Cinta sering menyamar menjadi apapun sesuka hatinya, betapa aku gemas melihatnya. Bayangkan, kemarin dia menjelma menjadi malam. Dengan jubah-jubahnya yang temaram dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Bibirnya merayu mengajakku berdansa. Bagaimana aku bisa menolak? Aku mengikuti gerak tubuhnya, 22.00, 23.00, 24.00, dan seterusnya hingga dini hari aku menari bersamanya. Melekat pada liuk tubuh basahnya bermandi renjana.
Pagi ini cinta menjelma menjadi cawan. Dia menawarkan mawar dan coklat. "Ambillah nanti dari bibirku," janjinya. Aku meregang dalam asa,"Andai sekarang. Tidak bisakah?" Bisikku pelan-pelan takut mengganggu keheningannya. Aku haus minum dari bibirnya. Dia menegak mengokohkan dirinya dalam siku-siku yang tak terjangkau. Dan sejurus kemudian dia memelukku, kembali dalam rayuan,"Aku ingin. Aku berharap."
Cinta melenggang pergi ketika siang berlalu. Aku tersenyum menatap genggamanku sendiri yang terisi janjinya, bahwa dalam waktu dekat akan datang lagi. Jangan menghitung tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik. Aku hanya perlu tersenyum, karena aku pasti mengenalinya dalam penyamaran apapun yang dia kenakan.
(Aku ingin menyakinkan diriku : apapun adalah rahmat.)
Saturday, February 14, 2009
Thursday, February 12, 2009
Hujan deras
Hujan deras mengguyur ladangku. Baunya menyengat kental menyertai genangan-genangan yang cepat terbentuk di sana-sini. Kecipak air akan segera terbentuk jika aku melangkahkan kaki di sana. Ah, teman, aku sangat menyukai ini. Air yang menciprat dari tumitku sangat indah. Jernih seperti taburan berlian berhamburan dalam setiap gerak. Dan cobalah ikuti tarianku! Air akan memercik dari seluruh sudut benturan air. Mencipta bentuk-bentuk segala warna segala rasa.
Memang aku kadang menjatuhkan diri di salah satu sudut. Tak bisa menahan diri jika pendarahanku tak juga berhenti. Rahim yang telah menebal selalu luruh dalam gumpalan-gumpalan asa. Sakit.
Basah kuyup aku dalam hujan deras yang mengguyur ladangku. Aku menangis dan tersenyum. Aku tersenyum dan menangis. Bagaimana harus kupindai ceceran embun malam? Bagaimana aku dapat merengkuhnya puas dan menyematkannya di dada?
Dalam hujan deras ini, aku rindu embun malamku.
Memang aku kadang menjatuhkan diri di salah satu sudut. Tak bisa menahan diri jika pendarahanku tak juga berhenti. Rahim yang telah menebal selalu luruh dalam gumpalan-gumpalan asa. Sakit.
Basah kuyup aku dalam hujan deras yang mengguyur ladangku. Aku menangis dan tersenyum. Aku tersenyum dan menangis. Bagaimana harus kupindai ceceran embun malam? Bagaimana aku dapat merengkuhnya puas dan menyematkannya di dada?
Dalam hujan deras ini, aku rindu embun malamku.
Malaikat tanpa sayap
Ada malaikat-malaikat di sekitarku. Mereka membantuku jika aku memerlukannya. Kapanpun aku mau!
Aku bisa menarik tangan mereka, memintanya duduk di sebelahku dan menemaniku bekerja dengan segala dongeng dari bibir mereka yang terus tersenyum.
Aku bisa mengajak mereka dalam perjalananku ke berbagai tempat, ikut mengangkat beberapa barang yang aku perlukan bahkan menggendongku kalau aku menginginkannya.
Aku bisa melihat mereka menari dan bernyanyi, khusus untukku dengan gerakan tubuh mereka yang indah, yang sesekali menempelkannya hangat pada tubuhku.
Malaikat-malaikat itu membuatku bisa tersenyum apapun yang sedang terjadi padaku. Tangis dan tawa jadi hal yang biasa dalam rangkulan para malaikat itu.
Para malaikatku ini tidak bersayap. Hadir kasat mata lewat dirimu, dirinya dan siapapun, yang aku anggap sahabat atau yang menganggapku sahabat. Mungkin aku juga bisa menjadi malaikat bagimu, baginya dan siapapun.
Aku bisa menarik tangan mereka, memintanya duduk di sebelahku dan menemaniku bekerja dengan segala dongeng dari bibir mereka yang terus tersenyum.
Aku bisa mengajak mereka dalam perjalananku ke berbagai tempat, ikut mengangkat beberapa barang yang aku perlukan bahkan menggendongku kalau aku menginginkannya.
Aku bisa melihat mereka menari dan bernyanyi, khusus untukku dengan gerakan tubuh mereka yang indah, yang sesekali menempelkannya hangat pada tubuhku.
Malaikat-malaikat itu membuatku bisa tersenyum apapun yang sedang terjadi padaku. Tangis dan tawa jadi hal yang biasa dalam rangkulan para malaikat itu.
Para malaikatku ini tidak bersayap. Hadir kasat mata lewat dirimu, dirinya dan siapapun, yang aku anggap sahabat atau yang menganggapku sahabat. Mungkin aku juga bisa menjadi malaikat bagimu, baginya dan siapapun.
Wednesday, February 11, 2009
Menanti Purnama
aku sedang merajut cadar
yang akan aku pakai saat purnama nanti
pesta bagi jiwa dan hatiku
yang rahasia biarlah tetap rahasia
tak kan kubiarkan mataku membukanya
aku sedang merajut cadar
untuk menutup mataku
yang pancarannya pun bukan kendaliku
yang rahasia biarlah tetap rahasia
pesta bagi jiwa dan hatiku
saat purnama nanti
yang akan aku pakai saat purnama nanti
pesta bagi jiwa dan hatiku
yang rahasia biarlah tetap rahasia
tak kan kubiarkan mataku membukanya
aku sedang merajut cadar
untuk menutup mataku
yang pancarannya pun bukan kendaliku
yang rahasia biarlah tetap rahasia
pesta bagi jiwa dan hatiku
saat purnama nanti
Bakpia Pathok dan Segebok Cinta
Apakah ada hubungannya antara bakpia pathok Jogjakarta dan cinta? Tidak ada hubungannya, tapi jika diucapkan bersama-sama jadi lumer di mulut dan enak gurih jadi satu. Jika mau detailnya, tanya saja pada suamiku, Hendro tercinta. Karena dia yang melontarkan ide itu kemarin.
"Terimakasih Den Hendro atas segala pengertiannya. Semoga engkau tidak menyesal mempunyai istri sepertiku. Pasti akan aku bawakan bakpia pathok dan segebok cinta. Jangan kuatir."
Dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku ini istri yang baik. Aku tidak tahu dan tidak yakin akan hal itu. Yang pasti, aku tahu dan yakin bagaimana seorang perempuan harusnya berdiri dan bertindak.
"Terimakasih Den Hendro atas segala pengertiannya. Semoga engkau tidak menyesal mempunyai istri sepertiku. Pasti akan aku bawakan bakpia pathok dan segebok cinta. Jangan kuatir."
Dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku ini istri yang baik. Aku tidak tahu dan tidak yakin akan hal itu. Yang pasti, aku tahu dan yakin bagaimana seorang perempuan harusnya berdiri dan bertindak.
Saturday, February 07, 2009
Duduk
Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja... Untuk menyakinkan bahwa memang ada sesuatu antara aku dan kamu. Bahwa memang aku bisa sejajar setara denganmu. Bahwa memang aku bisa dekat denganmu.
Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...
Tapi setiap kali, aku hanya menelan ludah. Kamu selalu duduk di bagianmu sendiri. Kursi yang tak kan mungkin kusanding. Bahkan aku tidak mungkin duduk sederet denganmu. Deretan tempatku duduk jauh dari tempatmu.
Aku hanya bisa memandang tengkukmu dari belakang. Karena tak mungkin aku duduk di kursi sebelahmu. Deretanku bukan pada deretan kursimu. Aku tak mungkin sejajar setara denganmu karena aku tak mungkin bisa duduk di kursi sebelahmu.
Oh, teman. Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...
Itu hanya mungkin jika kau menggeser tempat dudukmu. Karena aku tidak mungkin duduk di deretan tempat duduk bagianmu. Tak ada bagianku di sana.
Itu hanya mungkin jika kau mau berdiri dan berpindah duduk di sebelahku. Karena deret tempat dudukku bisa untuk siapapun, terlebih dirimu. Ada bagianmu juga di situ.
Atau kau bisa memindahkan kursimu ke deretan kursiku.
Oh, teman. Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...
(Dan aku bisa memandang matamu sejajar dengan mataku. Dan meletakkan bibirku pada bibirmu pada garis lurus. Dan menyatukan kembali otaku dan otakmu yang tercerai berai. Dan kita bisa saling memeluk, walau sebentar saja...)
Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...
Tapi setiap kali, aku hanya menelan ludah. Kamu selalu duduk di bagianmu sendiri. Kursi yang tak kan mungkin kusanding. Bahkan aku tidak mungkin duduk sederet denganmu. Deretan tempatku duduk jauh dari tempatmu.
Aku hanya bisa memandang tengkukmu dari belakang. Karena tak mungkin aku duduk di kursi sebelahmu. Deretanku bukan pada deretan kursimu. Aku tak mungkin sejajar setara denganmu karena aku tak mungkin bisa duduk di kursi sebelahmu.
Oh, teman. Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...
Itu hanya mungkin jika kau menggeser tempat dudukmu. Karena aku tidak mungkin duduk di deretan tempat duduk bagianmu. Tak ada bagianku di sana.
Itu hanya mungkin jika kau mau berdiri dan berpindah duduk di sebelahku. Karena deret tempat dudukku bisa untuk siapapun, terlebih dirimu. Ada bagianmu juga di situ.
Atau kau bisa memindahkan kursimu ke deretan kursiku.
Oh, teman. Betapa inginnya aku duduk di sebelahmu. Sebentar saja...
(Dan aku bisa memandang matamu sejajar dengan mataku. Dan meletakkan bibirku pada bibirmu pada garis lurus. Dan menyatukan kembali otaku dan otakmu yang tercerai berai. Dan kita bisa saling memeluk, walau sebentar saja...)
Friday, February 06, 2009
Topeng
Aku punya sebuah ruang koleksi yang spesial. Sewaktu-waktu aku akan datang kesana, dengan kunci perak yang aku punya. Mau tahu apa yang aku koleksi? TOPENG! Ya, ada banyak tak terhitung topeng yang aku koleksi di ruang itu. Semuanya tersimpan dalam rak-rak yang sangat mudah dijangkau. Aku atur topeng-topeng itu berderet sesuai karakter-karakternya. Misalnya di deret sebelah kiri dekat pintu ini, rak paling atas adalah topeng para putri dari berbagai kerajaan. Beberapa diantaranya terselip juga beberapa topeng raja. Beberapa topeng raja itu pernah aku pakai. Malah beberapa waktu yang lalu sering banget aku pakai. Memang enak menjadi raja. Deretan di bawahnya adalah topeng-topeng dengan wajah melankolis. Nah, sebagian diantaranya bahkan lengkap dengan titik-titik cerlang air mata. Wow, hebat pembuatnya memang. Sangat mirip dengan airmata asli. Bening dan berkilauan. Deret paling bawah adalah topeng-topeng badut. Lucu dengan beraneka bentuk wajah. Rak paling ujung saja juga penuh dengan topeng-topeng.
Ah, okeylah, aku tidak bisa bercerita tentang semua topeng yang beraneka ragam itu. (Ssst, bahkan ada topeng Power Ranger juga yang aku punya, atau yang spesial ada topeng Mdr. Theresa, atau bahkan ada topeng Madonna,...apa saja ada deh.) Aku cuma mau tunjukkan bahwa aku mengoleksi banyak topeng. Beberapa sering aku pakai dan sangat mudah diganti-ganti karena ruang koleksi topengku ini hanya di belakang punggungku. Tinggal berbalik, buka pintunya, raih topengnya, sudah bisa langsung di pasang di wajahku. Nah, silakan saja tebak sekarang topeng apa yang sedang aku pakai. Atau, bisa gak membedakan mana wajah asli dan mana topengku?
Ah, okeylah, aku tidak bisa bercerita tentang semua topeng yang beraneka ragam itu. (Ssst, bahkan ada topeng Power Ranger juga yang aku punya, atau yang spesial ada topeng Mdr. Theresa, atau bahkan ada topeng Madonna,...apa saja ada deh.) Aku cuma mau tunjukkan bahwa aku mengoleksi banyak topeng. Beberapa sering aku pakai dan sangat mudah diganti-ganti karena ruang koleksi topengku ini hanya di belakang punggungku. Tinggal berbalik, buka pintunya, raih topengnya, sudah bisa langsung di pasang di wajahku. Nah, silakan saja tebak sekarang topeng apa yang sedang aku pakai. Atau, bisa gak membedakan mana wajah asli dan mana topengku?
Wednesday, February 04, 2009
Meremas Jarak
jarak aku remas dalam genggaman
mengkerut dia di sela-sela jariku
sejauh apa rasa bisa dipisahkan oleh jarak?
tidak sejengkalpun,
karena jarak ada di sela-sela jariku
indera tidak lagi berguna dalam lautan hening ini
dia hanya pantulan wajah rasa, yang mengambang
sedang rasa, adalah kedalaman
sangat dalam di pori-pori hati
menutup lubang-lubang yang perlu diisi
hingga bulat penuh
hanya, rasa
jarak?
biarlah dia takluk dalam remasan jari-jari tanganku
mengkerut dia di sela-sela jariku
sejauh apa rasa bisa dipisahkan oleh jarak?
tidak sejengkalpun,
karena jarak ada di sela-sela jariku
indera tidak lagi berguna dalam lautan hening ini
dia hanya pantulan wajah rasa, yang mengambang
sedang rasa, adalah kedalaman
sangat dalam di pori-pori hati
menutup lubang-lubang yang perlu diisi
hingga bulat penuh
hanya, rasa
jarak?
biarlah dia takluk dalam remasan jari-jari tanganku
Pijat
Semalam nenek tukang pijat dekat rumah akhirnya datang.
"Maaf. Lha nenek harus kemana-mana dinasnya. Itu pak Nur yang depan rumah saja belum kena tangan nenek juga." Karena ada tanda-tanda bahwa si nenek (sebenere belum terlalu tua, tapi memang sudah punya cucu.) akan pergi lagi, cepat-cepat aku tarik dia ke kamar. Kalau tidak nanti malah ditangkap orang lain.
Selanjutnya, wah nikmat sekali. Bayangin sendiri. Lepas baju semua, (baju dalam juga, hanya tinggal cd doang hehehe...pose pantai), dibaluri minyak sekujur tubuh oleh tangan trampil si nenek yang lembut tapi juga kuat. Mulai dari kaki hingga ke jari-jari, lalu sekujur punggung pundak leher, tangan...pokoke tak terkecuali semua kena sentuh si nenek.
Tahu nggak bonusnya? Si nenek tidak habis-habisnya bercerita tentang orang-orang yang aku kenal dan tidak aku kenal. Dengan cerita yang tidak aneh maupun yang aneh. Ngerumpi habis. Sesekali aku hanya nanggapi,"Masak sih, nek." Atau hanya berdehem dikit. Sesekali berteriak karena ngurutnya kadang terlalu keras. Gak usah mikir apa-apa, oh nikmatnya. 1,5 jam! Hebat si nenek. Hingga titik akhirpun dia masih semangat.
Usai itu badan rasanya sangat enak, lentur, siap tidur. Kapan-kapan mau lagi ya, nenek. Lain kali aku pesan cerita dongeng saja, tentang pangeran, putri, cinta, hidup bahagia selamanya,... atau tentang kancil, harimau, buaya...
"Maaf. Lha nenek harus kemana-mana dinasnya. Itu pak Nur yang depan rumah saja belum kena tangan nenek juga." Karena ada tanda-tanda bahwa si nenek (sebenere belum terlalu tua, tapi memang sudah punya cucu.) akan pergi lagi, cepat-cepat aku tarik dia ke kamar. Kalau tidak nanti malah ditangkap orang lain.
Selanjutnya, wah nikmat sekali. Bayangin sendiri. Lepas baju semua, (baju dalam juga, hanya tinggal cd doang hehehe...pose pantai), dibaluri minyak sekujur tubuh oleh tangan trampil si nenek yang lembut tapi juga kuat. Mulai dari kaki hingga ke jari-jari, lalu sekujur punggung pundak leher, tangan...pokoke tak terkecuali semua kena sentuh si nenek.
Tahu nggak bonusnya? Si nenek tidak habis-habisnya bercerita tentang orang-orang yang aku kenal dan tidak aku kenal. Dengan cerita yang tidak aneh maupun yang aneh. Ngerumpi habis. Sesekali aku hanya nanggapi,"Masak sih, nek." Atau hanya berdehem dikit. Sesekali berteriak karena ngurutnya kadang terlalu keras. Gak usah mikir apa-apa, oh nikmatnya. 1,5 jam! Hebat si nenek. Hingga titik akhirpun dia masih semangat.
Usai itu badan rasanya sangat enak, lentur, siap tidur. Kapan-kapan mau lagi ya, nenek. Lain kali aku pesan cerita dongeng saja, tentang pangeran, putri, cinta, hidup bahagia selamanya,... atau tentang kancil, harimau, buaya...
Tuesday, February 03, 2009
Soneta Manggar Sutra
Rajutan awan sudah terburai sejak pagi itu
saat kakiku dan kakimu melangkah mengitari api suci
beberapa kali, dengan renteng bunga menyatu
tanpa satu bahasapun berniat mengingkari
Manggar sutra terentang antara mataku dan matamu
mengalungi kelopak-kelopak kita penuh daya
menjadi ikatan menghubungkan hasratku dan hasratmu
tiada samaran tepat untuk mengerudunginya
Melenggang lenggok kita berdansa di atas titian
yang bahkan tidak pada satu aliran sungai sama
memaksa tirai-tirai nyata berpadu dengan impian
seolah kita pemilik sah dari seluruh gerak semesta
Tertinggal di antara kaki kita, ceceran-ceceran tanya
yang semakin melangkah, semakin kehilangan tandanya
saat kakiku dan kakimu melangkah mengitari api suci
beberapa kali, dengan renteng bunga menyatu
tanpa satu bahasapun berniat mengingkari
Manggar sutra terentang antara mataku dan matamu
mengalungi kelopak-kelopak kita penuh daya
menjadi ikatan menghubungkan hasratku dan hasratmu
tiada samaran tepat untuk mengerudunginya
Melenggang lenggok kita berdansa di atas titian
yang bahkan tidak pada satu aliran sungai sama
memaksa tirai-tirai nyata berpadu dengan impian
seolah kita pemilik sah dari seluruh gerak semesta
Tertinggal di antara kaki kita, ceceran-ceceran tanya
yang semakin melangkah, semakin kehilangan tandanya
Saturday, January 31, 2009
Kesalahan Tanggal
Tolongg!!!
Aku baru sadar ada yang salah pada tanggal di blogku. Waktunya sedikit menyeleweng entah berapa jam sehingga seperti tulisanku terakhir itu bisa terpasang tanggal 30 Januari. Adakah yang bisa membantu? Aku sungguh katrok dalam hal ini. Dimana kesalahan yang sudah aku buat? Sebagai standar saja saat aku kirim postingan ini : Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 13.15.
Aku baru sadar ada yang salah pada tanggal di blogku. Waktunya sedikit menyeleweng entah berapa jam sehingga seperti tulisanku terakhir itu bisa terpasang tanggal 30 Januari. Adakah yang bisa membantu? Aku sungguh katrok dalam hal ini. Dimana kesalahan yang sudah aku buat? Sebagai standar saja saat aku kirim postingan ini : Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 13.15.
Janda
tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang
air mata tiada henti menjadi cuci bagi muka berduka
saat kudekap tubuh perempuan janda itu, tiada jiwa dalam raganya
air matanya berpindah ke pipiku
mengalir asin di ujung bibirku,"Aku ikut berduka."
hanya bisik tanpa arti bagi perempuan janda berduka
dia berjalan lengang mengiring jenasah
tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang
(Selamat jalan, Alkad. Aku mengenangmu yang sangat muda bersemangat. Sejak lahir di Bengkulu Selatan 1 September 1976 dulu, hingga mati 31 Januari 2009 pukul 10.00 tadi, jiwamu adalah jiwa tenang pelayanan. Aku ingat betapa sedihmu ketika nasib teman-teman berada di luar kendalimu yang sudah berjuang sekuat asa. Betapa senangmu ketika kesempatan hadir untuk melatih dan mendidikmu. Bagimu itulah ibadahmu. Selamat jalan.)
air mata tiada henti menjadi cuci bagi muka berduka
saat kudekap tubuh perempuan janda itu, tiada jiwa dalam raganya
air matanya berpindah ke pipiku
mengalir asin di ujung bibirku,"Aku ikut berduka."
hanya bisik tanpa arti bagi perempuan janda berduka
dia berjalan lengang mengiring jenasah
tiga jam baru lewat setelah suaminya berpulang
(Selamat jalan, Alkad. Aku mengenangmu yang sangat muda bersemangat. Sejak lahir di Bengkulu Selatan 1 September 1976 dulu, hingga mati 31 Januari 2009 pukul 10.00 tadi, jiwamu adalah jiwa tenang pelayanan. Aku ingat betapa sedihmu ketika nasib teman-teman berada di luar kendalimu yang sudah berjuang sekuat asa. Betapa senangmu ketika kesempatan hadir untuk melatih dan mendidikmu. Bagimu itulah ibadahmu. Selamat jalan.)
Thursday, January 29, 2009
El Crimen Del Padre Amaro
"Apa pendapatmu tentang cinta?"
"Cintalah yang menggerakkan dunia."
"Aku tidak tanya tentang itu. Tapi tentang kita."
"Hemh...aku, ehm... bagaimana ..., aku..."
"Tentang kita...?"
"Itu adalah rahmat, bagi kita berdua."
Tersenyum. Maka keduanya mencari tempat tersembunyi di balik kerudung mereka masing-masing. Untuk saling mencinta dan bercinta.
"Aku hamil."
"Tidak mungkin. Aku tidak mungkin... Kita tidak mungkin..."
"Aku hamil!"
"Aku akan mengantarmu ke tempat itu, tunggu hingga lahir dan kemudian ada yang mengadopsinya."
"Kamu menginginkan begitu?"
"Aku tidak yakin."
Menangis. Maka keduanya pergi ke tempat tersembunyi di balik kerudungnya masing-masing. Berdarah-darah...hingga mati dan penuh air mata.
(Ini kisah drama manusia. Mungkin juga ada di hadapanmu atau di sampingmu. Bahkan mungkin di belakangmu. Manusia... )
"Cintalah yang menggerakkan dunia."
"Aku tidak tanya tentang itu. Tapi tentang kita."
"Hemh...aku, ehm... bagaimana ..., aku..."
"Tentang kita...?"
"Itu adalah rahmat, bagi kita berdua."
Tersenyum. Maka keduanya mencari tempat tersembunyi di balik kerudung mereka masing-masing. Untuk saling mencinta dan bercinta.
"Aku hamil."
"Tidak mungkin. Aku tidak mungkin... Kita tidak mungkin..."
"Aku hamil!"
"Aku akan mengantarmu ke tempat itu, tunggu hingga lahir dan kemudian ada yang mengadopsinya."
"Kamu menginginkan begitu?"
"Aku tidak yakin."
Menangis. Maka keduanya pergi ke tempat tersembunyi di balik kerudungnya masing-masing. Berdarah-darah...hingga mati dan penuh air mata.
(Ini kisah drama manusia. Mungkin juga ada di hadapanmu atau di sampingmu. Bahkan mungkin di belakangmu. Manusia... )
Tuesday, January 27, 2009
Mengejar Satu Nada
begitu susahnya menangkap satu nada
dengan telinga yang dipenuhi
cemburu
...
(Aku kira inilah untungnya atau ruginya, bahwa aku tidak bisa menuntut apa-apa dan aku juga tidak bisa dituntut apa-apa. Kapan-kapan aku akan mengejarnya lagi, dan aku berjanji akan dapat kutangkap satu nada, untukku pribadi.)
dengan telinga yang dipenuhi
cemburu
...
(Aku kira inilah untungnya atau ruginya, bahwa aku tidak bisa menuntut apa-apa dan aku juga tidak bisa dituntut apa-apa. Kapan-kapan aku akan mengejarnya lagi, dan aku berjanji akan dapat kutangkap satu nada, untukku pribadi.)
Mendayung Kenangan
(Tangan-tangan angin Bandung mengkristal dalam kenangan)
tidak ada yang penting selain cawan perjumpaan
aku dan kamu, selesai, tanpa menggunakan titik
seperti para pujangga pun koma adalah sebuah nada
yang membuat ragu dan takut hanyalah lubang tertinggal
tidak mengapa!
kini ada dua selendang di bahuku, yang satu pelangi
satunya lagi adalah matahari
keduanya kurenda dengan tangan-tangan angin
mengkristal dalam cangkir-cangkir kopi
mari bersulang!
tidak ada yang penting selain cawan perjumpaan
aku dan kamu, selesai, tanpa menggunakan titik
seperti para pujangga pun koma adalah sebuah nada
yang membuat ragu dan takut hanyalah lubang tertinggal
tidak mengapa!
kini ada dua selendang di bahuku, yang satu pelangi
satunya lagi adalah matahari
keduanya kurenda dengan tangan-tangan angin
mengkristal dalam cangkir-cangkir kopi
mari bersulang!
Wednesday, January 21, 2009
Rindu
Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Saat itu aku datang dengan geliat rasa, meloncat begitu saja masuk dalam ruang itu. Ruang yang memelukku dalam kabut tebal.
Mataku tak melihat apapun kecuali hasrat. Sebuah sentuhan menyuruhku berbaring saja, menikmati ciuman-ciuman halimun yang semakin lama semakin menggugah rasa. Mendorongku untuk menggerakkan jari-jari menelusuri keinginan. Hanya menikmati saja.
Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Aku ingin merasakan lagi, buncahan rasa yang kemudian tertebar dalam seluruh inspirasi, dan meruap dalam seluruh bahasa.
Aku ingin mengulang lagi, cengkerama bersama pagi berkabut di ruang itu. Bersetubuh dengannya hingga bunting dan melahirkan deretan anak-anak kata. Yang bisa aku atur berjajar, bergerombol. Mungkin juga yang tak bisa aku atur, terserah saja.
Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Bolehkah?
Mataku tak melihat apapun kecuali hasrat. Sebuah sentuhan menyuruhku berbaring saja, menikmati ciuman-ciuman halimun yang semakin lama semakin menggugah rasa. Mendorongku untuk menggerakkan jari-jari menelusuri keinginan. Hanya menikmati saja.
Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Aku ingin merasakan lagi, buncahan rasa yang kemudian tertebar dalam seluruh inspirasi, dan meruap dalam seluruh bahasa.
Aku ingin mengulang lagi, cengkerama bersama pagi berkabut di ruang itu. Bersetubuh dengannya hingga bunting dan melahirkan deretan anak-anak kata. Yang bisa aku atur berjajar, bergerombol. Mungkin juga yang tak bisa aku atur, terserah saja.
Aku...bolehkah rindu... pada satu ruang di sebuah kota asing yang pernah aku datangi sekali dulu. Bolehkah?
Tuesday, January 20, 2009
Tukang Sayur
Semenjak Pasar Pasirgintung direnovasi, aku sangat jarang ke pasar. Kalau tidak perlu sekali atau lagi stress, aku tidak ke pasar. Dalam tahun ini sama sekali tidak pernah. Ah, ya, memang dulu-dulu juga kalau ke pasar tujuan utamaku bukan belanja. Soalnya, aku tidak pintar menawar. Seringkali kalau aku beli sesuatu di pasar harganya jauh lebih mahal daripada orang lain. Aku sering jadi olok-olokan tetangga gara-gara ini.
"Itu harganya cuma 5000, Tante. Kok gak ditawar sih..."
Perasaan sih aku sudah menawar. Nah, kalau harga suatu barang ditawarkan 20.000, lalu aku menawar 15.000 langsung diberikan, bagiku kan sudah sangat murah. Ternyata, trik kalau belanja di pasar sini ini, tawar harga 30 %nya. Waduh, mana tega. Maka, biasanya aku ke pasar jika ingin melihat-lihat, jalan-jalan, atau keperluan lain yang tidak terlalu penting. Untuk belanja harian lebih baik ke tukang sayur.
Terkait tukang sayur langganan, yang tiap jam 7 pagi berhenti di depan rumah, banyak hal yang unik asyik. Jika datang, orang pasti sudah tahu dari bunyi motornya yang berisik dan teriakannya,"Ibu-ibu, sahur-sahur, eh sayur...!!!"
Para ibu pun menggerombol dan dia akan kegeeran karena dikerubuti para ibu muda yang seksi bahenol berdaster, n sebagian pasti belum mandi. Dia dengan santai menyapa para ibu ini dengan panggilan khas,"Tidak boleh, yang. Dari pasar harganya sudah sebelas, lha kalo aku kasih sepuluh nanti yang di rumah makan apa. Ikan itu aja, sayang, lebih murah." Kebiasaannya memanggil para ibu dengan sebutan,"Sayang." , ini diteruskan juga olehnya walau sudah berapa kali kena masalah karenanya. Khususnya orang-orang baru, masalah dengan tukang sayur ini bisa muncul gara-gara panggilan sapaan ini. Pasalnya banyak suami-suami yang cemburu. Lah...gitu.
Enaknya belanja di tukang sayur ini adalah karena dia murah hati. Kalau ada timun tinggal sebiji ya sudah, dengan iklas diberikan. Beli lombok bisa dapat setumpuk dengannya. Bonus-bonus kecil gitu kan disukai para ibu, walaupun kadang dikibuli juga sama dia karena para ibu kuper gak tahu harga pasar. Enaknya lagi, dia bawa HP standby terus. Jadi kita bisa pesan bahan-bahan tertentu jika ragu-ragu saat tiba di depan rumah sudah habis. Jika mau ada resep khusus pun gak perlu repot. Tinggal SMS saja malam harinya. Dia pasti mau membelikan bahan-bahan yang di luar kebiasaan. Bahkan kalau jumlahnya banyak dia akan secara khusus mengantarnya karena gak muat di gerobaknya.
Pokoknya tiada hari ceria tanpa tukang sayur ini. La wong dia mau saja jadi tempat curhat para ibu. Biasa terjadi saat rame orang belanja, tiba-tiba ada panggilan lewat HPnya. Bermenit-menit dia ngobrol dengan seseorang. Dan mamang, eh, abang, eh, om, atau apa saja namanya (aku tidak tahu namanya. ya ampun. besok aku tanya deh siapa dia punya nama.) ini dengan santai akan meneruskan obrolannya padahal diledeki oleh para ibu sekompleks. "Biasa, fans..." Gitu kalau ditanya siapa.
Ah, perhatiannya bukan sebatas itu. Jika ada satu warga yang sakit, meninggal, dsb., dia pasti menyempatkan untuk menengok pada sore harinya, di luar jam kerja dan tentu saja dengan penampilan rapi jali harum wangi. Jika diledek dia pintar menjawab. "Iya, ini mau syuting, mampir dulu. Denger-denger kena demam berdarah, besok nitip jambu biji nggak?"
Nah, begitulah tukang sayur sabahat para ibu Perumahan Polri ini yang selalu dinanti, tiap pagi. Jika mau pesan belanjaan, kirim email saja ke aku, nanti aku SMS dia. Kalau aku pasang no HPnya di sini, bisa besar kepala dia karena mengira fansnya sudah melebar hingga seluruh dunia. Nah, gitu...
"Itu harganya cuma 5000, Tante. Kok gak ditawar sih..."
Perasaan sih aku sudah menawar. Nah, kalau harga suatu barang ditawarkan 20.000, lalu aku menawar 15.000 langsung diberikan, bagiku kan sudah sangat murah. Ternyata, trik kalau belanja di pasar sini ini, tawar harga 30 %nya. Waduh, mana tega. Maka, biasanya aku ke pasar jika ingin melihat-lihat, jalan-jalan, atau keperluan lain yang tidak terlalu penting. Untuk belanja harian lebih baik ke tukang sayur.
Terkait tukang sayur langganan, yang tiap jam 7 pagi berhenti di depan rumah, banyak hal yang unik asyik. Jika datang, orang pasti sudah tahu dari bunyi motornya yang berisik dan teriakannya,"Ibu-ibu, sahur-sahur, eh sayur...!!!"
Para ibu pun menggerombol dan dia akan kegeeran karena dikerubuti para ibu muda yang seksi bahenol berdaster, n sebagian pasti belum mandi. Dia dengan santai menyapa para ibu ini dengan panggilan khas,"Tidak boleh, yang. Dari pasar harganya sudah sebelas, lha kalo aku kasih sepuluh nanti yang di rumah makan apa. Ikan itu aja, sayang, lebih murah." Kebiasaannya memanggil para ibu dengan sebutan,"Sayang." , ini diteruskan juga olehnya walau sudah berapa kali kena masalah karenanya. Khususnya orang-orang baru, masalah dengan tukang sayur ini bisa muncul gara-gara panggilan sapaan ini. Pasalnya banyak suami-suami yang cemburu. Lah...gitu.
Enaknya belanja di tukang sayur ini adalah karena dia murah hati. Kalau ada timun tinggal sebiji ya sudah, dengan iklas diberikan. Beli lombok bisa dapat setumpuk dengannya. Bonus-bonus kecil gitu kan disukai para ibu, walaupun kadang dikibuli juga sama dia karena para ibu kuper gak tahu harga pasar. Enaknya lagi, dia bawa HP standby terus. Jadi kita bisa pesan bahan-bahan tertentu jika ragu-ragu saat tiba di depan rumah sudah habis. Jika mau ada resep khusus pun gak perlu repot. Tinggal SMS saja malam harinya. Dia pasti mau membelikan bahan-bahan yang di luar kebiasaan. Bahkan kalau jumlahnya banyak dia akan secara khusus mengantarnya karena gak muat di gerobaknya.
Pokoknya tiada hari ceria tanpa tukang sayur ini. La wong dia mau saja jadi tempat curhat para ibu. Biasa terjadi saat rame orang belanja, tiba-tiba ada panggilan lewat HPnya. Bermenit-menit dia ngobrol dengan seseorang. Dan mamang, eh, abang, eh, om, atau apa saja namanya (aku tidak tahu namanya. ya ampun. besok aku tanya deh siapa dia punya nama.) ini dengan santai akan meneruskan obrolannya padahal diledeki oleh para ibu sekompleks. "Biasa, fans..." Gitu kalau ditanya siapa.
Ah, perhatiannya bukan sebatas itu. Jika ada satu warga yang sakit, meninggal, dsb., dia pasti menyempatkan untuk menengok pada sore harinya, di luar jam kerja dan tentu saja dengan penampilan rapi jali harum wangi. Jika diledek dia pintar menjawab. "Iya, ini mau syuting, mampir dulu. Denger-denger kena demam berdarah, besok nitip jambu biji nggak?"
Nah, begitulah tukang sayur sabahat para ibu Perumahan Polri ini yang selalu dinanti, tiap pagi. Jika mau pesan belanjaan, kirim email saja ke aku, nanti aku SMS dia. Kalau aku pasang no HPnya di sini, bisa besar kepala dia karena mengira fansnya sudah melebar hingga seluruh dunia. Nah, gitu...
Monday, January 19, 2009
Promosi
Salah satu makanan kesukaan anak-anakku adalah sate ayam. Dan tempat favoritnya adalah sate Madura di dekat Bundaran Raden Intan. Sekali waktu, saya mengajak untuk makan di Way Halim, sate Madura juga, tapi mereka berdua tidak mau makan di situ.
"Kenapa sih Bert, Nard. Rasanya enak di sini. Ibu pernah makan di sini. Lebih enak dibanding yang dekat rumah."
"Nggak, aku maunya di sana saja."
"Aku juga." Yang kecil pun ikutan ngambek.
Okey, balik kucing, akhirnya kembali ke Bundaran. Sebenarnya tempatnya memang lebih dekat dengan rumah, ketimbang yang di Way Halim. Mereka berdua senyum-senyum saja setelah tiba di warung sate. Sambil menunggu sate dibakar, penjualnya ngobrol dengan Mas Hendro, pake bahasa Madura. (Gak aku mengerti sama sekali kecuali : "Tojuk dinak." (Duduk di sini.) Hehehe...) Istri penjualnya lalu menghampiri Albert dan Bernard. Mengulurkan dua tusuk sate. "Ini, dimakan, sambil nunggu." Mereka berdua duduk dan mengucapkan terimakasih lirih dengan manis, dan menikmati dua tusuk mereka. Ooo, ini rupanya.
"Jadi kalian suka disini karena dapat bonus ya?"
"Di tempat lain, kalau nunggu ya nunggu aja. Tidak ada yang ngasih sate. Disini selalu dikasih, ibu."
Aha, cara promosi yang tepat.
"Tapi ibu tidak dapat juga. Padahal ibu yang bayar." Aku pura-pura merengut di depan mereka.
"Ibu kan udah gedhe." Kali ini yang kecil yang menjawab sambil menjilat kecap di bibirnya.
"Apa hubungannya, Nard?" Mereka berdua terlalu asyik dengan dua tusuk sate, tidak mau pikir lebih panjang pertanyaanku. Dan dalam hati aku memuji penjual sate ini. Promosi yang bagus dan konkret mengena.
"Kenapa sih Bert, Nard. Rasanya enak di sini. Ibu pernah makan di sini. Lebih enak dibanding yang dekat rumah."
"Nggak, aku maunya di sana saja."
"Aku juga." Yang kecil pun ikutan ngambek.
Okey, balik kucing, akhirnya kembali ke Bundaran. Sebenarnya tempatnya memang lebih dekat dengan rumah, ketimbang yang di Way Halim. Mereka berdua senyum-senyum saja setelah tiba di warung sate. Sambil menunggu sate dibakar, penjualnya ngobrol dengan Mas Hendro, pake bahasa Madura. (Gak aku mengerti sama sekali kecuali : "Tojuk dinak." (Duduk di sini.) Hehehe...) Istri penjualnya lalu menghampiri Albert dan Bernard. Mengulurkan dua tusuk sate. "Ini, dimakan, sambil nunggu." Mereka berdua duduk dan mengucapkan terimakasih lirih dengan manis, dan menikmati dua tusuk mereka. Ooo, ini rupanya.
"Jadi kalian suka disini karena dapat bonus ya?"
"Di tempat lain, kalau nunggu ya nunggu aja. Tidak ada yang ngasih sate. Disini selalu dikasih, ibu."
Aha, cara promosi yang tepat.
"Tapi ibu tidak dapat juga. Padahal ibu yang bayar." Aku pura-pura merengut di depan mereka.
"Ibu kan udah gedhe." Kali ini yang kecil yang menjawab sambil menjilat kecap di bibirnya.
"Apa hubungannya, Nard?" Mereka berdua terlalu asyik dengan dua tusuk sate, tidak mau pikir lebih panjang pertanyaanku. Dan dalam hati aku memuji penjual sate ini. Promosi yang bagus dan konkret mengena.
Sunday, January 18, 2009
Sariawan
Bangun pagi (sebetulnya tidak terlalu pagi, sudah jam 7 lewat) karena Bernad menyuruk diantara aku dan bapaknya. Tangannya dingin basah memegang pipi dan tanganku. Pasti dia sudah kena air.
"Dari mana?" Bisikku setengah malas membuka mata.
"Dari pipis. Aku juara satu bangun." Suaranya agak aneh, dengan bibir yang tidak terbuka saat bicara. Albert masih tidur. Hari minggu yang sungguh malas.
"Memang kenapa mulut Enad?" Aku pegang pipinya.
"Nanti belikan obat ya, bu. Sariawan." Oh, pantes. Lalu aku minta dia membuka mulut bau liur belum mandi itu. Ada bintik putih di dekat gusinya. "Sakit."
Aku tidak terlalu kuatir. Obat bagi sariawan adalah 'perut yang enak'. Maka aku meloncat bangun untuk masak nasi, goreng ikan tongkol, bikin sayur asem, sambel terong (ini untuk yang dewasa). Setengah jam kemudian menyuapi Bernard. Nah, dia bisa membuka mulut lebar-lebar. Sepiring penuh habis. Ini beruntungnya punya anak-anak seperti Albert dan Bernard. Walau sakit, selera makan mereka masih ok, sehingga jarang sakit dalam waktu lama. Pokoke masih mau makan, urusan penyakit masih tidak terlalu mengkuatirkan.
Usai minum, mandi, Bernard sudah lari main dengan Roby dan Afif. Dia sudah lupa pada sariawannya... Tapi aku janji abis kerja lembur di hari Minggu ini akan membawakannya 'obat sariawan'. Yang bisa membuat perutnya enak, tentu saja...
"Dari mana?" Bisikku setengah malas membuka mata.
"Dari pipis. Aku juara satu bangun." Suaranya agak aneh, dengan bibir yang tidak terbuka saat bicara. Albert masih tidur. Hari minggu yang sungguh malas.
"Memang kenapa mulut Enad?" Aku pegang pipinya.
"Nanti belikan obat ya, bu. Sariawan." Oh, pantes. Lalu aku minta dia membuka mulut bau liur belum mandi itu. Ada bintik putih di dekat gusinya. "Sakit."
Aku tidak terlalu kuatir. Obat bagi sariawan adalah 'perut yang enak'. Maka aku meloncat bangun untuk masak nasi, goreng ikan tongkol, bikin sayur asem, sambel terong (ini untuk yang dewasa). Setengah jam kemudian menyuapi Bernard. Nah, dia bisa membuka mulut lebar-lebar. Sepiring penuh habis. Ini beruntungnya punya anak-anak seperti Albert dan Bernard. Walau sakit, selera makan mereka masih ok, sehingga jarang sakit dalam waktu lama. Pokoke masih mau makan, urusan penyakit masih tidak terlalu mengkuatirkan.
Usai minum, mandi, Bernard sudah lari main dengan Roby dan Afif. Dia sudah lupa pada sariawannya... Tapi aku janji abis kerja lembur di hari Minggu ini akan membawakannya 'obat sariawan'. Yang bisa membuat perutnya enak, tentu saja...
Saturday, January 17, 2009
Rayuan
Semalam aku tidak mau menggaruk punggung Albert. (Ini kebiasaan anak-anakku sebelum tidur, yaitu digaruk atau digosok punggungnya sampai mereka terlelap.) Dia protes berat awalnya, tapi aku menjelaskan dengan penekanan soal hak dan kewajiban.
"Kalau Mas Albert tidak mau menjalankan kewajiban, maka tidak akan mendapatkan hak." Matanya melotot padaku tidak terima. Tapi dia menghentikan protesnya karena memang dia tidak mau membereskan mainannya sejam yang lalu, malah berantem dengan adiknya soal siapa yang seharusnya membereskan mainan-mainan itu. Dan dia sudah terlanjur janji dengan pongah tidak akan minta apapun pada aku, ibunya, yang sudah membereskan mainannya (sambil mengoceh).
Beberapa menit kemudian dia merapat padaku yang sedang berbaring, berSMS dengan seorang teman. Tubuhnya dilengketkan padaku.
"Ibu tidak mau dekat-dekat dengan Mas Albert. Sana tidur saja."
Dia pura-pura tidak mendengar, tapi malah melingkarkan tangannya pada pinggangku.
"Kalau ibu bergeser, Albert akan tetep lengket."
Dan itu memang dibuktikannya. Dia ikut kemanapun aku pergi. Memegang bagian manapun dari tubuhku yang bisa dipegangnya. Aku berdiri dia pun berdiri, kalau aku duduk dia duduk. Aku berbaring dia ikut merapat di punggungku.
"Sudahlah, Bert. Tidurlah. Ibu tidak mau menggaruk punggungmu."
"Mas Albert tidak mau tidur kok. Cuma mau dekat-dekat ibu."
Matanya yang memerah tentu lebih jujur. Dan adiknya sudah lelap dari awal ke alam mimpi.
Kemudian dia bercerita tentang mimpinya semalam. Lalu tentang rumah temannya si Yogi. Dia bercerita juga tentang kalender, tentang Uti, tentang surat dari sekolahnya...
"Tahu gak ibu kalau..."
"Kenapa sih bu..."
"Siapa bu..."
Celotehnya tidak berhenti mencoba mengambil hati. Aku pura-pura jual mahal.
"Ibu lagi pengin sendiri, Bert. Jangan ganggu."
Dia pun cerita lebih semangat. Dia bertanya tentang segala macam, bahkan yang aneh-aneh. Mau tidak mau aku melunak. Aku berbaring dekat bantalnya. Dia mengikuti dan kemudian dengan wajah manis tanpa dosa, berdoa, entah apa. (Dulu aku pernah tanya dia berdoa apa kalau malam sebelum tidur. Dia bilang,"Itu rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.")
Begitu dia berbaring, aku menyusupkan jariku ke dalam bajunya, menggerakkan tanganku ke punggungnya, dan tidak sampai pada garukan ke 10, tidak ada lagi suara dari mulutnya. Yang ada adalah desisan pulas, dan puas, karena dia sudah mendapat apa yang dia maui.
Aku mencium pipinya yang bau buah pepaya. (Pasti dia tidak cuci muka tadi setelah makan pepaya hasil kebun.) Menutup pintu kamar pelan, lalu ngelesot depan TV, nonton Godbless di MetroTV.
Ah, selamat malam anak-anakku. Mimpilah kalian dalam lelap. Malam-malam ibu masih panjang.
"Kalau Mas Albert tidak mau menjalankan kewajiban, maka tidak akan mendapatkan hak." Matanya melotot padaku tidak terima. Tapi dia menghentikan protesnya karena memang dia tidak mau membereskan mainannya sejam yang lalu, malah berantem dengan adiknya soal siapa yang seharusnya membereskan mainan-mainan itu. Dan dia sudah terlanjur janji dengan pongah tidak akan minta apapun pada aku, ibunya, yang sudah membereskan mainannya (sambil mengoceh).
Beberapa menit kemudian dia merapat padaku yang sedang berbaring, berSMS dengan seorang teman. Tubuhnya dilengketkan padaku.
"Ibu tidak mau dekat-dekat dengan Mas Albert. Sana tidur saja."
Dia pura-pura tidak mendengar, tapi malah melingkarkan tangannya pada pinggangku.
"Kalau ibu bergeser, Albert akan tetep lengket."
Dan itu memang dibuktikannya. Dia ikut kemanapun aku pergi. Memegang bagian manapun dari tubuhku yang bisa dipegangnya. Aku berdiri dia pun berdiri, kalau aku duduk dia duduk. Aku berbaring dia ikut merapat di punggungku.
"Sudahlah, Bert. Tidurlah. Ibu tidak mau menggaruk punggungmu."
"Mas Albert tidak mau tidur kok. Cuma mau dekat-dekat ibu."
Matanya yang memerah tentu lebih jujur. Dan adiknya sudah lelap dari awal ke alam mimpi.
Kemudian dia bercerita tentang mimpinya semalam. Lalu tentang rumah temannya si Yogi. Dia bercerita juga tentang kalender, tentang Uti, tentang surat dari sekolahnya...
"Tahu gak ibu kalau..."
"Kenapa sih bu..."
"Siapa bu..."
Celotehnya tidak berhenti mencoba mengambil hati. Aku pura-pura jual mahal.
"Ibu lagi pengin sendiri, Bert. Jangan ganggu."
Dia pun cerita lebih semangat. Dia bertanya tentang segala macam, bahkan yang aneh-aneh. Mau tidak mau aku melunak. Aku berbaring dekat bantalnya. Dia mengikuti dan kemudian dengan wajah manis tanpa dosa, berdoa, entah apa. (Dulu aku pernah tanya dia berdoa apa kalau malam sebelum tidur. Dia bilang,"Itu rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.")
Begitu dia berbaring, aku menyusupkan jariku ke dalam bajunya, menggerakkan tanganku ke punggungnya, dan tidak sampai pada garukan ke 10, tidak ada lagi suara dari mulutnya. Yang ada adalah desisan pulas, dan puas, karena dia sudah mendapat apa yang dia maui.
Aku mencium pipinya yang bau buah pepaya. (Pasti dia tidak cuci muka tadi setelah makan pepaya hasil kebun.) Menutup pintu kamar pelan, lalu ngelesot depan TV, nonton Godbless di MetroTV.
Ah, selamat malam anak-anakku. Mimpilah kalian dalam lelap. Malam-malam ibu masih panjang.
Subscribe to:
Posts (Atom)