Monday, June 27, 2011

Cooking and Eating

Aku suka makan, makanya aku suka nonton Master Chef. Hmmm...gak ada hubungannya ya? Ada! Karena suka makan, pasti aku akan dekat-dekat dengan makanan. Tidak selalu makanan itu adalah masakan, karena ada makanan yang tidak harus dimasak. Dan juga tidak harus ada penyajian khusus, makanan bisa diambil begitu saja dan dimakan. Misalnya jambu biji samping rumahku. Tinggal petik saja bisa langsung masuk mulut.
Tapi sejujurnya, selain aku suka makan aku juga suka masak. Tepatnya eksperimen memasak (iya, karena gak semua masakanku kemudian jadi enak dimakan. hehehe...). Jadi semua bahan aku bisa bumbui dengan cara apapun. Akhir-akhir ini suka banget buat sayur bening, maka semua daun aku masak bening. Bayam, katuk, labu, kangkung, kemangi, sawi, wortel, kacang panjang, dll. Bergantian dibening. Membuatnya sangat gampang, tinggal keprek bawang merah putih, tambah gula dan garam, sudah jadi. Dan semua lauk bisa masuk. Mau ikan, ayam, daging, atau tempe tahu bakwan, bisa cocok dengan sayur bening. Karena sayur bening dengan rasa yang sederhana itu tidak akan bentrok dengan bumbu lauknya. Hehehe...kira-kira begitulah. (Tapi alasan utamanya sih karena cepat dibuat, 5 menit asal semua sudah dipotong dibersihkan dan air sudah mendidih, dapat dipastikan sudah dapat langsung disantap.)
Tapi ada hari-hari aku tidak mau memasak. Aku punya banyak alasan untuk tidak memasak pada satu hari itu. Gak usah tanya! Maka, ada menu-menu andalan dekat rumah yang murah meriah enak dan lahap disantap orang serumah :
1. Sarapan : bisa dipilih lontong sayur, nasi uduk, bubur, roti tawar, atau kue-kue yang dijajakan keliling.
2. Makan siang : silakah pilih pecel, dan soto ayam (dekat rumah warungnya). Kalau mau keluar gang, ada pilihan buanyak di warung padang, warung tegal atau di rumah Wawak! (hahahaha....yang terakhir disebut ni gak perlu bayar)
3. Makan malam : wah, gak bisa ditulis pilihannya. Banyak nian sepanjang jalan dari Hajimena hingga Tanjungkarang. Gak usah disebutlah.
Nah, ada yang tanya pagi ini aku masak apa? Aku masak lodeh tahu, tempe dan kentang yang aku campur cabe merah 2 biji. Goreng ayam. Dan ada krupuk.
Ada yang tanya nanti sore aku masak apa? Belum tahu. Mungkin tidak masak, karena sudah beberapa hari ini aku sangat ingin makan bebek. Dan aku belum bisa mengolah bebek yang enak. Jadi kayaknya mampir aja ya, beli di Rajabasa. Hmmm....

Friday, June 24, 2011

Starting Points

Setiap orang akan melakukan loncatan-loncatan dalam hidupnya. Seringkali loncatan itu dilakukan dengan sadar, namun tak jarang terjadi dengan tanpa sengaja, tidak disadari. Dan sangat mungkin itu terjadi pada waktu yang tidak diketahui.
Maka, PR terbesar dan dominan adalah siap sedia, selalu siap melakukan loncatan-loncatan. Memenuhi hidup dengan membuat ancang-ancang. Posisi seluruh tubuh sadar, merencanakan sebuah loncatan, sekaligus siap jika kesempatan tak terduga untuk meloncat.

Thursday, June 23, 2011

Enjoy The Pressure Time

Bagaimana jika suatu keranjang hari penuh dengan bulatan-bulatan tekanan? Pilihannya adalah tidak memperdulikannya, berlalu begitu saja dengan kalimat,"Emang gue pikirin?" Huff, senangnya kalau bisa seperti itu. Namun seringkali tubuh tidak sekuat yang terbayang. Tubuh mempunyai sinyal-sinyal tanda keterbatasan. Sakit kepala, diare, lemas, tak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuh, dll adalah tanda yang nyata.
Aku sering bilang,"Nikmatilah." Huff, ini pun tidak mudah. Bagaimana bisa menelan bulatan-bulatan tekanan dengan nikmat seolah makan bakso urat Malang yang gurih dan sedap? Dan ketika sudah tercerna oleh lambung dia menggelembung menjadi bagian-bagian energi gerak kita. Aduh, aku ingin belajar seperti ini. Aku sedang cari caranya. Ya, dengan terus menerus mau menerima tekanan dalam hari-hariku. Dengan senyuman.

Thursday, June 16, 2011

Tree of Thinking

Pikiran tidak mungkin lurus-lurus saja. Seperti pohon, dia akan mempunyai cabang-cabang, ranting-ranting, dan juga akar-akar yang menjalar kemana-mana. Beberapa pohon punya standar kualitas yang ditentukan oleh keberadaan cabangnya. Misalnya pohon jati, semakin tinggi cabang baru muncul maka dia akan semakin dicari, karena batangnya akan lurus dengan tekstur yang teratur. Ranting-ranting kecil tak masalah tapi jangan bengkok.
Lalu, bagaimana kualitas pikiranku ini jika di pangkalnya pun sudah bercabang-cabang? Tak mungkin aku disamakan dengan pohon jati. Mungin sama dengan perdu yang bahkan cabang rantingnya tak terhitung menyentuh tanah, tidak tinggi menjulang. Aku tak bisa berhenti pada satu pikiran lalu lurus begitu saja terpikat pada hal itu. Aku meloncat dari satu pikiran ke pikiran lain, merangkai membentuk cabang ranting. Kadang selesai sampai ujungnya hingga rimbun dengan daun bunga dan buah. Tapi sering juga tak selesai, sehingga tak ada satu bunga buah pun di ranting itu. Hanya ranting saja, kering, lalu patah. Ah...

Wednesday, June 15, 2011

My Husband Birthday

Hei, selamat ulang tahun. Mengenalmu belasan tahun yang lalu membuatku sangat ge-er setengah mati. Aku adalah makluk ciptaan yang diberi banyak keberuntungan. Puncaknya adalah ketika aku mendapatkan dirimu sebagai pasangan hidup. Laki-laki yang naik begitu saja ke kebun teh, tak mengerti mengapa harus datang, tapi menawarkan pertemanan dan mengantar mengelilingi pucuk-pucuk teh di ketinggian Kertowono. Masih juga heran ketika berani mengucap janji sehidup semati di depan altar dan sampai sekarang masih heran juga melihatku setiap pagi. Seolah-olah aku adalah peri aneh yang menyusup mengganggu hidupnya hingga tidak bisa tenang nyaman mapan seperti kebanyakan suami. Hahaha, selamat ulang tahun. Mari berpesta hari ini.

Tuesday, June 14, 2011

Angry!

Apa salahnya marah? Boleh. Tentu saja boleh marah. Aku sering marah. Kenapa tidak? Pun akhir-akhir ini aku sangat sering marah. Karena anak-anak tak menurut, suami yang tak paham, teman yang berkhianat, yang kuanggap penting tidak dianggap sama orang lain, situasi yang tak berubah juga, dll.dll.dll. Aku punya banyak alasan untuk marah, dan sudah kulakukan.

Lalu apa? Setelah marah, selanjutnya apa? Apakah marah adalah tujuanku? Tidak. Marah adalah loncatan api emosi. Bisa tak terkendali, tapi itu bukan tujuan. Kalau tujuanku hanya marah, sudah tercapai saat itu, saat ini. Kan aku sudah marah.

Tapi bukan seperti itu. Bukan. Aku marah karena ada hal lain yang sedang kutuju, maka aku sedang belajar untuk tidak berhenti hanya pada marah. Marah adalah salah satu sarana untuk sampai pada tujuan sejatiku. Marah boleh, tapi bukan itu tujuanku. Marah hanya sarana bagi jiwaku yang masih butuh mengekspresikan emosi. Begitulah.

(Ini pemahaman yang terus menerus kucekokkan pada diriku sendiri. Come on, Yuli. Growth up!)

Monday, June 13, 2011

Holy Spirit in The Sea

Mengunjungi laut menjadi kesenangan luar biasa bagiku. Apalagi setelah sekian lama tidak mencium bau air asin seperti itu. Melihat anak-anak dan bapaknya asyik memancing di rakit terapung sekitar 50-an meter ke laut, tiduran saja sambil pegang tali senar pancing, kali-kali ada ikan nyangkut, melihat langit cerah, sesekali memasukkan tangan ke air, sesekali ambil foto kanan kiri, sering-sering membuka tas ambil cemilan,... ha sampai besok pagi pun aku betah. Hitam kelam terbakar juga tidak terasa. Itu yang kulakukan sepanjang hari minggu kemarin, tepat Pesta Pentakosta. Kami mengais Roh Kudus di tepian Mutun Beach. Dan Roh Kudus turun dalam rupa-rupa bentuk. Ikan, rumpon, pasir, anak-anak,...etc. Bertaburan hingga amis sekujur tubuh. (Hehehe...nyambung gak sih.)

Friday, June 10, 2011

Travelling into heart


Aku dulu berasal dari sebuah guci. Guci ajaib yang menyimpanku rapat, membuatku nyaman, tidak ingin kemana-mana. Guci itu aman bagiku walau mudah retak. Keretakan pertama kedua ketiga hingga kesekian ratus masih membuatku bertahan, tapi kemudian tiba-tiba aku sudah di luar. Aku berada di jalanan, menggelandang. Sesekali kuingat aku melewati banyak perjalanan. Ke banyak tempat. Bertemu banyak orang.
Baru saja, pagi ini, saat aku hanya duduk di kebekuan, aku teringat kembali pada guciku. Guci ajaib yang pernah menyimpanku. Aku melongok dan melihat bahwa guci itu utuh. Ajaib, tidak ada bekas retak dan patah di dalamnya. Maka, aku akan menata ranselku, untuk memulai perjalanan kembali. Kali ini, perjalanan ke dalam, bukan keluar. Perjalanan menjelajah guciku, dekat sini.

Wednesday, June 08, 2011

Sorry, I want it for myself!


Tak ada untukmu, tak ada untuk kalian, tak ada untuknya, tak ada untuk mereka! Aku menginginkan untukku sendiri! Jadi mau apa? Walau dirayu seperti apa tak akan kubagi untuk siapapun, terlebih dirimu!

(I want be egois. I want everything for myself. My body, my times, my smiles, my talents, my everything...)

Friday, June 03, 2011

Non Violence


Aku mengabadikan dan membagikan senyum mereka, yang sedang belajar untuk aktif tanpa kekerasan. Stop kekerasan!

(Kami belajar dari Chico Mendes dan Nashville, untuk Indonesia.)

Tuesday, May 31, 2011

Kota Baru

Sekitar 950 Ha tanah garapan petani Jati Agung akan digusur menjadi Kota Baru, ibu kota propinsi Lampung. Di atasnya akan didesain sebuah kota modern dengan pemukiman dan perkantoran, yang akan dikerjakan oleh pemerintah dengan menggandeng investor dari Malaysia. Demikian rangkuman beberapa tulisan di beberapa media. Yang tidak diperhitungkan adalah adanya 400-an KK, penggarap lahan, yang harus kehilangan tanaman yang sudah dirawatnya. Mereka kehilangan mata pencaharian dan calon panenan. Apakah pemerintah sudah pedulikan ini dengan sungguh-sungguh? Cukupkah uang tali asih sebesar Rp 5 juta, yang jauh dari modal kerja mereka selama ini? Sanggupkah pemerintah memberikan harapan nyata supaya mereka pun ikut bersemangat dalam perencanaan Kota Baru ini? Siapa wakil pemerintah yang bisa jawab ini? Pak Syachrudin? Pak Richo? Pak Menteri Kehutanan? Pak Presiden?

Monday, May 30, 2011

Continue

Maksud hati mulai cerita banyak hasil perjalanan kemarin, tapi apa daya aku masih harus melanjutkan perjalanan. Merajut cerita baru, tak tersusun kembali. Selalu bergulat antara luka dan rahmat. Kadang-kadang bosan, kadang-kadang bersemangat.
Sekarang, akan lanjut. Tapi titik yang ini sepertinya terlewat besar untuk dilewati. Terlalu banyak simpul-simpul yang belum terurai.
Ah, ingin lagi duduk di pinggiran sungai di atas rumput di bawah pohon. Hingga tertidur. Pulas tanpa mimpi.

Thursday, May 19, 2011

Lampung - Sungai Utik

Pulang dari perjalanan menyisakan mabuk di sendi-sendi tubuhku. Aku punya banyak cerita, teman. Tapi belum bisa kurangkai dalam kata. Untuk mengingat saja akan kutuliskan.
10 Mei 2011, naik Garuda 11.05 dari Raden Intan II menuju Soekarno Hatta. 14.45 lanjut ke Supadio, Pontianaik. Dijemput Pak Budi di bandara n langsung diantar ke pull Damri untuk berangkat ke Sintang pukul 19.00. Perjalanan dengan bis malam untuk tidur.
11 Mei 2011, bangun tidur di Sintang, dijemput Rm. Miau di pull Damri dekat patung BI. Istirahat sebentar di Katedral Sintang. Rapat komisi lalu makan siang di lereng Bukit Kelam. (Ngiler kan?) Lanjut rapat lagi sampai malam.
12 Mei 2011, rapat lagi sampai siang. Makan malam diundang Wakil Bupati Sintang.
13 Mei 2011, perjalanan ke Putussibau, lanjut ke Sungai Utik. Tidur di rumah betang itu. Gak bermalam, karena memang gak boleh bermalam...hehehe. Begadang sampai 2 pagi.
14 Mei 2011, jalan ke Benoa Tengah, Sei Ulun (mabuk tuak. 4 gelas!), Bali Gundi, n then Paroki ... aduh apa namanya. (Tio gangguin nih di depanku, jadi gak konsen) Malam tidur di Sanjaya Hotel, di Putussibau, Kapuas Hulu.
15 Mei 2011, habis makan siang jalan ke Sintang. Istirahat sebentar lanjut ke Pontianak (dipikir-pikir 15 jam jalan. ampun.)
16 Mei 2011, mimpi amburadul di rumah unio, sarapan bubur babi, jalan ke tugu Katulistiwa, belanja jeruk pontianak, manisan lidah buaya, dll. 16.20 terbang ke Jakarta.
17 Mei 2011, balik Lampung dunk.

Nah, cerita detail sampai ke rasa, hati, pikir, nanti aku buat berseri. Plus foto-foto. Silakan tunggu, teman.

Monday, May 02, 2011

Makan


Aku suka makan. Tak ada yang perlu meragukan keabsahannya. Apa saja bisa kulahap. Sudahlah, sebut saja semua jenis makanan yang ada, aku pasti akan doyan.
Terakhir-terakhir ini aku sangat suka makan bebek. Bebek diapain aja. Juga jamur tiram putih yang disate bumbu kacang. Dan kuah bening daun katu plus labu siam. Buahnya pisang muli atau jeruk medan. Minumnya yang susah untuk diganti sejak bertahun-tahun lalu, yaitu jus tomat dicampur wortel dikit, gak usah pakai susu.
Di Lampung makanan bebek mudah banget didapat. Di pinggiran jalanan bejibun. Tapi tadi siang aku nemuin bebek goreng kremes yang lumayan bisa diulang. Bebek Bratang dekat stadion Pohoman. Aku pengin nyoba sup bebeknya tapi rupanya sedang tidak ada. Lihat kali kedua nanti, apakah rasa yang sama masih bisa kukecap di situ. Untuk jadi langganan.

Tuesday, April 26, 2011

Puisi Paskah

Aku membaca ini di harisatiman.blogspot.com. Aku ingin ikut menyebarkannya. Terimakasih Ulil. Kau memberiku inspirasi hening pada paskah tahun ini. Salam dari Lampung.

Puisi Paskah

Oleh :
Ulil Absar Abdala


Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.

Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.

Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!

Wednesday, April 20, 2011

Ulat Bulu

Jangankan melihat ulat bulu, membayangkan, memikirkan, atau bahkan membicarakan atau menuliskannya seperti ini sudah membuat bagian-bagian tertentu tubuhku gatal dan merinding. Mengapa fenomena aneh ini muncul di berbagai tempat di Indonesia justru tentang ulat bulu? Agak sulit memikirkannya lama-lama karena aku terus bergidik. Tapi point-point penyebab merebaknya ulat bulu:
1. Hujan berkepanjangan. Kupu-kupu biasanya muncul saat musim kemarau tiba.
2. Tidak ada mata rantai pemakannya. Burung, kadal dll semakin habis.
3. Ketidak seimbangan siklus semesta. Ini mengerikan, karena berarti bukan hanya tentang ulat bulu tapi juga tentang hal-hal lain.

Sekarang jadi mikir egois, takut pada ulat bulu atau mau berpikir lebih luas tentang sosial dan ciptaan keseluruhan? Ini pasti ada kaitan dengan pola hidup manusia kini. Yukk, koreksi diri sendiri. Mulai dari cara makan (manusia tuh rupanya makan segala hal, sedang makluk lain sangat terbatas menunya. udah terbatas makanannya, dimakan pula sama manusia) Lalu juga cara bersikap terhadap tanaman dan hewan. Kita mulai dari kita masing-masing. Sementara aku masih egois banget karena aku sangat takut pada ulat, apa lagi ulat bulu. (Ulat beras yang kecil itu saja bisa membuatku semaput. Aduh!)

Tuesday, April 12, 2011

Tanda Tanya

Nonton Tanda Tanya seperti menonton potret Indonesia masa kini dalam keberagaman agama, etnis, cara pandang, sekaligus potensi konflik di dalamnya. Film garapan Hanung Bramantyo ini dimulai dengan setting di sebuah area dekat Pasar Baru yang di kompleks ini ada masjid, gereja dan klenteng. Ditonjolkan etnis Jawa dan China, dalam tiga agama yaitu Islam, Katolik dan Konghuchu. Tokoh-tokoh di dalamnya digambarkan sedemikian rupa sehingga aku dapat menangkap mereka seperti orang-orang yang pernah aku kenal, aku temui atau aku lihat.

Misalnya Menuk, seorang soleha Muslim yang taat beragama namun bekerja di restoran Kanton yang menyediakan juga masakan babi. Dia loyal terhadap majikannya, Tan Kat Sun, sepenuh hati seperti orang-orang Jawa yang mengabdi, kadang naif namun teguh pendirian.

Soleh, suami Menuk, adalah seorang pencemburu. Dia ingin berpegang pada agamanya, namun dia dikendalikan oleh hatinya. Dia masuk sebagai Banser NU, dan mati karena bom yang ditemukannya di dalam gereja saat malam Natal.

Hen adalah anak Tan Kat Sun, yang tak bisa memiliki Menuk. Dia jadi sinis pada semua orang dan ngawur dalam egoisnya. Namun perjalanan hidupnya, kematian bapaknya, dan dorongan dari ibunya untuk memilih, membuat dia masuk Islam.

Tan, seorang penganut Konghuchu, pemilik restoran Kanton, sekuat tenaga ingin toleran pada karyawannya yang banyak muslim, dan juga masyarakat sekitarnya. Namun siapa yang bisa percaya pada China yang menyediakan babi di restorannya walau dia bilang wajan untuk memasak babi dan ayam dipisahkan, juga piring dan sendok, dan sebagainya? Adakah yang percaya walau dia membaca juga buku-buku tentang Islam supaya paham terhadap masyarakat di sekitarnya?

Rika, seorang janda satu anak bernama Abi bercerai karena tidak mau dimadu. Juga pindah agama Katolik karena ingin menemukan Allahnya yang Al-rahman, Al-rahim, Al-mukmin. (Aku tidak menemukan kata-kata pastinya, hanya berdasarkan ingatan.) Allah yang maha baik, maha kasih, maha merangkul...

Surya, ingin jadi artis. Selalu dapat peran piguran jadi penjahat. Sampai kemudian dapat peran utama, menjadi Yesus untuk pementasan Jumat Agung. Ustadnya menyakinkan dia bahwa Islamnya tidak akan berubah karena peran tubuhnya yang seperti itu. Dia semakin tekun belajar Islam dan semakin toleran setelah banyak peristiwa itu.

Ada tokoh-tokoh lain di situ, seperti Ustad dan Pastur. Mereka ditampilkan sebagai tokoh-tokoh sejuk. Ada juga tokoh-tokoh 'provokator' pertikaian seperti Doni, anak-anak muda tanpa nama, juga tukang gosip seperti Ibu Novi. Namun hingga bagian akhirnya aku hanya kepikir satu judul untuk film yang digarap penuh tanda tanya ini. UNHOPELESS. Itulah kata-kata yang kupilih untuk menggambarkan potret dalam film ini.

Tuesday, March 29, 2011

Jealous

Aku biasa sombong mengatakan bahwa diriku adalah orang yang merdeka. Jika aku ingin melakukan sesuatu maka itulah kehendakku. Apapun reaksi yang kuterima tak akan memberi pengaruh apapun. Jika mau senyum, ya aku akan senyum. Karena aku yang ingin dan memutuskannya tidak ada ruginya sama sekali andai aku tidak dibalas senyum atau bahkan dibalas umpatan.
Aku kira aku sungguh-sungguh telah menjadi orang yang merdeka seperti itu sehingga aku tetap akan lurus maju di jalan ini. Jalan yang sudah kupilih. Jalan yang penuh belajar tentang cinta kasih.
Aku kira aku seperti itu.
Ternyata tidak. Hari ini aku sangat cemburu hanya karena aku tidak diperlakukan seperti yang aku ingin dapatkan.
Aku sangat cemburu.

Monday, March 28, 2011

Bunuh Diri

Seorang yang kukenal bunuh diri. Aku tidak tahu harus merasa apa. Tapi, bagaimana bisa pilihan ini diambil? Tidak adakah harapan satupun? Tidak adakah hal lain yang bisa dilakukan senekat apapun selain bunuh diri (dan membunuh orang lain)? Teman, jangan limpahkan rasa salah ke orang lain, tapi lihat diri sendiri. Ada banyak harapan di sekeliling kita.
1. Putus cinta. Masak sih harus bunuh diri? Anang usai putus cinta, cerai, sakit hati, kemudian dapat dekat dengan cewek lain bebas, bisa pilih. Karies menanjak, lebih terkenal.
2. PHK. Masak sih harus bunuh diri? Anak-anak di terminal itu bisa tetap hidup dengan jual rokok eceran. Masak orang lain tidak bisa melakukannya. Dagang apapun, lakukan apapun, kalau tetep gak bisa jualan, ngemis dulu gak apa-apa. Baru kemudian jualan.
3. Gak bisa lanjutin sekolah. Masak sih harus bunuh diri? Berhenti sekolah sebentar ya gak pa-pa. Malah enak gak ngerjain PR. Lalu cari-cari cara, terus lanjut lagi. Malu ketuaan? Halah, malah enak ketemu yang muda-muda, jadi kita yang paling senior.
4. Gak punya duit saat anak sakit. Aduh, masak harus bunuh diri? Kan anak-anak harus tetap dirawat, tetap didoakan. Kalau sudah mati gak bisa melakukan itu.
5. Diejek orang. Masak harus bunuh diri? Apa ruginya diejek orang? gak mencuil hidung kita. Kita hidup gak harus tergantung orang lain kok.
6. Hayo sebutkan alasan lain mengapa harus bunuh diri. Lalu kita bahas nanti kenapa hal itu gak perlu kita lakan...
Banyak harapan, teman. Banyak harapan di dekat tubuh diri kita.

(Banyak doa untuk Agus. Mohon ampunan Tuhan untuk kerapuhannya.)

Wednesday, March 23, 2011

Heli

"Ibu kenal Heli?" Albert bertanya saat pulang dari sekolah kemarin.
"Ndak. Siapa dia?"
"Itu bu, anjingnya Vio." O. Hehehe...kirain siapa.
"Ibu kira Vio gak punya anjing. Gak pernah lihat atau dengar gonggongnya." Kataku sambil mengingat-ingat.
"Iya, memang tidak di rumah itu. Dititip ke orang."
"Kenapa tidak dipelihara sendiri?"
"Dulunya dipelihara sendiri tapi karena apa gitu terus dititip. Kayaknya karena Vio gak rajin merawat atau apa gitulah, bu. Aku juga gak jelas. Tapi Heli tuh anjing baik. Dia sangat suka kalau dielus, didekati. Gak galak. Aku pernah bertemu beberapa kali, dia bisa dilatih. Kalau disuruh berdiri dia akan berdiri. Disuruh berguling, dia akan tiruin kita berguling. Tapi kemudian dia jadi agak galak sekarang."
"O, kenapa bisa gitu?"
"Habis ditabrak motor, dia jadi berubah. Kayaknya dia jadi trauma, bu. Kalau didekati dia sudah curiga duluan. Kasihan. Dan lagi jalannya jadi pincang."
Hmmm, aku pikir ya begitulah. Karena pernah ditabrak sekali, Heli jadi berubah perangainya. Apalagi kalau manusia sering 'ditabrak', jelas sekali akan berubah. Bisa jadi apapun.