Friday, November 11, 2022

TAK BOLEH ADA SATU ORANG PUN MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN KARENA TAK BISA MENGAKSES MANFAATNYA

 

Oleh Yuli Nugrahani

(Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang)

Disampaikan dalam Pemetaan Isu Krusial dan Dukungan Laki-laki Pimpinan Partai Politik untuk Keterpilihan Perempuan Polisi Lampung di Pemilu Legislatif 2024 di hadapan para politisi perempuan Lampung, penggiat kemanusian dan media, bertempat di Whiz Hotel Bandarlampung, 10 November 2022. 

 

Saya pernah mengunjungi Cammilian Pastoral Care Center, di Lat Kratbang, pinggiran Bangkok, dua kali. Kesempatan pertama tahun 2011, lalu kedua tahun 2015. Detail-detail dari tempat ini cepat sekali menarik perhatian pengunjung, termasuk saya. Bukan karena keindahan atau luasnya atau desain mewah bangunan dan sebagainya, tapi karena rancangan bangunan yang begitu manusiawi untuk semua orang tanpa kecuali. Siapa pun yang hadir pasti merasa disambut sesuai kebutuhannya masing-masing. Seluruh bangunan terasa ramah bagi siapapun.

Tangga dengan ukuran tinggi yang bisa dilalui dengan mudah oleh anak-anak, perempuan bersarung, lansia, orang-orang dengan kebutuhan-kebutuhan khusus karena kondisi tubuhnya, orang-orang sakit dengan kondisi spesial, dst. Selain itu tiap tangga yang ada selalu dilengkapi dengan jalan landai yang memudahkan kalau ada orang yang harus pakai kursi roda atau membawa koper.

Lift yang dilengkapi huruf braille, juga ada suara, sehingga siapapun yang menggunakannya pasti mudah menemukan lantai mana yang dituju.

Ruangan-ruangan yang dilengkapi dengan furniture yang berguna sekaligus aman bahkan bagi orang yang bergerak dalam kursi roda. Setiap kamar mandi juga dilengkapi kursi plastik yang kokoh bagi yang Membutuhkan. Yang punya anak-anak berkebutuhan khusus pasti tahu kursi semacam itu sangat dibutuhkan.

Satu kesempatan dalam masa saya menginap di sana, sekelompok anak-anak termasuk yang berkebutuhan khusus, hadir menampilkan pertunjukan untuk kami yang hadir. Mereka rupanya sudah berlatih keras untuk menampilkan pentas yang menarik. Tarian, lagu dan juga melukis dalam iringan musik. Aduh, anak-anak yang luar biasa. Tarian yang indah. Yang berbeda dengan gerak dan ekspresi biasa dari orang kebanyakan. Mereka pasti telah bekerja sangat keras untuk gerakan-gerakan itu dan semua orang yang hadir mengapresiasinya.

Untuk Lampung, adakah tempat yang seramah itu bagi semua orang tanpa kecuali tanpa diskriminasi? Dengan demikian semua orang, justru yang paling miskin, paling tak punya uang, paling terpinggirkan, bisa terangkat kesejahteraannya dan semakin menjadi manusia.

Ini adalah salah satu contoh yang saya selalu ingin suarakan jika bicara tentang pembangunan, politik, maupun gerak politisi yang ada di dalamnya.

Keadilan dan kesetaraan gender maupun inklusi sosial mestinya ditandai dengan kesamaan mendapatkan akses manfaat terhadap pembangunan. Tidak boleh ada pengecualian. Siapa yang bertanggungjawab agar hal ini tercapai? Seluruh masyarakat, iya. Saya juga ikut dalam tanggungjawab itu sebagai ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, plus apapun yang melekat pada saya (PUSPA Provinsi Lampung, Kopdit Mekar Sai, dst), maupun saya sebagai anggota masyarakat. Namun, para politisi yang memang sehari-hari bicara tentang hal ini dan hidup dari isu-isu sosial seperti ini, adalah orang-orang yang punya tanggungjawab lebih karena pengaruh dan fasilitas yang dimiliki, dan memang menjadi tujuan dari gerak politik.

Pertama, pemahaman terhadap kebutuhan-kebutuhan khusus semua orang tanpa kecuali harus bisa ditangkap oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang politik, dimanapun perannya. Perempuan, anak-anak, maupun kelompok rentan lainnya mesti dikenali kebutuhannya karena kekhasan mereka masing-masing yang melekat.

Kedua, pengetahuan akan hal itu harus disuarakan sehingga masuk dalam kebijakan-kebijakan anggaran, pembangunan, program kegiatan dan sebagainya. Misalnya, tak mungkin melibatkan perempuan dalam pelatihan peningkatan kapasitas jika tidak difasilitasi kesulitannya, seperti waktu, tanggungan anak, dst.

Ketiga, memastikan bahwa kebijakan yang berperspektif gender itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, dengan support penuh, disertai tahapan-tahapan yang jelas, terencana dan terukur. Tidak hanya basa-basi saja.

Dengan demikian tak ada lagi perempuan dan kelompok rentan yang menjadi korban kekerasan atau human trafficking atau bentuk ketidakadilan lain, karena keterbatasannya, karena orang lain maupun karena sistem yang berlaku. Dan Lampung, bahkan Indonesia, menjadi rumah bersama bagi semua orang tanpa terkecuali, tanpa diskriminasi.

***

Bandarlampung, 10 November 2022

Monday, April 11, 2022

LHHH: Hash di Bebukitan Sekitar Citra Land Sukadanaham Bandarlampung




 Selain ndak rajin ngehash karena beralasan ini itu, aku juga ndak rajin menuliskan yang sudah terjadi. Baiklah, ndak usah janji-janji saja tapi mulai dari yang memang harus dilakukan. Lampung Hash House Harriers (LHHH) Minggu 10 April 2022, mengambil rute di daerah Sukadanaham Bandarlampung dengan meet point di halaman depan kantor pemasaran Citra Land.

Baru datang saja para member tak kuasa menahan hasrat berfoto-foto. Bagian depan perumahan ini memang oke banget untuk dijadiin spot foto entah sendiri atau bersama. Apalagi saat semburat matahari begitu cerah dengan langit warna biru seperti pada Minggu ini.

Disebut sebagai Ramadhan Run, hanya jalur pendek saja yang digunakan oleh tim Hare. Aku ikuti dengan strava sekitar 6 km saja, dengan tanjakan dan turunan yang lumayan mengundang tingginya adrenalin. Ini rute yang sudah biasa digunakan, biasanya mulai dari hutan pinus, naik turun sungai dulu baru masuk ke rute ini. Jadi walau tanjakan bikin ngap dan turunannya bikin terpeleset-peleset, masih lumayanlahhh, karena tidak naik turun sungai. Kadang risih banget harus jalan dengan sepatu dan celana basah kalau di bagian awal rute sudah turun sungai.

Nah, bagusnya, cuaca memang cerah sepanjang perjalanan. Langit biru terang, angin semilir dan melewati jalan-jalan yang cukup rindang. Di beberapa tempat selalu tergoda untuk mejeng dulu, foto dulu, salah satunya sebagai alasan untuk ambil nafas. Pokoknya asyikkk ajaaa.... On on.

Saturday, April 09, 2022

Puisi Sabtu (26): MAKNA LUKA Karya Bartolomeus Budiman

 MAKNA  LUKA


Dulu pikirku....
Luka itu aib juga bencana
Mutlak dihindari pun dijauhi
Tanpa luka hidup ‘kan bahagia sempurna  

Seiring laju waktu merangkai usia terkuak fakta
Kian kuat menghindar, luka makin mendera
Kian jauh kulari melesat darinya
Kian dekat ia menghampiri tiada terkira

Kini terkuak labirin menjelma realita
Tiap luka menyirat sarat makna
Satu demi satu butuh sapa raba bahkan dekap erat
Kurangkul ‘tuk lengkapi nuansa cakrawala  jiwa

Luka ukir warna karakterku
Tiap guratnya pancarkan bias cahaya
Terangi fakta mulia paripurna
Tak satu jua sosok pemenang nirluka jiwa

 

 


Bartolomeus Budiman, salah satu penulis Antologi 'Meaningful Life'; 'Tanah Air Beta'; "Seribu Bait Cinta Sang Guru'; 'Ingin Terus Berjuang'. Tinggal di Bandar Lampung.

Friday, April 08, 2022

Cerita Anak Yuli Nugrahani: STOPI DAN DARA

Ilustrasi diambil dari Google

(Selain buku dongeng tentang Sultan Domas, ini satu-tunya cerita anak yang pernah kutulis. Aku tak ingat pernah mengirimkannya ke media mana karena saat kubaca di bagian bawah tulisan ada penanda nama penulis, no kontak, alamat dan no rekening, seperti kebiasaanku kalau mengirimkan tulisan ke media.)

 Stopi, si lampu perempatan hari ini terlihat sangat sedih. Sahabatnya, si burung dara kelabu bernama Dara,  menggosok-gosokkan paruhnya ke wajah Stopi. Dara bingung mengapa paras lampu merah, kuning, hijau ini tidak cerah seperti biasanya.

“Stopi, ada apa? Wajahmu suram sekali?” Dara bertengger di atas Stopi. Ini kebiasaan yang paling disukai Dara jika sedang tidak mencari makan. Dari atas Stopi, Dara bisa melihat seluruh kesibukan lalulintas perempatan itu.

“Iya, Dara. Aku sedih sekali.” Jawab Stopi dengan lesu.

“Mengapa?”

“Aku tidak lagi dilihat dan diperhatikan oleh orang-orang yang lewat di jalan ini. Lihat. Ketika aku menyala kuning, mereka malah ngebut. Padahal warna kuning sebenarnya tanda persiapan sebelum berhenti. Harusnya mereka berhati-hati dan mulai mengerem kendaraannya. Bahkan ketika aku menyala merah, mereka juga tidak mau berhenti. Sudah beberapa kali ada kecelakaan di sini karena mereka tidak mengindahkan aku. Andai mereka memperhatikan aku, tentu mereka tidak akan celaka. Aku berdiri di sini kan demi kepentingan mereka. Selain itu aku juga tidak pernah dirawat oleh mereka. Lihat, aku penuh debu seperti ini.”

Dara mengangguk-angguk setuju. Stopi kemudian bercerita bagaimana dia dulu mulai berdiri di situ.

“Dulu jalanan ini sepi. Hanya ada satu atau dua kendaraan yang lewat. Sepeda, sepeda motor, mobil atau gerobak. Mereka bisa belok ke kanan atau ke kiri tanpa kuatir,” kisah Stopi mengawali cerita.

“Tapi kemudian jalanan semakin bertambah ramai. Apalagi jika saat pagi saat orang-orang berangkat kerja, anak-anak berangkat ke sekolah, perempatan ini kacau. Semua kendaraan ingin saling mendahului akibatnya malah macet. Kemudian aku pun berdiri di sini. Aku membantu mereka sehingga setiap kendaraan dari semua arah mendapatkan giliran untuk berjalan. Jalan menjadi tertib. Tapi kemudian, saat aku sudah lama di sini, mereka tidak lagi ingat padaku. Jalanan kacau kembali. Lihatlah sendiri, Dara.” lanjutnya.

Kembali Dara mengangguk.

“Kalau begitu, kita harus beri pelajaran kepada mereka, Stopi. Jangan sampai mereka mencelakakan diri mereka sendiri. Kamu berdiri di sini kan demi kepentingan mereka.”

“Bagaimana caranya? Aku sudah berteriak-teriak sepanjang hari tapi mereka tidak mau mendengarkan aku.”

“Aku punya cara.” Dara kemudian berbisik kepada Stopi mengungkapkan idenya. Sebuah rencana untuk memberi pelajaran pada para pengguna jalan.

“Aku setuju.” Kata Stopi sambil tersenyum. Wajahnya menjadi cerah.

Apa yang direncanakan oleh Dara dan Stopi? Rupanya mereka berdua merencanakan untuk memutuskan aliran listrik ke lampu-lampu Stopi saat pagi hari dimana jalan sedang ramai. Dara akan membantu Stopi memutuskan salah satu kabel menjelang pagi tiba besok.

...

Rencana itu pun benar-benar dijalankan oleh Dara dan Stopi. Pagi itu perempatan mulai ramai dengan anak sekolah dan orang berangkat kerja ketika lampu merah, kuning dan hijau tidak berfungsi. Kemacetan luar biasa terjadi dari segala arah. Mereka yang sedang buru-buru masuk sekolah dan bekerja tidak bisa datang tepat waktunya. Kemudian salah seorang dari pengguna jalan itu kemudian menelepon polisi untuk membantu mereka lepas dari kemacetan.

Pak Polisi datang dan sepanjang hari itu membantu mengatur jalan di perempatan itu sehingga dapat berjalan lancar. Tapi hal ini tidak bisa diteruskan karena Pak Polisi juga punya tugas untuk mengatur jalan-jalan lain yang tidak memiliki lampu perempatan. Tidak mungkin Pak Polisi berdiri di situ dari pagi hingga malam.

Maka para pengemudi kendaraan beramai-ramai melihat apa yang salah pada lampu itu. Sebagian dari mereka membersihkan sekitar tiang lampu sehingga tidak ada lagi rumput-rumput. Ada yang memotong dahan pohon di dekatnya yang mengganggu pandangan pada lampu itu. Ada pula yang mengelap lampu-lampu itu sehingga kembali cemerlang.

Salah seorang dari orang-orang itu mengecek lampu-lampu dan kabelnya. Terlihat kabel yang putus itu. Maka kabel yang terputus kembali disambungkan dan lampu itu kembali menyala lebih cerah dan gemerlap karena bersih dari kotoran.

Dari pengalaman itu mereka kembali sadar bahwa lampu perempatan sangat penting bagi mereka. Mereka kembali tertib jika melewati jalan itu dan tidak ada lagi kecelakaan yang terjadi di sana.

Stopi dan Dara sangat senang.

“Sekarang aku bisa menjalankan tugasku dengan nyaman. Dan mereka sekarang menghargai aku. Terimakasih, Dara.” Kata Stopi dengan riang.

“Terimakasih juga. Sekarang aku bisa kembali melihat pemandangan yang indah dari sini.” Kata Dara sambil bertengger santai di atas lampu Stopi. Mereka berdua gembira melihat perempatan jalan yang sekarang rapi dan tertib kembali. *** (2010an)

Thursday, April 07, 2022

Jika ada Kekerasan, Apa yang Harus Dilakukan?

 Saat aku sedang asyik masyuk di depan laptop, aku mesti menghentikan aktifitas itu karena beberapa telpon dari Dinas PPPA Provinsi membutuhkan kontak person di beberapa daerah. Ya, maklum saja, kadang memang aku berperan sebagai call center, asyik-asyik saja itu mah.

Nah, di sela beberapa urusan itu, tiba-tiba sebuah pesan WA masuk. 

"Ibu, bisakah saya telpon? Ada yang ingin saya tanyakan."

Aku menangkap nada darurat dalam pesan ini, jadi aku mengabaikan urusan-urusan lain dan menelpon ibu yang mengirimkan pesan tersebut. Singkat kata, ibu ini bercerita bahwa dia menemui seorang remaja yang menjadi sasaran kekerasan kakaknya. Gadis remaja ini masih sekolah SMA, orang tuanya bercerai, dan dia menjadi pelampiasan emosi kakaknya setiap kali kakaknya itu marah oleh hal apa pun.

"Kasihan, ibu. Beberapa kali dia mengalaminya. Bibir dan wajahnya bengkak. Apa yang harus saya lakukan?"

Beberapa saat otakku selalu beku kalau menerima kisah yang senada. Hal-hal yang harus aku terima dengan lapang dada karena aku memang harus menerimanya. Biasanya aku akan menggali beberapa hal terkait peristiwanya, latar belakang orang-orang yang ada dalam peristiwa itu, pokoknya bertanya terus bertanya sehingga aku mendapatkan gambaran kasar/umum kejadian itu dan orang-orang yagn terlibat di dalamnya.

Tidak selalu tepat, tapi aku memberikan beberapa catatan:

1. Sarankan gadis itu untuk menceritakan pada keluarganya. Jika orang tuanya tidak mungkin menjadi tempat cerita (dalam hal ini bapak tempat dia tinggal sedang sakit parah, dan ibunya sudah menikah lagi dan digambarkan ringan tangan juga), maka dia mesti bercerita pada salah satu keluarga besar yang dia percaya, dia dekat, sehingga dia bisa mendapatkan perlindungan.

2. Untuk sementara waktu karena dia tak bisa membela diri saat kekerasan terjadi, dia harus mendapat perlindungan dari salah satu wali atau keluarga besarnya. Mungkin pindah tinggal sementara. Keluarga ini mesti menjadi pelindung utama, bukan teman atau orang asing. Keluarga harus didorong menjalankan perannya untuk kasus-kasus ini karena di situlah tempat yang paling dekat dan paling bertanggungjawab.

3. Jika memang tak ada keluarga inti atau besar yang bisa membantu, baru kita sarankan dia datang ke lembaga masyarakat atau pemerintah, tentu dengan dampingan kita, orang yang sudah peduli. Mungkin ke UPTD PPA yang paling dekat, atau ke RT/RW yang bisa dipercaya. Masyarakat semestinya punya sistem untuk menghadapi pengaduan-pengaduan seperti ini apalagi jika sampai mengancam nyawa.

4. Hal apa pun yang dipilih untuk dilakukan, selalu dibutuhkan orang yang peduli. Ini yang terus menerus harus dikembangkan ditularkan. Tidak boleh cuek saja ketika mendengar jerit sakit dari rumah tetangga, atau suara-suara tidak biasa. Jika dikerjakan bersama-sama, kasus kekerasan akan bisa diatasi dikurangi, dihilangkan.

Stop kekerasan. 

Wednesday, April 06, 2022

Puisi Yuli Nugrahani: PEREMPUAN TUA DALAM KUBANGAN

 PEREMPUAN TUA DALAM KUBANGAN

Tiba-tiba aku berada pada perjalanan malam
lampu-lampu bergerak melintasi jendela
berseling dengan pucuk kelapa dan atap rumah.
Pikiran menjadi danau penuh keriap waktu
peristiwa demi peristiwa diulang bergantian.
Apakah kau pernah merindukanku seperti ini?
Seolah seluruh semesta menyekat ruang
seakan segala jaman menghentikan kesempatan
hingga tak ada alasan untuk sekilas perjumpaan
atau sekadar bertukar kata sapaan.
Sepasang burung gereja mengejek dari pucuk kemboja
mengolok nasib perempuan tua yang tak punya daya.
Roda terus melaju pada satu arah
cahaya-cahaya berganti gundukan gundul
dan kenangan berpindah ke sekitar kaki kursi
membuatku gelisah oleh pertanyaan tiada guna:
Apakah kau pernah merindukanku seperti ini?
Kepalaku terantuk kaca jendela
jalan penuh guncangan dan kubangan
arah yang semakin mendekati pesisir
ditandai amis laut juga garam juga wajahmu.
Hujan yang gagal dikandung langit
dan debu yang kaya oleh kotoran ternak.
Aku tersadar di atas ranjang berseprei aroma kamper.
Seorang dokter berkata tanpa kudengar menunjuk
kursi roda di sudut kamar.
Mungkin, besok aku bisa pulang.
Maret 2022

Kunjungan Liwa: Pembekalan dan Pembentukan Forkom PUSPA Kabupaten Lampung Barat Bonus Lain-lain

 

Perjalanan ke Liwa selalu menarik untuk dilakukan. Ketika bu Gusti dari dinas yang ngurusin pemberdayaan perempuan dan anak, Kabupaten Lampung Barat kontak untuk minta mengisi acara di sana, aku langsung setuju. Rencana difinalkan dengan kepastian tanggal dan surat-surat sehingga disepakati kegiatan itu akan dilaksanakan pada 30 Maret 2022 dengan isi pembekalan calon pengurus Forum Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Lampung Barat dan dilanjutkan fasilitasi pembentukan PUSPA saat itu juga.

Aku hadir bersama dengan bu Yanti, kabid data dan gender Dinas PPPA Provinsi Lampung, berangkat sengaja agak pagi pada Selasa 29 Maret 2022 dengan harapan kedatangan kami tidak lebih dari jam kerja teman-teman Lampung Barat. Hanya mampir sebentar di Kotabumi kami sampai di Liwa pada pukul 16.00an, masih terang benderang dan menikmati udara sedikit sejuk.

Kami bermalam di Hotel Ono atau tertulis Rose Losmen Ono, Liwa. Makan malam bersama teman2 Lambar tinggal nyebrang jalan saja. Ada warung lesehan yang nikmat dengan menu utama ikan mujaer.

Kegiatan utama tentu saja seperti yang sudah dirancang, bertempat di ruang rapat Bappeda Lampung Barat yang terletak di kompleks Pemda Lampung Barat. Diikuti oleh 30 an peserta dari berbagai organisasi yang peduli dengan isu dan masalah perempuan dan anak. Pemaparan yang kuberikan seperti biasa panel dengan bu Yanti, disertai dengan dialog dan diskusi dengan peserta. Penghujung acara menargetkan minimal ada formatur pengurus Puspa yang nantinya akan ditindaklanjuti hingga SK Bupati setempat.

Beberapa PR yang aku catat untuk Lampung Barat diperkuat oleh teman-teman wartawan yang wawancara usai kegiatan. Mereka mengangkat kasus ASN yang melakukan KDRT terhadap istrinya.

1. Perkuat sinergi antar lembaga untuk memberikan perhatian pada kasus dan korban kekerasan, human trafficking dan kesenjangan ekonomi.

2. Stop kekerasan sekarang juga, tak ada pemakluman terhadap pelaku apalagi mereka yang harusnya menjadi pengayom masyarakat.

3. Non diskrimnasi, semua manusia dipandang sama derajatnya, berhak untuk mendapatkan akses yang sama terhadap pemenuhan hak asasinya.

Nah, kayak gitu. Selain acara inti itu, Liwa tak mungkin dilewatkan begitu saja. Banyak spot foto asyik, nah sempat kunikmati kali ini adalah Kebun Raya Liwa dan kompleks Pemda Lampung Barat yang hijau. Lalu untuk oleh-oleh yang wajib adalah kopi Liwa ditambah gula arennya, sayuran apapun yang segar yang dapat ditemui di pinggir jalan, dan satu lagi, buwak tat, kue khas Lampung yang special.


Di kompleks Pemda Lampung Barat bersama Keloq.

Di Kebun Raya Liwa tapi hanya dari atas saja, tidak masuk ke lokasi.

Buwak tat, kue semacam bolu yang renyah gurih manis dengan isi selai nanas khas Liwa.


Monday, April 04, 2022

Cerpen Yuli Nugrahani: DI PEMAKAMAN SETELAH TUJUH HARI MENINGGALNYA

 Dulu aku pernah membanggakan gigi-gigiku. Warna putih mengkilap, menjadi lebih mengkilap setelah aku berkumur dengan obat kumur merk apa pun yang kubeli secara rutin. Orang lain mengatakan kalau itu hanya perasaanku saja, tapi aku yakin memang gigiku sangat indah. Tidak seperti gigi orang lain yang memiliki ukuran berbeda antara gigi depan, gigi taring dan lainnya, gigiku memiliki ukuran yang seragam.

Aku merawat gigiku dengan teliti. Ketika semua gigi susuku sudah hilang, gigi dewasaku menjadi prioritas utama sebagai pertimbangan aku makan atau tidak makan suatu makanan yang ditawarkan kepadaku.

Kelebihan ini kusadari benar saat aku punya kebiasaan bercermin dengan cermat seusai mandi. Senyumku terasa berbeda bukan karena bibirku yang tebal dengan warna coklat, tapi karena gigiku terlihat sangat cantik saat tersenyum. Aku yakin aku cantik karena gigiku yang indah itu.

Keyakinanku itu bertambah besar saat bertemu Lee. Laki-laki kelahiran Palembang, dari orang tua Tionghoa, bermata sipit dan berkulit kapas, menyatakan jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Aku selalu meyakini bahwa cintanya itu karena gigiku. Semata gigi yang kutunjukkan kapanpun aku tersenyum padanya.

Tapi memang dia selalu menyatakan cinta walau aku tak selalu menjawab seperti yang diinginkannya. Pada kali ke sekian perjumpaannya denganku, seperti biasa, kata-kata cinta berhambur lewat caranya.

"I love you." Haaa, dia agak cedal. Lucu. Saat itu aku sangat ingin memeluknya, tapi tentu saja aku tidak bisa. Selain karena kami dipisahkan oleh meja besar di  rumah makan lalapan Lamongan, tentu saja aku tidak bisa sembarangan memeluk orang yang sudah menyatakan cinta padaku dengan bahasa Inggris seperti itu di depan umum atau di ruang privat.

Aku memandangnya. Dia mengucapkan lagi,"I love you." Namun tanpa suara, hanya gerak bibir yang nyata sekali mengatakannya. Aku tersenyum. Lee mengulang kalimat itu beberapa kali sambil mamandangku.

Pelayan warung yang mengantar pesanan kami sedikit mengusik arah pandangan matanya. Tapi sesaat kemudian dia kembali memandangku. Bibirnya tak memunculkan gerakan apa pun. Aku merapikan posisi piring dan makanan yang ada di depan kami.

"Mari kita makan. Sepertinya aku sangat lapar."

"Kau memang lapar. Mari." 

Kami makan dalam diam. Sesekali dia akan menyempatkan memandangku.

"Nanti aku fotokopikan buku Octavio Paz. Kau bisa mempelajarinya sembari mengikuti kelas penulisan. Beberapa contoh puisi dari Octavio bisa kau pelajari. Teknik yang kemarin aku ajarkan ke dirimu tentang 'cuplik dan lanjutkan' bisa kau terapkan dari puisi-puisi dalam buku itu. Yang harus kau lihat lagi adalah terus tambah kosa kata bahasa Indonesiamu. Kamus daring toh bisa kau akses kapanpun."

Aku mengangguk-angguk. Beberapa suap sudah masuk dalam mulutku sambil mendengarkan suaranya. Kalimatnya itu seperti alasan saja supaya ada suara yang muncul di antara kami. Dia memang selalu menyelipkan ajaran-ajaran tentang puisi di sela kata-kata cintanya yang itu-itu saja.

"Aku harus segera pulang setelah selesai makan. Apakah kau masih akan ke acara lain atau mau langsung pulang?" Dia berkata lagi setelah jeda diam yang cukup lama.

"Aku akan langsung pulang. Besok aku akan berangkat ke Bandung pagi, menggunakan penerbangan ke Jakarta dulu."

"Kok kau ndak bilang akan pergi ke Bandung?"

"Barusan aku mengatakannya. Aku akan menghubungimu sesekali saat di sana." Tanggapanku meloncat spontan.

"Andai kau katakan dari kemarin aku bisa ikut dirimu."

Aku tersenyum.

"Tidak mungkin. Aku sudah beli tiket pergi sejak dua minggu lalu. Ini sudah terjadwal lama." Dalam hati aku mengatakan bahwa tak ada kesempatan semacam itu yang bisa aku atau dia miliki. 

"Baiklah."

Dia menampakkan raut wajah kecewa samar. Tak bisa dibohongi, ekspresi sekecil apa yang muncul dari hatinya, sangat mudah terbaca di raut wajahnya. Dia tak bisa memendam sedikit saja apapun emosi yang muncul dari hatinya. 

"Sepulang dari Bandung, kerjakan PRmu mengedit tiga puisi yang kau buat kemarin. Jangan sampai kau melewatkan kelasmu hanya karena perjalanan seperti itu. Nanti aku buatkan catatan atas puisimu itu seperti yang sudah kusampaikan kemarin di kelas. Hubungi aku sesering yang kau bisa ya."

Dia terdiam sebentar. Mengangkat gelas tehnya tapi tidak jadi minum. Dia memandangku tajam dari balik kaca mata tebalnya. Tatapan yang membuatku yakin, bahwa dia memang ingin memiliki, entar seberapa besar kadar cinta yang dia miliki untukku.

Apakah aku mencintainya? Tentu saja. Jika aku menyebut para kekasih yang kupunya, tentu saja namanya akan ada di deretan-deretan pertama yang kusebut. Hanya saja, aku tidak bisa membandingkan jenis cinta yang kumiliki padanya itu sama dengan cinta yang kuberikan pada suamiku, atau pada anak-anakku, atau bahkan pada Kas atau Run yang sudah melekat pada hati dan tubuhku.

Ukuran-ukuran kebahagiaanku saat bersama Lee bisa dikatakan seperti ini:

Pertama, aku selalu berbunga-bunga jika dia mengatakan cinta. Pada titik ini aku selalu mengira dia pasti akan menjadi orang gila kalau saja aku tidak menjawab telepon atau tidak membalas pesan-pesan yang diakirimkan atau menolak ajakan-ajakan makan siang yang dia sering tawarkan.

Kedua, aku selalu merasa aman saat dia menyebut namaku di depan orang lain atau di forum manapun yang aku hadiri atau tidak aku hadiri.

Ketiga, aku sangat senang kalau dia memuji wajahku dengan senyum yang indah dan gigi yang sempurna, entah dia katakan langsung padaku atau pada teman-temannya.

Keempat, aku tak pernah peduli seberapa banyak makian atau kata keras yang dia katakan atas kelambatan pikirku, ketidaktahuanku atau apa pun yang tidak dia sukai dariku.

Sudah, itu saja. Aku tidak mudah mengatakan kebaikan yang dia miliki, atau ketampanan apa yang dia punya. 

Lee tidak pernah menutupi perasaannya bahkan apa yang ingin dia katakan atau dia lakukan. Bisa saja saat lama sekali tidak berjumpa denganku, lalu bertemu tanpa janjian di sebuah pertemuan biasa dengan orang-orang yang saling kenal, dia akan merangkul pundakku, menekan sedikit bagian lenganku, dan memprotes dengan suara keras mengapa aku tidak mengunjunginya sekian lama.

Lalu saat dia mulai sakit-sakitan, oleh penyakit yang memang wajar mampir ke tubuhnya yang tambun, Lee menggunakan kesempatan kapanpun aku berkunjung padanya dengan ungkapan-ungkapan sedih yang ditaburi permintaan maaf tanpa menyebut kesalahan apa yang pernah dia perbuat padaku. Istrinya memintaku sering datang karena Lee sering meracau menyebut nama siapa pun secara asal, termasuk namaku.

"Aku minta maaf."

"Tidak ada salahmu padaku."

"Aku minta maaf." Dia mengungkapkan dengan nada mengiba, menatapku dengan tatapan yang sama seperti dulu-dulu. Pasti dia akan mengulang lagi perkataan itu sampai aku mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya tanpa tahu kesalahan apa yang dia lakukan. Aku menampilkan senyum lebar apa adanya, menunjukkan padanya gigi-gigi cantik yang masih kumiliki. 

....

Lalu, sekarang dia sudah ada di bawah nisan, tempatku berteduh siang ini di bawah kemboja. Sudah tujuh hari sejak dia dimakamkan aku baru bisa duduk di sini, di atas tanah, sedang dia di sini juga di bawah tanah. Aku salah telah mengira dia akan gila andai aku menolaknya atau pernah kutulis secara ekstrim bahwa dia benar-benar gila saat aku meninggal sedang dia diliputi cinta penuh kerinduan luar biasa padaku. Aku salah mengira bahwa aku akan mati duluan. Mungkin, aku telah salah mengira bahwa dia mencintai gigi-gigi yang kubanggakan. Mungkin, aku salah mengira bahwa dia mencintaiku seperti itu.

Setetes air mata mengalir ke sisi hidung kiriku. Dadaku perih oleh keinginan bertemu dengannya. Aku merasakan kehilangan yang luar biasa yang nyaris tak tertahan. "Lee, apakah kau pernah begitu rindu seperti ini?" Bisikku dijawab oleh burung pleci yang sedang melintas. Lee sudah mati.

*** (Maret 2022)

Wednesday, March 23, 2022

KEKUATAN KEPEDULIAN SEBAGAI UPAYA UNTUK STOP PERDAGANGAN ORANG

 Human Trafficking (perdagangan orang/manusia) adalah salah satu luka terdalam kemanusiaan saat ini. Martabat manusia direndahkan dan manusia dianggap sebagai barang dagangan. Dari seluruh situasi itu, korban yang paling rentan adalah perempuan dan anak-anak. Menurut statistik PBB tentang perdagangan manusia (Laporan Global UNODC 2020 tentang Perdagangan Orang) sebesar 72 % korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak perempuan, dan persentase ini meningkat secara signifikan dalam konteks perdagangan untuk eksploitasi seksual.

               Menghadapi kegagalan model ekonomi berbasis eksploitasi seperti itu, perempuan terpanggil untuk mengambil peran sebagai agen perubahan untuk menciptakan sistem ekonomi yang berbasis pada kepedulian terhadap sesama dan masyarakat rumah, melibatkan semua orang.

Hal itulah yang diangkat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Talitha Kum bekerjasama dengan Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, Selasa, 8 Februari 2022 bertempat di Matow Way Hurik, Tanjungseneng. Dengan tema: “Kekuatan Kepedulian: Perempuan, Ekonomi, Perdagangan Manusia”.

               Kegiatan dihadiri oleh komponen masyarakat lintas iman khususnya yang peduli terhadap korban perdagangan manusia, dengan pemantik diskusi Suzana Indriyati Caturiani, akademisi, dosen FISIP Universitas Lampung dan Tymu Irawan dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lampung dengan moderator diskusi Yuli Nugrahani, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Dalam kegiatan ini seluruh peserta menjadi narasumber yang menambahkan data, masalah-masalah dan juga peluang-peluang aksi yang sudah dan bisa dikerjakan untuk menghentikan perdagangan orang. Peserta yang hadir antara lain dari LSM Damar, LAdA, Fatayat NU, Gusdurian Lampung, Wanita Katolik RI, orang muda Katolik, para biarawati dan sebagainya sejumlah 25 orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Selain itu, kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal youtube Komsos Keuskupan Tanjungkarang untuk menjangkau semua mitra jaringan di mana pun berada.

     Kegiatan dibuka oleh Sr. M. Tarsisia FSGM, Ketua Talitha Kum Tanjungkarang yang mengajak semua yang hadir untuk terlibat aktif dalam kegiatan ini. Puncak kegiatan, semua yang hadir berdoa menurut agama masing-masing, diwakili oleh peserta dari berbagai agama yang hadir dalam kegiatan ini. Pendeta Budiman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) mewakili Kristen Protestan, Luke Silalahi dari Paguyupan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) mewakili Budha, Tymu Irawan dari SBMI mewakili Islam, Desak Ketut Suastika dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) mewakili Hindu, dan Sr. M. Tarsisia FSGM mewakili Katolik. Doa dilambungkan dengan ujub untuk para korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), semoga tidak pernah lagi ada korban dan semua semakin banyak orang untuk peduli menghentikan TPPO.

               Pada bagian akhir, kesadaran tentang korban ingin didengungkan lewat berbagai aksi dan sosialisasi. Dengan adanya pandemi, masyarakat dan institusi telah menemukan kembali nilai kepedulian terhadap sesama sebagai pilar keamanan dan kohesi sosial, serta komitmen untuk menjaga ruang bersama dalam rangka mengurangi dampak buruk dari perubahan iklim dan degradasi lingkungan, yang terutama mengurangi kemiskinan. Kekuatan kepedulian adalah satu-satunya cara untuk mengatasi perdagangan manusia dan segala bentuk eksploitasi.***

“SADAR KOPERASI DALAM ERA BUDAYA BARU”

 


RAT KSP Kopdit Mekar Sai 27 Maret 2022

Pengurus terpilih periode 2022 - 2024

Pengawas terpilih periode 2022 - 2024

RAT KOPDIT MEKAR SAI

“SADAR KOPERASI DALAM ERA BUDAYA BARU”

 

Minggu, 27 Februari 2022, KSP Kopdit Mekar Sai menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) dengan agenda utama pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2019 -2021. RAT akan dirangkai dengan Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk pemilihan pengurus dan pengawas masa bakti 2022 – 2024. Rapat dilakukan secara online dengan undangan sebanyak 400 peserta dari unit-unit, termasuk di dalamnya pengurus, pengawas dan manajemen. Rapat dibuka oleh A. Haryono Daud, Ketua Pengurus KSP Kopdit Mekar Sai dengan pimpinan rapat Ignatius Yoga Adi Nugroho dan sekretaris rapat Silvia Damayanti.

            RAT merupakan agenda rutin koperasi sebagai bentuk pertanggungjawaban kerja pengurus dan pengawas sepanjang tahun buku yang lalu. Yohanes Dwi Ady K., Ketua Panitia RAT bersama dengan seluruh kepanitiaan mempersiapkan agenda tahunan ini selama tiga bulan terakhir dengan fasilitas jaringan daring.

            “Kita belum selesai dari pandemi Covid-19 dengan berbagai varian baru dan dampaknya. Kondisi ini membuat kami tetap memilih menggunakan konsep daring dan luring terbatas bagi penyelenggara dalam pelaksanaan rangkaian acara RAT. Daring dilakukan menggunakan media zoom meeting yang diikuti oleh perwakilan anggota dari tempat masing-masing. Dipadu dengan cara luring bertempat di Kantor KSP Kopdit Mekar Sai diikuti oleh pengurus dan pengawas serta panitia penyelenggara,” ujar Dwi.

            Lebih lanjut Dwi mendorong keaktifan peserta RAT mulai dalam persiapan, pelaksanaan, maupun dalam kerja KSP Kopdit Mekar Sai selanjutnya. Media sosial Mekar Sai sudah diisi dengan berbagai materi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan RAT maupun RAK sehingga anggota bisa mengakses media tersebut untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan di samping materi yang sudah dibagikan dalam bentuk buku RA 2022.

            Tahun 2022 menjadi tahun suksesi pengurus pengawas KSP Kopdit Mekar Sai. Itulah yang menjadi agenda satu-satunya dalam RAK kali ini. Untuk pemilihan pengurus dan pengawas, KSP Kopdit Mekar Sai membentuk panitia nominasi yang sudah bekerja selama sekitar satu tahun untuk menyeleksi calon-calon pengurus dan pengawas usulan dari unit-unit yang ada. Ketua panitia nominasi, Agustinus Sarman menyatakan ada sebelas calon pengurus dan enam calon pengawas yang sudah terjaring. Pemilihan akan dilakukan secara virtual dengan memilih melalui link yang sudah dibuat.

            Tema yang diangkat dalam RAT kali ini merujuk pada perubahan yang akan dicapai oleh KSP Kopdit Mekar Sai dengan melihat dan mengikuti perkembangan zaman. Terkait dengan hal tersebut, A. Haryono Daud, ketua pengurus KSP Kopdit Mekar Sai menyatakan bahwa rencana strategi yang sudah disusun oleh pengurus KSP Kopdit Mekar Sai untuk masa tiga tahun, dengan target per tahun.

            “Perubahan yang utama yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang transformatif dan inklusi, sehingga tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Setiap perbedaan justru menjadi kontribusi yang berharga untuk perkembangan  koperasi.” Ujar Haryono.

            Untuk menuju perubahan tersebut ada beberapa point yang ditandaskan oleh Haryono. Yang pertama dan utama adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) demi kelanggengan KSP Kopdit Mekar Sai.

            “Kedua adalah mempersiapkan organisasi menuju budaya digital. Hal itu juga yang menjadi fokus dalam RAT kita kali ini, dalam isi maupun cara. Sedangkan yang ketiga, KSP Kopdit Mekar Sai mesti mengembangkan organisasi melalui kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku. Ini pun menuntut pemahaman dan keaktifan seluruh unsur yang ada dalam organisasi karena peraturan perundangan selalu bersifat dinamis.”

            Pada bagian akhir, Haryono mendorong anggota KSP Kopdit Mekar Sai untuk berpartisipasi aktif mengontrol jalannya organisasi koperasi salah satunya melalui aplikasi digital. Haryono mengingatkan bahwa anggota mempunyai hak yang mesti terjamin pemenuhannya. Dengan menggunakan aplikasi Sakti.link, anggota bisa melakukan pengecekan setiap waktu secara digital, bisa mendapatkan bermacam manfaat melalui transaksi yang dimungkinkan, dan yang tak kalah penting ikut dalam isu global ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas.

 

HASIL PEMILIHAN

 

Ketua pengurus: Andreas Muhi Pukai

Wakil ketua     : Antonius Widi Asmoro

Sekretaris 1     : Yohanes De Deo Atmoko

Sekretaris 2     : Yustinus Kristiyono

Bendahara       : A. Suharyono Daud

 

Ketua Pengawas: Ch. Dwi Yuli Nugrahani

Sekretaris        : Andreas Toto Haryadi

Anggota          : Th. Agus Sutarna

 


Musrenbang Perempuan dan Anak Provinsi Lampung

 Hotel Emersia Selasa (22/3) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), diikuti oleh stakeholder terkait dari seluruh provinsi Lampung. Selain seluruh bagian dalam kantor dinas PPPA Provinsi, juga dihadiri oleh dinas PPPA seluruh kota dan kabupaten, dinas lain terkait, Forkom Puspa Provinsi Lampung dan Forum Anak Provinsi Lampung.


Penandatanganan berita acara musrenbang.

Aku hadir sebagai ketua Forkom Puspa Lampung, membawa beberapa gagasan. Beruntung sekali Forkom Puspa mendapatkan waktu untuk bicara, sehingga beberapa gagasan itu bisa kushare kepada audien khususnya bisa disampaikan kepada pihak terkait. 

1. Puspa membutuhkan dukungan fasilitasi dari Dinas PPPA. Bagian utama dari hal ini adalah fasilitasi untuk rakor dan juga untuk peningkatan kapasitas SDM dari LM-LM yang ada dalam PUSPA. Saat ini sudah ada 36 lembaga yang masuk dalam Puspa Provinsi Lampung.

2. Puspa membutuhkan akses untuk pemanfaatan APBD dalam rangka memperkuat gerak dan kinerja Puspa sebagai salah satu forum yang diinisiasi oleh pemerintah.

3. Puspa membutuhkan dukungan dari dinas-dinas PPPA di seluruh kabupaten dan kota untuk mendorong terbentuknya Puspa di daerah maupun gerak kerja lanjutnya. Bukan sekadar SK tapi terus bersinergi dalma kerja untuk perempuan dan anak.

Wednesday, March 09, 2022

Cerpen Yuli Nugrahani : PAGI PALING GILA

 Aku ingin bercerita tentang pagi ini karena aku tak mau melupakannya begitu saja. Ibu ingat semalam setelah aku pamit ibu untuk pergi menemani Bito?

"Tentu saja. Kau ndak menghabiskan makanmu. Padahal beras itu toh harus habis juga, Adun. Ndak mungkin ibu buang. Sayang." 

"Ya ndak papa bu. Masak saja. Tapi aku ndak mau makan."

Kepalaku kena jitak ibuku dengan keras. Entah mengapa beras dari penggilingan langganan ibu itu memproduksi beras seperti itu. Memang aku juga yang membelinya, hanya 85 ribu rupiah untuk satu karung seberat sepuluh kilogram. Menurut ibu, rasanya cukup enak, hanya banyak sekali kotoran gabahnya dan memiliki aroma yang langu, tidak aku suka. Ibu sudah mengakali dengan memasukkan rempah-rempah saat memasaknya. Tapi kadang-kadang tak ada waktu sehingga apa adanya dimasak.

Usai makan ala kadar tanpa niat, aku pamit ke warung Bito. Menemaninya bekerja artinya ya nongkrong, sesekali membantunya melakukan pekerjaan warung dan kalau ada sisa-sisa makanan aku bisa ikut bersantap makan di sana. 

Saat aku sampai di warung, Bito sedang duduk di depan warung.

"Kenapa warung tidak buka?" Tanyaku.

Mata Bito tidak lepas dari HP tapi menjawab cepat.

"Kunciku ketinggalan. Entah ada di mana."

"Gimana sih To."

"Aku juga tidak tahu."

Bito asyik dengan HPnya. Kukira awalnya dia sedang meminta seseorang untuk mengantarkan kunci warung, tapi sampai aku menyelesaikan satu permainan, dia masih asyik dengan HPnya dan tak ada tanda-tanda seseorang datang mengantarkan kunci.

"Jadi buka ndak nih warung?"

"Ndak." Jawaban polosnya membuatku merasa lapar.

"Aduh, To, aku lapar."

"Bentar lagi kita bergeser ke tempat Irpan."

"Oke."

Aku tak ada pilihan. Duduk saja di sampingnya, melirik-lirik chatingnya dengan pacar dan mantan pacarnya secara bergantian.

Kau pasti tanya katanya akan bercerita tentang pagi, kok ini malah bercerita tentag malam. Iya, aku pengin menceritakannya mulai dari situ tapi kupikir-pikir bakal terlalu panjang kalau kuceritakan dari malam. Aku potong saja ya.

Pukul 03.50, masih di teras warung Bito, ada beberapa orang lagi sudah bergabung dengan kami. Tapi itu belum cukup. Beberapa saat setelah pukul 04.00 terlewati, si Kuyi datang. Dari jauh motor bebeknya sudah dapat dikenali karena suaranya yang parah.

Sesampai teras warung, kami melihat dia membonceng dua orang. Satu orang aku mengenalnya, Iga, yang memang selalu ada bersama Kuyi. Yang satu lagi, seorang laki-laki yang langsung berjongkok di aspal, tidak di teras, tapi di aspal. Astaga, Kuyi, siapa ini? Laki-laki berumur sekitar 40 atau 50, tanpa baju, telanjang bulat di tengah udara menjelang subuh.

"Siapa dia, hoi?" Bito yang awalnya tak pernah lepas dari HP, langsung berdiri, memandang takjub pada laki-laki telanjang itu.

"Ndak tahu. Dia tadi ada di pinggir Raden Intan."

Astaga Kuyi. Aku terbengong memandang mereka. "Kau apain dia?"

"Dia sudah  begitu. Maka aku bonceng kemari. To,  kau nyimpan baju ndak di warung?"

"Ada. Tapi aku ndak bisa masuk. Kunci warung hilang."

"Aidah. Di kamar mandi ada ndak? Kain tah apa tah." Bito lari ke kamar mandi di samping warung. Saat kembali dia membawa kaos hitam lengan panjang.

"Nih, ada baju kotor. Celana tak ada."

"Siapa pakai celana dobel? Lepas." Kuyi memandang sekeliling.

Salah seorang melepas celana panjangnya dan segera disamber oleh Kuyi. Dia langsung memaki karena celana itu langsung dikenakan pada lelaki asing itu. "Bukan yang panjang yang mau kukasih, halah." Terpaksa si baik hati memakai celana boxer saja terduduk lemas.

"Kau orang gila atau pura-pura gila?" Teriak Kuyi ke orang asing itu. Orang itu mengenakan baju kotor Bito dan celana kedodoran hibah, nyengir sedikit lalu bersujud menghadap jalan.

"Fix, dia orang gila." Kata Bito.

"Bukan. Dia pasti pura-pura gila. Wong bersih kayak gitu."

Kuyi mencoba bertanya hal-hal tak masuk akal pada orang itu. Tentu saja jawaban-jawaban pun muncul tak masuk akal. 

"Di mana rumahmu, pak?"

Orang itu menggelengkan kepala. Diam dengan wajah mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Guru pertama, harus didatangi setiap hari Jumat." Usai bersuara begitu dia tiba-tiba berbalik seperti hendak lari, sehingga spontan aku dan teman-teman menghadangnya. Tapi dia tidak lari, dia terdiam di pinggir jalan aspal. Untung masih sepi jalan itu. Dengan gerakan mendadak lagi, dia menjatuhkan lutut, hingga berlutut takjim menghadap ke Timur. 

"Kenapa kau ini? Pak, duduklah di sana, jangan di jalanan begitu, bahaya pak."

Kami berusaha mengangkat pria itu ke trotoar. Walau dini hari seperti itu jalanan masih sepi, tapi mungkin saja ada mobil atau motor melintas dengan kecepatan tinggi.

"Guru pertama, harus didatangi setiap hari Jumat." Kembali pria itu bersuara, kali ini tidak lari ke jalan tapi dia berdiri membungkuk kemudian merentangkan tangan dengan kaku dan jari jemari tertekuk. Jika tadi kami mendekat saat dia bergerak, kali ini kami spontan menjauh. Posisi itu bertahan beberapa menit sehingga kami ketakutan.

"Pak, santai saja dulu. Mari duduk. Mau makan?" Kupelototi Kuyi, ingin bilang kalau tak ada makanan di antara kami.

Pria itu mengeluarkan suara aneh, awalnya sangat pelan, nyaris tak terdengar, lalu kemudian eraman muncul dengan kuat, sehingga kami semua berlari berhamburan ke segala arah. Hanya sebentar, saat aku berbalik, pria itu duduk ngelesot bersandar pintu warung. "Hoi, kenapa dia hoi?" Seseorang berteriak.

Kami pun mengerumuninya lagi. "Di mana rumahmu? Kami antar kau pulang, pak." Kuyi bertanya dengan berani. 

"Tolong buka facebook." Hah, facebook? Kami berpandangan tapi kemudian aku membuka handphoneku, membuka facebook. "Cari nama Kacanebengi. Profile menghadap laut." Walau kami semua heran, aku mencari nama akun itu. 

"Benar. Ini dia." Aku berbisik saat mendapatkan foto dia di akun Kacanebengi. Pada post paling akhir ada wajah seorang perempuan, berumur lebih tua dari pria itu, tampak cantik dengan baju warna putih longgar dengan kerudung hitamg.

"Guru kedua, datang setiap matahari bersinar." Dia merentangkan tangan tiba-tiba sehingga seseorang di sampingnya nyaris terjengkang, nyaris, tapi makiannya langsung berbunyi.

Aku mencoba mencari siapa yang biasa kuhubungi dari kontak-kontak dalam facebook itu. Tapi sampai beberapa saat tidak respon. Wajar, hari masih gelap pasti semua orang di rentang waktu Indonesia bagian barat ini pasti masih terlelap dalam pulas.

Pria itu bangkit. "Aku akan pulang."

"Kau tahu ke mana arah pulang?" Kuyi lagi yang bertanya. Pria itu mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih. Wajahnya yang tulus membuatku yakin bahwa dia orang gila yang tidak gila.

"Kami antar, pak."

"Tidak usah, aku bisa jalan."

"Kami antar saja. Bapak tinggal arahin kita kemana. Ayo teman-teman."

Kami geleng-geleng. Ini kayaknya memang Kuyi yang gila. Usai nekat mengambil orang telanjang di pinggir jalan, sekarang akan mengantar orang tanpa tahu kemana arahnya. Tapi kami ikut komandonya. Pria itu dibonceng Kuyi diapit teman, bukan teman yang tadi waktu datang, dia sudah kapok. Lalu kami yang lain memakai motor kami masing-masing mengikutinya.

Awalnya rombongan kami itu tidak jelas akan kemana, malah ketika sampai di sekitar Bukit Randu, rombongan kami berputar hingga tiga kali di jalan yang sama. Makian-makian berdengung mengikuti rombongan,sampai kemudian motor Kuyi yakin mantap menuju pasar Tugu, berbelok ke Antasari dan terus lurus ke arah Tirtayasa.

Mereka berhenti di sebuah area parkir mobil-mobil besar. Pria itu mengetok gerbang lebar. Seorang muda keluar dari gerbang itu langsung berteriak. "Dari mana? Kami mencari sepanjang malam. Haduhhh." Pria itu digandeng, nyaris diseret masuk. "Pakde, pakde. Ini Katrok sudah balik."

Seorang laki-laki bersarung tergopoh-gopoh keluar dari sebuah rumah. Dia memberi kode pada pria muda itu untuk masuk. "Mandiin."

Bapak tua, pakde itu, memandang kami, mengucapkan terimakasih. "Kami sudah mencarinya sepanjang malam, untunglah dia selamat. Padahal pintu gerbang sudah dikunci, entah bagaimana dia keluar. Terimakasih ya."

"Dia... " Kuyi yang biasa banyak bicara tak bisa melanjutkan kalimat.

"Ndak, dia tidak gila. Dia sopir truk. Kemarin juga masih nyetir dari Jawa kok. Dia itu ngelmu tapi ndak kuat. Kalau kumat yan seperti semalam itu."

Kami saling berpandangan. Tak tahu harus bicara apa lagi, karena pakde itu hanya mengucapkan terimakasih lagi beberapa kali, dengan gerak tubuh mengarahkan untuk keluar dari garasi mobil truk yang luas itu. 

"Kapan-kapan aku ke sini lagi untuk tanya-tanya. Temani ya guys." Usai berkata, Kuyi memakai helmnya dan langsung ngegas, ngacir. Teman yang awalnya dia bonceng teriak-teriak: "Aku sama siapa hoiiii...!!!!"

Kami semua memasang jari miring di dahi, sambil bersamaan menunjuk Kuyi. Salah satu dari kami membonceng teman yang ditinggal Kuyi itu, boncengan bertiga. Matahari sudah mengintip dari Timur.  Aku merasa sangat lapar, ingin segera pulang, dan sarapan apa pun yang dimasak oleh ibu. Tentu saja sambil menceritakan kisah gila pagi ini.*** (Ditulis secara bebas dari cerita Albert pada 9 Maret 2022)

KOPRI Bandarlampung: Islamic students led dialogue on challenges to women


On March 8, 2022, the Indonesian Women's Islamic Student Movement Corps (KOPRI) held a dialogue titled "Women and the Challenge of Civilization" to commemorate International Women's Day (IWD) in Bandar Lampung, Indonesia.

Students from various universities participated in the event. The three featured speakers came from diverse religious backgrounds - Chepry Chaeruman Hutabarat, the Founder of the Klasika, Ana Yunita Pratiwi, the Head of Damar Lampung Province, and Yuli Nugrahani, the Chairperson of Communication Forum for Community Participation in Women's Empowerment and Child Protection (Puspa).

Yuli Nugrahani, a Catholic figure who is also the Chair of the Puspa, said that environmental issues directly affect women.

“Therefore, women's organizations must be involved in preserving nature's balance,” said Nugrahani.

"Starting with simple things like planting trees around the house and switching to more environmentally friendly bags," she explained.

Diana Berliyani, the head of KOPRI, said that the discourse on women must continue to be encouraged.

According to her, women must have a space to express themselves.

“Despite the advancement and the dynamics of contemporary discourse, I believe that women's conversation should be fostered.

She added, “KOPRI, which focuses on the cadre of women in this case, either through discourse or through channels that foster cadre potential."


 Click this for more

https://www.rvasia.org/world-news/islamic-students-led-dialogue-challenges-women