Dua hari terakhir aku melakukan perjalanan Lampung - Semarang. Males cerita isi perjalanan atau acaranya, tapi aku ingin cerita alat transportasi yang aku pakai. Hampir semua jenis aku pakai.
1. Tanggal 12 Juli 2011 naik mobil travel dari Bandarlampung ke Bakauheni. Memakai mobil jenis APV yang cukup longgar dengan sopir yang terkantuk-kantuk mencoba menyumbat matanya dengan kacang atom supaya tetep melek. Tapi kecepatan cukup tinggi dipakainya sehingga aku yang ada di sampingnya mesti pura-pura tidur supaya tidak ketakutan. Pukul 22.15 dari kantor agen, sekitar 00.00 tiba di pelabuhan Bakauheni dalam hujan deras. Aku bayar Rp. 35.000,- per orang.
2. Kapal ferry menyeberang selat Sunda. Bayar berapa ya, kok aku lupa. Rp. 11.500,- mungkin. Tapi di atas karena pengin tidur di ruang dingin aku tambah Rp. 8.000,- untuk masuk di ruang VIP, n tidur beneran.
3. Pukul 03.30 tiba di Merak, jalan kaki untuk dapat bis jurusan Kalideres. Pilih AC ekonomi bayar Rp. 18.00,- yang kebut turun di Cikokol pada pukul 06.00.
4. Turun di pinggir jalan ganti naik taksi ke bandara Soekarno Hatta seharga Rp. 50.000,-/ Waktu yang sangat mepet.
5. Penerbangan jam 08.05 jurusan Semarang dengan Sriwijaya Air. Cepat check in, bayar airport Rp. 40.000,- Pesawat jurusan Semarang hanya 50 menit sudah sampai di Bandara Ahmad Yani.
6. Acara di jl. Imam Bonjol, cari taksi seharga Rp. 35.000,-
7. Malam selesai acara naik becak ke stasiun Tawang, seharga Rp. 15.000,-.
8. Dapat tiket kereta api Senja Utama ke Senen seharga Rp. 105.000,- berangkat pukul 20.00. Tiba di Stasiun Jatinegara pukul 03.10.
9. Mampir ke rumah seorang teman untuk tidur sebentar, mandi dan makan pagi. Lalu naik taksi ke Gambir.
10. Cari tiket bis Damri jurusan Lampung, dapat yang eksekutif Rp. 150.000,- berangkat pukul 08.00. Sampai di Lampung 17.00, tentu saja setelah 2 setengah jam di kapal ferry.
11. Lalu naik ojek sampai rumah kembali 14 Juli 2011, Rp. 10.000.
Nah, lengkap to? Beberapa jenis alat transportasi aku pakai untuk perjalanan ini.
Friday, July 15, 2011
Tuesday, July 12, 2011
Highest and Lowest Point
Aku punya satu titik yang aneh. Saat berada di dalam persinggungan rotasi, titik ini menjadi titik tertinggi sekaligus titik terendah dalam putaran hidupku. Agak sulit dianalisa bagaimana dua posisi ekstrim itu bisa menyatu dalam satu titik. Efek yang tak terduga pun sangat potensial untuk muncul karena situasi ini sungguh di luar kendaliku. Aku hanya bisa mengekang ujung-ujung permukaannya saja, selebihnya, kedalamannya, tidak terkendali. Aneh.
Wednesday, July 06, 2011
Shah Rukh Khan
Sebelum aku membuat catatan berikut, aku ingin mengawalinya dengan mengatakan bahwa orang inilah yang bisa membuatku melek sampai jam 01.00 dini hari. Membuatku tidak jadi beli buku kedua Toto Chan untuk membeli biografinya. Rela menonton wajahnya dalam pose berulang-ulang. Meneteskan air mata untuk aktingnya yang yahud di My Name is Khan. (Ini film bagus banget tentang keberagaman di dunia dari kaca mata seorang idiot, seorang Khan, seorang yang punya cinta. Dan ini film yang bagus banget dengan Khan yang diperankan oleh Khan. Menarik. Sekitar 3 jam, separonya aku tonton dengan berurai air mata. Duhai.)Jadi apa yang ingin aku catat tentang dia? Bahwa aku jatuh cinta padanya namun tidak mencintainya. (Tak mungkin aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Hahaha...tidak. Tapi aku memang jatuh cinta.) Hanya yang ada dia film India kutonton selama ini. Selebihnya tidak minat. Lalu apa? Ya tidak ada lagi. Beberapa kata tak penting saja. Bahwa dia salah satu dari seluruh kelekatan yang masih kupunyai di dunia ini. Hahaha...gak penting kan? Sudah kubilang.
Shah Rukh Khan. Dia adalah satu satu sarana yang membantu imajinasiku tentang cinta tetap hidup. Bagian kecil tentang cinta.
Aku lupa sejak kapan.
Tuesday, July 05, 2011
Missing Moment!
Sudah satu minggu tak kulihat anak-anakku secara fisik (mereka berlibur tempat tantenya di Jakarta). Ada rindu luar biasa pada keributan yang dibuat mereka, pada kemarahan yang ditimbulkan mereka, pada kegembiraan yang dicipta oleh mereka, pada keprihatinan karena tingkah mereka, karena apapun yang mereka lakukan kalau dekat denganku.
Aku tahu mereka bisa menikmati liburan mereka dengan dinamika yang mereka alami saat jauh dari aku ibunya. Pagi siang sore malam aku telepon, mereka selalu dalam keasyikan sebuah moment. Tapi aku di rumah, ya ampun. Sampai rasanya pengin nangis, dan sudah nangis dengan sms ke adikku : "Please, peluk mereka untuk aku." Rasanya sepi... Padahal ini bukan kali pertama mereka tidak bersamaku. Ada banyak kali, seminggu bahkan lebih aku pergi dari rumah, tidak bertemu mereka secara fisik. Aku yang pergi dan mereka di rumah.
Ternyata rasanya beda ya. Pantas saja saat aku pergi terlalu lama dan mereka yang ada di rumah, Bernard sering komentar,"Gak enak kalau gak ada ibu." Kini aku yang ada di rumah dan mereka yang pergi, aku merasakannya, gak enak kalau gak ada anak-anak. Kalau mereka di kejauhan sana? Aduh, bahkan saat aku telpon pun mereka tidak mau ngangkat karena sedang asyik dalam permainan, perjalanan, percakapan,... Aduh.
Aku tahu mereka bisa menikmati liburan mereka dengan dinamika yang mereka alami saat jauh dari aku ibunya. Pagi siang sore malam aku telepon, mereka selalu dalam keasyikan sebuah moment. Tapi aku di rumah, ya ampun. Sampai rasanya pengin nangis, dan sudah nangis dengan sms ke adikku : "Please, peluk mereka untuk aku." Rasanya sepi... Padahal ini bukan kali pertama mereka tidak bersamaku. Ada banyak kali, seminggu bahkan lebih aku pergi dari rumah, tidak bertemu mereka secara fisik. Aku yang pergi dan mereka di rumah.
Ternyata rasanya beda ya. Pantas saja saat aku pergi terlalu lama dan mereka yang ada di rumah, Bernard sering komentar,"Gak enak kalau gak ada ibu." Kini aku yang ada di rumah dan mereka yang pergi, aku merasakannya, gak enak kalau gak ada anak-anak. Kalau mereka di kejauhan sana? Aduh, bahkan saat aku telpon pun mereka tidak mau ngangkat karena sedang asyik dalam permainan, perjalanan, percakapan,... Aduh.
Monday, June 27, 2011
Cooking and Eating
Aku suka makan, makanya aku suka nonton Master Chef. Hmmm...gak ada hubungannya ya? Ada! Karena suka makan, pasti aku akan dekat-dekat dengan makanan. Tidak selalu makanan itu adalah masakan, karena ada makanan yang tidak harus dimasak. Dan juga tidak harus ada penyajian khusus, makanan bisa diambil begitu saja dan dimakan. Misalnya jambu biji samping rumahku. Tinggal petik saja bisa langsung masuk mulut.
Tapi sejujurnya, selain aku suka makan aku juga suka masak. Tepatnya eksperimen memasak (iya, karena gak semua masakanku kemudian jadi enak dimakan. hehehe...). Jadi semua bahan aku bisa bumbui dengan cara apapun. Akhir-akhir ini suka banget buat sayur bening, maka semua daun aku masak bening. Bayam, katuk, labu, kangkung, kemangi, sawi, wortel, kacang panjang, dll. Bergantian dibening. Membuatnya sangat gampang, tinggal keprek bawang merah putih, tambah gula dan garam, sudah jadi. Dan semua lauk bisa masuk. Mau ikan, ayam, daging, atau tempe tahu bakwan, bisa cocok dengan sayur bening. Karena sayur bening dengan rasa yang sederhana itu tidak akan bentrok dengan bumbu lauknya. Hehehe...kira-kira begitulah. (Tapi alasan utamanya sih karena cepat dibuat, 5 menit asal semua sudah dipotong dibersihkan dan air sudah mendidih, dapat dipastikan sudah dapat langsung disantap.)
Tapi ada hari-hari aku tidak mau memasak. Aku punya banyak alasan untuk tidak memasak pada satu hari itu. Gak usah tanya! Maka, ada menu-menu andalan dekat rumah yang murah meriah enak dan lahap disantap orang serumah :
1. Sarapan : bisa dipilih lontong sayur, nasi uduk, bubur, roti tawar, atau kue-kue yang dijajakan keliling.
2. Makan siang : silakah pilih pecel, dan soto ayam (dekat rumah warungnya). Kalau mau keluar gang, ada pilihan buanyak di warung padang, warung tegal atau di rumah Wawak! (hahahaha....yang terakhir disebut ni gak perlu bayar)
3. Makan malam : wah, gak bisa ditulis pilihannya. Banyak nian sepanjang jalan dari Hajimena hingga Tanjungkarang. Gak usah disebutlah.
Nah, ada yang tanya pagi ini aku masak apa? Aku masak lodeh tahu, tempe dan kentang yang aku campur cabe merah 2 biji. Goreng ayam. Dan ada krupuk.
Ada yang tanya nanti sore aku masak apa? Belum tahu. Mungkin tidak masak, karena sudah beberapa hari ini aku sangat ingin makan bebek. Dan aku belum bisa mengolah bebek yang enak. Jadi kayaknya mampir aja ya, beli di Rajabasa. Hmmm....
Tapi sejujurnya, selain aku suka makan aku juga suka masak. Tepatnya eksperimen memasak (iya, karena gak semua masakanku kemudian jadi enak dimakan. hehehe...). Jadi semua bahan aku bisa bumbui dengan cara apapun. Akhir-akhir ini suka banget buat sayur bening, maka semua daun aku masak bening. Bayam, katuk, labu, kangkung, kemangi, sawi, wortel, kacang panjang, dll. Bergantian dibening. Membuatnya sangat gampang, tinggal keprek bawang merah putih, tambah gula dan garam, sudah jadi. Dan semua lauk bisa masuk. Mau ikan, ayam, daging, atau tempe tahu bakwan, bisa cocok dengan sayur bening. Karena sayur bening dengan rasa yang sederhana itu tidak akan bentrok dengan bumbu lauknya. Hehehe...kira-kira begitulah. (Tapi alasan utamanya sih karena cepat dibuat, 5 menit asal semua sudah dipotong dibersihkan dan air sudah mendidih, dapat dipastikan sudah dapat langsung disantap.)
Tapi ada hari-hari aku tidak mau memasak. Aku punya banyak alasan untuk tidak memasak pada satu hari itu. Gak usah tanya! Maka, ada menu-menu andalan dekat rumah yang murah meriah enak dan lahap disantap orang serumah :
1. Sarapan : bisa dipilih lontong sayur, nasi uduk, bubur, roti tawar, atau kue-kue yang dijajakan keliling.
2. Makan siang : silakah pilih pecel, dan soto ayam (dekat rumah warungnya). Kalau mau keluar gang, ada pilihan buanyak di warung padang, warung tegal atau di rumah Wawak! (hahahaha....yang terakhir disebut ni gak perlu bayar)
3. Makan malam : wah, gak bisa ditulis pilihannya. Banyak nian sepanjang jalan dari Hajimena hingga Tanjungkarang. Gak usah disebutlah.
Nah, ada yang tanya pagi ini aku masak apa? Aku masak lodeh tahu, tempe dan kentang yang aku campur cabe merah 2 biji. Goreng ayam. Dan ada krupuk.
Ada yang tanya nanti sore aku masak apa? Belum tahu. Mungkin tidak masak, karena sudah beberapa hari ini aku sangat ingin makan bebek. Dan aku belum bisa mengolah bebek yang enak. Jadi kayaknya mampir aja ya, beli di Rajabasa. Hmmm....
Friday, June 24, 2011
Starting Points
Maka, PR terbesar dan dominan adalah siap sedia, selalu siap melakukan loncatan-loncatan. Memenuhi hidup dengan membuat ancang-ancang. Posisi seluruh tubuh sadar, merencanakan sebuah loncatan, sekaligus siap jika kesempatan tak terduga untuk meloncat.
Thursday, June 23, 2011
Enjoy The Pressure Time
Bagaimana jika suatu keranjang hari penuh dengan bulatan-bulatan tekanan? Pilihannya adalah tidak memperdulikannya, berlalu begitu saja dengan kalimat,"Emang gue pikirin?" Huff, senangnya kalau bisa seperti itu. Namun seringkali tubuh tidak sekuat yang terbayang. Tubuh mempunyai sinyal-sinyal tanda keterbatasan. Sakit kepala, diare, lemas, tak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuh, dll adalah tanda yang nyata.
Aku sering bilang,"Nikmatilah." Huff, ini pun tidak mudah. Bagaimana bisa menelan bulatan-bulatan tekanan dengan nikmat seolah makan bakso urat Malang yang gurih dan sedap? Dan ketika sudah tercerna oleh lambung dia menggelembung menjadi bagian-bagian energi gerak kita. Aduh, aku ingin belajar seperti ini. Aku sedang cari caranya. Ya, dengan terus menerus mau menerima tekanan dalam hari-hariku. Dengan senyuman.
Aku sering bilang,"Nikmatilah." Huff, ini pun tidak mudah. Bagaimana bisa menelan bulatan-bulatan tekanan dengan nikmat seolah makan bakso urat Malang yang gurih dan sedap? Dan ketika sudah tercerna oleh lambung dia menggelembung menjadi bagian-bagian energi gerak kita. Aduh, aku ingin belajar seperti ini. Aku sedang cari caranya. Ya, dengan terus menerus mau menerima tekanan dalam hari-hariku. Dengan senyuman.
Thursday, June 16, 2011
Tree of Thinking
Lalu, bagaimana kualitas pikiranku ini jika di pangkalnya pun sudah bercabang-cabang? Tak mungkin aku disamakan dengan pohon jati. Mungin sama dengan perdu yang bahkan cabang rantingnya tak terhitung menyentuh tanah, tidak tinggi menjulang. Aku tak bisa berhenti pada satu pikiran lalu lurus begitu saja terpikat pada hal itu. Aku meloncat dari satu pikiran ke pikiran lain, merangkai membentuk cabang ranting. Kadang selesai sampai ujungnya hingga rimbun dengan daun bunga dan buah. Tapi sering juga tak selesai, sehingga tak ada satu bunga buah pun di ranting itu. Hanya ranting saja, kering, lalu patah. Ah...
Wednesday, June 15, 2011
My Husband Birthday
Hei, selamat ulang tahun. Mengenalmu belasan tahun yang lalu membuatku sangat ge-er setengah mati. Aku adalah makluk ciptaan yang diberi banyak keberuntungan. Puncaknya adalah ketika aku mendapatkan dirimu sebagai pasangan hidup. Laki-laki yang naik begitu saja ke kebun teh, tak mengerti mengapa harus datang, tapi menawarkan pertemanan dan mengantar mengelilingi pucuk-pucuk teh di ketinggian Kertowono. Masih juga heran ketika berani mengucap janji sehidup semati di depan altar dan sampai sekarang masih heran juga melihatku setiap pagi. Seolah-olah aku adalah peri aneh yang menyusup mengganggu hidupnya hingga tidak bisa tenang nyaman mapan seperti kebanyakan suami. Hahaha, selamat ulang tahun. Mari berpesta hari ini.
Tuesday, June 14, 2011
Angry!
Apa salahnya marah? Boleh. Tentu saja boleh marah. Aku sering marah. Kenapa tidak? Pun akhir-akhir ini aku sangat sering marah. Karena anak-anak tak menurut, suami yang tak paham, teman yang berkhianat, yang kuanggap penting tidak dianggap sama orang lain, situasi yang tak berubah juga, dll.dll.dll. Aku punya banyak alasan untuk marah, dan sudah kulakukan.
Lalu apa? Setelah marah, selanjutnya apa? Apakah marah adalah tujuanku? Tidak. Marah adalah loncatan api emosi. Bisa tak terkendali, tapi itu bukan tujuan. Kalau tujuanku hanya marah, sudah tercapai saat itu, saat ini. Kan aku sudah marah.
Tapi bukan seperti itu. Bukan. Aku marah karena ada hal lain yang sedang kutuju, maka aku sedang belajar untuk tidak berhenti hanya pada marah. Marah adalah salah satu sarana untuk sampai pada tujuan sejatiku. Marah boleh, tapi bukan itu tujuanku. Marah hanya sarana bagi jiwaku yang masih butuh mengekspresikan emosi. Begitulah.
(Ini pemahaman yang terus menerus kucekokkan pada diriku sendiri. Come on, Yuli. Growth up!)
Lalu apa? Setelah marah, selanjutnya apa? Apakah marah adalah tujuanku? Tidak. Marah adalah loncatan api emosi. Bisa tak terkendali, tapi itu bukan tujuan. Kalau tujuanku hanya marah, sudah tercapai saat itu, saat ini. Kan aku sudah marah.
Tapi bukan seperti itu. Bukan. Aku marah karena ada hal lain yang sedang kutuju, maka aku sedang belajar untuk tidak berhenti hanya pada marah. Marah adalah salah satu sarana untuk sampai pada tujuan sejatiku. Marah boleh, tapi bukan itu tujuanku. Marah hanya sarana bagi jiwaku yang masih butuh mengekspresikan emosi. Begitulah.
(Ini pemahaman yang terus menerus kucekokkan pada diriku sendiri. Come on, Yuli. Growth up!)
Monday, June 13, 2011
Holy Spirit in The Sea
Mengunjungi laut menjadi kesenangan luar biasa bagiku. Apalagi setelah sekian lama tidak mencium bau air asin seperti itu. Melihat anak-anak dan bapaknya asyik memancing di rakit terapung sekitar 50-an meter ke laut, tiduran saja sambil pegang tali senar pancing, kali-kali ada ikan nyangkut, melihat langit cerah, sesekali memasukkan tangan ke air, sesekali ambil foto kanan kiri, sering-sering membuka tas ambil cemilan,... ha sampai besok pagi pun aku betah. Hitam kelam terbakar juga tidak terasa. Itu yang kulakukan sepanjang hari minggu kemarin, tepat Pesta Pentakosta. Kami mengais Roh Kudus di tepian Mutun Beach. Dan Roh Kudus turun dalam rupa-rupa bentuk. Ikan, rumpon, pasir, anak-anak,...etc. Bertaburan hingga amis sekujur tubuh. (Hehehe...nyambung gak sih.)
Friday, June 10, 2011
Travelling into heart
Aku dulu berasal dari sebuah guci. Guci ajaib yang menyimpanku rapat, membuatku nyaman, tidak ingin kemana-mana. Guci itu aman bagiku walau mudah retak. Keretakan pertama kedua ketiga hingga kesekian ratus masih membuatku bertahan, tapi kemudian tiba-tiba aku sudah di luar. Aku berada di jalanan, menggelandang. Sesekali kuingat aku melewati banyak perjalanan. Ke banyak tempat. Bertemu banyak orang.
Baru saja, pagi ini, saat aku hanya duduk di kebekuan, aku teringat kembali pada guciku. Guci ajaib yang pernah menyimpanku. Aku melongok dan melihat bahwa guci itu utuh. Ajaib, tidak ada bekas retak dan patah di dalamnya. Maka, aku akan menata ranselku, untuk memulai perjalanan kembali. Kali ini, perjalanan ke dalam, bukan keluar. Perjalanan menjelajah guciku, dekat sini.
Wednesday, June 08, 2011
Sorry, I want it for myself!
Tak ada untukmu, tak ada untuk kalian, tak ada untuknya, tak ada untuk mereka! Aku menginginkan untukku sendiri! Jadi mau apa? Walau dirayu seperti apa tak akan kubagi untuk siapapun, terlebih dirimu!
(I want be egois. I want everything for myself. My body, my times, my smiles, my talents, my everything...)
Friday, June 03, 2011
Non Violence
Tuesday, May 31, 2011
Kota Baru
Sekitar 950 Ha tanah garapan petani Jati Agung akan digusur menjadi Kota Baru, ibu kota propinsi Lampung. Di atasnya akan didesain sebuah kota modern dengan pemukiman dan perkantoran, yang akan dikerjakan oleh pemerintah dengan menggandeng investor dari Malaysia. Demikian rangkuman beberapa tulisan di beberapa media. Yang tidak diperhitungkan adalah adanya 400-an KK, penggarap lahan, yang harus kehilangan tanaman yang sudah dirawatnya. Mereka kehilangan mata pencaharian dan calon panenan. Apakah pemerintah sudah pedulikan ini dengan sungguh-sungguh? Cukupkah uang tali asih sebesar Rp 5 juta, yang jauh dari modal kerja mereka selama ini? Sanggupkah pemerintah memberikan harapan nyata supaya mereka pun ikut bersemangat dalam perencanaan Kota Baru ini? Siapa wakil pemerintah yang bisa jawab ini? Pak Syachrudin? Pak Richo? Pak Menteri Kehutanan? Pak Presiden?
Monday, May 30, 2011
Continue
Maksud hati mulai cerita banyak hasil perjalanan kemarin, tapi apa daya aku masih harus melanjutkan perjalanan. Merajut cerita baru, tak tersusun kembali. Selalu bergulat antara luka dan rahmat. Kadang-kadang bosan, kadang-kadang bersemangat.
Sekarang, akan lanjut. Tapi titik yang ini sepertinya terlewat besar untuk dilewati. Terlalu banyak simpul-simpul yang belum terurai.
Ah, ingin lagi duduk di pinggiran sungai di atas rumput di bawah pohon. Hingga tertidur. Pulas tanpa mimpi.
Sekarang, akan lanjut. Tapi titik yang ini sepertinya terlewat besar untuk dilewati. Terlalu banyak simpul-simpul yang belum terurai.
Ah, ingin lagi duduk di pinggiran sungai di atas rumput di bawah pohon. Hingga tertidur. Pulas tanpa mimpi.
Thursday, May 19, 2011
Lampung - Sungai Utik
Pulang dari perjalanan menyisakan mabuk di sendi-sendi tubuhku. Aku punya banyak cerita, teman. Tapi belum bisa kurangkai dalam kata. Untuk mengingat saja akan kutuliskan.
10 Mei 2011, naik Garuda 11.05 dari Raden Intan II menuju Soekarno Hatta. 14.45 lanjut ke Supadio, Pontianaik. Dijemput Pak Budi di bandara n langsung diantar ke pull Damri untuk berangkat ke Sintang pukul 19.00. Perjalanan dengan bis malam untuk tidur.
11 Mei 2011, bangun tidur di Sintang, dijemput Rm. Miau di pull Damri dekat patung BI. Istirahat sebentar di Katedral Sintang. Rapat komisi lalu makan siang di lereng Bukit Kelam. (Ngiler kan?) Lanjut rapat lagi sampai malam.
12 Mei 2011, rapat lagi sampai siang. Makan malam diundang Wakil Bupati Sintang.
13 Mei 2011, perjalanan ke Putussibau, lanjut ke Sungai Utik. Tidur di rumah betang itu. Gak bermalam, karena memang gak boleh bermalam...hehehe. Begadang sampai 2 pagi.
14 Mei 2011, jalan ke Benoa Tengah, Sei Ulun (mabuk tuak. 4 gelas!), Bali Gundi, n then Paroki ... aduh apa namanya. (Tio gangguin nih di depanku, jadi gak konsen) Malam tidur di Sanjaya Hotel, di Putussibau, Kapuas Hulu.
15 Mei 2011, habis makan siang jalan ke Sintang. Istirahat sebentar lanjut ke Pontianak (dipikir-pikir 15 jam jalan. ampun.)
16 Mei 2011, mimpi amburadul di rumah unio, sarapan bubur babi, jalan ke tugu Katulistiwa, belanja jeruk pontianak, manisan lidah buaya, dll. 16.20 terbang ke Jakarta.
17 Mei 2011, balik Lampung dunk.
Nah, cerita detail sampai ke rasa, hati, pikir, nanti aku buat berseri. Plus foto-foto. Silakan tunggu, teman.
10 Mei 2011, naik Garuda 11.05 dari Raden Intan II menuju Soekarno Hatta. 14.45 lanjut ke Supadio, Pontianaik. Dijemput Pak Budi di bandara n langsung diantar ke pull Damri untuk berangkat ke Sintang pukul 19.00. Perjalanan dengan bis malam untuk tidur.
11 Mei 2011, bangun tidur di Sintang, dijemput Rm. Miau di pull Damri dekat patung BI. Istirahat sebentar di Katedral Sintang. Rapat komisi lalu makan siang di lereng Bukit Kelam. (Ngiler kan?) Lanjut rapat lagi sampai malam.
12 Mei 2011, rapat lagi sampai siang. Makan malam diundang Wakil Bupati Sintang.
13 Mei 2011, perjalanan ke Putussibau, lanjut ke Sungai Utik. Tidur di rumah betang itu. Gak bermalam, karena memang gak boleh bermalam...hehehe. Begadang sampai 2 pagi.
14 Mei 2011, jalan ke Benoa Tengah, Sei Ulun (mabuk tuak. 4 gelas!), Bali Gundi, n then Paroki ... aduh apa namanya. (Tio gangguin nih di depanku, jadi gak konsen) Malam tidur di Sanjaya Hotel, di Putussibau, Kapuas Hulu.
15 Mei 2011, habis makan siang jalan ke Sintang. Istirahat sebentar lanjut ke Pontianak (dipikir-pikir 15 jam jalan. ampun.)
16 Mei 2011, mimpi amburadul di rumah unio, sarapan bubur babi, jalan ke tugu Katulistiwa, belanja jeruk pontianak, manisan lidah buaya, dll. 16.20 terbang ke Jakarta.
17 Mei 2011, balik Lampung dunk.
Nah, cerita detail sampai ke rasa, hati, pikir, nanti aku buat berseri. Plus foto-foto. Silakan tunggu, teman.
Monday, May 02, 2011
Makan
Aku suka makan. Tak ada yang perlu meragukan keabsahannya. Apa saja bisa kulahap. Sudahlah, sebut saja semua jenis makanan yang ada, aku pasti akan doyan.
Terakhir-terakhir ini aku sangat suka makan bebek. Bebek diapain aja. Juga jamur tiram putih yang disate bumbu kacang. Dan kuah bening daun katu plus labu siam. Buahnya pisang muli atau jeruk medan. Minumnya yang susah untuk diganti sejak bertahun-tahun lalu, yaitu jus tomat dicampur wortel dikit, gak usah pakai susu.
Di Lampung makanan bebek mudah banget didapat. Di pinggiran jalanan bejibun. Tapi tadi siang aku nemuin bebek goreng kremes yang lumayan bisa diulang. Bebek Bratang dekat stadion Pohoman. Aku pengin nyoba sup bebeknya tapi rupanya sedang tidak ada. Lihat kali kedua nanti, apakah rasa yang sama masih bisa kukecap di situ. Untuk jadi langganan.
Tuesday, April 26, 2011
Puisi Paskah
Aku membaca ini di harisatiman.blogspot.com. Aku ingin ikut menyebarkannya. Terimakasih Ulil. Kau memberiku inspirasi hening pada paskah tahun ini. Salam dari Lampung.
Puisi Paskah
Oleh :
Ulil Absar Abdala
Ulil Absar Abdala
Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!
Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.
Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!
Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.
Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!
Wednesday, April 20, 2011
Ulat Bulu
Jangankan melihat ulat bulu, membayangkan, memikirkan, atau bahkan membicarakan atau menuliskannya seperti ini sudah membuat bagian-bagian tertentu tubuhku gatal dan merinding. Mengapa fenomena aneh ini muncul di berbagai tempat di Indonesia justru tentang ulat bulu? Agak sulit memikirkannya lama-lama karena aku terus bergidik. Tapi point-point penyebab merebaknya ulat bulu:
1. Hujan berkepanjangan. Kupu-kupu biasanya muncul saat musim kemarau tiba.
2. Tidak ada mata rantai pemakannya. Burung, kadal dll semakin habis.
3. Ketidak seimbangan siklus semesta. Ini mengerikan, karena berarti bukan hanya tentang ulat bulu tapi juga tentang hal-hal lain.
Sekarang jadi mikir egois, takut pada ulat bulu atau mau berpikir lebih luas tentang sosial dan ciptaan keseluruhan? Ini pasti ada kaitan dengan pola hidup manusia kini. Yukk, koreksi diri sendiri. Mulai dari cara makan (manusia tuh rupanya makan segala hal, sedang makluk lain sangat terbatas menunya. udah terbatas makanannya, dimakan pula sama manusia) Lalu juga cara bersikap terhadap tanaman dan hewan. Kita mulai dari kita masing-masing. Sementara aku masih egois banget karena aku sangat takut pada ulat, apa lagi ulat bulu. (Ulat beras yang kecil itu saja bisa membuatku semaput. Aduh!)
1. Hujan berkepanjangan. Kupu-kupu biasanya muncul saat musim kemarau tiba.
2. Tidak ada mata rantai pemakannya. Burung, kadal dll semakin habis.
3. Ketidak seimbangan siklus semesta. Ini mengerikan, karena berarti bukan hanya tentang ulat bulu tapi juga tentang hal-hal lain.
Sekarang jadi mikir egois, takut pada ulat bulu atau mau berpikir lebih luas tentang sosial dan ciptaan keseluruhan? Ini pasti ada kaitan dengan pola hidup manusia kini. Yukk, koreksi diri sendiri. Mulai dari cara makan (manusia tuh rupanya makan segala hal, sedang makluk lain sangat terbatas menunya. udah terbatas makanannya, dimakan pula sama manusia) Lalu juga cara bersikap terhadap tanaman dan hewan. Kita mulai dari kita masing-masing. Sementara aku masih egois banget karena aku sangat takut pada ulat, apa lagi ulat bulu. (Ulat beras yang kecil itu saja bisa membuatku semaput. Aduh!)
Subscribe to:
Posts (Atom)