Akankah sesuatu itu benar-benar dibuat dan ditaruh begitu saja tanpa makna? Seperti pengakuannya di blognya yang sama;

"Namun, aku harus mengakui, cerpen SSCC bukanlah cerpen yang 'kusayangi' dibandingkan beberapa judul lain yang ada di sana. Aku suka cerpen Kafe, atau Mencari Kubur Ahmad, yang kemudian wujud sayangku itu kuteruskan dengan menggubah Kafe dan Mencari Kubur Ahmad sebagai bentuk naskah pementasan. (Yang butuh naskah monggo kontak aku.)
Aku hanya menyerap SSCC, mengukirkannya sebagai judul buku, lalu sudah. Dia kubiarkan teronggok begitu saja. Di satu sisi aku tak percaya diri mengungkapkan kehendakku atas cerpen itu, di sisi lain, aku merasa SSCC sudah cukup sebagai sebuah gagasan. Aku tak punya tugas apapun lagi atas cerpen itu. Dia mesti tahu diri, toh tak aku buang tapi aku sematkan dalam buku yang kubanggakan. Cukup."
Hmh… baiklah. Seperti kehadiran seorang anak, terlepas tiri atau kandungkah sang anak, pastilah orang tua punya harapan, setidaknya makna dari nama yang sudah kita labelkan kepada anak tersebut.
Dan di momen-momen berikutnya, mau tidak mau juga SSCC akan melekat pada tubuhku, perjalananku dan sun love. Untuk itu, aku tidak mau menyerah. Ngeyelku adalah resikoku walau pasti Si Penulis Hebat itu akan bilang; “Itu urusanmu, terserah dirimu”, selalu itu yang diucapkan Mbak Yuli ketika saya bicara tentang apapun (mungkin dia lelah).
“Kali ini akan saya buktikan “kengeyelanku” padamu mbak, akan kugali lagi“. 
Entah kenapa saya seperti makin jatuh cinta dan SSCC sudah tidak saya pedulikan lagi kalau yang menulis cerpen itu adalah YULI NUGRAHANI. 
“Okelah dia ibunya, tetapi dia akan menemukan realita kalau kelak anaknya berhak “jalan” dengan siapa saja dan dicintai siapa saja.”
… huff…
Saya kembali meditasi. Kini yang terlintas kuat adalah tepat pada judulnya;
SSCC. CEMARA.
Dulu saat saya pertama kali membaca SSCC, entah kenapa kata-kata “CEMARA” seperti luput dari perhatian saya. Tapi kali ini “CEMARA” benar-benar hadir di mata saya. Tentang bentuknya, daunnya… Ya, anatomi Cemara.


2. Menafsir SSCC; Cinta yang Belum Tuntas, Pencarian yang Belum Usai…
Pada cerpen “Salah Satu Cabang Cemara”, disebutkan 16 kali kata “Cemara” (kalau tidak salah hitung saja) dengan berbagai frase. Cemara basah, cabang cemara, kuping cemara, bibir-bibir cemara, reruntuhan cemara, cemara-cemara tropis setengah basah setengah kering, dan (ajaibnya) “salah satu cabang cemara” disebutkan di kata cemara yang ke 7, tepat di paragraf 24 (atau 25). 
Cemara disebut 16 kali yang bisa jadi itulah cabang-cabang cemara yang lain yang mengisi hiruk pikuknya kehidupan ini. Tafsir ini persis sama dengan pengakuan Yuli Nugrahani di Blognya Friday, May 12, 2017 “Salah Satu Cabang Cemara oleh Sun Love Community”

Judul yang terakhir kupakai ini kupilih setelah seluruh buku selesai kuedit. Dan kemudian kupilih sebagai judul buku karena frase ini dapat menggambarkan seluruh buku yang berisi cerpen aneka rupa tema, yang kesemuanya berangkat dari ide-ide personal yang kujumpai.
… 16 sampel tema kehidupan selain “salah satu cabang cemara” yang lain seperti yang dimaksud di dalam buku SSCc ini. Dan “salah satu cabang cemara” disebutkan di kata “cemara” yang ke 7, bisa jadi inilah penciptaan Tuhan yang agung, bisa jadi berupa 7 lapis langit dan bumi. “Salah satu cabang cemara” juga masuk di paragraf 24 atau 25. Kenapa 24 atau 25 seperti ada salah ketik disitu. Paragraf atau bukan, kenapa tidak menjorok ke dalam diawal kalimat. Saya tidak berani menyebutkan ini Nabi ke 24 atau ke 25, namun 2 nabi itulah yang membawa ajaran samawi tersebsar di muka bumi ini.
Oh, seajaib itukah engkau Mbak Yuli? boleh bertanyakah aku, itu kebetulan yang kau buat lewat imajinasimu yang mengalir begitu saja refleks dari jemarimu saat kau mengetik di tuts-tuts laptopmu? Atau sengaja kau hitung, kau rumuskan sambil menaklukkan imajinasimu, pikiranmu yang mengembara, sebelum kau tuang di kertas-kertas itu? Kau yang bilang SSCC tidak penting atau kau coba sembunyi dari hasil pemikiranmu sendiri yang telah kau endapkan hingga telah menjadi air bening, mineral murni yang tersaring lewat proses alami “Pengendapan kesadaran melalui jalurnya; serat-serat halus serupa akar pohon, serupa jaringan otot, serupa jaringan saraf, (atau …. apalah entah istilahnya aku tidak paham) yang disitulah sesungguhnya tempat disimpannya energi, tidak terlihat, namun itulah sejatinya”.
“Itu bukan kuping, Sayang. Lihat lagi dengan seksama. Aku kira lengkung itu lebih mirip bibir. Lihat ada gurat-gurat lembut panjang yang bisa berkerut atau merekah sesuai geraknya. Tapi kau betul. Dia sangat romantik. Dari bibirnya itu selalu dilantunkan desis tembang ro¬mantis. Kau mendengarnya juga?”
“Itu telinga. Lihat lubang yang melingkar-lingkar itu. Lihat dari bawah batangnya. Kau akan lihat rumitnya seperti apa. Tidak bisa dipungkiri itu adalah telinga. Muara, tujuan segala suara. Kalau kamu berdendang pasti akan segera mengalir masuk di sela-selanya. Setelah itu melingkar melesak ke dalam.”

Lalu apakah jalur itu? Gurat-gurat lembut itu yang justru menjadi inti dari batangnya benarkah yang saya tafsir ini sebagai Muara, tujuan segala suara itu. Setelah saya gali cerpen itu… ya apalagi kalau bukan Illahi dan apapun penciptaan-Nya yang mencerminkan Dia. Apapun itu.
Atau aku yang terlalu dalam menafsir seperti orang yang mencintai sesuatu maka aku akan mengharapkan yang terbaik ? atau yang baik-baik saja yang aku harapkan ?
Baiklah saya lanjutkan lagi meditasi, kembali saya tembak sana, tembak sini. Bidikan itu benar-benar saya arahkan pada sosok YULI NUGRAHANI.
Saya kenal dia sebagai perempuan yang bekerja di Kantor Keuskupan, berkeluarga, punyai suami dan 2 orang anak laki-laki. Dia ibu rumah tangga yang baik, walau moving kesana kemari, itu semua karena tugasnya dan dia juga seorang sastrawan produktif.
Dan saya berhenti di ruang kerjanya. Inikah? Apakah ini Cemara itu? Apakah Cabang Cemara atau bentuk segitiga Pohon Cemara itu adalah lambang dari Trinitas?
Saya benar-benar terpaku pada imaji pohon cemara, semua daunnya berbentuk jarum, dahannya sejajar, pucuk daunnya selalu menghadap ke atas. Uniknya pucuk-pucuk cemara itu seperti anggun dan agung tegak tidak ada yang berusaha mengalahkan satu sama lain. Kalau ditarik garis, bentuknya segitiga sama kaki, terlepas dari apapun tafsir tentang Anatomi Cemara. selain sering dihias dan digunakan sebagai Pohon Natal, Cemara juga tumbuhan yang mampu bertahan dimusim panas dan dimusim salju sekalipun.
Di sini, saya menemukan sesuatu yang “bertahan hidup” pada sosok Cemara. Sedang tema dalam cerpen ini adalah Cinta. Apakah ini yang dimaksud cinta yang bertahan dalam keadaan apapun untuk menjunjung komitmennya, kalau begitu, kira-kira “cinta” yang seperti apakah ?
Cinta yang seperti pohon cemara, tegak ke atas. Cinta yang bertahan dalam keadaan apapun untuk menjunjung komitmennya tegak kepada Tuhannya.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Kubuka mataku. Selesailah meditasiku hari ini.
Tetapi cerpen ini seperti belum selesai. Mbak Yuli tidak bisa begitu saja berdalih “Silahkan ambil kesimpulan, saya serahkan kepada pembaca”. Saya berharap tidak akan ada kata-kata itu lagi.
Dan jikapun SSCC ini belum selesai seperti pengakuanmu, mbak, mungkin inilah penyelesaian yang akan saya bawa ke atas panggung dengan penafsiran saya sembari mendengarkan tuturan-tuturanmu yang serupa bisikan lembut seperti yang terjadi di 19 Maret di UKMBS Unila. Aku merinding mendengar penjelasanmu tentang SSCC. Dan aku sekarang tau kalau sesungguhnya SSCC itu adalah cintamu, cinta kita semua yang belum tuntas, pencarian yang belum usai dalam mengkaji dan memahami maunya semesta.
SSCC itu pencarian saya dan juga pencarian setiap pembaca yang tanggap. Bukan hanya pembaca SSCC, tetapi setiap yang membaca pucuk-pucuk cemara yang tumbuh subur dari setiap cabangnya. Dia bertahan dengan keyakinan akan cinta-Nya.
Bantu aku menyelesaikan pencarian dan perjalanan di cerpen ajaibmu itu, mbak… dan aku akan dengan sabar ikut meneliti di setiap cabang-cabangnya, helai demi helai daunnya yang terkesan seperti jarum. Aku yakin, pucuknya yang tegak ke atas tidak akan pernah bersaing gaduh berlomba menjangkau langit. Aku yakin, daun jarumnya tidak akan melukai kulit di jemariku dan sesiapa saja yang ingin merabanya.
Aku akan bertengger di cabangnya dengan mantap semantap ketika kita yakin telah jatuh cinta dan mencintai. Apapun selagi masih didunia ini, tidak lah akan kekal adanya. Mau perempuan cinta dengan bunga, perempuan cinta dengan emas, perempuan cinta pada perempuan, perempuan cinta mati dengan lelakipun, itu tidak akan kekal seperti layaknya cemara yang bertahan terhadap musim.
Untuk hari ini, saya memang selesai meditasi, bangkit setelah menarik kesimpulan yang akan kita lihat bersama dalam bentuk pementasan dramatik cerpen SALAH SATU CABANG CEMARA, The Branch of Love tanggal 25 Mei 2017 di GTT TAMAN BUDAYA LAMPUNG. Tetapi ini belum final, pencarian saya belum usai…

Wednesday, May 17, 2017

Waiting for Warih

Awalnya saat membaca judul pementasan ini, aku agak ndak suka,"Ih, apaan sih. Judul kayak gitu." Warih siapa? Hehehe... Tapi, eits, tunggu dulu. Bukannya warih itu banyu? Toya? Tirta? Air? Nah... Kalau yang ditunggu air ya aku juga mengalaminya. Jadi sementara ndak usah protes dulu. Mari kita lihat pementasan para mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung (Unila), di Taman Budaya Propinsi Lampung, 15 - 16 Mei 2017 pukul 16.00 setiap harinya.

Dimulai dengan panggung yang gelap. Ketika mulai terlihat, ada satu tokoh di sudut depan, dan satu di sudut belakang. Plus 8 orang duduk. Yang di depan dan belakang saling bicara sampai pada puncaknya 8 penari itu menghentak. Itulah awal pentas.

Selanjutnya dialog dan tarian berselang-seling, menjadi alur, menjadi konflik, menjadi akhir... Hmmm....

Aku akan tahan komentar  yang lebih banyak. Aku mau angkat satu adegan yang kusukai, yaitu bagian setelah adegan kematian. Setangkai mawar ditinggalkan di tanah. Hanya mawar yang tersisa dari kematian, dikelilingi para penari Sigeh Penguten. Tarian yang seringkali dipakai untuk menyambut tamu kehormatan ditarikan oleh lima orang penari, tidak dengan kostum meriah seperti biasanya dengan mahkota siger, tanggai penghias jemari, tapis penutup tubuh, kebaya putih cemerlang, dan sebagainya, tapi mereka menggunakan baju hitam tanpa perhiasan dan wajah nyaris tertutup semuanya oleh anyaman bambu.

Bau dupa yang harum menyebar dari tarian ini mengiringi gerakan Sigeh Penguten yang berulang-ulang. Hmmm... ya, spontan pikiranku sampai pada pesta penyambutan tamu yang datang. Kematian pun serupa kedatangan. Jiwa yang datang di sebuah dimensi, setelah meninggalkan serupa kelopak mawar saja menggantikan raga. Jiwa yang datang dalam misteri, hmmm.... ya, tentu akan menerima penyambutan yang agung juga.

"Akhirnya,
waktu menumpas kita
dan cinta adalah alasan sementara
supaya kita merasa nyaman."

(Kalimatnya tidak persis, aku lupa... Entar pasti nemu teksnya untuk koreksi kalimat-kalimat ini.)


Friday, May 12, 2017

Salah Satu Cabang Cemara oleh Sun Love Community

Nah. Aku ingin menulis agak panjang kali ini. 
Jadi agak sabar ya. Kuselesaikan pelan-pelan :


Ini dimulai dari tahun lalu. Salah Satu Cabang Cemara (SSCC) adalah salah satu judul cerpen yang masuk dalam buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama, diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami tahun 2016. Cerpennya sendiri kutulis sekitar tahun 2008 atau 2009, yang kemudian mengalami proses yang lama dalam penyelesaiannya. Pernah berganti judul beberapa kali. Judul yang terakhir kupakai ini kupilih setelah seluruh buku selesai kuedit. Dan kemudian kupilih sebagai judul buku karena frase ini dapat menggambarkan seluruh buku yang berisi cerpen aneka rupa tema, yang kesemuanya berangkat dari ide-ide personal yang kujumpai.

Namun, aku harus mengakui, cerpen SSCC bukanlah cerpen yang 'kusayangi' dibandingkan beberapa judul lain yang ada di sana. Aku suka cerpen Kafe, atau Mencari Kubur Ahmad, yang kemudian wujud sayangku itu kuteruskan dengan menggubah Kafe dan Mencari Kubur Ahmad sebagai bentuk naskah pementasan. (Yang butuh naskah monggo kontak aku.)

Aku hanya menyerap SSCC, mengukirkannya sebagai judul buku, lalu sudah. Dia kubiarkan teronggok begitu saja. Di satu sisi aku tak percaya diri mengungkapkan kehendakku atas cerpen itu, di sisi lain, aku merasa SSCC sudah cukup sebagai sebuah gagasan. Aku tak punya tugas apapun lagi atas cerpen itu. Dia mesti tahu diri, toh tak aku buang tapi aku sematkan dalam buku yang kubanggakan. Cukup.

Namun (huh, aku tak terlalu suka menggunakan kata 'namun', tapi berkali-kali sudah kupakai dalam tulisan ini.), lihat poster berikut ini :



Hera mengubah 'anak tiri' ini menjadi calon berlian. Saat gadis kerempeng ini datang ke kantorku dan bilang,"Mbak, aku mau membuat pementasan berdasar salah satu cerpen mbak Yuli." Aku sudah menduga dia akan mengambil Kafe, atau cerpen-cerpen dalam Daun-daun Hitam. "Yang mana?" Dia dengan yakin menjawab,"Salah Satu Cabang Cemara." Eh. Aku sempat terdiam sebentar. Kurang begitu suka dengan pilihannya, tapi toh itu cerpenku juga, jadi aku jawab,"Ok. Mau kau baca sebagai monolog?" Nah, ini yang kemudian membuat aku lebih berkobar saat aku mendengar dia mulai bercerita tentang konsep-konsep kepedulian, anak-anak, masyarakat miskin, kebangsaan, perempuan-perempuan, nilai-nilai sosial, dan seterusnya-dan seterusnya.

How can Hera found the value from SSCC like as her said? Aku ndak ngerti. Aku mengerutkan kening. Aku berusaha keras memahami jalur pikirannya. Sering banget dia lompat dari sebuah gagasan ke gagasan lain. Aku tak paham. Aku pasrah,"Kau tahu yang terbaik. Semangat. Lakukan."

Aku kenalkan dia dengan beberapa orang. Aku ajak dia masuk dalam jaringan muda seni di Lampung kembali. Aku coba mendengarkan dia walau ndak paham seratus persen. Huft. Akan jadi seperti apa SSCC di tangannya? Aku kuatir, juga penasaran. Aku menahan diri terhadap ajakannya untuk datang melihat latihan. Aku tak mau intervensi. Tak mau mencampuri pikiran dan gagasannya walau sesekali mulut sok tuaku ini bocor juga.

Lalu terjadilah hari itu di Dawiels Cafe Bandarlampung menjelang hari Kartini, 20 April 2017 malam. Aku skeptis. Aku tak percaya SSCC bisa 'jadi', tapi aku gembira pada moment itu. Gembira melihat poster itu tersebar, dan aku datang dengan bahagia. Untuk Hera and the ganks, juga untuk SSCC, juga untuk diriku sendiri.


Sejumlah 50 an orang hadir dari berbagai kelompok. Sebagian tak kukenal, sebagian kukenal dekat, sebagian lagi kukenal sebagai jaringan. Aku menanti dengan sabar pementasan SSCC. Hera dan kawan-kawan sengaja sekali membuat pementasan itu sangat lambat rasanya di bagian awal dengan puisi-puisi, kata sambutan dan lain-lain. Aku tegak saja terpaku menunggu sampai kemudian saatnya SSCC.

Aku berurai air mata. Aku masuk dalam cerita itu seperti akulah sang tokoh. Ya, aku memang penulisnya. Akulah tokohnya. Akulah pembacanya kini memakai telinga-telingaku. Bunyi-bunyian di dari SSCC mengalun menjadi tanya. "Akukah penulisnya? Akukah tokohnya? Akukah pembacanya?" 

Hatiku meledak-ledak sampai di belahan bumi lain, tempat cerpen itu dialami oleh tokohnya. Di tempat yang jauh, yang berjarak dari Indonesia, yang obyektif sekaligus subyektif terhadap perempuan-perempuan Indonesia. Aku tak bisa tidak mengakui, Hera mampu membunyikan SSCC melampaui ekspektasiku.

Maafkanlah soal teknis, teori teatrikal dan lain-lain. Ini baru latihan pertama bagi Sun Love Community, Hera dan kawan-kawan. Aku tak peduli itu.


Aku peduli pada manusia-manusia yang membunyikan tokoh dan suasana dalam SSCC. Aku salut dan mengucapkan semangat untuk mereka. Saat itu, malam itu juga, aku yakin SSCC adalah pilihan yang tepat untuk dibawa ke ruang-ruang lain, dan siapa yang akan membuktikannya? Bukan aku. (Belum selesai, nanti lanjut lagi, sabar.)

Eropa, Aku Datang 13 : Pulang

(Sebelumnya.)

Pesawat Qatar Airways pukul 10.30 dari Fiumicino Airport akan membawaku pulang ke Indonesia. Transit di Doha, Jakarta lalu Lampung. Semuanya okey saat check in. Juga saat melewati imigrasi. Tak ada yang menarik juga sepanjang perjalanan pulang. Pesawat Qatar dari Roma ke Doha berbeda denga saat berangkat. Airbus dengan susunan tempat duduk 2-4-2. Sedang dari Doha ke Roma pakai Boeing 3-3-3. Jenis ini sama dengan saat berangkat dari Jakarta ke Doha, juga saat dari Doha ke Roma, waktu itu.

Makanan standar yang begitulah. Pelayanan ok. Sebuah dompet kain dibagikan berisi sikat gigi dan pasta, penutup mata, kaos kaki, juga penutup telinga. Minum apa saja sepanjang perjalanan. Sapaan setiap kali oleh para pramugari. "Madam, are you okey? Do you need something?" Aku biasanya menyebut keperluanku, jika memang ingin. "A cup of tea, please." Atau,"Do you have candy or cookies?" Atau,"I miss my dear, can you call him for me, please?" Hihihi...

Daftar menu selalu ada di Qatar Airways.

Pilihanku selalu yang ada nasi atau yang ada ayam.

Di bandara Soekarno Hatta, aku sampai pada pukul 7.40 pagi pada 13 April. Pesawatku ke Lampung menggunakan Garuda masih jam 13-an siang dari terminal 3. Aku terdampar di terminal 3 di terasnya Alfamart, dengan secangkir kopi, semangkuk mi, sebotol air minum dan berjuta pikiran-pikiran. Aku harus gembira. Itu kesimpulan akhirnya.


Saat tiba di Lampung, aku tak punya waktu lagi untuk memikirkan banyak hal. (Itulah mengapa kusebut hari terakhir yang lengang di Swiss dan Italy itu penting.) Kamis putih kulewati pada sore itu dengan ngantuk berat, Jumat agung kulalui dengan hitam pekat, dan malam Paskah, aku terbang bersama asap dari cahaya lilin di tanganku.

Aku mengakhiri perjalanan dengan 'mistis' mungkin karena pas dengan pekan suci. Semuanya tepat, pas. Ini perjalanan mimpi. Perjalanan absurb. Permainan ilusi. Hihihi. Nantilah kuterangkan hal-hal ini. Pokoke, ini adalah perjalanan yang ingin segera kuulang dengan peristiwa-peristiwa berbeda...

Love you, Langit dan Semesta. Love you so much. (Sementara selesai.)

Eropa, Aku Datang 12 : Hari yang Lengang sebelum Pulang

(Sebelumnya.)

Hari terakhir di Zurich sebenarnya sudah dirancang untuk jalan santai ke kota Zurich, menyusuri jalan-jalannya, lalu nongkrong sebentar sebelum ke bandara. Tapi aku tak ingin bergerak, tak ingin bersuara. Jadi hari ini aku hanya berbaring, duduk, mondar-mandir di rumah tanpa banyak cakap. Dan sekarang, setelah mengenangnya, pilihan itu sangat tepat. Seperti sebuah kesempatan untuk mengendapkan segala hal yang sudah kutangkap. Tubuhku juga membutuhkan itu. Pikiranku. Hatiku. Jadi, hanya diam saja pada hari itu, memanglah sangat tepat.

Aku kembali ke Roma dari Bandara Zurich menggunakan Swis Airlines pada pukul 17.45. Kalau waktu berangkat aku menembus Alpen, kali ini aku melintasi puncak-puncak Alpen. Aku nangis. Tidak bisa tidak. Aku tertawa. Tidak bisa tidak. Aku kosong. Aku penuh. Aku ...







Sampai di Fiumicino Airport, aku dijemput minibus untuk sampai ke hotel transit, B&B Hotel di Fiumicino. Satu malam yang menambah kelengangan di hari terakhir sebelum aku balik Indonesia. Rasanya seperti mimpi hari ini. Melayang, terbang... tidur dengan tidak nyenyak. Beberapa kali terbangun. (Aku akan tulis lebih detail tentang hal ini nanti, ingatkan aku.)

Aku benar-benar bangun pada pukul 06.00. Tanpa mandi aku packing dengan kilat, bersiap seperlunya. Di lobby hotel, petugas memberiku bungkusan sarapan berisi pie apel dan jus jeruk kotak, dan berbaik hati menunjukkan tempat di mana aku harus menunggu jemputan ke bandara.

Kabut melingkupi Fiumicino. Dingin. Tak ada seorang pun di jalanan pada jam 07.00 pagi itu. Sempat was-was ketika hingga 10 menit tak juga ada makluk lain di sekitarku. Ketika mobil penjemput datang 15 menit kemudian, sapaan sopirnya seperti sapaan paling ramah yang pernah kudengar saking aku lega banget bisa bertemu manusia lain. Hehehe. Seorang laki-laki Italy, tua, berjas, membantuku memasukkan koper, bertanya terminal berapa tujuanku, lalu membantuku masuk ke mobil dengan sabar.

Akan ke manakah aku setelah ini? (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 11 : Reinfall dan Mainau, Swiss hingga pinggiran Jerman

(Sebelumnya.)

Hari Senin keesokan harinya Nadet sudah menawarkan rencananya : "Kita akan ke Rein Fall, lalu Mainau dan kalau ada waktu ke pinggiran Austria." Aku ya mung mantuk-mantuk setuju. Apa pun pasti kunikmati kusukai.

Reinfall, masih daerah Swiss. Kami menyusuri pinggirnya dari berbagai sisi :




Mainau, sebuah pulau unik di Jerman :


Magnolia sedang mekar. Ohhh... cintaku, akhirnya aku bertemu denganmu di sini.

Tulip!!!

Makan siang yang super kenyang.


Hmmm... Austria tak jadi dikunjungi karena waktunya tak memungkinkan. Bagiku sih hari ini sudah puas. Jadi saat kembali ke Zurich, melalui jalanan lurus dengan cemara/pinus di kanan kiri jalan, ditemani lagunya Sheila on Seven dan lagu-lagu lain, aku tak lagi berpikir apa pun. 

Ini sudah berlebihan kuterima. (Kisah selanjutnya.)

Eropa, Aku Datang 10 : Piknik di Tepi Danau Zurich dan Makan Malam bersama Edhit

(Sebelumnya.)

Hari santai pada hari Minggu, 9 April, urusanku adalah memenuhi undangan makan. Nadet dan Silke libur. Sepanjang siang mereka bersama beberapa orang sudah merencanakan piknik di tepian danau Zurich, makan, bakar-bakar, makan, jalan, makan, ngobrol, makan lagi, ... dst. Huft. Sampai melar full ini perut dengan salad, buah, asparagus, bihun goreng, ayam bakar, sosis, etc.etc, entah apa saja.

Salah satu yang menarik, bukuku kumpulan cerpen Salah Satu Cabang Cemara rupanya terselip di antara bekal piknik Nadet sehingga menarik perhatian Jo, yang lalu menarik semuanya untuk dibaca sekilas dan dibahas sekilas. Hanya kilas-kilas saja. Hehehe. Iyalah. Mana mereka paham bahasa Indonesia. Tapi mereka rupanya menunjukkan apresiasinya padaku dengan antusias melihat deretan huruf-huruf dalam buku itu.

Lihat. Terlihatnya saja sudah begitu luar biasa kan.

Piknik di tepi danau Zurich

Pasangan Felix dan Nona, Jerman dan Rusia, mesra...

Nah, malamnya Edhit undang untuk makan malam. Perempuan Jerman ini memasak pasta dengan saus jamur yang super deh. Awalnya aku udah ragu apakah perutku yang masih kekenyangan dari piknik itu bisa menerima makanan lagi malam hari itu. Tapi ternyata, begitu memasuki rumah Edhit yang mungil, aroma saus jamur tercium lezat dan langsung mengkili-kili perut. Aku masih bisa menghabiskan sepiring pasta dengan sausnya, plus semangkuk salad sayur yang segar. Pun Edhit masih memberiku bonus sekantung coklat. Wajah ramahnya itu tak mungkin kulupakan.

Teras rumah Edhit yang mungil dan indah.


Silke kebagian motret. Ingat foto setelah semua santapan hilang di perut. Hehehe.

Malam hari balik ke rumah Nadet dengan super kenyang mengingat seluruh makanan dan energi-energi lain yang kulahap sepanjang hari itu. Tidur pulassss...  (Kisah selanjutnya.)