Minggu 8 Maret 2020, Forum Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi Lampung memberikan warna pada car free day di sekitaran bunderan Tugu Gajah Bandarlampung. Mulai pukul 06.00 tenda warna putih berdiri pada salah satu sudut dengan menggelar pojok curhat bagi masyarakat yang ada di sekitar situ.
Pojok curhat ini melayani konseling terkait kesehatan reproduksi, ibu menyusui, masalah parenting maupun kekerasan dalam rumah tangga. Beberapa penggiat lembaga masyarakat yang mumpuni memberikan pelayanan dengan penuh atensi. Dan menariknya, yang ikut konseling mendapatkan souvenir dari Forum Puspa Provinsi Lampung.
Tidak hanya mereka yang ingin konseling yang boleh merapat. Datang untuk beramah tamah saja juga boleh. Mereka ikut memberikan dukungannya dengan berfoto menggunakan pernak pernik yang sudah disediakan untuk ikut menyuarakan kesetaraan perempuan dan laki-laki yang hidup damai tanpa kekerasan.
Pun ada senam three ends, yaitu gerakan Puspa yang sejalan dengan visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Intinya akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan orang khususnya perempuan dan anak, dan akhiri kesenjangan ekonomi.
Monday, March 09, 2020
Thursday, March 05, 2020
Mengembalikan Hak Orang Lain
Satu hari terlewati dengan begitu 'gamang' karena meninggalnya Made, tetangga sebelah rumah di usianya yang masih sangat muda, meninggalkan istri yang baru dinikahi kurang dari 2 tahun dan seorang anak yang baru berusia sekitar 1 tahun. Begitu mendadak kabar ini yaitu pada Selasa 3 Maret 2020 (03032020, angka yang luar biasa), membuat banyak orang kaget dan spontan melantunkan doa-doa. Karena rumahnya persis sebelah rumahku, kesibukan pun terjadi di rumahku sehingga sepanjang malam rumahku terang benderang open house digunakan oleh para pelayat khususnya teman-teman almarhum yang butuh kamar mandi, cas hp atau sekadar minum.
Pagi tadi aku bangun dengan perasaan yang masih rumpang, menyiapkan sarapan sambil terus melantunkan doa-doa. Sebuah pikiran tiba-tiba menyengatku, yang kemudian menjadi obrolan dengan mas Hen saat sarapan. Agak susah memulai obrolan tadi, juga agak susah untuk menuliskan di sini, tapi aku pengin menulis ini supaya aku menjadi lebih berhati-hati dan aku tak mau lupa dengan pikiran ini karena mungkin saja suatu ketika pikiran ini bisa lebih berkembang dan berguna bagi diriku.
Aku mengawali obrolan dengan mas Hen seperti ini: "Hmmm, aku berpikiran tentang mengapa seseorang tiba-tiba bisa berada di bawah, mengeluarkan uang begitu banyak secara mendadak, plus korban tubuh, pikiran, waktu, perasaan dan lain-lain. Aku sedari subuh berpikir mungkin itulah cara kita mengembalikan hak-hak orang lain yang mungkin kita rampas secara sengaja atau tidak sengaja." Mas Hen bengong sebentar. Seperti biasa kalau aku menjelaskan sesuatu tanganku ikut berseliweran. "Misal kayak kita dulu kehilangan duit puluhan juta karena usaha bakso gagal total. Mungkin saja memang itu sebenarnya hak orang lain yang telah kita ambil. Dan untuk... hmmm katakanlah memurnikan diri kita maka hak itu harus kita kembalikan dengan cara begitu."
"Jadi inget bacaan soal hak. Berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikan pada Allah yang menjadi hak Allah." Ih, kalem banget mas Hen nanggapi.
"Iya, hak kaisar atau hak negara mudah banget ngitungnya. Ada pajak yang jelas kita bayar, juga tarikan ini itu. Lha kalau hak Allah? Itu di Matius 25 tentang penghakiman terakhir. Berat itu. Piye jal?"
"Nah ya itu."
Dalam bacaan tentang penghakiman terakhir itu dikatakan Sang Raja datang menjadi orang-orang lapar, tak punya baju, sakit, terasing, tahanan dan sebagainya. Memberikan makan, pakaian, lawatan pada orang-orang macam mereka itulah pemberian kita pada Sang Raja. Kalau tidak kita lakukan, Sang Raja tidak akan mengenal kita karena memang itulah hak yang harus diambilNya.
Nah, masalahnya kadang kita secara sengaja atau tidak sengaja merampas hak orang-orang seperti itu dengan tindakan kita, perkataan kita atau kelalaian kita. Misal kita merampas hak orang miskin mendapatkan beasiswa karena kita bisa memiliki aksesnya dan merekayasa segala caranya. Kita merampas hak orang lain menikmati udara bersish karena kita merokok di sebelahnya. Kita merampas hak orang untuk mendapatkan keuntungan karena kita terus menerus mengembangkan usaha kita sehingga tak ada celah orang lain untuk terlibat di situ. Kita mengambil hak orang lain untuk makan karena kita lalai berbagi. Dan seterusnya dan seterusnya.
Iyaaa, ada banyak alasan untuk menyangkal hal itu karena memang kita sudah melakukan segala upaya kita sendiri dan memang hak kitalah untuk mendapatkan kemajuan-kemajuan dalam segala bidang. Namun, apa yang biasa kita sebut sebagai ujian, atau cobaan dan sebagainya itu kan memang terjadi juga dalam hidup kita. Dan saat hal itu terjadi, sepertinya kita habis bis bis sehabis habisnya.
Aku sih sementara akan menggunakan pikiran ini untuk lebih hati-hati dengan demikian :
1. Aku akan ikut memudahkan orang lain, setiap orang, untuk memudahkan mereka mendapatkan hak mereka.
2. Aku tidak akan dengan sengaja merampas/mengambil hak orang lain sehingga suatu ketika jangan ditagihkan padaku.
3. Sebisa mungkin juga tindakan yang tidak sengaja harus dikurangi, dihilangkan. Ini kan soal latihan meningkatkan kesadaran diri toh. Benar-benar sadar saat melakukan segala sesuatu sehingga tak ada yang tak sengaja.
4. Sebisa mungkin aku mesti mengembalikan hak orang lain sebelum ditagih. Mungkin malah sebelum disadari oleh siapapun.
5. Pokoke kudu terus berbagi dan iklas menerima 'ujian/cobaan' sebagai salah satu cara mengembalikan hak orang lain.
Bagaimana Indonesia Mendeteksi dan Mengatasi Virus Corona?
Di antara sedikit grup WA yang kuikuti, salah satu yang kupertahankan untuk tetap kuikuti adalah grup K3. Grup ini isinya tidak banyak, berisi orang-orang kenthir kemproh yang dulu pernah pada satu masa mengalami kebersamaan di Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian Univ Brawijaya Malang pada tahun 91, 92 dan 93. Saat itu kegiatan-kegiatan sosial sering kami buat selingkup Malang, Pasuruan hingga Banyuwangi, salah satunya dengan ngintil Mgr. Pandoyo almarhum.
Walau isinya orang-orang kenthir dan kemproh, justru inilah satu-satunya grup yang paling bermutu di seluruh dunia. Hihihi... Sejak Januari 2020, obrolan di grup ini pasti berpulangnya ke virus Corona karena ada teman yang tinggal di Singapore yang selalu update perkembangan kasus Corona ini di negaranya, yang kemudian ditimpali teman-teman lain yang berada di banyak kota di Indonesia maupun luar Indonesia.
Gara-gara grup WA itulah pikiranku menjadi sangat serius dan sangat tidak serius, bercampur greget dengan cara Indonesia menanggapi maraknya virus ini terlebih ketika kami melihat korban sudah sedemikian banyak berjatuhan di berbagai negara. Termasuk membandingkan cara pemerintah negara-negara merespon kasus ini. Nah, tentu saja yang paling heboh dan memprihatinkan ya tentang negara kita ini. Aku akan pasang point-point pikiranku tentang hal itu:
1. Hingga Februari saat di berbagai negara tetangga, juga negara yang terkoneksi oleh perbatasan maupun oleh penerbangan, sudah mencatat banyak korban Corona, pemerintah Indonesia masih menyangkal adanya virus itu di Indonesia. Malah, pada Februari itu Jokowi memberikan arahan tentang virus Corona dalam kaitannya dengan perekonomian. Tidak jelas blas bagaimana arahan yang langsung mengenai penanggulangan dan penanganan virus ini.
2. Aku tak tahu persis yang dilakukan oleh pemerintah hingga dengan yakin menyebut tak ada virus ini di Indonesia, bagaimana cara deteksinya, menunggu laporan ada pasien atau bagamana, aku ndak tahu. Tapi ketika ada kabar 2 orang terinfeksi, atau sebelumnya ada penelusuran orang yang terdampak, hal itu terjadi karena ada orang yang baru datang dari Indonesia rupanya terdeteksi kena virus itu saat pulang ke negaranya. Dari deteksi negara lain itulah baru kemudian umeg riweh mencari yang ada di Indonesia.
3. Wakil presiden juga mengeluarkan statemen yang tidak pas pula menurutku. Bicara tentang doa, lalu tentang sertifikat lalu entah... Para tokoh yang diwawancarai wartawan juga ngawur ngomong tanpa tahu persisnya gimana... termasuk tokoh2 yang tak ada kompetensinya.
4. Media sosial dan media umum sudah ndak keru-keruan menulis segala hal yang terkait Corona sehingga susah melihat mana yang betul mana yang hoax. Lalu dengan cepat hal2 itu tersebar lewat berbagai media.
5. Greget banget dengan orang Indonesia, saudara-saudaraku ini. Di tengah segala kekuatiran itu ya masih saja bertindak menjijikan tak tertolong. Meludah sesuka hati dari motor atau mobil di jalanan, membuang sampah di mana-mana tak peduli wajah tanah yang rusak oleh satu lembar sampah itu, main peluk cium salaman di mana saja sambil ngomong muncrat-muncrat,... hadehhh....
Nah, sekarang sudah jelas Indonesia tidak kebal pada virus ini. Gerakannya mesti mulai dari personal, sadar melindungi diri sendiri dengan baik. Juga sosial, tidak ego malah nantang-nantang nyebarin virus walau belum terdeteksi dengan batuk bersin meludah sembarang. Juga mesti diimbangi kerja para jusnalis untuk mengarahkan masyarakat pada cara yang tepat, tidak panik tapi tetap waspada. Lalu yang tak kalah penting, ini juga tentang kebijakan. Hoiiii.... Jokowi, gerakkan sumberdaya Indonesia untuk mengawasi dan mengatasi Corona. Soal ekonomi dan pariwisata tetep diperhatikan, tapi yang diangkat mesti keselamatan jiwa setiap manusia, semua manusia Indonesia.
Walau isinya orang-orang kenthir dan kemproh, justru inilah satu-satunya grup yang paling bermutu di seluruh dunia. Hihihi... Sejak Januari 2020, obrolan di grup ini pasti berpulangnya ke virus Corona karena ada teman yang tinggal di Singapore yang selalu update perkembangan kasus Corona ini di negaranya, yang kemudian ditimpali teman-teman lain yang berada di banyak kota di Indonesia maupun luar Indonesia.
Gara-gara grup WA itulah pikiranku menjadi sangat serius dan sangat tidak serius, bercampur greget dengan cara Indonesia menanggapi maraknya virus ini terlebih ketika kami melihat korban sudah sedemikian banyak berjatuhan di berbagai negara. Termasuk membandingkan cara pemerintah negara-negara merespon kasus ini. Nah, tentu saja yang paling heboh dan memprihatinkan ya tentang negara kita ini. Aku akan pasang point-point pikiranku tentang hal itu:
1. Hingga Februari saat di berbagai negara tetangga, juga negara yang terkoneksi oleh perbatasan maupun oleh penerbangan, sudah mencatat banyak korban Corona, pemerintah Indonesia masih menyangkal adanya virus itu di Indonesia. Malah, pada Februari itu Jokowi memberikan arahan tentang virus Corona dalam kaitannya dengan perekonomian. Tidak jelas blas bagaimana arahan yang langsung mengenai penanggulangan dan penanganan virus ini.
2. Aku tak tahu persis yang dilakukan oleh pemerintah hingga dengan yakin menyebut tak ada virus ini di Indonesia, bagaimana cara deteksinya, menunggu laporan ada pasien atau bagamana, aku ndak tahu. Tapi ketika ada kabar 2 orang terinfeksi, atau sebelumnya ada penelusuran orang yang terdampak, hal itu terjadi karena ada orang yang baru datang dari Indonesia rupanya terdeteksi kena virus itu saat pulang ke negaranya. Dari deteksi negara lain itulah baru kemudian umeg riweh mencari yang ada di Indonesia.
3. Wakil presiden juga mengeluarkan statemen yang tidak pas pula menurutku. Bicara tentang doa, lalu tentang sertifikat lalu entah... Para tokoh yang diwawancarai wartawan juga ngawur ngomong tanpa tahu persisnya gimana... termasuk tokoh2 yang tak ada kompetensinya.
4. Media sosial dan media umum sudah ndak keru-keruan menulis segala hal yang terkait Corona sehingga susah melihat mana yang betul mana yang hoax. Lalu dengan cepat hal2 itu tersebar lewat berbagai media.
5. Greget banget dengan orang Indonesia, saudara-saudaraku ini. Di tengah segala kekuatiran itu ya masih saja bertindak menjijikan tak tertolong. Meludah sesuka hati dari motor atau mobil di jalanan, membuang sampah di mana-mana tak peduli wajah tanah yang rusak oleh satu lembar sampah itu, main peluk cium salaman di mana saja sambil ngomong muncrat-muncrat,... hadehhh....
Nah, sekarang sudah jelas Indonesia tidak kebal pada virus ini. Gerakannya mesti mulai dari personal, sadar melindungi diri sendiri dengan baik. Juga sosial, tidak ego malah nantang-nantang nyebarin virus walau belum terdeteksi dengan batuk bersin meludah sembarang. Juga mesti diimbangi kerja para jusnalis untuk mengarahkan masyarakat pada cara yang tepat, tidak panik tapi tetap waspada. Lalu yang tak kalah penting, ini juga tentang kebijakan. Hoiiii.... Jokowi, gerakkan sumberdaya Indonesia untuk mengawasi dan mengatasi Corona. Soal ekonomi dan pariwisata tetep diperhatikan, tapi yang diangkat mesti keselamatan jiwa setiap manusia, semua manusia Indonesia.
Friday, February 28, 2020
Kebodohan itu Malapetaka
Coba, aku aku nulis judul seperti itu: Kebodohan itu Malapetaka. Apa yang kalian pikir? Langsung ingat 10 orang anak SMP Turi yang meninggal itu kan? Itu karena aku tulis saat ini, saat berita tentang 10 pelajar yang tewas saat susur sungai dalam acara Pramuka.
Kejadiannya sendiri terjadi pada ... Diikuti oleh lebih dari 200 pelajar tanpa persiapan yang memadai, tanpa perlengkapan yang menunjang dan tanpa pengetahuan yang cukup. Dan saat malapetaka itu terjadi, hanya 4 orang pendamping yang bersama mereka.
Selain kebodohan, apa lagi yang bisa kukatakan tentang penyebab malapetaka itu? Karena hujan? Karena pasang sungai? Karena mereka ndak bisa berenang? Karena mereka ndak tahu apa-apa tentang sungai? Karena mereka takut melawan guru? Aduhhhh...
Kejadiannya sendiri terjadi pada ... Diikuti oleh lebih dari 200 pelajar tanpa persiapan yang memadai, tanpa perlengkapan yang menunjang dan tanpa pengetahuan yang cukup. Dan saat malapetaka itu terjadi, hanya 4 orang pendamping yang bersama mereka.
![]() |
| Pelajaran apa yang diambil oleh anak-anak itu? |
bodoh » ke.bo.doh.an
- n perihal bodoh; ketidaktahuan
- n kekeliruan; kesalahan
Di dalam kamus bahasa Indonesia, dikatakan kalau kebodohan itu artinya perihal bodoh, atau ketidaktahuan. Lalu juga bisa diartikan kekeliruan atau kesalahan. Dan itulah yang menjadi penyebab 10 orang meninggal dengan cara yang mengenaskan. Sekolah yang diwakili para guru pendamping Pramuka itu melakukan perihal bodoh, tidak tahu apa-apa tentang yang akan mereka lakukan. Dan mereka melakukan kekeliruan atau kesalahan saat itu.
Inget apa lagi kalau mbaca judul di atas tuh? Inget Bu Sitti? Iya, Sitti dengan t doble dari KPAI. Membayangkan omongannya yang ngawur itu auhhhh... malapetaka super dah. Atau ingat hal-hal lain?
Inget apa lagi jallll?
Thursday, February 27, 2020
Rabu Abu untuk Mulai Puasa 40 Hari
Rabu Abu tahun 2020 terjadi pada Rabu, 26 Februari 2020. Hari ini sangat spesial bagi umat Katolik, aku termasuk di dalamnya. Hari Rabu Abu biasanya aku sambut dengan perasaan yang 'kosong', 'telanjang', seperti orang yang menanggalkan bajunya untuk mandi. Suasana hati yang mendominasi adalah senyap, antara senang karena 40 hari lagi akan mengalami Paskah, namun juga merasa meriyang kayak orang yang rindu dendam memendam segala rasa tanpa bisa dijabarkan.Hehehe, pasti ini gambaran yang lebay. Tapi memang yang muncul seringkali seperti itu.
Praktisnya, sehari sebelum Rabu Abu pasti ada percakapan dengan seluruh anggota keluarga tentang cara kami akan menjalani puasa dan pantang. Tentu saja kami memakai patokan Gereja, tapi Gereja juga memberi keleluasaan untuk memilih model puasa yang akan kami jalankan.
Tahun ini nyaris sama dengan tahun-tahun lalu, pantang daging kaki empat dan unggas kecuali pemberian. Iyalah, karena kami juga pantang membuang makanan. Kami juga pantang hidup hedonis. Artinya kami akan menikmati mati raga dan lelaku ugahari. Makan kenyang satu kali dalam sehari juga akan diterapkan sekuat mungkin. Jajanan akan dikurangi, pikiran untuk bernikmat-nikmat dihilangkan, lalu mengumpulkan hasil 'penghematan' karena puasa dan pantang sebagai sarana amal.
Aku sendiri terlalu sibuk menjelang Rabu Abu ini sehingga masih berpikir pengin beli ini itu dulu sebelum puasa sebagai persediaan, juga untuk beberapa kebutuhan. Pun ditambah dengan kesempatan libur satu hari yang kuambil saat Rabu Abu sebagai kesempatan untuk kencan berkualitas dengan Bernard. Saat menerima abu di Gereja pun aku terganggu oleh pikiranku sendiri yang terlalu sibuk memikirkan ini itu, belum lagi gerimis menimpa kepalaku karena ndak kebagian kursi di dalam Gereja (Gereja Katolik di kota Bandarlampung tak pernah cukup menampung seluruh umatnya walau sudah dibikin jadwal ibadat beberapa kali dalam sehari. Negara menjamin kami semua punya tempat ibadat yang memadai? Huh.)
Hiruk pikuk pikiranku juga tentang kisah-kisah yang terakhir-terakhir ini sampai kepadaku tentang Bangun Samudra, Steven, Felix, Irene Handono, dan seterusnya dan seterusnya. Huuuu.... tidak. Aku tidak terganggu oleh mereka. Tapi agak serem melihat respon para penyanjung mereka yang tak bisa melihat beberapa bagian bohong yang sudah dikatakan oleh para mualaf ini dengan nada percaya diri pada jelas-jelas salah.
Ambil satu contoh saja dari Bangun Samudra. Misal: Bangun mengatakan Dewan Gereja Indonesia lapor ke Vatikan tentang 'mobil enak' yang disukai seorang pendeta. Lha yo apa hubungannya Dewan Gereja Indonesia dengan Vatikan? Itu lain lembaga, lain agama, lain urusan. Hadeh. Belum lagi kalau mereka menyitir cuplikan-cuplikan Alkitab. Hampir semuanya salah, salah blas blas blas. Lagian apa efeknya sih ngambil cuplikan Alkitab itu bagi mereka? Menguatkan iman mereka kah? Belum lagi kebohongan (pasti bohong) soal tahapan sekolah yang pernah dilaluinya. Hal-hal semacam itu pasti dikatakan oleh orang yang ndak ngerti kalau tahapan menjadi pastur lewat seminari, sekolah tinggi juga tahun pastoral dan sebagainya. Belum lagi soal gaya hidup yang ada di sana. Lha para calon pastur itu dilatih untuk ekstreem dalam penerapan ketaatan, kemurnian dan kemiskinan lho. Dengarkan kisah para mantan seminaris atau para pastur betulan bagaimana mereka harus disiplin ikut aturan dan makan makanan yang sederhana pada masa pendidikan. Hadehhhh...
Huh, sebenarnya aku ndak harus mikir hal-hal kayak gitu sih apalagi ini masuk dalam pra paskah, masa puasa. Tapi kalau banyak yang share video atau tulisan tentang hal itu dan jelas-jelas salah tapi malah dipuji-puji oleh pengikutnya kok ya rasaku jadi sebel banget nget nget nget.
Sekarang masa puasa bagi umat Katolik. 40 hari berpuasa dan berpantang. Tapi tak harus takut atau segan, karena kami melalui masa ini dengan biasa. Eh, jelas akan bertambah jam-jam doa kami misal pada hari Jumat ada Jalan Salib lalu pada hari-hari tertentu ada pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan). Tapi selebihnya ya biasa saja.
Praktisnya, sehari sebelum Rabu Abu pasti ada percakapan dengan seluruh anggota keluarga tentang cara kami akan menjalani puasa dan pantang. Tentu saja kami memakai patokan Gereja, tapi Gereja juga memberi keleluasaan untuk memilih model puasa yang akan kami jalankan.
Tahun ini nyaris sama dengan tahun-tahun lalu, pantang daging kaki empat dan unggas kecuali pemberian. Iyalah, karena kami juga pantang membuang makanan. Kami juga pantang hidup hedonis. Artinya kami akan menikmati mati raga dan lelaku ugahari. Makan kenyang satu kali dalam sehari juga akan diterapkan sekuat mungkin. Jajanan akan dikurangi, pikiran untuk bernikmat-nikmat dihilangkan, lalu mengumpulkan hasil 'penghematan' karena puasa dan pantang sebagai sarana amal.
Aku sendiri terlalu sibuk menjelang Rabu Abu ini sehingga masih berpikir pengin beli ini itu dulu sebelum puasa sebagai persediaan, juga untuk beberapa kebutuhan. Pun ditambah dengan kesempatan libur satu hari yang kuambil saat Rabu Abu sebagai kesempatan untuk kencan berkualitas dengan Bernard. Saat menerima abu di Gereja pun aku terganggu oleh pikiranku sendiri yang terlalu sibuk memikirkan ini itu, belum lagi gerimis menimpa kepalaku karena ndak kebagian kursi di dalam Gereja (Gereja Katolik di kota Bandarlampung tak pernah cukup menampung seluruh umatnya walau sudah dibikin jadwal ibadat beberapa kali dalam sehari. Negara menjamin kami semua punya tempat ibadat yang memadai? Huh.)
![]() |
| Menanggalkan baju kotor, mandi dan menjadi bersih. |
Ambil satu contoh saja dari Bangun Samudra. Misal: Bangun mengatakan Dewan Gereja Indonesia lapor ke Vatikan tentang 'mobil enak' yang disukai seorang pendeta. Lha yo apa hubungannya Dewan Gereja Indonesia dengan Vatikan? Itu lain lembaga, lain agama, lain urusan. Hadeh. Belum lagi kalau mereka menyitir cuplikan-cuplikan Alkitab. Hampir semuanya salah, salah blas blas blas. Lagian apa efeknya sih ngambil cuplikan Alkitab itu bagi mereka? Menguatkan iman mereka kah? Belum lagi kebohongan (pasti bohong) soal tahapan sekolah yang pernah dilaluinya. Hal-hal semacam itu pasti dikatakan oleh orang yang ndak ngerti kalau tahapan menjadi pastur lewat seminari, sekolah tinggi juga tahun pastoral dan sebagainya. Belum lagi soal gaya hidup yang ada di sana. Lha para calon pastur itu dilatih untuk ekstreem dalam penerapan ketaatan, kemurnian dan kemiskinan lho. Dengarkan kisah para mantan seminaris atau para pastur betulan bagaimana mereka harus disiplin ikut aturan dan makan makanan yang sederhana pada masa pendidikan. Hadehhhh...
Huh, sebenarnya aku ndak harus mikir hal-hal kayak gitu sih apalagi ini masuk dalam pra paskah, masa puasa. Tapi kalau banyak yang share video atau tulisan tentang hal itu dan jelas-jelas salah tapi malah dipuji-puji oleh pengikutnya kok ya rasaku jadi sebel banget nget nget nget.
Sekarang masa puasa bagi umat Katolik. 40 hari berpuasa dan berpantang. Tapi tak harus takut atau segan, karena kami melalui masa ini dengan biasa. Eh, jelas akan bertambah jam-jam doa kami misal pada hari Jumat ada Jalan Salib lalu pada hari-hari tertentu ada pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan). Tapi selebihnya ya biasa saja.
Monday, February 24, 2020
Menari Mengikuti Vibrasi Semesta
Harusnya ini kutulis bulan Januari lalu saat pikiranku masih segar usai mengikuti Srawung Seni Sawah di Merbau Mataram Lampung Selatan, 9 Januari 2020. Tapi beberapa pikiran, kesibukan ragawi, juga rasa yang masih hilir mudik membuatku abai pada kekayaan-kekayaan yang kudapatkan dari moment sederhana itu.
Tentang acara itu sendiri bisa kuceritakan kalau aku mendapat flyernya dari salah satu yang punya gawe, Kang Agus dari Sanggar Sangisu. Di antara ucapan Natal, Kang Agus menyertakan info acara Srawung Seni Sawah. Aku mengingatnya dengan baik karena kemudian iklan-iklan acara ini berkeliaran diantara postingan teman-teman di IG sehingga beberapa hari sebelum acara aku kontak GB untuk melihat kemungkinan nebeng motornya. Aku ndak yakin mampu membawa motor sendiri ke lokasi itu tanpa keluhan sakit pinggang, masuk angin atau apalah-apalah.
Seluruh rangkaian itulah yang membantuku sampai di Merbau Mataram. Keramaian membuatku terpojok di keheningan sawah, di pinggir 'kalangan' yang disiapkan sebagai arena menari. Dan di situlah aku menikmati seluruh acara berjalan.
Secara pelahan aku mempunyai ingatan tentang Mbah Prapto yang sudah meninggal beberapa minggu sebelum acara ini digelar. Tidak, aku tidak kenal langsung dengan penari gaek itu. Tapi aku tak asing dengannya dan rasanya aku mencicip sedikit dengan yang disebutnya sebagai joget amerta.
Dalam keheningan sawah yang ramai itu, aku mengingat pada suatu masa dulu, saat aku masih belum menikah, SMA di tahun terakhir lalu saat mahasiswa dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, aku mulai menganggap tari sebagai terapi. Ini kuyakini karena tarian yang kulakukan sebebas hatiku itu berdampak sangat baik bagi seluruh harmoni tubuhku. Membuat jiwaku 'memuai' memenuhi semesta dan berdenyut dalam vibrasi yang harmoni.
Salah satunya ketika aku berada di Kampung Engkurai bersama suku Dayak di Kalimantan Barat. Waktu itu mereka mengajarku tarian sederhana yang berulang-ulang dengan musik yang memakai nada itu-itu saja. Gerak tari ini membuatku mengalami rasa yang sebelumnya hanya bisa kudapat dari meditasi.
Saat itu, gerakan sederhana itu kemudian kumunculkan saat aku berjalan di pematang dari satu kampung ke kampung lain. Saat menginjak tanah basah sebelum mencebur ke sungai. Gerak-gerak bebas pun kubuat dalam sadar untuk merasai daun, batang kayu, tanah, udara, batu, dan sebagainya. Kesadaran yang indah. Itulah kesimpulanku saat itu.
Aku sempat pernah melupakan hal ini di awal-awal pernikahan hingga anak-anak sedang bertumbuh di masa kanak-kanak. Lalu kerinduan akan gerak itu muncul saat bangun pagi lihat kucing di dekat pintu. Kucing? Ya, kucing. Pernah lihat kucing molet kan? Dia merenggangkan seluruh tubuhnya, bahkan lidahnya menjulur, menguap, ... Gerak tubuh yang sangat alami. Itulah yang ingin kuulang lagi mulai beberapa tahun yang lalu.
Nah, Mbah Prapto mengingatkanku akan hal-hal semacam itu. Aku punya visi yang sudah mulai kutemukan saat aku masih kuliah dulu. Dan seluruh denyut semesta sebenarnya sudah membantuku sepenuh daya supaya aku mencapainya. Hal menyenangkan itulah yang kurasakan saat bersama dengan banyak orang dalam keriuhan Srawung Seni Sawah. Aku menemukan hal-hal person yang tersambung dengan segala hal.
Obrolan dengan beberapa teman dalam event itu seperti dengung lebah di sekitarku. Menumbuhkan cintaku pada tubuhku. Tubuh yang sempurna yang membantuku secara luar biasa sehingga dapat terhubung dengan seluruh semesta ini. Mulai dari relasi yang terbatas karena aku menyentuhnya, mendengarnya, menciumnya dan sebagainya. Hingga bisa merasai denyut yang begitu jauh dari panca indera, namun benar-benar dapat kuraakan vibrasinya.
Aku kira inilah yang bisa kuambil dari perjalanan ini, supaya aku tidak menghentikan peziarahanku untuk terus mengasah 'awareness', kesadaran,... terus berjalan... sampai entah.
Tentang acara itu sendiri bisa kuceritakan kalau aku mendapat flyernya dari salah satu yang punya gawe, Kang Agus dari Sanggar Sangisu. Di antara ucapan Natal, Kang Agus menyertakan info acara Srawung Seni Sawah. Aku mengingatnya dengan baik karena kemudian iklan-iklan acara ini berkeliaran diantara postingan teman-teman di IG sehingga beberapa hari sebelum acara aku kontak GB untuk melihat kemungkinan nebeng motornya. Aku ndak yakin mampu membawa motor sendiri ke lokasi itu tanpa keluhan sakit pinggang, masuk angin atau apalah-apalah.
Seluruh rangkaian itulah yang membantuku sampai di Merbau Mataram. Keramaian membuatku terpojok di keheningan sawah, di pinggir 'kalangan' yang disiapkan sebagai arena menari. Dan di situlah aku menikmati seluruh acara berjalan.
Secara pelahan aku mempunyai ingatan tentang Mbah Prapto yang sudah meninggal beberapa minggu sebelum acara ini digelar. Tidak, aku tidak kenal langsung dengan penari gaek itu. Tapi aku tak asing dengannya dan rasanya aku mencicip sedikit dengan yang disebutnya sebagai joget amerta.
Dalam keheningan sawah yang ramai itu, aku mengingat pada suatu masa dulu, saat aku masih belum menikah, SMA di tahun terakhir lalu saat mahasiswa dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, aku mulai menganggap tari sebagai terapi. Ini kuyakini karena tarian yang kulakukan sebebas hatiku itu berdampak sangat baik bagi seluruh harmoni tubuhku. Membuat jiwaku 'memuai' memenuhi semesta dan berdenyut dalam vibrasi yang harmoni.
Salah satunya ketika aku berada di Kampung Engkurai bersama suku Dayak di Kalimantan Barat. Waktu itu mereka mengajarku tarian sederhana yang berulang-ulang dengan musik yang memakai nada itu-itu saja. Gerak tari ini membuatku mengalami rasa yang sebelumnya hanya bisa kudapat dari meditasi.
Saat itu, gerakan sederhana itu kemudian kumunculkan saat aku berjalan di pematang dari satu kampung ke kampung lain. Saat menginjak tanah basah sebelum mencebur ke sungai. Gerak-gerak bebas pun kubuat dalam sadar untuk merasai daun, batang kayu, tanah, udara, batu, dan sebagainya. Kesadaran yang indah. Itulah kesimpulanku saat itu.
Aku sempat pernah melupakan hal ini di awal-awal pernikahan hingga anak-anak sedang bertumbuh di masa kanak-kanak. Lalu kerinduan akan gerak itu muncul saat bangun pagi lihat kucing di dekat pintu. Kucing? Ya, kucing. Pernah lihat kucing molet kan? Dia merenggangkan seluruh tubuhnya, bahkan lidahnya menjulur, menguap, ... Gerak tubuh yang sangat alami. Itulah yang ingin kuulang lagi mulai beberapa tahun yang lalu.Nah, Mbah Prapto mengingatkanku akan hal-hal semacam itu. Aku punya visi yang sudah mulai kutemukan saat aku masih kuliah dulu. Dan seluruh denyut semesta sebenarnya sudah membantuku sepenuh daya supaya aku mencapainya. Hal menyenangkan itulah yang kurasakan saat bersama dengan banyak orang dalam keriuhan Srawung Seni Sawah. Aku menemukan hal-hal person yang tersambung dengan segala hal.
Obrolan dengan beberapa teman dalam event itu seperti dengung lebah di sekitarku. Menumbuhkan cintaku pada tubuhku. Tubuh yang sempurna yang membantuku secara luar biasa sehingga dapat terhubung dengan seluruh semesta ini. Mulai dari relasi yang terbatas karena aku menyentuhnya, mendengarnya, menciumnya dan sebagainya. Hingga bisa merasai denyut yang begitu jauh dari panca indera, namun benar-benar dapat kuraakan vibrasinya.
Aku kira inilah yang bisa kuambil dari perjalanan ini, supaya aku tidak menghentikan peziarahanku untuk terus mengasah 'awareness', kesadaran,... terus berjalan... sampai entah.
Thursday, February 20, 2020
Libur Pergantian Tahun 2019 (9): Harus Kembali Juga pada Lampung Tercinta
Kami sudah memesan tiket Kediri - Bandung memakai Kereta Api Malabar pada 2 Januari 2020. Dari Bandung kami akan naik bis Kramat Jati sore hari pada 3 Januari 2020. Lalu dari pagi hingga sore ngapainnn???? Tidak tahu.
Sepanjang perjalanan di kereta aku memancing obrolan tentang hal itu tapi tak ada satupun dari antara para cowok itu yang berminat membahasnya. Mereka semua menjawab seragam:
"Pikir nanti saja deh bu."
Astaga. Aku mana bisa gitu. Jadi aku melihat beberapa kemungkinan:
1. Ke kost Albert (ditolak oleh Albert)
2. Ke Trans Studio (disetujui oleh Albert dan Bernard)
3. Tidur di Nice Hotel, dan langsung kontak pengelolanya (mereka semua bilang, ngapain.)
Jadi, akhirnya aku browsing saja penginapan murah di sekitar Stasiun Kiaracondong. Aku ndak mau hanya nongkrong tak jelas di stasiun atau di suatu tempat. Pengin tidur minimalnya meluruskan badan,

Sampai di Kiaracondong mereka masih tak jelas juga. Jadi kuajak mereka jalan ke D'Papaya Garden, penginapan murah sekitar 900 m dari stasiun. Jalan dikit tak apa, usai itu kan tidur. Hehehe... Di hotel ini kami menghabiskan bekal dari Kediri, rasa capek dari perjalanan sekian lama, ... dan bisa menikmati bis Bandung-Lampung dengan segar plus sekotak nasi Hokben yang panas saat bis mulai keluar dari halaman parkir.
Rasanya aku siap menghadapi apa pun selama tahun 2020 setelah liburan yang luar biasa ini. (Ada beberapa yang belum kutulis soal wisata kuliner dan perjumpaan dengan saudara-saudari. Itu kutulis nanti2 saja. Paling tidak aku punya catatan untuk mengingat segala hal luar biasa yang sudah kami lakukan di akhir tahun. Total seluruh pengeluaran kami mulai dari 22 Desember 2019 hingga 4 Januari 2020 adalah Rp. 6.350.000,-. Selama 13 hari liburan meliputi Lampung - Bandung - Jogja - Kediri - Pare - Dampit - Lumajang - Blitar - Kediri - Bandung - Lampung) Puji Tuhan.
Libur Pergantian Tahun 2019 (8): Kampoeng Anggrek diNgancar Kediri
Turun dari Gunung Kelud, masih menjelang pergantian tahun, lewat Google Map aku melihat banyak sekali ampiran di daerah situ. Pilihan kami akhirnya mengarah pada Kampoeng Anggrek. Lokasinya tidak terlalu jauh menyimpang dari jalan pulang dan gambar-gambar yang dipamerkan lewat berbagai media cukup menarik.
Lagi-lagi ada tiket masuk. Seperti beberapa lokasi wisata lain yang buanyak tersebar di Kediri. Kayaknya Kediri lagi membangun sarana wisata yang serius di banyak titik. Kulihat ada Kampoeng India, Korea, Jepang, juga macam-macam lagi di berbagai daerah. Masuk ke Kampoeng Anggrek ini ndak hanya berjumpa dengan anggrek mulai dari pembibitan di lab hingga mekar cantiknya anggrek, tapi juga ada bunga-bunga lain, juga kafe dan rumah coklat.
Target kami sih memang hanya bersantai, sembari foto-foto sedikit. Heran juga aku ndak terlalu suka foto di tempat seperti ini. Kayak terlalu rekayasa gitu. Jadi ya foto sesukanya saja, sambil menikmati yang bisa dinikmati. Empat cowok dalam rombongan menjadi bodyguard yang kukuh bagiku. Hehehe... serasa dikawal oleh para penjaga yang keren.
Macem2 pula tingkah keturunan Pak Soeliham itu. Ini contohnya, Albert dengan bunga cantik putih.
Nah, lihat. Bener kan. Seperti dikawal bodyguard keren ke mana-mana si inces nih.
Kru capek memenuhi bangku tanpa menyisakan untuk Inces cantik. Dari ujung: Denmas Hendro, sopir dan tukang poto. Albert, tukang pukul. Erlo, tukang makan dan negosiator ulung. Bernard, si penghibur nan lembut hati. Heheheh...
"Ibuuuu, itu tidak dijual. Jangan dipilih."
"Waduh, tannnn... jangan itu yang diminta."
Padahal aku cuma nunjuk-nunjuk doang. Huh.
Tukang poto ingin juga sekali-kali berpose dipoto.
Lagi-lagi ada tiket masuk. Seperti beberapa lokasi wisata lain yang buanyak tersebar di Kediri. Kayaknya Kediri lagi membangun sarana wisata yang serius di banyak titik. Kulihat ada Kampoeng India, Korea, Jepang, juga macam-macam lagi di berbagai daerah. Masuk ke Kampoeng Anggrek ini ndak hanya berjumpa dengan anggrek mulai dari pembibitan di lab hingga mekar cantiknya anggrek, tapi juga ada bunga-bunga lain, juga kafe dan rumah coklat.
Target kami sih memang hanya bersantai, sembari foto-foto sedikit. Heran juga aku ndak terlalu suka foto di tempat seperti ini. Kayak terlalu rekayasa gitu. Jadi ya foto sesukanya saja, sambil menikmati yang bisa dinikmati. Empat cowok dalam rombongan menjadi bodyguard yang kukuh bagiku. Hehehe... serasa dikawal oleh para penjaga yang keren.
Macem2 pula tingkah keturunan Pak Soeliham itu. Ini contohnya, Albert dengan bunga cantik putih.
Nah, lihat. Bener kan. Seperti dikawal bodyguard keren ke mana-mana si inces nih.
Kru capek memenuhi bangku tanpa menyisakan untuk Inces cantik. Dari ujung: Denmas Hendro, sopir dan tukang poto. Albert, tukang pukul. Erlo, tukang makan dan negosiator ulung. Bernard, si penghibur nan lembut hati. Heheheh...
"Ibuuuu, itu tidak dijual. Jangan dipilih."
"Waduh, tannnn... jangan itu yang diminta."
Padahal aku cuma nunjuk-nunjuk doang. Huh.
Tukang poto ingin juga sekali-kali berpose dipoto.
Libur Pergantian Tahun 2019 (7): Gunung Kelud yang Selalu Berubah
Banyak kali kami pergi ke Gunung Kelud, dan setiap kali ke sana selalu tak pernah sama. Dulu ada terowongan, ada permandian air panas, lalu meletus, beberapa kali hingga banyak perubahan terjadi. Kali ini pun menjelang akhir tahun (31 Desember 2019), kembali kami mengunjungi Kelud.
Kelud tampak teduh hari itu, gagah, tapi malu-malu berselimut kabut dan mendung. Semakin kami mendekatinya semakin turun mendung tebal hingga menjadi hujan deras. Antrean panjang kendaraan di post terakhir sebelum kawahnya.
"Kita parkir sini saja yukkk." Usulku ragu-ragu. Aku sendiri sangat ingin sampai ke kawahnya, tapi hujan deras membuatku kuatir. Lebih baik berhenti dan menikmatinya di situ.
Maka Mas Hen memutar mobil dengan bantuan petugas parkir, lalu memarkirnya di depan warung. Hujan deras dan dingin. Anak-anak langsung pesan makanan hangat beberapa saat setelah pantat kami menempel di tikar pandan di warung itu. Ada bakso tusuk, ada mi instan dan kopi. Juga gorengan. Albert dan Erlo memesan mi doble plus telur. Beberapa saat kemudian satu pesanan datang. "Kok dikit amat, kami minta doble kok." Denmas Hendro senyam senyum menerima mangkok mi. Rupanya sebelum semuanya pesan, dia udah duluan menemui tukang warung minta mi dan kopi. Ealahhhh...
Bernard bersantai dengan bakso tusuknya sambil nongkrong dengan bayi salah satu pengunjung yang juga berteduh di warung itu. Aku bergembira mencicip dari satu mangkok ke mangkok lain, juga sebuah besar buah naga merah yang segarrr.... Kelud merangkumkan lengan-lengannya yang dingin, membuat kami hanya bergembira menikmati. Aku tahu Mas Hen masih penasaran pengin mendekati kawah Kelud, tapi kekuatan batinku (hihihi) menolaknya. Pikirku terlalu bahaya dalam kondisi cuaca seperti itu. Dan rasanya duduk begini di warung pun sudah sangat nikmat.
Usai dari sana kami mencari nanas yang murah meriah disodorkan oleh pedagang-pedagang di sepanjang jalan. Bahkan dijual sangat murah. Tapi sebelum mendapat nanas kami malah mendapatkan duren. Huaaaa... nikmat banget nongkrong di pinggir jalan menikmati duren yang legit (walau harganya mihilll).
Sampai kami jauh dari kawah Kelud, semuanya serba kelabu dengan mendung tebal dan basahhh....
Kelud tampak teduh hari itu, gagah, tapi malu-malu berselimut kabut dan mendung. Semakin kami mendekatinya semakin turun mendung tebal hingga menjadi hujan deras. Antrean panjang kendaraan di post terakhir sebelum kawahnya.
"Kita parkir sini saja yukkk." Usulku ragu-ragu. Aku sendiri sangat ingin sampai ke kawahnya, tapi hujan deras membuatku kuatir. Lebih baik berhenti dan menikmatinya di situ.
Maka Mas Hen memutar mobil dengan bantuan petugas parkir, lalu memarkirnya di depan warung. Hujan deras dan dingin. Anak-anak langsung pesan makanan hangat beberapa saat setelah pantat kami menempel di tikar pandan di warung itu. Ada bakso tusuk, ada mi instan dan kopi. Juga gorengan. Albert dan Erlo memesan mi doble plus telur. Beberapa saat kemudian satu pesanan datang. "Kok dikit amat, kami minta doble kok." Denmas Hendro senyam senyum menerima mangkok mi. Rupanya sebelum semuanya pesan, dia udah duluan menemui tukang warung minta mi dan kopi. Ealahhhh...
Bernard bersantai dengan bakso tusuknya sambil nongkrong dengan bayi salah satu pengunjung yang juga berteduh di warung itu. Aku bergembira mencicip dari satu mangkok ke mangkok lain, juga sebuah besar buah naga merah yang segarrr.... Kelud merangkumkan lengan-lengannya yang dingin, membuat kami hanya bergembira menikmati. Aku tahu Mas Hen masih penasaran pengin mendekati kawah Kelud, tapi kekuatan batinku (hihihi) menolaknya. Pikirku terlalu bahaya dalam kondisi cuaca seperti itu. Dan rasanya duduk begini di warung pun sudah sangat nikmat.
Usai dari sana kami mencari nanas yang murah meriah disodorkan oleh pedagang-pedagang di sepanjang jalan. Bahkan dijual sangat murah. Tapi sebelum mendapat nanas kami malah mendapatkan duren. Huaaaa... nikmat banget nongkrong di pinggir jalan menikmati duren yang legit (walau harganya mihilll).
Sampai kami jauh dari kawah Kelud, semuanya serba kelabu dengan mendung tebal dan basahhh....
Wednesday, February 19, 2020
Libur Pergantian Tahun 2019 (6): Gua Tetes yang Membuat Basah Kuyup
Usai dari Candi Penataran, 26 Desember 2019, kami melaju ke arah Malang Selatan untuk lanjut ke Lumajang lewat Dampit, Pronojiwo dan seterusnya. Hujan menyertai kami. Kupikir-pikir kenapa kami ndak menginap di suatu tempat lalu melanjutkan perjalanan besok pagi? Tapi kemana? Tetiba kepikiran Pakde Pahar. Pakde Pahar ini kakaknya bapak Soeliham yang tinggal di Sumbertangkil, Dampit.
"Jauh ndak dari jalan besar?"Tanyaku ke Pak Sopir Hendro.
"Ndak, aku dulu pernah jalan kaki dari rumah Pakde untuk nyegat bis."
Okey, jadilah aku kontak Farah lewat maminya yang di Taiwan. Hihihi, komunikasi yang mantul deh pokoknya. Pesanku ke Farah: kami mau makan enak setiba di rumah. Tapi yang ada hanya nasi, tan. Hehehe... oke. "Kami bawa lauknya. Kau siapin nasi." Jadilah begitu.
Maka begitu sampai Dampit, udah hampir jam 8 malam, kami mampir beli sate, ingat kalau ada telur hangat di kotak dari Mbah Mun. Cukuplah itu.
Farah kuminta untuk share lokasi ke rumah Pakde Pahar. Dan ternyata saudara-saudara, yang dikatakan oleh Pak Sopir Hendro sebagai dekat itu adalah 18 km. Huaaaa.... kami melewati jalan berliku, terjal dan gelap. Dan jam 9 lewat kami baru sampai di rumah Pakde, makan puas, mandi bablas (yang kemudian kusesali karena rupanya kutahu kemudian kalau daerah itu sedang kekurangan air) dan tidur pulas.
Eh, sebentar tentang Gua Tetesnya ya. Gua Tetes itu kami datangi setelah sehari di Senduro, setelah dari Pakde Pahar. Pas pulang dari Lumajang itulah kami mampir Gua Tetes yang kukenal sejak dahulu kala itu. Sayangnya aku ndak dapat info cukup sebelumnya gegara males sehingga jadilah kami datang ke Gua Tetes itu dengan kering kerontang, namun saat pulang jadi basah kuyup. Karena yang disebut Gua Tetes itu bukannya gua dengan tetesan air tapi dengan grojogan air berundak-undak. Kalau hanya diem di bawah saja melihatnya ya rugi banget, jadi kami naik meliwati tangga air, berbasah-basah memakai celana jeans dan baju rapi. Denmas Hendro itulah yang paling bertanggungjawab atas hal ini, tapi dia santai saja. Huhuuuuuu..
Dan sungguh, tidak rugi datang berbasah-basah di sini. Ini tempat yang indah banget terletak di perbatasan Lumajang dan Malang Selatan. Indahhhh....
"Jauh ndak dari jalan besar?"Tanyaku ke Pak Sopir Hendro.
"Ndak, aku dulu pernah jalan kaki dari rumah Pakde untuk nyegat bis."
Okey, jadilah aku kontak Farah lewat maminya yang di Taiwan. Hihihi, komunikasi yang mantul deh pokoknya. Pesanku ke Farah: kami mau makan enak setiba di rumah. Tapi yang ada hanya nasi, tan. Hehehe... oke. "Kami bawa lauknya. Kau siapin nasi." Jadilah begitu.
Maka begitu sampai Dampit, udah hampir jam 8 malam, kami mampir beli sate, ingat kalau ada telur hangat di kotak dari Mbah Mun. Cukuplah itu.
Farah kuminta untuk share lokasi ke rumah Pakde Pahar. Dan ternyata saudara-saudara, yang dikatakan oleh Pak Sopir Hendro sebagai dekat itu adalah 18 km. Huaaaa.... kami melewati jalan berliku, terjal dan gelap. Dan jam 9 lewat kami baru sampai di rumah Pakde, makan puas, mandi bablas (yang kemudian kusesali karena rupanya kutahu kemudian kalau daerah itu sedang kekurangan air) dan tidur pulas.
Eh, sebentar tentang Gua Tetesnya ya. Gua Tetes itu kami datangi setelah sehari di Senduro, setelah dari Pakde Pahar. Pas pulang dari Lumajang itulah kami mampir Gua Tetes yang kukenal sejak dahulu kala itu. Sayangnya aku ndak dapat info cukup sebelumnya gegara males sehingga jadilah kami datang ke Gua Tetes itu dengan kering kerontang, namun saat pulang jadi basah kuyup. Karena yang disebut Gua Tetes itu bukannya gua dengan tetesan air tapi dengan grojogan air berundak-undak. Kalau hanya diem di bawah saja melihatnya ya rugi banget, jadi kami naik meliwati tangga air, berbasah-basah memakai celana jeans dan baju rapi. Denmas Hendro itulah yang paling bertanggungjawab atas hal ini, tapi dia santai saja. Huhuuuuuu..
Dan sungguh, tidak rugi datang berbasah-basah di sini. Ini tempat yang indah banget terletak di perbatasan Lumajang dan Malang Selatan. Indahhhh....
Libur Pergantian Tahun 2019 (5): Candi Penataran yang Romantis
Tanggal 25 Desember 2019 adalah Natal yang hingar bingar di rumah Sembak. Pertama, tentu saja karena banyak tamu yang datang dari sekitar rumah dari segala umur seperti biasa. Kedua, aku punya kesempatan untuk sowan para sepuh dan menikmati jajanan-jajanan. Hehehe. Dan ketiga, ini yang penuh syukur bisa kami lewati adalah Sembak dan sekitarnya keterjang angin puting beliung. Kehebohan puting beliung di sore hari ini memang menghentikan aliran tamu karena semua orang fokus pada pembenahan rumah. Kebanyakan yang rusak adalah genteng rumah. Rumah ibu hanya 2 buah genteng yang jatuh, tidak parah. Tapi air sempat masuk ke rumah juga jadi sore itu para cowok khususnya Albert, Bernard dan bapake kerja bakti mengepel ruang tamu, teras dan dapur. Tiga bagian itu yang basah kuyup plus kotor banget karena puting beliung.
Nah, tanggal 26 Desember rumah pun masih sepi. Kukira semua orang fokus pada rumahnya masing-masing sehingga tidak banyak yang bertandang untuk Natalan. Aku dan mas Hen membuat rencana kilat setelah segala kemungkinan untuk mengumpulkan keluarga Soeliham tidak mendapatkan titik temu. Jadilah kami membuat rencana perjalanan singkat ke Lumajang, pinjam mobil bapak, diawali dengan kunjungan singkat ke Mbah Mun di Pare. Jadilah kami berangkat beriringan dengan Bulik Sri sekeluarga yang akan balik Malang.
Usai dari Mbah Mun, mendapatkan sekotak telur asin dan telur ayam kampung yang masih hangat (hehehe, mantap pokoknya), kami berpisah rombongan dengan Bulik Sri, lanjut ke Lumajang lewat Blitar. Nah, perjalanan ke Blitar ini rupanya sangat asyik. Banyak banget yang ternikmati, salah satunya adalah Candi Penataran. Wowowwww....
Menjelang sore kami sampai di Penataran, agak kebablas dikit, tapi sampai juga di pelataran candi. Gerimis, dan sudah redup sore, membuat kami menikmati ngebolang romantis hingga di puncak candi. Fokusnya hanya foto-foto, dan buanyak foto kami buat. Ini kupasang sedikit saja deh. Pokoknya asyik.
Tak ada tiket masuk candi. Petugas hanya meminta kami mengisi buku tamu dan dana perawatan seiklasnya. Padahal ini kekayaan budaya lho. Bagaimana mereka bisa merawat kelanggengan candi ya? Maka aku sangat iklas memberikan dana itu.
Tentang Candi Penataran lihat Wikipedia saja ya. Pokoknya kalau ada di sekitaran Kediri - Blitar, tengoklah warisan leluhur untuk masa depan ini. Ini tempat yang indah.
Libur Pergantian Tahun 2019 (4): Bukit Dhoho Indah alias BDI
Kebetulan sekali tanggal 23 Desember itu Atik dan keluarganya datang dari Sidoarjo, jadi kami manfaatkan kesempatan menyenangkan itu untuk berkunjung ke BDI atau kepanjang dari Bukit Dhoho Indah. Tempat wisata ini terletak di Tiron, kecamatan Banyakan, kabupaten Kediri. Lokasinya sangat dekat dengan rumah. Beberapa tahun lalu aku pernah juga datang ke sini saat wahana-wahananya belum terlalu banyak dan memang belum selesai pembangunannya.
Saat ini pun tempat ini belum selesai. Masih tampak kalau BDI sedang dikembangkan menjadi pusat wisata yang besar. Waktu itu satu lokasi berisi wahana seperti taman hammock, motor ATV, permainan-permainan untuk anak-anak, juga ada wisata kuliner di dalamnya. Kali ini kami mengunjungi kebun agrowisata yang sedang dikembangkan dengan beberapa tanaman buah. Saat kami datang ada jambu biji dan alpokat yang bisa dipanen. Kami bisa ambil sepuasnya di kebun, lalu ditimbang dibeli untuk dibawa pulang. Namun selain jambu dan alpokat ada buah lain yang juga dijual di penimbangan walau kami tidak petik sendiri yaitu buah naga dan durian. Jadilah kami santap juga buah-buahan itu di pondok depan.
Hmmm.... mungkin suatu ketika nanti ini bakal jadi tempat wisata yang ok. Tapi untuk saat ini ya masih terasa panas n kurang nyaman. Tiket masuk 5000 per orang plus untuk parkir mobil rasanya terlalu mahal, apalagi kami memang tidak berniat mengunjungi wahana-wahana lain. Mungkin nanti kalau sudah jadi, benar-benar jadi bisalah dicoba lagi untuk datang ke mari.
Yang paling menggangguku sebenarnya bukan perkara mahal atau tidak nyamannya tempat ini. Tapi aku datang dengan agak sedih. Lahan berhektar-hektar ini dulunya adalah milik penduduk setempat. Dulu ketika aku masih kanak-kanak beberapa kali bersepeda ke arah sini karena teman-teman SMP ku banyak yang berasal dari Tiron. Namun sekrang tanah ini bukan lagi milik rakyat kebanyakan. Mereka sudah menjualnya pada pemilik modal BDI, yaitu anak perusahaan Gudang Garam. Lahan beratus-ratus hektar entah berapa tepatnya ini akan nyambung juga dengan bandara yang akan dibangun di situ. Gudang Garam sudah berhasil mengambil tanah subur sekian hektar itu dari rakyat Kediri. Ckckck... Kesedihanku ini berbalut dengan berbagai kisah yang kudengar seputaran peralihan kepemilikan ini. Kisah lucu, gembira, sedih, tragis, semuanya ada. Bagiku sendiri: sedihlah yang dominan. Aku pribadi lebih suka lahan itu dimiliki oleh ratusan rakyat daripada dimiliki oleh segelintir orang.
Mestinya ada beberapa foto yang kami buat saat berkunjung di BDI, tapi nanti saja deh.
Saat ini pun tempat ini belum selesai. Masih tampak kalau BDI sedang dikembangkan menjadi pusat wisata yang besar. Waktu itu satu lokasi berisi wahana seperti taman hammock, motor ATV, permainan-permainan untuk anak-anak, juga ada wisata kuliner di dalamnya. Kali ini kami mengunjungi kebun agrowisata yang sedang dikembangkan dengan beberapa tanaman buah. Saat kami datang ada jambu biji dan alpokat yang bisa dipanen. Kami bisa ambil sepuasnya di kebun, lalu ditimbang dibeli untuk dibawa pulang. Namun selain jambu dan alpokat ada buah lain yang juga dijual di penimbangan walau kami tidak petik sendiri yaitu buah naga dan durian. Jadilah kami santap juga buah-buahan itu di pondok depan.
Hmmm.... mungkin suatu ketika nanti ini bakal jadi tempat wisata yang ok. Tapi untuk saat ini ya masih terasa panas n kurang nyaman. Tiket masuk 5000 per orang plus untuk parkir mobil rasanya terlalu mahal, apalagi kami memang tidak berniat mengunjungi wahana-wahana lain. Mungkin nanti kalau sudah jadi, benar-benar jadi bisalah dicoba lagi untuk datang ke mari.
Yang paling menggangguku sebenarnya bukan perkara mahal atau tidak nyamannya tempat ini. Tapi aku datang dengan agak sedih. Lahan berhektar-hektar ini dulunya adalah milik penduduk setempat. Dulu ketika aku masih kanak-kanak beberapa kali bersepeda ke arah sini karena teman-teman SMP ku banyak yang berasal dari Tiron. Namun sekrang tanah ini bukan lagi milik rakyat kebanyakan. Mereka sudah menjualnya pada pemilik modal BDI, yaitu anak perusahaan Gudang Garam. Lahan beratus-ratus hektar entah berapa tepatnya ini akan nyambung juga dengan bandara yang akan dibangun di situ. Gudang Garam sudah berhasil mengambil tanah subur sekian hektar itu dari rakyat Kediri. Ckckck... Kesedihanku ini berbalut dengan berbagai kisah yang kudengar seputaran peralihan kepemilikan ini. Kisah lucu, gembira, sedih, tragis, semuanya ada. Bagiku sendiri: sedihlah yang dominan. Aku pribadi lebih suka lahan itu dimiliki oleh ratusan rakyat daripada dimiliki oleh segelintir orang.
Mestinya ada beberapa foto yang kami buat saat berkunjung di BDI, tapi nanti saja deh.
Libur Pergantian Tahun 2019 (3): Bertemu Bunda Maria di Pohsarang
![]() |
| Hanya ini foto yang sempat dibuat. Di halaman dekat parkir. |
Begitu pun hari itu, setelah mengunjungi Selomangleng, lalu duduk di Gua Maria membuatku merasa tenangggg.... Seperti inilah 'rumah', entah di mana pun itu. Hanya duduk, mendengarkan suara beririk dari para pengunjung namun tak cukup konsentrasi untuk menangkap mereka bicara apa. Sesekali ada burung tertentu yang melintas dengan suaranya. Daun-daun yang tak punya mulut pun bisa menguarkan suaranya yang syahdu, kadang bergemuruh.
Wajah Bunda Maria menatap jauh. Bagusnya, Bunda Maria besar ini memiliki paras yang sangat keibuan, berahang bulat kukuh seperti menggambarkan ketabahan, mirip dengan wajah-wajah para ibu di Pedesaan Pohsarang yang sejak awal sudah biasa bekerja keras di antara bebatuan. Dan seperti itulah memang seorang ibu. Bekerja dengan kaki tangan hati dan pikirannya, dengan suara yang kadang lembut kadang keras kadang tak muncul. Badan otomatis tidak langsing kurus seperti para model, tapi berisi, berotot, tentu saja dengan lemak di bagian-bagian tertentu menandakan kesuburan.
Nah, mengunjungi Pohsarang dengan cara itu membuatku tenang. Tak usah buru-buru, pun tidak memaksakan diri untuk berdoa sepanjang Jalan Salib atau hal-hal lain yang direkayasa. Tenangggg...
Bunda Maria, doakanlah kami anak-anakmu yang masih berziarah di dunia ini dalam suka dan duka.
Tuesday, January 28, 2020
Libur Pergantian Tahun 2019 (2): Gua Selomangleng di Kaki Gunung Klotok Kediri
Hari kedua di rumah Kediri, ibu mengeluhkan selang air kamar mandi untuk air panas. Ibu dan bapak tak tahan mandi dengan air terlalu dingin dan juga susah mengangkat sepanci air panas dari dapur ke kamar mandi. Nah, pemanas air yang ada itu selangnya bocor sehingga tak bisa lagi digunakan oleh mereka dalam waktu beberapa hari. Jadi mumpung mas Hen sedang ada di rumah kugangguin untuk memperbaikinya juga memperbaiki kran air cuci piring yang sudah rusak.
Jadi selepas makan siang, kami pergi ke kota bersama anak-anak dengan niat mencari selang dan keran air. Mencari di beberapa toko, barang yang dimaksud tidak ditemukan. Keran air akhirnya dapat di Mojoroto. Mau pulang kok masih terang benderang.
"Bablas ke Selomangleng yuk."
Sepakat dan kami pun pergi. Gua Selomangleng ini merupakan salah satu obyek wisata di Kediri yang cukup populer sejak jaman dahulu kala. Tapi, herannya, kok aku ndak inget pernah masuk di lokasi ini ya. Payah. Jadi kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Memang sih karena sudah sore kami jadinya tidak bisa mengeksplor Museum Airlangga yang ada di dalam kompleks wisata ini. Tapi minimal kami bisa naik ke gua, bahkan cowok-cowokku bisa naik di atas gua-gua yang ada di situ, lalu nongkrong beberapa saat menikmati angin Kediri yang sedang kuat.

Untuk masuk ke kompleks ini ada tiket yang harus dibayar, plus parkir kendaraan. Aku cari-cari sobekan tiket itu entah nyelip di mana. Tapi aku ingat harganya sangat murah walau lupa persisnya.
Setelah parkir, kami ngikuti saja jalan utama, ada patung Dewi Kilisuci ukuran besar di bagian depan. Di persimpangan ada museum. Ambil jalan ke kiri untuk menuju gua. Banyak penjual jajanan di jalan situ dan rupanya itu yang pertama-tama menarik perhatian Albert dan Bernard. Dasar, jauh2 sampai Selomangleng malah beli bakso tusuk. Jadinya malah nenteng plastik bakso sambil jalan ke gua.
Di kompleks itu ada kolam renangnya juga, persis di samping jalan masuk gua. Niatnya sih foto-foto jadi kolam renang tidak menarik perhatian. Ada juga tempat peribadatan umat Hindu. Taman kebun juga asyik untuk ditongkrongin.
Tapi tentu saja seperti judulnya, bagiku yang paling menarik ya ngunjungi guanya. Yang tampak olehku gua yang ada adalah gua buatan dengan beberapa lorong yang tak berani kumasukin. Hanya sampai pelatarannya saja. Ada patung dan dengan dupa yang masih menyala. Mungkin ada orang yang baru 'semedi' di situ. Lembabnya gua tetap saja terasa apalagi kalau meraba bebatuan kukuhnya.
Dinas Pariwisata Kediri setahuku sering mengadakan event di lokasi gua di kaki Gunung Klotok ini sejak dulu. Pentas seni digelar di depan gua. Lokasinya memang tinggi kayak panggung sedang penonton pun ada di sekitarnya bisa duduk nyaman karena luas dan teduh oleh pepohonan. Saat kami ke sana sih tak ada pementasan apa-apa, tapi bisa cek lewat internet soal pentas-pentas itu.
Jadi selepas makan siang, kami pergi ke kota bersama anak-anak dengan niat mencari selang dan keran air. Mencari di beberapa toko, barang yang dimaksud tidak ditemukan. Keran air akhirnya dapat di Mojoroto. Mau pulang kok masih terang benderang.
"Bablas ke Selomangleng yuk."
Sepakat dan kami pun pergi. Gua Selomangleng ini merupakan salah satu obyek wisata di Kediri yang cukup populer sejak jaman dahulu kala. Tapi, herannya, kok aku ndak inget pernah masuk di lokasi ini ya. Payah. Jadi kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Memang sih karena sudah sore kami jadinya tidak bisa mengeksplor Museum Airlangga yang ada di dalam kompleks wisata ini. Tapi minimal kami bisa naik ke gua, bahkan cowok-cowokku bisa naik di atas gua-gua yang ada di situ, lalu nongkrong beberapa saat menikmati angin Kediri yang sedang kuat.
Untuk masuk ke kompleks ini ada tiket yang harus dibayar, plus parkir kendaraan. Aku cari-cari sobekan tiket itu entah nyelip di mana. Tapi aku ingat harganya sangat murah walau lupa persisnya.
Setelah parkir, kami ngikuti saja jalan utama, ada patung Dewi Kilisuci ukuran besar di bagian depan. Di persimpangan ada museum. Ambil jalan ke kiri untuk menuju gua. Banyak penjual jajanan di jalan situ dan rupanya itu yang pertama-tama menarik perhatian Albert dan Bernard. Dasar, jauh2 sampai Selomangleng malah beli bakso tusuk. Jadinya malah nenteng plastik bakso sambil jalan ke gua.
Di kompleks itu ada kolam renangnya juga, persis di samping jalan masuk gua. Niatnya sih foto-foto jadi kolam renang tidak menarik perhatian. Ada juga tempat peribadatan umat Hindu. Taman kebun juga asyik untuk ditongkrongin.Tapi tentu saja seperti judulnya, bagiku yang paling menarik ya ngunjungi guanya. Yang tampak olehku gua yang ada adalah gua buatan dengan beberapa lorong yang tak berani kumasukin. Hanya sampai pelatarannya saja. Ada patung dan dengan dupa yang masih menyala. Mungkin ada orang yang baru 'semedi' di situ. Lembabnya gua tetap saja terasa apalagi kalau meraba bebatuan kukuhnya.
Dinas Pariwisata Kediri setahuku sering mengadakan event di lokasi gua di kaki Gunung Klotok ini sejak dulu. Pentas seni digelar di depan gua. Lokasinya memang tinggi kayak panggung sedang penonton pun ada di sekitarnya bisa duduk nyaman karena luas dan teduh oleh pepohonan. Saat kami ke sana sih tak ada pementasan apa-apa, tapi bisa cek lewat internet soal pentas-pentas itu.
Friday, January 10, 2020
Libur Pergantian Tahun 2019 (1): Rencana Perjalanan yang Tanpa Target
Dalam seluruh situasi finansialku dan keluarga kecilku, yang sedang fokus pada kuliah Albert, aku tak membayangkan akan merencanakan pulang kampung atau rekreasi sepanjang libur pergantian tahun 2019/2020. Tapi ketika Mas Hen lihat jadwal kereta ekonomi dari Bandung ke Kediri di pertengahan Nopember, aku tergoda. Maka aku pun mendesak untuk memesan tiket kereta api Kahuripan seharga Rp. 83 ribu per orang, berangkat 21 Desember 2019 dan pulang tanggal 2 Januari 2020.
Ketika tiket untuk 4 orang itu sudah terpegang, aku jadi sangat fokus dan semangat untuk liburan santai di rumah ortuku di Kediri. Kubilang ke Mas Hen dan anak-anak :"Kita hanya di rumah uti akung. Tak ada agenda jalan-jalan bahkan tidak ke Lumajang. Mas Hen kontak Ninik dan Atik supaya mereka merapat di Kediri. Kasih aja jadwal kepulangan kita."
Aku memasukkan uang-uang tertentu dalam tabungan liburan, tapi minimalis, pokoke hanya untuk menemani bapak ibu di Kediri saat natal dan tahun baru. Selebihnya mengalir mengikuti situasi.
Sampai kami berangkat tanggal 21 Desember pagi, dengan naik bis dari terminal Rajabasa, lalu oper kapal eksekutif menyeberang selat Sunda, dan juga ketika naik bis menuju Bandung, bahkan saat kami sudah lengkap di kereta Kahuripan (Albert nyusul naik di Lempuyangan Jogja), aku masih berpikir seperti itu, tanpa menutup kemungkinan lain-lain untuk kami nikmati selama liburan.
Yang terjadi kemudian sungguh luar biasa. Ternyata kami berempat bisa menikmati liburan 2 minggu dengan puas, mampir sowan ke beberapa sesepuh dari keluargaku maupun keluarga mas Hen, bahkan bisa tidur semalam di Senduro. Juga mengunjungi beberapa tempat rekreasi seperti Gua Selomangleng, Gua Maria Pohsarang, Bukit Doho Indah, Candi Penataran, Gua Tretes, Gunung Kelud, Kampung Anggrek dan malah menikmati wisata kuliner asyik dari Soto Bok Ijo, sego pecel Mbak Siti, rawon Pring Kuning, rujak cingur Bandar dan sebagainya.
Tidak semua ada fotonya, tapi aku punya ceritanya. Entar kutulis pelan-pelan di awal tahun ini. Tapi supaya aku tetap menjalankan kebiasaanku di awal tahun, aku mesti menuliskan satu misi untuk tahun 2020. Tahun lalu aku menulis kesaksian sebagai misiku sepanjang tahun. Hasil evaluasi personalku, aku belum optimal menjalankannya walau rasanya tubuhku sudah hancur lebur melakukan banyak hal. Huh. Maka, tahun ini aku masih akan melanjutkan kesaksian itu dengan revisi cara-cara yang kugunakan. Aku mau tubuhku menjadi merdeka, jiwaku sehat dan hatiku gembira. Itu yang akan kulakukan sepanjang tahun. Mari kita lihat apa yang bisa kuperbuat di tahun Tikus ini. Macan siap mengaummm....
Ketika tiket untuk 4 orang itu sudah terpegang, aku jadi sangat fokus dan semangat untuk liburan santai di rumah ortuku di Kediri. Kubilang ke Mas Hen dan anak-anak :"Kita hanya di rumah uti akung. Tak ada agenda jalan-jalan bahkan tidak ke Lumajang. Mas Hen kontak Ninik dan Atik supaya mereka merapat di Kediri. Kasih aja jadwal kepulangan kita."
Aku memasukkan uang-uang tertentu dalam tabungan liburan, tapi minimalis, pokoke hanya untuk menemani bapak ibu di Kediri saat natal dan tahun baru. Selebihnya mengalir mengikuti situasi.
Sampai kami berangkat tanggal 21 Desember pagi, dengan naik bis dari terminal Rajabasa, lalu oper kapal eksekutif menyeberang selat Sunda, dan juga ketika naik bis menuju Bandung, bahkan saat kami sudah lengkap di kereta Kahuripan (Albert nyusul naik di Lempuyangan Jogja), aku masih berpikir seperti itu, tanpa menutup kemungkinan lain-lain untuk kami nikmati selama liburan.
Yang terjadi kemudian sungguh luar biasa. Ternyata kami berempat bisa menikmati liburan 2 minggu dengan puas, mampir sowan ke beberapa sesepuh dari keluargaku maupun keluarga mas Hen, bahkan bisa tidur semalam di Senduro. Juga mengunjungi beberapa tempat rekreasi seperti Gua Selomangleng, Gua Maria Pohsarang, Bukit Doho Indah, Candi Penataran, Gua Tretes, Gunung Kelud, Kampung Anggrek dan malah menikmati wisata kuliner asyik dari Soto Bok Ijo, sego pecel Mbak Siti, rawon Pring Kuning, rujak cingur Bandar dan sebagainya.
Tidak semua ada fotonya, tapi aku punya ceritanya. Entar kutulis pelan-pelan di awal tahun ini. Tapi supaya aku tetap menjalankan kebiasaanku di awal tahun, aku mesti menuliskan satu misi untuk tahun 2020. Tahun lalu aku menulis kesaksian sebagai misiku sepanjang tahun. Hasil evaluasi personalku, aku belum optimal menjalankannya walau rasanya tubuhku sudah hancur lebur melakukan banyak hal. Huh. Maka, tahun ini aku masih akan melanjutkan kesaksian itu dengan revisi cara-cara yang kugunakan. Aku mau tubuhku menjadi merdeka, jiwaku sehat dan hatiku gembira. Itu yang akan kulakukan sepanjang tahun. Mari kita lihat apa yang bisa kuperbuat di tahun Tikus ini. Macan siap mengaummm....
Friday, December 13, 2019
Abon Ikan / Ayam ala Yuli Nugrahani
![]() |
| Abon dikemas rapi setelah diolah dengan penuh cinta. |
Eksperimen ini mesti kulakukan karena di Agats aku akan latihan bersama para ibu di sana untuk membuat berbagai macam pangan lokal. Aku yakin di Agats pasti ada macam-macam hasil air laut atau sungai yang bisa diolah menjadi makanan. Selain membuat abon aku juga menyiapkan kue sagu, kue telur gabus, pastel abon dan sebagainya. Soal yang mana nantinya akan dipraktekkan di Agats tidak jadi soal.
Hasil dari eksperimen itu aku kemas dalam kantung-kantung yang memungkinkan untuk digunakan beberapa kali, tanpa perlu dipindah ke toples dan tidak repot untuk menutupnya kembali sehingga tidak melempem. Kulengkapi dengan hitungan bisnisnya andai kata abon-abon itu akan dijual.
Pertanyaan yang sering muncul adalah sebagai berikut:
![]() |
| Ikan patin, lele dan ayam. Siap packing. |
jawab: Ndak, sama sekali tidak ribet. Memang butuh waktu lama dan kudu telaten. Bahkan untuk proses penggorengannya bisa dipakai untuk wiridan sampai beberapa kali putaran. Jadi sambil ngudek bisa sambil mendaraskan doa-doa.
2. Bukannya alat-alatnya harus khusus?
jawab: Tidak. Aku menggunakan alat-alat yang ada di rumah. Kompor, panci, wajan, sutil, sendok, baskom, cobek, solet, blender, alat pres (bisa menggunakan serbet atau kain bersih kalau tak ada). Nah, ada semua di dapur kan alat-alat itu? Kalau pun tak ada tetep bisa diakalin, pakai yang ada saja.
3. Bukannya bahannya susah?
jawab: Tidak. Kita bisa pakai bahan apa saja yang ada. Ikan laut, sungai, ayam atau daging apa saja. Malah aku sedang berpikir untuk membuat dari jamur atau gori/sukun/kluwih.
4. Bukannya hasilnya nyusut menjadi sangat sedikit?
jawab: Betul. Dari 3 kg ikan patin yang kubeli nanti hasil abonnya paling hanya 6 - 8 ons. Kan harus diilangin duri, kulit, kepala, dan ekornya. Habis itu digoreng kering dan dipres pula biar minyaknya hilang.
5. Harganya jadi mahal dong...
jawab: Betul. Harga abon memang mahal. Karena prosesnya lama dan penyusutannya banyak. Memang begitu.
Nah, karena mahal daripada beli di tempatku (bisa pesan di 08127925222), lebih baik buatlah sendiri saja. Ini kubagikan resepnya:
ABON LELE/PATIN/TUNA/AYAM ALA YULI NUGRAHANI
BAHAN:
-
1
kg ikan, buang kepalanya (kepala bisa dibuat pindang)
![]() |
| Abon siap meluncur ke pemesan. |
-
1
ltr Minyak goreng
-
3
batang sereh (kalau ada)
-
3
lembar daun jeruk (kalau ada)
-
6
lembar daun salam (kalau ada)
BUMBU
HALUS:
-
6
siung bawang putih
-
12
siung bawang merah
-
10
butir kemiri
-
1
sendok makan ketumbar
-
Cabai
(kalau mau rasa pedas)
-
1
sendok teh garam (cek rasa)
-
2
sendok makan gula pasir (atau bisa ditambah gula merah, ada ditambah jumlah
kalau mau rasa manis)
-
1
ruas jari jahe (kalau ada)
-
1
rusa jari laos muda (kalau ada)
-
1
ruas jari kunyit (kalau ada)
CARA
MENGOLAH:
-
Rebus
ikan hingga matang, beri sedikit garam pada air, tiriskan.
-
Bersihkan
ikan dari kulit dan duri (kulit bisa dibuat keripik kulit ikan), suwir-suwir.
-
Haluskan
bumbu. Rebus dengan sedikit air hingga aromanya tercium, matang. Masukkan
potongan ikan, bumbu lain-lain, aduk rata, api kecil hingga air mengering.
-
Uleg/tumbuk
ikan yang sudah berbumbu.
-
Goreng
dengan api kecil sambil terus dibolak-balik (30 – 45 menit)
-
Tiriskan
dan press dengan alat press hingga minyaknya keluar.
-
Keluarkan
dari alat press dengan dikerok menggunakan garpu.
-
Jika
tidak ada alat press bisa menggunakan kain dan diperas sampai minyak keluar.
-
Biarkan
dingin dan siap dikemas.
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2019
Tapiii, di Indonesia, kalau bicara tentang gender mau ndak mau bicara tentang perempuan, karena:
1. Korban kekerasan yang sekarang ini terjadi dalam hidup sehari-hari kita paling banyak adalah perempuan (juga anak-anak).
2. Perempuan masih mendapatkan label negatif dalam banyak peran yang dijalankannya.
3. Masih banyak perempuan yang menanggung beban ganda karena pilihan-pilihan sikapnya.
4. Perempuan masih terpinggirkan dalam peluang, akses dan perkembangan ekonomi. Masih ada gap dalam kesejahteraan.
5. Masyarakat masih sering menomorduakan perempuan untuk berbagai macam peran, posisi, dan tanggungjawab sehingga tidak mendapatkan akses dalam pengambilan keputusan maupuan kebijakan publik.
Karena itulah, bicara gender di Indonesia masih terus melekat pada perempuan dan upaya-upaya untuk pemberdayaan perempuan.

Dalam 16 hari kemarin, dari 25 Nopember hingga 10 Desember, menjadi kesempatan untuk melakukan usaha lebih dalam menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Ada banyak moment yang bisa digunakan sepanjang 16 hari itu dengan puncaknya pada 10 Desember sebagai hari Hak Asasi Manusia.
Satu kesempatan kulakukan di Radio Suara Wajar pada Rabu 4 Desember 2019 mengambil slot ruang talkshow ASG yaitu pada pukul 20.00 - 21.30, dengan mensosialisasikan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan, juga mengangkat keprihatinan kuatnya industri sekarang ini menjadikan perempuan sebagai korban melalui diskriminasi-diskriminasi langsung maupun tidak langsung. Misal standar kecantikan: kulit putih, rambut lurus, pipi tirus dan sebagainya. Perempuan yang sebaliknya seperti kulit hitam, rambut keriting dan pipi cubby menjadi obyek bullyan, dianggap tidak cantik, dan 'dipaksa' dengan segala macam 'permak' untuk mengubah kondisi fisiknya.
Wednesday, December 11, 2019
Perjalanan ke Agats (5): Masa Depan Anak-anak Papua
![]() |
| Bersama pelajar Agats di Aula Bupati Agats |
![]() |
| Bersama Goan dan buku-bukuku. |
![]() |
| Anak-anak cantik di depan Museum Asmat. |
![]() |
| Gadis-gadis cantik yang suaranya luar biasa |
![]() |
| Anak-anak asrama |
Dalam perjalanan ke Agats kali ini (19 - 26 Nopember 2019), aku mendapatkan beberapa kesempatan bertemu dengan anak-anak dan remaja Papua. Kesempatan pertama (di bagian awal dan akhir perjalanan) aku bertemu dengan anak-anak di asrama yang dikelola oleh suster-suster di Timika. Mereka adalah anak-anak asli Papua yang mendapatkan didikan 'keras' pada usianya yang sangat dini, usia SD, masih sangat 'bayi' kalau aku ingat Albert dan Bernard, anak-anakku.
Saat berkunjung ke asrama ini spontan aku ingat tulisan Rm. Mangun tentang Asrama Mendut di samping Sungai Elo yang dibangun untuk mendidik gadis-gadis Jawa. Para suster Belanda dikisahkan sangat 'prihatin' dengan para gadis kecil yang bodoh ingusan tak tahu apa-apa, maka mereka dididik sangat keras dengan disiplin Eropa untuk membuat mereka menjadi perempuan-perempuan mandiri dan handal menghadapi hidup. Termasuk juga tulisan itu dengan para bujangnya di asrama Van Lit yang tak jauh dari situ.
Para muda Papua itu pun juga mendapatkan gemblengan dari para suster yang kebanyakan dari luar Papua. Mereka dipaksa untuk tertib mengikuti seluruh aturan dari para suster yang jelas sekali sebagiannya galak dan bersiap untuk menghardik kalau ada kesalahan-kesalahan.
"Pun begitu mereka tetap saja menggunakan waktu tidur siang para suster untuk keluyuran mencari buah-buahan yang tumbuh di halaman tetangga asrama," kata Rm. Gun, seorang pastur yang bertugas di SCJ, tak jauh dari asrama.
Aku tertawa saja sepanjang kunjungan singkat di asrama itu, melihat bagaimana mereka hidup secara 'mandiri' jauh dari orang tua mereka di kampung-kampung jauh. Katanya drama hebohnya ya terjadi saat mereka mulai masuk asrama (jan mirip dengan kisah Mendut), bahkan ada yang melarikan diri berusaha pulang ke kampungnya dengan segala cara.
Perjumpaan kedua dengan anak-anak Papua terjadi di Aula Kantor Bupati saat seminar. Aku bersama dengan Sr. Natalia OP memberikan dasar-dasar gender, bagaimana pergaulan sehat dan sebagainya untuk anak-anak pelajar dari berbagai sekolah di Agats. Anak-anak dari berbagai sekolah SMP dan SMA itu rupanya dipilih dari para aktifis sekolah, yang sudah biasa berorganisasi dan biasa untuk aktif. Mereka bisa menyampaikan buah pikiran mereka dengan baik, berani dan tidak malu-malu. Malah dengan mudah mereka membantu menghidupkan suasana pertemuan saat kami minta untuk bernyanyi dan bergerak.
Lalu perjumpaan-perjumpaan selanjutnya ada beberapa kali seperti di Kopi Bakau, para muda yang berkreasi dengan kopi dan menyediakan tempat untuk nongkrong. Lalu sebuah percakapan agak mendalam dengan Goan, guru muda asli Wamena yang tinggal dan besar di Agats. Dia lulusan pendidikan guru di Sanata Darma, dan masih punya banyak impian untuk masa depannya.
"Sa belum kepikir untuk menikah, kak. Belum menemukan orang yang cocok di Agats ini. Lagi pula sa masih ingin kuliah lagi S2 seusai kontrak dengan sekolah selesai."
Dia menceritakan aktifitasnya masa kuliah yang dia sukai, seperti naik gunung, juga menari. Kau bisa menari? Aku memandang tak percaya tubuhnya yang 'gagah', ya, dia gadis manis yang gagah.
"Bisa, kak. Sa bisa menari jaipong, tari bali, dan lain-lain."
"Tarian papua?"
"Tentu saja bisa." Jawabnya mantap dan percaya diri.
Dia menyampaikan beberapa pemikirannya sembari menemaniku keliling pasar Agats, bercerita tentang keprihatinannya akan harga-harga yang sangat mahal di Papua, minimnya fasilitas, susahnya mendapatkan akses pelatihan untuk mengembangkan diri dan sebagainya. Aku menangkap kerinduannya untuk terus maju dan belajar. Dia ingin tidak disekat oleh Agats yang terpencil tapi juga sertamerta dia ingin ikut mengembangkan Agats agar mampu bergerak maju seperti pikirannya.
Kegirangannya tampak jelas ketika aku memberikan dua bukuku padanya setelah aku tahu bahwa dia suka menulis. Goan mungkin tidak mewakili seluruh Papua, tapi dia adalah masa depan Papua, dan aku yakin banyak anak muda Papua yang seperti Goan, siap mengembangkan diri sekaligus mengembangkan Papua.
Subscribe to:
Posts (Atom)
































