Angin membawa pesan
"Aku akan datang."
Kapan?
Terduduk sadar.
Siapa?
Tidak sabar.
O!
Monday, May 24, 2010
Tuesday, May 18, 2010
Mind
Keluar rumah dengan pikiran : dimana ada adil dan damai?
Masuk rumah dengan pikiran : di sinilah!
Lalu berpikir : dimana rumah?
Di sinilah!
Masuk rumah dengan pikiran : di sinilah!
Lalu berpikir : dimana rumah?
Di sinilah!
Saturday, April 17, 2010
Circle
Berada dalam perputaran keperempuanan selalu memberikan rasa syukur. Walau mesti dirasakan dengan darah, ngilu, juga pedih mengingat para kekasih yang jauh tapi memberikan denyut di nadi terdekat.
Aku tetap bersyukur menjadi perempuan, yang berputar. Terus berada dalam perputaran.
Aku tetap bersyukur menjadi perempuan, yang berputar. Terus berada dalam perputaran.
Monday, March 29, 2010
Dream
Semalam aku mimpi sangat sangat panjang. Tidur sangat awal membuat mimpi lebih panjang, rupanya. Mimpiku kali ini sangat teratur dan mudah sekali diingat detailnya dari awal hingga akhir. Pun siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya, tokoh-tokohnya. Aku kira aku mudah mengingatnya karena mimpi ini juga merupakan pengulangan dari banyak mimpiku malam-malam sebelumnya. Dari berbulan-bulan yang silam. Mungkin benar dugaan selama ini bahwa mimpi adalah sebuah video rekaman dari keinginan/kejadian/ramalan/dll yang terpendam di bawah sadar.
Spesial untuk mimpiku yang ini, aku akan cerita detailnya dalam bentuk cerpen saja, tapi nanti ya. Bukan sekarang.
Spesial untuk mimpiku yang ini, aku akan cerita detailnya dalam bentuk cerpen saja, tapi nanti ya. Bukan sekarang.
Friday, March 26, 2010
Friend
Mungkin tidak makan bersama, tidak tidur bersama, tidak berjalan bersama. Bahkan tidak saling menatap, menyentuh, bercakap.
Tapi saat aku bisa memandangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan gembira.
Tapi saat aku bisa memegangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rindu.
Tapi saat aku bisa menyapamu, aku hanya bisa melakukannya dengan tersenyum.
Tidak ada pilihan sikap lain.
Pun ketika mengenangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rasa syukur, bahwa engkau adalah temanku.
Tapi saat aku bisa memandangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan gembira.
Tapi saat aku bisa memegangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rindu.
Tapi saat aku bisa menyapamu, aku hanya bisa melakukannya dengan tersenyum.
Tidak ada pilihan sikap lain.
Pun ketika mengenangmu, aku hanya bisa melakukannya dengan rasa syukur, bahwa engkau adalah temanku.
Thursday, March 25, 2010
Mother Love
Mencintai hingga sakit? Aku tetap sakit. Dan aku tetap cinta. Mau apa?
Hanya aku ingin mengubahnya. Cinta yang tidak menyakitimu.
Hanya aku ingin mengubahnya. Cinta yang tidak menyakitimu.
Wednesday, March 24, 2010
Wink
Aku berdiri jangkung di depannya dengan sangat malu.
"Ini bukan soal teman-temannya, guru-gurunya dan sebagainya. Bahkan juga bukan soal Albert. Ini adalah tentang dirimu. Lihatlah dirimu sendiri."
Ya, seperti itulah. Aku akan cari jawabnya.
"Tidak untukku atau untuk orang lain. Tapi untuk dirimu sendiri. Maaf ya."
Ya.
"Ini bukan soal teman-temannya, guru-gurunya dan sebagainya. Bahkan juga bukan soal Albert. Ini adalah tentang dirimu. Lihatlah dirimu sendiri."
Ya, seperti itulah. Aku akan cari jawabnya.
"Tidak untukku atau untuk orang lain. Tapi untuk dirimu sendiri. Maaf ya."
Ya.
Monday, March 22, 2010
Like My Son
"Hanya karena hal sepele, matanya pasti meleleh. Waktu pindah kelas itu, sandalnya nyelip entah bagaimana, ketukar ke kelas yang lain. Aduh, mam, air matanya itu... Mbok dicari dulu, wong teman-temannya saja mau bantu kok."
"Memang begitu, bu?"
"Iya, lalu waktu berenang itu. Celananya dipakai oleh Davin. Celana Davin masuk ke tasnya sendiri. Nah, belum apa-apa sudah air mata dulu. Tanpa suara. Tapi begitu ketemu, ya sudah, nyengenges dia. Senyum lebar."
"Dia memang sensitif, bu."
"Iya, memang, mam."
"Aku kira seperti ibunya."
"Hahaha...cocok."
(Aku pun terbawa ke masa kanak-kanakku. Seperti anak laki-lakiku ini. Tidak ada yang salah.)
"Memang begitu, bu?"
"Iya, lalu waktu berenang itu. Celananya dipakai oleh Davin. Celana Davin masuk ke tasnya sendiri. Nah, belum apa-apa sudah air mata dulu. Tanpa suara. Tapi begitu ketemu, ya sudah, nyengenges dia. Senyum lebar."
"Dia memang sensitif, bu."
"Iya, memang, mam."
"Aku kira seperti ibunya."
"Hahaha...cocok."
(Aku pun terbawa ke masa kanak-kanakku. Seperti anak laki-lakiku ini. Tidak ada yang salah.)
Friday, March 19, 2010
Belajar Berpisah
Kehilangan orang dekat karena kematian sungguh menorehkan beribu perasaan yang tak dapat terlukiskan. Satu pembelajaran lagi dari peristiwa kematian adalah bagaimana aku bisa belajar untuk berpisah. Perpisahan harus diolah supaya tidak sekedar menjadi perpisahan. Belajar berpisah.
Saturday, January 16, 2010
Awal Tahun yang Terlambat
Biasanya pada awal tahun aku membuat misi khusus sepanjang satu tahun. Tahun 2010 ini aku mempunyai misi : menjadi serius. Aku hanya mau serius pada apa yang sudah aku kerjakan. Sudah jadi kulinya Majalah Nuntius ya kuli yang serius. Jadi pekerjanya bagian JP ya serius jadi pejuang keadilan dan perdamaian. Sudah jadi istri dan ibu yang serius jadi istri dan ibu. Sudah jadi bagian pada titik-titik pertemanan, ya serius jadi teman yang baik bagi mereka itu. Sudah kadung cinta pada puisi dan cerpen ya serius pada puisi dan cerpen. Sudah terlanjur cinta dengan banyak kekasih ya aku akan serius mencinta. Pokoknya tahun 2010 ini akan jadi tahun yang serius buatku. Dukung aku ya teman-teman...
Monday, November 23, 2009
Wednesday, November 18, 2009
Tolol
Aku adalah orang tolol. Yang tersenyum pada tembok yang berjalan ke arahku, siap untuk aku tabrak. Sungguh telah aku tabrak dan aku belum sadar juga bahwa tembok itu penuh dengan paku, melukaiku. Aku tidak sadar bahwa tubuhku sudah berdarah saat aku menyentuk tembok itu bukan hanya saat sekarang ini ketika aku terjepit di antaranya. Yah, tolol sungguh aku yang mengira bahwa aku memegang cermin dengan bayangan di belakang saja. Tidak, aku sungguh-sungguh dihancurkan oleh tembok berpaku yang saat ini menjepitku.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.
Aduh, betapa tololnya aku. Dan lebih lagi ketololan itu ketika aku tidak juga beringsut mencari jalan keluar, malah menancapkan paku-paku semakin dalam ke kulitku. Aku membiarkan diriku jadi tolol.
Tuesday, November 17, 2009
Umbrella
Aku punya payung yang dengan sangat terpaksa aku kembangkan. Ini karena hujan yang bertubi. Ah, ya teman, betul katamu, aku adalah penyuka hujan. Ah bahkan lebih dari itu, aku cinta hujan. Tapi ternyata aku butuh payung jika hujan-hujan mulai menyakitiku. Yah, aku perlu payung yang mengembang. Melindungi dari sakit karena hujan yang bertubi.
Thursday, November 12, 2009
Apa mauku?
Setelah ribut sibuk menyebutkan sekalian keinginan yang berhamburan di pikiranku aku terdiam oleh pertanyaan :"Lalu, apa maumu?"
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.
(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)
Apa mauku? Terdiam panjang... lalu aku putuskan dengan gelengan kepala. Aku tidak tahu.
(Tak satu katapun bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sekali ini aku menyesal telah menjadi perempuan yang biasa mengandalkan rasa, yang ternyata pun jadi pengkianat utamaku.)
Friday, November 06, 2009
Kehujanan
Semalam aku kehujanan. Aku menggigil di depan anugerah besar. Menangkupkan tangan erat-erat di badanku, mencoba mencari kehangatan dari tanganku sendiri. Beberapa tetes di pipiku sebagian masuk ke bibirku. Mengingatkanku bahwa aku sangat haus. Aku ingat ada botol air minum di tasku, tapi ternyata tak ada lagi isinya.
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."
Apa yang mesti kupikir? Bagaimana aku bisa pulang? Aku menatap beberapa sudut ke atas. Di kamar mana ada kehangatan yang masih boleh aku rasa? Aku menampar daguku keras-keras mengingatkan diri bahwa tak ada lagi lembaran-lembaran merah atau biru untuk menukar kehangatan itu.
"Dan itu bukan rumahmu!!"
"Iya, itu bukan rumahku. Tapi aku belum bisa pulang dalam hujan seperti ini."
"Duduk saja di sini."
Dia yang tak terlihat wajahnya, menarik dari jongkokku untuk duduk di jok Mioku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membenamkan tubuhnya dalam memoriku. Aku menari-menari dalam khayali bersamanya, tak hirau lagi hujan menderu di sekitar. Hanyut dalam waktu sambil menunggu hujan reda.
Dia yang tak terlihat wajahnya, menyentuhku dengan seluruh rasa yang mungkin pernah ditawarkan waktu padaku dulu. Dia menemaniku menikmati dingin dan hujan. Hanyut dalam waktu sampai hujan reda.
"Hei, jangan pergi. Ehm...paling tidak katakan siapa namamu sebelum kau pergi."
Aku menahannya ketika waktu sudah mengusirku dari kubangan hujannya. Dia yang tak terlihat wajahnya menoleh padaku, dengan senyumnya yang merekah dan menyebut namanya halus.
"Rindu."
Thursday, October 29, 2009
Ketinggalan Jaman
Kemarin saat pulang dari menjemput Albert, sudah remang menjelang magrib, di belokan jalan masuk perumahan, seorang bapak mengangguk, tersenyum dan membunyikan klakson. Aku membalas sapaan itu. Kemudian Albert bertanya.
"Ibu tahu itu tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Yang baru saja ngebel itu."
"Nggak. Memang siapa, Bert? Albert kenal?"
"Itu kan Bapaknya Putu. Yang rumahnya samping Robi. Masa ibu gak tahu sih?"
"Oh, itu... Kok ibu gak pernah lihat?"
"Ibu sih tidak pernah keluar rumah."
"Masa sih Bert. Ibu kan keluar rumah terus."
"Iya, tapi ibu gak pernah main dengan ibu-ibu itu. Ibunya Afif, Pandu, Robi dan lain-lain kan sering main bareng di luar rumah."
"Memang ibu-ibu main apaan?"
"Bukan, bu. Ibu ini gak ngerti lo. Duduk-duduk bareng, ngobrol,...jadi gak ketinggalan jaman. Masa bapaknya Putu aja gak kenal."
"Lah ibu kapan bisa begitu. Kalau sore pulang jemput Albert gini pasti udah capek, dan ibu gak lihat ada ibu-ibu di luar rumah."
"Ya gak sore-sore. Siang atau pagi."
"Memang para ibu suka ngomong apa, Bert?"
"Macem-macem, bu. Tentang...alat makan, alat minum atau apa gitu. Albert sering denger kalau lagi main di dekat-dekat mereka. Ah, ibu ini ketinggalan jaman deh."
Aku gak tahu harus mikir apa. Tapi percakapan dengan Albert ini cukup mengusikku. Dia sendiri anak yang sangat memasyarakat. Sampai radius berapa kilometer, masih ada juga yang menyapa dan meneriakkan namanya. Aku sampai heran juga bagaimana mungkin Albert dikenal oleh orang-orang di luar perumahan, di blok lain dan sebagainya.
"Aku pernah dibantu cari kepiting sama mereka." Astaga, tentu saja aku melotot mendengar jawaban itu saat aku tanya kok gerombolan remaja usia SMA bisa meneriakkan nama Albert saat dia aku boncengin di blok E. Jarak yang lumayan jauh dari rumah. Keberanian Albert sering menguatirkanku. Tapi aku juga tidak ingin mengekangnya.
Alhasil, kalau mencariku di kompleks perumahan tempat aku tinggal, tidak mungkin dikenal jika sebut namaku. Sebut saja : Mama Albert atau Ibu Albert. Mereka akan paham dimana rumah yang harus didatangi.
Thursday, October 22, 2009
Ibu
Ini bukan foto baru. Diambil saat hari-hari pertama si kecil masuk sekolah, entah hari yang ke berapa. Aku mesti membantunya mengenakan baju, kaos kaki, sepatu, menyiapkan bekalnya dan kemudian mengantarnya ke sekolah. Menunggunya di gerbang hingga menghilang di deretan bangungan sekolah, setelah mencium pipi, bibir dan kening, tak lupa berkat di dahi. Ah juga setelah tepuk khusus yang hanya kami yang tahu. (Tos, jempol, kelingking, dan adu bogem. Hehehe...jika mau praktek, datanglah. Dan kemudian salaman kencang yang ditutup jabat erat gaya pejuang. "Selamat berjuang, jadi anak baik ya." Kadang,"Selamat berjuang jadi anak pintar!" Atau kata lain,"Selamat berjuang...")
Hal yang sama aku lakukan untuk si besar hingga kelas 2. Saat kelas 3 dia sudah mandiri karena sekolahnya siang, dan aku tidak bisa antar. Gantian, pulangnya yang bareng aku.
Tiap pagi, itulah upacara ibadatku. Sampai sekarang.
Ada hari-hari tertentu dimana aku tidak bisa melakukan hal itu. Jika aku tidak ada di rumah. Mereka bisa melakukan sendiri beberapa hal, atau dibantu Wawak.
Melakukannya, membuatku jadi ibu. Bukan hanya rahimku, tapi juga tanganku, mataku, mulutku, kakiku, tubuhku, hatiku...
Ya, aku seorang ibu. Aku tidak akan melupakannya. Walau mungkin aku juga menjadi seseorang yang lain saat bertemu dengan orang lain.
Ibu. Aku seorang ibu. Aku akan terus mengingatnya.
Friday, October 16, 2009
Never
Menahan diri pada 'never'. Tidak mungkin. Karena memang aku pernah merasakan gelitiknya di ujung-ujung rambutku. Dan aku menyukainya. Tidak mungkin.
Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.
Tapi aku akan bertahan pada 'never'. Untuk masa mendatang.
Thursday, September 17, 2009
Pelukan Abadi
Aku sedang mempertahankan sebuah pelukan menjadi abadi. Erat aku cengkeram lengan-lengannya supaya jangan longgar dari jiwaku. Kukempiskan tubuhku sehingga tetap dalam rangkumannya. Aku menangis dalam pertahanan ini karena cengkeraman tanganku melukai dadaku. Mengempiskan tubuh sendiri sama juga menyakiti hati sendiri.
Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."
Pelukan abadi, itu mauku. Tanpa kata, hanya menunggu sebuah perjumpaan dimana aku bisa mencium nyata baunya dan memberikan senyumku sembari melemparkan pesan,"Aku baik-baik saja."
Subscribe to:
Posts (Atom)