Wednesday, September 24, 2008

Tips Membuat Cerpen

Jumat lalu aku bertemu dengan para penulis muda Unila yang aku temani setahun terakhir ini. Aku bawakan dua tulisan hasil browsing internet. Pertama tentang Putu Wijaya dan kedua tips membuat cerpen. Mereka sedang ingin mengikuti beberapa event lomba cerpen. Selain Yesi, semua adalah pemula, jadi bahan itu baik juga untuk mereka.

Tips itu singkatnya begini :

1. Ambil seseorang, siapa saja. Boleh satu atau lebih. Beri nama sesuka hati, karakter sesuka hati, bentuk sesuka hati...pokoke terserah seseorang ini. Anggap aja lu nglahirin seseorang yang bisa kau bentuk sendiri secara fisik maupun sifat-sifatnya.

2. Taruh dia di atas pohon. Terserah juga pohonnya apa atau bagaimana. Kalau pohonnya adalah pabrik di Tanjungbintang tentu situasi ranting cabang daunnya beda dengan pohon sekolah di Natar. Terserah saja. Pilih pohon manapun sesukanya.

3. Lempari dia dengan batu. Silahkan saja batunya seperti apa. Pokoknya buat dia kerepotan, mabuk, sedih, menangis, terluka atau bahkan girang gembira karena timpukanmu itu. Biarkan dia bergulat dengan timpukan-timpukan batu itu.

4. Setelah dirimu puas, biarkan dia turun. Tepatnya suruh dia turun. Dengan cara apapun. Mau meluncur, terjatuh, atau pelan-pelan lewat ranting-rantingnya, terserah. Kamu bisa memeluknya hingga puas. Kapan dia sudah turun atau belum, akan terasa di hatimu.

Udah. Gampang kan? Enak suka-suka. Bisa diterapkan sewaktu-waktu tanpa perlu menunggu wangsit dari Gunung Kawi. Jika masih susah juga, persis lakukan langkah-langkah itu secara harafiah.

Ada Nino naik pohon mangga di halaman pak Haji, benjol kepalanya karena sebongkah batu, akhirnya jatuh ke tanah dan tewas.


Nah sudah jadi cerita kan? Tinggal panjang-panjangin saja tiap episodenya. Misal :

Nino tidak bisa mengubah kebiasaanya dari jaman purbakala. Kaki dan tangannya yang lincah dengan leluasa bisa naik turun pohon. Tapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa menahan diri untuk selalu naik pohon mangga pak haji, lebih-lebih dalam bulan ini. Istrinya hamil 4 bulan dan tidak pernah puas menyantap buah asam kecut milik pak Haji. Teringat akan pesan emaknya untuk mengurus istri sepenuh hati saat hamil, Nino nekat memanjat pohon mangga itu untuk mendapatkan buahnya. Hari ini pun dia melakukan itu.

Nah, percaya kan? Kita sudah mendapatkan satu paragraf. Udah teruskan. Suka-suka aja apa yang mau terjadi selanjutnya. Nah kalau latihan awal ini lancar sampai karakter ke 6000 siaplah melangkah ke cerpen selanjutnya. Ingat, cerpen adalah cerita pendek. Kisah yang hanya terjadi sekitar 5 - 10 menit andai benar-benar terjadi asli nyata. Detail yang menggugah rasa pembaca itu yang harus dibangkitkan. Kata Yesi, ini seperti menunggu kereta di stasiun, hanya kisah yang sangat singkat.

Tuliskan rapi dan baca ulang beberapa kali sebelum mempublikasikannya. Kirim ke majalah atau koran.
Jika akan dikirim by email bisa dengan cara begini :
- Ketik huruf standar (Roman 12) spasi 2
- Kirim by attachment
- Kisaran 6000 - 8000an karakter
- Sertakan sebuah surat pengantar yang singkat
- Sertakan alamat lengkap, no telepon dan no rekening
Tunggu kabar dari mereka. Ada yang memberi konfirmasi akan dimuat atau tidak, tapi juga ada yang tanpa konfirmasi. Selamat jadi cerpenis!!

Friday, September 19, 2008

Happy...

Gara-gara iklan Hepi, aku mendapatkan perlakukan istimewa dari Bernard.
"Hepi tuh apa sih Bu?"
"Happy tuh bahasa Inggris, artinya gembira, senang."
"Oh, senang..."
"Kenapa sih, Nard?"
"Enggak..."
Dia asyik kembali mengwarnair gambarnya sambil duduk di depan tivi. Kakinya terlipat dan mata tidak lepas dari gambarnya. Serius, penuh konsentrasi.
Tiba-tiba dia menubrukku sambil teriak"Hiipiii!!! Hipiii ada Ibu!!!"
Hah, aku terjengkang ke belakang, dengan tubuhnya di dadaku! Astaga, tepat saat iklan Hepi.
...
Beberapa kali dia lakukan.
Semalam terulang lagi. Kali ini dia menubruk semua orang di rumah. Ibu, bapak, Abot (dia nih suka manggil kakaknya aneh-aneh) dan terakhir dirangkulkan lengannya ke tubuhnya sendiri. "Hipi, ada Bernard. Hipi ada saya." Tentu saja aku tidak kuasa menahan diri untuk menggelitiki perutnya hingga terjungkal-jungkal.

Wednesday, September 17, 2008

Bunga Kuning Pengantin

Musim-musim seperti ini, naik Mio sepanjang jalan Teuku Umar dari depan PU hingga RSU menimbulkan sensasi tersendiri. Bukan, bukan soal kepadatan kendaraan di bulan ramadhan. Tapi karena pohon-pohon (apa ya namanya? aku lupa.) yang membelah sepanjang jalan Teuku Umar mulai berbunga. Bunganya kuning. Kecil-kecil menjuntai ke bawah mengikuti ranting-rantingnya. Semakin bertambah bunganya, semakin daunnya berkurang. Lama-lama warna kuning akan mendominasi. Aku baru amati ternyata bunga itu mengibarkan bau harum ketika aku mulai melewati jalan ini dengan Mio. Saat naik Bus Damri aku tidak mencium apa-apa. Bau harum sepanjang jalan. Hebat. Walau semakin samar karena asap kendaraan kini tiada putus-putusnya dari ujung ke ujung.
Aku menyebutnya bunga pengantin. Juntaian bunga ini mirip bunga yang dipegang oleh para pengantin saat melangkah bersama menuju pelaminan atau altar. Gembung menempel pada daun-daunnya yang segar dan semakin meruncing ke bawah. Bunga pengantin, sangat cocok.
Bunga-bunga itu akan semakin banyak seiring waktu, dan saat puncaknya, woowww... Berjalan di sepanjang jalan ini sangat romantis. Taburan kelopak-kelopak kuning akan menyertai hembusan angin. Tukang bersih-bersih akan direpotkan olehnya karena dianggap mengotori jalan. Tapi bagiku...itulah sambutan alam bagi manusia. Sungguh indah. Taburan bunga akan berhenti saat bunga habis berganti dengan buah-buah mungil di tangkai-tangkai penopangnya. Itulah saat reproduksi yang biasanya tidak berjalan karena tidak ada ruang lagi bagi pohon itu untuk berbiak. Aspal dan roda akan menindasnya mati. Atau seperti yang terjadi pada jalan setelah RSU hingga jalan Kartini, habis pohon pengantin ini dibabat, diganti oleh pot-pot dan papan iklan.
Sampai kini masih kunikmati bunga kuning pengantin ini. Indah. Moga abadi...

Seringkali Cinta

sebuah panah melesat tepat di jantungku
separohnya berjalan menuju otak
berkembang menjadi pikiran-pikiran

ada tujuh rupa yang kemudian tercipta

pertama
adalah logika
yang menjadi temanku
membaca peta dan jalan

kedua
adalah tradisi
yang menjadi teater hidup
di atas panggung yang bergerak senantiasa

ketiga
adalah kaki
menancap di badanku
sehingga aku berjalan di atas bumi

keempat
adalah keringat
membasuh seluruh tubuh
mengingatkanku pada rasa lelah

kelima
adalah pagar
berdiri kaku melingkar
menandai bentuk keterbatasan

keenam
adalah sepasang kuku
tempat terlindung yang tumbuh
di ujung jari setiap gerakan ragawi

ketujuh
adalah kepenuhan
tujuan dari segala perkembangan
yang memberiku pengembaraan kekal

(mereka bertujuh
ingin selalu aku rengkuh)

Tuesday, September 16, 2008

Tolak!!!

Tidak tahu harus berkomentar apa jika seperti ini.

Pasal 1
Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan / atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan / atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat
(demikian bunyi RUU RI tentang pornografi)

Lagu Letto pun akan hilang dari peredaran. Ya iya, wong setiap saat mendengar musik dan lagu mereka, aku selalu terangsang romantika dan mendapatkan dorongan kuat untuk bercinta. Gimana dong?

Adakalanya Cinta

sebuah panah melesat tepat di jantungku
separohnya mencapai rahim
dan berkembang menjadi janin

ada tujuh rupa yang kemudian aku lahirkan

pertama
adalah waktu
yang menjadi sahabatku
membaca ruang dan perjalanan

kedua
adalah senyuman
yang menjadi bros di dada
membuatku merasa cantik senantiasa

ketiga
adalah sayap
merapat di punggungku
sehingga aku melayang di atas awan

keempat
adalah air mata
membasuh wajahku
mengingatkanku pada rasa rindu

kelima
adalah cemara
meliuk bergoyang
menandai bentuk keliaran

keenam
adalah sepasang sepatu
tempat aku menapak entah dimana
membawa kesadaran pada perlindungan

ketujuh
adalah ketiadaan
penyelamat segala perkembangan
yang membebaskanku dalam pengembaraan kekal

(mereka bertujuh
ingin selalu aku rengkuh)

Friday, September 12, 2008

Melayang

hari ini ada sepasang sayap di punggungku
menancap kuat di dalam tulang belakangku
sepasang sayap putih yang lebar
sepasang yang terus bergetar dengan kekuatannya sendiri

bahkan aku bisa melihat dua kakiku menggantung lurus
tidak menginjak tanah atau benda apapun
dua tanganku bergerak bebas di udara ini
dua mataku memandang tanpa batas ke empat penjuru

(tentu saja aku tidak tahu sayap ini milik siapa
dan tidak tahu sampai kapan akan melekat di sini
seperti aku tidak tahu kapan dan mengapa bisa ada di ruas punggungku)

Friday, September 05, 2008

Ooo, Albert.

Usai mengantar Bernard, aku memutar lewat pinggir lapangan SD. Rupanya anak-anak SD kelas II sedang senam kebugaran sebelum masuk kelas. Sekilas pandang saja aku sudah dapat menangkap sosok Albert. Dia di barisan agak ke belakang. Tempat favoritnya. "Iya, ibu. Aku tidak bisa ada di depan karena aku tinggi." Gitu alasannya kalau aku protes tentang tempatnya yang selalu di belakang kalau sedang baris. Ah, nggak. Dia sama tinggi dengan Billy atau Vio atau Ano, tapi mereka ada di depan.
Tidak jadi keluar gerbang untuk ke kantor, aku duduk di bawah puring, melihat senam itu. Jauh berbeda dengan senam kesegaran jasmani yang dulu dipakai saat aku SD. Lagunya lebih semarak, ceria, lepas. Gerakannya juga. Seperti menari bu Eti di depan sana memberi contoh pada para murid. Barisan depan sungguh rapi jali. Seperti laron-laron kecil yang berbaris rapi mengerubuti induknya.
Tapi astaga...lihat Albert. Matanya menatap lurus bu Eti. Dia mencontoh gerakan-gerakannya. Tidak jadi menari jika yang bergerak Albert. Saat tangan harus terentang, dia akan merentangkan tangannya selebar-lebarnya hingga dapat menggapai pundak teman kanan kirinya. Lalu bu Eti meloncat-loncat kecil ritmis. Albert melombat setinggi langit. Entah apa yang didengarnya, apakah ada musik dan lagu, tapi dia melombat tinggi-tinggi berkali-kali sampai dia sadar bahwa gerakan teman-temannya tidak lagi melompat, dan dia menghentikan gerakannya. Sekali tempo gerakan tangan ke kanan dan ke kiri. Gerakan ini membuat Albert melihat bahwa bayangan matahari melalui tangannya dapat membuat bentuk kupu-kupu, kelelawar, kelinci dan sebagainya di lantai lapangan. Maka hilang lenyaplah guru dan teman-temannya, berganti dengan para binatang di paving.
Aku menahan nafas ketika salah seorang guru yang berjejer di barisan belakang berjalan menuju Albert. Hups, satu tangan menarik tubuh Albert yang terbungkuk-bungkuk mengikuti kupu-kupunya dan mengembalikannya pada barisan senam. Gerakan terakhir ambil nafas buang nafas, ooo Albert, dia menengadah laammmaaa...sekali, kemudian dua tangannya mendekap pipinya. Pasti hangat pipinya karena terkena matahari pagi. Dia ulang lagi gerakan itu.
Satu gerakan menoleh, dia melihat mataku di ujung lapangan di belakangnya, spontan dia langsung melambai dan tersenyum padaku. Tentu saja aku tersenyum juga padanya dan melambai kencang-kencang padanya.
"Lihat di mata ibu, Bert. Ada kamu di situ." Aku membisik. Pasti dia tidak dengar. Tapi dia tahu itu.

Saturday, August 23, 2008

Pernikahan Masa Kini

Pernikahan Reni dan Kasdi, 22 Agustus 2008 adalah pernikahan masa kini di salah satu sudut Baradatu, Kabupaten Way Kanan, Propinsi Lampung. Dua orang ini adalah keturunan Jawa yang lahir dari generasi kedua orang Jawa. Orang tua mereka asli Jawa, dan pindah ke Lampung karena transmigrasi. Mereka berdua lahir di Lampung tapi dua-duanya mengaku sebagai orang Jawa. Pernikahan mereka tidak bisa disebut lagi khas Jawa. Tidak ada pantangan-pantangan seperti yang dilakukan oleh orang Jawa yang menikah. Tradisi pengantin Jawa mereka dipingit beberapa hari sebelum pernikahan. Pengantin perempuan dan laki-laki tidak boleh bertemu. Mereka tinggal di rumah masing-masing atau jika pengantin laki-laki tinggal terlalu jauh, mereka harus 'mondok' di salah satu rumah yang dekat dengan rumah pengantin perempuan. Pengantin perempuan lebih banyak aturan. Mereka tidak boleh masuk dapur, tidak boleh mengerjakan hal-hal tertentu. Dan pada malam menjelang pernikahan mereka menjadi 'widodari', menikmati keperawanan terakhir kali dengan berdandan secantik mungkin, tanpa boleh dilihat oleh calon pengantin laki-laki. Malam widodaren ini menjadi malam terakhir bersama orang tua.
Reni dan Kasdi mempersiapkan pernikahan tanpa aturan-aturan Jawa seperti itu. Ada janur melengkung tapi tidak ada lagi tradisi-tradisi budaya yang dianut. Mereka mengerjakan sendiri banyak hal. Menjadi orang paling repot, masih keluar masuk dapur membuat ini itu, bahkan pada malam widodaren Reni menyeterika baju sendiri. Dan mereka berdua bersama sepanjang hari.
Pada hari H, aku melihat menjadi hari yang paling melelahkan bagi mereka. Aku yakin mereka tidak tidur pulas beberapa hari terakhir. Gimana bisa tidur wong sepanjang malam orang-orang 'tirakatan' semalam suntuk. Tirakatan masa dulu adalah hening, menghela keluar setiap halangan yang mungkin muncul. Mendoakan calon pengantin supaya 'kalis ing sambikala'. Lepas dari segala marabahaya. Tapi tirakatan yang dilakukan masa kini, adalah kartu, makanan kecil, guyonan dengan tape yang disetel sangat kenceng mengudarakan kisah wayang. Tidak ada keheningan sama sekali.
Hari H, Reni dan Kasdi berada di Gereja dengan kemantapan niat untuk bersatu. Khusyuk dalam doa, gemetar saat mengucap kaul dan menangis di pangkuan saat sungkem orang tua. Aku terpana melihat mereka berdua. Salut! Resepsi pernikahan juga tidak lagi menyisakan adat Jawa dengan temu manten, suap-suapan, kembar mayang, kacar-kucur dan sebagainya. Hanya pelaminan dan panggung orgen tunggal yang berisik sepanjang acara. Seperti pernikahan-pernikahan lain di Lampung. Budaya yang sudah bergeser.
Selamat menjalani babak selanjutnya dari cinta kalian, Reni dan Kasdi. Aku ikut dalam doa dan sukacita kalian.

(Hari Kamis aku, Sisil dan Putri berangkat dari Rajabasa. Sebelumnya makan mie goreng instan dulu di terminal karena sangat lapar. Tidak sempat makan di rumah. Buru-buru. Karena dua gadis ini belum tiba di tempat janjian, aku pesan mie plus telur. Eh, Sisil datang bilang belum makan juga. Belum selesai mie dibuat, Putri datang. "Aku kenyang." Maka berdua makan dulu, lalu cepat-cepat mencari bis menuju Baradatu. Sudah menjelang jam 2. Katanya bis kesana terakhir jam 2. Peron menagih 500-an per orang. Dan, syukurlah bis Darmaduta masih akan berangkat 10 menit lagi. Tiket 33 ribu per orang. Cukup nyaman. Tapi setelah berjalan, ketahuan kalau AC nya sama sekali tidak dingin. Menjelang Kotabumi, hujan deras mengguyur. Tidak berhenti pula sampai tiba di Baradatu sekitar pukul 6 sore. Sudah mulai gelap. Naik ojek ke "Pak Warindi, Solo I." Tiga ojek 15.000 semuanya. Rupanya keluarga pengantin laki-laki juga datang sore itu. Kami makan malam lezat khas Jawa : sambel goreng kentang, mie goreng, ayam bumbu entah apa, kerupuk, ehmmm...lezat! Setelahnya ada ibadat. Tidak pake mandi ikut bergabung bersama umat dalam doa. Kok ketemu seorang tokoh umat. Wawancara dong untuk Nuntius. Jangan dilewatkan kesempatan emas ini. Rencananya malam mau tidur yang enak karena hari sebelumnya aku hanya tidur sebentar setelah acara peluncuran Buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung di Graha Wangsa. Tapi tidak bisa. Lakon wayang disetel luar biasa memekakkan. Tidak mungkin tidur. Maka bertiga ngobrol segala hal. Terpejam beberapa menit, sudah tidak bisa tidur lagi. Merem tapi tidak tidur. Jam 5.30 pagi meloncat dari tempat tidur, mandi, berbaring lagi, sarapan, siap-siap ke Gereja, tugas motret manten, dan pulang nebeng rombongan Tanjungkarang pukul 12-an. Tiba di rumah lebih dari jam 3 sore terkapar hingga malam. Menemani Albert belajar setengah terpejam dan kembali tidur. Sampai tidak tahu kalau mas Hendro tidak ada di rumah, latihan koor. Kok tidak terasa ya kalau suami tidak ada. Pagi-pagi tadi bangun dengan malas dan kembali beraktifitas biasa.)

Thursday, August 21, 2008

Jika Yang Tertinggal Adalah Tanggungjawab

Semangatku nyaris lenyap jika berhadapan muka dengan Nuntius. Lamat-lamat tertutup kabut. Banyak hal yang membuatku muak. Tiga tahun lebih aku terbenam dalam Nuntius. Tidak hanya luar, tapi seluruh hati dan pikiran dan hidupku. Prioritas di luar rumahku adalah untuk Nuntius. Apa yang dilakukan Nuntius padaku? Menampar hatiku senantiasa dengan sakit hati. Tidak ada senyuman penyejuk yang bisa mengembalikan luka itu. Hanya luka yang ditanamkannya. Manusia tetap begitulah aku. Bukan robot kebal segala duka. Terlebih ini manusia ringkih yang tidak akan selamanya ada. Tidak bisakah pelukan, senyuman bahkan pandangan mata sedikit saja?
Semangatku nyaris lenyap. Yang tertinggal adalah tanggungjawab. Membuatku masih bisa hidup merangkul Nuntius senantiasa. Tapi senda gurauku bukan padanya. Yang tertinggal adalah tanggungjawab. Sedang hatiku pada lembaran-lembaran calon cerita-cerita yang sekarang sudah mulai membunting dalam pikiranku, minta dilahirkan. Di sanalah senda gurauku. Saat kelahiran-kelahiran terjadi...

Tuesday, August 19, 2008

Selimut Beku

Suhu -16 derajat celcius menerkamku di bawah sini. Tidak, aku tidak ada di Eropa atau negara lain yang mengalami suhu-suhu itu pada musim-musim tertentu. Aku ada di Lampung. Tapi beku. Kedinginan yang menyelimutiku ini mengejarku terus dengan taringnya yang tajam. Membekaskan ujung-ujungnya di wajah dan telapak tanganku. Kakiku merapat bersilang dalam duduk yang mantap. Tapi hatiku berpaling ke segala arah. Ingin membuang kemana selimut ini bisa aku lempar.

Sunday, August 17, 2008

Merdeka!!!

Merdeka!!!

Aku berjarak jutaan kilometer dari teriakan ini.
Berdarah dan berairmata.
Bersama jutaan orang Indonesia lain.
Dalam penjara.

Friday, August 15, 2008

Tidak Rela

Waktu Bernard pertama kali masuk sekolah TK kecil di TK Fransiskus I Pasirgintung, tidak sekalipun tubuhnya lepas dariku. Tangannya menggenggam kuat tanganku. Ketika duduk, digeretnya aku dekat kursinya. Bahkan kemudian minta dipangku sepanjang hari itu. Tidak ada suara satupun yang diperdengarkan untuk menjawab Bu Dewi, gurunya. Satu-satunya keasyikan dia di hari pertama itu adalah kesempatan untuk bermain 'susun-susunan' yang sangat banyak berwarna-warni yang disediakan oleh Bu Dewi di setiap meja para muridnya. Berbagai bentuk yang membuat Bernard ngiler 'andai boleh dibawa pulang'. Kemudian dia lepas dari genggaman tanganku ketika berbaris pulang menuju gerbang.
Hari kedua dia sudah mau maju ke depan kelas dan menyebut lirih,"Nama saya Bernard." Dan kemudian Bu Dewi minta seluruh teman satu kelas yang berjumlah 22 anak bersama-sama koor menyapa,"Hallo, Bernard!!!" Dan dia duduk kembali dengan malu-malu. Hari ketiga dia pulang dengan gembira. Hari keempat dia ngompol saat mau pulang, dan hari kelima dia mogok tidak mau berangkat ke sekolah. Hari keenam dia mengatakan asyik karena besok mau libur. Hari ketujuh dan seterusnya selalu ada komentar bahwa enak sekolah karena ada hal-hal baru yang dia dapatkan. Sekarang dia sudah hampir hafal nama seluruh teman satu kelasnya, dapat lagu baru lebih dari lima buah, tahu tepuk gajah, tepuk unyil hingga tepuk si komo. Dan aku tidak boleh mengantarkannya masuk gerbang sekolah. Astaga...sebentar lagi bahkan aku menjadi 'bukan apa-apa' dan 'tidak harus ada' untuk hal-hal tertentu. Anakku keduaku sudah mulai besar dan seperti kakaknya, dia akan punya dunia-dunia sendiri yang asyik, dunia dimana aku tidak akan pernah bisa masuk.

Wednesday, August 13, 2008

Mulyadi Prabangkara

Aku baru tahu kalau rupanya cerpenku Tidak Pernah Selesai sudah dimuat oleh Sinar Harapan, Juni lalu. Ceritanya, saat aku nulis cerpen itu, akudidominasi rasa rindu pada Mulyadi Prabangkara, seorang pelukis yang terakhir aku tahu dia tinggal di sekitar Pasar Minggu. Alamat lengkap sudah lupa walau aku pernah beberapa hari tinggal di sana. Tentu saja Prabangkara yang aku tulis untuk cerpenku tidak mewakili sama sekali Mulyadi Prabangkara. Seluruh kisahnya juga bukan nyata. Semata khayalan saja. Tapi memang sosok yang aku angkat di sana ada kemiripan.
Tentu saja aku rindu pada Mulyadi Prabangkara. Dia guru lukisku ketika aku SMP di SMPK Don Bosco, Gringging Kediri Jawa Timur sekitar tahun 1986 - 1989. Pak Mul, aku menyebutnya demikian, mendampingiku dalam berbagai lomba yang saat itu selalu aku ikuti khususnya Porseni dan 17-an. Hingga tingkat propinsi, aku ditemani hingga Surabaya. Beberapa kali juara, biasanya Pak Mul akan tersenyum memberi dorongan padaku. Pernah juga kecewa berat pada juri ketika aku hanya memenangkan juara II, tingkat kabupaten. Pak Mul protes kepada para juri minta ditunjukkan hasil karya para juara untuk dibandingkan. Menurutnya gambarku lebih bagus. Terlebih saat itu Pak Mul sudah mempelajari hasil ketika ikut lomba hingga tingkat propinsi bahwa ruang yang lebar dalam sudut pandang lukisan sangat dipertimbangkan sebagai lukisan yang sempurna. Dulunya, aku selalu melukis hanya sudut-sudut kecil, yang dirasa unik. Hanya sudut-sudut tertentu. Nah, untuk pertamakalinya dalam lomba itulah aku bekerja sangat keras membuat landscape yang lebar untuk dituangkan dalam kertas. Kerja yang sangat berat rupanya hanya dapat juara II. Dan juga dipenuhi orang-orang yang bergerak di dalam lukisan itu. Dan hanya dapat juara II!!! Duhai, Pak Mul-ku sayang sangat kecewa. Lebih kecewa daripada aku, aku kira. Walau sepanjang jalan aku diboncengnya dengan motor pelan-pelan dengan hiburan yang lembut manis. Bahwa aku harus semangat. Maju terus. Sepertinya hiburan itu juga diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Berbagai teknik melukis memakai cat air aku pelajari darinya. Dan sedikit teknik melukis cat minyak di atas kanvas. Padahal Pak Mul ini spesialis cat minyak dengan obyek wajah orang. Hanya sekilas aku pelajari tentang ini. Aku berharap bisa nyambung lagi untuk belajar lanjutan. Tapi setelah tahun 1996-an aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Hingga kini tidak lagi bertemu. Beberapa kali nitip pesan lewat saudara-saudara, juga tidak ada yang tahu informasi yang jelas tentang Pak Mul. Dimana dia?
Saat ini aku tidak pernah melukis lagi. Tapi aku berharap suatu ketika aku akan dapat kesempatan untuk melukis lagi. Lebih baik jika bersama dengan Mulyadi Prabangkara. Guru lukis satu-satunya selain ibu dan bapakku. Dimana dia?

Anyaman yang Terburai

Anyaman yang Terburai. Adalah judul cerpen mini yang aku kirim untuk lomba cerpen mini Dewan Kesenian Lampung (DKL) tahun ini. Hari ini diumumkan lewat media kalau cerpen ini masuk salah satu dalam nominasi 16 besar. Pas sesuai target, sedikit kecewa. Selebihnya tidak merasakan apa-apa kecuali ingin memulai lagi sebuah cerpen untuk lomba-lomba lain atau media-media lain.
Anyaman yang Terburai. Menceritakan seorang pengangkut gerobak sekitar pasa Pasirgintung Bandarlampung. Miskin, susah, masih ditambah susah ketika pemerintah kota Bandarlampung memasang pagar pembatas/pemisah jalan di sekitar pusat perkotaan itu. Gimana mau membawa gerobak melewati jembatan penyeberang? Dan melintas jauh rutenya dengan bahan bakar nasi plus lauk bakwan. Penuh utang. Usus pun terburai-burai...begitulah.
Anyaman yang Terburai. Andai tata kota memperhatikan orang yang paling lemah, tentu Bandarlampung tak akan sekumuh sekarang ini. Andai...
Dua cerpen lain yang aku kirim tidak ada kabarnya. Aku akan merevisinya untuk kepentingan lain. Salut tak terhingga pada Yessy yang ketiga cerpennya masuk. Hebat!!

Monday, August 11, 2008

Kisah Tak Lengkap

Nagagini adalah naga perempuan. Yang marah murka pada Anglingdarma karena panah sang raja Malawapati itu menebas kepala Ulo Tampar, kekasihnya. Tepat pada saat mereka sedang bersenggama. Sungguh kesedihan yang memuntahkan api, air mata dan darah pada hatinya. Luka dibawanya pada Nagaraja, suaminya. Mengaduh mengadu domba. Sehingga api menyembur dari hati sang begawan naga. Lihatlah, apakah Malawapati bisa terbakar karena emosi seperti ini? Yang ada adalah Aji Gineng yang beralih tempat. Jadi anugerah bagi hati suci Anglingdarma, cucu raja besar, Raja Jayabaya dari Pamenang. Aji Gineng menjadi rahmat bagi sang satriya.
Di kemudian hari pun anugrah besar ini disesali. Dari rahmat inilah petaka terkobarkan. Setyowati, sang permaisuri, mati dalam upacara bakar dan Anglingdarma dipenjara dalam pengembaraan panjang dalam segala rupa. Penjara merdeka yang jadi pembelajaran. Bagi semua.

Tuesday, July 29, 2008

Bandung

Setelah terakhir bersua dengan Bandung pada tahun 2000 (saat itu Bandung banjir air mata dan darah), kesempatan menemui Bandung lagi pada 23 - 24 kemarin menjadikan Bandung banjir kenangan.
Aku nyaris tidak mengenali sosoknya. Gemuk, berkeringat dan tidak bisa diam. Di beberapa tempat adalah daki kotoran yang menumpuk. Tidak aku temukan Bandung tenang, dingin dan mesra seperti dulu. Perkembangannya di luar dugaanku. Akar-akar 'komersialisme' tepat berada di jantungnya, lalu menyebar mencengkeram seluruh denyut pada sel-sel pertumbuhannya. Memberikan tawaran senyum palsu yang kecentilan.
Beberapa sudut menjadi penghiburan. Baros - Pasir Koja adalah setetes kesejukan dengan deret pinus yang menjulang ragu, tersamar polusi di sekitarnya. Dago dengan cengiran aneh lewat pintu-pintu rumah puan bangsawan membuatku terkapar sebal. Tidak ada keanggunan. Pun akasia atau entah apa namanya, merebut beberapa ruang sehingga berjalan di hiruk pikuk itu meremangkan sedikit gelenyar di kulitku yang sedang rawan. Braga nyaris tak tersisa. Tidak ada lagi tembang yang keluar dari sana, yang dulu pernah mengalun dalam desah lewat belakang telingaku.
Pamitan dengannya pada malam kedua, tidak bisa tidak membuatku pasrah dalam pelukan kaku yang diberikannya. Nyaris bukan pelukan, tapi cengkeraman aneh antara menahan atau mengusir. Aku pamit, tapi aku akan tetap mengingatnya.

Monday, July 28, 2008

Dua Jam

Waktu terhenti ketika aku duduk di samping agak depan darimu. Mendengarkan kisah mayapada dari celah bibirmu. Tentu aku tak berani menciummu. Bahkan tidak ingin. Suaramu saja sudah cukup menahan supaya aku tidak dekat dengan tubuhmu. Cukup di kursiku saja. Dan kau di kursimu. Tubuh mengayun condong dengan telinga yang lebar supaya kisah-kisah itu sampai pada otakku yang kian rapuh jika berdekatan denganmu. Pelan-pelan plot tersusun, karakter-karakter seperti bayangan mulai mewujud. Menguat jadi romansa, bahkan konflik. Lalu sosokmu berubah menjadi dalang yang memainkan semuanya. Semua berada di dalam kendali dua tanganmu. Seolah-olah!
Aku bergumam, mengingatkan ada hal lain. Di luar jangkauan dua tangan manusia. Tapi pasti telinga rentamu tidak mendengarkan selain suara-suaramu sendiri. Yang mengalun dengan nada-nada gregorian. Lalu sebuah senyum kemenangan menutup perbincangan. Tahu bahwa aku terkapar oleh semua kisah. Tahu bahwa aku sudah lemas oleh berondongan seluruh cerita.
Aku buru-buru tersenyum pula. Tak kuasa memberi satu tanggapan pun. Semua ceritaku untuk diriku sendiri. Aku tahan untuk lain hari. Menyebalkan.
Lalu buru-buru aku berdiri, pamit dan mencium cincin tebal di tangan kanannya.

Friday, July 11, 2008

Per-HATI-an

Perhatian, per - HATI - an, menjadi bermakna ketika HATI ada di antaranya. Betapa satu sentuhan HATI menjadi setetes embun. Bagaimana dengan banyak HATI? Yang bernyanyi, berjejer, dengan satu gitar, satu lilin, satu bolu coklat, satu bingkisan, satu jabat tangan, satu ucapan : Selamat Ulang Tahun, Mbak! ...
Berjuta embun mengalir sejuk di seluruh raga dan jiwa. Basah seluruhnya membalur, menguapkan kegersangan. Menjadi makan pagi, siang dan malam sekaligus.
Aku menangis mendekap semuanya dengan dua tanganku. Memaksanya tetap di sana dengan gembira. Walaupun mungkin nanti waktu akan bergulir, membuatku semakin tua. Tentu saja aku ingin jadi orang yang tua dengan banyak sahabat muda. Bersama mereka dalam satu tempat yang selalu sukacita.
Dengan begitu aku akan tetap diingatkan bahwa aku masih boleh bermimpi, aku masih boleh punya cita-cita, aku masih boleh liar, aku masih boleh tidak kelihatan tua, aku masih boleh belajar, aku masih boleh apa saja...
Terimakasih ...

Wednesday, June 25, 2008

Menjilat Awan

Kemarin aku menjilat awan yang kebetulan lewat persis di depan hidungku. Kaki-kakinya pongah melayang tanpa sayap. Sengaja dia berjalan pelan-pelan supaya aku menggodanya. Kerlingannya tetap di sudut mata, bahkan ketika tubuhnya berputar. Tentu saja aku tergoda! Bagaimana tidak? Seluruh tubuhnya adalah tranparan selendang uap air yang gembung bergairah. Dia meliuk-liuk dengan tarian eksotis ke seluruh penjuru raga. Menciptakan bentuk-bentuk cantik dengan tarikan-tarikan gerak tanpa sudut. Sekali waktu dia akan lari menjauh, mengikut angin yang sudah menjadi kekasihnya dari awal mula. Sekali waktu dia mendekat dengan langkah-langkah centil. Kadang dia akan terbang sangat tinggi tidak terlihat ujung mata, tapi kemudian dia akan menghujam ke arahku. Tepat di ubun-ubun, sehingga pecah berantakan bentuknya. Lalu tawa terkekeh-kekeh renyah dari segala penjuru hingga kemudian dia mengumpul kembali dalam bentuk yang paling anggun. Dekat di depan dadaku, siap untuk dipeluk. Seribu tangannya akan menggelitik seluruh inderaku, dengan nafsu. Hingga mau tidak mau, lidahku terjulur. Menjilatnya...