Pada deretan kata dalam kamus
kau adalah gelombang dari cahaya-cahaya
riak bagi alunan galaksi alam raya.
Mata penyair
menyebutnya kekacauan
tapi para ilmuwan mengatakan keberaturan
hanya ditambahkan dengan phi
atau fu atau pecahan imajiner
0 dan 1 yang seolah ketidaksengajaan
padahal alam membocorkan sebab akibat keduanya.
Sesekali
kuduga kau menyamar sebagai bilangan prima
di deretan utuh tak terbagi
tapi jika demikian, bukankah pecahan-pecahan desimal
pun diperhitungkan
sebagai ketidakterbatasan
sebagai kemungkinan.
Bibir seorang
pendeta menyebutnya sebagai pengharapan
tercampur di antara serpih pasir pesisir utara
atau lebih mudah jika menggunakan bahasa para istri
yang bahagia oleh sejimpit garam
dalam sayur kelor untuk suaminya.
...

No comments:
Post a Comment