Lalu, bagaimana kualitas pikiranku ini jika di pangkalnya pun sudah bercabang-cabang? Tak mungkin aku disamakan dengan pohon jati. Mungin sama dengan perdu yang bahkan cabang rantingnya tak terhitung menyentuh tanah, tidak tinggi menjulang. Aku tak bisa berhenti pada satu pikiran lalu lurus begitu saja terpikat pada hal itu. Aku meloncat dari satu pikiran ke pikiran lain, merangkai membentuk cabang ranting. Kadang selesai sampai ujungnya hingga rimbun dengan daun bunga dan buah. Tapi sering juga tak selesai, sehingga tak ada satu bunga buah pun di ranting itu. Hanya ranting saja, kering, lalu patah. Ah...
Thursday, June 16, 2011
Tree of Thinking
Lalu, bagaimana kualitas pikiranku ini jika di pangkalnya pun sudah bercabang-cabang? Tak mungkin aku disamakan dengan pohon jati. Mungin sama dengan perdu yang bahkan cabang rantingnya tak terhitung menyentuh tanah, tidak tinggi menjulang. Aku tak bisa berhenti pada satu pikiran lalu lurus begitu saja terpikat pada hal itu. Aku meloncat dari satu pikiran ke pikiran lain, merangkai membentuk cabang ranting. Kadang selesai sampai ujungnya hingga rimbun dengan daun bunga dan buah. Tapi sering juga tak selesai, sehingga tak ada satu bunga buah pun di ranting itu. Hanya ranting saja, kering, lalu patah. Ah...
Wednesday, June 15, 2011
My Husband Birthday
Hei, selamat ulang tahun. Mengenalmu belasan tahun yang lalu membuatku sangat ge-er setengah mati. Aku adalah makluk ciptaan yang diberi banyak keberuntungan. Puncaknya adalah ketika aku mendapatkan dirimu sebagai pasangan hidup. Laki-laki yang naik begitu saja ke kebun teh, tak mengerti mengapa harus datang, tapi menawarkan pertemanan dan mengantar mengelilingi pucuk-pucuk teh di ketinggian Kertowono. Masih juga heran ketika berani mengucap janji sehidup semati di depan altar dan sampai sekarang masih heran juga melihatku setiap pagi. Seolah-olah aku adalah peri aneh yang menyusup mengganggu hidupnya hingga tidak bisa tenang nyaman mapan seperti kebanyakan suami. Hahaha, selamat ulang tahun. Mari berpesta hari ini.
Tuesday, June 14, 2011
Angry!
Apa salahnya marah? Boleh. Tentu saja boleh marah. Aku sering marah. Kenapa tidak? Pun akhir-akhir ini aku sangat sering marah. Karena anak-anak tak menurut, suami yang tak paham, teman yang berkhianat, yang kuanggap penting tidak dianggap sama orang lain, situasi yang tak berubah juga, dll.dll.dll. Aku punya banyak alasan untuk marah, dan sudah kulakukan.
Lalu apa? Setelah marah, selanjutnya apa? Apakah marah adalah tujuanku? Tidak. Marah adalah loncatan api emosi. Bisa tak terkendali, tapi itu bukan tujuan. Kalau tujuanku hanya marah, sudah tercapai saat itu, saat ini. Kan aku sudah marah.
Tapi bukan seperti itu. Bukan. Aku marah karena ada hal lain yang sedang kutuju, maka aku sedang belajar untuk tidak berhenti hanya pada marah. Marah adalah salah satu sarana untuk sampai pada tujuan sejatiku. Marah boleh, tapi bukan itu tujuanku. Marah hanya sarana bagi jiwaku yang masih butuh mengekspresikan emosi. Begitulah.
(Ini pemahaman yang terus menerus kucekokkan pada diriku sendiri. Come on, Yuli. Growth up!)
Lalu apa? Setelah marah, selanjutnya apa? Apakah marah adalah tujuanku? Tidak. Marah adalah loncatan api emosi. Bisa tak terkendali, tapi itu bukan tujuan. Kalau tujuanku hanya marah, sudah tercapai saat itu, saat ini. Kan aku sudah marah.
Tapi bukan seperti itu. Bukan. Aku marah karena ada hal lain yang sedang kutuju, maka aku sedang belajar untuk tidak berhenti hanya pada marah. Marah adalah salah satu sarana untuk sampai pada tujuan sejatiku. Marah boleh, tapi bukan itu tujuanku. Marah hanya sarana bagi jiwaku yang masih butuh mengekspresikan emosi. Begitulah.
(Ini pemahaman yang terus menerus kucekokkan pada diriku sendiri. Come on, Yuli. Growth up!)
Monday, June 13, 2011
Holy Spirit in The Sea
Mengunjungi laut menjadi kesenangan luar biasa bagiku. Apalagi setelah sekian lama tidak mencium bau air asin seperti itu. Melihat anak-anak dan bapaknya asyik memancing di rakit terapung sekitar 50-an meter ke laut, tiduran saja sambil pegang tali senar pancing, kali-kali ada ikan nyangkut, melihat langit cerah, sesekali memasukkan tangan ke air, sesekali ambil foto kanan kiri, sering-sering membuka tas ambil cemilan,... ha sampai besok pagi pun aku betah. Hitam kelam terbakar juga tidak terasa. Itu yang kulakukan sepanjang hari minggu kemarin, tepat Pesta Pentakosta. Kami mengais Roh Kudus di tepian Mutun Beach. Dan Roh Kudus turun dalam rupa-rupa bentuk. Ikan, rumpon, pasir, anak-anak,...etc. Bertaburan hingga amis sekujur tubuh. (Hehehe...nyambung gak sih.)
Friday, June 10, 2011
Travelling into heart
Aku dulu berasal dari sebuah guci. Guci ajaib yang menyimpanku rapat, membuatku nyaman, tidak ingin kemana-mana. Guci itu aman bagiku walau mudah retak. Keretakan pertama kedua ketiga hingga kesekian ratus masih membuatku bertahan, tapi kemudian tiba-tiba aku sudah di luar. Aku berada di jalanan, menggelandang. Sesekali kuingat aku melewati banyak perjalanan. Ke banyak tempat. Bertemu banyak orang.
Baru saja, pagi ini, saat aku hanya duduk di kebekuan, aku teringat kembali pada guciku. Guci ajaib yang pernah menyimpanku. Aku melongok dan melihat bahwa guci itu utuh. Ajaib, tidak ada bekas retak dan patah di dalamnya. Maka, aku akan menata ranselku, untuk memulai perjalanan kembali. Kali ini, perjalanan ke dalam, bukan keluar. Perjalanan menjelajah guciku, dekat sini.
Wednesday, June 08, 2011
Sorry, I want it for myself!
Tak ada untukmu, tak ada untuk kalian, tak ada untuknya, tak ada untuk mereka! Aku menginginkan untukku sendiri! Jadi mau apa? Walau dirayu seperti apa tak akan kubagi untuk siapapun, terlebih dirimu!
(I want be egois. I want everything for myself. My body, my times, my smiles, my talents, my everything...)
Friday, June 03, 2011
Non Violence
Tuesday, May 31, 2011
Kota Baru
Sekitar 950 Ha tanah garapan petani Jati Agung akan digusur menjadi Kota Baru, ibu kota propinsi Lampung. Di atasnya akan didesain sebuah kota modern dengan pemukiman dan perkantoran, yang akan dikerjakan oleh pemerintah dengan menggandeng investor dari Malaysia. Demikian rangkuman beberapa tulisan di beberapa media. Yang tidak diperhitungkan adalah adanya 400-an KK, penggarap lahan, yang harus kehilangan tanaman yang sudah dirawatnya. Mereka kehilangan mata pencaharian dan calon panenan. Apakah pemerintah sudah pedulikan ini dengan sungguh-sungguh? Cukupkah uang tali asih sebesar Rp 5 juta, yang jauh dari modal kerja mereka selama ini? Sanggupkah pemerintah memberikan harapan nyata supaya mereka pun ikut bersemangat dalam perencanaan Kota Baru ini? Siapa wakil pemerintah yang bisa jawab ini? Pak Syachrudin? Pak Richo? Pak Menteri Kehutanan? Pak Presiden?
Monday, May 30, 2011
Continue
Maksud hati mulai cerita banyak hasil perjalanan kemarin, tapi apa daya aku masih harus melanjutkan perjalanan. Merajut cerita baru, tak tersusun kembali. Selalu bergulat antara luka dan rahmat. Kadang-kadang bosan, kadang-kadang bersemangat.
Sekarang, akan lanjut. Tapi titik yang ini sepertinya terlewat besar untuk dilewati. Terlalu banyak simpul-simpul yang belum terurai.
Ah, ingin lagi duduk di pinggiran sungai di atas rumput di bawah pohon. Hingga tertidur. Pulas tanpa mimpi.
Sekarang, akan lanjut. Tapi titik yang ini sepertinya terlewat besar untuk dilewati. Terlalu banyak simpul-simpul yang belum terurai.
Ah, ingin lagi duduk di pinggiran sungai di atas rumput di bawah pohon. Hingga tertidur. Pulas tanpa mimpi.
Thursday, May 19, 2011
Lampung - Sungai Utik
Pulang dari perjalanan menyisakan mabuk di sendi-sendi tubuhku. Aku punya banyak cerita, teman. Tapi belum bisa kurangkai dalam kata. Untuk mengingat saja akan kutuliskan.
10 Mei 2011, naik Garuda 11.05 dari Raden Intan II menuju Soekarno Hatta. 14.45 lanjut ke Supadio, Pontianaik. Dijemput Pak Budi di bandara n langsung diantar ke pull Damri untuk berangkat ke Sintang pukul 19.00. Perjalanan dengan bis malam untuk tidur.
11 Mei 2011, bangun tidur di Sintang, dijemput Rm. Miau di pull Damri dekat patung BI. Istirahat sebentar di Katedral Sintang. Rapat komisi lalu makan siang di lereng Bukit Kelam. (Ngiler kan?) Lanjut rapat lagi sampai malam.
12 Mei 2011, rapat lagi sampai siang. Makan malam diundang Wakil Bupati Sintang.
13 Mei 2011, perjalanan ke Putussibau, lanjut ke Sungai Utik. Tidur di rumah betang itu. Gak bermalam, karena memang gak boleh bermalam...hehehe. Begadang sampai 2 pagi.
14 Mei 2011, jalan ke Benoa Tengah, Sei Ulun (mabuk tuak. 4 gelas!), Bali Gundi, n then Paroki ... aduh apa namanya. (Tio gangguin nih di depanku, jadi gak konsen) Malam tidur di Sanjaya Hotel, di Putussibau, Kapuas Hulu.
15 Mei 2011, habis makan siang jalan ke Sintang. Istirahat sebentar lanjut ke Pontianak (dipikir-pikir 15 jam jalan. ampun.)
16 Mei 2011, mimpi amburadul di rumah unio, sarapan bubur babi, jalan ke tugu Katulistiwa, belanja jeruk pontianak, manisan lidah buaya, dll. 16.20 terbang ke Jakarta.
17 Mei 2011, balik Lampung dunk.
Nah, cerita detail sampai ke rasa, hati, pikir, nanti aku buat berseri. Plus foto-foto. Silakan tunggu, teman.
10 Mei 2011, naik Garuda 11.05 dari Raden Intan II menuju Soekarno Hatta. 14.45 lanjut ke Supadio, Pontianaik. Dijemput Pak Budi di bandara n langsung diantar ke pull Damri untuk berangkat ke Sintang pukul 19.00. Perjalanan dengan bis malam untuk tidur.
11 Mei 2011, bangun tidur di Sintang, dijemput Rm. Miau di pull Damri dekat patung BI. Istirahat sebentar di Katedral Sintang. Rapat komisi lalu makan siang di lereng Bukit Kelam. (Ngiler kan?) Lanjut rapat lagi sampai malam.
12 Mei 2011, rapat lagi sampai siang. Makan malam diundang Wakil Bupati Sintang.
13 Mei 2011, perjalanan ke Putussibau, lanjut ke Sungai Utik. Tidur di rumah betang itu. Gak bermalam, karena memang gak boleh bermalam...hehehe. Begadang sampai 2 pagi.
14 Mei 2011, jalan ke Benoa Tengah, Sei Ulun (mabuk tuak. 4 gelas!), Bali Gundi, n then Paroki ... aduh apa namanya. (Tio gangguin nih di depanku, jadi gak konsen) Malam tidur di Sanjaya Hotel, di Putussibau, Kapuas Hulu.
15 Mei 2011, habis makan siang jalan ke Sintang. Istirahat sebentar lanjut ke Pontianak (dipikir-pikir 15 jam jalan. ampun.)
16 Mei 2011, mimpi amburadul di rumah unio, sarapan bubur babi, jalan ke tugu Katulistiwa, belanja jeruk pontianak, manisan lidah buaya, dll. 16.20 terbang ke Jakarta.
17 Mei 2011, balik Lampung dunk.
Nah, cerita detail sampai ke rasa, hati, pikir, nanti aku buat berseri. Plus foto-foto. Silakan tunggu, teman.
Monday, May 02, 2011
Makan
Aku suka makan. Tak ada yang perlu meragukan keabsahannya. Apa saja bisa kulahap. Sudahlah, sebut saja semua jenis makanan yang ada, aku pasti akan doyan.
Terakhir-terakhir ini aku sangat suka makan bebek. Bebek diapain aja. Juga jamur tiram putih yang disate bumbu kacang. Dan kuah bening daun katu plus labu siam. Buahnya pisang muli atau jeruk medan. Minumnya yang susah untuk diganti sejak bertahun-tahun lalu, yaitu jus tomat dicampur wortel dikit, gak usah pakai susu.
Di Lampung makanan bebek mudah banget didapat. Di pinggiran jalanan bejibun. Tapi tadi siang aku nemuin bebek goreng kremes yang lumayan bisa diulang. Bebek Bratang dekat stadion Pohoman. Aku pengin nyoba sup bebeknya tapi rupanya sedang tidak ada. Lihat kali kedua nanti, apakah rasa yang sama masih bisa kukecap di situ. Untuk jadi langganan.
Tuesday, April 26, 2011
Puisi Paskah
Aku membaca ini di harisatiman.blogspot.com. Aku ingin ikut menyebarkannya. Terimakasih Ulil. Kau memberiku inspirasi hening pada paskah tahun ini. Salam dari Lampung.
Puisi Paskah
Oleh :
Ulil Absar Abdala
Ulil Absar Abdala
Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!
Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.
Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!
Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.
Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!
Wednesday, April 20, 2011
Ulat Bulu
Jangankan melihat ulat bulu, membayangkan, memikirkan, atau bahkan membicarakan atau menuliskannya seperti ini sudah membuat bagian-bagian tertentu tubuhku gatal dan merinding. Mengapa fenomena aneh ini muncul di berbagai tempat di Indonesia justru tentang ulat bulu? Agak sulit memikirkannya lama-lama karena aku terus bergidik. Tapi point-point penyebab merebaknya ulat bulu:
1. Hujan berkepanjangan. Kupu-kupu biasanya muncul saat musim kemarau tiba.
2. Tidak ada mata rantai pemakannya. Burung, kadal dll semakin habis.
3. Ketidak seimbangan siklus semesta. Ini mengerikan, karena berarti bukan hanya tentang ulat bulu tapi juga tentang hal-hal lain.
Sekarang jadi mikir egois, takut pada ulat bulu atau mau berpikir lebih luas tentang sosial dan ciptaan keseluruhan? Ini pasti ada kaitan dengan pola hidup manusia kini. Yukk, koreksi diri sendiri. Mulai dari cara makan (manusia tuh rupanya makan segala hal, sedang makluk lain sangat terbatas menunya. udah terbatas makanannya, dimakan pula sama manusia) Lalu juga cara bersikap terhadap tanaman dan hewan. Kita mulai dari kita masing-masing. Sementara aku masih egois banget karena aku sangat takut pada ulat, apa lagi ulat bulu. (Ulat beras yang kecil itu saja bisa membuatku semaput. Aduh!)
1. Hujan berkepanjangan. Kupu-kupu biasanya muncul saat musim kemarau tiba.
2. Tidak ada mata rantai pemakannya. Burung, kadal dll semakin habis.
3. Ketidak seimbangan siklus semesta. Ini mengerikan, karena berarti bukan hanya tentang ulat bulu tapi juga tentang hal-hal lain.
Sekarang jadi mikir egois, takut pada ulat bulu atau mau berpikir lebih luas tentang sosial dan ciptaan keseluruhan? Ini pasti ada kaitan dengan pola hidup manusia kini. Yukk, koreksi diri sendiri. Mulai dari cara makan (manusia tuh rupanya makan segala hal, sedang makluk lain sangat terbatas menunya. udah terbatas makanannya, dimakan pula sama manusia) Lalu juga cara bersikap terhadap tanaman dan hewan. Kita mulai dari kita masing-masing. Sementara aku masih egois banget karena aku sangat takut pada ulat, apa lagi ulat bulu. (Ulat beras yang kecil itu saja bisa membuatku semaput. Aduh!)
Tuesday, April 12, 2011
Tanda Tanya
Nonton Tanda Tanya seperti menonton potret Indonesia masa kini dalam keberagaman agama, etnis, cara pandang, sekaligus potensi konflik di dalamnya. Film garapan Hanung Bramantyo ini dimulai dengan setting di sebuah area dekat Pasar Baru yang di kompleks ini ada masjid, gereja dan klenteng. Ditonjolkan etnis Jawa dan China, dalam tiga agama yaitu Islam, Katolik dan Konghuchu. Tokoh-tokoh di dalamnya digambarkan sedemikian rupa sehingga aku dapat menangkap mereka seperti orang-orang yang pernah aku kenal, aku temui atau aku lihat.
Misalnya Menuk, seorang soleha Muslim yang taat beragama namun bekerja di restoran Kanton yang menyediakan juga masakan babi. Dia loyal terhadap majikannya, Tan Kat Sun, sepenuh hati seperti orang-orang Jawa yang mengabdi, kadang naif namun teguh pendirian.
Soleh, suami Menuk, adalah seorang pencemburu. Dia ingin berpegang pada agamanya, namun dia dikendalikan oleh hatinya. Dia masuk sebagai Banser NU, dan mati karena bom yang ditemukannya di dalam gereja saat malam Natal.
Hen adalah anak Tan Kat Sun, yang tak bisa memiliki Menuk. Dia jadi sinis pada semua orang dan ngawur dalam egoisnya. Namun perjalanan hidupnya, kematian bapaknya, dan dorongan dari ibunya untuk memilih, membuat dia masuk Islam.
Tan, seorang penganut Konghuchu, pemilik restoran Kanton, sekuat tenaga ingin toleran pada karyawannya yang banyak muslim, dan juga masyarakat sekitarnya. Namun siapa yang bisa percaya pada China yang menyediakan babi di restorannya walau dia bilang wajan untuk memasak babi dan ayam dipisahkan, juga piring dan sendok, dan sebagainya? Adakah yang percaya walau dia membaca juga buku-buku tentang Islam supaya paham terhadap masyarakat di sekitarnya?
Rika, seorang janda satu anak bernama Abi bercerai karena tidak mau dimadu. Juga pindah agama Katolik karena ingin menemukan Allahnya yang Al-rahman, Al-rahim, Al-mukmin. (Aku tidak menemukan kata-kata pastinya, hanya berdasarkan ingatan.) Allah yang maha baik, maha kasih, maha merangkul...
Surya, ingin jadi artis. Selalu dapat peran piguran jadi penjahat. Sampai kemudian dapat peran utama, menjadi Yesus untuk pementasan Jumat Agung. Ustadnya menyakinkan dia bahwa Islamnya tidak akan berubah karena peran tubuhnya yang seperti itu. Dia semakin tekun belajar Islam dan semakin toleran setelah banyak peristiwa itu.
Ada tokoh-tokoh lain di situ, seperti Ustad dan Pastur. Mereka ditampilkan sebagai tokoh-tokoh sejuk. Ada juga tokoh-tokoh 'provokator' pertikaian seperti Doni, anak-anak muda tanpa nama, juga tukang gosip seperti Ibu Novi. Namun hingga bagian akhirnya aku hanya kepikir satu judul untuk film yang digarap penuh tanda tanya ini. UNHOPELESS. Itulah kata-kata yang kupilih untuk menggambarkan potret dalam film ini.
Misalnya Menuk, seorang soleha Muslim yang taat beragama namun bekerja di restoran Kanton yang menyediakan juga masakan babi. Dia loyal terhadap majikannya, Tan Kat Sun, sepenuh hati seperti orang-orang Jawa yang mengabdi, kadang naif namun teguh pendirian.
Soleh, suami Menuk, adalah seorang pencemburu. Dia ingin berpegang pada agamanya, namun dia dikendalikan oleh hatinya. Dia masuk sebagai Banser NU, dan mati karena bom yang ditemukannya di dalam gereja saat malam Natal.
Hen adalah anak Tan Kat Sun, yang tak bisa memiliki Menuk. Dia jadi sinis pada semua orang dan ngawur dalam egoisnya. Namun perjalanan hidupnya, kematian bapaknya, dan dorongan dari ibunya untuk memilih, membuat dia masuk Islam.
Tan, seorang penganut Konghuchu, pemilik restoran Kanton, sekuat tenaga ingin toleran pada karyawannya yang banyak muslim, dan juga masyarakat sekitarnya. Namun siapa yang bisa percaya pada China yang menyediakan babi di restorannya walau dia bilang wajan untuk memasak babi dan ayam dipisahkan, juga piring dan sendok, dan sebagainya? Adakah yang percaya walau dia membaca juga buku-buku tentang Islam supaya paham terhadap masyarakat di sekitarnya?
Rika, seorang janda satu anak bernama Abi bercerai karena tidak mau dimadu. Juga pindah agama Katolik karena ingin menemukan Allahnya yang Al-rahman, Al-rahim, Al-mukmin. (Aku tidak menemukan kata-kata pastinya, hanya berdasarkan ingatan.) Allah yang maha baik, maha kasih, maha merangkul...
Surya, ingin jadi artis. Selalu dapat peran piguran jadi penjahat. Sampai kemudian dapat peran utama, menjadi Yesus untuk pementasan Jumat Agung. Ustadnya menyakinkan dia bahwa Islamnya tidak akan berubah karena peran tubuhnya yang seperti itu. Dia semakin tekun belajar Islam dan semakin toleran setelah banyak peristiwa itu.
Ada tokoh-tokoh lain di situ, seperti Ustad dan Pastur. Mereka ditampilkan sebagai tokoh-tokoh sejuk. Ada juga tokoh-tokoh 'provokator' pertikaian seperti Doni, anak-anak muda tanpa nama, juga tukang gosip seperti Ibu Novi. Namun hingga bagian akhirnya aku hanya kepikir satu judul untuk film yang digarap penuh tanda tanya ini. UNHOPELESS. Itulah kata-kata yang kupilih untuk menggambarkan potret dalam film ini.
Tuesday, March 29, 2011
Jealous
Aku biasa sombong mengatakan bahwa diriku adalah orang yang merdeka. Jika aku ingin melakukan sesuatu maka itulah kehendakku. Apapun reaksi yang kuterima tak akan memberi pengaruh apapun. Jika mau senyum, ya aku akan senyum. Karena aku yang ingin dan memutuskannya tidak ada ruginya sama sekali andai aku tidak dibalas senyum atau bahkan dibalas umpatan.
Aku kira aku sungguh-sungguh telah menjadi orang yang merdeka seperti itu sehingga aku tetap akan lurus maju di jalan ini. Jalan yang sudah kupilih. Jalan yang penuh belajar tentang cinta kasih.
Aku kira aku seperti itu.
Ternyata tidak. Hari ini aku sangat cemburu hanya karena aku tidak diperlakukan seperti yang aku ingin dapatkan.
Aku sangat cemburu.
Aku kira aku sungguh-sungguh telah menjadi orang yang merdeka seperti itu sehingga aku tetap akan lurus maju di jalan ini. Jalan yang sudah kupilih. Jalan yang penuh belajar tentang cinta kasih.
Aku kira aku seperti itu.
Ternyata tidak. Hari ini aku sangat cemburu hanya karena aku tidak diperlakukan seperti yang aku ingin dapatkan.
Aku sangat cemburu.
Monday, March 28, 2011
Bunuh Diri
Seorang yang kukenal bunuh diri. Aku tidak tahu harus merasa apa. Tapi, bagaimana bisa pilihan ini diambil? Tidak adakah harapan satupun? Tidak adakah hal lain yang bisa dilakukan senekat apapun selain bunuh diri (dan membunuh orang lain)? Teman, jangan limpahkan rasa salah ke orang lain, tapi lihat diri sendiri. Ada banyak harapan di sekeliling kita.
1. Putus cinta. Masak sih harus bunuh diri? Anang usai putus cinta, cerai, sakit hati, kemudian dapat dekat dengan cewek lain bebas, bisa pilih. Karies menanjak, lebih terkenal.
2. PHK. Masak sih harus bunuh diri? Anak-anak di terminal itu bisa tetap hidup dengan jual rokok eceran. Masak orang lain tidak bisa melakukannya. Dagang apapun, lakukan apapun, kalau tetep gak bisa jualan, ngemis dulu gak apa-apa. Baru kemudian jualan.
3. Gak bisa lanjutin sekolah. Masak sih harus bunuh diri? Berhenti sekolah sebentar ya gak pa-pa. Malah enak gak ngerjain PR. Lalu cari-cari cara, terus lanjut lagi. Malu ketuaan? Halah, malah enak ketemu yang muda-muda, jadi kita yang paling senior.
4. Gak punya duit saat anak sakit. Aduh, masak harus bunuh diri? Kan anak-anak harus tetap dirawat, tetap didoakan. Kalau sudah mati gak bisa melakukan itu.
5. Diejek orang. Masak harus bunuh diri? Apa ruginya diejek orang? gak mencuil hidung kita. Kita hidup gak harus tergantung orang lain kok.
6. Hayo sebutkan alasan lain mengapa harus bunuh diri. Lalu kita bahas nanti kenapa hal itu gak perlu kita lakan...
Banyak harapan, teman. Banyak harapan di dekat tubuh diri kita.
(Banyak doa untuk Agus. Mohon ampunan Tuhan untuk kerapuhannya.)
1. Putus cinta. Masak sih harus bunuh diri? Anang usai putus cinta, cerai, sakit hati, kemudian dapat dekat dengan cewek lain bebas, bisa pilih. Karies menanjak, lebih terkenal.
2. PHK. Masak sih harus bunuh diri? Anak-anak di terminal itu bisa tetap hidup dengan jual rokok eceran. Masak orang lain tidak bisa melakukannya. Dagang apapun, lakukan apapun, kalau tetep gak bisa jualan, ngemis dulu gak apa-apa. Baru kemudian jualan.
3. Gak bisa lanjutin sekolah. Masak sih harus bunuh diri? Berhenti sekolah sebentar ya gak pa-pa. Malah enak gak ngerjain PR. Lalu cari-cari cara, terus lanjut lagi. Malu ketuaan? Halah, malah enak ketemu yang muda-muda, jadi kita yang paling senior.
4. Gak punya duit saat anak sakit. Aduh, masak harus bunuh diri? Kan anak-anak harus tetap dirawat, tetap didoakan. Kalau sudah mati gak bisa melakukan itu.
5. Diejek orang. Masak harus bunuh diri? Apa ruginya diejek orang? gak mencuil hidung kita. Kita hidup gak harus tergantung orang lain kok.
6. Hayo sebutkan alasan lain mengapa harus bunuh diri. Lalu kita bahas nanti kenapa hal itu gak perlu kita lakan...
Banyak harapan, teman. Banyak harapan di dekat tubuh diri kita.
(Banyak doa untuk Agus. Mohon ampunan Tuhan untuk kerapuhannya.)
Wednesday, March 23, 2011
Heli
"Ibu kenal Heli?" Albert bertanya saat pulang dari sekolah kemarin.
"Ndak. Siapa dia?"
"Itu bu, anjingnya Vio." O. Hehehe...kirain siapa.
"Ibu kira Vio gak punya anjing. Gak pernah lihat atau dengar gonggongnya." Kataku sambil mengingat-ingat.
"Iya, memang tidak di rumah itu. Dititip ke orang."
"Kenapa tidak dipelihara sendiri?"
"Dulunya dipelihara sendiri tapi karena apa gitu terus dititip. Kayaknya karena Vio gak rajin merawat atau apa gitulah, bu. Aku juga gak jelas. Tapi Heli tuh anjing baik. Dia sangat suka kalau dielus, didekati. Gak galak. Aku pernah bertemu beberapa kali, dia bisa dilatih. Kalau disuruh berdiri dia akan berdiri. Disuruh berguling, dia akan tiruin kita berguling. Tapi kemudian dia jadi agak galak sekarang."
"O, kenapa bisa gitu?"
"Habis ditabrak motor, dia jadi berubah. Kayaknya dia jadi trauma, bu. Kalau didekati dia sudah curiga duluan. Kasihan. Dan lagi jalannya jadi pincang."
Hmmm, aku pikir ya begitulah. Karena pernah ditabrak sekali, Heli jadi berubah perangainya. Apalagi kalau manusia sering 'ditabrak', jelas sekali akan berubah. Bisa jadi apapun.
"Ndak. Siapa dia?"
"Itu bu, anjingnya Vio." O. Hehehe...kirain siapa.
"Ibu kira Vio gak punya anjing. Gak pernah lihat atau dengar gonggongnya." Kataku sambil mengingat-ingat.
"Iya, memang tidak di rumah itu. Dititip ke orang."
"Kenapa tidak dipelihara sendiri?"
"Dulunya dipelihara sendiri tapi karena apa gitu terus dititip. Kayaknya karena Vio gak rajin merawat atau apa gitulah, bu. Aku juga gak jelas. Tapi Heli tuh anjing baik. Dia sangat suka kalau dielus, didekati. Gak galak. Aku pernah bertemu beberapa kali, dia bisa dilatih. Kalau disuruh berdiri dia akan berdiri. Disuruh berguling, dia akan tiruin kita berguling. Tapi kemudian dia jadi agak galak sekarang."
"O, kenapa bisa gitu?"
"Habis ditabrak motor, dia jadi berubah. Kayaknya dia jadi trauma, bu. Kalau didekati dia sudah curiga duluan. Kasihan. Dan lagi jalannya jadi pincang."
Hmmm, aku pikir ya begitulah. Karena pernah ditabrak sekali, Heli jadi berubah perangainya. Apalagi kalau manusia sering 'ditabrak', jelas sekali akan berubah. Bisa jadi apapun.
Friday, March 18, 2011
Mengirimkan Jenasah
Saat duka terjadi kapanpun. Kesedihan dan kepanikan terjadi tanpa diundang. Apalagi jika tidak ada teman yang membantu untuk berpikir jernih tentang segala hal teknis praktis yang diperlukan mengurus yang meninggal maupun yang berduka. Satu pengalaman bagi perantau, ketika seorang teman meninggal jauh dari kediamannya dan harus dimakamkan di tempat asal.
Berikut ini tips untuk mengirimkan jenasah ke tempat keluarga yang jauh, berdasarkan pengalaman dalam duka untuk Yusi. (Dia yang ceria gembira saat wisuda kakaknya, Yessy, dalam sekejab dipanggil Tuhan di Lampung dan harus dibawa ke Kabanjahe karena seluruh keluarganya ada di sana. Aku menuliskan ini masih dalam duka karena kepergiannya (16/3) yang tak terduga.)
1. Sekejab setelah kabar duka, luapkan saja seluruh emosi. Menangislah, merataplah. Tidak ada yang salah dengan sedih, duka.
2. Tegakkan badan, lihat sekitar. Siapa yang cukup kuat dan tidak kuat akan terlihat. Bagi peran akan berjalan sendiri pada situasi ini.
3. Urus jenasah. Dia akan memerlukan peti. Kalau ini terjadi di rumah sakit, biasanya petugas rumah sakit punya hubungan ke sana. Juga keperluan-keperluan lain seperti memandikan, mengenakan baju yang pantas, pemberian formalin (ini harus diberikan karena akan dikirim jauh memakan waktu).
4. Jangan lupa minta surat keterangan kematian dari rumah sakit. Ini akan diperlukan sepanjang perjalanan. Isinya antara lain bahwa tidak ada penyakit menular dan juga kondisi-kondisi jenasah yang mengkuatirkan berdampak bagi orang lain. Surat ini juga digunakan untuk mendapatkan surat keterangan/jalan ke kepolisian. Urusan ini sangat cepat dan mudah, jadi tidak usah kuatir atau negatif thinking biar semua dapat berjalan lancar tanpa emosional.
4. Cari penerbangan dengan cargo yang dapat menerima jenasah. Langsung kontak ke maskapai untuk tanya ini. Biasanya akan dihargai berdasarkan beratnya. Sriwijaya Air punya pelayanan baik untuk Yusi. Aku berterimakasih sekali untuk itu sehingga perjalanan Lampung - Jakarta - Medan sangat ok untuknya dan keluarganya.
5. Urus sekaligus penerbangan bagi orang yang akan mengikuti jenasah. Paling mudah dalam penerbangan yang sama. Tapi kalau tidak pun tidak masalah, karena sesudah masuk cargo, tidak perlu lagi peti ditemani. Dia pasti diurus dengan baik.
Untuk membawa ke bandara, di rumah sakit pasti mempunyai akses ambulan untuk keperluan ini. Tanya saja ke petugas.
6. Jangan lupa kontak keluarga di tempat asal untuk memastikan mereka menyambut dengan segala keperluan. Mobil jenasah, rumah duka yang siap, dan sebagainya.
7. Segala urusan ini butuh uang yang banyak. Mungkin akan perlu hutang.
8. Keluarga yang berduka, tidak akan bisa berpikir jernih. Temani terus, bantu, tanya, dan perhatikan fisik mereka. Makan minum secukupnya perlu dipaksakan supaya mereka kuat. Mereka ini yang lebih butuh perhatian.
Aku masih menyeka mata untuk Yusi. Selamat jalan. Kau adalah rahmat bagi kami semua dalam perjumpaan singkat di Lampung ini. Bahkan di titik akhir pun kau masih memberikan kesempatan pengalaman bagi banyak orang. Khususnya aku. Terimakasih.
Berikut ini tips untuk mengirimkan jenasah ke tempat keluarga yang jauh, berdasarkan pengalaman dalam duka untuk Yusi. (Dia yang ceria gembira saat wisuda kakaknya, Yessy, dalam sekejab dipanggil Tuhan di Lampung dan harus dibawa ke Kabanjahe karena seluruh keluarganya ada di sana. Aku menuliskan ini masih dalam duka karena kepergiannya (16/3) yang tak terduga.)
1. Sekejab setelah kabar duka, luapkan saja seluruh emosi. Menangislah, merataplah. Tidak ada yang salah dengan sedih, duka.
2. Tegakkan badan, lihat sekitar. Siapa yang cukup kuat dan tidak kuat akan terlihat. Bagi peran akan berjalan sendiri pada situasi ini.
3. Urus jenasah. Dia akan memerlukan peti. Kalau ini terjadi di rumah sakit, biasanya petugas rumah sakit punya hubungan ke sana. Juga keperluan-keperluan lain seperti memandikan, mengenakan baju yang pantas, pemberian formalin (ini harus diberikan karena akan dikirim jauh memakan waktu).
4. Jangan lupa minta surat keterangan kematian dari rumah sakit. Ini akan diperlukan sepanjang perjalanan. Isinya antara lain bahwa tidak ada penyakit menular dan juga kondisi-kondisi jenasah yang mengkuatirkan berdampak bagi orang lain. Surat ini juga digunakan untuk mendapatkan surat keterangan/jalan ke kepolisian. Urusan ini sangat cepat dan mudah, jadi tidak usah kuatir atau negatif thinking biar semua dapat berjalan lancar tanpa emosional.
4. Cari penerbangan dengan cargo yang dapat menerima jenasah. Langsung kontak ke maskapai untuk tanya ini. Biasanya akan dihargai berdasarkan beratnya. Sriwijaya Air punya pelayanan baik untuk Yusi. Aku berterimakasih sekali untuk itu sehingga perjalanan Lampung - Jakarta - Medan sangat ok untuknya dan keluarganya.
5. Urus sekaligus penerbangan bagi orang yang akan mengikuti jenasah. Paling mudah dalam penerbangan yang sama. Tapi kalau tidak pun tidak masalah, karena sesudah masuk cargo, tidak perlu lagi peti ditemani. Dia pasti diurus dengan baik.
Untuk membawa ke bandara, di rumah sakit pasti mempunyai akses ambulan untuk keperluan ini. Tanya saja ke petugas.
6. Jangan lupa kontak keluarga di tempat asal untuk memastikan mereka menyambut dengan segala keperluan. Mobil jenasah, rumah duka yang siap, dan sebagainya.
7. Segala urusan ini butuh uang yang banyak. Mungkin akan perlu hutang.
8. Keluarga yang berduka, tidak akan bisa berpikir jernih. Temani terus, bantu, tanya, dan perhatikan fisik mereka. Makan minum secukupnya perlu dipaksakan supaya mereka kuat. Mereka ini yang lebih butuh perhatian.
Aku masih menyeka mata untuk Yusi. Selamat jalan. Kau adalah rahmat bagi kami semua dalam perjumpaan singkat di Lampung ini. Bahkan di titik akhir pun kau masih memberikan kesempatan pengalaman bagi banyak orang. Khususnya aku. Terimakasih.
Friday, March 11, 2011
SBY
Presiden merupakan satu posisi di Indonesia yang paling berpengaruh untuk membuat sebuah perubahan atau sebuah kemandegan. Ya, berpikir bodo aja, misalnya kalau aku yang bilang tentang sesuatu hal, pengaruhnya paling hanya padaku sendiri, pada orang-orang dekatku. Kadang juga gak ngaruh sama sekali karena jarang banget ada orang mau mendengarkanku. Nah, orang-orang lain juga begitu. Kadar pengaruhnya pada urutan tertentu sesuai dengan posisinya, pengalamannya, kedekatannya dengan orang lain, karakternya dan sebagainya.
Nah, (lagi) kalau ngomong presiden di negara presidensiil, yang presidennya dipilih oleh lebih 50% rakyat, jelas pengaruhnya besar sekali. Bersabda apa saja bisa memberi pengaruh besar bagi negara ini. Nah, jadi Pak SBY, anda mau beri pengaruh apa? Baik atau buruk? Jangan lagi takut tidak dapat dukungan atau kepercayaan. Di tangan andalah aku sudah berikan mandat. Ayolah berbuat untuk kami semua. Jangan hanya untuk partai koalisi, jangan hanya untuk kemapanan posisi, jangan hanya untuk keluarga anda! Kami sudah memberikan mandat, maka lakukanlah!
1. Perlindungan dari kekerasan
2. Perlindungan dari pemerasan
3. Perlindungan dari keraguan
4. Perlindungan terhadap seluruh hak
5. Biarlah negara tetap tegak karena suaramu
Jika tidak bisa lakukan itu, aku akan mencabut mandatku!
Nah, (lagi) kalau ngomong presiden di negara presidensiil, yang presidennya dipilih oleh lebih 50% rakyat, jelas pengaruhnya besar sekali. Bersabda apa saja bisa memberi pengaruh besar bagi negara ini. Nah, jadi Pak SBY, anda mau beri pengaruh apa? Baik atau buruk? Jangan lagi takut tidak dapat dukungan atau kepercayaan. Di tangan andalah aku sudah berikan mandat. Ayolah berbuat untuk kami semua. Jangan hanya untuk partai koalisi, jangan hanya untuk kemapanan posisi, jangan hanya untuk keluarga anda! Kami sudah memberikan mandat, maka lakukanlah!
1. Perlindungan dari kekerasan
2. Perlindungan dari pemerasan
3. Perlindungan dari keraguan
4. Perlindungan terhadap seluruh hak
5. Biarlah negara tetap tegak karena suaramu
Jika tidak bisa lakukan itu, aku akan mencabut mandatku!
Monday, February 28, 2011
Nurdin Halid
Membaca PSSI, Nurdin Halid dan segala kerumitannya, membuatku ingin menulis juga tentang hal ini. Tapi rupanya isi otakku hanya penuh pertanyaan. Diwakili satu pertanyaan aja dulu : Kenapa ya untuk urusan sport seperti ini banyak yang tidak sportif?
Sayangnya ini terjadi justru pada saat para pemain bola Indonesia sedang naik daun. Sedang mulai ancang-ancang untuk berprestasi. Moga-moga mereka bisa melepaskan diri dari masalah 'bengek' macam itu. Tetap semangat para pemain bola!
Sayangnya ini terjadi justru pada saat para pemain bola Indonesia sedang naik daun. Sedang mulai ancang-ancang untuk berprestasi. Moga-moga mereka bisa melepaskan diri dari masalah 'bengek' macam itu. Tetap semangat para pemain bola!
Thursday, February 24, 2011
Astaga Dipo Alam!
Astaga!
"Saya hendak mendidik media sebagai pemangku kekuasaan, mengingatkan mereka, kan hak saya sebagai rakyat. Jangan media menjadi institusi can do no wrong. Kenapa saya harus takut? Dibawa ke Dewan Pers juga saya siap." Dipo Alam yang berkata.
Aku bisa bilang apa lagi? Seorang Dipo gitu loh.
"Kami ingin mendidik pemerintah sebagai pemangku kekuasaan negara, mengingatkan mereka, kan hak kami sebagai rakyat. Jangan pemerintah negara menjadi institusi can do no wrong. Kenapa kami harus takut? Di bawa kemana saja kami siap." Ini nih kami yang bicara, sebagian kecil dari orang media.
Astaga!
"Saya hendak mendidik media sebagai pemangku kekuasaan, mengingatkan mereka, kan hak saya sebagai rakyat. Jangan media menjadi institusi can do no wrong. Kenapa saya harus takut? Dibawa ke Dewan Pers juga saya siap." Dipo Alam yang berkata.
Aku bisa bilang apa lagi? Seorang Dipo gitu loh.
"Kami ingin mendidik pemerintah sebagai pemangku kekuasaan negara, mengingatkan mereka, kan hak kami sebagai rakyat. Jangan pemerintah negara menjadi institusi can do no wrong. Kenapa kami harus takut? Di bawa kemana saja kami siap." Ini nih kami yang bicara, sebagian kecil dari orang media.
Astaga!
Sunday, February 20, 2011
Ingat Munir

Bertemu dengan Suciwati, Sumarsih, Ruminah, Bejo Untung dan lain-lain di Kantor KWI Jl Cut Mutia, membuatku ingat sosok mungil berambut pirang : Cak Munir. Aku ingat pernah beberapa kali bertemu dengannya di Kampus Brawijaya Malang. Dia datang dengan motor bebeknya, lalu terlibat dalam diskusi, dengan gaya ceplas ceplosnya. Ingat gayanya yang santai. Tubuh ringannya itu menampakkan kekuatan.
Mbak Suci, terimakasih bertemu dengan anda sekalian. Aku belajar banyak dari anda semua. Dari kenangan, dari cerita pergulatan, dari perjuangan, dan kali dari perjumpaan dengan anda semua. Aku ingin terus belajar dalam perjuangan ini. Aku akan terus mengingat bahwa semua peristiwa itu pernah terjadi. Tragedi G 30 S, Semanggi, Trisakti, Talangsari, Wasior, Ambon, dan sebagainya tak terhitung di Indonesia. Aku akan terus mengingat bahwa semua itu pernah terjadi. Aku akan terlibat di dalamnya dengan apa yang bisa kuperbuat.
Friday, February 11, 2011
Sakit Kepala
Darahku naik sampai ubun-ubun. Mungkin sudah sakit dari kemarin-kemarin, tapi pagi ini sangat terasa. Berdenyut hingga di kuping kanan kiriku. Terasa juga ada cairan di ujung tenggorokan di pangkal hidung. Sakit kepala sangat. Kenapa? Aku tidak tahu juga. Biasanya jika ada gangguan pada tubuh aku bisa menguranginya dengan tertawa, membaca atau diam-diam aja. Ketiganya sudah kulakukan tapi aku tetap sakit.
Apa yang kupikir?
1. Rian di RSU Abdul Muluk
2. Deadline Nuntius
3. Anak-anak
4. Kekerasan di banyak tempat
5. Pengin makan
6. Dll, buanyak lagi yang gak jelas.
Apa yang kupikir?
1. Rian di RSU Abdul Muluk
2. Deadline Nuntius
3. Anak-anak
4. Kekerasan di banyak tempat
5. Pengin makan
6. Dll, buanyak lagi yang gak jelas.
Thursday, February 10, 2011
Penistaan Agama
Aku menuntut orang yang menista agama sendiri atau orang lain dihukum! Tidak pandang bulu! Penistaan agama itu adalah :
1. Orang yang menulis atau bicara menjelekkan agama sendiri atau orang lain.
2. Orang yang mengganggu ibadat orang lain.
3. Orang yang merusak tempat ibadat di manapun.
4. Orang yang menghambat pembangunan rumah ibadat agama apapun di manapun.
5. Orang yang menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan sehingga boleh mencap sesuatu benar atau kafir.
Aku menuntut ada tindakan untuk orang-orang yang melakukan seperti itu!
1. Orang yang menulis atau bicara menjelekkan agama sendiri atau orang lain.
2. Orang yang mengganggu ibadat orang lain.
3. Orang yang merusak tempat ibadat di manapun.
4. Orang yang menghambat pembangunan rumah ibadat agama apapun di manapun.
5. Orang yang menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan sehingga boleh mencap sesuatu benar atau kafir.
Aku menuntut ada tindakan untuk orang-orang yang melakukan seperti itu!
Wednesday, February 09, 2011
Penjual Obat
Beberapa hari lalu si Tyo sakit gigi. Pagi-pagi aku mampir ke Apotik Enggal untuk membelikannya minyak tawon untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Ini obat untuk semua penyakit. Tidak selalu menyembuhkan, tapi bisa mengurangi rasa sakitnya. Kalau sakit gigi, oles aja di gigi atau gusinya dan pipi. Jika sakit batuk, oles di leher, dada dan punggung dan minum dikit. Untuk sakit yang lainnya. Lecet, terbakar, masuk angin, sakit perut, memar,...pokoke apa aja. Ini obat untuk segala sakit. Baca lengkapnya di kertas bungkus itu."
Tyo manggut-manggut aja sambil mlongo.
"Dados pinten, mbak? Regine pinten?"
Ganti aku yang mlongo, eh mendelik.
"Memangnya aku penjual obat? Dasar! Itu untukmu. Pakai kalau sakit! Kalau kau percaya, sembuhlah kau!"
"O..."
Bejo yang kebetulan nguping di belakang kami nyletuk.
"Bayarnya di aku, Yok."
Tyo masih memandangku.
"Wah,nggih dados mboten sekeca kula, mbak."
Eh si gundul Bejo ngakak-ngakak.
"Hahaha...baru tahu ya? Mbak Yuli kan paling bisa membuat orang gak enak ati. Lalu terjebaklah orang itu. Hahaha..."
Terpaksa kusambit gundulnya.
Tyo dengan wajah malaikatnya cuma mantuk-mantuk.
"Maturnuwun."
Bentar kemudian, dia datang lagi sambil menyorongkan teh dan pisang goreng sisa malam ke mejaku.
Aku tahu si Bejo tetep cengar-cengir. Anjrit! Pasti dalam hatinya dia bilang,"Bener kan. Orang pasti jadi gak enak hati sama si mbakyu n terpaksa mengikuti keinginannya."
Ya, habis gimana lagi. Hehehe...
"Ini obat untuk semua penyakit. Tidak selalu menyembuhkan, tapi bisa mengurangi rasa sakitnya. Kalau sakit gigi, oles aja di gigi atau gusinya dan pipi. Jika sakit batuk, oles di leher, dada dan punggung dan minum dikit. Untuk sakit yang lainnya. Lecet, terbakar, masuk angin, sakit perut, memar,...pokoke apa aja. Ini obat untuk segala sakit. Baca lengkapnya di kertas bungkus itu."
Tyo manggut-manggut aja sambil mlongo.
"Dados pinten, mbak? Regine pinten?"
Ganti aku yang mlongo, eh mendelik.
"Memangnya aku penjual obat? Dasar! Itu untukmu. Pakai kalau sakit! Kalau kau percaya, sembuhlah kau!"
"O..."
Bejo yang kebetulan nguping di belakang kami nyletuk.
"Bayarnya di aku, Yok."
Tyo masih memandangku.
"Wah,nggih dados mboten sekeca kula, mbak."
Eh si gundul Bejo ngakak-ngakak.
"Hahaha...baru tahu ya? Mbak Yuli kan paling bisa membuat orang gak enak ati. Lalu terjebaklah orang itu. Hahaha..."
Terpaksa kusambit gundulnya.
Tyo dengan wajah malaikatnya cuma mantuk-mantuk.
"Maturnuwun."
Bentar kemudian, dia datang lagi sambil menyorongkan teh dan pisang goreng sisa malam ke mejaku.
Aku tahu si Bejo tetep cengar-cengir. Anjrit! Pasti dalam hatinya dia bilang,"Bener kan. Orang pasti jadi gak enak hati sama si mbakyu n terpaksa mengikuti keinginannya."
Ya, habis gimana lagi. Hehehe...
Wednesday, February 02, 2011
Perjuangan Melawan Kelaliman
Jaman kecilku dulu nama Asterix sangat-sangat dekat. Asterix dan Obelix disertai seekor anjing Idefix. Mereka adalah rakyat sekaligus pejuang Galia untuk mempertahankan kedaulatan mereka dari pasukan Romawi. Mereka melakukan segala cara untuk perjuangan ini. Namun ada beberapa hal yang menarik :
1. Mereka selalu gembira. Ada canda, pesta, dll.
2. Mereka mempunyai pendamping seorang dukun obat. (Siapa ya namanya? Lupa blas. Entar kalau ingat aku tambah.)
3. Lurah Galia, si Abraracourcix, hanyalah pemimpin lelucon. Harus ada tapi ya gitu deh. Kayak-kayaknya seperti untuk formalitas saja.
4. Ada kekuatan 'lain' yang menyertai keberhasilan Asterix, Obelix dan warga Galia. Yaitu ramuan ajaib. Bahkan Obelix pernah 'kecemplung' di ramuan itu, tidak perlu lagi meminumnya supaya kuat.
5. Warga Galia ini beragam orang dan karakternya, tapi sangat kompak jika sudah melakukan aksi.
Itu sih di komik. Bukan nyata. Di tempat kita sekarang? Aku ingin jadi orang Galia, aku akan selalu gembira, cari 'kekuatan lain', mengarah kompak, seperti itulah. Bisa kali. Ayuk.
1. Mereka selalu gembira. Ada canda, pesta, dll.
2. Mereka mempunyai pendamping seorang dukun obat. (Siapa ya namanya? Lupa blas. Entar kalau ingat aku tambah.)
3. Lurah Galia, si Abraracourcix, hanyalah pemimpin lelucon. Harus ada tapi ya gitu deh. Kayak-kayaknya seperti untuk formalitas saja.
4. Ada kekuatan 'lain' yang menyertai keberhasilan Asterix, Obelix dan warga Galia. Yaitu ramuan ajaib. Bahkan Obelix pernah 'kecemplung' di ramuan itu, tidak perlu lagi meminumnya supaya kuat.
5. Warga Galia ini beragam orang dan karakternya, tapi sangat kompak jika sudah melakukan aksi.
Itu sih di komik. Bukan nyata. Di tempat kita sekarang? Aku ingin jadi orang Galia, aku akan selalu gembira, cari 'kekuatan lain', mengarah kompak, seperti itulah. Bisa kali. Ayuk.
Tuesday, February 01, 2011
Ambulance
Kalau tidak pernah merasakan diri atau keluarga atau sahabat berada di dalamnya, kau tak kan pernah merasa perlu minggir kalau ambulance lewat. Masak harus nunggu terjadi pada kita sih? Ayolah, biarkan ambulance lewat. Minggirlah. Come on. Aku minta itu. Minggirlah, biarkan ambulance lewat duluan dengan cepat. (Tahu kan siapa yang ada di dalam ambulance? Mungkin orang yang kena serangan jantung, sakit parah, kecelakaan, orang sekarat... Kadang-kadang jenasah.)
Tuesday, January 25, 2011
Tips Tidak Sakit Hati
1. Instropeksi diri. Benarkah aku sudah punya hati? Hati yang peduli pada orang lain, tidak nyakitin orang lain dll. Nah kalau ternyata aku saja gak punya hati, kenapa harus sakit hati?
2. Menaikkan standar sakit. Intine, misal waktu aku kecil jatuh saat jalan aku merasa sakit, tapi sekarang jatuh kecebur got pun aku gak merasa sakit. Kalau dulu dikatain,"Kamu ini pemalu banget." Hatiku sudah sakit. Sekarang aku dikatain,"Asu!" Nggak kerasa apa-apa tuh.
3. Jaga-jaga sebelum sakit. Iyalah, selama hidup kan gak mungkin sehat terus hati ini. Pasti ada jatuh sakitnya juga. Selama belum sakit, tanam kesadaran itu. Pasti akan terjadi juga. Tapi jangan menunggu dan mengundangan rasa sakit hati itu datang, ya.
4. Siapin obatnya. Beberapa orang menyiapkan stok obat sakit hati dengan cara berbeda. Senyum, marah, sedih,...bahkan ada yang bunuh diri. Nah, mumpung masih sehat pikir-pikir aja obat yang paling cocok n tidak merugikan diri sendiri.
5. Terapi. Ada terapi-terapi khusus untuk sakit hati. Jika masih ringan, terapi senyum sangat dianjurkan. Jika sakit hatinya sudah akut, silakan hubungi dokter jiwa terdekat.
2. Menaikkan standar sakit. Intine, misal waktu aku kecil jatuh saat jalan aku merasa sakit, tapi sekarang jatuh kecebur got pun aku gak merasa sakit. Kalau dulu dikatain,"Kamu ini pemalu banget." Hatiku sudah sakit. Sekarang aku dikatain,"Asu!" Nggak kerasa apa-apa tuh.
3. Jaga-jaga sebelum sakit. Iyalah, selama hidup kan gak mungkin sehat terus hati ini. Pasti ada jatuh sakitnya juga. Selama belum sakit, tanam kesadaran itu. Pasti akan terjadi juga. Tapi jangan menunggu dan mengundangan rasa sakit hati itu datang, ya.
4. Siapin obatnya. Beberapa orang menyiapkan stok obat sakit hati dengan cara berbeda. Senyum, marah, sedih,...bahkan ada yang bunuh diri. Nah, mumpung masih sehat pikir-pikir aja obat yang paling cocok n tidak merugikan diri sendiri.
5. Terapi. Ada terapi-terapi khusus untuk sakit hati. Jika masih ringan, terapi senyum sangat dianjurkan. Jika sakit hatinya sudah akut, silakan hubungi dokter jiwa terdekat.
Monday, January 24, 2011
Gitanjali
Gitanjali adalah lagu pemberian. Jika berhadapan dengan Sang Ilahi, tentu saja bisa diubah menjadi lagu persembahan.
Karena ini berhadapan denganmu, maka gitanjali adalah salamku yang kudendangkan khusus untukmu.
Karena ini tentangmu, maka gitanjali adalah senandungku yang pelan-pelan kulantunkan tanpa didengar orang lain selain dirimu.
Karena ini hanya untukmu, maka gitanjali adalah suara yang kupinjam dari Rabindranath Tagore tanpa melepas suaraku.
Bersamanya aku mengalungkan bunga di lehermu dan menyuapkan manisan di bibirmu. Kau dengar gemerincing gelang kakiku? Itu tarianku!
Karena ini berhadapan denganmu, maka gitanjali adalah salamku yang kudendangkan khusus untukmu.
Karena ini tentangmu, maka gitanjali adalah senandungku yang pelan-pelan kulantunkan tanpa didengar orang lain selain dirimu.
Karena ini hanya untukmu, maka gitanjali adalah suara yang kupinjam dari Rabindranath Tagore tanpa melepas suaraku.
Bersamanya aku mengalungkan bunga di lehermu dan menyuapkan manisan di bibirmu. Kau dengar gemerincing gelang kakiku? Itu tarianku!
Friday, January 21, 2011
Wartawan Undangan
Sedang berpikir soal harga beras yang mahal, cabe yang tidak pedes, ukuran tempe yang semakin mengecil, dll urusan negara merdeka, seseorang menohok.
"Dimana harga diri kita? Masak kita tidak diundang?"
"Apaan sih?"
"Ini acara penting. Kok mereka gak menganggap media kita sih?"
"Apa pentingnya buat kita?"
"Ini acara besar. Tapi kita tidak diundang."
"Diundang pun aku tak kan menuliskannya. Datang makan ok. Tapi tak kan kumuat di majalah."
Hehehe...protes dia. Aku pun tertawa keras bertepuk tangan. Hahahaha...karena akhirnya dia mengeluarkan seluruh argumentasi panjang lebar dengan logika otak wartawan yang dimilikinya.
Aku masih tertawa ketika aku mesti bicara dengan lembut penuh kasih padanya.
"Wartawan apaan tuh yang datang meliput atau menulis hanya karena diundang. Kalau tidak diundang tidak menulis apa-apa."
"Wartawan pemprop, mbak..." Hahaha...nyerah dia karena dia belum mandi dan gak tahan baunya sendiri. Hahaha... Malah menuduh sembarangan kalau wartawan pemprop hanya mengandalkan amplop, eh salah...ngandalin undangan? Ampun deh.
"Sudah mandi sana!!" Dia pun ngacir dengan sukses supaya aku bisa menuliskannya di blog ini.
"Dimana harga diri kita? Masak kita tidak diundang?"
"Apaan sih?"
"Ini acara penting. Kok mereka gak menganggap media kita sih?"
"Apa pentingnya buat kita?"
"Ini acara besar. Tapi kita tidak diundang."
"Diundang pun aku tak kan menuliskannya. Datang makan ok. Tapi tak kan kumuat di majalah."
Hehehe...protes dia. Aku pun tertawa keras bertepuk tangan. Hahahaha...karena akhirnya dia mengeluarkan seluruh argumentasi panjang lebar dengan logika otak wartawan yang dimilikinya.
Aku masih tertawa ketika aku mesti bicara dengan lembut penuh kasih padanya.
"Wartawan apaan tuh yang datang meliput atau menulis hanya karena diundang. Kalau tidak diundang tidak menulis apa-apa."
"Wartawan pemprop, mbak..." Hahaha...nyerah dia karena dia belum mandi dan gak tahan baunya sendiri. Hahaha... Malah menuduh sembarangan kalau wartawan pemprop hanya mengandalkan amplop, eh salah...ngandalin undangan? Ampun deh.
"Sudah mandi sana!!" Dia pun ngacir dengan sukses supaya aku bisa menuliskannya di blog ini.
Thursday, January 20, 2011
Gayus Tambunan : Candaan Gaya Indonesia!
Gayus divonis tujuh tahun penjara dan denda 300 juta rupiah. Komentar beragam pun muncul. Di penjual sayur tadi pagi pun soal ini ramai dibahas para ibu yang bercampur baur masih pakai daster. Seorang ibu bilang,"Enak ya. Mau juga kayak gitu." Lho kok? "Lha iyalah. Gak kerasa seperti hukuman lah bagi si Gayus. Pasti enak."
Ibu yang lain, ini seorang dosen bilang dengan kalem sambil milih cabe. "Yang penting kasus ini tuntas. Si Gayus kepalang basah itu sudahlah, sudah begitu harusnya nyemplung sekalian. Bongkar tuh jaringannya. Dan harus diproses. Eh, yu, ini cabe kok banyak masih mentah. Mana pedes?" Si ibu penjual sayur sibuk menghitung susuk pura-pura tidak dengar.
Ibu muda yang sedang hamil bilang sambil ngelus-elus perut."Aku jijay kalau dengar si Gayus, Aburisal Bakri. Amit-amit." Na, apa hubungannya Gayus dengan Ical?
"Tanya si Gayus, jangan aku. Tanya orangnya sana! Aku kan gak ada hubungannya? Gimana sih." Si ibu terus ngomel, gak kedengeran jelas. Kayaknya sih nyebut beberapa nama lain, seperti Esbeye, Denny, Tifatul, ...dsb, entah siapa saja. Tante sebelah bilang,"Dia lagi cari nama buat bayinya. Hehehe..."
Sampai aku pergi menenteng tempe dan bayem, para ibu itu masih sedang membicarakan wig dan kacamata Gayus. "Aku gak mau lagi ke Bali, jeung. Ke Mutun saja." Udahlah, gak nyambung blas blas obrolan ngalor ngidul di Indonesia ini. Tumplek blek. Dan aku selanjutnya...ya masak. Untuk suami dan anakku. Sayur bening bayam tempe goreng tanpa sambel.
Ibu yang lain, ini seorang dosen bilang dengan kalem sambil milih cabe. "Yang penting kasus ini tuntas. Si Gayus kepalang basah itu sudahlah, sudah begitu harusnya nyemplung sekalian. Bongkar tuh jaringannya. Dan harus diproses. Eh, yu, ini cabe kok banyak masih mentah. Mana pedes?" Si ibu penjual sayur sibuk menghitung susuk pura-pura tidak dengar.
Ibu muda yang sedang hamil bilang sambil ngelus-elus perut."Aku jijay kalau dengar si Gayus, Aburisal Bakri. Amit-amit." Na, apa hubungannya Gayus dengan Ical?
"Tanya si Gayus, jangan aku. Tanya orangnya sana! Aku kan gak ada hubungannya? Gimana sih." Si ibu terus ngomel, gak kedengeran jelas. Kayaknya sih nyebut beberapa nama lain, seperti Esbeye, Denny, Tifatul, ...dsb, entah siapa saja. Tante sebelah bilang,"Dia lagi cari nama buat bayinya. Hehehe..."
Sampai aku pergi menenteng tempe dan bayem, para ibu itu masih sedang membicarakan wig dan kacamata Gayus. "Aku gak mau lagi ke Bali, jeung. Ke Mutun saja." Udahlah, gak nyambung blas blas obrolan ngalor ngidul di Indonesia ini. Tumplek blek. Dan aku selanjutnya...ya masak. Untuk suami dan anakku. Sayur bening bayam tempe goreng tanpa sambel.
Wednesday, January 19, 2011
Kebohongan
Suatu ketika seorang guru mengatakan pada semua orang.
"Sang raja telah melakukan kebohongan." Dia tidak membawa bukti-bukti tapi ditunjuknya sungai yang tidak mengalir, sawah yang tidak menghijau, ternak mati, dan anak-anak kurus beringus.
Murid-muridnya terpecah. Percaya pada guru. Tidak percaya. Bingung. Diam.
Sang raja menaburkan senyumnya pada semua orang.
"Silakan percaya pada guru atau pada raja." Demikian para pengawal raja bersuara di setiap kesempatan. Rakyat terpecah. Percaya. Tidak. Bingung. Diam.
Di sebuah warung kopi orang-orang bicara.
"Raja ini pilihan kita semua."
"Guru siapa yang memilih?"
"Raja ini punya kuasa dunia."
"Guru dapat kuasa dari mana?"
"Raja ini dapat backing dari orang-orang kaya."
"Guru? Siapa backingnya?"
"Sang raja telah melakukan kebohongan." Dia tidak membawa bukti-bukti tapi ditunjuknya sungai yang tidak mengalir, sawah yang tidak menghijau, ternak mati, dan anak-anak kurus beringus.
Murid-muridnya terpecah. Percaya pada guru. Tidak percaya. Bingung. Diam.
Sang raja menaburkan senyumnya pada semua orang.
"Silakan percaya pada guru atau pada raja." Demikian para pengawal raja bersuara di setiap kesempatan. Rakyat terpecah. Percaya. Tidak. Bingung. Diam.
Di sebuah warung kopi orang-orang bicara.
"Raja ini pilihan kita semua."
"Guru siapa yang memilih?"
"Raja ini punya kuasa dunia."
"Guru dapat kuasa dari mana?"
"Raja ini dapat backing dari orang-orang kaya."
"Guru? Siapa backingnya?"
Tuesday, January 18, 2011
Suka?
"Ibu suka tidak kalau pergi-pergi seperti itu?"
Bernard berbaring di sebelahku. Tidak melihat tapi tangannya memegang pipiku. Kalau dia sudah serius kayak gitu aku harus mikir sebentar sebelum menjawab.
"Ehmm...pergi kemana?"
"Ya, seperti kemarin itu. Ke Jakarta, ke Bandung, Ambon..."
"Ehmm...ada sukanya, ada tidak sukanya."
Dia melotot ke aku menunggu penjelasan.
"Iyalah Nard. Suka karena bisa lihat tempat baru, kadang ada makanan baru, orang baru. Tidak sukanya karena capek. Jadi kangen sama Bernard juga."
Ehm...dia mengangguk-angguk, kemudian segera keluar dari kamar. Menutupnya. Aku sendirian di kamar sambil mikir,"Apa yang dia pikir sih?"
Bernard berbaring di sebelahku. Tidak melihat tapi tangannya memegang pipiku. Kalau dia sudah serius kayak gitu aku harus mikir sebentar sebelum menjawab.
"Ehmm...pergi kemana?"
"Ya, seperti kemarin itu. Ke Jakarta, ke Bandung, Ambon..."
"Ehmm...ada sukanya, ada tidak sukanya."
Dia melotot ke aku menunggu penjelasan.
"Iyalah Nard. Suka karena bisa lihat tempat baru, kadang ada makanan baru, orang baru. Tidak sukanya karena capek. Jadi kangen sama Bernard juga."
Ehm...dia mengangguk-angguk, kemudian segera keluar dari kamar. Menutupnya. Aku sendirian di kamar sambil mikir,"Apa yang dia pikir sih?"
Monday, January 17, 2011
Angin
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Sekali tadi pagi ketika aku berangkat ngantar si Bernard, terasa betul angin bisa membuat Mioku agak oleng. Selain juga membuat mata pedih karena debu dan sampah, yang terus menerus muncul walau hujan atau tidak hujan. Bahkan ketika di depan Pasar Koga aku harus melambatkan motor dengan agak mendadak karena tukang sapu jalan kesiangan (biasanya jam 7.30 mereka sudah tidak kelihatan, kok ini masih nyapu) harus meloncat ke tengah jalan karena sampah yang dia giring terbang ke tengah jalan. Nah.
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Sekali siang ini ketika aku sedang duduk di depan komputer, terasa betul angin bisa membuat hatiku agak oleng. Selain juga membuat mata pedih karena genangan air di sudut-sudutnya, terus menerus muncul walau musim berubah. Bahkan ketika aku sedang membuka inboxku, aku terpaksa meloncat mendadak karena tiba-tiba jantungku berdenyut lebih kencang membersihkan sumbatan di sana. Banyak sampah di ruas pembuluhku. Sepertinya begitu. Nah.
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Mungkin juga nanti malam... Nah.
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Sekali siang ini ketika aku sedang duduk di depan komputer, terasa betul angin bisa membuat hatiku agak oleng. Selain juga membuat mata pedih karena genangan air di sudut-sudutnya, terus menerus muncul walau musim berubah. Bahkan ketika aku sedang membuka inboxku, aku terpaksa meloncat mendadak karena tiba-tiba jantungku berdenyut lebih kencang membersihkan sumbatan di sana. Banyak sampah di ruas pembuluhku. Sepertinya begitu. Nah.
Sepertinya angin semakin kencang akhir-akhir ini. Mungkin juga nanti malam... Nah.
Saturday, January 15, 2011
Nasi Bambu
Saat ke Bandung, beberapa hari lalu, aku melewatkan beberapa waktu untuk makan. Iyalah, ke Bandung mah harus makan. (Sedang ke kota lain pun harus makan, bahkan gak kemana-mana juga harus makan. Ini ke Bandung, teman. Harus makan! Hehehe.)
Kebayang-bayang sambel lalap sudah sejak naik Argo Parahiyangan jam 9.15 dari Gambir. Bau sedap dari gerbong restorasi yang menawarkan nasi goreng, bistik dan rames tidak menyurutkan hasrat. Sarapan cukup dengan roti isi keju coklat.
Yang pertama didapat rupanya makanan yang aku belum pernah makan di Bandung. Yaitu : Nasi Bambu. Nasi ini dihidangkan dalam buluh bambu dilapisi daun pisang. Nasinya sendiri dimasak dengan beberapa bahan sehingga gurih. Namun rasanya ringan, tidak seperti uduk yang berat santannya. Kecampur bau daun dan bambu, wuih, sedapnya. Di bagian atas nasi ditaburi daun singkong tumbuk yang dimasak agak pedas. Samar-samar ada rasa ikan di sayur ini tapi aku gak yakin. Tambahan lauknya : tahu goreng, ayam goreng dan sambel trasi. Plus lalap dung. Tambah minum jus tomat. Mantap. Karena aku masih mau nongkrong di bilangan Kebon Kawung ini, aku menambah minum kopi pekat panas supaya bisa nyruput pelan-pelan sembari mencela-cela Bandung yang semakin ramai padat kacau jalan-jalannya.
(Makanan lain yang sempat kusantap dua hari di Bandung : nasi timbel, jerohan goreng, mi kuah, gorengan pinggir jalan, molen pisang.
Yang tidak sempat kumakan padahal pingin banget : ayam gantung di dekat Boromea, bubur ayam depan Cicaheum, dawet Elisabet, bebek goreng kremes, siomay kukus, roti bakar segala isi, sate kelinci, ... Kapan lagi ke Bandung lagi untuk semua yang belum itu.)
Kebayang-bayang sambel lalap sudah sejak naik Argo Parahiyangan jam 9.15 dari Gambir. Bau sedap dari gerbong restorasi yang menawarkan nasi goreng, bistik dan rames tidak menyurutkan hasrat. Sarapan cukup dengan roti isi keju coklat.
Yang pertama didapat rupanya makanan yang aku belum pernah makan di Bandung. Yaitu : Nasi Bambu. Nasi ini dihidangkan dalam buluh bambu dilapisi daun pisang. Nasinya sendiri dimasak dengan beberapa bahan sehingga gurih. Namun rasanya ringan, tidak seperti uduk yang berat santannya. Kecampur bau daun dan bambu, wuih, sedapnya. Di bagian atas nasi ditaburi daun singkong tumbuk yang dimasak agak pedas. Samar-samar ada rasa ikan di sayur ini tapi aku gak yakin. Tambahan lauknya : tahu goreng, ayam goreng dan sambel trasi. Plus lalap dung. Tambah minum jus tomat. Mantap. Karena aku masih mau nongkrong di bilangan Kebon Kawung ini, aku menambah minum kopi pekat panas supaya bisa nyruput pelan-pelan sembari mencela-cela Bandung yang semakin ramai padat kacau jalan-jalannya.
(Makanan lain yang sempat kusantap dua hari di Bandung : nasi timbel, jerohan goreng, mi kuah, gorengan pinggir jalan, molen pisang.
Yang tidak sempat kumakan padahal pingin banget : ayam gantung di dekat Boromea, bubur ayam depan Cicaheum, dawet Elisabet, bebek goreng kremes, siomay kukus, roti bakar segala isi, sate kelinci, ... Kapan lagi ke Bandung lagi untuk semua yang belum itu.)
Friday, January 07, 2011
Near
Aku dekat di sini. Mengaku dekat denganMu. Tapi tak bisa kupandang wajahMu. Dimanakah? (Aku sedang memohon karunia kesembuhan pada dua biji mataku supaya aku dapat melihatMu. Doakan.)
Tuesday, January 04, 2011
New Year
Tahun baru.
Aku mencatat beberapa lubang di tahun lalu.
Tahun ini :
Aku ingin menutup lubang-lubang itu.
Ini misiku tahun ini.
Aku mencatat beberapa lubang di tahun lalu.
Tahun ini :
Aku ingin menutup lubang-lubang itu.
Ini misiku tahun ini.
Friday, October 08, 2010
Long Jurney (6) Mataloko
Ini adalah perjalanan yang sudah dirancang dari tahun lalu. Tapi harusnya masih pertengahan Oktober nanti. Ada banyak alasan sehingga acara pendidikan promotor aktif tanpa kekerasan untuk Keuskupan Agung Ende ini dimajukan. Ya, apa dayaku? Aku juga tak punya alasan untuk tidak bisa karena aku punya banyak alasan untuk tetap pergi ke NTT ini. Tak mungkin kulewatkan. Jadi biar kata keringat airmata dan darah kan kulakukan untuk perjalanan ini. (hehehe...lebay nian.)
Lampung menuju Jakarta lalu Kupang. Di sini baru ketemu Rm. Dany, partner untuk menfasilitasi pelatihan. Semalam di Kupang untuk menunggu pesawat lanjutan ke Bajawa paginya menjadi kesempatan untuk membicarakan segala hal secara jasmani rohani dsb.
Pagi jam 6 sudah berangkat dari Hotel Bahtera Indah Kupang ke Bandara El Tari. Katanya sih penerbangan jam 8. Tapi delay lumayan lama dan tak bisa berkutik. Tak bisa berkutik lagi ketika lihat pesawat 'baling-baling bambu' yang sudah menunggu. Fokker 50 inilah yang akan membawa kami ke Bajawa. Syarat mutlak : penumpang lebih dari 10 orang, cuaca baik dan tidak ada pejabat daerah yang tiba-tiba harus naik pesawat hari ini. Jika syarat ini tidak terpenuhi, alamat penerbangan akan batal!
Tentu saja doa tak putus-putus dalam guncangan pesawat kecil ini. Hingga akhirnya tiba dengan selamat di Bajawa. Dari sana masih lanjut ke Mataloko, tempat acara. Mampir bentar untuk makan di Restoran Camelia. Sate babinya enak banget. Juga sup asparagus. Juga juice tomat wortel. Juga cah sawi. Juga ayam goreng. Hehehe...nikmat buanget. (n mahal banget!)
Mataloko yang dingin adalah hari-hari yang romantis. Eh, nggak ding. Kerja keras 5 hari memfasilitasi pelatihan. Bergantian dengan Rm. Dany tentu saja. Kalo tidak sudah semaput pasti.
Nah, jalan-jalan benerannya adalah hari terakhir setelah acara selesai. Tidur di Ndora, sempat ketemu Melky, teman lama. Lalu ke Bena, kampung tradisional. Foto-foto tentang Bena sudah aku post duluan (lihat di tulisan sebelumny). Lalu tidur semalam di Bajawa tempat keluarga Niko - Atik yang menyuguhkan tempe goreng! Makan pavorit ini muncul juga akhirnya. Jika tidak malu sudah kulahap semua-semuanya yang di piring. Tidak seenak tempe Malang atau bahkan Lampung, tapi tempe gitu loh...
Dan esoknya balik lewat Bandara Soa, tepat waktu. Penumpang penuh, cuaca cerah, dan aku barengan dengan pejabat daerah yang mengawal. Jadi pasti berangkat. Di El Tari Kupang sekitar 2 jam, ingin makan tapi males. Malah dapat kaos dan cemilan. Di Garuda baru makan sajian mereka. Mampir Denpasar dapat cemilan lagi. Di Jakarta, kena macet dan lanjut Lampung setelah semalam tidur di Jakarta.
Nah, utang cerita sudah kelar. Tunggu perjalanan berikutnya ya... (selesai. untuk kali ini.)
Long Jurney (5) Nuntius

Sembilan hari di Lampung setelah segala perjalanan itu ternyata masih dalam perjalanan juga. Perjalanan yang ngebut super cepat untuk mengerjakan Majalah Nuntius edisi Oktober. Ini tidak boleh selip sedikitpun karena tanggal 24 September jadwal perjalanan ke KA Ende sudah menanti. Aku harus sangat cermat mengatur segala hal dalam 9 hari saja. Satu haru sudah kepotong untuk tidur saja di rumah bersama anak-anak dan suami. Meluruskan yang bengkok. Membengkokkan yang lurus. Lalu urusan laporan-laporan. Ini tak mungkin tertunda karena akibatnya bisa buruk bagi kesehatan jiwa dan ragaku. Lalu edit Nuntius. Yang ternyata...olala, banyak sekali kurangnya. Jumlah tulisan kurang memadai. Kontak sana-sini dapat juga tulisan-tulisan. Empat hari di depan komputer, full! Bayangpun. Masing diganggu ini itu karena persiapan perjalanan ke NTT itu. Soal tiket, materi, dll.
Ini perjalanan yang hanya 15 km pp dari rumah - kantor. Tapi sungguh, capek!!!!!!!!!!! Seperti menghadapi tumpukan berserak batu-batu yang harus aku susun satu persatu jadi bangunan yang siap tersaji. Dengan dua tanganku dan pantatku. (Iya, soalnya bokong sampai panas duduk depan komputer. Hehehe...)
Long Jurney (4) Siem Reap - Phnom Penh - Kuala Lumpur - Jakarta - Surabaya - Jombang - Kediri - Salatiga - Bandung - Bandarlampung
Lalu perjalanan ke Kuala Lumpur yang tenang. Untung cuaca lumayan bagus tidak seperti saat kami datang yang hujang mendung. Rasa lapar di pesawat terobati dengan pop mie. Hehehe...ini menu yang paling murah di Air Asia. Cukup asyik juga makan mie seduh di pesawat. Untuk pertama kalinya.
Di Kuala Lumpur nunggu beberapa saat sebelum lanjut ke Jakarta. N tiba di Jakarta sudah tengah malam, jam 12-an. Pesawatku ke Surabaya karena aku mau nyusul anak-anak dan bapake yang sedang liburan lebaran di Jawa Timur. Dan itu baru pada pagi-pagi nanti. Terpaksa nglemprak di emper bandara Sukarno Hatta. Beberapa menit sempat tertidur. Tentu saja tidak seperti tidur beneran.
Jam 6.00 Batavia Air siap menuju Surabaya. Full penumpang. Kebanyakan orang-orang berseragam baru pulang umroh. Ohya, jangan lupa, tanggal ini masih hari raya Idul Fitri. Bapak Samiran sudah menunggu di Juanda, menjemput spesial anaknya ini. Rasanya lega sekali berada di pelukannya. Bisa manja-manja,"Lapar, cari makan, bapak." Sepiring nasi rawon plus ayam goreng. Hehehe...rakus pokoke. Lalu nyamil lagi alun-alun Jombang saat nunggu Mas Hendro dan Albert Bernard yang sedang dalam perjalanan dari Lumajang.
Di Kediri sudah siap ibu dengan sambel tumpangnya. Pokoke urusan pulang kampung adalah makan. (iya ta? gak juga. lihat fotoku dengan ibu. mirip ya?) Hanya semalam sehari di kota ini. Itu pun full dengan urusan tetek bengek tradisi lebaran. Ke makam, ke pak puh Nganjuk, ke sanak family, dan besoknya sudah jalan ke Salatiga. Dimana kami akan start kembali ke Lampung dengan Guntur.
Sempat nginep semalam di Hotel Kopo Bandung untuk melepaskan boyok yang peyok. N sempat jalan cari dawet Elizabeth di Otista sebelum lanjut lagi ke Lampung.
Nah, bayangkan ketika tiba di rumah kembali. Seperti mimpi.... (bersambung)
Long Jurney (3) Angkor Wat
Ke Kamboja gak ke Angkor Wat? Yang benar saja. Harus ke sana boo... Nih tempat sangat bersejarah bagi seluruh manusia di dunia. Hari sebelumnya, Sr. Denise, koordinator teknis kegiatan lokal Kamboja memberikan tawaran itu. Siapa yang mau ke Angkor Wat dan mau pergi jam berapa? Tentu dengan gegap semangat aku langsung angkat tangan tinggi-tinggi.
“I want go and sunrise!” ujarku tak banyak pikir. Aku mau lihat sunrise di Angkor Wat! Tidak bisa tidak!
Sangat pagi kami berangkat dari Mindol Metta Karuna. Tuk-tuk, kendaraan tradisional khas Kamboja sudah disediakan oleh Sr. Denise. Ini adalah kendaraan mirip kereta kuda tapi ditarik oleh sepeda motor. Kebanyakan memakai sepeda motor tua sehingga bunyinya meraung keras kadang meletup-letup,”Tuk, tuk, tuk…” Di telinga saya mirip itulah bunyinya.
Satu tuk-tuk hanya bisa diisi oleh 3 atau 4 orang saja. Saya bersama dengan David, peserta dan fasilitator dari New Zealand dan Linda, koordinator ACPP asal Philipina namun tinggal dan berkantor di Hongkong. Bertiga kami berada di satu tuk-tuk. Masih gelap, masih mengantuk namun penuh semangat dan gembira. Aku dengar senandung David, seperti lagu Row, Row, Row Your Boat tapi dia ganti syairnya jadi seperti Talk, talk, talk with your tuk-tuk-tuk... entahlah. Seperti itulah.
Tepat saat tiba di halaman Angkor Wat yang megah, matahari sedang proses naik ke angkasa yang cerah. Terbit dengan warnanya yang cemerlang keemasan. Aku menunjukkan tiket masuk candi dengan tak sabar pada petugas yang ada. Tiket yang dilengkapi dengan foto diri itu bisa dipakai sepanjang hari itu di seluruh lokasi percandian yang ada di Angkor. Iya, tiketnya bagus. Mbayarnya sih lumayan mahal, 20 USD. Setiap pengunjung berdiri di depan loket, difoto, lalu sebentar kemudian hasil print tiket siap.
“I want go and sunrise!” ujarku tak banyak pikir. Aku mau lihat sunrise di Angkor Wat! Tidak bisa tidak!
Sangat pagi kami berangkat dari Mindol Metta Karuna. Tuk-tuk, kendaraan tradisional khas Kamboja sudah disediakan oleh Sr. Denise. Ini adalah kendaraan mirip kereta kuda tapi ditarik oleh sepeda motor. Kebanyakan memakai sepeda motor tua sehingga bunyinya meraung keras kadang meletup-letup,”Tuk, tuk, tuk…” Di telinga saya mirip itulah bunyinya.
Satu tuk-tuk hanya bisa diisi oleh 3 atau 4 orang saja. Saya bersama dengan David, peserta dan fasilitator dari New Zealand dan Linda, koordinator ACPP asal Philipina namun tinggal dan berkantor di Hongkong. Bertiga kami berada di satu tuk-tuk. Masih gelap, masih mengantuk namun penuh semangat dan gembira. Aku dengar senandung David, seperti lagu Row, Row, Row Your Boat tapi dia ganti syairnya jadi seperti Talk, talk, talk with your tuk-tuk-tuk... entahlah. Seperti itulah.
Tepat saat tiba di halaman Angkor Wat yang megah, matahari sedang proses naik ke angkasa yang cerah. Terbit dengan warnanya yang cemerlang keemasan. Aku menunjukkan tiket masuk candi dengan tak sabar pada petugas yang ada. Tiket yang dilengkapi dengan foto diri itu bisa dipakai sepanjang hari itu di seluruh lokasi percandian yang ada di Angkor. Iya, tiketnya bagus. Mbayarnya sih lumayan mahal, 20 USD. Setiap pengunjung berdiri di depan loket, difoto, lalu sebentar kemudian hasil print tiket siap.
Surga! Ini adalah surga. Ini adalah lokasi percandian yang luar biasa. Saya langsung teringat Candi Borobudur yang megah di Jawa Tengah sana. Namun ada banyak detail yang membedakannya.
Angkor Wat adalah sebuah candi yang terletak di kota Angkor dan dianggap sebagai salah satu dari keajaiban dunia. Candi yang sangat luas ini dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke 12 dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya Angkor Wat dibangun dalam budaya Hindu namun kemudian dialihfungsikan menjadi kuil Budha dan dipelihara serta digunakan secara terus menerus ketika agama Budha menggantikan agama Hindu di Angkor pada abad ke-13.
Nama modern Angkor Wat, berarti "Kuil Kota". Sebelumnya nama asli candi ini adalah Preah Pisnulok atau Vishnuloka (tempat dewa Wishnu bersemayam), berdasarkan nama anumerta raja pembangunnya. Namun hingga kini nama Angkor Wat lebih dikenal di berbagai belahan dunia. Ada ribuan wisatawan datang ke tempat ini tiap harinya entah domestik maupun asing. Bahkan penulis sempat bertemu dengan serombongan turis dari Indonesia! Puluhan orang Indonesia dalam satu tour berkunjung ke Angkor Wat. Luar biasa!
Angkor Wat adalah sebuah candi yang terletak di kota Angkor dan dianggap sebagai salah satu dari keajaiban dunia. Candi yang sangat luas ini dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke 12 dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya Angkor Wat dibangun dalam budaya Hindu namun kemudian dialihfungsikan menjadi kuil Budha dan dipelihara serta digunakan secara terus menerus ketika agama Budha menggantikan agama Hindu di Angkor pada abad ke-13.
Nama modern Angkor Wat, berarti "Kuil Kota". Sebelumnya nama asli candi ini adalah Preah Pisnulok atau Vishnuloka (tempat dewa Wishnu bersemayam), berdasarkan nama anumerta raja pembangunnya. Namun hingga kini nama Angkor Wat lebih dikenal di berbagai belahan dunia. Ada ribuan wisatawan datang ke tempat ini tiap harinya entah domestik maupun asing. Bahkan penulis sempat bertemu dengan serombongan turis dari Indonesia! Puluhan orang Indonesia dalam satu tour berkunjung ke Angkor Wat. Luar biasa!
Berjalan di surga macam ini tak habis-habisnya. Aku ingin datang lagi ke sana. Mungkin bersama para kekasihku. Aku ingin mengajaknya duduk di pinggir kolam teratai dan melihat matahari hidup di angkasa sana. Hmmm... (bersambung)
Long Jurney (2) JPW Meeting for Asia Pasific
Meeting for Justice and Peace Workers. Itulah judulnya untuk mengumpulkan para pekerja keadilan dan perdamaian yang ada di negara-negara se Asia Pasific. Aku sangat beruntung bisa mewakili Indonesia, padahal belum benar-benar seperti pekerja keadilan perdamaian. ACPP yang ngadain. Asean Center for Progress of People yang ngantor di Hongkong.
Tahun ini pertemuan diadakan pada 5 – 11 Sepember 2010 di Kamboja diikuti lembaga-lembaga Katolik yang bergerak di bidang keadilan dan perdamaian dari 16 negara yaitu New Zealand, Australia, Cambodia, Bangladesh, Burma, Hongkong, India, Indonesia, Philipines, Malaysia, Pakistan, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Srilangka dan Tailand. Plus utusan dari Pontifical Council for Justice and Peace Vatikan.
Acaranya menarik. Hari pertama dan kedua kami keluyuran di seputar Phnom Penh. Lihat Killing Field, ngerasain Penjara S-21 yang kini jadi Musium Tuol Sleng. Lalu ke Bantey Priep dan akhirnya berayun di atas Sungai Mekhong.
Hari-hari berikutnya pertemuan dilanjutkan di Siem Reap, di sebuah rumah reflection center : Mindol Metta Karuna. Tempat yang luar biasa indah. Penuh makna di sekujur lahannya. Tak ada kata yang bisa melukiskannya secara lengkap. Tuh salah satu sudutnya ada di foto itu. Gak bisa diceritain kan?
Pertemuan di tempat luar biasa ini pun dirancang luar biasa. Mengolah hati, saling berbagi, diskusi kelompok, pleno, mendengar Bob, Megan, Tun Channareth, Song Kosal, dll. Mereka ini orang-orang yang kaya. (cek aja di internet siapa mereka. Kapan-kapan aku ceritain satu persatu, pasti kalian gak akan nyangka aku ketemu orang-orang seperti itu.)
Tema besar yang diangkat dalam pertemuan ini adalah Network-Building to Overcome Violence. Maka seluruh Kamboja yang pernah penuh dengan ranjau darat dan masa kekelaman dengan Pol Pot Khmer Merah sangat cocok untuk melihat tema ini secara konkret.
Bagiku sendiri, aku mengalami emosi yang sangat dinamis sepanjang kegiatan. Kadang ngeri, marah, sedih, tenang, gembira, putus asa, takut, penuh harapan, dan sebagainya. Tapi semua orang dalam pertemuan ini adalah orang-orang yang membantuku untuk dapat mengikuti seluruh prosesnya secara menyenangkan. Ada David dan Mapet yang membantu banyak bahasaku. Mereka berdua gak bisa bahasa Indonesia tapi mereka berdua siap menterjemahkan bahasa Inggris menjadi hal yang sederhana mudah dipahami. Ada Kosal, Sony, Vanawi, Cita, dll serombongan Cambodian yang rela hati jadi guide untuk segala hal di Kamboja. Bahkan ikut menawar jika aku ingin beli sesuatu. Lalu ada Sr. Denise, Linda, Wanyu dll panitia dari Hongkong dan setempat yang super memberi perhatian pada semua peserta. Lalu ada seluruh peserta yang menawarkan persahabatan bahkan hingga kini saat semua udah balik ke negara masing-masing. Selalu ada saja surat dari salah satu mereka di email. Lalu juga ada pengendara tuk-tuk, pedagang-pedagang. Aihhh, aku jadi ingat semua yang aku temui di Siem Reap ini. Salam untuk kalian semua di situ. Terimakasih banyak. *** (Bersambung)
Thursday, October 07, 2010
Long Jurney (1) Kamboja/Cambodia/Kampuchea
Nah, akhirnya bisa duduk agak tenang setelah dua perjalanan panjang yang aku lalui dalam sebulan terakhir ini. Perjalanan pertama adalah ke Kamboja dan kedua ke NTT.
Kali ini aku cerita dulu tentang perjalanan ke Kamboja.
Nah, tentu saja ini peristiwa mengagumkan yang pernah aku dapat. Kesempatan berkunjung ke Kamboja tidak bisa ditemui oleh banyak orang. Apalagi gratis segalanya (hehehe...). Tiket lengkap sudah di tangan, di tambah beberapa ratus dolar rapi di dompet. Aku pergi dengan Air Asia menuju Kuala Lumpur pada pagi 5 September. Tidak terlalu lama menunggu di Sukarno Hatta karena bangun yang pas, cukup untuk perjalanan sepagi itu. Pesawat pukul 6.30. Setelah urusan tetek bengek bagasi, imigrasi, aku duduk manis di bandara bersama Rm. Ronnie.
Air Asia cukup nyaman untuk perjalanan ini. Tapi lapar. Aku tidak menemukan makanan apapun yang cocok di menu yang ditawarkan mereka. (Sudah perut mual, lihat harganya mahal.) Tapi karena makan malam sudah tidak tersisa di perut, aku ambil sanwich besar isi daging asap dan teh botol.
Di Kuala Lumpur ada banyak waktu. Sekitar 4 jam menunggu sebelum terbang kembali ke Phnom Penh. Jadi bisa makan lagi. Kali ini makan di restoran bandara. Haaa, nyaris Indonesia. Makan kari ayam dengan kuah yang kental, plus acar timun dan wortel, ditutup puding vanila pandan. Minumnya juice banana yang diberi kucuran coklat dan susu. Nikmat... (Tuh kelihatan di foto)
Saat antri di loket cek in, eh malah ketemu Intan. Seorang Jawa yang sedang boyongan ke Phnom untuk ikut suaminya. "Ocean, kasih salam pada tante." Intan menyorongkan anak cantik bule di sebelahnya. "Suamiku orang Perancis, mengajar di Kamboja." Ooooo.... Mereka berdua jadi teman menyenangkan di perjalanan itu.
Phnom Penh, I'm coming!!! Aku malah disambutnya dengan hujan dan banjir. Ini bukan Jakarta to? Iya, mirip itulah saat hujan deras di hari pertama itu. Persis Jakarta atau Tanjungkarang. Macet dengan genangan air di mana-mana.
Malam itu tidur pulas di Golden Gate Hotel dengan harap-harap cemas akan esok hari. Untuk Justice and Peace Workers Meeting for Asia Pasific. Seperti apa ya? (Bersambung)
Wednesday, October 06, 2010
Traditional Village of Bena
Lihat bidadari-bidadarinya.
Lihat ibu dan tenunannya.
Kampung ini sudah tercemar.
Tapi menyisakan tradisinya.
Menyuguhkan indahnya.
Aku tenggelam di antara rumah dan batu-batunya.
(26 September - 3 Oktober 2010. Perjalanan panjang : Lampung, Jakarta, Surabaya, Kupang, Bajawa, Mataloko, Ndora, Bena, Bajawa, Kupang, Denpasar, Jakarta, Lampung)
Wednesday, September 22, 2010
Disappointed
Apa yang bisa dirasa ketika sesuatu yang biasa diandalkan harus pergi? Tidak ada yang salah dalam proses ini. Tidak ada masalah yang mengganjal aliran hidup ini. Kepergian adalah wajar. Ini adalah sarana untuk perkembangan banyak pihak. Bahkan mungkin demi perbaikan banyak dunia.
Tapi aku pun boleh menikmati kejujuran rasa. Aku kecewa. Sangat kecewa.
Tapi aku pun boleh menikmati kejujuran rasa. Aku kecewa. Sangat kecewa.
Saturday, September 18, 2010
From Paradise
Kau bisa bayangkan?
Phnom Penh, Siem Reap, Angkor Wat, mata biru, sayap malaikat, ....
Itulah souvenir-souvenir yang kubawa.
Surga...bagi duniaku, sekarang ini.
Ini menjadi bukti, bahwa ada banyak surga. Pasti juga nanti.
Tenang, akan kubagi padamu seluruh surga yang sudah ku dapat.
Tenang...
Thursday, August 26, 2010
Stone from Hard Rock
Kepalaku ketimpa batu. Keras dan berat. Aduh, moga tengkorak-tengkorakku masih mampu menahan benturan itu. Benturan yang cukup menggoncangkan otak dan cairan di dalamnya. Mungkin sempat tercecer. Muncrat. Rasanya, aduh!!! Gegar otak!
Aku harap kepalaku masih bekerja dengan jaringan-jaringan penghubung di antaranya. Kalau pun ada yang putus bolehlah satu atau dua saja, jangan terlalu banyak. Belum boleh tidur sekarang. Jadi...doakan aku.
Aku harap kepalaku masih bekerja dengan jaringan-jaringan penghubung di antaranya. Kalau pun ada yang putus bolehlah satu atau dua saja, jangan terlalu banyak. Belum boleh tidur sekarang. Jadi...doakan aku.
Wednesday, August 18, 2010
Mirror
Cermin di tikarku saat aku bangun ikut bangun. Panas suhu tubuhku menyentuh bayangan di dalamnya. Aku bisa rasa apa yang terjadi. Aku bisa cium bagaimana itu terjadi.
Bisakah kubantu bayangan lepas dari bebannya? Pun kemudian melepas bebanku juga? Menghancurkan cermin ini dan merengkuhnya? Akukah yang sedang bercermin? Atau akukah yang ada dalam cermin?
Aku yang nyata atau aku yang bayangan?
Sejauh ini, aku ingin berada dalam doa. Bersamamu, entah aku atau bukan, yang ada dalam cermin.
Tuesday, August 10, 2010
Sunday, July 11, 2010
Excessive
Satu hari yang berlebihan. Seorang perempuan, ditemani purnama, dikelilingi kuntum-kuntum sakura, dijeburkan dalam laut yang membiru. Basah kuyup tubuhnya, mencair seluruh matanya hingga habis. Larut dalam aroma asin gurih sebuah perhentian.
Sebotol cooler, sekantung coklat, biasanya cukup. Apalagi setelah mengembara di padang-padang mengikuti setapak yang berkelok berembun sepanjang hari yang tidak panas.
Kali ini berlebihan. Dijeburkan dalam laut yang membiru.
Lonjakan rasa diterima. Perempuan itu duduk di berandanya, menemui kekasih abadinya sembari memangku : buku, gambar wajahnya, dan selimut. Mengadu. Mengisak. Merasa. Selalu rasa ada pelukan. Hingga tidur. Dan kemudian mimpi yang mengambil alih. Dengan dendang terimakasih, terimakasih, terimakasih...
Sebotol cooler, sekantung coklat, biasanya cukup. Apalagi setelah mengembara di padang-padang mengikuti setapak yang berkelok berembun sepanjang hari yang tidak panas.
Kali ini berlebihan. Dijeburkan dalam laut yang membiru.
Lonjakan rasa diterima. Perempuan itu duduk di berandanya, menemui kekasih abadinya sembari memangku : buku, gambar wajahnya, dan selimut. Mengadu. Mengisak. Merasa. Selalu rasa ada pelukan. Hingga tidur. Dan kemudian mimpi yang mengambil alih. Dengan dendang terimakasih, terimakasih, terimakasih...
Wednesday, July 07, 2010
My Son's Nets

Anak-anakku mempunyai jaring-jaringnya sendiri. Dengan simpul-simpul yang mereka buat sendiri. Semakin lama semakin lebar, luas, panjang... Terbentang. Sesekali aku ikut dalam jaring-jaringnya. Sesekali aku ditali dalam simpul-simpulnya. Tapi banyak sering, aku hanya menonton, menikmati, mengkuatirkan mereka bermain dengan jaring-jaringnya. Aku tertawa menangis menahan nafas mengurut dada bangga...
Anak-anakku dengan jaring-jaringnya.
(Gambar diambil di Atlantis Ancol dalam liburan sekolah ini. Look at his face! Aku membusungkan dada. Anakku!)
Tuesday, June 29, 2010
Half of Arms
Setengah saja, membuatku tak bisa bernafas dan berpikir sehat. Jika kudapatkan sepenuhnya apa yang terjadi? Hidup atau mati?
Thursday, June 17, 2010
Freeze
Hari dengan tanggal ini pernah aku alami pada masa lampau.
Hari ini setelah semalam tidur dalam beku,
aku bangun dengan tiga lembar selimut,
menikmati kedinginan.
Begitu dinginnya hari ini
aku mengenang satu tanggal yang hangat
17 jam bersamamu
ingatan abadi.
Hari ini setelah semalam tidur dalam beku,
aku bangun dengan tiga lembar selimut,
menikmati kedinginan.
Begitu dinginnya hari ini
aku mengenang satu tanggal yang hangat
17 jam bersamamu
ingatan abadi.
Monday, June 14, 2010
Slap
Tamparan tidak selalu diberikan oleh tangan seseorang ke pipi kanan atau kiri. Tamparan bisa terjadi dari sebuah sapaan, tulisan bahkan senyuman. Bagaimana rasanya ditampar tanpa bisa mengelak atau membalas? Bagaimana rasanya merasa diri memang layak untuk ditampar?
Aku merasakan panas di permukaan pipiku. Dengan bekas telapak yang merah menempel di sana. Tak terhapuskan sampai hari ini berlalu.
Aku merasakan panas di permukaan pipiku. Dengan bekas telapak yang merah menempel di sana. Tak terhapuskan sampai hari ini berlalu.
Monday, June 07, 2010
Kembang Bungur
Beberapa hari terakhir aku sangat penasaran dengan otakku sendiri yang terus mengingat pohon bungur. Pohon ini adalah pohon kuat yang bisa berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Di hutan biasa disebut raksasa rimba karena batangnya bisa mencapai tinggi 45 m dengan diameter batang bisa lebih dari 1 m. Makanya, kayu pohon ini bisa dimanfaatkan untuk bahan membuat piranti yang butuh kuat seperti jembatan, bantalan rel, dinding lambung perahu, papan lantai, galah pedati, ruji roda dan sebagainya. Tanaman ini tidak termakan serangga dan tahan pengaruh cuaca. Katanya, seduhan kulit kayunya bisa dipakai untuk obat diare. Katanya.
Di Sumatera Selatan dan Lampung, tanaman ini sangat mudah ditemui. Salah satunya di ruas jalan jalur dua Way Halim. Konon, jika bungur berbunga itu menjadi tanda bagi para petani untuk siap menanam padi.
Spesial tentang bunganya. Aih, indah nian bunga ini. Warnanya ungu cerah dengan bentuk yang sangat manis berhias putik kuning. Jika dicium, ada harum yang lembut, tidak tajam. Itupun hidung harus ditempelkan di kelopak-kelopak bunganya. 
Agak susah menggapai bunga bungur karena tempatnya ada di ujung-ujung cabang. Namun kadang-kadang kita bisa temukan bunga itu di cabang-cabang yang rendah yang pasti bekas paprasan manusia yang iseng memangkas dahannya. Kalau kita temukan bunga seperti itu, hmmm....bersyukurlah karena kita bisa memegangnya, menciumnya, dan mengabadikannya dalam ingatan kita.
Tuesday, June 01, 2010
Spam
"Memang betul, mbak. Itu spam. Sudah aku usir dia."
"Apakah setiap spam harus diusir?"
"Lebih baik begitu."
"Jika aku ingin mempertahankan satu spam, bolehkah?"
Keningnya berkerut. "Spam akan sangat mengganggu, mbak. Bahkan bisa merusak bagian yang lain. Lebih baik dihilangkan."
Aku berkeras. "Untuk yang ini aku tidak bisa menghilangkannya." Lebih tepatnya, aku tidak mau menghilangkannya.
"Perlu dibantu?"
"Kau bisa?" Aku tidak yakin, karena spam yang ini ada dalam hatiku.
"Apakah setiap spam harus diusir?"
"Lebih baik begitu."
"Jika aku ingin mempertahankan satu spam, bolehkah?"
Keningnya berkerut. "Spam akan sangat mengganggu, mbak. Bahkan bisa merusak bagian yang lain. Lebih baik dihilangkan."
Aku berkeras. "Untuk yang ini aku tidak bisa menghilangkannya." Lebih tepatnya, aku tidak mau menghilangkannya.
"Perlu dibantu?"
"Kau bisa?" Aku tidak yakin, karena spam yang ini ada dalam hatiku.
Monday, May 24, 2010
Tuesday, May 18, 2010
Mind
Keluar rumah dengan pikiran : dimana ada adil dan damai?
Masuk rumah dengan pikiran : di sinilah!
Lalu berpikir : dimana rumah?
Di sinilah!
Masuk rumah dengan pikiran : di sinilah!
Lalu berpikir : dimana rumah?
Di sinilah!
Saturday, April 17, 2010
Circle
Berada dalam perputaran keperempuanan selalu memberikan rasa syukur. Walau mesti dirasakan dengan darah, ngilu, juga pedih mengingat para kekasih yang jauh tapi memberikan denyut di nadi terdekat.
Aku tetap bersyukur menjadi perempuan, yang berputar. Terus berada dalam perputaran.
Aku tetap bersyukur menjadi perempuan, yang berputar. Terus berada dalam perputaran.
Monday, March 29, 2010
Dream
Semalam aku mimpi sangat sangat panjang. Tidur sangat awal membuat mimpi lebih panjang, rupanya. Mimpiku kali ini sangat teratur dan mudah sekali diingat detailnya dari awal hingga akhir. Pun siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya, tokoh-tokohnya. Aku kira aku mudah mengingatnya karena mimpi ini juga merupakan pengulangan dari banyak mimpiku malam-malam sebelumnya. Dari berbulan-bulan yang silam. Mungkin benar dugaan selama ini bahwa mimpi adalah sebuah video rekaman dari keinginan/kejadian/ramalan/dll yang terpendam di bawah sadar.
Spesial untuk mimpiku yang ini, aku akan cerita detailnya dalam bentuk cerpen saja, tapi nanti ya. Bukan sekarang.
Spesial untuk mimpiku yang ini, aku akan cerita detailnya dalam bentuk cerpen saja, tapi nanti ya. Bukan sekarang.
Friday, March 26, 2010
Friend
Mungkin tidak makan bersama, tidak tidur bersama, tidak berjalan bersama. Bahkan tidak saling menatap, menyentuh, bercakap.
Tapi saat aku bisa memandangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan gembira.
Tapi saat aku bisa memegangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rindu.
Tapi saat aku bisa menyapamu, aku hanya bisa melakukannya dengan tersenyum.
Tidak ada pilihan sikap lain.
Pun ketika mengenangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rasa syukur, bahwa engkau adalah temanku.
Tapi saat aku bisa memandangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan gembira.
Tapi saat aku bisa memegangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rindu.
Tapi saat aku bisa menyapamu, aku hanya bisa melakukannya dengan tersenyum.
Tidak ada pilihan sikap lain.
Pun ketika mengenangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rasa syukur, bahwa engkau adalah temanku.
Thursday, March 25, 2010
Mother Love
Mencintai hingga sakit? Aku tetap sakit. Dan aku tetap cinta. Mau apa?
Hanya aku ingin mengubahnya. Cinta yang tidak menyakitimu.
Hanya aku ingin mengubahnya. Cinta yang tidak menyakitimu.
Wednesday, March 24, 2010
Wink
Aku berdiri jangkung di depannya dengan sangat malu.
"Ini bukan soal teman-temannya, guru-gurunya dan sebagainya. Bahkan juga bukan soal Albert. Ini adalah tentang dirimu. Lihatlah dirimu sendiri."
Ya, seperti itulah. Aku akan cari jawabnya.
"Tidak untukku atau untuk orang lain. Tapi untuk dirimu sendiri. Maaf ya."
Ya.
"Ini bukan soal teman-temannya, guru-gurunya dan sebagainya. Bahkan juga bukan soal Albert. Ini adalah tentang dirimu. Lihatlah dirimu sendiri."
Ya, seperti itulah. Aku akan cari jawabnya.
"Tidak untukku atau untuk orang lain. Tapi untuk dirimu sendiri. Maaf ya."
Ya.
Monday, March 22, 2010
Like My Son
"Hanya karena hal sepele, matanya pasti meleleh. Waktu pindah kelas itu, sandalnya nyelip entah bagaimana, ketukar ke kelas yang lain. Aduh, mam, air matanya itu... Mbok dicari dulu, wong teman-temannya saja mau bantu kok."
"Memang begitu, bu?"
"Iya, lalu waktu berenang itu. Celananya dipakai oleh Davin. Celana Davin masuk ke tasnya sendiri. Nah, belum apa-apa sudah air mata dulu. Tanpa suara. Tapi begitu ketemu, ya sudah, nyengenges dia. Senyum lebar."
"Dia memang sensitif, bu."
"Iya, memang, mam."
"Aku kira seperti ibunya."
"Hahaha...cocok."
(Aku pun terbawa ke masa kanak-kanakku. Seperti anak laki-lakiku ini. Tidak ada yang salah.)
"Memang begitu, bu?"
"Iya, lalu waktu berenang itu. Celananya dipakai oleh Davin. Celana Davin masuk ke tasnya sendiri. Nah, belum apa-apa sudah air mata dulu. Tanpa suara. Tapi begitu ketemu, ya sudah, nyengenges dia. Senyum lebar."
"Dia memang sensitif, bu."
"Iya, memang, mam."
"Aku kira seperti ibunya."
"Hahaha...cocok."
(Aku pun terbawa ke masa kanak-kanakku. Seperti anak laki-lakiku ini. Tidak ada yang salah.)
Friday, March 19, 2010
Belajar Berpisah
Kehilangan orang dekat karena kematian sungguh menorehkan beribu perasaan yang tak dapat terlukiskan. Satu pembelajaran lagi dari peristiwa kematian adalah bagaimana aku bisa belajar untuk berpisah. Perpisahan harus diolah supaya tidak sekedar menjadi perpisahan. Belajar berpisah.
Saturday, January 16, 2010
Awal Tahun yang Terlambat
Biasanya pada awal tahun aku membuat misi khusus sepanjang satu tahun. Tahun 2010 ini aku mempunyai misi : menjadi serius. Aku hanya mau serius pada apa yang sudah aku kerjakan. Sudah jadi kulinya Majalah Nuntius ya kuli yang serius. Jadi pekerjanya bagian JP ya serius jadi pejuang keadilan dan perdamaian. Sudah jadi istri dan ibu yang serius jadi istri dan ibu. Sudah jadi bagian pada titik-titik pertemanan, ya serius jadi teman yang baik bagi mereka itu. Sudah kadung cinta pada puisi dan cerpen ya serius pada puisi dan cerpen. Sudah terlanjur cinta dengan banyak kekasih ya aku akan serius mencinta. Pokoknya tahun 2010 ini akan jadi tahun yang serius buatku. Dukung aku ya teman-teman...
Monday, November 23, 2009
Wednesday, November 18, 2009
Tolol
Aku adalah orang tolol. Yang tersenyum pada tembok yang berjalan ke arahku, siap untuk aku tabrak. Sungguh telah aku tabrak dan aku belum sadar juga bahwa tembok itu penuh dengan paku, melukaiku. Aku tidak sadar bahwa tubuhku sudah berdarah saat aku menyentuk tembok itu bukan hanya saat sekarang ini ketika aku terjepit di antaranya. Yah, tolol sungguh aku yang mengira bahwa aku memegang cermin dengan bayangan di belakang saja. Tidak, aku sungguh-sungguh dihancurkan oleh tembok berpaku yang saat ini menjepitku.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.
Tuesday, November 17, 2009
Umbrella
Aku punya payung yang dengan sangat terpaksa aku kembangkan. Ini karena hujan yang bertubi. Ah, ya teman, betul katamu, aku adalah penyuka hujan. Ah bahkan lebih dari itu, aku cinta hujan. Tapi ternyata aku butuh payung jika hujan-hujan mulai menyakitiku. Yah, aku perlu payung yang mengembang. Melindungi dari sakit karena hujan yang bertubi.
Thursday, November 12, 2009
Apa mauku?
Setelah ribut sibuk menyebutkan sekalian keinginan yang berhamburan di pikiranku aku terdiam oleh pertanyaan :"Lalu, apa maumu?"
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.
(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.
(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)
Friday, November 06, 2009
Kehujanan
Semalam aku kehujanan. Aku menggigil di depan anugerah besar. Menangkupkan tangan erat-erat di badanku, mencoba mencari kehangatan dari tanganku sendiri. Beberapa tetes di pipiku sebagian masuk ke bibirku. Mengingatkanku bahwa aku sangat haus. Aku ingat ada botol air minum di tasku, tapi ternyata tak ada lagi isinya.
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."
Thursday, October 29, 2009
Ketinggalan Jaman
Kemarin saat pulang dari menjemput Albert, sudah remang menjelang magrib, di belokan jalan masuk perumahan, seorang bapak mengangguk, tersenyum dan membunyikan klakson. Aku membalas sapaan itu. Kemudian Albert bertanya.
"Ibu tahu itu tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Yang baru saja ngebel itu."
"Nggak. Memang siapa, Bert? Albert kenal?"
"Itu kan Bapaknya Putu. Yang rumahnya samping Robi. Masa ibu gak tahu sih?"
"Oh, itu... Kok ibu gak pernah lihat?"
"Ibu sih tidak pernah keluar rumah."
"Masa sih Bert. Ibu kan keluar rumah terus."
"Iya, tapi ibu gak pernah main dengan ibu-ibu itu. Ibunya Afif, Pandu, Robi dan lain-lain kan sering main bareng di luar rumah."
"Memang ibu-ibu main apaan?"
"Bukan, bu. Ibu ini gak ngerti lo. Duduk-duduk bareng, ngobrol,...jadi gak ketinggalan jaman. Masa bapaknya Putu aja gak kenal."
"Lah ibu kapan bisa begitu. Kalau sore pulang jemput Albert gini pasti udah capek, dan ibu gak lihat ada ibu-ibu di luar rumah."
"Ya gak sore-sore. Siang atau pagi."
"Memang para ibu suka ngomong apa, Bert?"
"Macem-macem, bu. Tentang...alat makan, alat minum atau apa gitu. Albert sering denger kalau lagi main di dekat-dekat mereka. Ah, ibu ini ketinggalan jaman deh."
Aku gak tahu harus mikir apa. Tapi percakapan dengan Albert ini cukup mengusikku. Dia sendiri anak yang sangat memasyarakat. Sampai radius berapa kilometer, masih ada juga yang menyapa dan meneriakkan namanya. Aku sampai heran juga bagaimana mungkin Albert dikenal oleh orang-orang di luar perumahan, di blok lain dan sebagainya.
"Aku pernah dibantu cari kepiting sama mereka." Astaga, tentu saja aku melotot mendengar jawaban itu saat aku tanya kok gerombolan remaja usia SMA bisa meneriakkan nama Albert saat dia aku boncengin di blok E. Jarak yang lumayan jauh dari rumah. Keberanian Albert sering menguatirkanku. Tapi aku juga tidak ingin mengekangnya.
Alhasil, kalau mencariku di kompleks perumahan tempat aku tinggal, tidak mungkin dikenal jika sebut namaku. Sebut saja : Mama Albert atau Ibu Albert. Mereka akan paham dimana rumah yang harus didatangi.
Thursday, October 22, 2009
Ibu
Ini bukan foto baru. Diambil saat hari-hari pertama si kecil masuk sekolah, entah hari yang ke berapa. Aku mesti membantunya mengenakan baju, kaos kaki, sepatu, menyiapkan bekalnya dan kemudian mengantarnya ke sekolah. Menunggunya di gerbang hingga menghilang di deretan bangungan sekolah, setelah mencium pipi, bibir dan kening, tak lupa berkat di dahi. Ah juga setelah tepuk khusus yang hanya kami yang tahu. (Tos, jempol, kelingking, dan adu bogem. Hehehe...jika mau praktek, datanglah. Dan kemudian salaman kencang yang ditutup jabat erat gaya pejuang. "Selamat berjuang, jadi anak baik ya." Kadang,"Selamat berjuang jadi anak pintar!" Atau kata lain,"Selamat berjuang...")
Hal yang sama aku lakukan untuk si besar hingga kelas 2. Saat kelas 3 dia sudah mandiri karena sekolahnya siang, dan aku tidak bisa antar. Gantian, pulangnya yang bareng aku.
Tiap pagi, itulah upacara ibadatku. Sampai sekarang.
Ada hari-hari tertentu dimana aku tidak bisa melakukan hal itu. Jika aku tidak ada di rumah. Mereka bisa melakukan sendiri beberapa hal, atau dibantu Wawak.
Melakukannya, membuatku jadi ibu. Bukan hanya rahimku, tapi juga tanganku, mataku, mulutku, kakiku, tubuhku, hatiku...
Ya, aku seorang ibu. Aku tidak akan melupakannya. Walau mungkin aku juga menjadi seseorang yang lain saat bertemu dengan orang lain.
Ibu. Aku seorang ibu. Aku akan terus mengingatnya.
Friday, October 16, 2009
Never
Menahan diri pada 'never'. Tidak mungkin. Karena memang aku pernah merasakan gelitiknya di ujung-ujung rambutku. Dan aku menyukainya. Tidak mungkin.
Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.
Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.
Thursday, September 17, 2009
Pelukan Abadi
Aku sedang mempertahankan sebuah pelukan menjadi abadi. Erat aku cengkeram lengan-lengannya supaya jangan longgar dari jiwaku. Kukempiskan tubuhku sehingga tetap dalam rangkumannya. Aku menangis dalam pertahanan ini karena cengkeraman tanganku melukai dadaku. Mengempiskan tubuh sendiri sama juga menyakiti hati sendiri.
Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."
Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."
Wednesday, August 26, 2009
Mati
Pipit biasanya berwarna coklat kekuningan agak hitam. Yang satu ini, pernah hidup di belakang rumah di bawah rentengan anggur, punya warna hijau. Bukan karena lahir unik, tapi karena diwarnai, dipaksa berwarna hijau. Pagi tadi pipit tidak alami itu mati. Terjerembab di sangkarnya, dikerubuti semut merah. Mati, teronggok begitu saja. Mati.
(Tidak seorang pun berniat menguburnya. Cukup undang semut merah lebih banyak biar menggerogotinya lebih cepat tanpa sempat berbau.)
(Tidak seorang pun berniat menguburnya. Cukup undang semut merah lebih banyak biar menggerogotinya lebih cepat tanpa sempat berbau.)
Thursday, July 30, 2009
Kamboja
Aku mencium kamboja di ketinggian. Tan tidak mau menyebutnya kematian.
"Keindahan nostalgia itu abadi. Tidak mungkin dikubur begitu saja. Maka, saya akan ke Lampung kembali. Untuk melihat apakah ada yang masih bisa disegarkan dari sana."
Aku mengangguk. Lalu kami berjalan menyusuri pemakaman itu. Mengorek beberapa nisan yang baru ditancapkan. Rumput yang tumbuh di sekitarnya memberi kesejukan dangkal yang segera dilengkapi dengan rimbun pinus. Beribu pinus.
"Aku tahu selalu ada kegelisahan. Sebelum, saat dan sesudah perjumpaan. Toh, tidak ada yang perlu dikuatirkan bukan?"
Aku setuju pendapatnya. Tan menghadiahi aku kamboja, untuk aku bawa pulang. Kamboja yang bisa setiap saat aku cium kapanpun aku ingin.
"Keindahan nostalgia itu abadi. Tidak mungkin dikubur begitu saja. Maka, saya akan ke Lampung kembali. Untuk melihat apakah ada yang masih bisa disegarkan dari sana."
Aku mengangguk. Lalu kami berjalan menyusuri pemakaman itu. Mengorek beberapa nisan yang baru ditancapkan. Rumput yang tumbuh di sekitarnya memberi kesejukan dangkal yang segera dilengkapi dengan rimbun pinus. Beribu pinus.
"Aku tahu selalu ada kegelisahan. Sebelum, saat dan sesudah perjumpaan. Toh, tidak ada yang perlu dikuatirkan bukan?"
Aku setuju pendapatnya. Tan menghadiahi aku kamboja, untuk aku bawa pulang. Kamboja yang bisa setiap saat aku cium kapanpun aku ingin.
Wednesday, July 01, 2009
Rindu Pada Aku
Aku rindu pada embun
rindu pada hujan
rindu pada pelangi
rindu pada matahari
Aku rindu pada cemara
aku rindu pada malam
aku rindu pada pagi
aku rindu pada laki-laki
Aku rindu pada perempuan
rindu pada aku
(Aku sedang rindu, ingin bercinta denganmu, siapa saja yang pernah mesra denganku.
Berjuta kekasihku, kembangkan sayap-sayapmu, dan kembali padaku.
Penuhi aku yang sedang rindu pada aku.)
rindu pada hujan
rindu pada pelangi
rindu pada matahari
Aku rindu pada cemara
aku rindu pada malam
aku rindu pada pagi
aku rindu pada laki-laki
Aku rindu pada perempuan
rindu pada aku
(Aku sedang rindu, ingin bercinta denganmu, siapa saja yang pernah mesra denganku.
Berjuta kekasihku, kembangkan sayap-sayapmu, dan kembali padaku.
Penuhi aku yang sedang rindu pada aku.)
Cerpen Pertama Tahun Ini
"Selamat! Cerpennya di suara karya 27 juni. Aku bru liat. Mantaapp.."
Gitu SMS Arman AZ semalam (22.23 wib). Nah, aku sendiri belum lihat.
Itu cerpen pertama yang dimuat media pada tahun ini. Jauh dari target dan sungguh tidak produktif. (Jika tahun lalu ada dua cerpen dimuat di harian nasional, satu cerpen mini jadi nominator DKL, tahun ini mesti tiga paling tidak yang bisa dibaca umum. Dan ini sudah tinggal 6 bulan, belum apa-apa.)
Sebelum Pulang, dimuat Suara Karya, Sabtu 27 Juni 2009! Ini cerpen yang lahir dari proses yang panjang. Aku kira telur dan spermanya sudah ada sangat lama dalam tabung masing-masing. Nah, penetrasinya terjadi saat ikut bengkel cerpen Dewan Kesenian Lampung bersama Yanusa Nugroho pada Desember 2007. Sepercik sperma, berhasil membuahi hingga jadi janin mini sehalaman. Penghidupan pesat pada Januari 2008, dalam rahim hingga sakit, mabuk, membunting besar, dan pakai operasi caesar yang rumit, hingga kemudian lahir jadi orok tua yang tidak langsung menangis. Nunggu setahun setengah baru cenger.
Jika mau tilik, lihat saja di Suara Karya Online, atau silakan browsing, pasti anak cucunya sudah ada.
Gitu SMS Arman AZ semalam (22.23 wib). Nah, aku sendiri belum lihat.
Itu cerpen pertama yang dimuat media pada tahun ini. Jauh dari target dan sungguh tidak produktif. (Jika tahun lalu ada dua cerpen dimuat di harian nasional, satu cerpen mini jadi nominator DKL, tahun ini mesti tiga paling tidak yang bisa dibaca umum. Dan ini sudah tinggal 6 bulan, belum apa-apa.)
Sebelum Pulang, dimuat Suara Karya, Sabtu 27 Juni 2009! Ini cerpen yang lahir dari proses yang panjang. Aku kira telur dan spermanya sudah ada sangat lama dalam tabung masing-masing. Nah, penetrasinya terjadi saat ikut bengkel cerpen Dewan Kesenian Lampung bersama Yanusa Nugroho pada Desember 2007. Sepercik sperma, berhasil membuahi hingga jadi janin mini sehalaman. Penghidupan pesat pada Januari 2008, dalam rahim hingga sakit, mabuk, membunting besar, dan pakai operasi caesar yang rumit, hingga kemudian lahir jadi orok tua yang tidak langsung menangis. Nunggu setahun setengah baru cenger.
Jika mau tilik, lihat saja di Suara Karya Online, atau silakan browsing, pasti anak cucunya sudah ada.
Wednesday, June 17, 2009
Malam Menyata
Pernah malam mewujud menjadi gumpalan benda padat yang bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Tentu saja aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi keegoisan yang sudah mengaumkan hasrat. Aku menikamnya hingga tidak lagi berjalan, dan memaksanya berbaring telanjang. Angin masuk lewat pori-porinya hingga badannya membengkak. Aku memakainya menjadi tilam mimpi dan menindih memaksanya tetap diam. Jangan berlalu.
Tapi tidak berdaya.
Malam punya kekuatannya sendiri yang justru pada maya. Tidak bisa dipaksa kekal karena seberkas cahaya pun membuatnya mencair dan kemudian menyublim lenyap tak lagi bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Justru karena tidak nyata, maka aku menyebutnya malam. Justru karena kemayaannya maka malam dapat memelihara dunia.
Semoga tetap menjadi malam, yang maya.
Malam menyata, cukup.
Tapi tidak berdaya.
Malam punya kekuatannya sendiri yang justru pada maya. Tidak bisa dipaksa kekal karena seberkas cahaya pun membuatnya mencair dan kemudian menyublim lenyap tak lagi bisa dipegang, disentuh, dicium, diraba, dipeluk. Justru karena tidak nyata, maka aku menyebutnya malam. Justru karena kemayaannya maka malam dapat memelihara dunia.
Semoga tetap menjadi malam, yang maya.
Malam menyata, cukup.
Friday, June 12, 2009
Jatuh Cinta Lagi Pada Letto

Sampai nanti sampai mati
kalau kau pernah takut mati, sama
kalau kau pernah patah hati, aku juga iya
dan seringkali sial datang dan pergi
tanpa permisi kepadamu
suasana hati tak perduli
kalau kau kejar mimpimu, kau slalu
kalau kau ingin berhenti ingat dimulai lagi
tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati
kadang memang cinta yang terbagi
kadang memang
seringkali mimpi tak terpenuhi
seringkali
tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti
tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti sampai mati
sampai mati
Tuesday, June 09, 2009
Brown and Browny
Tanggal 8 Juni 2001, delapan tahun yang lalu aku melahirkan Albert. Pengalaman pertama yang excited bagi ibu muda seperti aku. Dia lahir dalam suasana sangat sibuk karena aku sedang dalam proyek pembuatan buku. Di puncak klimaks kesibukan. Aku ingat dengan perut membuncit masih memelototi komputer 6 - 7 jam tiap hari. Mengkoreksi setumpuk naskah, pontang-panting pinjem printer berwarna dan menggarap foto-foto. Untungnya aku 'ngebo', tidak pake ngidam, mabuk, muntah dll. Pokoke tak terasa susah. Cuma mungkin kurang gizi, kebanyakan pikiran, dalam masa kehamilan itu dua kali aku pingsan, hah memalukan pokoknya. Perut sangat besar dan digotong entah siapa dan berapa orang.
Saat proses melahirkan sangat mendebarkan, menyeramkan. Dan laammmaaaa...lebih dari yang dijadwalkan. Selain umur janin sudah lebih dari waktunya (sudah diancam Dr. Idris kalau seminggu lagi gak keluar akan dioperasi) juga saat melahirkannya, bayinya nyantol, hehehe...tidak mau keluar. Aku kurang tenaga, kurang energi.
"Ngantuk, suster. Aku mau tidur." Gitu aku bilang beberapa di sela-sela proses melahirkan. Rasanya capek, ngantuk, malas, hanya ingin tidur. Hasilnya aku digebukin eh ditamparin dicubitin para suster, dibikinin teh dan diinfus. Diteriakin beramai-ramai gak boleh tidur. "Kalau kamu tidur tadi pasti gak bangun lagi," gitu kata suster Irma. "Kamu ini pasti gak pernah kerja pas hamil." Tentu saja aku protes, la kemarin aja aku masih ngantor. "Maksudnya bergerak, tidak kerja duduk saja." Ooo, ya memang.
Albert adalah bayi paling cantik sedunia. Kulitnya bersih putih, berat 3,35 kg dan panjang 49 cim. Kepalanya panjang akibat aku berhenti mengejan, tapi pulih setelah 24 jam tanpa diangkat. Aku tertawa berlinangan air mata saat badannya yang mungil ditaruh diatas dadaku sembari dipotong tali pusarnya. Segala sakit hilang blas.
Nah, bayi cantik itu sekarang sudah 8 tahun.
"Aku 9 tahun, ibu. Tidak mungkin sebesar aku masih 8 tahun. Teman-temanku saja yang kecil sudah 9 tahun." Sepanjang hari kami berdebat soal itu sampai akhirnya aku menyerah. Ya sudah, selamat ulang tahun ke 9. Tapi buktikan kalau memang sudah sebesar itu. Gak papa umur 9 tahun berlaku untuk 2 tahun.
Brown dan Browny? Ohya, hampir lupa. Mereka berdua adalah kado ultah untuk Albert. Sepasang burung merpati. Anakku ini memang...entahlah, yang diminta selalu yang aneh-aneh. Tahun lalu minta ayam,"Gak usah dirayain, bu. Uangnya untuk beli ayam saja, dipelihara." Tahun ini dia minta sepasang merpati yang bisa di'klepek'. Sesorean aku dan dia keliling Bandarlampung mencari merpati. Dapat di pojok Pasar Bawah dengan harga 85 ribu sepasang, berwarna coklat, kehitaman. Dia beri nama Brown dan Browny.
Saat proses melahirkan sangat mendebarkan, menyeramkan. Dan laammmaaaa...lebih dari yang dijadwalkan. Selain umur janin sudah lebih dari waktunya (sudah diancam Dr. Idris kalau seminggu lagi gak keluar akan dioperasi) juga saat melahirkannya, bayinya nyantol, hehehe...tidak mau keluar. Aku kurang tenaga, kurang energi.
"Ngantuk, suster. Aku mau tidur." Gitu aku bilang beberapa di sela-sela proses melahirkan. Rasanya capek, ngantuk, malas, hanya ingin tidur. Hasilnya aku digebukin eh ditamparin dicubitin para suster, dibikinin teh dan diinfus. Diteriakin beramai-ramai gak boleh tidur. "Kalau kamu tidur tadi pasti gak bangun lagi," gitu kata suster Irma. "Kamu ini pasti gak pernah kerja pas hamil." Tentu saja aku protes, la kemarin aja aku masih ngantor. "Maksudnya bergerak, tidak kerja duduk saja." Ooo, ya memang.
Albert adalah bayi paling cantik sedunia. Kulitnya bersih putih, berat 3,35 kg dan panjang 49 cim. Kepalanya panjang akibat aku berhenti mengejan, tapi pulih setelah 24 jam tanpa diangkat. Aku tertawa berlinangan air mata saat badannya yang mungil ditaruh diatas dadaku sembari dipotong tali pusarnya. Segala sakit hilang blas.
Nah, bayi cantik itu sekarang sudah 8 tahun.
"Aku 9 tahun, ibu. Tidak mungkin sebesar aku masih 8 tahun. Teman-temanku saja yang kecil sudah 9 tahun." Sepanjang hari kami berdebat soal itu sampai akhirnya aku menyerah. Ya sudah, selamat ulang tahun ke 9. Tapi buktikan kalau memang sudah sebesar itu. Gak papa umur 9 tahun berlaku untuk 2 tahun.
Brown dan Browny? Ohya, hampir lupa. Mereka berdua adalah kado ultah untuk Albert. Sepasang burung merpati. Anakku ini memang...entahlah, yang diminta selalu yang aneh-aneh. Tahun lalu minta ayam,"Gak usah dirayain, bu. Uangnya untuk beli ayam saja, dipelihara." Tahun ini dia minta sepasang merpati yang bisa di'klepek'. Sesorean aku dan dia keliling Bandarlampung mencari merpati. Dapat di pojok Pasar Bawah dengan harga 85 ribu sepasang, berwarna coklat, kehitaman. Dia beri nama Brown dan Browny.
Thursday, June 04, 2009
Panggung Pertunjukan
Aku ingat dari kecil aku suka melihat pertunjukan. Di lapangan dekat rumah Kediri, setiap ada ludruk atau ketoprak pasti aku akan merengek minta nonton. Apalagi kalau yang main Wijayakusuma, Siswobudoyo, Kartolo dll. Harus minimal satu atau dua kali nonton. Tidak bisa tiap hari, karena harus belajar, jatah duit terbatas, gak ada yang bisa menemani dan berbagai alasan dari bapak ibu. Maka bapak dan ibu akan memilihkan kira-kira hari apa bisa menonton bersama. Judul yang mana yang akan main seperti Jaka Tarub, Anglingdarma, Sam Pek - Ing Tay, Lutung Kasarung, Tuyul dan Mbak Yul eh bukan ya...
Nah intinya aku akan terpesona berat memandang panggung pertunjukan. Aku suka yang terang gemerlap bercahaya. Jadi ingat kalau bapak ibu sering cerita kalau aku suka melihat pelaminan kalau diajak kondangan pernikahan. Ada fotoku usia 2 atau 3 tahun digendong bapak yang membuktikan cerita itu. Dalam gendongan bapak, dengan mata sembabku habis nangis karena kata ibu sebenarnya mereka malu mengantar aku dekat pelaminan yang didatangi ratusan tamu apalagi tamu terhormat, namun berbinar melihat yang gemerlap. Karena aku maksa nangis gak berhenti-henti maka bapak menggendong aku untuk maju dekat pelaminan melihat janur, bunga, lampu dll, dan seorang teman bapak mengabadikan peristiwa itu.
Hingga remaja saat aku yang introvert pendiam, pun bisa terpana berjam-jam melihat panggung gemerlap. Ludruk dan ketoprak sudah semakin jarang, tapi ada panggung-panggung lain. Semakin banyak jenisnya dengan bertambahnya usia dan pengalamanku.
Saat ini pun aku masih suka melihat panggung pertunjukan. Tempat yang lampunya kelap-kelip kadang menyala kadang gelap dengan frekwensi dan jeda yang tidak tentu. Dengan benda-benda penghias di situ dan juga orang-orang yang bergerak kesana kemari dengan irama dan suara yang sudah ditata. Sesekali terwakili pada film-film, drama, teater, konser dsb.
Ada satu panggung yang sekarang ini sedang aku lihat. Panggung kelabu tak ketahuan warnanya karena cahaya sedang diredupkan. Beberapa benda mati kaku gagu di beberapa sudut. Dan tokoh yang di tengah panggung adalah...diriku sendiri. Hilir mudik memenuhi panggung dengan segala suara. Dan satu-satunya penonton adalah...diriku sendiri. Duduk terpaku diam menahan kecewa karena sangat buruknya pertunjukan.
Nah intinya aku akan terpesona berat memandang panggung pertunjukan. Aku suka yang terang gemerlap bercahaya. Jadi ingat kalau bapak ibu sering cerita kalau aku suka melihat pelaminan kalau diajak kondangan pernikahan. Ada fotoku usia 2 atau 3 tahun digendong bapak yang membuktikan cerita itu. Dalam gendongan bapak, dengan mata sembabku habis nangis karena kata ibu sebenarnya mereka malu mengantar aku dekat pelaminan yang didatangi ratusan tamu apalagi tamu terhormat, namun berbinar melihat yang gemerlap. Karena aku maksa nangis gak berhenti-henti maka bapak menggendong aku untuk maju dekat pelaminan melihat janur, bunga, lampu dll, dan seorang teman bapak mengabadikan peristiwa itu.
Hingga remaja saat aku yang introvert pendiam, pun bisa terpana berjam-jam melihat panggung gemerlap. Ludruk dan ketoprak sudah semakin jarang, tapi ada panggung-panggung lain. Semakin banyak jenisnya dengan bertambahnya usia dan pengalamanku.
Saat ini pun aku masih suka melihat panggung pertunjukan. Tempat yang lampunya kelap-kelip kadang menyala kadang gelap dengan frekwensi dan jeda yang tidak tentu. Dengan benda-benda penghias di situ dan juga orang-orang yang bergerak kesana kemari dengan irama dan suara yang sudah ditata. Sesekali terwakili pada film-film, drama, teater, konser dsb.
Ada satu panggung yang sekarang ini sedang aku lihat. Panggung kelabu tak ketahuan warnanya karena cahaya sedang diredupkan. Beberapa benda mati kaku gagu di beberapa sudut. Dan tokoh yang di tengah panggung adalah...diriku sendiri. Hilir mudik memenuhi panggung dengan segala suara. Dan satu-satunya penonton adalah...diriku sendiri. Duduk terpaku diam menahan kecewa karena sangat buruknya pertunjukan.
Subscribe to:
Posts (Atom)