Wednesday, August 10, 2016

Salah Satu Cabang Cemara, Kumpulan Cerpen Yuli Nugrahani

Penulis: Yuli Nugrahani
Tata letak & desain sampul: Devin Nodestyo
Model sampul: Kiki Rahmatika dalam The Dark Side
Fotografer : Achmad Oddy Widyantoro (Oddzhaheho Creative)
Penerbit : Komunitas Kampoeng Jerami
ISBN : 978-602-74925-0-9

Setelah penerbitan kumpulan cerpen Daun-daun Hitam pada tahun 2014, saya berniat menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berikutnya, dalam waktu dekat. Tentu menyenangkan jika dapat menerbitkan buku cerpen secara periodik. Ternyata niat itu tak mudah dijalankan karena ada hal-hal lain yang tiba-tiba harus menjadi prioritas, naik turunnya semangat dan juga adanya kelalaian-kelalaian saya dalam proses.

Awal tahun 2016 saya mulai mengumpulkan cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media, saat cerpen saya yang pertama dalam tahun ini dimuat di Lampung Post pada Januari 2016. Cerpen berjudul Kafe itulah yang saya letakkan pada bagian pertama dalam kumpulan cerpen ini.

Kafe bercerita tentang seorang ‘aku’ yang berada dalam penantian dan perpisahan. Si ‘aku’ sangat merindukan Nad, namun Nad bukan orang yang mudah untuk ditunggu. Keinginan untuk bertemu Nad menjadi batu sandungan bagi langkah si ‘aku’. Menjadi sumber kegelisahan sekaligus menjadi bahan pengharapan. Pada suatu waktu nanti, batu ini mungkin akan benar-benar melukai atau mungkin malah menjadi batu pijakan bagi lompatan hidup ‘aku’. Sekejap perjumpaan mereka telah menjadi sarana untuk mengambil keputusan di masa mendatang, jika diperlukan.

Saya tidak menentukan akhir yang pasti dan jelas dalam cerpen ini. Dengan cara begitu cerpen ini menjadi sindiran bagi saya sendiri yang sering kali menciptakan ‘batu-batu’ dari penantian dan perpisahan yang muncul dalam hidup. Saya yakin bahwa saya mendapatkan hikmahnya ketika saya sudah menuliskan Kafe dengan sadar. Demikian saya berharap pembaca bisa mengambil suatu pengalaman saat membaca cerpen ini.

Cerpen-cerpen lain saya susun secara acak tanpa peduli urutan kronologis pembuatannya. Pembaca dapat melihat cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini ditulis antara tahun 2006 sampai 2016 dengan beragam tema. Hampir semuanya pernah dimuat di media, jurnal maupun antologi bersama penulis lain.

Saya mesti berterimakasih secara khusus kepada Fendi Kachonk dan Yulizar Fadli, dua sahabat yang rela hati menjadi pembaca awal, mempertanyakan, mengkritisi maupun mengoreksi naskah-naskah dalam buku ini. Saya mesti minta maaf karena sering kali keras kepala menanggapi kritikan.

Terimakasih pada Ari Pahala Hutabarat dan Yanusa Nugroho, yang senantiasa menjadi penyemangat dalam perjalanan kepenulisan. Walau saya tidak membangun komunikasi intensif, sepercik-sepercik kalimat berkali-kali menjadi kobaran spirit. 

Saya mencatat nama-nama yang terlibat secara langsung dalam buku ini. Devin Nodestyo yang sabar mendengarkan dan membuat desain buku melampaui imajinasi saya. Kiki Rahmatika yang menyediakan foto diri saat menari The Dark Side dipakai sebagai bahan sampul. Ahmad Oddy Widyantoro, sang fotografer. Umirah Ramata yang membantu proses penerbitan. Teman-teman Komunitas Kampoeng Jerami dan Komunitas Berkat Yakin.

Istimewa untuk para lelakiku : Hendro, Albert dan Bernard. Terimakasih atas segala cinta dan pengertian.

Tuesday, August 02, 2016

The Palace of Illusions

Penulis : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU) - terjemahan
Terbit : 4 Agustus 2009
Isi : 493 halaman
140 x 210 mm
ISBN : 9789792245561

Perempuan mempunyai dan menjalani kisah-kisah yang 'heboh', hingar bingar oleh berbagai pengalaman sejak lahir hingga matinya. Jika kisah itu diberitakan oleh orang bukan perempuan, yang ada adalah alur, adalah babak demi babak, adalah perjalanan. Namun jika yang bercerita adalah 'perempuan itu' sendiri, alur bukan sekedar alur, babak bukan sekedar babak, dan perjalanan bukan sekedar perjalanan.

Aku sudah mengenal Dropadi (dalam kisah wayang Jawa, dia adalah istri Yudistira, tapi dalam versi India, dia adalah istri Pandawa, seluruh Pandawa) sejak dahulu. Aku tahu kisah hidupnya dalam dua versi Jawa dan India. Tapi lewat The Palace od Illusions, Chitra mengubah kehidupan Dropadi atau Drupadi, alias Pancali, alias Kresnhaa menjadi tokoh sentral yang 'bulat' sebagai perempuan tidak biasa.

Pancali lahir secara tidak biasa. Hidup secara tidak biasa. Pun dia merasa dan berpikir tidak biasa. Dia dalam novel ini memang digambarkan tidak selumrah perempuan-perempuan lain yang ada di bumi. Dialah salah satu pemicu perang besar Mahabarata. Dialah kecintaan Kreshna. 

Yang menjadi hal baru dari kisah Pancali yang menjadi pembeda alur kisah yang pernah kudengar atau kubaca adalah, Pancali meletakkan hatinya pada Karna! Karna, anak yang terbuang, anak Kunti yang sulung sebelum melahirkan Pandawa. Karna yang memilih di pihak Kurawa. Hihihi. Aku tak mengira Chitra bisa mengasumsikan hal ini dan kemudian menceritakannya begitu indah. Bahkan pada akhir hidup Pancali di babak ini, Karnalah yang menjadi tujuan jiwanya. Wah.

Tuesday, July 26, 2016

KOREKSI

Okeylah menjadi dosen tak tetap, tak masalah. Tapi ketika harus mengakhiri semester dengan mengoreksi hasil ujian mahasiswa, yang ternyata kebanyakan adalah tulisan-tulisan copy paste, itu sungguh membuat stress. Kesempatan-kesempatan aku tawarkan karena pada dasarnya aku sangat berharap pada orang-orang muda, aku sangat sayang pada mahasiswaku. Aku tidak ingin memojokkan mereka dengan pengalaman yang tidak semestinya.

Namun pemikiran itu juga membuatku salah tingkah. Memberi nilai A sedang ujian tidak mereka tulis sendiri, itu sama sekali tidak tepat. Mereka akan mengulang hal itu lagi di masa mendatang. Mereka akan menganggap copy paste adalah tindakan super yang layak dapat A. Tidak. Itu tidak boleh terjadi pada mereka yang jelas-jelas kulihat potensinya. Memberi nilai C atau D juga tidak mengenakkan. Aku paham nilai C atau D sama sekali tidak diharapkan untuk mahasiswa kelas karyawan yang mereka sebenar-benarnya hanya ingin 'gelar'. Huft.

Monday, July 25, 2016

Makan di Kahyangan

Kesempatan ini tentu saja langka bagiku. Iya deh, aku sering ditraktir orang-orang (yang berduit atau tidak berduit) makan di berbagai tempat dengan jenis makanan yang aneh yang enak atau yang tak terbayang.

Nah, kali ini aku dapat kesempatan makan di Khayangan Shabu Shabu Restaurant, di lantai 29 Wisma Nusantara Building, di Tamrin Jakarta pada Sabtu, 23 Juli 2016.

Bu Merry yang mengajakku memamerkan hidangan-hidangan yang sebenarnya aku pernah makan beberapa kali di tempat lain. Jadi apa istimewanya restoran ini?

Hmmm, pertama adalah lokasinya. Mereka menata ruang makan seolah berada di kahyangan. Hehehe, lebay sih. Ndak begitu amat. Tapi dari tempat dudukku, aku bisa melihat pemandangan malam kota Jakarta yang penuh dengan kerlip lampu.

Kedua, pelayanannya. Ya, mereka memberi pelayanan optimal pada para pengunjung. Jadi model aku pun yang kampungan ini tidak merasa canggung.

Ketiga, teh ocha!!! Ternyata aku suka teh ocha tanpa gula yang diminum hangat. Membuat segar.

Keempat, hmmm... tentu saja karena aku tak harus membayar makanan-makanan itu. Satu piring irisan daging (apa ya namanya) itu pun harganya sudah di atas 1 juta. Ndak lah kalau suruh membayar sendiri. Aku lebih memilih bebek goreng dengan lalapan plus nasi sebakul. Hehehe...

Friday, July 22, 2016

Bengkel Sastra Bersama Kantor Bahasa Propinsi Lampung

Kesempatan menarik ini pertama-tama karena upaya Kantor Bahasa Propinsi Lampung. Yanti Riswara Idris, kepala kantor ini mengundang untuk mengisi sebagian sesi dari bengkel sastra untuk para guru SMA di Kota Metro.

Kegiatannya sih berlangsung tiga hari, tapi waktuku sangat terbatas hanya bisa membantu di hari pertama dan kedua, itu pun hanya setengah hari di masing-masing hari yaitu pada 20 dan 21 Juli 2016 untuk sesi Menulis Kreatif, Menggali Sumber Tulisan dan Belajar Puisi.

Ada 50-an peserta dari berbagai SMA dan SMK yang berkumpul di SMKN 1 Metro untuk kegiatan ini. Mereka mengikuti kegiatan dengan antusias walau ternyata tidak seluruh mereka adalah guru bahasa Indonesia. Bahkan ketika mereka mesti berlatih membuat tulisan-tulisan, mereka menyodorkan tulisan-tulisan untuk dikoreksi dan dibagikan kepada teman-teman lain. Silakan klik di sini untuk membaca tulisan lain tentang kegiatan ini.

Nah, nanti kupasang sedikit dari yang sudah mereka tulis. Terlebih karena sesuai pelatihan, sebagian dari mereka masih kontak untuk menyapa dan mengatakan,"Ini puisiku, mbak. Bagus tidak?" Hehehe... ini sungguh menyenangkan.

Friday, June 03, 2016

My Stupid Boss

Mau ngakak-ngakak ndak usah mikir, nontonlah film ini. BCL dan Reza serta pemain-pemain lain bakal mengocok mulut dan perutmu. Serius!

Yang menjadi pusat cerita adalah si bossman, diperankan oleh Reza. Si boss yang aneh, konyol dan kacau. Soal bagaimana kelucuan dibangun oleh karakter tokoh ini silakan nonton sendiri deh. Hehehe... Nah si BCL jadi istri dari karibnya si bossman yang kemudian melamar menjadi pegawai di perusahaan si boss di KL. Karyawan dari berbagai negara ada di tempat usaha ini. Cukup asyik sih nggambarinnya karena sedikit gambaran tentang pekerja dan pekerja migran muncul di sini.

Yang paling kusuka ada cara mereka menggarap film ini. Ciamik cahanyanya. Serius settingnya. Keren kostumnya. Dan tepatlah para pemainnya. Sayangnya ada satu bagian dalam alur cerita yang tidak kusukai karena tidak logis (Den Hendro malah tidur di bagian ini sampai kemudian kucubit biar bangun. Dasar.) Yaitu saat ingin ditunjukkan sisi lain dari hidup bossman. Digambarkan bossman mengajak si BCL (nama perannya Diana) untuk mengunjungi rumah kebajikan alisan panti asuhan. Suer ndak logis. Manalah ada karakter orang seperti bossman yang digambarkan cuek tak peduli pelit dengan berbagai masalah keuangan yang membelitnya tiba-tiba ingin memperbaiki panti asuhan dan membelikan 2 minibus. Konon dia mengunjungi tempat ini lagi karena dua anak panti asuhan itu mengembalikan tas laptop si boss yang tertinggal. Rasanya ndak masuk akal. Kalaupun dilakukan pasti si Diana hanya akan menganggapnya pura-pura, akting aja untuk mengubah pikiran Diana yang ingin keluar kerja.

Mestinya, mungkin bisa ditampilkan sikap-sikap kecil yang lebih logis yang memang bisa dipunyai oleh orang seperti bossman itu. Toh setiap orang berkarakter apapun pasti punya cinta kan? Nah mungkin cinta pada istrinya bisa menunjukkan beberapa sikap. Atau cintanya pada beberapa karyawan yang ditampungnya, toh dia menampung banyak karyawan yang bermasalah kan. Atau cintanya pada siapa gittuuu... Kukira itu cukup logis karena setiap orang akan bergerak kalau ada cinta.

Weeeesss...gitu sedikit ulasan tentang film ini. Yang jelas sebagai film komedi, film ini berhasil.

Sunday, May 29, 2016

Kelas Menulis Kreatif KoBER

Komunitas Berkat Yakin (KoBER) memulai kelas menulis kreatif untuk puisi dan prosa pada Sabtu 28 Mei 2016. Kelas menulis ini ditujukan untuk siwa SD, SMP, SMA, Mahasiswa dan Umum. Aku terlibat di dalamnya untuk menemani kelas prosa bagi mahasiswa dan umum.

Hmmm... apa asyiknya? Kita akan bergembira di kelas-kelas ini. Menguatkan minat kita dalam dunia penulisan, namun bukan menulis sembarangan dalam semangat instan. Kita akan benar-benar belajar.

Pengajar yang lain selain aku ada Inggit Putria Marga, Fitri Yani dan Yulizar Fadli. Tentu Ari Pahala Hutabarat terlibat sebagai penanggungjawab untuk seluruh materi karena dia nih sesepuhnya. Hehehe... Kelas akan dilakukan pada tiap Sabtu (dan mungkin juga Minggu jika ada kelas tambahan).

Nah, nah, nama-nama pengajar itu tentu saja bukan yang pertama-tama menjamin kelancaran proses latihan nulis. Maka ada nama-nama lain yang dilibatkan karyanya, yaitu satrawan-sastrawan dari Indonesia maupun luar Indonesia. Sebanyak 12 kali pertemuan akan 'ditelateni' selama tiga bulan pertama ini yang kemudian akan bersambung ke tiga bulan berikutnya untuk level selanjutnya, dan selanjutnya lagi.

Tuesday, May 17, 2016

Mobil dari Kulit Jeruk Bali

Siapa yang pernah membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali pada waktu masih kecil? Aku salah satunya. Aku beruntung karena di belakang rumah orang tuaku ada pohon jeruk bali yang berbuah secara rutin. Hampir setiap saat kami bisa menikmatinya sampai kemudian harus ditebang karena sudah tua, rapuh dan tidak lagi tumbuh daun dan bunganya.

Nah, beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman buah ini dan otomatis ingatan melayang jauh ke masa lalu. Den Hendro mengiris kulit-kulitnya dan ...traaa daaa...jadilah mobil jeruk bali, disemat dengan tusuk sate dan diberi penumpang beberapa biji buah kemuning yang sudah merah.

"Lucu." Itu komentar yang pertama kali muncul dari bibir Nina, gadis kecil samping rumah. Heboh dia menarik mobil ke sana kemari. Oalah, kukira itulah kali pertama dia melihat jenis yang seperti ini. Hehehe...

Friday, April 22, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 6 Tamat (Bonus Jakarta - Lampung)

Pagi-pagi setelah puas and pulas tidur di karpet Changi Airport, kami bersiap di Gate 23, tempat Tiger akan menerbangkan kami ke Jakarta pada pukul 8.20. Dari Jakarta menuju Lampung kami akan naik bis Damri dari Gambir. Nah, ada waktu sekitar 7 jam yang kami bisa gunakan di Jakarta. Itulah bonusnya!

Pertama, usai dapat tiket bis di Gambir, bawaanku cuma pengin makan tempe. Dapatnya di warung Es Teler 77, dan bukan tempe. Hehehe... tapi bebek penyet. Wis ra popo, yang penting makan sambel trasi. Lalu kami naik taksi ke Senayan. Kebetulan hari itu hari menjelang penutupan pameran outdoor Indofest. Jadinya, gempor kaki menyusuri pameran yang super ramai itu. Untungnya : aku dapat sandal jepit sebagai pengganti sepatu yang mulai menghimpit kaki yang sudah bengkak. Karena mas Hendro ndak tahan lihat aku jalan sambil nyeker, dibelikanlah aku sepasang sandal jepit tanda cinta. Hahahha... Keuntungan kedua, aku bisa membelikan rompi hitam yang diidam-idamkan Albert. Lalu, kami dapat alat masak untuk ke gunung dengan harga super murah. Wis. Mantap.

Masih di area pameran, aku sudah kagak tahan lagi untuk jalan kaki. "Kutunggu di sini. Mas Hendro jalan aja." Jadi aku ngelesot di depan stand yang cukup longgar. Nongkrong dan melamun. HP tak ada baterai lagi sejak dari Singapore.

Masih ada waktu 3 jam. "Ke TIM aja yuk. Makan di sana." Usulku. Mas Hendro setujuh. Jadi kami naik taksi ke TIM, dan kebetulan di sana ada International Language and Culture Festival, sehingga kami meniatkan diri menyusup ke dalamnya, dan Mas Hendro ketemu pacar lamanya, si Sarah. Hehehe...kugodain habis dia.

Menjelang jam keberangkatan bis, kami nyetop bajaj untuk kembali ke Gambir. Mengambil ransel yang kami titipkan di sana, dan tidur dengan sukses di kursi bis Damri menuju Lampung. Wuahhh...kayak mimpi saja perjalanan ini.

HP bisa kucharge di bis dan aku bisa telpon Albert. "Jemput besok pagi ya, Bert."

Di Lampung aku dapat bonus jalan-jalan lagi di Ramayana karena aku berjanji membelikan celana panjang untuk Bernard. Dia akan pentas pada hari Senin dan membutuhkan celana itu. Yukkk...ditambah lagi jalannya kakiku masih kuat. Maka bonus terakhir perjalanan kali ini adalah jalan bertiga, aku, Albert dan Bernard mencari celana panjang lalu nongkrong di KFC Ramayana sampai puuaaasss.

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 5 (Orchard, Merlion dan Marina Bay dalam satu tarikan)

Merlion Park
Jumat 8 April kami mesti terbang balik ke Indonesia dengan Tiger pagi-pagi banget. Taksi 800 bath dari Patong sebenarnya agak tak bisa direlakan. Tapi ya udah deh...

Nah, berhubung pesawat transit di Singapore cukup lama, dan memang kami sengaja ambil waktu transit yang lama (bukan paling lama sebenarnya) sekitar 20 jam, kami meniatkan untuk menyusuri Singapore dalam waktu itu. Kami beli kartu tourist pass untuk satu hari, satu orang 10 dollar Singapore, ditambah deposit 10 dollar yang bisa diambil kembali. Dengan kartu ini, kami bisa gunakan MRT dan bis umum bebas sepanjang hari. Sip.

Awalnya, tujuan kami yang pertama adalah daerah Little India untuk mencari penginapan. Mas Hendro usul di MRT,"Kayaknya kita ndak perlu tempat penginapan deh. Kan besok pagi-pagi kita udah harus ke bandara jam 5 pagi. Ndak bakal sempat tidur." Ya, aku setuju. Tapi akibatnya kita harus manggul ransel selama di Singapore. Hehehe...

Tiduran menikmati cahaya.
Jadi tujuan pertama Orchard Road. Mas Hendro mesti tahu tempat ini. Dan karena yang kutahu Takashimaya Mall, ke situlah kaki melangkah. Tidak jauh dari stasiun MRT. Dan waktunya makan siang. Aku tahu di dalamnya ada foodcourt dengan makanan yang terjangkau, walau mau tak mau harus diakui tetap saja mahal untuk kantong kami. Nasi bebek 4,5 SGD, mi goreng 5 SGD, minum air putih 2 SGD. Bangkrut dah.

Setelah makan wajib hukumnya makan es krim potong Singapore. Persis di depan mall ada si bapak tua yang sama yang pernah kujumpai tahun lalu. Sepotong es krim aneka rasa 1,2 SGD. Menikmatinya sambil menikmati lalu lalang orang di jalan yang terkenal itu. Sambil foto-foto narsis.

Puas dengan Orchard kami kembali ke MRT, mencari rute ke Merlion Park. Tanya sana sini, jalan sana sini, ketemulah dengan singanya Singapore itu. Aku ndak terlalu berminat ke tempat ini tapi mas Hendro wajib ke sana. Hehehe... jadi juga narsis berdua di tempat ini. Aku beberapa waktu duduk saja menikmati semua bahasa yang bercampur baur di lokasi ini. Indonesia, China, Korea, Jepang, dll, huaahhh, ini tempat pavorit berikutnya rupanya di Singapore.

Berbekal peta, kami bisa menyusuri pinggiran Marina Bay untuk sampai di sisi lain. Aku ingin menunjukkan bagian yang menarik untuk dinikmati di malam hari saat di Singapore. Atraksi Wonder Full yang menyajikan paduan air muncrat dan cahaya. Aku yakin mas Hendro pasti terpikat.

Sembari menunggu pertunjukan yang baru dimulai jam setengah 8 malam, kami ketiduran di pinggir danau buatan itu. Cukup pulas walau hanya beberapa menit. Orang-orang tak peduli di sekitar kami pun menikmati sore itu dengan cara masing-masing. Satu orang saja yang tersambung di malam itu, Andy, seorang Singapore yang sangat cinta Indonesia, seorang fotografer. Kami bertiga ngobrol hingga pertunjukan yang pertama selesai, lalu pertunjukan kedua selesai... Hehehe... ya. Aku sudah tak punya energi lagi untuk jalan ke mana-mana. Jadi di situ saja sambil ngobrol.

Setelah seharian berjalan tanpa mandi dan sikat gigi. Di MRT.
MRT terakhir jam 11 jadi jam 10 lewat dikit kami cabut, cari toilet, cari air dan menuju stasiun setelah say goodbye ke Andy yang baik hati. Di stasiun bandara uang deposit tourist pass bisa kudapat kembali. Kukibar kibarkan ke mas Hendro,"Makan malam kita." Kataku sambil tertawa. Sialnya, pada malam hari yang kelewat malam itu restoran-restoran sudah banyak yang tutup. Pilihan dikit dan jatuh pada Burger King. Duh, mahal selangit dan ndak nendang.

Maka malam itu tanpa mandi tanpa apapun, kami ngelesot tidur di bandara. Air minum tersedia di kran-kran air minum di sepanjang Changi. Karpet empuk. Ruang yang lebar. Toilet bersih. Cukup untuk tempat nginep. Hehehe... Jelas irit toh. Besok paginya kami pun siap di gate Tiger sejam sebelum berangkat untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan di Singapore 20an jam yang menghabiskan 60 SGD untuk transport dan makan. Hehehe... hemat juga untuk tempat semahal Singapore. Great.

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 4 (Bukit di Phuket)

Saat aku ketemu Uncle Rungrote di hari pertama di Takuapa, uncle baik hati ini bercerita banyak hal tentang daerah sekitar penginapan. Ketika sempat disebut nama Phuket, dia bilang ada kemungkinan nama Phuket itu diambil dari kata 'bukit' dari bahasa Melayu. Nyatanya memang pulau Phuket itu berupa tanah perbukitan yang naik turun dan subur.

Di area Calong Temple
Ini bisa kulihat pada perjalanan berikutnya pada 7 April. Hari ini niatnya kami sebenarnya kami check out dari Days Inn Hotel, menitipkan barang di resepsionis lalu jalan di sekitar Patong sampai siang. Sorenya kami akan cabut ke daerah dekat bandara Phuket, nyari tempat nginap di sekitar Naiyang Beach sebelum besoknya kami terbang pagi-pagi banget.

Yang mengubah rencana itu adalah tawaran Siriwan, petugas resepsionis yang ramah yang bisa bahasa Inggris, Thai dan Melayu. Dia menawarkan paket tour setengah hari (sepanjang pagi mas Hendro menghabiskan waktu di kolam renang di atap hotel yang kutungguin sambil membaca.) Tour dimulai jam 13.00. Ada waktu sekitar satu jam untuk makan siang. Setelah menghitung-hitung, menimbang-nimbang, okey, kami ikut tour itu. Masalahnya pulangnya jam 18, terlalu sore untuk jalan ke bandara dan cari hotel. Kalau pun dilakukan, kami tak akan bisa menikmati pantai Naiyang dan tidak ada daerah lain yang bisa dikunjungi di dekat bandara. Maka kami manut pada Siriwan. Booking satu malam lagi di Days Inn, pesan taksi untuk besok subuh dan ikut tour setengah hari.
Karon point view

Tidak menyesal. Hari itu kami melihat bahwa Phuket memang bukit. Mendapat pemandangan-pemandangan pantai dari atas bukit seperti di Karon, lalu Phuket Safari, Big Budha, Calong Temple, pabrik kacang mente, toko dan pabrik perhiasan, bangunan tua di kota Phuket, dll. dll. dll. Satu mobil kami ber 8 orang (dari Amerika, Eropa dan kami berdua) ditemani seorang guide tour yang cantik dan sopir yang ramah.


Malamnya kembali pantai Patong dan mencari sesuatu untuk anak-anak. Dapatnya tahu ndak? Hehehe... jajanan di 7 Eleven yang pasti ada juga di Indonesia, namun tulisannya dunkkkk, huruf Thai. Hehehe... maafkan, memang tak ada budget untuk membeli oleh-oleh dalam perjalanan ini. Malam malam pun kembali ke pantai Patong setelah membeli nasi beku yang dipanaskan dari 7 Eleven seharga 35 an bath.

Thursday, April 21, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 3 (Paket satu hari Phi Phi Island Tour)

Setelah menikmati malam hingar bingar di Patong, 6 April kami berusaha bangun pagi dengan susah payah. Malam sebelum tidur kami sudah pesan ke hotel untuk membangunkan kami sekitar pukul 6 pagi supaya kami sempat mandi dan sarapan sebelum dijemput mobil untuk tour satu hari ke Phi Phi Island. Huaaa...masih luar biasa ngantuk kami keluar cari sarapan di sekitar jalan dekat hotel.

Dikerubuti ikan-ikan di Khai Island. Hasil jepretan Isa (?).
Telat 10 menit dari jam 7, sopir tour berteriak di lobi hotel dan hal yang sama diteriakkan saat menjemput wisatawan lain di hotel-hotel lain. Perjalanan ke Phi Phi Island akan menggunakan waktu sepanjang hari ini dari pagi sampai sore. Yang tidak kubayangkan adalah perjalanan ke sana itu rupanya melalui Rassada Harbour, sisi lain dari pulau Phuket dan pelabuhan itu dekat banget dengan tempat aku live in untuk program acaraku beberapa hari yang lalu. Jadilah aku sibuk bercerita ke Mas Hendro karena aku sudah sangat familier dengan tempat itu. Lha iya lah, la wong 3 hari aku tinggal di situ.

Nah, pas di pelabuhan Rassada menunggu kapal yang akan membawa kami mengelilingi pulau-pulau, kami bertemu sepasang pengantin baru dari Indonesia, Ade dan Pipit. Ini menarik karena sehari kemudian kami masih bertemu lagi beberapa kali secara tidak sengaja dengan mereka. Selain mereka kami juga berkenalan dengan satu keluarga dari Indonesia yang ikut dalam pesiar ini.

Jadi urusan hari itu adalah pantai, berenang, laut, dan shoping. Pulau pertama adalah Khai Island. Kami sudah dibekali alat snorkeling bisa menyaksikan kerennya pantai di pulau ini. Tidak lama waktu kami, hanya sekitar satu jam. Perahu kecil membantu kami untuk sampai di pantainya karena kapal terlalu besar tidak bisa bersandar.

Usai Khai Island, kapal memutari beberapa pulau. Asyiknya sambil menikmati makan siang di kapal. Ya, mereka menyediakan makan siang dan juga beberapa jenis minuman sebagai bagian dari paket tour satu hari ini. Dan boleh makan sepuasnya.

Sayang di pulau yang kedua kami ndak bisa nyemplung karena banyak ubur-ubur beracun. Beberapa orang yang sudah terlanjur nyemplung mesti merasakan sengatan binatang itu untuk beberapa saat.

Main pasir dan cahaya di pantai Patong.
Pulau terakhir yang dikunjungi adalah pulau Phi Phi yang terkenal itu. Namun aku sedikit kecewa. Waktu yang singkat di pulau ini hanya memungkinkan untuk jalan di sekitar pantai dan pertokoan. Tidak bisa mengeksplore lebih jauh lagi.

Nah, untuk harga 1.500 bath satu hari tour dari pulau ke pulau dari pantai ke pantai termasuk minuman, makanan, guide tour yang bagus dan perlengkapan pinjaman, ini sangat okey deh. Baliknya mobil sudah menunggu di Rassada Harbour untuk mengantar masing-masing ke hotel. Pilihan paket tour ini sangat praktis untuk orang-orang yang waktu jalan-jalannya terbatas, terlebih mengingat sulitnya transportasi umum di Phuket.

Aku dengan mas Hendro melanjutkan sore itu dengan sunset di Patong Beach, makan malam di situ juga, dan karena mas Hendro penasaran banget dengan Bangla Road kami melangkah pelan-pelan di jalanan itu menikmati malamnya kota internasional yang ...hmmm... tak bisa kupahami atau nikmati. Musik berdentam, minuman-minuman, perempuan-perempuan, rayuan untuk datang melihat sexy show, lady boy yang sangat cantik, dan atraksi-atraksi. Wuah.

Wednesday, April 20, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 2 (Patong yang hiruk pikuk.)

Sore usai acara, aku diantar Noon ke Bandara Phuket. Denmas Hendro menunggu di bandara dari pukul 16.00. Dan saat kutemukan di terminal kedatangan, dia baru saja menghabiskan nasi bungkus yang dibawa dari Lampung. Yailah, padahal aku lapar polll dan berharap bisa makan berdua dengan denmas tersayang ini. Senyum ajah dia mah. Payah...
Ramai 24 jam.

Kami beli tiket minibus di dekat pintu kedatangan Bandara Phuket. Untuk satu orang dikenai biaya 180 bath bandara - Patong. Ya, kami memutuskan untuk tinggal di Patong untuk 3 malam dengan pertimbangan :
1. Patong memiliki beberapa destinasi yang berdekatan.
2. Ini tempat yang sangat populer di kalangan wisatawan.
3. Memiliki pantai-pantai di sekitarnya yang bisa dijangkau dengan mudah.
4. Dan, dari surveyku sebelumnya saat diajak jalan oleh Michael, Patong menyediakan fasilitas-fasilitas umm yang mudah dijangkau dan dibandingkan tempat lain seperti Kata atau Karoen, Patong katanya lebih murah (sebenarnya lebih murah kalau di kota Phuket, tapi transportasi sulit. Jadi lebih baik di Patong, cari hotel yang dekat dengan pantai, kalaupun tidak kemana-mana bisa langsung lari ke pantai untuk bersantai.)
5. Patong adalah kota wisatawan yang ramai dengan toko-toko, hotel dan restoran yang beragam.

Jadi itulah pilihannya. Perjalanan menggunakan minibus sangat okey (dibanding taksi yang sangat mahal, 800 bath) membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam. Kita akan diantar sampai ke tempat nginap kita. Kalau belum booking hotel, minibus ini akan berhenti di kantornya (aku menduga itu macam kantor agen tour) yang menawari kita paket-paket penginapan tour dan sebagainya. Sarah yang menerima kami di kantor itu berhasil membujuk kami untuk ikut tour ke Phi Phi Island dengan harga 1.500 bath per orang untuk keesokan harinya. Mesti cermat, karena mereka memasang harga paket-paket ini di brosur dengan harga yang lebih mahal, lalu si agen akan menawarkan harga spesial, seolah-olah spesial di bawah harga aslinya, padahal mah ya segitu itu normalnya.
Patong di latar belakang.

Kami menginap di Days Inn, hotel yang sangat strategis. Letaknya tidak jauh dari Patong Beach, tidak jauh dari Bangla Road (idih), dekat 7 Elevan (yang bakal membuat irit untuk belanja kebutuhan-kebutuhan), dan asyiknya walau di tengah keramaian, saat berada di dalamnya terasa sepi. Suara-suara tidak menembus ke kamar. Jadi sangat oke.

Tapi jika mau cari hotel-hotel murah meriah, di sekitar Patong Beach sangat banyak pilihannya. Kami sempat nyasar-nyasar sengaja di hari pertama dan mendapati banyak penginapan murah dengan harga 500 - 600 bath atau bahkan yang lebih murah lagi. Cocok untuk para backpacker.

Tuesday, April 19, 2016

Perjalanan Singkat Dari Kesempatan Kilat : Phuket - Singapore 1 (Rencana yang mendadak, rencana yang menghendak.)

Wajah capek di hari pertama Phuket.
Awalnya memang impian-impian setahun lalu untuk melakukan perjalanan berdua dengan suami ke beberapa destinasi piliham. Tapi tahun 2015 tidak memberikan kesempatan untuk impian itu. Malah kemudian awal tahun 2016 memberikan kejutan-kejutan pahit manis yang mesti dicicip sekaligus saat ditawarkan. Maka, ketika rencana kegiatan bersama ACPP terealisasi di Phang Nga, Thailand, aku bilang ke Den Mas Hendro,"Cepat urus paspor Mas Hen. Kita akan pergi ke Phuket."

Wajahnya yang selalu tak terduga pun tidak menampakkan keterkejutan. Tapi esoknya beliau pergi ke kantor imigrasi (dengan segala masalahnya. Hehehe. Tampaknya kerumitan sedang disodorkan pada lelakiku ini setiap kali. Hehehe... Puk puk puk. Sabar...)


Nah. Begitu paspornya bisa diperpanjang, kusodorkan beberapa tawaran rute perjalanan. Aku tahu si tersayang ini pasti akan setuju.

"Acaraku selesai tanggal 6 April. Mas Hendro nyusul tanggal itu, kita ketemu di suatu tempat di Phuket lalu kita akan jalan sekitar 3 hari di akhir pekan. Pulangnya kita pakai kesempatan transit di Singapura untuk jalan-jalan sehari atau setengah hari. Okey?

Mantuk-mantuk saja si boss. Maka kucari tiket dibantu Indri untuk menentukan perjalanan yang paling murah bagi kami. Aku akan berangkat lebih dulu, 29 April memakai penerbangan pagi dari Lampung, menuju Jakarta, lalu Singapura dan Phuket. Sampai di Phuket aku akan dijemput panitia untuk menuju Phang-nga.

Mas Hendro berangkat tanggal 5 April dengan rute dan jam penerbangan yang sama hingga sampai Phuket. Nah, kami belum tahu dimana kami akan bertemu, tapi aku menggampangkan urusan itu. "Asal kita masih bisa berkabar, aman." Kataku.

Tanggal 6 - 8 April kami akan berkeliaran sekitar Phuket, kemungkinan menginap di Patong lalu tanggal 8 April jalan ke Singapura. Ada waktu sekitar 20 jam untuk mengunjungi Singapura sebelum balik ke Indonesia pada 9 April. Sipp. Tiket pun tercetak. Beberapa hari kemudian diketahui kalau pada tanggal 9 dan 10 April adalah hari terakhir pameran outdoor Indofest di Senayan. Maka 9 April kami rencanakan melihat pameran sebelum balik ke Lampung pada 9 April, malam hari.

Itu rencana awal dan selebihnya mengalir. Di kisah selanjutnya yakk...

Friday, March 04, 2016

Daun-daun Hitam bersama Ibu-ibu Pekka Parit Mayor

Aku gembira ditarik lagi ke Daun-daun Hitam, kumpulan cerpen dan sketsa, Indepth Publishing, 2014. Lebih gembira lagi karena yang menarikku kali ini adalah para ibu yang tergabung dalam Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Parit Mayor, Pontianak Timur. Aku bertandang ke sekretariatnya di daerah timur Pontianak, pada Jumat 19 Pebruari 2016.

Ada 20an ibu-ibu dengan wajah ramah menyiapkan hari itu bagi Daun-daun Hitam. Hanya satu buku Daun-daun Hitam yang mereka miliki, jadi mereka memfotokopi sebagian dari buku itu untuk para ibu yang mau datang. Jadi mereka sudah membaca sebagaian cerpen-cerpen yang ada di buku itu.

"Saya suka cerpen yang terakhir. Itu kisahnya mirip dengan kisah yang menimpa keponakan saya. Dia menderita, sekarang tidak lagi dipedulikan. Menikah pada usia dini karena terpaksa lalu diabaikan." Matanya berkaca-kaca. "Apakah cerpen ini kisah nyata?"

Ibu yang lain mengkritisi cerpen Adenita. "Saya tidak paham cerita itu sebenarnya akhirnya bagaimana. Apa yang ingin disampaikan oleh penulis?"

Beberapa tanggapan lain bermunculan. Aku diam mendengarkan sebagai terdakwa, eh bukan, sebagai sang tersanjung kukira. Hehehe... Baru di bagian akhir aku bicara. Tentang kata, cerpen, buku dan kuajak mereka untuk menulis kisah-kisah mereka sendiri yang luar biasa. Dan, mereka punya pantun-pantun! Aku sangat gembira pernah bersama mereka. Saat aku posting foto ke FB, beberapa orang masih mengingat untuk menagih : "Datang lagi kapan-kapan, mbak. Kami mau diajari cara menulis cerita-cerita seru."

Yukkk...

Thursday, March 03, 2016

Menutup Hari yang Lelah

Kemarin hari yang lelah. Hingga malam aku masih harus menyentuh laptop. Bernard yang sudah menghabiskan mi rebusnya (Awalnya dia bilang mi rebus itu ndak enak karena dia ingin mi instan sedang kakaknya ingin mi masakan sendiri. Saat mencicip kuahnya yang masih di wajan yang sedang kuaduk, dia bilang : "Lezato." Lalu menambahkan dengan bisikan : "Mangkukku yang ujung. Isi dengan mi yang paling banyak ya, bu." Idih.) berdiri di belakangku. Lalu tiba-tiba mencium pipi kiriku. Saat aku menoleh, dia sudah pergi ke depan. Aku melanjutkan pengetikan LPJ Panom yang mesti kuselesaikan.

Beberapa saat kemudian dia mepet lagi di punggungku. Tangannya yang memegang rubik (dia lagi hobi main rubik sekarang.) melingkari leherku dan mendaratkan beberapa ciuman di pipi kanan dan kiriku. Itu artinya aku harus memberi perhatian penuh ke dia.

"Nard, what's happened? What do you need?"

Dia menjauhkan tubuhnya. Memasang wajah serius.

"Ibu. Aku butuh ketenangan."

Eh?! Apa? Dia ulang lagi jawaban itu. "Aku membutuhkan ketenangan."

Haiya. Sini. Pelukan ibu bisa memberikan ketenangan. Eh, dia malah lari. Kenapa memangnya? Hmmm... ya. Oke. Aku harus menutup laptop. Lalu, mandi seger, memakai daster longgar, dan menyurukkan tubuh di samping tubuhnya yang sudah berbaring di kamar dengan rubik masih di tangan. Ya, ya, ya... itulah ketenangan. Tidak sekedar tak bersuara, tapi tenang...

Tuesday, March 01, 2016

Rapat Aggota Pemilihan Pengurus dan Pengawas KSP Kopdit Mekar Sai 2016-2018


Minggu lalu diadakan pemilihan pengurus dan pengawas KSP Kopdit Mekar Sai Lampung masa bakti 2016 - 2018. Diselenggarakan di GSG Gentiaras Way Halim pada 28 Pebruari 2016. Apa yang menarik? Banyak. Misalnya : aku menjadi sekretaris panitia nominasi dengan ketua R. Sumarno dan anggota Toto Haryadi. Lalu pemilihannya dilakukan secara langsung setelah proses periapan sekitar 1 tahun. Hal menarik lainnya banyak banget deh. Iyalah, aku terlibat dalam prosesnya sehingga tahu detail-detail menarik tentang calon, pengguguran, rapat anggota pemilihan, hingga proses pemungutan suara dan penghitungannya. Sudah terpilih 5 orang pengurus dan 3 orang pengawas. Kusebut sekilas saja ya bahwa yang menjadi ketua pengurus adalah Andre Muhi Pukai dan ketua pengawas B. Budiman.

Soal lain-lain yang lebih serius kuceritakan nanti saja. Sekarang aku narsis saja dulu. Ini satu-satunya foto yang ada di hpku terkait dengan pemilihan itu. Itu pun pemotretan dilakukan oleh Denmas Hendro di halaman rumah saat aku akan berangkat untuk rapat anggota pemilihan. Mungkin nanti ada foto-foto lain yang bisa kuminta dari panitia sehingga aku bisa lebih presentatif menyajikan fotonya.

Nah, karena foto yang ada hanya ini, aku bercerita saja terkait keterlibatan diriku sebagai panitia nominasi (panom) untuk proses kali ini. Aku dipilih dan kemudian ditetapkan lewat SK Pengurus sebagai Panom saat Rapat Anggota Tahunan tahun lalu di tempat yang sama. Disepakati kemudian aku sebagai sekretaris. Aku tidak menolaknya walau aku tahu pekerjaan di posisi itu pasti lebih banyak dalam hal teknis praktisnya. Dan persetujuanku itu tidak merugikan aku sama sekali. Aku belajar banyak soal koperasi dalam setahun terakhir ini. Aku jadi paham banyak hal yang dulunya kuanggap tidak penting untuk diketahui.

Minggu terakhir persiapan rapat anggota pemilihan adalah saat yang paling melelahkan. Aku baru pulang dari Pontianak - Singkawang untuk kegiatanku sebagai Badan Pengurus di Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau, KWI. Mulai hari Kamis, sudah deh. Kami Panom tak berhenti. Rupanya banyak hal yang harus disiapkan dan diantisipasi untuk pemilihan itu.

Puncaknya pada 28 Pebruari 2016 usai rapat anggota tahunan, proses pemilihan pun dimulai. Terus terang aku cukup tegang karena beberapa hal. Tapi aku tahu tak ada hal yang salah yang aku perbuat atau Panom perbuat, jadi aku sangat yakin semua akan berjalan baik. Dalam proses yang demokratis dengan dinamika di sana sini akhirnya kami bisa melewati segala hal hingga di ujungnya serah terima jabatan dari pengurus dan pengawas yang lama ke yang baru.

Leegggaaaa... pakai banget. Ada beberapa hal yang harus dievaluasi tapi itulah prosesnya. Lega. Sudah selesai. Rasa capek menggumpal di tenggorokan menjadi radang dan demam, tapi semua okey. Aku siap menyusun laporan untuk evaluasi dan pelaporan nanti. Ini proses yang menarik.

Nah nah nah, tentang foto. Ini sengaja ingin kupamerkan karena aku memilih memakai kebaya sederhana untuk acara ini. Dua bapak di sampingku yang juga Panom memilih memakai setelan jas yang resmi. Cocok. Aku memilih kebaya (moga ndak diblur sama KPI. hehehe.) berkutubaru yang sederhana warna putih dengan memakai sarung dan berkonde cepol. Aku bilang ke Denmas Hendro,"Ini baju resmiku. Dan tanda siap melayani."

Lihat kan? Aku tidak terbatasi sama sekali oleh baju ini. Masih bisa dipandang dengan enak dan enak pula dipakai. Aku suka memakainya dan akan semakin sering memakainya di masa depan. Baju jenis ini cocok untukku. Hehehe...yang mau mengirimkan bahan atau baju untuk kusosialisasikan silakan kirim ke aku jenis-jenis kebaya santai. Ukuranku M atau L. Hehehe...

Thursday, February 25, 2016

Bubur Pedas Pontianak

Ini sangat direkomendasikan jika datang ke Pontianak. Aku bukan hanya dapat rekomendasi tapi juga traktiran dari Julia Asviana, teman penulis dari kota ini.

"Mbak Yuli mau makan bubur pedas?" Julia menawari usai kami berkenalan secara fisik di lobi Hotel Green Leaf Inn Pontianak tempatku menginap (18 Pebruari 2016)

Aku sedang tidak terlalu oke jika makan makanan yang pedas. Jadi aku tanya sepedas apakah bubur itu.

"Tidak. Sama sekali tidak pedas. Itu adalah bubur nasi yang dicampur segala sayuran." Bayanganku meloncat ke bubur manado. Tapi ternyata bubur yang satu ini sama sekali berbeda dibanding bubur manado.

Jelas rasanya berbeda. Ada satu bumbu yang khas banget yang tak terdeteksi pengetahuanku, tapi aku mengingat pernah makan jenis rasa ini saat aku pergi ke Kalimantan beberapa tahun lalu. Lalu penampilan buburnya juga berbeda. Sayuran yang halus dengan nasi yang lembut yang sudah dihaluskan sehingga tak kelihatan bentuk nasi, disajikan panas dengan daging/kikil dengan taburan teri dan kacang goreng. Jika mau pedas, nah baru tambah dengan dengan sambel. Rasanya gurih, enak. Dan karena kami makan di tengah gerimis yang mendera Pontianak, bubur ini cocok banget. Apalagi warung yang kami datangi memang sudah paten sebagai tempat kuliner, Bubbor Paddas Pa' Ngah, di Pontianak. Sedap. Dan minumnya khas Pontianak pula, es lidah buaya. Mantap.

Makasih, Julia. Jika ke Pontianak lagi, aku mau-mau-mau lagi datang ke tempat ini.

Wednesday, February 24, 2016

Cap Go Meh di Singkawang tahun 2016

Apakah yang lebih menyenangkan daripada jalan-jalan ke tempat baru, gratis segalanya, diberi uang saku, dan mendapat bonus foto-foto asoy untuk dipamerkan? Hehehe... Mestinya sih ada yang lebih menyenangkan daripada hal itu, tapi ini yang aku ingin pamerkan. Rapat KKPPMP di Singkawang, dan usai itu menikmati perayaan Cap Go Meh persis di pusat kota Singkawang (20 - 23 Pebruari 2016)


Sebuah festival besar bagi warga keturunan China di Singkawang namun dihadiri oleh ribuan orang dari belahan dunia bahkan dari luar Singkawang. Sangat menarik. Aku ingin memulainya dengan pesta Lampion pada Sabtu 20 Pebruari. Jalan-jalan utama di Singkawang sesuai peta yang diedarkan pemda sudah dipenuhi penonton untuk menunggu rombongan-rombongan yang akan mengikuti pawai. Aku sangat antusias apalagi semakin malam, jalanan Singkawang mulai memendarkan lampu-lampu lampion di sepanjang sisinya. Merah dan keemasan. Terlebih ketika pawai dimulai, hingar bingar cahaya berpadu dengan musik dari mobil atau rombongan yang mengikutinya.




Hari Minggu (21 April) menjadi pesta di beberapa keluarga. Dari pagi hingga malam bergilir kami mengunjungi keluarga-keluarga yang sudah mengundang untuk pesta. Makan pagi bersama umat Katolik di Gereja Singkawang, lalu makan siang di Pantai ... (aku lupa namanya. Nanti kucari.) Masih siang hari seorang keluarga di dalam kota Singkawang mengundang untuk jamuan Cap Go Meh, aku cuma sanggup makan es krim dan sedikit mi goreng. Sore itu diundang lagi, malam lagi, lagi, dan lagi... Aku sudah tak sanggup makan lagi.

Senin 22 Pebruari saatnya melihat rombongan tatung yang akan beraksi dalam pawai. Memulainya dari beberapa klenteng yang ada di Singkawang, lalu aku berdiam, memotret saja, hanya memotret di dekat tugu naga. Huft... agak susah berkomentar di pawai ini. Meriah, tapi mengerikan. Huft...










Malamnya pesta berlanjut di Pontianak dengan pesta barongsai dan liong. Naga-naga berjalan di pusat kota Pontianak. Aku yang sudah kehabisan energi hanya menonton dari lantai atas hotel Haris tempat menginap sembari menikmati sajian restoran mereka. Puncak pesta naga ini sebenarnya tanggal 23 Pebruari dengan pembakaran naga-naga di klentenng. Tapi subuh aku sudah harus cabut ke airport untuk balik ke Lampung. Ya...apapun ini kesempatan emas untuk memulai tahun baru Monyet di tahun ini.

Saturday, February 13, 2016

Bunga Buah Naga : Perkawinan Tengah Malam

Selama beberapa waktu aku jadi makhluk malam. Jika aliran pikiran sangat kuat, laptop berubah menjadi magnet yang tidak akan menggeserku ke manapun. Tapi, malam juga kadang memiliki geraknya tersendiri.

Ini nih contohnya. Mula-mula harumnya menyatu dengan partikel-partikel udara, bercampur dengan dingin dan sisa respirasi dari dedaunan. Aroma yang wangi dan unik itu mengundang hidungku mendekat.

Lalu bentangan jubah putih mengembang malu-malu. Memamerkan putik dan benang sari yang ranum keemasan. Begitu seksi. Hmmm...bagaimana aku menggambarkannya? Dia bercinta dengan dirinya sendiri malam itu. Dalam gelap, dalam putaran sekejab.

Saat pagi menjelang, dia sibuk menyalurkan mimpi-mimpinya. Jika cukup bernas, pangkal kelopaknya akan menggembung sarat dengan biji-biji kehidupan. Manis dan berwarna merah.

Kita menyebutnya Buah Naga.

Friday, February 12, 2016

Editor Baru

Aku punya editor baru. Ahaaa. Ini sama sekali tak sengaja. Setiap saat ni orang rajin banget menemaniku saat aku menulis Jalan Pintas Menuju Alengka (Judul ini sudah dikritik habis oleh Albert. Jadi mungkin nanti aku pertimbangkan untuk diubah kalau memang ada yang lebih menarik. Menurut Albert yang paling tepat judulnya : Albert Menuju Alengka, atau Jalan Menuju Albert. Nah kan ceritanya tak ada yang nyangkut soal Albert? Keputusannya : "Berarti ceritanya ndak keren." Duh.) tanpa mengusikku sama sekali. Mau jam berapa aku bekerja, apapun yang aku tulis, si dia nih diam-diam saja. Mungkin sih dia menyimpan penasaran, tapi dia berhasil menahannya. Hehehe...

Dia itulah editor baru, editor dadakan yang ingin kukenalkan. Denmas Hendrolah orangnya. Hehehe... Saat ngopi di Flambojan Bean Leaf Sugar, Enggal, Bandarlampung (11 Pebruari 2016) yang panas, ditemani kopi tubruk Arabica dari Toraja, Cappucino yang diolah manual dan kentang goreng, aku sodorkan bagian 6 dari bundel tulisan yang sudah aku print.

"Mas Hen baca ini. Ini bagian yang paling berat saat aku menuliskannya. Sebagian risetnya yang dibantu Mas Hen kemarin itu."

Tanpa protes dia membaca bagian 6 yang sementara berisi 9 halaman. Aku melanjutkan mencoret-coret kertas-kertas dari bagian-bagian yang lain. Ini memang termasuk salah satu tahap cara kerjaku dalam menulis. Dalam bentuk print out aku akan mengoreksi, menambah, mencoret dan mengubah yang memang masih harus diedit dalam tulisanku. Bagian-bagian tertentu dari manuskrip ini sudah siap edit maka aku mengeprintnya dan mulai mencoret-coret.

"Kenapa ndak diedit di komputer saja?" Kata Mas Hen sambil melirik.

"Nanti juga diedit di komputer. Tapi dalam bentuk print out aku bisa melihat lebih teliti. Kan Mas Hen tahu buku-buku yang lalu pun aku melakukan begini. Bahkan yang setebal Titik Temu saja kan kuprint dulu sebelum editing. Udah lanjutin baca aja."

Kami pun kembali asyik dengan pekerjaan masing-masing sambil sesekali nyruput kopi, mencomot kentang dan menikmati angin sepoi-sepoi di teras warung kopi itu. Ini tempat yang cukup nyaman walau sayangnya belum ada payung untuk naungan dari panas matahari. Kami terpaksa menggeser meja dan kursi mepet ke dinding biar tidak kena matahari secara langsung.

"Nah, sudah selesai."

"Apa yang harus diubah?"

"Entah. Aku kan tidak membaca semua tulisan. Tapi, apa hubungannya tulisan tentang ulat-ulat ini dengan seluruh cerita? Memang pengaruhnya apa?" Lalu Mas Hen mulai mengeluarkan beberapa komentarnya tentang bagian 6 yang sudah dibaca itu.

Duh. Ya, itu pertanyaan yang mendasar dalam proses editing. Apa pengaruh kata/kalimat/paragraf/bab yang sudah ditulis itu sebagai bagian dari alur cerita? Hmmm... untuk Mas Hen sih aku bisa jawab ngeles saja : "Oh, jelas ada pengaruhnya dong. Itu nanti mempengaruhi perubahan karakter si tokoh." Dalam hati sih aku sudah ngucapin terimakasih buat editor baru ini. Dia sudah mengingatkan aku pada satu hal serius yang mesti kukerjakan untuk manuskrip ini.

Usai itu, sampai sekarang, sampai entah kapan, aku harus mencoret-coret lagi tumpukan kertas-kertas itu. Duh. Aku menjadi lebih lambat karena pada setiap kata aku berhenti untuk bertanya : "Apa pengaruhnya kata ini? Kalau dihilangkan apakah artinya akan berubah?"

Duh. Keringat mulai menetes, membasahi bajuku. Jadi kangen sama Bernard yang jam-jam segini pasti sedang konsentrasi di sekolah. Dengan nadanya yang dewasa dia pasti bisa menghiburku : "Ibu harus lebih santai. Dengan pikiran yang santai, semua akan lebih mudah." Iya deh, Nard. Muah untuk kalian semua.

Thursday, February 11, 2016

Ultah Ibu Titik Bersama Negeri Coco

Ibuku, ibu Titik yang manis, selamat ulang tahun.

Selasa 9 Pebruari aku mengucapkan lagi selamat ulang tahun disertai cium dan peluk dari Lampung. Kubilang mengucapkan lagi, ini merujuk kesalahan yang kubuat sehari sebelumnya. Aku mengira tanggal 9 Pebruari tahun ini jatuh pas hari raya Imlek, tanpa lihat kalender yakin aja. Jadi subuh-subuh aku sudah kirim ucapan lewat WA ke ibu, lalu juga grup kami. Ealah, salah. (Salah lagi, salah lagi. Kata Aya yang paham budenya ini selalu blibet urusan tanggal ultah. Duh.)

Si kecil Musa
Nah, kali ini aku sangat terbantu oleh para malaikat dari Negeri Coco, si Yessy and friend. Mereka memanggang kue, menghiasnya, meniupinya dengan doa-doa dan kemudian mengirimkan kue itu untuk 'kembaran Mbah Titik' di Panti Asuhan Desa Putra, Jakarta Selatan. Ndak persis kembar sih karena warga Desa Putra ndak ada yang lahir pada tanggal 9 Pebruari, kue-kue dikirim untuk si kecil Musa dan si kembar Ferry and Fredy yang berulang tahun pada 10 Pebruari. Tak masalah.
Si kembar Ferry and Fredy

Ini sangat-sangat menarik. Bu Titik tercintaku memberi komentar : "Tolong sampaikan ke anak-anak, terimakasih sudah mendoakan Uti (Mbah Putri). Uti juga berdoa untuk kalian, semoga selalu sehat dan bahagia. Tuhan memberkati."

Lalu kami dalam keluarga mami-mami in Sam's Family membayangkan even-even lain untuk digunakan bagi anak-anak lain. Mungkin di seputaran Nganjuk dan Kediri. Hati kami berkobar-kobar karena kue-kue eh harapan-harapan dari Negeri Coco yang manis.

Nah, Yes, apa kubilang. Gerakan kecil akan memberikan inspirasi bagi banyak orang. Urusan banyak orang ini ndak usah kau pikirin deh, biarin aja bergulir. Yang penting kita terus bergerak sesuai langkah kita, sesuai hati yang terusik, sesuai yang tertangkap pancaindera kita. Bergerak saja dengan mantap dan gembira. Peluk untuk kalian di Negeri Coco.

Friday, February 05, 2016

Ipar, Ehhh... Bukan. Sahabat.

Kulonprogo, akhir 2015.
Ada bagian dari hidupku yang setelah kuingat rupa-rupanya jarang aku ceritakan kepada khalayak. Padahal bagian ini sangat-sangat layak, sangat menarik dan sangat intim bagiku. Lihat dulu foto di samping nih. Aku bersama Ninik dan Atik lagi 'narsis seru' di tepian sawah di Kulonprogo saat kami liburan bareng akhir tahun 2015 lalu.

Siapa mereka? Mereka adik-adik Denmas Hendro, dalam istilah keluarga bisa disebut adik ipar. Tapi aku nyaris tak pernah memakai istilah itu. Bahkan aku jarang memakai istilah adik. Ya, aku sebut mereka sahabat-sahabatku. Kalau ngumpul ya seperti itu isinya. Ngrumpi lalu narsis bareng.

Ya, kedekatan itu tidak berlebihan. Kami sudah akrab dekat sejak sama-sama kuliah di Malang. Kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama, saling nginap di kostan masing-masing, masak bersama dan sebagainya. Bahkan ketika relasiku dengan Denmas Hendro belum mengarah pada ikatan yang kuat kami sudah sering ngerumpi bareng. Kadang kalau bapak mereka (yang sekarang juga bapakku) datang ke Malang, aku dijemput untuk rekreasi ke Batu, Pujon atau sekedar belanja. Malah mereka plus bapak beramai-ramai juga menginap di kostanku (Kalau bapak pulang pun aku ikut dapat sangu lho. Hehehe. Denmas pasti ngiri soal ini. Ssstttt.)

Itulah gambarannya. Kami dekat. Bahwa kami sama-sama narsis nah itu bonusnya. Hehehe... Kami tidak selalu seide. Maafkanlah soal ini. Kami sama-sama keras kepala juga. Soal-soal tertentu ya kami berdebat, berantem sedikit, tapi...ini hebatnya kami. Kalau lama ndak ketemu (kami terpisah di 3 kota, Lumajang, Surabaya dan Lampung) pasti kangen. Padahal kangennya itu ya kangen untuk ngeledekin atau ngerjain.

Nah foto macam ini sangat-sangat menghibur. Anak-anak kami meledek para ibu ini biarinlah. Kami toh selalu (merasa) muda. Iya kan, Nik, Tik? Nah, mana foto-foto lain? Kirim ya...

Thursday, February 04, 2016

Bakso dan Mi Ayam Denmas di Ki Maja Way Halim Lampung



Saatnya warga Bandarlampung mencoba ini. Warung bakso dan mi ayam di jalan Ki Maja Way Halim. Pas turunan pertigaan dekat rel kereta api itu lo, sis dan bro. Apa unggulnya warung Denmas ini dalam menyajikan bakso dan mi ayam serta aneka minuman yang ada? Banyak. Yang pasti bersih dan sehat. Ahhh, tentu saja yang sudah punya kandungan kolesterol tinggi di tubuhnya mesti hati-hati. Tapi, sungguh, mampirlah. Jika kebetulan aku di situ, kita bisa ngobrol tentang sastra, tentang gosip-gosip Lampung, atau sekedar meracau untuk dijadikan puisi. Yukkk.... datang ya. Yang mau pesan bisa telpon ke Denmas, 081369581515. Kami akan antar. Spesialnya jika ada yang ulang tahun, kami akan beri gratis untuk yang berulang tahun. Teman-temannya yang ikut hadir harus dibayar dunkkk... Minimal 7 orang ya termasuk yang lagi jarig. Jika ada minuman atau makanan tambahan yang tidak tersedia di warung kami, sedangkan bro and sis ingin menyantapnya bersama bakso dan mi ayam, silakan bilang saja. Kami bisa sajikan. Ohya, mulai bulan ini ada menu tambahan yang bisa diminta sore hingga malam, nasi goreng ala Denmas. Pokoke spesial. Dan, yang mau pinjam tempat untuk ngerumpi, diskusi atau apa saja, silakan pakai tempat kami. Ada meja dan kursi bisa menampung 24 orang, atau jika pesan sebelumnya kami bisa atur ruangnya untuk acara Anda. Tapi jangan lebih dari 40 orang ya, biar ndak terlalu berjubel. Begitu. Silakan mampir di warung Denmas, sedia bakso, mi ayam, nasi goreng dan aneka minuman.

Seribu Satu Puisi Yuanda Isha

Judul buku             : Seribu Satu Puisi
Penulis                   : Yuanda Isha
Lay out                  : Umirah Ramata
Desain sampul        : Alra Ramadhan
Sketsa                    : Yuli Nugrahani
Penerbit                 : Komunitas Kampoeng Jerami
Terbitan pertama    : Desember 2015
ISBN                     : 978-602-70227-7-5


Kenapa buku ini mesti dipamerin? Okey, ada banyak alasan. Pertama, buku ini indah. Teman-teman bisa melihat penampakannya yang cantik berkat kerja Alra di Malang sana untuk bagian sampulnya dan ketekunan Umi di Cirebon untuk bagian dalamnya.

Kedua, buku ini indah. Puisi-puisi yang ditulis Yuanda di Tanjungpinang ini menampilkan dirinya dengan jujur. Seperti seorang gadis yang membuka gaunnya di malam pertama, dia membuka dirinya. Seluruh luka, kecemasan, juga kegembiraan dan kerinduannya. 1001 puisi dalam 200an halaman buku. Ini indah untuk dibaca, dirasakan.

Ketiga, buku ini indah. Ya, tentu saja karena beberapa belas goresan tanganku dalam bentuk sketsa daun, bunga, manusia dan burung. Yuli Nugrahani di Lampung juga suka membuat sketsa lho. Macam itu pesannya tersurat maupun tersirat.

Keempat, buku ini indah. Komunitas Kampoeng Jerami lewat Fendi Kachonk di Sumenep menangkapnya dengan kedua telapaknya. Mengkomunikasikan seperlunya dan merangkai berbagai kota itu menjadi satu buku. Sumenep, Malang, Cirebon, Lampung dan Tanjungpinang bisa bekerja bersama hingga mewujud satu buku tanpa perlu bertemu muka. Apa yang menggerakkannya? Hati? Cinta? Komitmen? Atau semuanya?

Kelima, ya mau apa lagi, memang itulah. Buku ini indah.

Tuesday, February 02, 2016

Dahulu Pernah ...

Menunggu bis berangkat dari Pontianak.
Tak ada lagi yang perlu dikerjakan, aku iseng membuka folder di laptop besar. Wuah, aku menemukan foto-foto lama hasil repro. Salah satu di antara foto-foto itu aku menemukan foto saat melakukan perjalanan ke sepanjang sungai Melawi, Kalimantan Barat. Foto-foto ini terasa menggetarkan kukira karena pengaruh melihat postingan mbak Liest Pranowo di FB yang sedang melakukan perjalanan ke Menukung, ujung hulu sungai Melawi. Daerah itu termasuk yang aku kunjungi juga di tahun 1998.


Ya, waktu itu aku bersama beberapa orang masuk ke pelosok Kalimantan Barat hanya dengan modal : sepenuh tubuh dan jiwa. Selebihnya dibayarin CM. Hehehe... Selama hampir satu bulan aku menikmati perjalanannya, perjumpaan dengan orang-orang Dayak, berbagai tanaman semak, kebun, dan hutan, serta binatang-binatang yang biasa dipelihara maupun diburu. Aku juga mengalami seperti yang dilakukan oleh mbak Liest, mandi di sungai, hidup tanpa listrik, berjalan kaki tanpa patokan jelas dan lain-lain.


Sekarang ketika melihat foto-foto ini lagi, dadaku rasanya bergelenyar. Aku bilang, aku suka perjalanan-perjalanan seperti ini. Aku masih ingin melakukannya sampai seluruh sisa hidupku habis. Kotor-kotor dikit yang asyik. Kesasar-kesasar dikit yang mendebarkan. Takut-takut dikit tapi tetap bergelut.

Ya, ya, foto-foto ini memang seperti narsis saja karena kebetulan itulah yang kejepret. Tapi seluruh dinamika yang dialami saat itu tentulah tak terkata. Lihat fotoku di atas menara api ini. Kaki dan celana kotor, hmmm...kukira karena setengah basah karena untuk menuju tempat ini aku harus melewati beberapa sungai kecil dan besar, jalan setapak yang becek, beberapa kampung dengan rumah-rumah betang, perjalanan bertemu babi hutan yang butuh sekitar 2 atau 3 jam jalan kaki.

Yang tampak di foto? Hahaha...inilah. Narsis saja, berpose cantik padahal kaki jelas belepotan lumpur. Wuahhh...suatu saat, suatu saat aku akan melakukan hal-hal ini lagi. Suatu saat...

Friday, January 29, 2016

Permintaan

Baru pulang kerja, Albert mengingatkan bahwa dia akan beli HP dengan uangnya dan kekurangan uangnya akan meminjam padaku. Spontan aku melotot.
"Tunggulah sebentar. Ibu baru sampai rumah. Belum makan, belum istirahat. Kau juga belum makan, belum ganti baju."
Wajahnya yang cemberut akan memprotes, tapi aku yakin mataku sudah semakin membesar sehingga dengan terpaksa, sambil menggerutu kukira, dia masuk kamar, dan keluar dengan baju bermain. Mengambil nasi 'pura-pura' makan, dia ambil hanya seporsi kecil yang bahkan dimakan seekor kucing pun tak akan kenyang.
Sekarang wajahku pasti sudah tertekuk. Dan lebih-lebih lagi ketika dia datang dengan pertanyaan tunjebpoin.
"Gimana, bu? Boleh?"
"Ibu masih memikirkannya. Nanti dulu."
Bapaknya memelototi aku. Ya, aku tahu nadaku terlalu tinggi untuk menjawab hal sepele itu.
Jadi aku menghaluskannya.
"Kalau Albert tanya sekarang, jawaban itu sudah pasti : TIDAK. Tapi sabarlah. Biar ibu mikir dulu. Mas Albert bagian menyenangkan hati ibu. Melakukan apa kek."
"Apa yang bisa membuat ibu senang?"
"Entah. Apa kek. Beliin bakso atau apa."
"Aku ndak punya uang."
Hehehe... ya. Ibu tahu. Jadi aku makan dengan santai lalu membuka laptop, mencari-cari jenis dan harga HP. Bapaknya menemaniku sambil ngelus-elus tangan seperti bilang,"Sabar, bu. Sabar." Hehehe... Kuserahkan ke bapaknya aja. "Cari deh, yang seperti apa."
Aku masuk kamar, sampai kemudian Albert teriak-teriak lagi.
"Bert, ini duit tabungan Albert. Yang ini sumbangan ibu. Terus yang di amplop ni, ini ibu utangin. Pergi sama bapak sana. Jika tak mendapatkan yang seharga uang ini, ndak usah beli. Pakai saja HP ibu atau beli HP bapak."
Ahhh, wajahnya sudah sebulat bulan purnama yang merekah. Mengambil uangnya dan menciumku beberapa kali. Aku tidur.
(Tadi pagi aku tanya : Mana HPnya? Dia jawab : Belum jadi beli.)
Ealah.

Thursday, January 28, 2016

Apakah Kafe Memang Bisa Dinikmati untuk Sastra? Seni?

Sabtu lalu (23 Januari 2016) aku ikut dalam acara yang digelar Udo untuk buku Lampung Tumbai, yang ditulis oleh Frieda Amran. Kebetulan Frieda datang ke Lampung, jadi acara itu menjadi ajang bagi 'Frieda lover' untuk ngobrolin Lampung. Aku mengira kalau yang menyebut Frieda Lover itu adalah mereka yang menyukai tulisan-tulisan Frieda di Lampung Post sejak 2014.

Tulisan-tulisan tentang Lampung di masa lalu ditulis ulang oleh Frieda dari dokumen-dokumen yang ada di Belanda. Dan memang tepat sekali hal itu ditulis oleh Frieda, seorang antropolog yang penyuka sejarah, dan penulis sastra. Tepat. Sehingga tulisan yang dihasilkan untuk Lampung Tumbai bukanlah tulisan terjemahan semata, tapi menjadi ramuan yang menarik dan unik.
Kafe Dawiels, foto oleh...hmmm ini ngambil dari fb.

Nah, acara 'ngobrol' ini dilakukan di kafe Dawiels, jl Kartini. Ini nih yang tiba-tiba muncul di otakku pagi hari ini. Cocok ndak sih ngobrolin tulisan di kafe? Kubilang cocok. Karena tempat ini memang disetting supaya pengunjungnya bisa santai, lalu ngobrol 'ngalor ngidul', dan jika cocok menjadi obrolan mendalam. Seperti sepasang entah yang melakukan PDKT, mereka bisa gunakan kafe untuk melakukan penjajakan. Aku juga sering menggunakan tempat seperti kafe ini untuk melakukan perbicangan kasak kusuk awal soal sastra, seni atau juga tentang diri sendiri. Waktu Daun-daun Hitamku diluncurkan, beberapa tempat yang menerimanya juga kafe, warung kopi.

Nah, benarkah kafe memang bisa dinikmati untuk sastra, dan seni? Uhuk. Tidak untuk pertemuan lanjutannya. Jika arahnya adalah perbincangan yang lebih 'ketahuan arah'nya, maka kusaranin jangan kafe deh. Rame, terlalu bermusik, dan ...ehmmm mahal. Lebih baik jika menyeduh kopi sendiri dari dapurku lalu menyajikannya untuk anda sekalian di halaman belakang rumahku jika memang ada ruang lain yang bisa dipinjam. Mungkin ruang redaksi sebuah media. Aula kosong yang bolah dipakai gratis. Salah satu ruang kampus. Emperan Taman Budaya. Ya, tempat macam tuh lebih tepat untuk pertemuan selanjutnya.

Tuesday, January 26, 2016

Rumah Sabtu

Hasil gambar untuk house in forestJika suatu masa aku cukup beruntung, aku akan punya Rumah Sabtu. Yang kubuka pintu-pintunya pada hari Sabtu dari pukul 00.00 sampai tak terbatas waktu..., sesuka hatiku. Di situlah aku bisa mengundang siapa saja yang kusuka untuk hadir menikmati alam dan seni.

Kukira bayangannya mendekati gambar inilah Rumah Sabtu itu. (Gambar dari hasil browsing internet.)

Sunday, January 24, 2016

Mencari Jejak Masa Lalu Lampung di Antara Jemariku

Judul buku : Mencari Jejak Masa Lalu Lampung : Lampung Tumbai 2014
Penulis : Frieda Amran
Editor : Udo Z. Karzi
Foto sampul : Arman AZ
Desain Sampul : Dara Dharmaperwira
Tata letak : Tri Purna Jaya
Isi : xviii + 208 hlm, 14 X 21 cm
Penerbit : Pustaka LaBRAK
Cetakan 1 : Januari 2016
ISBN : 978-602-96731-4-2

Aku senang mendapatkan buku ini, terlebih dilengkapi tanda tangan dan kesempatan untuk berbincang dengan penulisnya (walau sebentar banget) saat penulisnya Frieda Amran berkunjung ke Lampung, Sabtu 23 Januari 2015. Apakah buku ini membuat penasaran? Tidak. Bahkan aku sudah membaca nyaris semua isinya karena tulisan-tulisan dalam buku ini sudah diterbitkan lewat koran Lampung Post tiap hari Minggu.

Namun bukan berarti buku ini patut dilewatkan begitu saja. Buku ini adalah inspirasi bagi banyak gerakan lain di Lampung. Aku tak perlu membuktikan hal itu. Tapi simaklah dengan cermat yang terkandung dalam tulisan-tulisan ini. Apa yang sudah tertimbun oleh waktu dicuatkan kembali. Diingatkan kembali. Digali kembali. Maka kita akan mengulang peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, detail-detail budaya, tradisi, dan sebagainya.

Kenapa ini berbeda dengan buku sejarah? Frieda mengambil sumber dari tulisan-tulisan para ilmuwan, pegawai pemerintah Hindia Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda di abad 19 tentang Lampung. Lalu dituliskan bukan bentuk terjemahan yang bisa dibayangkan bakal membosankan jika memakai struktur dan gaya bahasa Belanda kuno yang panjang berbelit-belit, tapi Frieda menuliskannya dalam kalimat-kalimat yang mengalir sederhana mudah dipahami tanpa menghilangkan data dan fakta yang perlu diungkapkan. Jadinya? Tulisan keren yang asyik. Hehehe... Selebihnya, silakan baca sendiri. Ini cuplikan untuk ngintip sedikit :

Halaman 119.  ... Sebaliknya, pulau-pulau lain seperti Krakatau dan Sebuku, dihindari. Konon, orang yang tinggal lebih dari dua minggu di pulau-pulau itu akan terserang demam tinggi. Mungkinkah banyak nyamuk malaria di sana? Walahhuallam. Yang jelas penyakit malaria baru dikenal puluhan tahun setelah FG Steck (sumber tulisan) meninggalkan Lampung. Nama jelek kedua pulau itu membuat orang Lampung menggunakannya sebagai tempat pembuangan dan pengucilan.

Nah, dengan gaya tulisan seperti itu aku yakin Frieda eh Lampung Tumbai (sebenarnya sih keduanya tak bisa dipisahkan) sudah memiliki banyak penggemar. Maka saat kencan di Dawiels pada malam minggu itu, beberapa orang menyebut diri,"Kami ini Frieda lover." Nah.

Begitu. Jika kemudian buku ini membutuhkan tindak lanjut semacam Pusat Dokumentasi Lampung, ya, itulah yang seharusnya dilakukan. Kini langkah-langkah awal sudah dibuat. Jemari membuka-buka lembaran jejak masa lalu, kaki harus digerakkan ke Lampung masa depan. Semangat.

Friday, January 22, 2016

Tiba-tiba Ingat Si Palinten

Nah, memang lama tak memikirkannya. Tiba-tiba pagi ini aku ingat si Palinten. Gadis malang ini sungguh-sungguh ngenes nasibnya. Ah, agak susah juga dibilang gadis. Tapi juga repot kalau dikatakan bukan gadis. Dia gadis karena dia memang seorang yang bebas. Dia bukan gadis karena memang dia tak perawan lagi. Tubuhnya sudah menerima banyak perlakuan yang sepantasnya dia terima dengan kegembiraan pada awal mulanya tapi kemudian menjadi kesedihan-kesedihan yang beruntun.

Oalah, bagaimana nasibmu sekarang, Nduk? Terakhir aku mendengar kau melakukan perjalanan panjang untuk mengawali asal muasal kegembiraan dan kesedihanmu itu. Menurut banyak versi, ya itulah caramu, perempuan (ini sebutan yang sepadan untuk Palinten) yang berani menghadapi situasi yang paling rumit yang sudah membelit hati.

Maka perjalanan panjang itu kauusahakan sekuat tenaga, kau rekayasa supaya seluruh titiknya mengembalikanmu pada kegembiraan awal. Kau telusuri jalan yang sama setahun silam, kau hilangkan perlakuan-perlakuan, perkataan-perkataan, dan segala hal yang sebenarnya sudah menyumbat hatimu. Bahkan kau kembali meletakkan tubuh terlentang untuk dimasuki laki-laki yang sama untuk kembali merasakan hasrat yang dulu pernah berkobar. Kau merasakan kesakitan ketika hal itu tidak sejalan dengan hatinya, tapi kau lirih berkata,"Tidak sakit."

Oh, Palinten genduk ayu. Aku mendengar kau pulang dengan kaki pincang. Darah mengucur dari tubuhmu dan air mata yang sudah merembes dari awal menjadi banjir bandang tak terbendung. Aku tak bisa memaklumi seluruh tindakanmu tapi jadilah bahagia ketika sudah memutuskan hal sulit itu. Terlebih kupingmu yang peka itu selalu tak terima menerima makian, menerima kenyataan bahwa hal paling berharga yang sudah kau berikan itu hanyalah dihargai sebagai pelacur.

Nduk, sekarang dimana kau meletakkan kepalamu? Di antara remah jagung bakar yang mulai dipatuk anak-anak ayam pagi ini? Di antara ampas kopi sisa semalam? Palinten, bahagialah, nak. Jagalah hatimu. Kau sudah memutuskan, jadi berjalanlah pada kebenaranmu. Suami dan anak-anak akan disediakan bagimu, di dalam rumahmu.

Tuesday, January 19, 2016

Marines Eco Park

Minggu, 10 Januari 2016. Mengunjungi Marines Eco Park (MEP) di Piabung, Pesawaran, Propinsi Lampung, aku mendapatkan beberapa hal yang menarik.

Pertama, pantai. Ya, pantai selalu kusebut sebagai ibu sejak aku tahu betapa baiknya pantai padaku, hmmm...mungkin sejak tahun 1994, saat aku merasakan dilahirkan kembali di sebuah pesisir selatan di antara pasir putih yang membentang. Nah, MEP dibangun di Pantai Lembing, dalam wilayah Brigadir Infanteri 3 Marinir TNI Angkatan Laut Indonesia. Indah. Pulang pada ibu. Selalu indah.

Kedua, lukisan-lukisan Dana E. Rachmat, sahabatku. Tanggal ini roadshow pertama bagi karya pelukis Lampung ini juga diresmikan bersamaan dengan peresmian Monumen Marinir dan Nelayan oleh KSAL. Tentu saja aku bergembira karenanya.

Ketiga, kafe kopi Jon Jaeger Cafe. Bersama dengan Hendarto dan istrinya aku menyelami kopi tidak hanya harum dan nikmat tapi juga indah. Disajikan langsung oleh Werijo, Danbrig yang humanis, kopi arabica level 86,2 dari Solok ini terasa pahit legit nikmat. Cangkir kedua ditambah dengan es krim yang manis dan lumer di mulut, membuat tak bisa menolak cangkir ketiga dan keempat. Wuah...

Keempat, Ahmad Albar. Bayangpun, ketemu penyanyi legendaris ini persis di depan mata, menemaninya makan siang yang intim dan ...hmmm... tak terkata deh.

Saturday, January 02, 2016

Akhir Tahun 2015 dan Awal Tahun 2016

Mengakhiri tahun 2015, aku tidak seperti biasanya. Tidak ada evaluasi dalam meditasi dan refleksi. Yang ada adalah gerakan. Aku ingin mencatat akhir dari tarianku di tahun 2015 walau tak ada pencapaian yang berarti. Minimal, aku mengakhirinya dengan kegembiraan seperti ketika aku mengawalinya di awal tahun. Baik juga jika mengingat bagaimana niatku waktu itu, seperti di sini.

Ya, teman, menari. Harusnya aku menari. Tapi rupanya aku belum menari dalam harmoni. Jadi lebih baik kata itu kembali kucuatkan dalam tahun 2016 ini. Harmoni. Dalam harmoni. Aku belum tahu bagaimana mengartikannya, jadi aku akan mencari pengertian pada kata ini sepanjang tahun ini. Harmoni dengan start dari kamus :
 
harmoni (n) : pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/harmoni
KamusBahasaIndonesia.org
 
Bagaimana ini dibangun? Kita lihat, kita lihat. Aku belum tahu. Minimal, resiko-resiko 'gempa' mesti kuatasi saat terjadi. Dalam keselarasan semesta, gempa-gempa memang harus terjadi karena pergeseran, gerakan dan sebagainya. Doakan aku. (Aku, Yuli Nugrahani kekasih Allah, adalah vibrasi harmoni untuk seluruh harmoni yang ada seturut dengan kehendakMu, Sang Ilahi, Sumber dan Arah.)

Monday, November 09, 2015

Pentas Seni IX C SMP Fransiskus Tanjungkarang


Jadi pengawal.
Rabu, 4 Nopember lalu jadi hari heboh untuk Albert setelah 2 bulan bersama teman-teman sekelasnya menyiapkan pentas seni untuk nilai praktek sejumlah mata pelajaran. Aku ikut heboh karena mereka memintaku menjadi wakil orang tua untuk memberikan kata sambutan. Hehehe... Itu kesempatan yang menarik.

Albert sudah memberikan 'kisi-kisi' apa yang boleh diomong atau tidak. Jadi aman dah. Yang aku sangat salut adalah seluruh acara yang digarap sendiri oleh mereka itu bisa berjalan dengan keren. Untuk anak usia SMP itu luar biasa.

Albert sendiri terlibat dalam beberapa pentas : flash mob, main cethik, jadi pengawal, jadi tukang perahu dan peran-peran kecil lain. Itu sangat keren. Proficiat ya, Bert dan kawan-kawan.