Tuesday, February 27, 2018

RAT KSP Kopdit Mekar Sai Tahun Buku 2017, Swiss Belhotel Lampung 25 Februari 2018



RILIS:

MEMPERKOKOH PERSAHABATAN
DENGAN TEKNOLOGI FINANSIAL UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA
Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kodpdit Mekar Sai Tahun Buku 2017


                Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke 26 tahun buku 2017 KSP Kopdit Mekar Sai diadakan di Ballroom Swiss-Belhotel, Bandarlampung pada Minggu, 25 Februari 2018. Menurut rencana, RAT dimulai pukul 10.00 dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Propinsi Lampung, Satria Alam. Agenda utama RAT akan dilaksanakan dalam dua sidang, yang pertama untuk mendengarkan laporan dan rencana kerja kepengurusan, dan yang kedua untuk pembahasan.
Tema yang diangkat pada RAT adalah Memperkokoh Persahabatan dengan Teknologi Finansial untuk Kesejahteraan Bersama. Menurut Ketua Dewan Pengurus Kopdit Mekar Sai, Andreas Muhi Pukai, tema ini memiliki tiga kata kunci yang sedang menjadi fokus dalam rencana program dalam tahun ini. Pertama, adalah persahabatan. “Dalam lambang koperasi, kata persahabatan muncul lewat gambar rantai yang tak terputus, menggambarkan salah satu sifat dari koperasi yang ingin dibangun oleh Mekar Sai yaitu sifat persahabatan yang kokoh, kekeluargaan, kebersamaan menuju kesejahteraan,” ungkap Andre.
Kata kunci yang kedua adalah teknologi finansial. Di dalamnya tercakup impian Mekar Sai untuk mengikuti perkembangan teknologi yang mau tidak mau menjadi sarana untuk berbagai kemudahan. Teknologi finansial terus menerus digunakan oleh Mekar Sai untuk mempermudah, mempercepat dan memperluas jangkauan pelayanan koperasi terhadap anggota.
“Ketiga yang tidak boleh diabaikan adalah kesejahteraan bersama. Ini sesuai juga dengan tema hari koperasi internasional tahun lalu: "Co-operative ensure no one is left behind". Tidak boleh ada satu pun dari anggota tertinggal ketika koperasi dinyatakan sedang berkembang. Semua anggota tanpa kecuali harus mendapatkan kesejahteraan karena keanggotaannya di Mekar Sai,” tandas Andre.
Tema RAT tersebut juga diterjemahkan dalam rangkaian acara RAT, yang dimulai sehari sebelum puncak acara. Sarasehan diadakan pada Sabtu, 24 Februari 2018 pukul 09.30 – 12.00 mengundang generasi muda dari berbagai komunitas dengan narasumber Anis Saadah, penggiat koperasi dari Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo), Jakarta. Sarasehan dilakukan di Kantor Mekar Sai, Pahoman, Bandarlampung, ingin menunjukkan bahwa orang muda mempunyai ruang yang sangat luas dalam koperasi sekaligus mempunyai peluang besar untuk mendapatkan manfaat dari koperasi. Pada hari yang sama setelah sarasehan diadakan penarikan undian, sebagai bentuk penyemangat bagi anggota Mekar Sai yang aktif dalam gerak dan perkembangan koperasi.
Ini adalah pertama kalinya Kopdit Mekar Sai mempercayakan panitia inti RAT pada para ibu. “Saat menentukan kepanitiaan inti kami mempertimbangkan kapasitas dan kompetensi dari tiap orang. Bahwa ternyata nama-nama yang muncul adalah nama-nama para ibu, ini adalah nilai lebihnya karena pada kenyataannya peran para ibu sangat besar dalam pencapaian kesejahteraan keluarga maupun dalam koperasi.” Jelas Andre. ***

Kontak person :
Ketua Panitia RAT : Ch. Dwi Yuli Nugrahani 
Ketua Dewan Pengurus: Andreas Muhi Pukai 

Saturday, February 24, 2018

Puisi Sabtu 16: SEGITIGA BERMUDA karya Lusia Yuli Hastiti


SEGITIGA BERMUDA

bila kutelusuri sisi miringnya yang pertama
aku bertemu dengan sebuah masa
di mana aku terbiasa bermain cahaya
dan tertawa bersama sebuah bintang muda

sisi miring lainnya
aku akan bertemu dengan masa
di mana aku berada di gelanggang
angan terbuka menatap bulan sambil bercengkerama

satu hal yang membuatku terpedaya
saat aku berada pada pusaran
di tengahnya membuat badan tiada berkuasa
saat kedua sisi miring itu mencipta getaran di dada

Lampung Timur, 24 Januari 2018

------------


Lusia Yuli Hastiti, lahir di Girimulyo, pada 8 Juli 1989. Setelah lulus dari universitas, dia bekerja sebagai guru di SMP PGRI 3 Marga Sekampung, Lampung Timur, Lampung. Kesukaannya pada puisi membuat dia aktif membaca dan menulis puisi. Kecintaannya yang lain adalah anak-anak.

Monday, February 19, 2018

Kesalahan Puisi Esai itu Bukan Hanya Urusan Denny JA atau Saut Situmorang

Kalau aku harus menulis tentang puisi esai sekarang ini, bukan berarti aku sedang kurang kerjaan. Aku harus segera menuliskannya karena kalau tidak aku akan diare berkepanjangan. Anggap saja proses menulisku ini semacam resep obat penyembuh diare. Atau, kalau hal semacam ini dianggap sebagai sesuatu yang ndak tepat, ya anggap saja ini sebagai penghiburan bagiku supaya lebih sehat, lebih waras.

Apakah kalian pernah membaca Pengakuan Pariyem, yang ditulis oleh Linus Suryadi AG dipublikasi tahun 1981? Bagaimana kalian menyebutnya? Ada yang mengatakan itulah novel, dengan model puisi. Ada yang menyebut puisi prosa. Atau aku, menyebutnya sebagai prosa liris/lirik. Kusebut demikian, seperti juga banyak orang menyebutnya, karena semua unsur dalam prosa dipenuhi oleh Linus. Ada tokoh, ada alur cerita, ada latar tempat, waktu dan sebagainya. Mesti ada keterangan tambahan, karena Pengakuan Pariyem tidak bisa disebut begitu saja sebagai prosa. Linus menuliskannya dalam bentuk deret-deret kalimat menyerupai puisi, dengan bait-bait, pemotongan-pemotongan tiap barisnya dan pilihan kata yang bisa membawa pembacanya pada perasaan tertentu.

Apakah tulisan sejenis ini adalah puisi? Iya. Tapi tidak bisa dikatakan juga sebagai hanya puisi. Dia mengandung 'prosa'. Unsur-unsur puisi dan prosa, serta merta muncul dalam tulisan ini. Dia memenuhi syarat disebut puisi tapi juga memenuhi syarat dsebut sebagai prosa. Maka, aku bilang ini bisa disebut juga sebagai puisi prosa.

Nah, kalau akhir-akhir ini ada istilah puisi esai, maka harusnya contoh puisi atau esai yang disodorkan memenuhi syarat keduanya. Tapi, sebelum sampai di sana, aku cenderung menentang istilah ini. Esai adalah salah satu jenis prosa. Jadi kalau mengatakan puisi esai, mestinya dia itu ya puisi prosa. Jika ada yang mengatakannya sebagai sebuah genre baru, tentu itu adalah kesalahan. Puisi prosa sudah dibuat sejak-sejak dahulu oleh banyak penulis. Selain Linus ada juga Rendra, Soni, bahkan aku juga menulis dalam bentuk ini.

Kalau memang Denny ngotot menyebutnya sebagai puisi esai, bagaimana syarat keduanya bisa dipenuhi? Syarat puisi dan syarat esai. Apa ciri utama yang bisa membedakannya dengan puisi prosa yang lain? Kalau pernah membaca yang dimaksud oleh Denny sebagai puisi esainya, aku tidak melihat perbedaannya. Denny seringkali menyebut soal adanya catatan kaki dalam puisi esainya. Hmmm, aku juga sering membuat catatan kaki untuk puisi-puisiku. Itu salah satu caraku supaya 'puas' setelah menulis puisi 'rumit', hihihi. Tidak percaya diri dan tidak percaya pada pembaca. Catatan kaki kubuat dalam beberapa puisi supaya pesan yang ingin kusampaikan tidak hilang saat dibaca. Takut kalau pembaca tidak paham terhadap tulisan yang sudah kubuat. Keterangan di sana-sini menjadi penyangga supaya puisi itu 'jelas'.

Esai, adalah jenis prosa yang 'bukan khayalan'. Dia harus menyodorkan fakta, data, sesuatu yang 'benar', nah, kalau mau sampai ke esai, orang harus tahu dan paham soal-soal yang ditulisnya itu disertai dengan riset-riset yang secukupnya. Menulis puisi, bagiku juga sebuah kenyataan, maka seringkali juga aku melakukan riset untuk mendahuluinya. Walau nanti dalam penyajiannya aku akan 'mengambang' di atas di fakta itu, namun puisi bagiku tetap sebuah 'kenyataan'. Jadi kenapa harus memakai istilah puisi esai? Mengapa juga Denny ngotot menggunakan istilah itu?

Itulah kesalahan Denny JA. Andai dia membiarkan puisi-puisinya hidup, disebar, terserahlah mau memakai catatan kaki atau tidak, terserah juga mau disebut apa, maka suatu ketika nanti dia akan menemukan 'kebesarannya'. Entah, bentuknya apa. Tapi, karena kengototannya, lalu mengupayakan sekuat tenaga 'ngototnya' itu untuk mendapatkan argumen pembenar/pembela, sehingga muncul juga barisan 'aneh' hmmm... barisan pengagum hmmm.... barisan ... opo ya nyebute tuh, yang dia temui bukan kebesaran, tapi kebodohan, atau orang menyebut pengabaian sejarah, penipuan, dan sebagainya. Ngototnya itu (cara ngototnya itu muncul lewat para pembenar/pembela, juga lewat 5 juta rupiah, lewat buku-buku sia-sia yang digencarkan dll), sudah keterlaluan sekarang ini.

Huh, aku sungguh ndak mau terpengaruh oleh hal ini sehingga kemudian memilah orang berdasarkan Denny JA. Aku mau diem-diem, enak-enakan tidur, ndak mikir soal ini. Tapi aku perlu menulis pendapatku ini supaya orang-orang yang membaca tahu, kesalahan semacam itu yang telah dilakukan oleh Denny JA, harus dikoreksi oleh banyak orang supaya tidak salah kebablasan. Supaya orang-orang yang kontra semacam Saut, Eko, dan lain-lain juga tetap berada dalam kewarasan karena memang itulah yang seharusnya. (Kalau waras sendirian tuh nanti lama-lama pasti mikir: Jangan-jangan aku yang ndak waras.) Gawat kan?

Maka, kesalahan semacam ini bukan urusan segelintir orang seperti Denny JA atau Saut saja, tapi ini juga urusanku. Wis. Gitu dah obat diareku. Aku ndak mau nyebut nama-nama lain. Menyebut beberapa nama lain yang mati-matian menjadi pembenar/pembela itu malah membuat diare. Pokoke macam ** atau ***  (kena sensor dah), lebih baik mulai melihat lagi deh kesalahan ini. Ndak usah promosiin buku-buku yang ndak bakal kubaca seakan-akan buku tulisan ** atau *** macam itu bisa memberikan pencerahan. Lha, membaca atau mendengar kalian aja bisa kukira-kira cara pikir kalian lho. Ndak masuk akal. Aku mungkin hanya melihat hal kecil macam ini, tapi orang lain, yang punya pengalaman atau ilmu lebih mestinya juga bisa memberi kontribusi lebih. Wis kono, nuliso...

Saturday, February 17, 2018

Puisi Sabtu 15: DIALOG_KU_KAMAR_KU_DIALOG karya Lus Fianto


Dialog_Ku_Kamar_Ku_Dialog



Rasanya begitu lama pintu ini tak terjamah
oleh sepasang tangan,
 sampai aku lupa warna dindingnya tak lagi cerah
dan figura figura berjatuhan dari tempatnya.

Lemari tempat menggantung kenangan
kerap kali mengeja debu,
sedang meja meja membentuk petakan
derita dibawa angin dan karpet pelangi berdiskusi di kakiku.

"Kamar ini bagai baju saat aku telanjang
menjadi selimut dikala dingin maupun hangat
tawa sedihku bergumun di pelaminan
secangkir kopi mencipta pahit manis sendiri."

Seperti rias cahaya terpasung di jendela
 hati rindang serindang jala laba-laba.

13/01/18

--------------------




Moh. Lus Fianto adalah penggiat seni yang lahir di Desa Aeng Baja Kenek pada tanggal 27 Juni 1994, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Menetap di Bluto saat ini aktif di Sanggar Permata, Forum Belajar Sastra (FBS), Taneyan Kesenian Bluto (TKB) dan Rumah Proses Bersama (RPB) yang berada dalam naungan Komonitas Kampoeng Jerami (KKJ).

Saturday, February 10, 2018

Puisi Sabtu 14: LANGIT KETIGA PULUH DUA karya Moh. Ghufron Cholid


LANGIT KETIGA PULUH DUA


berikan langit yang anggun
langit yang selalu mengingatkan keserbamahaan

langit kasmaran yang ditumbuhi keberkahan Tuhan,

langitku langit kerdil langitMu, langit jalil

tinggal di langit ketiga puluh dua cintaMu, cintaMu,
cintaMu tak pernah purba

Torjunan, 7 Januari 2018

----------

Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986. Menulis puisi, cerpen, pantun dan esai serta melukis. Tamat SDN Blega 03 (1999), tamat SLTPN 01 Blega (2002), tamat TMI AL-AMIEN PRENDUAN (2006), menyelesaikan studi S1nya di IDIA Prenduan. Fak. Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), karya-karyanya tersiar di Radar Madura, Koran Madura, Mingguan Malaysia, Mingguan Wanita Malaysia, Utusan Borneo, Utusan Malaysia dll beberapa puisinya pernah dibacakan dalam acara-acara sastra baik di Indonesia termasuk di Kongres Penyair Sedunia ke-33 di Malaysia. Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. 

Friday, February 09, 2018

Suatu Waktu

Hujan pagi hari mengingatkanku pada suatu waktu dulu. Saat aku masih sangat suka biji gontang yang disangrai dan memakannya di pojok teras rumah. Mengumpulkan kulitnya yang hitam dalam telapak tanganku dan saat seluruh biji gontang tak tersisa, aku menghamburkan kulit-kulitnya di atas kepalaku.

Saat itu aku lupa kalau aku berdiri di suatu tempat yang pasti akan tampak tidak nyaman dipandang dengan ratusan kulit gontang yang berserakan. Kulit-kulit gontang yang tersangkut di rambutku memberiku sensasi yang kusukai, tapi serakan kulit-kulit itu membuat aku mendapatkan marah dan cela.

Biasanya aku akan lari ke halaman belakang. Meninggalkan kulit-kulit itu bersih dengan sendirinya oleh jadwal menyapu sore nanti. Aku membiarkan diriku menerima marah dan cela, tanpa rasa bersalah karena memang aku suka melemparkan kulit-kulit gontang di atas kepalaku. Aku tetap melakukannya berulang-ulang.

Lalu kemanakah perginya kegembiraan kecil itu sekarang? Aku meringkuk dalam cangkang kelapa tua yang sudah kehilangan minyaknya dimakan oleh jamur. Jika meneriaki burung-burung bukan lagi rasa riang, dan mengumpulkan kulit biji gontang hanyalah kenangan, maka semestinya aku kembali tidur dan melamunkan sepasang sayap untuk terbang.

Saturday, February 03, 2018

Puisi Sabtu 13: TENTANG LELAPKU SEBAGAI SENJA LAUTAN GURUN karya Mohammad Arfani

Tentang Lelapku sebagai Senja Lautan Gurun
                     
                           Sebuah salam persahabatan buat Olid



memang sudah seharusnya engkau memilih keadaan yang sebenarnya
jika bumi dan langit seperti mendebarkan arah dan jarak pandang
lebih demikian adalah kenyataan berbalik yang memang ada di matamu
di antara setiap malam sampai menjadi inginku yang tak tersampaikan
di antara kata demi kata dan memang seharusnya aku mengerti
tentang diammu yang bercahaya...

maka inilah jalan yang dikenang untuk setiap harap yang patah
mungkin resah yang setimpal lebih layak pada setiap kemungkinan
tentu saja segala bentuk pengembaraan akan berakhir setelahnya
atau sebaliknya aku terlalu lama di sini menunggu hadirmu
pada ada di antaranya, untuk gelisah yang benar-benar menjadi gelisah
pada mimpi buruk yang tak sengaja kau tanamkan hingga tiada pertanda
menanggalkan semua kabar tentang lelah yang datang
sebagai aku yang menjadi matahari untukmu.

suatu saat bentuk apa pun menjadi gemintang di langit
dan akan kupersiapkan semuanya tentang hadirku sebagai apa pun,
tentang inginku sebagai cahaya, tentang lelapku sebagai
senja lautan gurun.

sesaat setelah pertemuan kita aku mulai mengerti
bahwa pulang adalah pilihan

11 Agustus 2013


 ------------------------------



Mohammad Arfani, lahir di Palembang  27 Februari 1978. Aktif menulis puisi, naskah drama, artikel sastra di beberapa media, dan juga berteater. Buku-buku puisi dan naskah drama tunggal karya Mohammad Arfani adalah Tentang Takdir dan Kenyataan (2015), Dialog Yang Tersulut Api(2016), BerbalikKumpulan Naskah Drama(2016), Inilah Syair Abdul Muluk Kajian Struktur Karya Raja Ali Haji (2016), Naskah Bangsawan Palembang; Kumpulan Naskah Drama Tradisional(2017) Perayaan Musim (2017). Email saat ini: arfani708@gmail.com.

Tuesday, January 30, 2018

Cerpen Yuli Nugrahani : TAI BURUNG DI JIDAT LUYI

Luyi membawa cangkir berisi air kelapa. Ia minum seperempat isinya dan kemudian meletakkan cangkir itu di depan kekasihnya yang cemberut.
"Maaf. Aku mencintaimu bukan untuk kepentinganmu. Terserah kau sakit hati atau marah karena caraku yang tidak tepat menurutmu. Itu urusanmu. Aku mencintaimu karena kepentinganku. Aku akan mati kalau tidak mencintaimu."
Luyi mengambil lagi cangkirnya lalu berbalik, ingin melanjutkan pekerjaannya dengan kelapa-kelapa tua sebagai bahan dodol.
"Ohya. Jangan lupa juga. Aku tak percaya kau mencintaiku demi kepentinganku. Jadi sudahlah, nikmati hidupmu."
Luyi menghabiskan sisa air kelapa dalam perjalanannya ke dapur. Dalam hati dia mengulang-ulang kalimat ini: "Aku akan mati kalau tidak mencintaimu. Aku hidup karena mencintaimu."
Bahkan tai burung merpati yang nyasar di jidatnya pun tak terasa olehnya.

...
Luyi melanjutkan pekerjaannya dengan riang hati. Dia bangga dengan cinta dalam hatinya, dan merasa puas karena sudah mengungkapkan isi hatinya di depan kekasihnya. Diparutnya kelapa-kelapa tua itu dengan semangat. Dia mengikuti setiap tahap pembuatan dodol dengan gembira, sambil membayangkan bungkusan warna-warni yang berisi dodol nanti malam siap dalam nampan-nampan kuningan untuk disajikan besok sore, untuk acara lamaran Usi sepupu jauhnya. Pesanan spesial semacam ini tidak mungkin diabaikan oleh Luyi. Dan seperti janjinya pada Usi, dia akan memberi bonus biji-biji wijen terbaik untuk ditaburkan pada dodol yang dibuat. Dari seluruh tahapan pembuatan dodol yang biasa dialakukan, membungkus dodol dengan kertas krep warna-warni adalah tahap yang paling menyenangkan.
"Warna-warni seperti pelangi. Indah." Itu katanya.
"Warna-warni seperti pelangi itu seperti LGBT." Kata kekasihnya saat itu.
"Dari mana kau simpulkan begitu?" 
"Lihat saja di Google. Kau akan menemukan ikatan dan kedekataan yang erat antara pelangi dan LGBT."
Waktu itu Luyi langsung mengetik kata pelangi di Google search. Hmmm, benar juga apa kata kekasihnya itu. Pada halaman pertama pencarian muncul topik : "Mengapa simbol kaum gay bergambar pelangi?" 
Luyi waktu itu menggumam: Pelangi memang indah.
"Dan LGBT kau sebut sebagai indah?" Bisik kekasihnya di telinga Luyi. Pertanyaan yang tak perlu dijawab. Juga sekarang ini saat Luyi menyiapkan kelapa-kelapa untuk santan kental bagi dodol yang akan dimasaknya, yang terbayang adalah bungkus-bungkus dodol berwarna-warni, seperti pelangi, indah, terserah walau dikaitkan dengan LGBT oleh Google atau juga orang-orang lain. Bayangan pelangi-pelangi itu membuat Luyi bersemangat.
...
Yang tidak disadari Luyi adalah ucapan penuh antusias dan penuh perasaan yang ditujukan untuk kekasihnya tadi pagi itu tidak seremeh yang tampak. Bagi Luyi pernyataan itu jelas sebuah deklarasi terhadap kekasihnya, juga pernyataan cinta yang berkobar-kobar. Tapi bagi kekasihnya, yang ditinggalkan bengong di meja makan, ucapan Luyi adalah siksaan. Dia melihat punggung Luyi yang melangkah pergi dengan cangkir air kelapa dengan galau. Betapa ingin dia menahan Luyi untuk duduk bersamanya di meja makan sambil melanjutkan perbincangan. Mungkin masih tentang cinta atau tak masalah kalau Luyi mau bicara tentang tema yang lain. Baginya, tema apa pun percakapannya dengan Luyi selalu berarti cinta. Pasti dia akan menemukan ujungnya, asal mereka masih bercakap-cakap. Masalahnya, Luyi berbalik badan dengan cepat dan tidak berapa lama sudah tidak tampak lagi badannya. Dia hanya bisa membayangkan Luyi mulai sibuk dengan kelapa-kelapa, memarutnya dan memerasnya menjadi santan kental. Saat jeda bisa dipastikan Luyi akan datang ke mejanya, memberikan tawaran ini-itu yang kadang terasa basa-basi lalu menghilang lagi untuk melanjutnya dodol-dodolnya. Jika malam sudah datang, dia berharap Luyi menemani lebih lama di meja makan. Tapi yang terjadi, Luyi akan membawa sebaskom besar dodol yang siap dibungkus, kertas krep pelangi yang sudah dipotong, dan dia akan duduk di depannya sambil terus bicara, sambil terus bekerja hingga seluruh isi baskom habis berubah menjadi gunungan dodol warna-wani di atas nampan. Seluruh rutinitas itu bisa dipahami, tapi kata-kata Luyi, mampukah diterima sebagai kenyataan relasi mereka?
...
Karena dodol-dodolnya, pada hari itu Luyi lupa pada kekasihnya yang menunggu di meja makan. Dia juga lupa, ah mungkin malah tak pernah tahu kalau ada tai burung di jidatnya, menempel, ikut kemana pun dia pergi. Dan kini saat malam tiba, dia datang ke meja makan dengan dodol matang yang siap dibungkus dan tai burung yang kering di wajahnya. Mengapa meja makan sepi? Kemana kekasihnya? Teriakannya menggema kembali ke telinganya. Sepi. Dia buka HP di sakunya yang dari tadi tak tersentuh. Tak ada pesan apa pun yang tampak di sana karena HP itu tak bisa dinyalakan. Luyi menduga HPnya sudah kehabisan baterai karena dari pagi dia bahkan tidak ingat untuk mencharge HPnya itu. Pintu-pintu masih terbuka : "Di manakah kau?" Luyi melanjutkan pekerjaannya, hingga pelangi tercipta dari dodol-dodol yang dibungkusnya. Saat seluruhnya selesai, Luyi mengusap wajahnya, nyaris mengenai tai burung kering, tapi kesombongan tai itu tetap bertengger di sana meneruskan niat menemani wajah Luyi. "Di manakah kau?" Luyi tertidur di samping pelangi dodol dengan tai burung yang mengering di jidatnya. Mungkin akan terus begitu sampai pagi, saat dia harus menghantar pelangi-pelangi dodol ke rumah sepupunya untuk pesta lamaran.
...
Di rumahnya sendiri, kekasih Luyi mencoba untuk tidur. Begitu pun dia masih berpikir tentang niatnya untuk mengunjungi rumah orang tuanya di negeri asal yang sudah lama ditinggalkannya. Sampai tengah malam, kantuk tak juga menyapanya. Dan pikirannya sudah lama bergulir dari pikiran awal, tidak lagi tentang rumah tua di negeri asalnya, tapi sebuah rumah baru di negeri lain. "Apakah perjalananku ke tempat ini tak ada artinya bagi Luyi?" Kekasih Luyi masih juga termangu, memutar otak untuk mencari cara mencium kening Luyi besok pagi. Mungkin saat Luyi belum bangun. Dan usai itu, dia bisa membantu Luyi mengusung pelangi-pelangi dodol itu ke tempat sepupunya untuk ikut berpesta. Dia ingin meyakini bahwa besok pagi ia akan memulai harinya setelah mencium jidat Luyi, orang yang dicintainya. ***

Saturday, January 27, 2018

Puisi Sabtu 12 : ANGIN TIMUR DI BULAN OKTOBER karya Amir Syarifuddin

ANGIN TIMUR DI BULAN OKTOBER


Ketika  rindu kembali kudatangi kau senja
Di ujung dermaga tempat cermin cinta ditambatkan
Dan batu karang yang setia kepada uji 
tak pernah mengeluh pada musim timur 
membawa ombak sekedar membuktikan cintanya 
atau sabda alam, biarlah.

Mata tabah nelayan menatap jaring yang robek dimakan kerasnya asin dan musim
Laut nakal iseng mengganggu perahu ngaso hingga ikan kecil tak berani pesta di bawahnya menikmati lumut-lumut hijau
Kemana camar pergi bersembunyi
Membangun kembali rumah atau mencari peruntungan di Pulau Perawan di tengah samudra

Pada suatu waktu mantra yang pernah  terucap di sini menjadi benih
Tak mungkin dicabut
Dia akan tumbuh menjadi pohon berbuah manis berkelopak warna-warni atau mejadi gulma di hati menjadi parasit kehidupan menjadi rahasia tuhan

Senja di ujung dermaga tempat cermin rindu kutambatkan

Kau kekasihku senja

Aku bukan nelayan tabah nan mampu berdamai dengan angin timur
Menyulam kembali jaring robek
Setia pada rewelnya perahu tua
Aku bukan batu karang yang setia pada uji
Aku mungkin camar yang tak berani kepakkan sayap
Sembunyi menunggu angin timur pergi
Bermimpi  berlibur di Pulau Perawan di tengah samudra

Kalianda,  26 Oktober 2017

------------

Amir Syarifuddin, atau biasa juga menyebut diri Amir Koboy. Lahir 8 Maret 1981 di Tanggamus. Sekarang bermukim di Kalianda, Lampung Selatan. Menggeluti puisi bersama Komunitas Malam Puisi Lampung Selatan dan belajar teater dalam Sanggar Teater Grilya Lampung Selatan. 

Saturday, January 20, 2018

Puisi Sabtu (11) HANYUTKAN SURATKU karya Muhammad Ramzi Azzahra

HANYUTKAN SURATKU

 Aku ingin hanyutkan suratku pada empat sungai
yang mengalir dari sisi kubah dan kelak akan engkau jala
kemudian kau simpan seperti ikan hias di akuarium

Berenang dalam mimpi panjangmu
yang tak terukur jari-jari waktu menunjuk ke segala arah,
menikam ketiadaan saat kau bangun
pagi tak seindah itu

Lebih dari lukisan batik sayap kupu-kupu
yang hinggap meminum sisa air wudhu' di alismu
meliuk menjadi peta menuju kerajaan agra
dan kita berjumpa di pinggir telaga.

13/01/18

------------


Muhammad Ramzi Azzahra, atau biasa dipanggil Ramsi, lahir di Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura pada 10 Januari 1992. Seniman muda ini berkegiatan di Komunitas Kampoeng Jerami, Tanian Kesenian Bluto (TKB), Rumah Proses, Masyarakat Santri Pesisiran. Menggeluti musik bersama La Ngetnik (Musik Etnik Kontemporer), Saripati (Band), Al-Karomah putra (Drum Band), dan membuat banyak karya musikalisasi puisi. 

Thursday, January 18, 2018

Jika Kalian Menemui Masalah Apa Pun, Pulanglah.

Anak-anakku sayang, suatu saat nanti akan tiba waktunya kalian pergi dari rumah. Kalian sudah mendapatkan latihan sejauh ini dengan sesekali pergi dari rumah. Meninggalkan bapak ibumu untuk bergaul dengan teman-teman, untuk mendapatkan guru-guru baru setiap kali, untuk mengunjungi tempat-tempat baru, dan berbagai keperluan. Mungkin dari sekian banyak teman, guru dan tempat yang kalian jumpai tidak pernah bapak ibumu datangi. Tapi itu bukan masalah, pergilah.

Anak-anakku sayang, suatu saat nanti akan tiba waktunya kalian pergi dari rumah. Kalian akan punya rumah lain yang menjadi tujuanmu untuk pulang. Kalian akan meninggalkan rumah ini walau bapak dan ibu yakin kalian tidak akan melupakan rumah ini. Kalian akan memiliki hidup sendiri dalam semesta yang luas, yang mungkin tak terbayangkan sekarang ini oleh kalian, juga olah kami. Tapi itu bukan masalah, pergilah.

Anak-anakku syang, itu bukan masalah. Pergilah. Tapi jika bapak dan ibumu ini masih ada, jika kalian menemui masalah apa pun, rumah ini selalu menjadi rumah kalian. Pulanglah. Pulanglah ke rumah ini, bukan tempat lain.

Tuesday, January 16, 2018

Dosakah jika Merokok?

Kalau pertanyaannya adalah dosakah jika aku merokok? Hmmm... susah juga menjawabnya. Bisa banyak versi. Lha iyalah, wong Tuhan Sang Penentu pun tak pernah mengatakan hal itu kok. Hehehe... Tapi ketika Komunitas Generasi Tanpa Rokok (GETAR) Lampung mendeklarasikan diri pada hari Minggu lalu, 14 Januari 2018, spontan aku mengapresiasi dengan sungguh-sungguh.

Komunitas ini berasal dari unsur mahasiswa, penulis, musisi dan karyawan. Terbentuknya komunitas ini berawal dari keprihatinan gempuran industri rokok meracuni generasi tanpa ampun yang dikemas iklan kreatif, olahraga, dunia pendidikan.

Ketua GETAR Lampung, Ismen Sembilan yang juga inisiator komunitas ini mengatakan bahwa mereka terbentuk bukan untuk memerangi para perokok.

"Merokok adalah pilihan setiap orang, tetapi yang terpenting dalam pergerakan kami menyelamatkan anak muda dari pengaruh rokok," kata Ismen. Data yang terhimpun bahwa pecandu rokok sebagian besar menyasar pada usia muda bahkan anak-anak dan perempuan yang menjadi target pasar.

Dalam diskusi tersebut, salah satu pembicara Eni Muslihah, seorang jurnalis yang peduli pengendalian tembakau mengatakan isu rokok dianggap sebagian besar media bukan isu menarik untuk diangkat. Menurutnya, jurnalis selaku ujung tombak pembentuk opini masyarakat juga belum semuanya memiliki pemahaman yang seragam tentang pentingnya pengendalian tembakau di Lampung.

"Lampung sudah punya Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok yang disahkan per Juli 2017 lalu, tapi belum terdengar sosialisasi penerapan perda tersebut," katanya.  Menurutnya masih jarang jurnalis mengangkat dampak isu rokok yang lebih mendalam lagi.

"Masyarakat yang beli rokok, masyarakat yang bayar pajak, masyarakat cukai rokok bahkan masyarakat sendiri yang menanggung dampak akibat rokok tersebut," tuturnya.

Nah, ya. Kukira ini pekerjaan rumah yang sangat besar bagi gerakan ini maupun bagi masyarakat. Dalam keluarga besarku saja banyak perokok aktif super-super yang sepertinya tidak mungkin dihentikan. Orang-orang yang kukasihi, para sahabat juga sudah melekat pada rokok sedari dulu. Aku juga pernah mengincip dikit-dikit. Mungkin anak-anakku nanti juga akan mengincip rokok. Tapi baik juga tulisan ini kupublish untuk mengingatkan bahwa menghentikan rokok bukan soal dosa atau tidak (hihihi, memangnya yang mempermasalahkan itu sapa?), atau soal bisa beli atau tidak, atau soal bisa mikir atau tidak. Tapi, jika memang memilih untuk merokok, pertimbangkan dengan matang segala aspek yang mungkin muncu dari merokok. 

Coba igat beberapa hal kecil ini :

1. Asap rokok bisa menyelinap ke paru-paru anakmu yang kau sayangi. 

2. Rokok bisa merampas hak istrimu untuk membeli tambahan lauk bergizi. 

3. Rokok bisa menjadi racun bagi tubuh perokok.

4. Dan lain-lain....

Saturday, January 13, 2018

Puisi Sabtu (10) : PELAUT DAN KABUT karya Rifqi Arifansyah

Pelaut dan Kabut
Sejenuh apa pun laut menghitung, ikan-ikan tak pernah terjaring angka sebisu dermaga ditinggal pergi, perahu berlayar hanya untuk kembali. sejak hujan memilih pulang gerimis tak kunjung datang menjenguk; kemarau, mulai bosan adalah daun-daun bersedia gugur. kau tak pernah salah menghitung hari: burung selalu tepat menerka gelap berarak serupa ribuan gemintang selepas pesta; senja sepenuhnya jingga sesaat aku memindah samudera ke dalam gelas, surut pun juga larut dan malam meminjamkan bulan pada kening-kening karang. 2017


---------

Rifqi Arifansyah adalah penggiat seni yang lahir di Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Menetap di Bluto saat ini aktif di Sanggar Permata, Forum Belajar Sastra (FBS), Taneyan Kesenian Bluto (TKB) dan Rumah Proses dalam naungan Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ). Minatnya dalam kepenulisan dikembangkan dalam komunitas-komunitas tersebut dan membagikannya lewat media sosial.

Thursday, January 11, 2018

Efektif atau Bahagia?

Pengalaman kehujanan beberapa kali tetep saja aku lupa kalau jas hujanku sudah robek di bagian atas dan bawah (hehehe) sehingga berkali-kali mesti basah kuyup. Hari ini tadi aku niati sungguh-sungguh : Mampir Rang-rang untuk beli jas hujan yang bagus yang tidak mudah robek.

Ternyata aku berangkat kepagian. Rang-rang belum buka. Mikir sebentar di depan toko : Naik fly over atau lewat bawah? Hihihi. Pikiran ndak penting banget yak.

Karena belum dapat jas hujan di Rang-rang sedangkan hasrat untuk mendapatkan jas hujan sedang menggebu (huhuhu, lebay tak apa deh), aku mampir perempatan lampu merah Kedaton, belok ke toko pertama yang menggantung jas hujan.

Si ibu pemilik toko dengan ramah menyapa :

"Ya, butuh apa, mbak?"

Terbawa oleh senyum ibu yang manis dan sapaannya yang ramah, aku tersenyum lebar.

"Bu, aku mau jas hujan. Yang besar, yang bagus, yang bisa kupakai termasuk dengan ransel di punggungku. Pokoke ransel ini ndak boleh kehujanan karena isinya macam-macam. Ada laptop, dompet, buku. Semuanya ndak boleh basah."

Hihihi.

Ibu itu masuk toko membongkar raknya. Menunjukkan satu jas hujan warna ungu. Membukanya dan mencobakannya di badanku.

"Ini ukuran terbesar. Tak ada lagi." Dan jas itu tak muat. "Yang lain kosong." Oalah. Kalau gitu ya tidak usah saja. Aku melanjutkan basa-basi, tersenyum, mengucapkan terimakasih, dan pamit. Berhenti sebentar di depan toko sambil mikir : Lurus atau putar balik? Hihihi. Lagi-lagi pikiran yang ndak penting banget. Secara daerah situ tuh kanan kiri penuh berderet toko helm dan jas hujan.

Aku iseng menyeberang. Toko yang mirip dengan yang kudatangi pertama tadi. Helm dan jas hujan berjajar dipajang. Seorang pelayan, laki-laki muda seumur Albert, jauh lebih kurus, hitam, tanpa senyum tanpa kata mendekati.

"Aku butuh jas hujan yang besar yang bisa kupakai dengan ransel tetap di punggungku." Dia tetap diam, mengambil galah berpengait, menurunkan satu jas warna hitam, membuka kancingnya dan menyerahkan padaku. Aku mencobanya tanpa melepas ransel di punggungku, dan pas. Aku membukanya dan menyerahkan kembali pada cowok itu.

"Berapa harganya?"

"Seratus lima puluh ribu."

"Mahal ya. Bisa kurang?"

"Seratus empat puluh ribu."

"Ada ndak yang sebesar itu tapi harganya lebih murah?"

"Tidak ada."

"Kurangi lagi harganya."

"Kalau mau seratus tiga puluh ribu."

"Oke."

"Mau?"

"Ya."

Dia masuk ke toko mengambil jas yang masih baru dalam kemasan rapi. Aku bilang ingin mengeceknya dulu. Kubongkar, kukasih dia lagi sambil mengangguk. Memberikan uang Rp. 150.000,- dan dia membawa duit itu ke bosnya. Dia menyerahkan uang kembalian dan jas hujan. Masih setia tanpa senyum, tanpa ucapan terimakasih. Aku juga ndak mau senyum ndak ngucap terimakasih, membawa uang kembalian dan jas hujan baru, udah deh, ngacir. 

Baru-baru ketika sampai kantor aku terus berpikir dua toko yang kudatangi ini. Toko pertama menyambutku dengan senyuman, obrolan ramah, aku ndak mendapatkan jas hujan yang kuinginkan. Toko kedua bahkan tak ada senyuman atau ucapan basa-basi, aku mendapatkan jas hujan yang sesuai, mereka mendapatkan uang pembelian. Piye menilai peristiwa ini ya? 

Kalau dalam konteks umum, jelas toko kedua lebih efektif. Semua terjadi, lancar dan masing-masing diuntungkan. Tapi mengingat cowok kurus itu kok aku jadi ketularan tidak bahagia ya? Jadi pengin cemberut karena dia tak menyambut dengan senyuman. Tak ingin ngobrol karena dia tak bertanya apa pun. Tak ingin ngucapin terimakasih karena dia tak memberikan ucapan itu. Ealah.  

Wednesday, January 10, 2018

Tiba-tiba Kangen Anji

Tiba-tiba saja kangen Anji. Haiyahh. Ini gara-gara pas balik dari Jawa Timur usai tahun baru semobil dengan Pak Metri yang ngefans berat sama lagu-lagu Anji dan sepanjang jalan lagu-lagu die ini yang dipasang.

Aku kemudian juga jadi ngeh kalau lagu-lagu tertentu yang sering kudengar dari pengamen di samping kantor tuh lagunya Anji. Kukira itu lagu ciptaan mereka sendiri. Hihihi.

Deretan lagu seperti Bidadari Tak Bersayap, Dia, Jerawat Rindu, Merindukanmu, Kekasih Terhebat, Berhenti di Kamu, dan lain-lain. Kok aku segitu katroknya ya. Huh. 

Lihat ini satu syair lagunya :

BIDADARI TAK BERSAYAP


Bidadari tak bersayap datang padakuDikirim Tuhan dalam wujud wajah kamuDikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang ku rasa saat bersamamuSederhana namun indah kau mencintaikuSederhana namun indah kau mencintaiku
Sampai habis umurku, sampai habis usiaMaukah dirimu jadi teman hidupkuKaulah satu di hati, kau yang teristimewaMaukah dirimu hidup denganku
Diam-diam aku memandangi wajahnyaTuhan ku sayang sekali wanita iniTuhan ku sayang sekali wanita ini
Sampai habis nyawaku, sampai habis usiaMaukah dirimu jadi teman hidupkuKaulah satu di hati, kau yang teristimewaMaukah dirimu hidup denganku
Katakan yes, I do, jadi teman hidupkuDududududu dududududu dududu
Sampai habis nyawaku, sampai habis usiaMaukah dirimu jadi teman hidupkuKaulah satu di hati, kau yang teristimewaMaukah dirimu hidup denganku
Katakan yes, I doJadi teman hidupkuKatakan yes, I doHiduplah dengankuJadi teman hidupku


Huaaa.... bikin termehek-mehek deh. Dan, aku pernah mengira lagu ini adalah ciptaan pengamen samping kantor. Kurang ajar banget aku ini.
Anji punya nama lengkap Erdian Aji Prihartanto, lebih populer dengan nama Anji atau Manji atau Enji. Dia lahir di Jakarta, 5 Oktober 1979. Pada tahum 2004 Anji sempat mengikuti ajang pencarian bakat Indonesian Idol, namun sayang tidak lolos mengikuti audisi. Dia lalu menjadi vokalis Drive. 
Pada Mei 2011, Anji resmi meninggalkan Drive yang telah membesarkan namanya. Hal ini disebabkan karena kejadian konflik antara Anji dengan manajemen bandnya. Setelah keluar dari Drive, Anji memulai solonya.
Soal lain-lain aku ndak mau nulis ah. Biar saja dia dengan hidupnya. Yang penting suara asyikkk berat. Utangku lunas ya, Ji. 

Tuesday, January 09, 2018

Ahok dan Vero Bercerai?

Vero dan Ahok. 
Ini adalah cuplikan dari berita di Kompas.com kemarin, 8 Januari 2018. 

Pengacara yang mewakili mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Josefina Agatha Syukur, dari Law Firm Fifi Lety Indra & Partners membenarkan Ahok melayangkan surat gugatan cerai terhadap istrinya, Veronica Tan. Surat gugatan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Jumat (5/1/2018).
Ahok menunjuk Law Firm Fifi Lety Indra & Partners sebagai kuasa hukumnya dalam kasus itu.
"Benar bahwa Pak Ahok telah melayangkan gugatan cerai terhadap Ibu Veronica. Itu benar adanya. Nomor perkaranya 10/Pdt.G/2018 tanggal 5 Januari 2018," kata Josefina kepada Kompas.com, Senin (8/1/2018) pagi ini.

Bukan hanya kompas.com yang menayangkan berita itu, tapi buanyak media online menuliskannya. Mulai dari hanya foto hasil scan surat gugatan, keraguan-keraguan, lalu konfirmasi-konfirmasi, kekecewaan atau ada juga yang bergirang. Bagi yang cinta mati sama Ahok mau pun yang sebaliknya, sama-sama berkomentar, berbagai komentar. 

Pembelaan-pembelaan bermunculan. Mencari-cari celah untuk mengatakan bahwa berita itu hoax semata. Bukti-bukti juga diajukan, kejanggalan-kejanggalan dicermati. Sebagian yang lain sudah bergerak cepat mencoba mencari-cari hal-hal yang berkaitan, misalnya hukum perceraian bagi pasangan penganut Kristen Protestan, alasan-alasan yang memungkinkan perceraian mereka, bahkan juga muncul rumor soal orang ketiga atau perceraian yang terpaksa dilakukan karena ada guna-guna, atau Ahok mau masuk Islam. Hohoho.

Bayangkan, seorang panutan yang disanjung dan diikuti oleh banyak orang tiba-tiba melakukan hal yang tak disangka, tentu saja hal itu membuat shock, sedih, kecewa. Bisa jadi banyak orang nanti akan berbalik melawan, memusuhi dan menghujat. Ahok dan Vero yang dari dulu sudah punya banyak musuh, kini akan semakin dimusuhi dan dibenci. Jumlah orang yang menghujatnya akan semakin banyak. 

Dalam berita-berita dikatakan kalau Ahoklah yang menggugat cerai. Dia yang tahu alasan tindakannya. Termasuk, tentulah dia tahu konsekwensi dari tindakannya itu. Dia akan kemana setelah semua hingar bingar ini? Misalnya benar-benar bercerai, kemana mereka akan berada? Ahok, tetapkah dia di minatnya selama ini dalam percaturan politik Indonesia? Kekalahannya kemarin karena isu agama sudah membuatnya terpuruk, namun citra pribadinya masih cemerlang. Jika perceraian itu benar, masihkah citra itu bisa dipertahankan? Dengan cara apa dia akan mempertahankan? Atau memang 'citra' itu tidak penting bagi Ahok? Atau dia akan benar-benar pergi, hilang dari peran-perannya yang baik selama ini bagi masyarakat lalu menjadi Ahok yang lain di rumah yang lain, mungkin bersama istri barunya? Ahai. 

Lalu bagaimana dengan Vero dan anak-anak mereka? Apakah sekarang ini mereka masih di Jakarta? Di Indonesia? Atau mereka sedang pergi di suatu tempat sehingga tak seorang pun bisa menghubungi untuk konfirmasi? Terancamkah hidup mereka karena Ahok dan pilihan sikap Ahok? Ataukah mereka terancam oleh hal-hal lain yang tak kelihatan? Oalah.

Aku sebagai penonton ndak ikut-ikut dah. Tapi tak urung aku deg-degan menunggu akhir dari babak ini. Mereka para pemain bergerak dan menentukan setiap adegan. Apa yang akan terjadi nanti? Ahok dan Vero bercerai?

Monday, January 08, 2018

Catatan Ini Tak Ingin Kulupakan : Membuat Bisnis Kuliner

  • Aku dan suamiku sudah beberapa kali mencoba merintis usaha kuliner. Pernah membuat angkringan Mbah Jo yang fenomenal itu, lalu membuka usaha bakso dan mi ayam Denmas. Belum berhasil. Huft. Tapi impian itu tidak lenyap dari pikiran. Aku dan suamiku masih bermimpi suatu ketika nanti membuat usaha kuliner yang berjalan secara manusiawi, sehat dan kuat. Entah kapan bisa kesampaian.
Catatan dari Febri di instagramnya setelah nyerbu di dapurku beberapa hari lalu bersama dengan teman-teman Jaringan Perempuan Padmarini ingin kuingat karena tulisan itu membantuku menyegarkan impianku tentang bisnis kuliner. Jadi kupasang di sini biar aku ndak lupa yak.

  • febriliaekawatiPawone Mbak Yul. Dodolan Soto Kediri. Bayarnya pake ide, dan cerita tentang buku apa yang sudah ditulis atau dibaca. Kalau mau nambah sate telur puyuh, ati, empela, kudu bayar cerita lucu, biar semua pembeli bisa tertawa lepas. Di pawone Mbak Yul, juga buka jasa konseling. Yang mau curhat tentang apasaja bisa. Tentang keluarga, pacar, mantan, dan gebetan, samapai cicilan kreditan panci. 
    Di pawone juga bisa bahas tentang sastra, ilmu filsafat, teologi, konservasi, sosial, Marxisme, Leninisme, Rawonisme, Gudegisme, Pecelisme, sampai Bacemisme. Silahkan pokok'e bebas dan beretika. Mbak Yuli mantan wartawan Malang Post, saat ini aktif sebagai penulis sastra dan pegiat HAM. Dewan pembina Jaringan Perempuan Padmarini ini punya cita-cita rodo nyeleneh, kelak di hari tua bersama Mas Piet mau bisnis kuliner, jualan pecel Mediun. Wis rausah dagang pecel, nanti banyak yang ndak bayar.
  • yuli_nugrahaniHmmm... ide yg bagus. Warung pecel gratisan taruh kaleng dekat pintu bagi yg iklas ngasih kencleng. Boleh makan sepuase. Ngobrol. Curhat. Nginep yo boleh. Wah.
  • yuli_nugrahani@piet_hendro Ide apik ki. Kita ra butuh dibayar to? Hehehe.
  • febriliaekawatiMbak @yuli_nugrahanibakal ramee kui. Opo maneh pelanggan model @ayoekeloq dan @iffahrachmi yang anak kost kalau di Bandar Lampung, bisa tiap malem kesitu haha
  • piet_hendroHahahaha....
  • piet_hendroBayarannya ke Naningan, krakatau, way kambas, hehehe....bawa tenda dewe...